Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ABSES TUBA OVARIUM

A. TINJAUAN KASUS

1. Pengertian

Abses Tubo Ovarial (ATO) adalah radang bernanah yang terjadi pada ovarium dan
atau tuba fallopii pada satu sisi atau kedua sisi adneksa
TOA (tubo-ovarian abscess) merupakan salah satu komplikasi akut dari PID
(Pelvic inflammatory disease). Abses ini pada umumnya terjadi pada wanita usia
produktif dan biasanya merupakan kelanjutan dari infeksi saluran genital bagian
bawah. TOA berhubungan erat dengan PID (Pelvic inflammatory disease). PID
disebabkan oleh mikroorganisme yang menghuni endoserviks kemudian naik ke
endometrium dan tuba fallopi. TOA merupakan end-stage process dari PID akut
(Tohya et al., 2003). TOA terjadi sekitar 18-34% pada pasien dengan PID (De Witt et
al., 2010) dan 22% dengan salpingitis di Nairobi, Kenya (Cohen, 2003).
Abses ini dapat terjadi pada pasien yang post histerektomi supraservikal. TOA
dapat juga terjadi pada pasien yang sebelumnya mengalami servitis dan parametritis
(Tohya et al., 2003).
TOA umumnya disebabkan oleh mikroorganisme umum yang menjadi
penyebab STD (sexually transmitted diseases), berhubungan seks dengan partner
yang memiliki agen infeksius ini merupakan faktor risiko yang sangat penting dalam
terjadinya TOA. Selain itu, operasi ginekologi, kanker organ genital (genital
malignancy), IVF treatment, dan apendisitis yang mengalami perforasi juga diketahui
menjadi penyebab TOA (Protopapas et al., 2004; Canas et al., 2004; Vyas et al.,
2008).
Diagnosis TOA sering sulit ditegakkan dan sulit dibedakan dengan peradangan
pelvis oleh sebab-sebab yang lain, sehingga dibutuhkan anamnesa, pemeriksaan fisik,
serta pemeriksaan penunjang yang tepat untuk dapat menegakkan diagnosis pasti dan
memberikan terapi yang tepat pula. Dan bila tidak ditangani dengan baik,
komplikasinya dapat menyebabkan kematian, kemandulan dan kehamilan ektopik
yang merupakan masalah medik, sosial dan ekonomi.

1
Tubo-ovarian abscess (TOA) adalah pembengkakan yang terjadi pada tuba-
ovarium yang ditandai dengan radang bernanah, baik di salah satu tuba-ovarium,
maupun keduanya (Granberg, 2009). TOA Merupakan komplikasi termasuk efek
jangka panjang dari salfingitis akut tetapi biasanya akan muncul dengan infeksi
berulang atau kerusakan kronis dari jaringan adnexa. Biasanya dibedakan dengan
ada tidaknya ruptur. Dapat terjadi bilateral walaupun 60% dari kasus abses yang
dilaporkan merupakan kejadian unilateral dengan atau tanpa penggunaan IUD.
Abses biasanya polimikroba

2. Etiologi

TOA biasanya disebabkan oleh bakteri aerob dan anaerob, seperti Escherichia
coli, Hemolytic streptococci and Gonococci, Bacteroides species dan Peptococcus
(Seshadri et al2004). Pada beberapa kasus, Hemophilus influenzae, Salmonella,
actinomyces, dan Staphylococcus aureus juga dilaporkan menjadi penyebab TOA.
Sekitar 92% penyebab TOA adalah Streptococci (Cohen et al., 2003).
Dikatakan bahwa nekrosis tuba fallopi dan kerusakan epitel terjadi
dikarenakan bakteri patogen menciptakan lingkungan yang diperlukan untuk invasi
anaerob dan pertumbuhan. Terdapat salfingitis yang melibatkan ovarium dan ada juga
yang tidak. Proses inflamasi ini dapat terjadi spontan atau merupakan respon dari
terapi. Hasilnya dapat terjadi kelainan anatomis yang disertai dengan perlengketan ke
organ sekitar. Keterlibatan ovarium biasanya terjadi di tempat terjadinya ovulasi yang
sering menjadi tempat masuk infeksi yang luas dan pembentukan abses. Apabila
eksudat purulen itu ditekan maka akan menyebabkan ruptur dari abses yang dapat
disertai oleh peritonitis berat serta tindakan laparotomi. Perlengketan yang lambat dari
abses akan menyebabkan abses cul de sac. Biasanya abses ini muncul ketika
penggunaan IUD, atau munculnya infeksi granulomatous ( TBC, aktinomikosis).
Adapun faktor risiko adalah sebagai berikut ,(Tuncer et al., 2012) :
a Multiple partner
b Status ekonomi rendah.
c Riwayat PID
d Menggunakan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
e Adanya riwayat STD

2
Paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh staphylococcus dan
streptococcus dan bacteri.
Infeksi dapat terjadi sebagai berikut :
a Menjalar dari alat yang berdekatan seperti dari ovarium yang meradang.
b Naik dari cavum uteri.

3. Patofisiologi

Adanya penyebaran bakteri dari vagina ke uterus lalu ke tuba dan atau
parametrium, terjadilah salpingitis dengan atau tanpa ooforitis. Keadaan ini bisa
terjadi pada pasca abortus, pasca persalinan atau setelah tindakan genekologi
sebelumnya (Mudgil, 2009). Mekanisme pembentukan TOA secara pasti masih sulit
ditentukan, tergantung sampai dimana keterlibatan tuba infeksinya sendiri. Pada
permulaan proses penyakit, lumen tuba masih terbuka mengeluarkan eksudat yang
purulent dari febriae dan menyebabkan peritonitis, ovarium sebagaimana struktur lain
dalam pelvis mengalami inflamasi, tempat ovulasi dapat sebagai tempat masuk
infeksi. Abses masih bisa terbatas mengenai tempat masuk infeksi. Abses masih bisa
terbatas mengenai tuba dan ovarium saja, dapat pula melibatkan struktur pelvis yang
lain seperti usus besar,buli-buli atau adneksa yang lain. Proses peradangan dapat
mereda spontan atau sebagai respon pengobatan, keadaan ini biasanya memberi
perubahan anatomi disertai perlekatan fibrin terhadap organ terdekatnya. Apabila
prosesnya menghebat dapat terjadi pecahnya abses (Mudgil, 2009).

4. Manifestasi Klinis

Pada semua kasus TOA, termasuk yang disebabkan oleh Pneumococcus,


menunjukkan gejala-gejala berikut: nyeri (88%), demam (35%), massa adneksa
(35%), diare (24%), mual dan muntah (18%), haid tidak teratur (12%).
Pada pemeriksaan touching : nyeri goyang portio, nyeri kiri dan kanan uterus
atau salah satunya, kadang-kadang terdapat penebalan tuba (tuba yang normal, tidak
teraba), seta nyeri pada ovarium karena meradang
Gejala dapat sangat bervariasi dari asimptomatis sampai terjadinya akut
abdomen sampai syok septik. Karateristik pasien biasanya yang muda serta paritasnya
rendah dengan riwayat infeksi pelvis. Durasi dari gejala pada wanita biasanya kurang

3
lebih 1 minggu dan onsetnya biasanya terjadi 2 minggu atau lebih setelah siklus
menstruasi.
Gejala-gejala lain yang bisa muncul pada pasien dengan ATO ( Abses Tuba
Ovarium ) adalah :
· Demam tinggi dengan menggigil.
· Nyeri kiri dan kanan di perut bagian bawah terutama kalau ditekan.
· Mual dan muntah, jadi ada gejala abdomen akut karena terjadi perangsan
peritoneum.
· Kadang-kadang ada tanesmi adalah anum karena proses dekat rektum dan
sigmoid.
· Toucher :
- Nyeri kalau portio digoyangkan.
- Nyeri kiri dan kanan dari uterus.
- Kadang-kadang ada penebalan dari tuba. Tuba yang sehat tak teraba.
- Nyeri pada ovarium karena meradang.

5. Pemeriksaan Penunjang / Diagnostik

a Pemeriksaan laboratorium: Hasil pemeriksaan yang didapatkan dari laboratorium


kurang bermakna. Hitung jenis sel darah putih bervariasi dari leukopeni sampai
leukositosis. Hasil urinalisis memperlihatkan adanya pyuria tanpa bakteriuria.
Nilai laju endap darah minimal 64 mm/h serta nilai akut C-reaktif protein minimal
20 mg/L dapat difikirkan ke arah diagnosa TOA.

b USG
Dapat membantu untuk mendeteksi perubahan seperti terjadinya progressi. regresi,
ruptur atau pembentukan pus. Ultrasound adalah modalitas pencitraan pilihan pertama
untuk diagnosis dan evaluasi TOA. USG menawarkan akurasi, siap ketersediaan,
biaya rendah dan kurangnya radiasi pengion. Namun, tetap memerlukan keahlian
teknis untuk mencapai potensi diagnostik yang akurat. Ini dapat dilakukan baik
transvaginal atau transabdominal: pencitraan yang transvaginal memberikan
gambaran lebih detail, dimana transduser berada di dalam dekat dengan daerah
pemeriksaan, sedangkan pencitraan pelvis yang transabdominal menawarkan
keuntungan imaging dalam satu tampilan organ besar seperti rahim. Habitus tubuh
4
besar dan adanya loop dari usus di pelvis dapat menimbulkan kesulitan dalam
pencitraan dengan US transabdominal.

c CT (computed tomography)
Computed tomography telah digunakan, sejak perkembagan dari US dan MRI, peran
terbatas dalam evaluasi radiologi dari PID. Penggunaan radiasi pengion yang
membatasi faktor lainnya, karena mayoritas pasien tersebut dalam usia reproduksi
(Tukeva et al., 1999). Kinerja CT dengan penggunaan media kontras oral dan
intravena meningkatkan metode dari akurasi diagnostik karena karakterisasi jaringan
yang lebih baik. Sejumlah kecil cairan dalam cul de sac bisa dideteksi oleh CT. Suatu
abses Tubo-ovarium mungkin tergambar sebagai massa peradangan dengan komponen
padat dan kistik, dengan peningkatan semua atau bagian dari komponen padat.
Tampilan paling sering dari Tubo-ovarium abcess adalah adanya cairan yang
mengandung massa dengan dinding tebal. Septations mungkin juga ada. Salah satu
tanda yang lebih spesifik dari abses Tubo-ovarium, yang tidak umum pada PID,
adalah munculnya gelembung gas pada massa. Limfadenopati biasanya ada di daerah
paraaortic pada tingkatan dari hila ginjal (limfatik ovarium dan limfatik salpingial
sejajar dengan vena gonad) (Hricak et al., 2000). Kadang-kadang ovarium dapat
dideteksi dalam massa. Dalam kasus seperti diagnosis abses Tubo-ovarium tidak sulit,
jika tidak, massa yang mengalami inflamasi bisa dibedakan dari proses peradangan
yang timbul dari appendiks (abses appendiceal) atau divertikula (Abses divertikular)
atau bahkan keganasan kandung kemih.

d Kuldosentesis
Cairan kuldosentesis pada wanita denagn TOA yang tidak ruptur memperlihatkan
gambaran reaction fluid yang sama seperti di salpingitis akut. Apabila terjadi ruptur
TOA maka akan ditemukan cairan yang purulen.

e Ultrasonografi,

5
bisa dipakai pada kecurigaan adanya ATO atau adanya masa di adneksa melihat
ada tidaknya pembentukan kantung-kantung pus, dapat untuk evaluasi kemajuan
terapi

f Pinki Douglas dilakukan bila pada VT : Cavum Douglas teraba menonjol. Pada
ATO yang utuh, mungkin didapatkan cairan akibat reaksi jaringan. Pada ATO yang
pecah atau pada abses yang mengisi cavum Douglas, didapat pus pada lebih 70 %
kasus
Penegakan diagnosis berdasarkan gejala-gejala yang telah didapatkan dan
dapat disertai adanya :
- Riwayat infeksi pelvis
- Adanya massa adnexa, biasanya lunak
- Produksi pus dari kuldesintesis pada ruptur

Diagnosa banding :
a. TOA utuh dan belum memberikan keluhan

a. Kistoma ovari, tumor ovari

b. KET

c. Abses peri, apendikuler

d. Mioma uteri

e. Hidrosalping

b. TOA utuh dengan keluhan

a. Perforasi apendik

b. Perforasi divertikel/abses divertikel

c. Perforasi ulkus peptikum

d. Kelainan sistematis yang memberi distres akut abdominal

e. Kista ovari terinfeksi atau terpuntir


6. Penatalaksanaan Medis

a. Curiga ATO utuh tanpa gejala


6
- Antibotika dengan masih dipertimbangkan pemakaian golongan : doksiklin
2x / 100 mg / hari selama 1 minggu atau ampisilin 4 x 500 mg / hari, selama 1
minggu.
- Pengawasan lanjut, bila masa tak mengecil dalam 14 hari atau mungkin
membesar adalah indikasi untuk penanganan lebih lanjut dengan kemungkinan
untuk laparatomi

b. ATO utuh dengan gejala :


- Masuk rumah sakit, tirah baring posisi “semi fowler”, observasi ketat tanda
vital dan produksi urine, perksa lingkar abdmen, jika perlu pasang infuse P2
iotika massif (bila mungkin gol beta lactar) minimal 48-72 jam
Gol ampisilin 4 x 1-2 gram selama / hari, IV 5-7 hari dan gentamisin 5 mg / kg
BB / hari, IV/im terbagi dalam 2x1 hari selama 5-7 hari dan metronida xole 1 gr
reksup 2x / hari atau kloramfinekol 50 mg / kb BB / hari, IV selama 5 hari
metronidzal atau sefaloosporin generasi III 2-3 x /1 gr / sehari dan metronidazol 2
x1 gr selama 5-7 hari interna
c ATO yang pecah, merupakan kasus darurat : dilakukan laporatomi pasang drain
kultur nanah
- Setelah dilakukan laparatomi, diberikan sefalosporin generasi III dan
metronidazol 2 x 1 gr selama 7 hari (1 minggu)

7. Diagnosis Banding

a) ATO utuh dan belum memberikan keluhan


- Kistoma ovarii, tumor ovarii
- Kehamilan ektopik yang utuh
- Abses peri, apendikuler
- Mioma uteri
- Hidrosalping
b) ATO utuh dengan keluhan :
- Perforasi apendik
- Perforasi divertikel / abses divertikel
- Perforasi ulkus peptikum
- Kelainan sistematis yang memberi ditres akut abdominal
- Kista ovarii terinfeksi atau terpuntir

7
8. Komplikasi

a) ATO yang utuh :


Pecah sampai sepsis reinfeksi dikemudian hari, ileus, infertilitas, kehamian ektopik
b) ATO yang pecah
Syok sepsis, abses intra abdominal, abses sub kronik, abses paru / otak

B. TINJAUAN ASKEP

a) PENGKAJIAN
a. Anamnesa

8
- Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, tanggal atau jam masuk
rumah sakit, nomor register, diagnosa, nama orang tua, alamat, umur
pendidikan, pekerjaan, pekerjaan orang tua, agama dan suku bangsa.
- Riwayat penyakit sekarang
Klien dengan post Laparatomy mempunyai keluhan utama nyeri yang
disebabkan insisi abdomen.
- Riwayat penyakit dahulu
Meliputi penyakit apa yang pernah diderita oleh klien seperti hipertensi,
operasi abdomen yang lalu, apakah klien pernah masuk rumah sakit, obat-
abatan yang pernah digunakan apakah mempunyai riwayat alergi dan
imunisasi apa yang pernah diderita.
- Riwayat penyakit keluarga
Adalah keluarga yang pernah menderita penyakit diabetes mellitus, hipertensi,
gangguan jiwa atau penyakit kronis lainnya sapaya yang dilakukan dan
bagaimana genogramnya

b. Pengumpulan Data
a.Pre Operatif
Data Subjektif
- Pasien mengeluuh nyeri pada perut kanan bawah seperti ditusuk- tusuk skala
nyeri sedang sampai berat, nyeri bertambah saat bergerak
- Pasien mengatakan tidak bisa BAB
- Pasien mengatakan takut dan cemas dengan keadaannya, terlebih lagi akan
dilakukan tindakan operasi

Data Objektif
- Pasien terlihat meringis, sering memegang perut saat bergerak
Eksperesi wajah pasien tegang, cemas dan gelisah
- Peristaltic usus menurun atau tidak ada
b. Intra operatif
Data Subjektif
- Pasien mengeluh kedinginan
- Pasien mengeluh pusing
Data Objektif
- Terjadi penurunan tekanan darah, nadi serta suhu
- Akral terasa dingin dan terlihat pucat (sianosis)
- Mukosa bibir terlihat kering
c.Post operatif
Data Subjektif
- Pasien mengatakan nyeri pada daerah bekas pembedahan
- Pasien mengatakan tidak bisa menggerakan kaki, terasa kebas dan terbatas

9
dalam melakukan gerakan
Data Objektif
- Pasien terlihat meringis
- Terdapat peningkatan tanda- tanda vital
- Terdapat luka post operasi di daerah abdomen
- Terjadi peningkatan WBC
- Luka tertutup gaas kering dan plester
- Pasien tidak mampu menggerakan ekstremitas bawah
- Pasien terbatas dalam melalukan pergerakan

b) DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Pre Operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada tuba ovarium
2) Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic usus akibat dari
peningkatan produk mucus dan secret di usus.
3) Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan status hipermetabolik.
4) Ansietas berhubungan dengan keadaan pasien sekarang dan tindakan operasi.
5) Kurang pengetahuan berhubungan mengenai kondisi,prognosis, dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

b) Intra Operasi
1) Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan tidak kuatnya system sirkulasi
2) Risiko hipotermi berhubungan dengan pajanan suhu dingin inaktifiktas (efek
anastesi)

c) Post Operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan dengan trauma jaringan dan spasme otot sekunder
terhadap pembedahan (laparatomy)
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka bekas operasi dan tindakan invasive.
3) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri akibat luka post operasi
4) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan insisi.

c) PERENCANAAN KEPERAWATAN
a. Prioritas Masalah
- Pre operasi
1. Ansietas
2. Nyeri akut
3. Konstipasi
- Intra operasi
10
1. Resiko syok hipovolemik
2. Resiko hipotermi
- Post operasi
1. Nyeri akut
2. Hambatan mobilitas fisik
3. Kerusakan integritas kulit
4. Resiko infeksi

Intervensi
Pre Operasi
a) DX : Ansietas berhubungan dengan keadaan pasien sekarang dan tindakan
operasi.
Tujuan : Setelah diberikan askep diharapkan cemas pasien berkurang
Kriteria hasil :
- Pasien melaporkan cemas yang dirasakan berkurang
- Pasien terlihat releks dan tenang
- Tanda- tanda vital dalam rentang normal (TD : 110/70-
120/80 mmHg, N: 60-100 x/ mnt, RR: 16-24 x/ mnt
Intervensi
a) Kaji tingkat dan penyebab ansietas seta kesiapan untuk menjalanmi
operasi
R/: Memberikan informasi dasar, ansietas memperberat persepsi nyeri
mempengaruhi penggunaan teknik koping dan menstimulasi peningkatan
pelepasan aldosteron yang meningkatan kecemasan
b) Observasi tanda- tanda vital
R/ : Ansietas mempengaruhi pada keadaan fisik/ fisiologi pasien dengan
memonitor tanda- tanda vital sekaligus dapat memonitor keadaan
psikologis pasien
c) Anjurkan pasien untuk mengunggkapkan perasaan dan rasa takut yang
dirasa
R/: Memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi dan memperjelas
kesalahan konsep dan menawarkan dukungan emosi
d) Berikan gambaran/ informasi mengenai proses pembedahan yang akan
dijalani seperti tindakan anastesi dan lama dari efek anastesi

11
R/: Pendidikan atau pengetahuan dapat menurunkan stress dan ansietas
serta meningkatkan kesiapan kesiapan untuk menjalani operasi
e) Ajarkan teknik relaksasi, meditasi dan bimbingan imajinasi
R/: Memberi kesempatan pada pasien untuk menangani ansietasnya
sendiri

b) DX : Nyeri akut berhubungan dengan infeksi pada tuba ovarium


Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan nyeri pasien berkurang atau
terkontrol
Kriteria hasil :
- Skala nyeri yang dirasakan berkurang (1-3) dari 10 skala
nyeri yang diberikan
- Pasien terlihat rileks
- Tanda- tanda vital dalam rentang normal (TD : 110/70-
120/80 mmHg, N: 60-100 x/ mnt, RR: 16-24 x/ mnt
Intervensi
a) Kaji skala nyeri yang dirasakan pasien dengan metode PQRST
R/ : Skala nyeri diperlukan agar kita dapat mengetahui tingkat nyeri yang
dirasakn, lokasi, kapan nyeri timbul, intensitas nyeri sehingga bisa
memberikan intervensi yang tepat
b) Observasi tanda- tanda vital
R/: Peningkatan rasa nyeri dapat mempengaruhi respon fisiologis seperti
peningkatan tekanan darah, nadi serta respirasi
c) Beri posisi yang dirasakan nyaman oleh pasien
R/: Meningkatkan rasa nyaman serta mengurangi nyeri
d) Ajarkan teknik distraksi relaksasi
R/: Relaksasi dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merelaksasikan
ketegangan otot yang menunjang nyeri. Distraksi memfokuskan perhatian
paisen pada suatu hal yang menyenangkan sehingga dapat menjauhkan rasa
nyeri
e) Anjurkan pasien untuk menggunakan kompres air hangat
R/: Kompres hangat dapt memvasodilatasi pembuluh darah pada lokasi nyeri
sehingga nyeri dapt berkurang
f) Kolaborasi dalam pemberian analgetik

12
R/: Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri dengan menekan susunan saraf
pusat pada thalamus dan korteks serebri

c) DX : Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic usus akibat dari


peningkatan produk mucus dan secret di usus.
Tujuan : Setelah diberikan askep diharapakn BAB pasien kembali normal
Kriteria Hasil :
- Frekuensi BAB normal (1-2x/sehari) konsistensi lembek
- Bising usus normal
- Lingkar abdomen normal
Intra Operatif
1. DX : Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan tidak kuatnya system sirkulasi
Tujuan : Setelah diberikan askep diharapkan syok hipovolemik tidak terjadi
Kriteria Hasil :
- Tanda- tanda vital dalam rentang normal (TD : 110/70- 120/80
mmHg, N: 60-100 x/ mnt, RR: 16-24 x/ mnt
- Tidak ada sianosi
- CRT < 3 detik
- Pendarahan < 500cc
Intervensi
a. Monitor TTV, kesadaran, perfusi dan balance cairan
R/: Dengan pemantaun sedini mungkin dapat diambil tindakan secar tepat dan
cepat
b. Kaji warna kulit, membrane mukosa, dan dasar kuku
R/: Pucat mungkin dapt diambil sebagai data yang menunjukan vasokontriksi,
sianosis mungkin menunjukan kegagalan sirkulasi
c. Bila sudah diperbolehkan minum anjurkan minum yang banyak
R/: Peningkatan cairan dapat meningkatkan metabolisme sehingga kebutuhan
cairan terpenuhi
d. Kolaborasi dalam pemberian cairan infuse atau transfuse
R/: Menggantikan cairan yang hilang atau tidak terpenuhi
e. Kolaborasi dalam pemberian obat untuk meningkatkan cardiac output
misalnya efedri
R/: Efedrin merupakn agois reseptor alfa dan beta dan beta 1 dan beta 2dan
dapat merangsang pelepasan norefrinefrin dari neuron simpatis, efek perifer

13
efedrin melalui kerja langsung dan melalui pelepasan endogen yang
mentsimulaisi detak jantung dan cardiac output sehingga sehingga dapat
menaikan tekanan darah.

2. Resiko hipotermi berhubungan dengan pajanan suhu dingin inaktifiktas (efek


anastesi)
Tujuan : Setelah diber ikan askep diharapkan hipotermia tidak terjadi
Kriteria hasil :
- Suhu tubuh dalam rentang normal 36,5-37,50C
- Pasien tidak mengeluh kedinginan
- Akral tidak dingin dan tidak terjadi sianosis
Intervensi
a. Obsservasi tanda- tanda vital terutama suhu
R/: Memantau tanda- tanda vital pasien secara dini sehingga dapat mengetahui
keadaan pasien secara dini
b. Observasi pasien jika menggigil
R/: Kompensasi produksi panas distimulasi melalui konstriksi otot volunteer dan
getaran (menggigil) pada otot. Bila vasokonstriksi tidak efektif dalam mencegah
pengeluaran tambahan panas, tubuh mulai menggigil
c. Observasi kulit, hidung dan bibir
R/: Unntuk mengetahui adanya sianosis
d. Sediakan selimut ektra tebal
R/: Menurunkan kehilangan panas melalui radiasi
e. Pertahankan kepala tetap tertutup
R/: Untuk mencegah pengeluaran panas
Post Operasi
1. DX : Nyeri akut berhubungan dengan dengan trauma jaringan dan spasme otot
sekunder terhadap pembedahan (laparatomy)
Tujuan : Setelah diberikan askep diharapkan pasien dapat mengontrol nyeri
Kriteria hasil :
- Pasien melaporkan nyeri yang dirasakannya berkurang atau
terkontrol
- Pasien terlihat rileks
- TTV dalam batas normal (TD : 110/70- 120/80 mmHg, N: 60-100
x/ mnt, RR: 16-24 x/ mnt

Intervensi
a. Kaji skala nyeri yang dirasakan pasien dengan metode PQRST

14
R/: Skala nyeri diperlukan agar kita dapat mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan,
lokasi, kapan nyeri timbul, intensitas nyeri sehingga bisa memberikan intervensi yang
tepat
b. Observasi tanda- tanda vital
R/: Peningkatan rasa nyeri dapat mempengaruhi respon fisiologis seperti peningkatan
tekanan darah, nadi serta respirasi
c. Beri posisi yang dirasakan nyaman oleh pasien
R/: Meningkatkan rasa nyaman serta mengurangi nyeri
d. Ajarkan teknik distraksi relaksasi
R/: Relaksasi dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merelaksasikan ketegangan
otot yang menunjang nyeri. Distraksi memfokuskan perhatian paisen pada suatu hal
yang menyenangkan sehingga dapat menjauhkan rasa nyeri
e. Anjurkan pasien untuk menggunakn kompres air hangat
R/: Kompres hangat dapt memvasodilatasi pembuluh darah pada lokasi nyeri sehingga
nyeri dapt berkurang
f. Kolaborasi dalam pemberian analgetik
R/: Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri dengan menekan susunan saraf pusat pada
thalamus dan korteks serebri
2. DX : Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri akibat luka post operasi
Tujuan : Setelah diberkan askep diharapkan mampu melakukan dan tidak mengalami
hambatan mobilitas fisik
Kriteria Hasil :
- Kekuatan otot 555 555
555 555
- Pasien mampu melakukan aktivitas ringan seperti makan

Intervensi
a. Observasi kekuatan otot
R/: Untuk mengetahui kekuatan otot pasien
b. Tinggikan kaki sejajar jantung
R/: Meningkatkan aliran balik vena dan membantu mencegah terbentuknya edema
c. Setelah efek anastesi hilang mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif
pada semua ekstremitas, anjurkan melakukan latihan mengerakan jari kaki dan tangan
R/: Meminimalkan atropi otot dan meningkatkan sirkulasi

15
3. DX : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan insisi
Tujuan : Setelah diberikan askep diharapakan kerusakan integritas kulit dapat diatasi
Kriteria Hasil : Penyembuhan luka dapat pada waktunya dan tanpa komplikasi
Intervensi
a. Observasi keadaan kulit
R/: Menilai keadaan kulit pasien
b. Pertahankan tempat tidur yang aman dan nyaman (bersih, dan kering)
R/: Untuk meningkatkan kenyamanan pasien dan dan resiko kerusakan kulit lebih luas
c. Kolaborasi dalam pemberian oksit luka seperti gloplasenton
R/: membantu proses repitalisasi dan proses penyembuhan luka seperti luka post
operasi

4. DX : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka bekas operasi dan tindakan
invasive
Tujuan : Setelah diberikan askep diharapkan tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil :
- Tidak ada tanda- tanda infeksi (dolor, lumor, tumor, kalor dan
fungsiolasia)
- TTV dalam rentang normal. (TD : 110/70- 120/80 mmHg, N: 60-100
x/ mnt, RR: 16-24 x/ mnt
Intervensi
a. Pantau tanda- tanda vital. Perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan
mental
R/: Indikator adanya infeksi
b. Lakukan pencucian tangan dengan cermat dan perawatan luka yang aseptic
R/: Membantu mencegah ataupun menghambat penyebaran infeksi
c. Lihat insisi dan balutan. Perhatiakn adanya eritema
R/: Memberikan deteksi dini terhadap terjadinya proses infeksi
d. Kolaborasi dalam pemberian antibiotic
R/: Mencegah terjadinya infeksi karna antibiotic dpat langsung menghancurkan
dinding peptidoglikan yang merupakan komponen utama dinding sel bakteri, sehingga
bakteri tidak terlindungi lagi dan akhirnya bakteri akan mati
e. Kolaborasi dalam pemeriksaan WBC

16
R/: Peningkatan WBC diatas rentang normal, mungkin mengindikasikan adanya
infeksi

d) PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Pelaksanaan atau implementasi adalah tindakan yang dilakukan sesuai dengan
rencana asuhan keperawatan yang telah disusun atau ditentukan sebelumnya
berdasarkan rencana tindakan yang telah dibuat, dimana tindakan yang dilakukan
mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi (Tarwoto dan Wartonah, 2003).

e) EVALUASI KEPERAWATN
a) Pre Operasi
1) Nyeri berkurang atau terkontrol.
2) Pola eliminasi bowel kembali normal
3) Masalah risiko kekurangan volume cairan tidak terjadi.
4) Ansietas berkurang atau terkontrol
5) Peningkatan pemahaman mengenai penyakitnya
b) Intra Operasi
1) Tidak terjadi syok hipovolemik
2) Tidak terjadi hipotermi
c) Post Operasi
1) Nyeri berkurang atau terkontrol.
2) Masalah risiko infeksi tidak terjadi.
3) Peningkatan kemampuan melakukan aktivitas sesuai indikasi.
4) Integritas kulit dapat dipertahankan.

17