Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

SINUSITIS

Disusun oleh

Abdul Aziz 112016084

Uria Ricko Tanguhno Handen 112016066

Dokter Pembimbing : Dr. Susilaningrum Sp.THT

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT RSPAD GATOT SUBROTO


JAKARTA

PERIODE 17 APRIL – 20 MEI 2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
karuniaNyalah, penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul “sinusitis” dengan baik.
Penulisan referat ini merupakan salah satu syarat mengikuti ujian Program Pendidikan
Profesi di bagian Ilmu Penyakit THT RSPAD Gatot Subroto. Penulis berharap referat ini
dapat bermanfaat untuk kepentingan pelayanan kesehatan, pendidikan, penelitian, dan dapat
dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh berbagai pihak yang berkepentingan.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih kepada :

1. Dr Sulilaningrum Sp. THT selaku dokter pembimbing yang telah memberikan


bimbingan dalam penyusunan referat ini.
2. Teman-teman serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan referat ini.

Penulis sadar sepenuhnya bahwa dalam penyusunan referat ini banyak dijumpai
kekurangan. Oleh karena itu, segala masukan yang bersifat membangun dari para penalaah
sangat di harapkan demi proses penyempurnaan referat ini.

Jakarta, mei 2017

Penulis
I. PENDAHULUAN

Sinusitis adalah peradangan mukosa paranasal. Definisi lain menyebutkan, sinusitis


adalah inflamasi dan pembengkakan membrana mukosa sinus disertai nyeri lokal. Sesuai
anatomi sinus yang terkena dapat dibagi menjadi sinusitis maxilla, sinusitis ethmoid, sinusitis
frontal, dan sedangkan sinusitis sphenoid. Bila mengenai semua sinus disebut paranasal
sinusitis. (1,2)

Yang paling sering ditemukan adalah sinusitis maxilla dan sinusitis ethmoid,
sedangkan sinusitis frontal dan sinusitis sphenoid lebih jarang ditemukan. Pada anak hanya
sinus maxilla dan sinus ethmoid yang berkembang sedangkan sinus frontal dan sinus
sphenoid mulai berkembang pada anak berusia kurnag lebih 8 tahn. (2)

Sinus maxilla merupakan sinus yang paling sering terinfeksi, oleh karena (1)
merupakan sinus paranasal terbesar, (2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar sehingga
sekret dari sinus maxilla hanya tergantung dari gerakan silia, (3) dasar sinus maxilla adalah
dasar akar gigi (processus alveolaris), sehingga infeksi pada gigi dapat menyebabkan sinusitis
maxilla, (4) ostium sinus maxilla terletak di meatus medius, di sekitar hiatus semilunaris yang
sempit, sehingga mudah tersumbat. (2)

Klasifikasi sinusitis dapat dikategorikan sebagai gejala berlangsung kurang dari 4


minggu dimana dengan pengobatan yang tepat dan cepat pasien bisa sembuh sepenuhnya.
Sinusitis subakut merupakan perkembangan gejala selama 4 hingga 12 minggu dan
dinyatakan sinusitis kronis bila gejala berlangsung melebihi 3 bulan. (3)

Terdapat beberapa gejala dan tanda yang bisa membedakan antara sinusitis akut,
sinusitis subakut dan sinusitis kronis. Seperti radang-radang akut timbul sebagai gejala
sinusitis akut, hilangnya tanda radang akut dan perubahan histologik mukosa sinus masih
reversible adalah tanda bagi sinusitis subakut dan dikatakan sinusitis kronis ditandai dengan
perubahan histologik mukosa irreversible, misalnya sudah berubah menjadi jaringan
granulasi atau polipoid. (2)
II. ANATOMI
Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit dideskripsikan
karena bentuknya sangat bervariasi pada setiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal,
mulai dari yang terbesar yaitu sinus maxilla, sinus frontal, sinus ethmoid dan sinus sfenoid
kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga
terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga
hidung. (4)
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung
dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus
frontal. Sinus ethmoid dan sinus maxilla telah ada sejak lahir, sedangkan sinus frontalis
berkembang dari sinus ethmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun.
Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian posterosuperior
rongga hidung. Sinus- sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18
tahun. (4)
Manusia mempunyai sekitar 12 rongga di sepanjang atap dan bagian lateral rongga
udara hidung; jumlah, ukuran, bentuk dan simetris bervariasi. Sinus – sinus ini membentuk
rongga di dalam beberapa tulang wajah dan diberi nama sesuai : sinus maxillaris, sfenoidalis,
frontalis dan ethmoidalis. Yang terakhir biasanya berupa kelompok-kelompok sel ethmoidalis
anterior dan posterior yang saling berhubungan, masing-masing kelompok bermuara ke
hidung. Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernapasan yang mengalami modifikasi, dan
mampu menghasilkan mukus dan bersilia, sekret disalurkan ke dalam rongga hidung, pada
orang sehat rongga terutama berisi udara. (4)
- Sinus maxillaris
Sinus maxillaris merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus
maxillarisbervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepatr dan
akhirnya mencapai ukuran maksimal yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus maxilaris
berbentuk segitiga, dinding anterior sinus ialah permukaan facial os maxila yang
disebut os kanina, dinding posterior nya adalah permukaan infratemporal maxilar,
dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah
dasar orbita dan dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya
ialah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maxilaris berada di sebelah
superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui
infundibulum ettmoid. (4)
Dasar dari sinus maxilaris sangat berdekatan dengan rahang gigi yaitu premolar (
P1 dan P2), molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi taring (C) dan gigi
molar M3, bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus sehingga
infeksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis. (5)
Suplai darah terbanyak melalui cabang dari arteri maxilaris, inervasi mukosa sinus
melalui cabang dari nervus maxilaris (5)
- Sinus frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan keempat fetus,
berasal dari sel-sel rsessus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Ukuran
sinus frontal adalah 2,8 cmm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2 cm.
Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Sinus frontal
dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fossa serebri anterior,
sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal
berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resessus frontal. Resessus frontal
adalah bagian dari sinus etmoid anterior(5)
Suplai darah diperoleh dari arteri supraorbital dan arteri supratroclear yang berasal
dari arteri oftalmika yang merupakan salah satu cabang dari arteri carotis interna.
Inervasi mukosa disuplai oleh cabang supraorbital dan supratroclear cabang dari
nervus frontalis yang berasal dari nervus trigeminus. (5)
- Sinus ethmoid
Pada orang dewasa sinus ethmoid seperti piramid dengan dasarnya di bagian
posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4,5 cm, tinggi 2,4 cm dan lebarnya
0,5 cm di bagian anterior dan 1,5 cm di bagian posterior. Sinus etmoid berongga-
rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang terdapat di dalam
massa bagian lateral os etmoid, yang terletak diantara dinding konka media dan
dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi antara 4-17 sel ( rata-rata 9
sel)
Berdasarkan letaknya, sinus ethmoid anterior yang bermuara di meatus medius
dan sinus ethmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Sel-sel sinus
ethmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya dibawah perlekatan
konka media, sedangkan sel-sel sinus ethmoid posterior biasanya lebih besar dan
lebih sedikit jumlahnya dan terletak di postero-superior dari perlekatan konka
media. Di bagian terdepan sinus ethmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut
resessus frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal. Atap sinus ethmoid yang
disebut fovea ethmoidalis berbatasan dengan lamina kribosa. Dinding lateral
sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus ethmoid dari
rongga orbita. Di bagian belakang sinus ethmoid posterior berbatasan dengan
sinus sfenoid.
Suplai darah berasal dari cabang nasal dari arteri sphenopalatina. Inervasi mukosa
berasal dari divisi oftalmika dan maxilaris nervus trigeminus. (5)
- Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak di dalam os sfenoid di belakang sinus ethmoid posterior.
Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya
adalah 2 cm tingginya, dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. Volume nya
bervariasi dari 5-7,5 ml.
Batas-batasnya ialah bervariasi, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan
kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan
dengan sinus kavernosus dan arteri karotis interna dan di sebelah posteriornya
berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons.
Atap sinus sfenoid diperdarahi oleh arteri ethmoid posterior, sedangkan bagian
lainnya mendapat aliran darah dari arteri sphenopalatina dipersarafi oleh cabang n
V.1 dan V. 2. Nervus nasociliaris berjalan menuju nervus ethmoid posterior dan
mempersarafi atap sinus. Cabang-cabang nervus sfenopalatina dasar sinus. (5)

Gambar 1. Sinus paranasal


Gambar 2. Sinus paranasal

III. Kompleks Ostio-meatal


Kompleks osteo-meatal dideskripsikan sebagai area yang terdapat di
dinding lateral hidung dimana terdapat meatus medius yang merupakan
muara dari sinus paranasalis (kecuali sinus sfenoid). Adanya sedikit
kelainan (contoh : variasi anatomi, pembengkakan mukosa) dapat
menghambat ventilasi di daerah ini, yang mengakibatkan rangkaian
kelainan di sinus paranasalis.
Struktur fungsional dari kompleks ini terdiri dari prosesus uncinatus,
hiatus semilunaris, resessus frontalis, bulla ethmoid, infundibulum ethmoid
dan muara dari sinus maxilaris. (5)
IV. Fungsi sinus paranasal
Beberapa teori yang dikemukanan sebegai fungsi sinus paranasal antara
lain : (4)
a. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang untuk memanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi
sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas,
sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam
sinus.
b. Sebagai penahan suhu (thermal insulator)
Sinus paranasal berfungsi sebagai (buffer) panas, melindungi orbita
dan fossa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah
c. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang
muka, akan tetapi, bila udara dalam sinus diganti dengan tulang hanya
akan memberikan pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala,
sehingga teori ini dianggap bermakna.
d. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi udara dan
mempengaruhi kualitas udara. Akan tetapi ada yang berpendapat,
posisi sinus dan ostiumnya tidak mungkin berfungsi sebagai resonansi
yang efektif
e. Sebagai peredam perubahan tekanan suara
Fungsi ini akan berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan
mendadak misalnya waktu bersin dan beringus
f. Membantu produksi mukus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil
dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk
membersihkan partikel yang turut masuk dalam udara.

V. Definisi
Sinusitis adalah peradangan mukosa sinus paranasal. Umumnya disertai
atay dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rhinosinusitis. Definisi
laian menyebutkan sinusitis adalah inflamasi dan pembengkakan
membrana mukosa sinus disertai nyeri lokal. Sesuai anatomi sinus yang
terkena dapat dibagi menjadi sinusitis maxilla, sinusitis ethmoid, sinusitis
frontal dan sinusitis sphenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut
multisinusitis sedangkan bila mengenai sinus disebut pansinusitis. (2)
Epidemiologi
Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia, terutama di tempat
dengan polusi udara tinggi. Iklim yang lembab, dingin, dengan konsentrasi pollen yang tinggi
terkait dengan prevalensi yang lebih tinggi dari sinusitis. Sinusitis maksilaris adalah sinusitis
dengan insiden yang terbesar. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa
penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama
atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit.

Di Amerika Serikat, lebih dari 30 juta orang menderita sinusitis setiap tahun. Setiap 1
dari 7 orang dewasa di Amerika Serikat dideteksi positif sinusitis. Sinusitis lebih sering
terjadi dari awal musim gugur dan musim semi. Insiden terjadinya sinusitis meningkat seiring
dengan meningkatnya kasus asma, alergi, dan penyakit traktus respiratorius lainnya.
Perempuan lebih sering terkena sinusitis dibandingkan laki-laki karena mereka lebih sering
kontak dengan anak kecil. Angka perbandingannya 20% perempuan dibanding 11.5% laki-
laki.

Virus adalah penyebab sinusitis akut yang paling umum ditemukan. Namun, sinusitis
bakterial adalah diagnosis terbanyak kelima pada pasien dengan pemberian antibiotik. Lima
milyar dolar dihabiskan setiap tahunnya untuk pengobatan medis sinusitis, dan 60 milyar
lainnya dihabiskan untuk pengobatan operatif sinusitis di Amerika Serikat.

Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sinusitis sering
juga disebut dengan rhinosinusitis. Rinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang sering
ditemukan dan mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis dapat
mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat.

Faktor Predisposisi
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus,infeksi bakteri,
jamur, bermacam rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil. Faktor
lokal seperti anomali kraniofasial, obstruksi nasal,trauma, polip hidung, deviasi septum atau
hipertrofi konka, sumbatan komplekosteomeatal, infeksi tonsil, infeksi gigi, juga dapat
menjadi faktor predisposisisinusistis. Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan factor penting
penyebabterjadinya sinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk
menghilangkansumbatan dan menyembuhkan rinosinositisnya. Faktor lain yang juga
berpengaruhadalah polusi udara, udara dingan dan kering serta kebiasaan merokok.

Klasifikasi
Sinusitis dapat dibagi berdasarkan letak anatomi (sinusitis maksilaris, frontalis,
etmoid, dan sfenoidalis), berdasarkan organisme penyebab (virus, bakteri dan fungi),
berdasarkan ada tidaknya komplikasi ke luar sinus (seperti adanya komplikasi osteomyelitis
pada tulang frontal) dan secara klinis sinusitis dapat dikatagorikan sebagai sinusitis akut bila
gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu, sinusitis subakut berlangsung
lebih dari 4 minggu tapi kurang dari 3 bulan dan sinusitis kronik bila lebih dari 3 bulan.

Berdasarkan beratnya penyakit, rhinosinusitis dapat dibagi menjadi ringan, sedang


dan berat berdasarkan total skor visual analogue scale (VAS) (0-10cm)7:

1. Ringan = VAS 0-3


2. Sedang = VAS >3-7
3. Berat= VAS >7-10

Untuk menilai beratnya penyakit, pasien diminta untuk menentukan dalam VAS
jawaban dari pertanyaan:
Berapa besar gangguan dari gejala rinosinusitis saudara?
│_______________________________________________________________│
Tidak mengganggu 10 cm Gangguan terburuk yang masuk akal

Nilai VAS > 5 mempengaruhi kualitas hidup pasien

Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis dibagi atas :


1. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang
menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis. Contohnya rinitis
akut (influenza), polip, dan septum deviasi.
2. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan
sinusitis infeksi adalah pada gigi geraham atas (pre molar dan molar). Bakteri
penyebabnya adalah Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenza,
Steptococcusviridans, Staphylococcus aureus, Branchamella catarhatis

Etiologi
Berbagai faktor infeksius dan nonifeksius dapat memberikan kontribusi dalam
terjadinya obstruksi akut ostia sinus atau gangguan pengeluaran cairan oleh silia, yang
akhirnya menyebabkan sinusitis.

Infeksi yang tersering pada rongga hidung adalah infeksi virus. Partikel virus sangat
mudah menempel pada mukosa hidung yang menggangu sistem mukosiliar rongga hidung
dan virus melakukan penetrasi ke palut lendir dan masuk ke sel tubuh dan menginfeksi
secara cepat. Bentuk dismorphic dari silia tampak lebih sering pada tahap awal dari sakit dan
terjadi pada lokal. Virus penyebab sinusitis antara lain rinovirus, para influenza tipe 1 dan 2
serta respiratory syncitial virus.

Kebanyakan infeksi sinus disebabkan oleh virus, tetapi kemudian akan diikuti oleh
infeksi bakteri sekunder. Karena pada infeksi virus dapat terjadi edema dan hilangnya fungsi
silia yang normal, maka akan terjadi suatu lingkungan ideal untuk perkembangan infeksi
bakteri. Infeksi ini sering kali melibatkan lebih dari satu bakteri. Organisme penyebab
sinusitis akut yang sering ditemukan ialah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
Influenzae, bakteri anaerob, Branhamella kataralis, Streptococcus alfa, Staphylococcus
aureus dan Streptococcus pyogenes. Selama suatu fase akut, sinusitis kronis disebabkan oleh
bakteri yang sama yang menyebabkan sinusitis akut. Namun, karena sinusitis kronis biasanya
berkaitan dengan drainase yang tidak adekuat maupun fungsi mukosiliar yang terganggu,
maka agen infeksi yang terlibat cenderung oportunistik, dimana proporsi terbesar bakteri
anaerob. Bakteri aerob yang sering ditemukan antara lain Staphylococcus aureus,
Streptococcus viridans, Haemophilis influenza, Neisseria flavus, Staphylococcus epidermis,
Streptcoccus pneumoniae dan Escherichia coli, Bakteri anaerob termasuk Peptostreptococcus,
Corynebacterium, Bakteriodaes dan Vellonella. Infeksi campuran antara organisme aerob dan
anaerob sering kali terjadi.

Penyebab nonifeksius antara lain adalah rinitis alergika, barotrauma, atau iritan kimia.
Reaksi alergi terjadi di jalan nafas dan kavitas sinus yang menghasilkan edema dan inflamasi
di membrana mukosa. Edema dan inflamasi ini menyebabkan blokade dalam pembukaan
kavitas sinus dan membuat daerah yang ideal untuk perkembangan jamur, bakteri, atau virus.
Alergi dapat juga merupakan salah satu faktor predisposisi infeksi disebabkan edema mukosa
dan hipersekresi. Mukosa sinus yang oedem yang dapat menyumbat muara sinus dan
mengganggu drainase sehingga menyebabkan timbulnya infeksi, selanjutnya menghancurkan
epitel permukaan dan siklus seterusnya berulang yang mengarah pada sinusitis kronis. Pada
keadaan kronis terdapat polip nasi dan polip antrokoanal yang timbul pada rinitis alergi,
memenuhi rongga hidung dan menyumbat ostium sinus.Selain faktor alergi, faktor
predisposisi lain dapat juga berupa lingkungan. Faktor cuaca seperti udara dingin
menyebabkan aktivitas silia mukosa hidung dan sinus berkurang, sedangkan udara yang
kering dapat menyebabkan terjadinya perubahan mukosa, sehingga timbul sinusitis.

Penyakit seperti tumor nasal atau tumor sinus (squamous cell carcinoma), dan juga
penyakit granulomatus (Wegener’s granulomatosis atau rhinoskleroma) juga dapat
menyebabkan obstruksi ostia sinus, sedangkan konsisi yang menyebabkan perubahan
kandungan sekret mukus (fibrosis kistik) dapat menyebabkan sinusitis dengan mengganggu
pengeluaran mukus.

Di rumah sakit, penggunaan pipa nasotrakeal adalah faktor resiko mayor untuk infeksi
nosokomial di unit perawatan intensif. Infeksi sinusitis akut dapat disebabkan berbagai
organisme, termasuk virus, bakteri, dan jamur. Virus yang sering ditemukan adalah
rhinovirus, virus parainfluenza, dan virus influenza. Bakteri yang sering menyebabkan
sinusitis adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan moraxella
catarralis. Bakteri anaerob juga terkadang ditemukan sebagai penyebab sinusitis maksilaris,
terkait dengan infeksi pada gigi premolar. Sedangkan jamur juga ditemukan sebagai
penyebab sinusitis pada pasien dengan gangguan sistem imun, yang menunjukkan infeksi
invasif yang mengancam jiwa. Jamur yang menyebabkan infeksi antara lain adalah dari
spesies Rhizopus, rhizomucor,Mucor, Absidia, Cunninghamella, Aspergillus, dan Fusarium.

Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens
mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam kompleks osteo-meatal (KOM). Sinus dilapisi
oleh sel epitel respiratorius. Lapisan mukosa yang melapisi sinus dapat dibagi menjadi dua
yaitu lapisan viscous superficial dan lapisan serous profunda. Cairan mukus dilepaskan oleh
sel epitel untuk membunuh bakteri maka bersifat sebagai antimikroba serta mengandungi zat-
zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk
bersama udara pernafasan. Cairan mukus secara alami menuju ke ostium untuk dikeluarkan
jika jumlahnya berlebihan.5,6
Gambar….Patogenesis Sinusitis

Faktor yang paling penting yang mempengaruhi patogenesis terjadinya sinusitis yaitu
apakah terjadi obstruksi dari ostium. Jika terjadi obstruksi ostium sinus akan menyebabkan
terjadinya hipooksigenasi, yang menyebabkan fungsi silia berkurang dan epitel sel
mensekresikan cairan mukus dengan kualitas yang kurang baik. Disfungsi silia ini akan
menyebabkan retensi mukus yang kurang baik pada sinus.Bila terinfeksi organ yang
membentuk KOM mengalami oedem, sehinggamukosa yang berhadapan akan saling bertemu
sehingga silia tidak dapat bergerakdan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan
drainase dan ventilasididalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang
diproduksimukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik
untuktumbuhnya bakteri patogen.

Kejadian sinusitis maksila akibat infeksi gigi rahang atas terjadi karena infeksi bakteri
(anaerob) menyebabkan terjadinya karies profunda sehingga jaringan lunak gigi dan
sekitarnya rusak. Pulpa terbuka maka kuman akan masuk dan mengadakan pembusukan pada
pulpa sehingga membentuk gangren pulpa. Infeksi ini meluas dan mengenai selaput
periodontium menyebabkan periodontitis dan iritasi akan berlangsung lama sehingga
terbentuk pus. Abses periodontal ini kemudian dapat meluas dan mencapai tulang alveolar
menyebabkan abses alveolar. Tulang alveolar membentuk dasar sinus maksila sehingga
memicu inflamasi mukosa sinus. Disfungsi silia, obstruksi ostium sinus serta abnormalitas
sekresi mukus menyebabkan akumulasi cairan dalam sinus sehingga terjadinya sinusitis
maksila.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa patofisiologi sinusitis ini berhubungan dengan


tiga faktor, yaitu patensi ostium, fungsi silia, dan kualitas sekresi hidung. Perubahan salah
satu dari faktor ini akan merubah sistem fisiologis dan menyebabkan sinusitis.

Manifestasi Klinik
Keluhan utama rhinosinusitis akut adalah hidung sumbat disertai nyeri/ rasa tekanan
pada muka dan mukus purulen, yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip) dapat
disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu.
1. Sinusitis Maksilaris
Nyeri pipi menandakan sinusitis maksila. Gejala sinusitis maksilaris akutberupa demam,
malaise dan nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya redadengan pemberian analgetik
biasa seperti aspirin. Wajah terasa bengkak, penuh,dan gigi terasa nyeri pada gerakan
kepala mendadak, misalnya sewaktu naik atauturun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi
khas yang tumpul dan menusuk, sertanyeri pada palpasi dan perkusi. Sekret mukopurulen
dapat keluar dari hidung danterkadang berbau busuk.
2. Sinusitis Etmoidalis
Sinusitis etmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak, seringkali bermanifestasi
sebagai selulitis orbita. Dari anamnesis didapatkan nyeri yang dirasakan di pangkal
hidung dan kantus medius, kadang-kadang nyeri di bola mata atau di belakangnya,
terutama bila mata digerakkan. Nyeri alih di pelipis, post nasal drip dan sumbatan hidung.
3. Sinusitis Frontalis
Nyeri berlokasi di atas alis mata, biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang
tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam. Pasien biasanya
menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin terdapat pembengkakan
supra orbita.
4. Sinusitis Sfenoidalis
Sinusitis sfenoidalis dicirikan oleh nyeri kepala yang mengarah ke vertex kranium.
Penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis dan olehkarena itu gejalanya
menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya
Klasifikasi sinusitis

Konsensus internasional tahun 1995 membagi rhinosinusitis akut dengan batas sampai
delapan minggu dan kronik yaitu lebih dari delapan minggu. Konsensus tahun 2004 membagi
menjadi menjadi akut dengan batas waktu sampai empat minggu, subakut antara empat
minggu sampai tiga bulan dan kronik jika lebih dari tiga bulan.

Sinusitis kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari


sinusitis akut yang tidak terobati secara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya factor
predisposisi harus dicari dan diobati secara tuntas.

Menurut berbagai penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah
streptococcus pneumonia (30-50%), hemophylus influenzae (20-40%) dan Moraxella
catarrhalis (4%). Pada anak, m catarrhalis lebih banyak ditemukan sebanyak 20%.

Diagnosis

Diagnosis ditegakan berdasarkna anamnesis , pemeriksaan fisik , dan pemeriksaan


penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan naso-
endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah
adanya pus di meatus medius (pada sinusitis maksila dan etmoid anterior dan frontal) atau di
meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sfenoid).

Pada rhinosinusitis akut , mukosa terlihat edema dan hiperemis. Pada anak seringa da
pembengkakan dan kemerahan didaerah kantus medius.

Pemeriksaan pembantu yang penting adalah foto polos atau CT scan. Foto polos posisi
Waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti
sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, batas udara-cairan (air fluid
level) atau penebalan mukosa.

CT scan sinus merupakan gold standard dalam mendiagnosis sinusitis karena mampu
menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit didala hidung dan sinus secara
keseluruhan dan perluasannya. Namun karena mahal harganya hanya dikerjakan sebagai
penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tida membaik dengan pengobatan atau pra-operasi
sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus.

Pada pemeriksaan transluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan ini sudah jarang digunakan karena sangat terbatas kegunaannya.

Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil secret dari
meatus medius/superior, untuk mendapat antibiotic yang tepat. Lebih baik jika mengambil
secret yang keluar dari pungsi sinus maksila.

Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus
inferior, dengan alat endoskopi bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya,
selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.

Penatalaksanaan

Tujuan terapi sinusitis adalah

1. Mempercepat penyembuhan
2. Mencegah komplikasi
3. Mencegah perubahan menjadi kronik.

Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM (kompleks ostiomeatus) sehingga


drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami. Antibiotik dan dekongestan merupakan
terapi pilihan pada sinusitis akut bacterial, untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan
mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotic yang dipilih adalah golongan
penisilin seperti amoksisilin. Jika kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase,
maka dapat diberikan amoksisilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada
sinusitis antibiotic diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang.

Pada sinusitis kronik diberikan antibiotic yang sesuai untuk kuman negative gram dan
anaerob. selain dekongestan oral dan topical, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan
seperti analgetik, mukolitik , steroid oral/topical, pencucian rongga hidung dengan NaCl atau
pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya
dapat menyebabkan secret menjadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan
antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus maksila atau proetz displacement therapy juga
merupakan terapi tambahan yang dapat bermanfaat. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika
pasien menderita kelainan alergi yang hebat.

Tindakan operasi

Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk


sinusitis kronk yang memerlukan operasi. Tindakan ini telah menggantikan hamper semua
jenis bedah sinus yang terdahulu karena memberikan hasil yang memuaskan dan tindakan
lebih ringan dan tidak radikal.

Indikasinya berupa sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat, sinusitis
kronik yang disertai kista atau kelainan yang ireversibel, polip ekstensif, adanya komplikasi
sinusitis serta sinusitis jamur.

Komplikasi

Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotic.


Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau sinusitis kronis dengan eksaserbasi
akut, berupa komplikasi orbita atau intracranial.

Kelainan orbita

Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang paling
sering adalah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi
terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema
palpebral, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi
thrombosis sinus kavernosus.

Kelainan intracranial

Dapat berupa meningitis. Abses ekstradural atau subdural, abses otak dan thrombosis
sinus kavernosus.

Komplikasi juga dapat terjadi pada sinusitis kronis berupa :


 Osteomyelitis dan abses subperiostal. Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan
biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomyelitis sinus maksila dapat timbul
fistula otoantral atau fistula pada pipi.
 Kelainan paru, seperti bronchitis kronis dan brokiektasis. Adanya kelainan sinus
paranasal disertai dengan kelainan paru disebut sinobronkitis. Selain itu dapat
menyebabkan kambuhnya asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya
disembuhkan.

Daftar pustaka

1. Rusdy Ghazali Malueka, Sinus Paranasal (SPN). Sinusitis. Dalam: Radiologi


Diagnostik, Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press Yogyakarta, cetakan ketiga; april
2011, p 116-118
2. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinusitis. Dalam : Soepardi EA, Iskandar n,
Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala Leher. Edisi Keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001. Hal 150-3
3. Itzhak Brook,MD,Msc. Epidemiology of Acute Sinusitis. Updated Apr 2, 2012.
Avalaible from http//emedicine.medscape.com/article/232670-overview#a0156
4. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinusitis. Dalam : Soepardi EA, Iskandar n,
Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala Leher. Edisi Keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2009. p 145-9
5. Soetjipto D. Hidung dan Sinus Paranasal Anatomi hidung dan sinus Paranasal. Dalam
iskandar N, ddl (Eds) Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Jakarta :Balai Penerbit FKUI;
1990 , p 75-84