Anda di halaman 1dari 43

PROPOSAL PENELITIAN

Uji In-Vivo Serbuk dan Isolat Flavonoid Dari Biji Pepaya (Carica papaya
L.) dalam Menurunkan Kadar Lemak Darah

Oleh
Cholifatuzaroh
NIM 140332601972

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI KIMIA
NOVEMBER 2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Obesitas menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global di abad ini,
dengan lebih dari 1,5 miliar orang dewasa kelebihan berat badan dan setidaknya 400 juta
subjek obesitas klinis (Drew et al., 2007). Perkembangan obesitas ditandai dengan
ketidakseimbangan kronis antara asupan energi dan pengeluaran energi ( Schrauwen et al.,
2000), dan ini sering dianggap berasal dari perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan yang
tidak memadai. Juga, penurunan pengeluaran energi sering dikaitkan dengan tingkat
metabolisme basal rendah yang diwariskan, aktivitas fisik, dan kapasitas rendah untuk
oksidasi lemak (Little et al., 2007). Untuk mengurangi berat badan dan adipositas, perubahan
kebiasaan gaya hidup masih menjadi landasan penting ( Schrauwen et al., 2000).

Obesitas dapat menyebabkan beberapa penyakit serius, termasuk hipertensi,


hiperlipidemia, arteriosklerosis, dan diabetes tipe II (Moreno et al., 2003). Sehingga
diperlukan cara untuk menanggulangi permasalahan obesitas ini. Menurut Tsuji et al., (2001)
pada dasarnya, ada dua jenis agen anti obesitas, yang tergolong sebagai inhibitor lipid (lipase
inhibitor) dan absorbsi karbohidrat (α-glukosidase inhibitor). Lipase pankreas memainkan
peran kunci untuk penyerapan trigliserida di usus kecil. Enzim ini, yang dikeluarkan dari
pankreas ke dalam usus, menghidrolisis trigliserida menjadi asam lemak (Voshol et al.,
2007). Salah satu obat anti obesitas yang saat ini banyak digunakan adalah
Tetrahydrolipstatin, diisolasi dari actinomycetes (Streptomyces toxytricini), yang bekerja
sebagai penghambat lipase pankreas dan tersedia secara komersial dengan nama "Orlistat"
(Weibel et al., 1987 di Mukherjee dan Sengupta, 2013). Namun demikian, konsumsi orlistat
dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti hyperuricemia, diare, mual, nyositis,
iritasi lambung, steatorrhes, bercak berminyak, perut kembung, flatus dengan discharge,
inkontinensia tinja dan kulit kering (Filippatos et al., 2008). Oleh karena itu, perlu dilakukan
penelitian terhadap obat herbal lain sebagai obat antiobesitas yang aman atau tanpa efek
samping.

Pepaya (Carica papaya L) merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan di


Indonesia. Semua bagian tanaman pepaya dapat dimanfaatkan, termasuk biji pepaya.
Pemanfaatan biji pepaya ini hanya digunakan sebagai bibit dan lebih banyak dibuang
(Warsino, 2003). Berdasarkan analisis fitokimia, ekstrak biji pepaya terutama biji pepaya dari
buah pepaya yang masih mentah, menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, tanin, saponin
yang tinggi (Brocklehorst et al., 1985; Tona et al., 1998), yang berpotensi sebagai obat
antiobesitas. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dalam ekstrak biji pepaya terdapat
dua jenis senyawa flavonoid yang aktif sebagai inhibitor lipase pankreas, yang diduga
merupakan epicatechin dan catechin (Panca wijiutami, 2016). Subandi et al., (2015)
menunjukkan bahwa biji pepaya memiliki daya inhibisi relatif tinggi terhadap Orlistat yakni
sebesar 88,24%. Oleh karena itu dapat dibuktikan bahwa senyawa flavonoid cathein dalam
biji pepaya mampu menghambat enzim lipase pankreas.

Lim et al., (2013) menunjukan bahwa ekstrak Artemisia capillaris yang diujikan pada
mencit obesitas yang diinduksi dengan pakan tinggi lemak dapat memperbaiki dislipidemia
pada mencit dengan cara mempercepat katabolisme lemak. Oleh karena itu pengujian In-Vivo
dilakukan untuk mengetahui efektivitas dari senyawa flavonoid dari biji pepaya dalam
menurunkan kadar lemak dalam darah. Dipilih tikus putih sebagai hewan coba karena tikus
merupakan hewan yang mewakili kelas mamalia, termasuk manusia, sehingga kelengkapan
organ, kebutuhan nutrisi, metabolisme biokimia, sistem reproduksi, pernafasan, peredaran
darah serta sistem ekskresi menyerupai manusia (Smith, 1988). Disamping itu tikus putih
juga relatif murah dan mudah untuk digunakan sebagai hewan coba.
Berdasakan ulasan diatas, penelitian dengan judul “ Uji In-Vivo Serbuk dan Isolat
dari Biji Pepaya (Carica papaya L.) dalam Menurunkan Kadar Lemak Darah” penting
untuk dilakukan.

B. Tujuan Penelitian

1. Menentukan struktur isolat flavonoid dari biji pepaya (Carica papaya L.) yang aktif
sebagai inhibitor lipase pankreas berdasarkan profil spektrum UV-Vis, FT-IR dan LC-
MS.
2. Menentukan daya inhibisi isolat flavonoid biji pepaya (Carica papaya L.) relatif
terhadap orlistat.
3. Menentukan kemampuan flavonoid dalam menurunkan lemak di dalam darah secara
In-Vivo.
C. Manfaat penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi Peneliti
memperoleh wawasan dalam bidang biokimia khususnya mengenai salah satu jenis
senyawa flavonoid pada biji pepaya yang berpotensi sebagai inhibitor lipase pankreas
dan aktivitas secara In-Vivo dari isolat flavonoid biji pepaya sebagai penurun kadar
lemak darah.
2. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi tentang manfaat biji pepaya sebagai penurun kadar lemak di
dalam tubuh. Sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.
3. Bagi Perkembangan IPTEK
Memberikan bahan referensi tambahan untuk penelitian selanjutnya dalam
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang biokimia yang berkaitan
dengan penentuan aktivitas secara In-Vivo dari isolat flavonoid biji pepaya.

D. Ruang Lingkup Penelitian

1. Biji pepaya yang digunakan didapatkan dari pepaya varietas thailand.


2. Enzim lipase pankreas berasal dari pankreatin dalam lipase porcine yang diproduksi
oleh Sigma.
3. Substrat trigliserida berasal dari minyak zaitun.
4. Isolasi senyawa aktif dilakukan dengan metode maerasi serta Kromatografi lapis tipis
(KLT) preparatif dengan menggunakan pelarut etanol-air.
5. Identifikasi senyawa flavonoid hasil isolasi menggunakan uji fitokimia,
spektrofotometer UV-vis, spektofotometer FT-IR, dan LC-MS.
6. Pengujian In-Vivo menggunakan mencit laboratorium sebanyak 18 ekor yang dibagi
menjadi 3 kelompok dan diberi perlakuan khusus sehingga darah mencit dapat
dianalisis meliputi kolesterol total, HDL, trigliserida dan LDL.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Obesitas

Obesitas menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global di abad ini,
dengan lebih dari 1,5 miliar orang dewasa kelebihan berat badan dan setidaknya 400 juta
subjek obesitas klinis (Drew et al., 2007). Karena tingkat obesitas yang meningkat, World
Health Organization (WHO) telah diminta mempertimbangkannya sebagai epidemi abad
21dan mengembangkan strategi untuk mencegah dan mengontrol kemajuannya (Brug et
al.,2009).

Perkembangan obesitas ditandai dengan ketidakseimbangan kronis antara asupan


energi dan pengeluaran energi ( Schrauwen et al., 2000), dan ini sering dianggap berasal dari
perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan yang tidak memadai. Juga, penurunan
pengeluaran energi sering dikaitkan dengan tingkat metabolisme basal rendah yang
diwariskan, aktivitas fisik, dan kapasitas rendah untuk oksidasi lemak (Little et al., 2007).
Untuk mengurangi berat badan dan adipositas, perubahan kebiasaan gaya hidup masih
menjadi landasan penting ( Schrauwen et al., 2000).

Obesitas dapat menyebabkan beberapa penyakit serius, termasuk hipertensi,


hiperlipidemia, arteriosklerosis, dan diabetes tipe II (Moreno et al., 2003), dan terbaru juga
diklaim dapat menyebabkan kanker payudara ( pada wanita postmenopause), kanker
endometrium, kolon/rektrum, pankreas, ginjal, kerongkongan, kantong empedu, hati dan
prostat (Giovannucci et al., 2010; Calle et al., 2003).

Penderita obesitas akan melakukan berbagai cara untuk menurunkan berat badan,
beberapa diantaranya mengubah gaya hidup dan mengatur pola makan, sebagian penderita
juga mengkonsumsi obat penurun berat badan. Menurut Tsuji et al., (2001) pada dasarnya,
ada dua jenis agen anti obesitas, yang tergolong sebagai inhibitor lipid (lipase inhibitor) dan
absorbsi karbohidrat (α-glukosidase inhibitor). Lipase pankreas memainkan peran kunci
untuk penyerapan trigliserida di usus kecil. Enzim ini, yang dikeluarkan dari pankreas ke
dalam usus, menghidrolisis trigliserida menjadi asam lemak (Voshol et al., 2007). Salah satu
obat penurun berat badan adalah Orlistat (Xenical) . Tetrahydrolipstatin (Orlistat), diisolasi
dari actinomycetes (Streptomyces toxytricini), yang bekerja sebagai penghambat lipase
pankreas (Weibel et al., 1987 di Mukherjee dan Sengupta, 2013).Obat ini menghambat
gastrointestinal dan lipase pankreas yang mampu mencegah penyerapan sekitar 30% lemak
makanan (Guerciolini, 1997).

Namun demikian, konsumsi orlistat dapat menyebabkan beberapa efek samping


seperti hyperuricemia, diare, mual, nyositis, iritasi lambung, steatorrhes, bercak berminyak,
perut kembung, flatus dengan discharge, inkontinensia tinja dan kulit kering (Filippatos et al.,
2008). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terhadap obat herbal lain sebagai obat
antiobesitas yang aman atau tanpa efek samping. Dalam penilitian ini akan dilakukan uji
aktivitas inhibisi lipase pankreas oleh biji pepaya.

B. Tanaman Pepaya (Carica papaya L.)

Carica papaya Linn merupakan famili dari Caricaceae umumnya dikenal sebagai
pepaya di Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika tropis dan diperkenalkan ke India
pada abad ke 16. Tanaman ini dikenal memiliki batang yang lunak dan biasanya tidak
bercabang, dipenuhi oleh daun besar dan panjang, tumbuh dengan cepat dan dapat tumbuh
tinggi hingga 20m. Secara tradisional daunnya dapat digunakan untuk pengobatan berbagai
penyakit, seperti pengobatan malaria, demam berdarah, penyakit kuning dan aktivitas
antivirus. (Anjum et al., 2013)

Dalam sistematika tumbuhan pepaya dapat diklasifikasi sebagai berikut (Ayurvedic)

Domain: Tanaman Bunga


Kingdom: Plantae
Sub Kingdom: Tracheobionta
Class: Magnoliopsida
Subclass: Dilleniidae
Superdivision: Spermatophyta
Phyllum: Steptophyta
Order: Brassicales
Family: Caricaceae
Genus: Carica
Botanical Name: Carica papaya Linn
Gambar 2.1 pepaya (Carica papaya Linn.) Sumber www.google.com
Buahnya berbentuk oval dan memiliki rongga biji, biji pepaya yang berada dalam
rongga buah memiliki massa sekitar 15% dari masa buah (Malacrida et al., 2011). Buah
pepaya kaya akan sumber nutrisi seperti provitamin A, vitamin C, vitamin B, karoten,
lycopen, mineral diet dan serat makanan. Biji pepaya berwarna hitam dan memiliki rasa
pedas, terkadang digunakan sebagai pengganti lada hitam (Arvind et al., 2013).

Berdasarkan laporan Bureau of Central statistics tahun 2013, Indonesia merupakan


negara terbesar ke 5 penghasil pepaya di dunia, dengan produksi 871.282 ton (BPS,2014).
Subandi et al., mengemukakan kelimpahan produksi pepaya selain didukung oleh iklim tropis
juga tanah Indonesia yang subur dan cocok untuk budidaya pepaya. Kelimpahan pepaya
menyebabkan limbah biji pepaya meningkat, karena masyarakat cenderung membuang biji
pepaya apabila tidak digunakan sebagai bibit untuk ditanam ulang.

Beberapa penelitian menunjukkan biji pepaya memiliki potensi sebagai obat karena
meiliki aktivitas antimikroba untuk melawan Trichomonas vaginalis dan beberapa bakteri
pantogen seperti Bacillus subtilis, Enterobacter cloacae, Escherichia coli, salmonella typhi,
Staphylococcus aureus, Proteus, vulgaris, Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella
pneumoniae ( Osato et al., 1993; Krishna et al., 2008).

Berdasarkan analisis fitokimia pada biji pepaya yang diuji di laboratorium Kimia
Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur menggunakan sampel biji pepaya dan jus
biji pepaya didapatkan bahwa biji pepaya mengandung flavonoid, saponin dan tanin.
Tabel 2.1 Kandungan zat fitokimia dalam 100 gram biji pepaya. Sumber (Meirindasari, 2013)

Jus biji pepaya Jus biji pepaya Biji pepaya


dengan disaring tanpa (m/100g bahan)
(mg/100 g bahan) Disaring (mg/100g
bahan)
Flavonoid 263,6 294,4 947,7
Saponin 28,3 31,4 88,39
Tanin 57,5 61,6 189,35

Kandungan fitokimia berupa flavonoid, tanin dan saponin yang terdapat dalam biji pepaya
tersebut berpengaruh dalam menurunkan kadar kolesterol LDL pada dislipidemia yaitu
abnormalitas profil lipid dalam darah. Dalam penelitian ini biji pepaya akan digunakan
sebagai inhibitor lipase pankreas alami untuk menurunkan kadar lemak darah.

C. Flavonoid

Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang paling
banyak ditemukan di dalam jaringan tanaman (Rajalakshmi dan S. Narasimhan, 1985).
Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa phenolik dengan struktur kimia C6-C3-C6
(White dan Y. Xing, 1951; Madhavi et al., 1985; Maslarova, 2001). Flavonoid mempunyai
kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat
pada suatu rantai propan (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6.

Gambar 2.2 kerangka C6-C3-C6 flavonoid. Sumber www.google.com

Sebagian besar flavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosida dimana unit
flavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosida diimana unit flavonoid terikat pada satu
gula. Glikosida adalah kombinasi antara suatu gula dan suatu alkohol yang saling berikatan
melalui ikatan glikosida (Lenny, 2006). Adanya gula yang terikat pada flavonoid cenderung
menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut
dengan air merupakan pelarut yang baik untuk glikosida seperti etanol, metanol, butanol,
aseton, dimetil sulfoksida, dimetilformamida dan air. Sebaliknya, aglikon flavonoid(yaitu
flavonoid tanpa gula terikat) yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon, dan flavon serta
flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan
kloroform (Markham, 1988).

Pengelompokan flavonoid dibedakan berdasarkan cincin heterosiklik-oksigen


tambahan dan gugus hidroksilnya (Rahayu et al., 2009). Perbedaan di bagian rantai karbon
nomor 3 menentukan klasifikasi dari senyawa flavonoid yaitu: falvon, flavonol, flavanon,
isiflavon, auron dan khalkon.

Gambar 2.3 jenis-jenis flavonoid. Sumber (Mabry et al.,1970)

Cho et al., (2016) mengatakan 6 subgrup utama dari flavonoid, yaitu flavonol,
flavanol, flavans-3-ol dan antosianin masing-masing memiliki peran dalam pengobatan,
pencegahan dan pengurangan berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, kanker,
diabetes. Flavonoid dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk mencegah penyakit dengan
cara mengatur penekanan oksidatif di dalam tubuh. Menurut Latifah (2015) flavonoid
memiliki kemampuan sebagai antioksidan yang mampu mentransfer sebuah elektron atau
sebuah atom hidrogen ke senyawa radikal bebas dengan menghentikan tahap awal reaksi.
Oleh karena itu, flavonoid dapat menghambat peroksidasi lipid, menekan kerusakan jaringan
oleh radikal bebas dan menghambat beberapa enzim.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan Model Oksdidasi in


Vitro untuk Penyakit Jantung ( in Vitro Oxidation Model for Heart Desease) diketahui bahwa
isoflavon ganeistein dan flavonone hesperetin menunjukkan aktivitas antioksidan terkait
lipoprotein (IC50) yang lebih tinggi dari tokoferol (Vinson et al., 1995a). Pada metode yang
sama, senyawa flavonol yang terdapat dalam teh diketahui bersifat sebagai antioksidan yang
kuat (Vinson et al., 1995b).

D. Enzim Lipase

Enzim lipase (EC.3.1.1.3) merupakan enzim yang memiliki peran penting dalam
bioteknologi modern. Lipase terkenal memiliki aktivitas yang tinggi dalam reaksi hidrolisis
dan dalam kimia sintesis. Lipase dapat berperan sebagai biokatalis untuk reaksi-reaksi
hidrolisis, esterifikasi, alkoholisis, asidolisis, dan aminolisis (Gandhi, 1997).

Lipase menghidrolisis trigliserida menjadi asam lemak bebas, gliserida parsial dan
gliserol. Trigliserida sebagai substrat terdiri dari asam lemak rantai panjang yang tidak larut
dalam air (Shahani, 1975).

Gambar 2.4 Hidrolisis trigliserida oleh enzim Lipase. Sumber (www.google.com)

Lipase pankreas adalah enzim yang diproduksi oleh sel acinar dan disekresi sebagai
fungsi eksokrin pankreas. Enzim ini merupakan suatu enzim glikoprotein yang larut dalam
air, disintesis oleh sel-sel parenkim pankreas, dan ditransfer ke permukaan luminar usus halus
untuk menghidrolisis substrat. Senyawa-senyawa trigliserida yang dapat menjadi subtrat
lipase pankreas berasal dari golongan lipid, seperti minyak dan lemak dari makanan dalam
bentuk triasilgliserol (Bishop et al., 2004).
Lipase pankreas terdiri atas His-263, Asp-176, dan Ser-152 dengan Ser-152 sebagai
sisi katalitik(Birari&bhutani 2007). Lipase pankreas bekerja pada daerah permukaan minyak
air dan titik-titik lipifd yang teremulsi secara halus dibrntuk oleh gerakan mekanis dalam usus
dengan adanya garam empedu. Semakin aktif aktivitas enzim tersebut, maka lemak dan
minyak yang dihidrolisis akan semakin banyak sehingga asam lemak bebas yang akan
dihasilkan akan semakin banyak pula (Rahardjo 2005).

Lipase biasanya diproduksi oleh pankreas babi dan sapi, ragi Candida, Aspergillus,
Rhizopus, dan Mucor sp. Dalam industri, lipase antara lain digunakan dalam industri farmasi
dan untuk menghasilkan asam lemak dari minyak tidak stabil yang biasanya mengandung
asam lemak tidak jenuh. Lipase dari Candida cylindracea digunakan untuk menghidrolisis
minya dalam pembuatan sabun. Selain bidang farmasi, lipase jga digunakan dalam industri
kosmetik, kulit, makanan, parfum dan sintesis bahan organik lain (Gandhi, 1997).

a. Penentuan Aktivitas Enzim Lipase dan Daya Inhibisi Lipase Pankreas

aktivitas enzim lipase menyatakan jumlah enzim yang mampu menghidrolisis


sejumlah lemak dan minyak dalam satu satuan waktu. Satu unit lipase per ml (U/ml)
menyatakan banyakknya enzim lipase yang dapat melepaskan 1μmol asam lemak
bebas per menit (Sri et al., 2011)

Aktivitas enzim dengan metode titimetri menurut kurnia (2010), dapat dihitung
dengan menggunakan rumus berikut:

(𝑉𝑚𝑡 − 𝑉𝑎) 𝑥 𝑁 𝑥 1000


𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑙𝑖𝑝𝑎𝑠𝑒 =
𝑉𝑠 𝑥 25 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

Keterangan:
Vmt = Volume NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi substrat minyak
Va = Volume yang dibutuhkan untuk titrasi substrat air (kontrol)
NNaOH = Normalitas NaOH yang digunakan
1000 = Faktor konversi dari mmol ke μmol
25 = waktu inkubasi (menit)

b. Mekanisme Orlistat sebagai Inhibitor Lipase

Salah satu obat anti obesitas yang saat ini banyak digunakan adalah
Tetrahydrolipstatin, diisolasi dari actinomycetes (Streptomyces toxytricini), yang
bekerja sebagai penghambat lipase pankreas dan tersedia secara komersial dengan
nama "Orlistat" (Weibel et al., 1987 di Mukherjee dan Sengupta, 2013).

Gambar 2.5 Struktur Orlistat. Sumber (Nitin et al., 2014)

Orlistat bekerja dengan menghambat penyerapan lemak, mengubah metabolisme


lemak badan dengan cara menghalangi kerja enzim lipase lipoprotein yang bekerja
memecah lemak, sehingga lemak dibuang keluar tubuh melalui feses. Lemak dapat
diabsorbpsi apabila telah diubah oleh lipase menjadi asam lemak, jika dari makanan
tidak dihidrolisis menjadi asam lemak bebas dan gliserol sebagian lemak tidak diserap
usus (Tan & Rahardja, 2008).

Namun demikian, konsumsi orlistat dapat menyebabkan beberapa efek samping


seperti hyperuricemia, diare, mual, nyositis, iritasi lambung, steatorrhes, bercak
berminyak, perut kembung, flatus dengan discharge, inkontinensia tinja dan kulit
kering (Filippatos et al., 2008).

E. Isolasi Senyawa Aktif

a. Ekstraksi

Pengambilan bahan aktif dari suatu tanaman, dapat dilakukan dengan ekstraksi.
Dalam proses ekstraksi ini, bahan aktif akan terlarut oleh zat penyari yang sesuai sifat
kepolarannya. Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat
bahan mentah obat, daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan
kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati sempurna
(Ansel, 1989).
Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan. Cara ini
sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri (Agoes, 2007). Metode ini
dilakukan dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam
wadah inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika
tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi
dalam sel tanaman. kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memakan banyak
waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak, dan besar kemungkinan beberapa
senyawa hilang. Selain itu, beberapa senyawa mungkin saja sulit diekstraksi pada
suhu kamar. Namun disisi lain, metode maserasi dapat menghindaro rusaknya
senyawa-senywa yang bersifat termolabil.

b. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dapat digunakan untuk tujuan analitik dan preparatif.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) analitik digunakan untuk menganalisa senyawa-
senyawa organik dalam jumlah kecil misalnya, menentukan jumlah komponen dalam
campuran dan menentukan pelarut yang tepat untuk pemisahan dengan KLT
preparatif. Sedangkan KLT preparatif digunakan untuk memisahkan campuran
senyawa dari sampel dalam jumlah besar berdasarkan fraksinya, yang selanjutnya
fraksi-fraksi tersebut dikumpulkan dan digunakan untuk analisa berikutnya
(Sastrohamidjojo, 2007).

Fasa diam dalam KLT berupa silika gel (biasanya berupa plat silika gel F254) yang
mampu mengikat senyawa yang akan dipisahkan. Sedangkan fasa geraknya berupa
berbagai macam pelarut atau campuran pelarut. Proses pengembangan/elusi ialah
proses pemisahan campuran cuplikan akibat pelarut pengembang merambat naik
dalam lapisan fase diam. Jarak hasil pemisahan senyawa pada kromatogram biasanya
dinyatakan atau harga Rf. KLT dapat digunakan untuk perhitungan kualitatif dengan
pengujian sampel dengan menggunakan harga Rf dimana harga Rf dinyatakan dengan
(Sastrohamidjojo, 2007):

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑙𝑢𝑠𝑖


𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑠𝑖
F. Identifikasi Senyawa

a. Spektrofotometer UV-Vis

Spektrofotometer Sinar Tampak (UV-Vis) merupakan instrumen analisis spektroskopi


yang menggunakan gelombang elektromagnetik pada panjang gelombang 190-400
(UV) dan 400-780 (Visible/tampak). Analisis dengan metode ini didasarkan pada
absorbsi gelombang elektromagnetik yang menyebabkan terjadinya transisi elektronik
dari keadaan dasar menjadi keadaan yang tereksitasi. Panjang gelombang maksimum
untuk setiap senyawa akan berbeda dengan senyawa lainnya bergantung pada jenis
transisi yang terjadi pada senyawa tersebut. Semakin banyak ikatan rangkap yang
terdapat pada zat tersebut, maka panjang gelombang maksimum zat tersebut akan
lebih besar (Gauglitz & Vo-Dinh, 2003)

b. Spektrofotometer sinar Inframerah

Radiasi infrared (IR) merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik antara daerah
gelombang cahaya tampak dan gelombang microwave. Penggunaan terbesar terhadap
kimia organik adalah panjang gelombang 400-400 cm-1. Frekuesi radiasi IR kurang
dari 100cm-1 diabsorbsi dan diubah oleh molekul organik menjadi energi rotasi
molekul, serapan ini diukur. Radiasi IR dalam daerah panjang gelombang 10000-100
cm-1 diabsobsi dan diubah oleh sebuah molekul organik ke dalam energi vibrasi
molekul, serapan ini juga dihitung. Absorbsi frekuensi atau panjang gelombang
tergantung pada massa relatif atom, gaya konstan ikatan dan geometri atom
(Silverstain, 1998).

c. LC-MS (Liquid Chromatography-Mass Spectroscopy)

Di dalam LC (Liquid Chromatography, kromatografi cair) senyawa atau komponen


hasil pemisahan yang keluar dari kolom kromatografi berfasa gas dan atau merupakan
senyawa-senyawa yang non-volatil. Karenanya, masih diperlukan pengkondisian
apabila analit akan dianalisis dengan MS (Mass Spectroscopy, spektroskopi massa).
Teknik LC-MS memerlukan pelarut dengan jumlah pelarut relative besar dan
kinerjanya bergantung pada ionisasi dan atau vaporasi ion. Untuk mengatasi kondisi
yang demikian, maka direkomendasikan pada analisi LC-MS teknik ionisasinya
adalah ionisasi electrospray dan ionisasi kimia pada tekanan atmosfer. Kedua teknik
ionisasi memiliki kemiripan yang tinggi dalam hal pengoperasian yakni berdasarkan
terbentuknya suatu semburan (spray) dari aliran pelarut pada tekanan atmosfer.
Kondisi yang demikian merupakan kondisi ideal untuk kinerja LC-MS. Keungguan
LC-MS sebagai suatu teknik tunggal adalah kemampuannya untuk memisahkan
komponen-komponen dari suatu campuran dan selanjutnya menyediakan data MS
untuk masing-masing komponen (Sutrisno, 2011:51)

G. Uji In-Vivo

Pengujian In-Vivo diperlukan untuk mengetahui respon dari suatu senyawa yang
diberikan kepada hewan uji melalui gejala, dampak dan akibat yang terjadi pada tubuh hewan
percobaan. Jenis pengujian ini untuk menjelaskan pengaruh dari variable eksperimen pada
suatu organ, jaringan, sel, komponen sel, protein dan atau biomolekul dengan asumsi semua
jaringan, sel-sel penyusun tubuh, serta enzim-enzim yang ada didalam tubuh hewan
percobaan tersebut memiliki kesamaan dengan manusia. Umumnya hewan percobaan yang
digunakan adalah mencit, mencit dibuat dalam kondisi obesitas dengan pemberian pakan
tinggi kalori. Kemudian mencit dikelompokkan menjadi tiga kelompok, terdiri atas:
kelompok mencit yang diberi pakan standar, kelompok mencit yang selain diberi pakan
standar diberi tambahan Orlistat, dan kelompok mencit yang selain diberi pakan standar
diberi tambahan isolat senyawa, perlakuan dilakukan selama 30 hari. Pada hari ke 31
dilakukan pengambilan darah terhadap mencit yang sebelumnya dipuasakan selama 1 hari,
kemudian darah mencit dianalisis meliputi kolesterol total, HDL, trigliserida dan LDL.
(Resti, 2017)
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium, yang bertujuan untuk


menguji In-Vivo serbuk dan isolat dari biji pepaya (Carica papaya L.) dalam menurunkan
kadar lemak darah.

Penelitian ini terdiri dari 4 tahap yaitu: 1) isolasi senyawa flavonoid, 2) identifikasi
senyawa flavonoid, 3) pengujian senyawa flavonoid secara In-Vitro dan 4) pengujian
senyawa flavonoid secara In-Vivo. Isolasi senyawa flavonoid dilakukan dengan: preparasi
sampel, ekstraksi dengan metode maerasi menggunakan pelarut etanol-air, uji aktivitas
inhibisi lipase serta analisis kromatografi lapis tipis. Identifikasi senyawa flavonoid dilakukan
dengan cara uji fitokimia dan analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan FT-IR.
Pengujian In-Vivo dilakukan dengan cara memasukkan dosis tertentu senyawa flavonoid ke
hewan percobaan yaitu mencit untuk mengetahui efek penurunan kadar lemak dalam darah
hewan percobaan tersebut.

B. Variabel Penelitian

Pada penelitian “Uji In-Vivo Serbuk dan Isolat dari Biji Pepaya (Carica papaya L.)
dalam menurunkan kadar lemak darah”, terdapat variabel sebagai berikut:

1) Variabel bebas : jenis sampel biji pepaya (sari/serbuk/ekstrak kental/isolat)


yang digunakan dalam penelitian In Vivo

2) Variabel terikat : hasil penurunan kadar lemak darah mencit

3) Variabel kontrol : jenis pepaya, jenis mencit, metode pengukuran kadar lemak
darah, cara perlakuan mencit, pemberian pakan mencit

C. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan November 2017 sampai April 2018 di Laboratorium
Penelitian Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Negeri Malang dan Laboratorium Ma Chung Research Center Photosynthetic Pigments
(MRCPP) Universitas Ma Chung.
D. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah biji pepaya Thailand (Carica papaya L.) dan objek
penelitian adalah senyawa aktif flavonoid dalam subjek penelitian yang berperan sebagai
inhibitor enzim lipase sehingga dapat menurunkan kadar lemak dalam darah hewan uji.

E. Alat dan Bahan Penelitian

a. Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1) peralatan gelas, yaitu
erlenmeyer, gelas beaker, kaca arloji, pengaduk kaca, corong kaca, , pipet volume, gelas
ukur, tabung reaksi, labu takar dan buret; 2) peralatan lain, yaitu neraca analitik dengan
ketelitian 0,001, blender, ayakan 50 mesh (MBT SIEVE SHAKER), corong buncher, statif
dan klem, spatula, peralatan Kromatografi lapis Tipis (KLT),peralatan pengujian In-Vivo,
pipet tetes indikator universal, kertas saring halus dan kasar, aluminium foil dan pisau. Serta
peralatan instrumen magnetic stirer (Thermo Scientific), rotary evaporator (B.U.C.H.I),
watherbath, pH meter (pH 3110 SET 2), lampu UV (Merck dengan λ: 254 nm, 312 nm, dan
356 nm), spektrofotometer UV-Vis (UV-1700 PharmaSpec Shimadzu) dan FT-IR, LC-MS di
laboratorium lain.

b. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: biji pepaya, etanol 70%,
aquades steril, buffer fosfat pH 7,5 (dibuat dengan mencampurkan 16 mL larutan NaH2PO4
dan 84 mL larutan Na2HPO4), larutan H2SO4 pekat (Merck), NaOH 0,01 N, indikator pp, plat
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) GF254 (Merck), Lipase enzym from porcine pancreas type II
(Sigma Aldrich), minyak zaitun, Orlistat (Xenical®), gum arabik, NaCl, CaCl2, mencit.

F. Prosedur Penelitian

a. Preparasi Sampel

Biji pepaya segar didapatkan dari pepaya varietas Thailand. Pepaya dipotong dan
dikumpulkan bijinya. Biji yang telah dikumpulkan dicuci dengan air dan dikeringkan dengan
cara di jemur dibawah sinar matahari sampai beratnya konstat. Kemudian biji pepaya yang
telah dijemur, disangrai dan dihaluskan dengan blender. Sernuk yang didapat lalu di ayak
dengan ayakan 50 mesh kemudian hasil ayakan ditempatkan dalam gelas beaker dan ditutup
rapat menggunakan plastik wrap.

b. Ekstraksi

Sebanyak 85 gram serbuk biji pepaya direndam dalam 325mL etanol 70% selama 20
menit. Sebanyak 325mL aquades steril ditambahkan ke dalam larutan sampel dan dilakukan
maserasi 1x24jam disertai pengadukan dengan menggunakan magnetic stirer. Setelah proses
maserasi selesai, larutan sampel disaring, filtrat yang didapatkan dipekatkan dengan rotary
evaporator dengan suhu 50ºC untuk mendapatkan ekstrak kental biji pepaya. Ekstrak kental
kemudian diuji secara fitokimia dengan uji flavonoid ( Panca, 2016) dan diuji inhibisinya
terhadap lipase pankreas secara In-Vivo dengan melihat kadar lemak dalam darah tikus uji
yang diberikan ekstrak biji Pepaya (Carica papaya L.) dan tikus uji yang diberikan Orlistat
sebagai pembanding.

c. Pembuatan Substrat

Terdapat dua jenis substrat yang digunakan yaitu substrat minyak dan substrat
kontrol. Pembuatan substrat minyak dengan cara mencampurkan 2,5 mL minyak zaitun dan
22,5 mL larutan gum arabik lalu dihomogenkan selama 10 menit. Kemudian ditambahkan 20
mL H2O, 15 mL CaCl2 0,075M, 10 mL NaCl 3 M, selanjutnya dihomogenkan kembali.
Campuran dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan aquades hingga tanda
batas. Pembuatan substrat kontrol dilakukan dengan cara yang sama dengan pembuatan
substrat minyak namun, penggunaan 2,5 mL minyak zaitun diganti dengan 2,5 mL air.
(Panca, 2016)

d. Uji Aktivitas dan Inhibisi Lipase Pankreas secara In Vitro

Pengujian aktivitas lipase dimulai dengan membuat substrat minyak dan substrat
kontrol. Substrat minyak dibuat dengan cara 2,5 mL minyak zaitun ditambah dengan 22,5 mL
larutan gum arabik 10% dihomogenkan selama 10 menit, ditambah 20 mL H2O, 15 mL CaCl2
0,075 M dan 10 mL NaCl 3 M kemudian dihomogenkan kembali dan dimasukkan ke dalam
labu ukur 100mL serta ditambahkan aquades hingga tanda batas. Sedangkan substrat kontrol
dengan mengganti 2,5 mL minyak zaitun menggunakan air 2,5 mL. (Panca, 2016)
1. Uji Aktivitas Lipase Pankreas

Pengujian aktivitas lipase dengan cara diambil 25 mL substrat minyak dan


ditempatkan dalam erlenmeyer. Kondisi pH substrat diatur dengan buffer fosfat
sampai pH 7,5. Sebanyak 1 mg enzim lipase ditambahkan ke dalam substrat,
kemudian dikocok selama 30 detik. Campuran diinkubasi pada suhu 37ºC selama 25
menit. Hidrolisis substrat oleh enzim lipase dihentikan dengan memanaskan
erlenmeyer ke dalam penangas air dengan kondisi air yang mendidih selama 10 menit.
Campuran substrat-enzim ditambah 3 tetep indikator pp kemudian dititrasi dengan
NaOH 0,1 N sampai timbul warna merah muda (pink). Langkah yang sama dilakukan
terhadap substrat kontrol (air). (Panca, 2016)

2. Uji Inhibisi Orlistat terhadap Lipase Pankreas

Pengujian aktivitas lipase dengan cara diambil 25 mL substrat minyak dan


ditempatkan dalam erlenmeyer. Kondisi pH substrat diatur dengan buffer fosfat
sampai pH 7,5. Serbuk dari 1 kapsul Orlistat dimasukkan ke dalam larutan campuran,
selanjutnya sebanyak 1 mg enzim lipase ditambahkan ke dalam larutan substrat,
kemudian dikocok selama 30 detik. Campuran diinkubasi pada suhu 37ºC selama 25
menit. Hidrolisis substrrat oleh enzim lipase dihentikan dengan memanaskan
erlenmeyer dalam penangas air dengan kondisi air yang mendidih selama 10 menit.
Campuran substrat-enzim ditambah 3 tetes indikator pp kemudian dititrasi dengan
NaOH 0,1 N sampai timbul warna merah muda (pink). Langkah yang sama dilakukan
terhadap substrat kontrol (air). (Panca, 2016)

3. Uji Inhibisi Sari, Serbuk, Ekstrak Kental dan Isolat Flavoboid Hasil KLTP terhadap
Lipase Pankreas

Pengujian aktivitas lipase dengan cara diambil 25 mL substrat minyak sebanyak 4 kali
dan ditempatkan dalam 4 buah erlenmeyer. Kondisi pH substrat diatur dengan buffer
fosfat sampai pH 7,5. Erlenmeyer pertama ditambahkan sari dari 8,5 gram biji pepaya,
erlenmeyer kesua ditambahkan 0,928 gram serbuk biji pepaya, erlenmeyer ketiga
ditambahkan 0,85 gram ekstrak kental biji pepaya, erlenmeyer ke empat ditambahkan
isolat flavonoid hasil KLTP, selanjutnya sebanyak 1 mg enzim lipase ditambahkan ke
dalam masing-masing erlenmeyer, kemudian dikocok selama 30 detik. Campuran
diinkubasi pada suhu 37ºC selama 25 menit. Hidrolisis substrat oleh enzim lipase
dihentikan dengan memanaskan erlenmeyer ke dalam penangas air dengan kondisi air
yang mendidih selama 10 menit. Masing-masing campuran substrat-enzim ditambah 3
tetes indikator pp kemudian ditritasi dengan NaOH 0,1 N sampai timbul warna merah
muda (pink). Langkah yang sama dilakukan terhadap substrat kontrol (air). (Panca,
2016)

d. Uji Flavonoid

Sebanyak 1 mg (sekitar 1 tetes larutan) sari, serbuk, ekstrak kental biji pepaya dan
isolat hasil KLTP yang diperoleh, diletakkan pada plat tetes kemudian dilarutkan dalam
sedikit metanol. Larutan sampel lalu ditambahkan dengan H2SO4 pekat. Diamati perubahan
warna sampel pada plat tetes. (Panca, 2016)

e. Analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Dalam penelitian ini dilakukan dua jenis KLT, yaitu KLT kualitatif dan KLT
preparatif dengan prosedur sebagai berikut:

1. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Kromatografi lapis tipis kualitatif digunakan untuk menentukan eluen yang digunakan
dalam KLT preparatif. Ekstrak kental biji pepaya yang diperoleh dianalisis dengan
kromatografi lapis tipis (KLT) kualitatif. Plat KLT dipotong dengan ukuran panjang 5
cm dan lebar 1 cm. Pada bagian atas dan bawah diberi tanda batas, batas atas 0,5 cm
dan batas bawah 0,5 cm. Analisis KLT dilakukan dengan cara menotolkan sampel
pada bagian bawah plat KLT menggunakan pipa kapiler kemudian dimasukkan ke
dalam bejana KLT (chamber) yang dijenuhkan dengan eluen yang berupa etil asetat,
metanol dan air dengan perbandingan 0,5:1,4:0,1 (v/v/v), etil asetat dan air dengan
perbandingan (0,5:1,5), (0,4:1,6), (0,3:1,7), (0,2:1,8), (0,1:1,9) dan (1:1).

Proses KLT berakhir ketika eluen telah mencapai batas atas. Selanjutnya plat KLT
diamati di bawah lampu UV untuk mengetahui adanya noda yang tampak pada plat
KLT. Noda yang tampak diberi tanda kemudian dihitung faktor retensinya (Rf).
Bercak atau noda yang ada dikerok dan dianalisis menggunakan UV-Vis dan pelarut
yang dapat menghasilkan pemisahan noda terbaik digunakan untuk kromatografi lapis
tipis (KLT) preparatif.
2. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Preparatif

Isolasi senyawa menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif dilakukan


sesuai dengan kondisi KLT kualitatif yang telah ditentukan pemilihan pelarut yang
cocok untuk mendapatkan isolat yang cukup.

Plat KLT dipotong dengan ukuran panjang 15 cm dan lebar 15 cm. Pada bagian atas
dan bawah diberi tanda batas yakni 1,5 cm. Analisis KLT dilakukan dengan cara
menotolkan sampel pada bagian bawah plat KLT menggunakan pipa kapiler secara
berulang kali kemudian dimasukkan ke dalam benjana KLT (chamber) yang
dijenuhkan dengan eluen yang berupa etil asetat, metanol dan air dengan
perbandingan 20;56;4 (v/v/v).

Proses KLT berakhir ketika eluen telah mencapai batas atas. Selanjutnya plat KLT
diamati di bawah lampu UV untuk mengetahui adanya noda yang tampak pada plat
KLT. Noda yang tampak diberi tanda kemudian dihitung faktor retensinya (Rf).
Bercak atau noda yang ada dikerok dan dianalisis dengan menggunakan UV-Vis dan
FT-IR.

3. LC-MS

Hasil isolat KLT preparatif juga dianalisis dengan LC-MS untuk mengidentifikasi
struktur senyawa hasil isolasi melalui analisis pada spektrum massa yang terbentuk
dan terdapat puncak-puncak yang menyatakan suatu fragment molekul. Sebelum
dianalisis sengan LC-MS, hasil isolat dipisahkam dengan HPLC untuk mengetahui
tingkat kemurnian isolat.

f. Pengujian secara In-Vivo

1. Penyiapan Tikus Percobaan


Objek yang digunakan dalam penelitian ini ialah tikus jantan strain wistar berumur
dua belas minggu yang berasal dari laboratorium Biologi Universitas Negeri Malang.
Tikus dibuat obesitas dengan cara diberi pakan tinggi kalori semenjak hari ke-21
(tikus lepas sapih), selama 9 hari. Kriteria tikus obesitas ditentukan dengan
menggunakan indeks Lee. Tikus dikategorikan obesitas jika nilai indeks Lee > 0,300.
Apabila dari hasil perhitungan diperoleh nilai ≤ 0,300, maka tikus dikategorikan
normal (Campos et al., 2008).
2. Membuat Mencit Hiperkolereolemia
a) Perlakuan Injeksi Adrenalin
Injeksi adrenalin secara intravena pada ekor mencit dilakukan dengan cara
memasukkan mencit ke dalam kotak berlubang. Ekor mencit ditarik keluar
melalui lubang kotak. Mengompres ekor mencit dengan kapas hangat kira-kira
5 menit agar terjadi vasodilatasi vena. Memasukkan ujung jarum ke dalam
vena dengan kemiringan 15 derajat dan melakukan aspirasi. Aspirasi dianggap
berhasil apabila di dalam tabung syiringe terdapat darah. Melakukan injeksi
adrenalin dengan dosis 0,00084 mg/20g BB mencit secara perlahan. Injeksi
adrenalin dilakukan pada 4 kelompok mencit pada hari pertama saja
(Lamanepa, 2005)
b) Perlakuan Pemberian Pakan Tinggi Lemak
Pakan tinggi lemak terdiri atas pakan Hi-Gro Medicated 551 sebanyak 56,7%
+ minyak kelapa 20% + kuning telur puyuh sebanyak 23,3%. Pemberian
pakan tinggi lemak dilakukan pada 4 kelompok mencit selama 4 minggu sejak
hari kedua sampai hari terakhir perlakuan (Srivastava, 2000, dengan
modifikasi).

3. Uji Aktivitas Isolat Flavonoid dari Ekstrak Biji Pepaya (Carica papaya L.)
Hewan yang digunakan untuk uji secara in vivo adalah tikus putih strain wistar
dengan jenis kelamin jantan berusia 2 bulan dan berat badan 130-150 g. Digunakan
hewan sebanyak 18 ekor yang dikelompokkan menjadi tiga, masing-masing enam
ekor tikus, yaitu: Kelompok I, II, dan III. Di hari pertama semua tikus diukur kadar
lemak darahnya. Tikus pada kelompok I diberi makanan setandar tanpa tambahan,
kelompok II selain diberi makanan standar diberi tambahan 0,05 gram orlistat tiap
pagi hari, dan kelompok III selain diberi makanan standar diberi tambahan 1 gram sari
mesokarp tiap pagi hari. Perlakuan terhadap tikus ini dilakukan selama 30 hari.
Pengambilan darah dilakukan pada hari ke 31, dimana sebelumnya tikus dipuasakan
selama 1 malam. Kemudian pada pagi harinya tikus mulai diambil darahnya melalui
sinus orbitalis mata menggunakan mikrohematokrit.

4. Analisis Kadar Lemak Darah Hewan Percobaan


Sebelum dianalisis, darah terlebih dahulu dibuat dalam bentuk serum dengan cara
disentrifuga dengan kecepatan 12000 rpm selama 2 menit. Setelah darah disentrifuga
maka akan terbentuk serum pada lapisan atas (supernatan) yang tampak bening.
Cairan ini yang akan digunakan dalam analisis profil lemak yang meliputi: kolesterol
total, trigliserida, LDL, dan HDL.
a) Analisis kolesterol total sebagai berikut: serum darah diambil sebanyak 5 μL
ditambahkan 500 μL reagen untuk kolesterol (Diasys reagent) dan dikocok
kemudian diinkubasi selama 20 menit. Sebagai blanko digunakan akuades.
Selanjutnya diukur menggunakan alat microlab 300.
b) Analisis trigliserida sebagai berikut: serum darah diambil sebanyak 5
μLditambahkan 500 μL reagen untuk trigliserida (Diasys reagent) dan dikocok
kemudian diinkubasi selama 30 menit. Sebagai blanko digunakan aquades dan
Selanjutnya dianalisa menggunakan alat microlab 300.
c) Analisis HDL dilakukan dengan cara: serum darah diambil sebanyak 5 μL
ditambahkan 500 μL reagen untuk HDL (Diasys reagent) dan dikocok
kemudian diinkubasi selama 20 menit. Sebagai blanko digunakan aquades.
Selanjutnya diukur menggunakan alat microlab 300.
d) Analisis LDL dilakukan dengan cara: karena dari parameter kolesterol total,
trigliserida, dan HDL sudah diketahui maka penentuan konsentrasi LDL dapat
dihitung dengan persamaan berikut.

g. Metode Analisis Data

Metode analisis data terdiri dari beberapa tahap, antara lain sebagai berikut:
1) Aktivitas Lipase Pankreas (ALP)
Menurut penelitian Irawan dkk (2008:287), aktivitas lipase pankreas dapat dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut:
(Vsm−Vsa)x N NaOH x 1000
ALP = (µmol/menit)
Vs x 25
Keterangan:
Vsm : Volume NaOH yang diperlukan pada titrasi substrat
minyak (mL)
Vsa : Volume NaOH yang diperlukan pada titrasi substrat
air (mL)
N NaOH : Normalitas NaOH yang digunakan pada titrasi substrat
(mol/L)
1000 : faktor konversi dari mmol ke µmol
Vs : volume substrat yang diambil sebanyak 25 mL
25 : waktu inkubasi (menit)
2) Daya Inhibisi terhadap Lipase Pankreas (DILP)
Daya Inhibisi lipase pankreas dari berbagai sampel mesokarp mentimun, yaitu:
a. Daya Inhibisi Orlistat terhadap Lipase Pankreas
ALP tanpa inhibitor−ALP Orlistat
DILP = x 100%
ALP tanpa inhibitor

b. Daya Inhibisi Sari Mesokarp Mentimun terhadap Lipase Pankreas


ALP tanpa inhibitor−ALP sari mesokarp mentimun
DILP = x 100%
ALP tanpa inhibitor

c. Daya Inhibisi Serbuk Mesokarp Mentimun terhadap Lipase Pankreas


ALP tanpa inhibitor−ALP serbuk mesokarp mentimun
DILP = x 100%
ALP tanpa inhibitor

d. Daya Inhibisi Ekstrak kental Mesokarp Mentimun terhadap Lipase Pankreas


ALP tanpa inhibitor−ALP ekstrak kental mesokarp mentimun
DILP = x 100%
ALP tanpa inhibitor

e. Daya Inhibisi Hasil KLT Preparatif terhadap Lipase Pankreas


ALP tanpa inhibitor−ALP hasil KLT preparatif
DILP = x 100%
ALP tanpa inhibitor

3) Persentase Daya Inhibisi terhadap Orlistat


Persentase daya inhibisi terhadap Orlistat dari berbagai sampel mesokarp
mentimun (sari, serbuk, ekstrak kental, hasil KLT preparatif) dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
DILP sampel
Persentase Daya Inhibisi Sampel = x 100%
DILP Orlistat
4) Indeks Kriteria Mencit Obesitas (Indeks Lee)
Mencit dikategorikan obesitas jika nilai indeks Lee > 0,300. Apabila dari hasil
perhitungan diperoleh nilai ≤ 0,300, maka mencit dikategorikan normal (Campos et al.,
2008). Nilai indeks Lee dihitung dengan menggunakan rumus dari Campos et al. (2008),
yaitu :
3
√Berat badan(gram) x 10
Indeks Lee =
Panjang naso-anal (mm)
5) Perhitungan Kadar Energi yang Masuk dalam Mencit
Berdasarkan kalori yang dikonsumsi mencit, maka parameter nutrisi seperti energi
masuk (kJ/hari) dihitung dengan menggunakan rumus dari Novelli et al. (2007), yaitu :

Energi Masuk = Rerata pakan yang dikonsumsi x energi dietpakan


yang diberikan (kJ/hari)
Keterangan:
1 kalori = 4,182 x 10-3 kJ

6) Perhitungan Efisiensi Pakan Mencit


Berdasarkan jumlah pakan yang dikonsumsi mencit, maka parameter nutrisi seperti
efisiensi pakan (%) dihitung dengan menggunakan rumus dari Novelli et al. (2007),
yaitu :

Rerata pertambahan berat badan


Efisiensi Pakan (%)= x 100
Energi Masuk

7) Analisis LDL
Analisis LDL dari serum darah yang telah diambil dari mencit dapat dihitung
menggunakan rumus yaitu:
Kolesterol total − HDL −Trigliserida
LDL =
5
DAFTAR PUSTAKA

Anjum V, Ansari SH, Naquvi KJ, Arora P, Ahmad A. Development of quality standards of
Carica papaya Linn. Leaves, Sch Res Lib 2013; 5(2):370-376.

Ayurvedic pharmacopoeia of India, Govt of India, I.

Arvind et al., 2013 Arvind G, Debjit B, Duraivel S, Harish G. Traditionaland Medicinaluses


of Carica papaya, J Med Car Pap 2013; 1(1):2320-3862

Sjahid, R. Landyyun. 2008. Isolasi dan Identifikasi Flavonoid dari Daun Dewandaru
(Eugenia uniflora L.). Skripsi. Tersedia dalam http://www.pdfport.com/view/638561-
isolasi-dan-identifikasi-flavonoid-dari-daun-dewandaru-eugenia.html (diakses tanggal
08 Januari 2013)

Agoes.G.2007. Teknologi Bahan Alam, ITB Press Bandung.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2014. Statistik Indonesia, statistical year book of Indonesia
2014. Jakarta: BPS.

Bishop ML, Fody EP, Schoeff LE. 2004. Clinical Chemistry. Fifth Edition. Washington DC:
Wolters Kluwer Health..

Birari R, Bhutani K. Pancreatic lipase inhibitors from natural sources: unexplored potential.
Drug Discov Today 2007; 12: 879-889.

Brug J, Crawford D. The obesity pandemic. Is it bad or worse? European Journal of Public
Health 2009; 19: 570-571.

E. E. Calle, C. Rodriguez, K. Walker-Thurmond, and M. J.Thun, “Overweight, obesity, and


mortality from cancer in a prospectively studied cohort of U.S. adults,” The New
England Journal of Medicine, vol. 348, no. 17, pp. 1625–1638, 2003.

Drew B, Dixon A, Dixon J. Obesity management: update on orlistat. Vascular Health Risk
and Management 2007; 3: 817-821

Filippatos, T. D., Derdemezis, C. S., Gazi I. F., Na-kou, E. S., Mikhalidis, D. P., & Elisaf M.
S. 2008. Orlistat associated adverse effects and drug interactions: a critical review.
Drug Safety, 31 (1): 53-65.

Gandhi, N., 1997, Application of Lipases, Journal American Oil Chemist Society, 74(6), 621-
629.

R. Guerciolini, “Mode of action of orlistat,” International Journal of Obesity and Related


Metabolic Disorders, vol. 21, supplement 3, pp. S12–S23, 1997.

E. Giovannucci, D. M. Harlan, M. C. Archer et al., “Diabetes and cancer: a consensus


report,” CA—A Cancer Journal for Clinicians, vol. 60, no. 4, pp. 207–221, 2010
Krishna KL, Paridhavi M, Jagruti Patel A. Review on nutritional, medicinal and
pharmacological properties of papaya (Carica papaya Linn), Nat prod Rad 2008;
7(4):364-373.

Little T, Horowitz M, Feinle-Bisset C. Modulation by high-fat diets of gastrointestinal


function and hormones associated with the regulation of energy intake: implications
for the pathophysiology of obesity. American Journal of Clinical Nutrition 2007; 86:
531-541.

Lim, D.W., Kim, Y.T., Jang, Y.J., Kim, Y.E., & Han, D. 2013. Anti-Obesity Effect of
Artemisia capillaris Extracts in High-Fat Diet-Induced Obese Rats. Molecules.

Latifah, 2015. Identifikasi Golongan Senyawa Flavonoid dan Uji Aktivitas Antioksidan Pada
Ekstrak Rimpang Kencur Kaempferia galanga L. Dengan Metode DPPH (1,1-Difenil-
2Pikrilhidrazil). Program Studi Kimia FMIPA. Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim. Malang

Lenny, S. 2006. Senyawa Flavonoida, fenil Propanoida dan Alkaloida. Karya Ilmiah. MIPA
Universitas Sumatera Utara.

Lusiana, K., Magatra,P., Martono,Y., Ekstrak Limbah Biji Pepaya Carica Papaya Seeds Anti
Penyakit Jantung Koroner. Program Studi Kimia FMIPA.Universitas Kristen Satya
Wacana . Salatiga

Moreno D A, Ilic N, Poulev A, Brasaemle D L, Fried S K et al, Ihibitory effects of grape seed
extract on lipases, Nutrition, 19 (2003) 876-879

Malacrida, C.R., Kimura, M., & Jorge, N. 2011. Characterization of a high oleic oil extracted
from papaya (Carica papaya L.) seeds. Cienc. Tecnol. Aliment., Campinas, 31(4):
929-934.

Meirindasari, N. 2013. pengaruh pemberian jus biji pepaya(Carica papaya L.)terhadap kadar
kolesterol total tikus sprague dawley dislipidemia. Artikel Penelitian. Universitas
Diponegoro.

Markham, 1988 Markham, K.R. 1988. Techniques of Flavonoid Identification. London:


Academic Pr

Madhavi, D.L., R.S. Singhal, P.R. Kulkarni. (1985). Technological Aspects of Food
Antioxidants dalam D.L. Madhavi, S.S. Deshpande dan D.K. Salunkhe: Food
Antioxidant, Technological, Toxilogical and Health Perspectives. Marcel Dekker Inc.,
Hongkong: 161-265

Maslarova, N.V. Yanishlieva. (2001). Inhibiting oxidation dalam Jan Pokorny, Nedyalka
Yanislieva dan Michael Gordon: Antioxidants in food, Practical applications.
Woodhead Publishing Limited, Cambridge: 22-70
Nitin A. Lunagariya, Neeraj K. Patel, Sneha C. Jagtap, Kamlesh K. Bhutani* Department of
Natural Products, National Institute of Pharmaceutical Education and Research
(NIPER), Sector 67, S.A.S Nagar, Mohali-160062, Punjab (INDIA)

Osato JA, Santiago L.A., Remo, G.M., Cuandra, M.S., & Mori, A. 1993. Antimicrobial and
antioxidant activities of unripe papaya. Life Sci, 53(17): 1383-1389.

Rahayu et al., 2009 Rahayu, D dan Hastuti, S.D. 2009. Stabilitas Saponin sebagai Antibiotik
Alami Hasil Isolasi Gel Daun Aloe barbandis miller pada Variasi Suhu dan Lama
Simpan. Jurnal. Malang: Jurusan Peternakan Fakultas Peternakan-Perikanan
Universitas Muhammadiyah Malang.

Rajalakshmi dan S. Narasimhan, 1985 Rajalakshmi, D dan S. Narasimhan. (1985). Food


Antioxidants: Sources and Methods of Evaluation dalam D.L. Madhavi: Food
Antioxidant, Technological, Toxilogical and Health Perspectives. Marcel Dekker Inc.,
Hongkong: 76-77

Susanti A. Inhibisi Ekstrak Air dan Etanol Daun Asam Jawa dan Rimpang Kunci Pepet
terhadap Lipase Pankres Secara In-Vitro. Departemen Kimia FMIPA Insititut
Pertanian Bogor.

Schrauwen P, Westerterp KR. The role of high-fat diets and physical activity in the regulation
of body weight. British Journal of Nutrition 2000; 84: 417-427

Subandi, Erlinda, F., Afida Afnib, F., Iqnatus Suknah, L. and Nur Faizin,A. 2015.
PANCREATIC LIPASE INHBITOR ACTIVITY OF CaricapapayaL. SEEDS
POWDER AND THE POTENCY AS ANTI OBESITY ‘COFFEE’ DRINK.

Shahani, K. M. 1975, Lipase and Esterases, In Enzymes in Food Processing ed, G, Redd,
pp.181-217. Academic, New York

Sri Wahyu Murni, Siti Diyar Kholisoh, Tanti D.L., dan Petrissia E.M. 2011. Produksi,
Karakterisasi, dan Isolasi Lipase dari Aspergillus nige. Program Studi Teknik Kimia,
Fakultas Teknologi Industri, UPN “Veteran”. Yogyakarta

Silverstein, Bassler and Moril. 1986. Penyidikan Spketrofotometrik Senyawa Organic edisi
ke-4. Jakarta : erlangga

Sastrohamidjojo, Hardjono. 2001. Dasar-dasar Spektroskopi. Yogyakarta: Universitas Gajah


Mada (UGM)

Sutrisno. 2011. Spektroskopi Molekul Organik. Malang: Penerbit Cakrawala Indonesia.

Tsuji M, Saito N & Inoue S, Inhibitors of absorption as anti-obesity drugs, Nihon Yakurigaku
Zasshi, 118 (2001) 340-346
Tona, L., Kambu, K., Ngimbi, N., Cimanga, K., & Vlentink, A.J. 1998. Antiamoebic and
phytochemical screening of some congolese medisinal plants, J. Ethnopharmacol,
61(1): 57-65.

Vinson, Joe A., Jinhee Jang, Yousef A. Dabbagh, Mamdouh M. Serry and Songhuai Cai.
(1995a). Plant Polyphenols Exhibit Lipoprotein-Bound Antioxidant Activity Using an
in Vitro Oxidation Model for Heart Disease. J. Agric. Food. Chem. (43): 2798-2799

Vinson, Joe A., Yousef A. Dabbagh, Mamdouh M. Serry and Jinhee Jang. (1995b). Plant
Flavonoids, Especially Tea Flavonols, Are Powerful Antioxidants Using an in Vitro
Oxidation Model for Heart Disease. J. Agric. Food. Chem. (43): 2800-2802

Voshol P, Rensen P C N, van Djik K, Romijn J & Havekes L. Effect of plasma triglyceride
metabolism on lipid storage in adipose tissue: Studies usinh genetically engineered
mouse models. Biochim Biophys Acta, 1791 (2009) 479-485

Mukherjee, A. & Sengupta, S. 2013. Indian medicinal plants known to contain intestinal
glucosidase inhibitors also inhibit pancreatic lipase activity – an ideal situation for
obesity control by herbal drugs. Indian Journal of Biotechnology, Vol. 12, January
2013, pp. 32-39.

Warsino. Budidaya Pepaya. Yogyakarta: Kanisius:200

Wijiutami,P. 2016. Isolasi, Identifikasi dan Uji Aktivitas Flavonoid dari Biji Pepaya (Carica
papaya L.) sebagai Inhiitor Lipase Pankreas. Skripsi. Jurusan Kimia. Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang

White dan Y. Xing, 1951; Madhavi et al., White, P.J. and Y. Xing. (1954). Antioxidants from
Cereals and Legumes dalam Foreidoon Shahidi: Natural Antioxidants, Chemistry,
Health Effect and Applications. AOCS Press, Champaign, Illinois: 25-63
LAMPIRAN

Lampiran 1. Diagram Alir Penelitian

BIJI PEPAYA

8,5 gram biji Biji pepaya segar (851 gram)


pepaya
- Dihaluskan dengan mortar - Dikeringkan dengan panas
- Disaring dengan kertas matahari ± 1 minggu
saring kasar - Disangrai dengan api kecil
- Dihaluskan dengan blender

4mL Sari biji pepaya Biji pepaya kering

- Dilakukan pengayakan
- Diuji aktivitas - Diuji (Ayakan 50 mesh)
inhibisi lipase fitokimia
pankreas flavonoid

Aktivitas Inhibisi Hasil uji


Lipase Pankreas flavonoid

Sisa Serbuk biji pepaya Serbuk biji pepaya


halus

- Diuji aktivitas - Diuji - Diambil


inhibisi lipase fitokimia
pankreas flavonoid

Aktivitas Inhibisi Serbuk biji pepaya


Hasil uji
Lipase Pankreas flavonoid
- Direndam dengan
etanol 70% selama
20 menit
- Ekstraksi dengan
metode maserasi
menggunakan
pelarut etanol-air
(35%) selama 1x24
jam dan diaduk
dengan magnetic
stirrer
- disaring
Ekstrak Etanol-Air
biji pepaya
Lampiran 1 (Lanjutan)
Ekstrak Etanol-Air
Biji pepaya

- Dipekatkan dengan
rotary evaporator

Ekstrak Kental Biji


pepaya

- Diuji aktivitas - Diuji


KLT Kualitatif inhibisi lipase fitokimia
pankreas flavonoid

Eluen dengan Aktivitas Inhibisi Positif


pemisahan optimum Lipase Pankreas flavonoid

2 titik noda KLT Preparatif


- Analisis
UV-Vis
2 titik noda
Spektrum
UV-VIS

- Diuji aktivitas - Diuji - Analisis - Analisis - Pengujian


inhibisi lipase fitokimia FT-IR GC-MS secara
pankreas flavonoid In-Vivo

Aktivitas Inhibisi Positif Spektrum Kromatogram Kadar Penurun


Lipase Pankreas flavonoid FT-IR dan Spektrum Lemak Darah
massa LC-MS
Lampiran 2. Diagram Alir Pembuatan Substrat

a. Pembuatan Substrat Minyak

2,5 mL MINYAK ZAITUN + 22,5 mL LARUTAN GUM ARABIK

- Dihomogenkan 10 menit
- Ditambah 20 mL akuades
- Ditambah 15 mL CaCl2 0,075 M
- Ditambah 10 mL NaCl 3 M
- Dihomogenkan
- Dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL
- Ditambah akuades hingga tanda batas

SUBSTRAT MINYAK

b. Pembuatan Substrat Air

2,5 mL AIR + 22,5 mL LARUTAN GUM ARABIK

- Dihomogenkan 10 menit
- Ditambah 20 mL akuades
- Ditambah 15 mL CaCl2 0,075 M
- Ditambah 10 mL NaCl 3 M
- Dihomogenkan
- Dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL
- Ditambah akuades hingga tanda batas

SUBSTRAT AIR
Lampiran 3. Diagram Alir Uji Aktivitas Lipase Pankreas dan Inhibisi Lipase
Pankreas

a. Uji Aktivitas Lipase Pankreas

SUBSTRAT MINYAK

- Diambil 25 mL substrat
- Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
- Diatur pH substrat dengan buffer fosfat hingga mencapai pH 7,5
- Ditambah 1 mg serbuk lipase porcine pankreas
- Dikocok selama 30 detik
- Diinkubasi pada suhu 37°C selama 25 menit
- Dimasukkan ke waterbath mendidih selama 10 menit
- Ditambahkan 3 tetes indikator pp
- Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
- Dilakukan metode yang sama untuk substrat kontrol
VOLUME NaOH HASIL TITRASI

SUBSTRAT AIR

- Diambil 25 mL substrat
- Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
- Diatur pH substrat dengan buffer fosfat hingga mencapai pH 7,5
- Ditambah 1 mg serbuk lipase porcine pankreas
- Dikocok selama 30 detik
- Diinkubasi pada suhu 37°C selama 25 menit
- Dimasukkan ke waterbath mendidih selama 10 menit
- Ditambahkan 3 tetes indikator pp
- Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
- Digunakan air sebagai pengganti minyak zaitun
VOLUME NaOH HASIL TITRASI
Lampiran 3 (Lanjutan)

b. Uji Inhibisi Orlistat terhadap Lipase Pankreas

SUBSTRAT MINYAK

- Diambil 25 mL substrat
- Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
- Ditambah serbuk dari 1 kapsul Orlistat
- Diatur kondisi pH dengan buffer fosfat hingga mencapai pH 7,5
- Ditambah 1 mg serbuk lipase porcine pankreas
- Dikocok selama 30 detik
- Diinkubasi pada suhu 37°C selama 25 menit
- Dimasukkan ke waterbath mendidih selama 10 menit
- Ditambahkan 3 tetes indikator pp
- Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
- Digunakan air sebagai pengganti minyak zaitun
VOLUME NaOH HASIL INHIBISI

c. Uji Inhibisi Sari Biji Pepaya terhadap Lipase Pankreas

SUBSTRAT MINYAK

- Diambil 25 mL substrat
- Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
- Ditambah sari biji pepaya
- Diatur kondisi pH dengan buffer fosfat hingga mencapai pH 7,5
- Ditambah 1 mg serbuk lipase porcine pankreas
- Dikocok selama 30 detik
- Diinkubasi pada suhu 37°C selama 25 menit
- Dimasukkan ke waterbath mendidih selama 10 menit
- Ditambahkan 3 tetes indikator pp
- Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
- Digunakan air sebagai pengganti minyak zaitun
VOLUME NaOH HASIL INHIBISI
Lampiran 3 (Lanjutan)

d. Uji Inhibisi Serbuk Biji Pepaya terhadap Lipase Pankreas

SUBSTRAT MINYAK

- Diambil 25 mL substrat
- Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
- Ditambah serbuk biji pepaya
- Diatur kondisi pH dengan buffer fosfat hingga mencapai pH 7,5
- Ditambah 1 mg serbuk lipase porcine pankreas
- Dikocok selama 30 detik
- Diinkubasi pada suhu 37°C selama 25 menit
- Dimasukkan ke waterbath mendidih selama 10 menit
- Ditambahkan 3 tetes indikator pp
- Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
- Digunakan air sebagai pengganti minyak zaitun
VOLUME NaOH HASIL INHIBISI

e. Uji Inhibisi Ekstrak Kental Biji Pepaya terhadap Lipase Pankreas

SUBSTRAT MINYAK

- Diambil 25 mL substrat
- Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
- Ditambah ekstrak kental biji pepaya
- Diatur kondisi pH dengan buffer fosfat hingga mencapai pH 7,5
- Ditambah 1 mg serbuk lipase porcine pankreas
- Dikocok selama 30 detik
- Diinkubasi pada suhu 37°C selama 25 menit
- Dimasukkan ke waterbath mendidih selama 10 menit
- Ditambahkan 3 tetes indikator pp
- Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
- Digunakan air sebagai pengganti minyak zaitun
VOLUME NaOH HASIL INHIBISI
Lampiran 3 (Lanjutan)

f. Uji Inhibisi Isolat Hasil KLT Preparatif terhadap Lipase Pankreas

SUBSTRAT MINYAK

- Diambil 25 mL substrat
- Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
- Ditambah isolat hasil KLT preparatif
- Diatur kondisi pH dengan buffer fosfat hingga mencapai pH 7,5
- Ditambah 1 mg serbuk lipase porcine pankreas
- Dikocok selama 30 detik
- Diinkubasi pada suhu 37°C selama 25 menit
- Dimasukkan ke waterbath mendidih selama 10 menit
- Ditambahkan 3 tetes indikator pp
- Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
- Digunakan air sebagai pengganti minyak zaitun

VOLUME NaOH HASIL INHIBISI


Lampiran 4. Diagram Alir Uji Flavonoid (Fitokimia)

SARI, SERBUK, EKTRAK KENTAL, dan ISOLAT HASIL KLT


PREPARATIF BIJI PEPAYA

- Diambil sebanyak 1 mg sampel


- Dilarutkan dalam sedikit metanol
- Ditambahkan H2SO4
- Dikocok kuat secara vertikal selama 10 detik
Hasil

- Dibandingkan

Kontrol negatif
Lampiran 5. Diagram Alir Pengujian In-Vivo

a. Penyiapan Mencit Percobaan


 Penyiapan Mencit dalam Kondisi Obesitas

MENCIT JANTAN STRAIN WISTAR UMUR 21 HARI

- Diberi pakan tinggi kalori selama 9 hari


- Diukur berat badan mencit setiap hari
- Dihitung nilai indeks Lee untuk kriteria mencit kondisi obesitas
pada hari ke-9

NILAI INDEKS LEE > 0,300

MENCIT SIAP DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN

 Pembuatan Mencit dalam Kondisi Hiperkolereolemia

MENCIT JANTAN STRAIN WISTAR OBESITAS UMUR 4


MINGGU

- Dimasukkan ke kotak berlubang


- Ditarik keluar ekor mencit melalui lubang kotak
- Dikompres ekor mencit dengan kapas hangat selama 5 menit
- Dimasukkan ujung jarum ke vena dalam ekor mencit dengan
kemiringan 15°
- Diambil darah mencit ke dalam tabung syringe
- Diinjeksikan adrenalin dengan dosis 0,00084 miligram / 20
gram berat badan mencit

MENCIT SETELAH DIBERI ADRENALIN

- Diberi pakan tinggi lemak selama 4 minggu sejak setelah


penginjeksian adrenalin hingga hari terakhir perlakuan

MENCIT SIAP DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN UJI


AKTIVITAS ISOLAT KLT PREPARATIF
Lampiran 5 (Lanjutan)
b. Uji Aktivitas Hasil Isolat KLT Preparatif dalam Menurunkan Kadar Lemak Darah
(secara In-Vivo)

MENCIT JANTAN STRAIN WISTARHIPERKOLEREOLEMIA


UMUR 2 BULAN

- Diambil 18 ekor mencit


- Dibagi menjadi 3 kelompok masing-maing berisi 6 mencit dalam
1 kandang
- Diukur kadar lemak darah semua mencit
- Diberi makanan standar tanpa tambahan pada kelompok mencit
I selama 30 hari
- Diberi makanan standar dengan tambahan 0,05 gram Orlistat
setiap pagi hari pada kelompok mencit II selama 30 hari
- Diberi makanan standar dengan tambahan 1 gram isolat KLT
preparatif setiap pagi hari pada kelompok mencit III selama 30
hari
- Dipuasakan mencit selama 1 malam
- Diambil darah mencit melalui orbitalis mata dengan
mikrohematokrit
DARAH MENCIT SIAP DIANALISIS

c. Analisis Kadar Lemak Darah Mencit

DARAH MENCIT

- Disentrifuga dengan kecepatan


12.000 rpm selama 2 menit

Endapan Supernatan

Analisis Analisis Analisis Analisis


Kolesterol Trigliserida HDL LDL
Total
Lampiran 6. Preparasi Larutan

a. Larutan CaCl2 0,075 M


Sebanyak 2,21 g CaCl2.2H2O dilarutkan dengan 200 mL akuades dalam gelas kimia.
Larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 200 mL kemudian ditambah akuades sampai
tanda batas.
b. Larutan NaCl 3 M
Sebanyak 17,550 g NaCl dilarutkan dengan 50 mL akuades dalam gelas kimia.
Larutan dipindahkan ke dalam labu ukur 100 mL kemudian diencerkan dengan
akuades sampai tanda batas.
c. Larutan Natrium Dihidrogen Fosfat 0,2 M
Sebanyak 1,38 g NaH2PO4.2H2O dilarutkan dengan 50 mL akuades dalam gelas
beaker 50 mL, kemudian dipindahkan dalam labu ukur 100 mL dan diencerkan
sampai tanda batas.
d. Larutan Dinatrium Hidrogen Fossfat 0,2 M
Sebanyak 3,56 g NaH2PO4.2H2O dilarutkan dengan 50 mL akuades dalam gelas
beaker 50 mL, kemudian dipindahkan dalam labu ukur 100 mL dan diencerkan
sampai tanda batas.
e. Larutan Buffer Fosfat pH 7.5
Sebanyak 84 mL laritan Dinatrium hidrogen fosfat dan 16 mL larutan Natrium
dihidrogen fosfat dicampur dalam gelas beaker 250 mL.
f. Larutan Gum Arabik
Sebanyak 5 g Gum arabik dilarutkan dengan 40 mL akuades dalam gelas kimia.
Larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL kemudian diencerkan dengan akuades
sampai tanda batas.
g. Larutan NaOH 0,1 N
Sebanyak 4 g NaOH dilarutkan dengan 100 mL akuades dalam gelas kimia. Larutan
dipindahkan ke dalam labu ukur 1000 mL, kemudian ditambahkan akuades sampai
tanda batas.
h. Larutan Asam Oksalat 0,1 M
Sebanyak 0,32 g asam oksalat dilarutkan dengan akuades dalam gelas kimia 50 mL.
Larutan dipindahkan ke dalam labu ukur 50 mL, kemudian ditambahkan akuades
sampai tanda batas.
i. Pembakuan Larutan NaOH 0,1 M
Sebanyak 5 mL larutan asam iksalat 0,1 M di pipet dengan pipet volume 5 mL,
dimasukkan dalam erlenmeyer 100 mL, ditambah 3 tetes indikator pp, kemudian
dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 M sampai larutan berwarna merah muda. Langkah
ini dilakukan sebanyak 3 kali.
Lampiran 7. Perhitungan Preparasi Larutan

a. Larutan CaCl2 0,075 M dibuat 200 mL (BM CaCl2.2H2O = 147,02)


Berat CaCl2.2H2O = [CaCl2] x Vlarutan x assa molar CaCl2
0,075 𝑚𝑜𝑙 1𝐿 147,02 𝑔
= 𝑥 𝑥 200 𝑚𝐿 𝑥
1𝐿 1000 𝑚𝐿 1 𝑚𝑜𝑙

= 2,2053 g

b. Larutan NaCl 3 M (m/v)


Larutan NaCl 3 M dibuat sebanyak 100 mL (BM NaCl = 58,5)
Berat NaCl = [NaCl] x Vlarutan x Massa molar NaCl
3 𝑚𝑜𝑙 1𝐿 58,5 𝑔
= 𝑥 𝑥 100 𝑚𝐿
1𝐿 1000 𝑚𝐿 1 𝑚𝑜𝑙

= 17,55 g

c. Larutan Gum Arabik 10 % (w/v)


Larutan gum arabik 10 % dibuat sebanyak 50 mL (m/w)
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎
Konsentrasi (%) = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑥 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎
10% =𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑥 100%

Berat senyawa =5g

d. Larutan Na2HPO4 0,2 M


Larutan Na2HPO4 0,2 M dibuat sebanyak 100 mL (BM Na2HPO4.2H2O = 177,97)
Berat Na2HPO4.2H2O = [Na2HPO4] x Vlarutan x Massa molar
0,2 𝑚𝑜𝑙 1𝐿 177,97 𝑔
= 𝑥 𝑥 100 𝑚𝐿
1𝐿 1000 𝑚𝐿 1 𝑚𝑜𝑙

= 3,56 g

e. Larutan Na2H2PO4 0,2 M


Larutan Na2H2PO4 0,2 M dibuat sebanyak 50 mL (BM Na2H2PO4 = 137,97)
Berat Na2H2PO4.2H2O = [Na2H2PO4] x Vlarutan x Massa molar
0,2 𝑚𝑜𝑙 1𝐿 137,97 𝑔
= 𝑥 𝑥 50 𝑚𝐿
1𝐿 1000 𝑚𝐿 1 𝑚𝑜𝑙

= 1,3797 g
f. Larutan NaOH 0,1 M
Larutan NaOH 0,1 M dibuat sebanyak 1000 mL (BM NaOH = 40)
Berat NaOH = [NaOH] x Vlarutan x Massa molar
0,1 𝑚𝑜𝑙 1𝐿 40,00 𝑔
= 𝑥 𝑥 1000 𝑚𝐿
1𝐿 1000 𝑚𝐿 1 𝑚𝑜𝑙

=4g

g. Larutan Asam Oksalat 0,1 M


Larutan Asam Oksalat 0,1 M dibuat sebanyak 50 mL (BM H2C2O4.2H2O = 126,07)
𝐻2 𝐶2 𝑂4 + 2𝐻 + → 𝐶2 𝑂42−
M H2C2O4 =½M
= ½ 0,1
= 0,05 mol

M H2C2O4 =MxV
= 0,05 M x 0,05 L
= 0,0025 mol

Berat H2C2O4 = mol M H2C2O4 x Massa molar H2C2O4.2H2O


126,07 𝑔
= 0,0025 𝑚𝑜𝑙 𝑥 1 𝑚𝑜𝑙

= 0,315 g
h. Pembakuan Larutan NaOH 0,097 M
Tabel Lampiran 7.1 Pembakuan larutan NaOH 0,097 M dengan Asam Oksalat 0,1 M
Volume Asam Volume NaOH (mL) Volume
NaOH
oksalat 1 2 3 rata-rata
5 5,2 5,1 5,2 5,2

Hasil Perhitungan Data:

M NaOH v V NaOH x Mol é = M asam oksalat x V asam oksalat x Mol é


M NaOH x 5,17 mL x 1 = 0,05 M x 5 mL x 2
M NaOH = 0,097 M
Jadi konsentrasi NaOH adalah 0,097 M