Anda di halaman 1dari 16

PROSES START UP DAN SHUT DOWN PADA ALAT KIMIA

Untuk memenuhi tugas mata kuliah ATK (Asas Teknik Kimia)

Di susun oleh :
GILANG DARU (40040117640001)
NICA SAFIRA INGGRID PRADANI (40040117640008)
AULYA AKMALA (40040117640013)
AKMAL MI’RAJ (40040117640020)
YUSUF ARYA YUDANTO (40040117640031)
Dosen Pengampu :
Ir. R. TD. Wisnu B, MT.

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN TEKNOLOGI REKAYASA KIMIA INDUSTRI


SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan banyak nikmat,
taufik dan hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Proses Start
Up dan Shut Down Alat Kimia”.
Makalah ini telah kami selesaikan dengan maksimal berkat kerja sama dan bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu kami sampaikan terimakasih kepada segenap pihak yang telah berkontribusi
secara maksimal dalam penyelesaian makalah ini.
Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan
dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, sususan kalimat, maupun isi. Oleh sebab
itu dengan segala kerendahan hati, kami menerima segala kritik dan saran yang membangun dari
pembaca.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat menambah khazanah ilmu
pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk masyarakat luas.

Semarang, 2 November 2017

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................................
BAB III PENUTUP ......................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pada era globalisasi ini, banyak sekali karyawan pabrik atau industri yang mengabaikan
pentingnya proses start up dan shut down pada sebuah peralatan kerja khususnya pada bidang
kimia. Hal ini mengakibatkan terjadinya kecelakaan saat bekerja. Kondisi keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indponesia secara umum diperkirakan termasuk rendah.
Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia,
Filipina dan Thailand. Disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu memfasilitasi
dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi
pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh,
merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Begitu juga
dengan laboratorium yang merupakan sarana untuk melaksanakan kegiatan penelitian ilmiah.

Salah satu contohnya adalah laboratorium yang kimia merupakan kelengkapan sebuah
program studi, dan digunakan untuk meningkatkan keterampilan penggunaan dan pemakaian
bahan kimia maupun peralatan analisis (instrumentasi). Laboratorium kimia dengan segala
kelengkapan peralatan dan bahan kimia merupakan tempat berpotensi menimbulkan bahaya
kepada para penggunanya jika para pekerja di dalamnya tidak dibekali dengan pengetahuan
mengenai kesehatan dan keselamatan kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan
instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan ma-syarakat sekitar
dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib
dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko
kecelakaan kerja (zero accident). Pada kesempatan ini, kami akan menjelaskan tentang proses
start up dan shut down pada peralatan kimia.
1.2. Tujuan
1.2.1. Mengetahui pengertian start up dan shut down
1.2.2. Mengetahui proses start up dan shut down yang benar
1.2.3. Mengetahui pentingnya start up dan shut down
1.2.4. Mengetahui contoh proses start up dan shut down pada pompa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Start Up
Startup berarti proses menghidupkan sumber energi pada mesin kerja agar bisa
dioperasikan. Dianjurkan untuk menyalakan alat atau menggunakan alat dalam keadaan
steril/ bebas dari hal – hal yang memberi resiko kecelakaanProses startup haruslah diurut
secara benar untuk menghindari kesalahan pada saat pemakaian alat khususnya mesin.
(Indah, 2017)
2.2. Pengertian Shut Down
Proses shutdown berarti proses mematikan sumber energy pada mesin kerja agar
tidak bisa dioperasikan. Tidak dianjurkan untuk mematikan mesin kerja dengan menekan
tombol power atau mencabut listrik secara langsung. Mungkin sering dihadapkan dengan
kondisi dimana seorang pekerja dituntut untuk mematikan mesin dengan cepat, sehingga
lebih memilih untuk mematikan dengan memutuskan aliran listriknya, karena dengan
melakukan proses shutdown membutuhkan waktu sedikit agak lama. (Indah, 2017)
Shutdown system, yaitu sistem yang dapat membuat suatu kerja peralatan menjadi
berhenti beroperasi. Tentunya banyak hal yang memaksa suatu perlatan untuk berhenti
beroperasi. Sebuah control system harus bisa digunakan untuk mencegah risiko terjadinya
cidera atau kerusakan pada manusia, lingkungan, atau peralatan.
2.3. Proses Start Up pada Umumnya
Proses start up itu berbeda pada setiap alat yang akan digunakan. Proses start up
pada umumnya yaitu dengan mencolokkan kabel ke sumber listrik lalu menekan tombol
power on/off kemudian mengikuti alur yang ada, tergantung jenis alatnya.
2.4. Proses Shut Down
Proses shut down sama seperti start up. Prosesnya tergantung jenis alat yang
digunakan. Proses shut down pada umumnya yaitu dengan menekan tombol power on/off
kemudian mecabut kabel dari sumber listriknya.

2.5. Pentingnya Start Up


Proses start up sangat penting. Proses start up yang salah bisa menyebabkan cidera
atau kekonsletan pada alat dan arus listrik. Banyak kecelakaan terjadi pada masa transisi
ke fase operasi stabil, seperti pada start up pada peralatan baru. Start up dilakukan dari
individual unit seperti menjalankan sistem pendingin (udara), steam sistem serta
pengetesannya.
2.6. Pentingnya Shut Down
Proses shut down sendiri adalah salah satu dari bentuk perlindungan agar alat tidak
cepat rusak atau pencegah kecelakaan kerja akibat kelalaian pekerja. Dan yang terpenting
proses shut down haruslah safe state untuk menghindari kerusakan saat proses shut down
jika kurang sempurna. Dalam proses shut down dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
 Process Shutdown tanpa Panel, Process shutdown system pada sumur
pengeboran lama seperti Bravo, Kilo, Uniform, Lima, XA dan XB.
 Process Shutdown dengan Panel, Process Shutdown yang dipakai pada
anjungan - anjungan baru seperti: Auton, Robertsaw, Delta dll.
(Abi Royen, 2015)

2.7. Proses Start Up dan Shut Down pada Suatu Alat


Dalam suatu alat terdapat proses Start Up dan proses Shut Down dan prosesnya
berbeda – beda tergantung alat apa yang akan digunakan.

Prinsip kerja dari proses startup system adalah sebagai berikut :


Proses Start Up pada PLTN
Proses dalam startup pada PLTN yaitu sebagai berikut :

1. Air (berwarna biru tua) mengalir dari kondensor masuk ke boiler melewati pompa
dalam keadaan dingin. Di dalam boiler air ini akan di panaskan dalam suhu yang
sangat panas sehingga samapai terbentuk uap air.
2. Proses pembakaran uranium atau nuklir. Di dalam reactor vessel (dalam gambar)
ini proses dari pembakaran berlangsung. Terjadi tumbrukan antar partikel di
dalamnya yang akan menghasilkan panas (berwarna merah) yang kemudian
otomatis naik dan akan di salurkan ke dalam boiler melewati pressurizer yang
gunanya untuk menekan agar di dapat panas lebih lagi untuk proses pemanasan
air. Di dalam reactor vessel terbentuk sekat-sekat agar alur panas itu teratur di
dalamnya.
3. Di dalam boiler akan terjadi pemanasan air yang dilakukan oleh panas hasil proses
pembakaran nuklir melalui pipa-pipa yang kemudian air yang telah panas sampai
terbentuk uap air panas (berwarna biru muda). Kemudian uap air panas itu di
salurkan melalui pipa dan masuk ke ruang turbin dan akan memutar rotor turbin
itu. Setelah memutar turbin uap air panas itu di dinginkan kembali setelah masuk
ke dalam kondensor yang setelah dingin akan menetes seperti air biasa ke bagian
bawah kondensor.
4. Proses pendinginan dilakukan dengan mengambil sisa panas dari uap air dengan
cara air dingin disalurkan melalui pipa-pipa yang akan masuk ke dalam kondensor
dan hasil panas yang diserap di bawa keluar untuk di dinginkan.
5. Dari turbin yang berputar maka akan di salurkan untuk memutar generator dan
dari generator ini akan dihasilkan energi listrik yang akan disalurkan ke
masyarakat dan industri.

Prinsip kerja dari proses shutdown system adalah sebagai berikut :


Proses Shutdown pada PLTN
1. Alat penembakan neutron dimatikan sehingga neutron tidak lagi ditembakkan ke bahan
bakar nuklir.
2. Batang pengontrol atau control rods diturunkan ke tengah-tengah bahan bakar nuklir.
Batang pengontrol ini akan menyerap seluruh neutron bebas sehingga menghentikan
reaksi fisi dalam bejana reaktor.
3. Aliran air pendingin bejana reaktor dipercepat. Karena reaksi fisi berhenti di tengah
jalan, maka bejana reaktor dipenuhi oleh radioisotop-radioisotop hasil reaksi fisi.
Radioisotop ini sifatnya tidak stabil dan akan terus memancarkankan radiasi radioaktif
hingga sifatnya stabil. Pancaran radiasi radioaktif ini disertai dengan pelepasan energi
yang bisa mencapai 900 derajat celsius. Makanya aliran air pendingin mutlak
diperlukan untuk mencegah kerusakan pada batang bahan bakar nuklir.
4. Aliran air pendingin turbin dipercepat. Karena turbin uap berhenti, tekanan uap
otomatis meningkat. Oleh karena itu aliran air pendingin dipercepat guna menurunkan
energi kalor uap yang dihasilkan dari reaksi fisi nuklir.
(Nugroho, 2014)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Startup berarti proses menghidupkan sumber energi pada mesin kerja agar bisa
dioperasikan. Dianjurkan untuk menyalakan alat atau menggunakan alat dalam keadaan
steril/ bebas dari hal – hal yang memberi resiko kecelakaanProses startup haruslah diurut
secara benar untuk menghindari kesalahan pada saat pemakaian alat khususnya mesin.
(Indah, 2017)
Proses shutdown berarti proses mematikan sumber energy pada mesin kerja agar
tidak bisa dioperasikan. Tidak dianjurkan untuk mematikan mesin kerja dengan menekan
tombol power atau mencabut listrik secara langsung. Mungkin sering dihadapkan dengan
kondisi dimana seorang pekerja dituntut untuk mematikan mesin dengan cepat, sehingga
lebih memilih untuk mematikan dengan memutuskan aliran listriknya, karena dengan
melakukan proses shutdown membutuhkan waktu sedikit agak lama. (Indah, 2017)
Proses start up sangat penting. Proses start up yang salah bisa menyebabkan cidera
atau kekonsletan pada alat dan arus listrik. Banyak kecelakaan terjadi pada masa transisi
ke fase operasi stabil, seperti pada start up pada peralatan baru. Start up dilakukan dari
individual unit seperti menjalankan sistem pendingin (udara), steam sistem serta
pengetesannya.
Proses shut down sendiri adalah salah satu dari bentuk perlindungan agar alat tidak
cepat rusak atau pencegah kecelakaan kerja akibat kelalaian pekerja. Dan yang terpenting
proses shut down haruslah safe state untuk menghindari kerusakan saat proses shut down
jika kurang sempurna.
Dalam proses startup dan shutdown setiap alat memiliki prosesnya masing –
masing, tergantung dari apa alat yang akan kita gunakan. Contohnya pada pengoprasian
pompa dan pengoprasian PLTN yang memiliki caranya masing – masing.

DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka

Abdul Alim. 2015 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) K2512001


http://pembangkit-uap.blogspot.co.id/2015/03/pembangkit-listrik-tenaga-nuklir-pltn.html
diakses pada 19.19. 8 November 2017

Abi Royen. 2015 Membahas Proses Shutdown System


http://www.instrumentasi.info/2015/01/membahas-process-shutdown-system.html diakses
pada 21.00. 7 November 2017

Abi Royen. 2015 Prisnsip Kerja dari Proses Shutdown System


http://www.instrumentasi.info/2015/01/prinsip-kerja-dari-process-shutdown.html diakses
pada 21.02. 7 November 2017

Achmad Royani. 2015. Pompa dan Cara Startingnya https://process-


engineers.blogspot.co.id/2015/09/pompa-dan-cara-startingnya.html diakses pada 19.21. 8
November 2017

Adhi Budhiarto 2013. Migas Indonesia (diskusi)


https://groups.google.com/forum/#!topic/migas-indonesia-google/kXFcv6gbxBk diakses
pada 19.17 . 7 November 2017

Eka Sunandar. 2017 Logout Tagout https://www.slideshare.net/EkaSunandar1/lockout-


tagout-71568679 diakses pada 21.40. 7 November 2017

Nugroho. 2014 Shut Down PLTN http://www.danielnugroho.com/science/shut-down-


pltn/2/ diakses pada 21.43. 7 November 2017
LAMPIRAN

PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Penanya : Azizah Rahman (40040117640013)


Pertanyaan : Bagaimana cara mengisolasi sebuah mesin/ alat?
Jawaban :
a. Putar sakelar pada posisi “OFF” / buka cover/tekan tombol emergency shut down, dll
b. Isolasi semua peralatan sehingga tidak terhubung dengan sumber energi seperti buka
saklar pada posisi off, buka circuit breaker, tutup keran, dll.
c. Kunci semua point isolasi, sertakan tag pada setiap kunci/titik isolasi dan lebih bagus
jika menempatkan tag pada titik operasi (tombol start) jika letak titik isolasinya
berjauhan dengan titik operasi
d. Pastikan semua energy potensial atau energy sisa dapat dikendalikan (dibuang)
e. Periksa kembali / check isolasi sebelum kegiatan perbaikan
f. Lakukan perbaikan pada alat dan hindari apapun yang berpotensi mengaktifkan
peralatan

Penjawab : Yusuf Arya Yudanto (40040117640031)

(Eka Sunandar, 2017)

2. Penanya : Enrico Fendy Sapatra (40040117640019)


Pertanyaan : mengapa proses shut down penting? Bagaimana proses shutdown tersebut?
Jawaban :
Karena proses shut down sendiri adalah salah satu dari bentuk perlindungan agar alat tidak
cepat rusak atau pencegah kecelakaan kerja akibat kelalaian pekerja. Dan yang terpenting
proses shut down haruslah safe state untuk menghindari kerusakan saat proses shut down
jika kurang sempurna. Dalam proses shut down dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
1. Process Shutdown tanpa Panel, Process shutdown system pada sumur pengeboran
lama seperti Bravo, Kilo, Uniform, Lima, XA dan XB.
2. Process Shutdown dengan Panel, Process Shutdown yang dipakai pada anjungan -
anjungan baru seperti: Auton, Robertsaw, Delta dll.

Prinsip kerja dari proses shutdown system adalah sebagai berikut :

Proses pada 3-way valve

Bila semuanya dalam keadaan normal artinya tekanan dan level di Separator sesuai dengan
yang kita kehendaki maka tiap-tiap dipragma dari 3-Way Valve mendapat tekanan sebesar
20PSI dari masing-masing switch dan ESD sehingga ada hubungan antara "Common" dan
"NC".

Dan hal ini mengakibatkan gabungan dari 3-Way Valve saling berhubungan, sehingga
diapragma dari 3-Way Valve yang pada akhirnya mendapat gas / udara bertekanan sebesar
20PSI.

Demikian pula supply 100PSIG diteruskan ke inlet SDV sehingga valve tersebut
membuka. Gas dan udara bertekanan tinggi ini juga dihubungkan ke " Electrical Pressure
Switch" untuk "Alarm System".

PSHL

Seandainya PCV tidak bekerja dengan baik misalnya "stuck closed" maka tekanan di
Separator akan naik terus. Dan bila tekanan mencapai "setting high" dari PSHL maka
output pressure dari PSHL akan hilang (0PSIG).

Sehingga "Common" dan "No" dari 3-Way Valve kepunyaan PSHL akan saling
berhubungan dan supply yang menuju diapragma dari 3-Way Valve yang terakhir akan
terbuang.

SDV

Dan ini menyebabkan supply yang menuju ke SDV terbuang pula, sehingga SDV akan
menutup. Kejadian yang sama akan terjadi bila tekanan di separator turun terus sehingga
mencapai "setting low" dari PSHL.

Dengan prinsip kerja yang sama SDV akan tertutup bila terjadi level yang tinggi / rendah
dari ESD. Dengan tertutupnya SDV yang berarti gas / udara bertekanan yang ke valve
tersebut terbuang ini akan mengoperasikan juga " Electrical Pressure Switch" yang
biasanya dihubungkan ke Alarm Panel sehingga alarm berbunyi dan operator yang jaga
dengan segera dapat mengetahui keadaan darurat ini.

SSV

Dalam instalasi Surface Safety Valve Shutdown System, lubang A disambungkan ke catu
udara, lubang B dihubungkan ke SSV dan lubang C dihubungkan ke Hi-Low Valve.

Untuk mengaktifkan valve ini, setelah catu udara bertekanan mengisi ruangan dibawah
diapragma dan cukup kuat melawan pegas. Ini ditandai dengan handel tetap keluar dan
quick exhaust dalam keadaan tertutup.

Catatan: Lubang C atau dalam hal ini Hi-Low Pilot dalam keadaan tertutup dan lubang B
sudah disambung ke SSV. Apabila lubang C dibuka, maka tekanan ke udara dibawah
diapragma akan turun dan tidak kuat lagi menahan / melawan kekuatan pegas.

Akibatnya handel akan turun kebawah dan lubang quick exhaust akan terbuka, sehingga
seluruh udara bertekanan dari lubang B akan keluar secara cepat.

Meskipun saat itu catu daya masih diberikan, tetapi tidak cukup cepat untuk mengisi
bagian bawah diapragma.

SSV jenis ini dilengkapi lock-out cap yang berfungsi untuk menahan valve-stern tetap
kebawah (valve tetap terbuka). Biasanya dilakukan pada saat mengadakan perawatan
instalasi, sementara aliran minyak dari sumur tetap beroperasi.

(Abi Royen, 2015)

Proses shutdown pada PLTN


5. Alat penembakan neutron dimatikan sehingga neutron tidak lagi ditembakkan ke bahan
bakar nuklir.
6. Batang pengontrol atau control rods diturunkan ke tengah-tengah bahan bakar nuklir.
Batang pengontrol ini akan menyerap seluruh neutron bebas sehingga menghentikan
reaksi fisi dalam bejana reaktor.
7. Aliran air pendingin bejana reaktor dipercepat. Karena reaksi fisi berhenti di tengah
jalan, maka bejana reaktor dipenuhi oleh radioisotop-radioisotop hasil reaksi fisi.
Radioisotop ini sifatnya tidak stabil dan akan terus memancarkankan radiasi radioaktif
hingga sifatnya stabil. Pancaran radiasi radioaktif ini disertai dengan pelepasan energi
yang bisa mencapai 900 derajat celsius. Makanya aliran air pendingin mutlak
diperlukan untuk mencegah kerusakan pada batang bahan bakar nuklir.
8. Aliran air pendingin turbin dipercepat. Karena turbin uap berhenti, tekanan uap
otomatis meningkat. Oleh karena itu aliran air pendingin dipercepat guna menurunkan
energi kalor uap yang dihasilkan dari reaksi fisi nuklir.
(Nugroho, 2014)

Penjawab : Aulya Akmala (40040117640013)

3. Penanya : Itta Rahmalia (40040117640011)


Pertanyaan : bagaimana jika dalam suatu keadaan, terjadi kebocoran, apakah kita harus
mementingkan proses shutdown atau tidak?
Jawaban :

Berdasarkan proses terjadinya, shut down dapat dibagi 2:


1. Normal shut down.
Normal shut down adalah shut down yang dilakukan secara normal, step by step,
sehingga relatif aman dan tidak akan mempengaruhi performance plant saat re-startup
plant. Biasanya normal shut down dilakukan dengan perencanaan, misal akan diadakan
T&I (Turn Around & Inspection) terhadap plant tersebut.
2. Emergency shut down.
Emergency shut down adalah shut down yang dilakukan secara emergency, akibat
adanya kegagalan supply utility atau akibat adanya kegagalan komponen-komponen
penting dalam plant tersebut (seperti kegagalan pompa feed, atau kegagalan supply
reaktan, atau kegagalan furnace, dll).
Berdasarkan urgensinya, shut down dibagi 2:
1. Automatic shut down.
Automatic shut down sering disebut ESD (Emergency Shut Down) system. Parameter-
parameter operasi kritikal tertentu dapat dihubungkan ke ESD system untuk dapat
secara automatic men-shut down plant.
2. Manual shut down.
Manual shut down dilakukan dengan cara menekan tombol yang ada di panel DCS atau
di lapangan. Manual shut down ini untuk antisipasi keadaan darurat yang tidak
tercakup oleh automatic shut down, seperti saat aktivasi FGDS (Fire & Gas Detection
system) atau saat automatic shut down tidak berfungsi sebagai mana mestinya.

Jadi, didalam sebuah alat proses shut down sendiri dibagi menjadi beberapa berdasarkan
keadaanya, dan pada saat terjadi kerusakan/ kebocoran ada yang disebut dengan emergency
shut down dimana shut down tersebut dilakukan secara emergency dan bisa secara
automatic shut down dan manual shut down.

(Adhi Budhiarto, 2013)

Penjawab : Akmal Mi’raj (40040117640020)