Anda di halaman 1dari 5

(/)

(http://www.pom.go.id)
Main menu

Beranda (/) Artikel (/artikel) Obat Baru (/cari/obat-baru) IONI (/ioni) Info BPOM (/info-bpom)

Situs Terkait (/situs-terkait) Website POM (http://www.pom.go.id)

Cari

Depan (/) » IONI (/ioni) » BAB 5 INFEKSI (/ioni/bab-5-infeksi) » 5.1 Antibakteri (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri) »
5.1.8 Antibiotik Lain (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/518-antibiotik-lain) » 5.1.8.2 Klindamisin

5.1.8.2 Klindamisin
Pengunaan klindamisin sangat terbatas karena efek sampingnya yang serius. Efek toksik serius kebanyakan adalah
kolitis terkait dengan antibiotik, yang dapat fatal dan paling sering terjadi pada usia setengah baya dan wanita lansia,
khususnya setelah pembedahan. Walaupun efek samping ini dapat terjadi oleh sebagian besar antibiotik, namun paling
sering terjadi dengan klindamisin. Oleh karena itu, bila terjadi diare, maka pengobatan harus segera dihentikan.

Klindamisin aktif terhadap kokus Gram positif, termasuk sta lokokus yang resisten terhadap penisilin, juga terhadap
bakteri anaerob seperti Bacteroides fragilis. Obat ini terkonsentrasi dalam tulang dan diekskresi di urin dan empedu.

Klindamisin direkomendasikan untuk infeksi tulang dan sendi karena stapilokokus, seperti osteomielitis dan sepsis intra
abdominal. Infeksi mulut. Klindamisin tidak boleh digunakan secara rutin untuk terapi infeksi mulut karena mungkin
tidak lebih efektif daripada penisilin dalam mengatasi bakteri anaerob dan dapat menimbulkan resistensi silang
dengan bakteri yang resisten terhadap eritromisin. Klindamisin dapat digunakan untuk mengatasi abses dentoalveolar
yang tidak dapat diatasi oleh penisilin atau metronidazol.

Monogra : 

KLINDAMISIN (/monogra /klindamisin)


Indikasi: 
Infeksi serius akibat bakteri anaerob atau bakteri aerob gram positif. Infeksi serius saluran nafas (em ema, pnemonitis
anaerob, abses paru), infeksi serius jaringan lunak dan kulit, septikemia, infeksi intra-abdomen (peritonitis, abses intra-
abdomen), infeksi ginekologi (endometritis, selulitis pelvis pasca operasi vagina, abses tuboovarium non-gonokokal,
salpingitis, atau in amasi pelvis ketika diberikan bersamaan dengan antibiotik untuk bakteri aerob gram negatif),
servisitis karena Chlamydia trachomatis, infeksi mulut (abses periodontal, periodontitis), terapi toksoplasmik ensefalitis
pada pasien dengan AIDS (kombinasi bersama pirimetamin). Klindamisin dapat menjadi pilihan untuk pasien alergi
golongan penisilin.

Peringatan: 
Neonatus, anak-anak, kehamilan, menyusui, diare, kolitis, kolitis pseudomembran, meningitis, gangguan lambung,
mengemudi. Gangguan fungsi ginjal dan gangguan fungsi hati, perlu pemantauan fungsi hati dan fungsi ginjal pada
pengobatan jangka panjang.

Interaksi: 
Eritromisin: kemungkinan memiliki efek antagonis. Golongan penghambat neuromuskular: mengubah mekanisme kerja
dari obat golongan tersebut.

Kontraindikasi: 
Hipersensitivitas.

Efek Samping: 
Umum: kolitis pseudomembran, diare, nyeri abdomen, gangguan pada tes fungsi hati, ruam makulopapular. Tidak
umum: eosino lia, dysgeusia, hipotensi, cardiorespiratory arrest, mual, muntah, urtikaria, pada pemberian injeksi: nyeri
dan abses. Jarang: eritema multiforme, poliartritis, pruritus. Frekuensi tidak diketahui: agranulositosis, leukopenia,
neutropenia, trombositopenia, reaksi ana laktik, Drug reaction with eoshiphilia and systemic symptoms (DRESS),
esofagitis, ulkus esofagus, ikterus, nekrolisis epidermal toksis, sindroma Steven Johnson, dermatitis eksfoliatif,
dermatitis bulosa, infeksi vagina, Acute Generalised Exanthematous Pustulosis (AGEP), iritasi pada tempat penyuntikan.

Dosis: 
Oral: Infeksi serius. Dewasa, 150-300 mg tiap 6 jam. Infeksi lebih serius. 300-450 mg tiap 6 jam. Anak, 8-16 mg/kg
BB/hari dibagi dalam 3-4 dosis. Sebaiknya diminum dengan segelas air.

Penyakit in amasi pelvis. Klindamisin fosfat 900 mg secara intravena tiap 6 jam ditambah gentamisin
intravena/intramuskular dengan dosis awal 2 mg/kg dilanjutkan 1,5 mg/kg tiap 8 jam pada pasien dengan fungsi ginjal
normal dilanjutkan sampai 48 jam hingga pasien membaik. Selanjutnya diberikan doksisiklin oral 100 mg, 2 kali sehari
untuk melengkapi durasi terapi hingga 10-14 hari. Sebagai terapi alternatif, diberikan klindamisin oral 450 mg, 4 kali
sehari untuk melengkapi durasi terapi hingga 10-14 hari.

Servisitis karena Chlamydia trachomatis. 450 mg 4 kali sehari selama 10-14 hari
Terapi toksoplasmik ensefalitis pada pasien AIDS. Intravena: 600-1200 mg tiap 6 jam selama 3 minggu, dilanjutkan
dengan klindamisin 300 mg tiap 6 jam atau 450 mg tiap 8 jam selama 3 minggu. Dikombinasi dengan pirimetamin: 100-
200 mg dibagi dalam 2 dosis selama 1-2 hari, dilanjutkan dengan 75 mg/hari. Asam folinat 10-20 mg/hari harus
diberikan pada pirimetamin dosis tinggi.

Infeksi streptokokus β-hemolitik. Terapi klindamisin selama minimal 10 hari.

LINKOMISIN (/monogra /linkomisin)


‹ 5.1.8.1 Kloramfenikol (/ioni/bab-5-infeksi/51- ke 5.1.8.3 Vankomisin dan Teikoplanin › (/ioni/bab-
antibakteri/518-antibiotik-lain/5181- atas 5-infeksi/51-antibakteri/518-antibiotik-lain/5183-
kloramfenikol) (/ioni/bab- vankomisin-dan-teikoplanin)
5-
infeksi/51-
antibakteri/518-
antibiotik-
lain)

DAFTAR ISI
IONI (/ioni)
PEDOMAN UMUM (/ioni/pedoman-umum)
BAB 1 SISTEM SALURAN CERNA (/ioni/bab-1-sistem-saluran-cerna-0)
BAB 2 SISTEM KARDIOVASKULER (/ioni/bab-2-sistem-kardiovaskuler-0)
BAB 3 SISTEM SALURAN NAPAS (/ioni/bab-3-sistem-saluran-napas-0)
BAB 4 SISTEM SARAF PUSAT (/ioni/bab-4-sistem-saraf-pusat)
BAB 5 INFEKSI (/ioni/bab-5-infeksi)
5.1 Antibakteri (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri)
5.1.1 Penisilin (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/511-penisilin)
5.1.2 Sefalosporin dan Antibiotik Beta-laktam Lainnya (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/512-sefalosporin-
dan-antibiotik-beta-laktam-lainnya)
5.1.3 Tetrasiklin (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/513-tetrasiklin)
5.1.4 Aminoglikosida (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/514-aminoglikosida)
5.1.5 Makrolida (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/515-makrolida)
5.1.6 Kuinolon (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/516-kuinolon)
5.1.7 Sulfonamid dan Trimetoprim (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/517-sulfonamid-dan-trimetoprim)
5.1.8 Antibiotik Lain (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/518-antibiotik-lain)
5.1.8.1 Kloramfenikol (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/518-antibiotik-lain/5181-kloramfenikol)
5.1.8.2 Klindamisin (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/518-antibiotik-lain/5182-klindamisin)
5.1.8.3 Vankomisin dan Teikoplanin (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/518-antibiotik-lain/5183-
vankomisin-dan-teikoplanin)
5.1.8.4 Spektinomisin (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/518-antibiotik-lain/5184-spektinomisin)
5.1.8.5 Polimiksin (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/518-antibiotik-lain/5185-polimiksin)
5.1.8.6 Linezolid (/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/518-antibiotik-lain/5186-linezolid)
5.2 Tuberkulosis dan Leprosi (/ioni/bab-5-infeksi/52-tuberkulosis-dan-leprosi)
5.3 Anti Jamur (/ioni/bab-5-infeksi/53-anti-jamur)
5.4 Infeksi Virus (/ioni/bab-5-infeksi/54-infeksi-virus)
5.5 Infeksi Protozoa (/ioni/bab-5-infeksi/55-infeksi-protozoa)
5.6 Infeksi Cacing (/ioni/bab-5-infeksi/56-infeksi-cacing)
BAB 6 SISTEM ENDOKRIN (/ioni/bab-6-sistem-endokrin)
BAB 7 OBSTETRIK, GINEKOLOGIK, DAN SALURAN KEMIH (/ioni/bab-7-obstetrik-ginekologik-dan-saluran-kemih)
BAB 8 KEGANASAN DAN IMUNOSUPRESI (/ioni/bab-8-keganasan-dan-imunosupresi)
BAB 9 GIZI DAN DARAH (/ioni/bab-9-gizi-dan-darah)
BAB 10 OTOT SKELET DAN SENDI (/ioni/bab-10-otot-skelet-dan-sendi)
BAB 11 MATA (/ioni/bab-11-mata)
BAB 12 TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROK (/ioni/bab-12-telinga-hidung-dan-tenggorok)
BAB 13 KULIT (/ioni/bab-13-kulit)
BAB 14 PRODUK IMUNOLOGIS DAN VAKSIN (/ioni/bab-14-produk-imunologis-dan-vaksin)
BAB 15 ANESTESIA (/ioni/bab-15-anestesia)
BAB 16 PENANGANAN DARURAT PADA KERACUNAN (/ioni/bab-16-penanganan-darurat-pada-keracunan)
BAB 17 MEDIA KONTRAS (/ioni/bab-17-media-kontras)
BAB 18 RADIOFARMAKA (/ioni/bab-18-radiofarmaka)
LAMPIRAN 1 : INTERAKSI OBAT (/ioni/lampiran-1-interaksi-obat-0)
LAMPIRAN 2 : GAGAL HATI (/ioni/lampiran-2-gagal-hati-0)
LAMPIRAN 3 : GAGAL GINJAL (/ioni/lampiran-3-gagal-ginjal)
LAMPIRAN 4 : KEHAMILAN (/ioni/lampiran-4-kehamilan)
LAMPIRAN 5 : MENYUSUI (/ioni/lampiran-5-menyusui)
LAMPIRAN 6 : PETUNJUK PRAKTIS PENGGUNAAN OBAT YANG BENAR (/ioni/lampiran-6-petunjuk-praktis-
penggunaan-obat-yang-benar)

PENCARIAN
IONI (/ioni/search)
Monogra (/ioni/search/monogra )
Interaksi Obat (/ioni/search/interaksi)
Gagal Hati (/ioni/search/gagal-hati)
Gagal Ginjal (/ioni/search/gagal-ginjal)
Kehamilan (/ioni/search/kehamilan)
Menyusui (/ioni/search/menyusui)

Copyright © 2015, Pusat Informasi Obat Nasional, Badan POM RI