Anda di halaman 1dari 19

Berbagai macam teknik analisis bersama-sama dengan sifat yang diukur

Teknik analisis Sifat yang diukur Penggunaan yang utama


Gravimetri Berat senyawa murni atau senyawa yang Analisis kuantitatif komponen-komponen Analisi Kuantitatif dan Skala Operasinya
telah diketahui stokiometrinya mayor dan minor makro beratnya > 0,1 gram
Titrimetri Volume larutan baku yang bereaksi dengan Analisis kuantitatif komponen-komponen semimikro antara 0,1 – 0,01 gram
analit mayor dan minor mikro beratnya <0,01 gram [0,01-0,001 gram]
Spektrofotometri molekular dan atom Panjang gelombang dan intensitas radiasi Analisis kuantitatif komponen-komponen submikro/ultramikro <0,001 gram
elektromagnetik yang diemisikan atau minor sampai sekelumit;untuk informasi
diserap oleh analit struktur kimia analit mayor utama konsentrasinya antara 100-1%
Spektrometri massa Berat analit atau fragmen-fragmennya Analisis kualitatif komponen-komponen analit minor 1-0,01%
minor sampai sekelumit;untuk informasi trace elements <0,01%
struktur kimia (konsentrasi sekelumit)
Kromatografi dan elektroforesis Berbagai macam sifat fisika kimia analit Analisis kualitatif dan kuantitatif dari level
yang terpisah mayor sampai sekelumit
Analisis termal Perubahan fisika atau kimia dalam suatu Karakterisasi komponen-komponen mayor
analit ketika dipanaskan atau didinginkan atau minor dalam bentuk tunggal atau
campuran
Elektrokimia Sifat-sifat elektris analit dalam larutan Analisis kualitatif dan kuantitatif dari level
mayor sampai sekelumit

Teknik spektrometri dan penggunaan utamanya


Teknik Dasar Penggunaan yang utama
Spektrometri emisi nyala Emisi atomik setelah tereksitasi oleh nyala Penentuan logam-logam alkali dan alkali
tanah
Spektrometri serapan atom Penyerapan atomik setelah tereksitasi oleh Penentuan logan dalam jumlah sekelumit;
nyala dan untuk penentuan non-logam
Spektrometri flouresensi atomik Emisi flouresensi atomik setelah atom Penentuan merkuri dan hidrida-hidrida dari
mengalami eksitasi oleh nyala non-logam pada level sekelumit
Spektrometri ultraviolet-sinar Penyerapan molekuler elektronik dalam Penentuan kuantitatif senyawa-senyawa
tampak(visibel) larutan organik tidak jenuh
Spektrometri infra merah Penyerapan molekuler vibrasional Identifikasi senyawa-senyawa organik
Spektrometri resonansi magnit inti Penyerapan energi yang menyebabkan Identifikasi dan analisi struktur senyawa-
perubahan arah spin senyawa organik
spektrometri massa Ionisasi dan fragmentasi molekul-molekul Identifikasi dan analisis struktur senyawa-
senyawa organik
PENGGOLONGAN SPEKTROSKOPI
Dikenal dua kelompok utama spektroskopi, yaitu spektroskopi atom dan spektroskopi molekul.
Dasar dari spektroskopi atom adalah tingkat energi elektron terluar suatu atom atau unsur, sedang dasar dari spektroskopi molekul adalah tingkat energi molekul yang melibatkan energi elektronik, vibrasi dan rotasi
Berdasarkan signal radiasi elektromagnetik, spektroskopi dibagi
menjadi empat golongan yaitu
(a) spektroskopi absorbsi,
(b) spektroskopi emisi,
(c) spektroskopi scattering, dan
(d) spektroskopi fluoresensi.
Spektroskopi Absorbsi : Spektroskopi “Scattering” :
1. Spektroskopi absorbsi sinar x Spektroskopi Raman
2. Spektroskopi absorbsi UV-Vakum Spektroskopi Fluoresensi :
3. Spektroskopi UV-Vis 1. Spektroskopi Fluoresensi Sinar x
4. Spektroskopi Infra Merah (IR) 2. Spektroskopi Fluoresensi UV-Vis
5. Spektroskopi Gelombang Mikro
6. Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti (NMR) Gambar. Komponen Instrumen untuk spektroskopi
7. Spektroskopi Resonansi Spin elektron (ESR) (a) Spektroskopi Absorpsi,
8. Spektroskopi “Photoacoustic” (b) Spektroskopi Emisi,
INSTRUMENTASI (c) Spektroskopi Fluoresensi dan Scattering
Instrumen untuk spektroskopi umumnya terdiri dari 5 komponen pokok, yaitu: Komponen instrumen untuk spektroskopi emisi berbeda dengan
1. sumber radiasi, Sumber radiasi untuk spektrum kontinyu adalah : ketiga spektroskopi lainnya, dalam hal ini tidak diperlukan sumber
(a) lampu argon pada spektroskopi UV-Vakum, radiasi
(b) lampu deuterium atau hidrogen pada spektroskopi UV,
(c) lampu xenon, lampu wolfram (tungsten) pada UV-Vis,
(d) Nerst Glower, Globar, kawat nikrom pada spektroskopi IR.
Sumber radiasi untuk spektrum diskontinu adalah lampu katoda cekung yang banyak dipakai pada spektroskopi atom.

2. wadah sampel, Wadah sampel diperlukan untuk semua teknik spektroskopi kecuali spektroskopi emisi.
Umumnya wadah sampel disebut kuvet atau sel.
Kuvet yang terbuat dari kuarsa baik untuk spektroskopi ultra violet dan juga untuk spektroskopi sinar tampak.
Kuvet plastik dapat digunakan untuk spektroskopi sinar tampak.
Panjang sel untuk spektroskopi UV-Vis biasanya 1 cm, ada juga sel dengan panjang 0,1 cm.
Sel untuk spektroskopi infra merah dengan sampel padatan atau cairan umumnya mempunyai tebal sel kurang dari 1 mm. Yang paling banyak dipakai untuk spektroskopi infra merah adalah
kristal NaCl, KBr, LiF dan sebagainya.

3. monokromator, Monokromator adalah alat yang paling umum dipakai untuk menghasilkan berkas radiasi dengan satu panjang gelombang. Monokromator untuk radiasi ultra violet, sinat tampak dan infra merah
adalah serupa, yaitu mempunyai celah (slit), lensa, cermin dan prisma atau grating.
Terdapat 2 macam monokromator yaitu monokromator prisma Bunsen dan monokromator grating Czerney-Turney.

4. detektor, dan Dikenal 2 macam detektor, yaitu detektor foton dan detektor panas. Detektor foton termasuk (1) sel photovoltaic, (2) phototube, (3) photomultiplier tube, (4) detektor semi konduktor, dan (5)
detektor diode silikon. Detektor panas biasa dipakai untuk mengukur radiasi infra merah, termasuk thermocouple dan bolometer.

5. rekorder. Signal listrik dari detektor bisanya diperkuat dengan amplifier kemudian direkam sebagai spektrum yang berbentuk puncak-puncak.
Plot antara panjang gelombang dan absorban akan dihasilkan spektrum.
Spektroskopi: ilmu yang mempelajari hubungan antara radiasi (energi/sinar) dengan respon suatu benda/zat dimana hubungannya tersebut merupakan fungsi panjang gelombang (frekuensi)
Spektrofotometri: hanya untuk UV visibel&IR [suatu teknik pengukuran tentang hubungan radiasi, respon]
Colarimetri: pengamatan terhdapat warna yang diberikan benda dimana benda memberikan respon terhadap suatu energi atau sinar
Tipe Spektroskopi
• Spektroskopi Ultraviolet (UV) ---- Keadaan energi elktronik
• Digunakan untuk ---- molekul konjugasi, gugus karbonil, gugus nitro
• Spektroskopi Infrared (IR) ---- keadaan energi vibrasi
• Digunakan untuk ---- gugus fungsional, struktur ikatan
• Spektroskopi NMR ---- keadaan spin inti
• Digunakan untuk ---- bilangan, tipe dan posisi relatif dari proton (inti hidrogen dan inti karbon 13)
• Spektroskopi Massa ---- Penembakan elektron berenergi tinggi
• Digunakan untuk ---- berat molekul, keberadaan nitrogen, halogen

Beberapa istilah dalam spektroskopi absorpsi adalah transmitansi, absorbansi dan absorptivitas.
Istilah tersebut digunakan dalam spektroskopi UV-Vis, spektroskopi absorpsi atom dan spektroskopi IR.
Transmitansi
Apabila suatu berkas sinar radiasi dengan intensitas Io dilewatkan melalui suatu larutan dalam wadah transparan maka sebagian radiasi akan diserap sehingga intensitas radiasi yang diteruskan It menjadi lebih kecil
dari Io.
Transmitansi dengan simbol T dari larutan merupakan fraksi dari radiasi yang diteruskan atau ditansmisikan oleh larutan, yaitu :
T = It/Io. Transmitansi biasanya dinyatakan dalam persen (%).
Absorbansi
Absorbansi dengan simbol A dari suatu larutan merupakan logaritma dari 1/T atau logaritma Io/It.
A = log (1/T) = log (Io/It) = - log (T)
Contoh : Bila A = 0 artinya radiasi diteruskan 100%, bila A = 1
artinya radiasi diteruskan 10%. Nama lain dari absorbansi adalah Optical Density (OD)
Absortivitas dan Absortivitas Molar
Absorbansi berbanding langsung dengan tebal larutan dan konsentrasi larutan (hukum Beer), yaitu :
A=abc
dimana:
A = absorbansi
a = konstanta disebut absortivitas
b = tebal larutan
c = konsentrasi larutan
Jika konsentrasi c dinyatakan dalam mol/liter (Molar) dan tebal larutan dalam cm maka absortivitas disebut absortivitas molar (), sehingga
A=bc
Hukum Beer menyatakan bahwa absorbansi berbanding langsung dengan tebal larutan dan konsentrasi seperti telah dikemukakan sebelumnya.
Rumus ini dapat dijelaskan sebagai berikut : Radiasi dengan intensitas Io yang dilewatkan bahan setebal b berisi sejumlah n partikel (atom, ion atau molekul) akan mengakibatkan intensitas berkurang menjadi It
IR
Prinsip: vibrasi dan rotasi pada gugus fungsi, menunjukkan serapan IR yang spesifik
Syarat sampel: punya gugus fungsi berupa ikatan kovalen tunggal, dimana momen dipol berubah saat bervibrasi
Setiap ikatan mempunyai bilangan gelombang tertentu
Ikatan yang sama pada dua senyawa berbeda mempunyai spektra IR berbeda
Tidak ada dua molekul yang berbeda yang mempunyai IR pesis sama
IR dapat digunakan untuk menentukan purity indeks (indeks kemurnian)
Uji kualitatif:daerah finger print/sidik jari
4000-1500 cm-1 = daerah vibrasi terlokalisasi
1500-900 cm-1 = daerah sidik jari
Jenis vibrrasi
Streching (ulur): simetri (momen dipol =0), asimetri
Bending (tekuk), meliputi:
Twisting
Rocking
Wagging
Scicoring
Faktor yang mempengaruhi frkuensi vibrasi
1. Kopling vibrasi Diagram Skematik dari Spektrometer IR
2. Ikatan hidrogen (intra molekul&antar molekul)
3. Efek elektronik (resonansi&induksi)
4. Sudut ikatan
5. Efek ruang
• Pada dasarnya Spektrometer FTIR (Fourier Trasform Infra Red) adalah sama dengan Spektrometer IR dispersi, yang membedakannya adalah pengembangan pada sistim optiknya sebelum berkas sinar
infra merah melewati contoh. Dasar pemikiran dari Spektrofotometer FTIR adalah dari persamaan gelombang yang dirumuskan oleh Jean Baptiste Joseph Fourier (1768-1830) seorang ahli matematika
dari Perancis.
• Dari deret Fourier tersebut intensitas gelombang dapat digambarkan sebagai daerah waktu atau daerah frekwensi. Perubahan gambaran intensitas gelobang radiasi elektromagnetik dari daerah waktu ke
daerah frekwensi atau sebaliknya disebut Transformasi Fourier (Fourier Transform).
Keunggulan Spektrofotometer FTIR
• Dapat digunakan pada semua frekwensi dari sumber cahaya secara simultan sehingga analisis dapat dilakukan lebih cepat daripada menggunakan cara sekuensial atau scanning.
• Sensitifitas dari metoda Spektrofotometri FTIR lebih besar daripada cara dispersi, sebab radiasi yang masuk ke sistim detektor lebih banyak karena tanpa harus melalui celah (slitless).
UV
Komponen Instrumentasi UV-Vis Syarat pelarut:
• Sumber Radiasi Harus dapat melarutkan sampel
– Lampu wolfram Meneruskan radiasi pada λ yang sedang dianalisis
• Kuvet (Sample Container) Bisa ditambahkan kosolven untuk meningkatkan kelarutan
– Kuarsa atau silika Tidak menimbulkan UV cut off
• Monokromator UV cut off/transparency limit: panjang gelombang dimana pelarut memberikan serapan, diusahakan
– Prisma kaca atau kuarsa agar λ pelarut berbeda dengan λ sampel.
• Detektor Daerah absorbansi yang tercatat biasanya 0,2-0,8 tergantung kecanggihan alat, apabila serapan yang
– Fotolistrik dihasilkan lebih dari 0,8 maka dapat dilakukan pengenceran
• Pencatat
Menurut konfigurasi optiknya, spektrofotometer UV-Vis dibagi menjadi Alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal
– Single Beam Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang
– Double Beam maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar
– Multi Channel Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut
Prosedural hukum Lambert-Beer akan terpenuhi
1. Pembuatan larutan baku (ppm) Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang
2. Pembuatan variasi konsentrasi (minimal 5 titik) gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan panjang gelombang maksimal
3. Penentuan λ maksimum, agar deviasi yang terjadi semakin kecil
4. Pengukuran serapan/absorbansi pada λ maks Syarat sampel yang bisa dianalisis:
5. Pembuatan kurva baku....y=a+bx Memiliki kromofor dan auksokrom
(y=absorbansi,a=interseption,b=slope/gradien,x=konsentrasi) Kromofor= gugus kovalen tak jenuh yang mengalami transisi n π* dan ππ*
6. Pengukuran sampel Auksokrom= unsur yang menempel langsung di pasangan konjugasi, mempunyai peb
Untuk senyawa yang tidak memiliki kromofor dapat dilakukan derivatisasi
Derivatisasi: mengubah senyawa menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan pereaksi tertentu
sehingga memiliki gugus kromofor.

Elektron yang terlibat pada penyerapan radiasi ultraviolet dan visibel ini ada tiga, yaitu elektron sigma, elektron phi, dan elektron bukan ikatan atau non bonding elektron
elektron sigma (σ) orbital molekul ikatan yang menyebabkan terjadinya ikatan tunggal disebut ikatan sigma. Elektron-elektron yang menempatinya disebut
dengan elektron sigma.
ikatan phi (π) dalam molekul organik yang berikatan rangkap, terdapat dua macam orbital molekul, yaitu orbital sigma (mengandung sepasang elektron)
dan orbital phi (mempunyai sepasang elektron). Orbital phi terjadi karena tumpang tindih (overlapping) dua orbital atom p
elektron bukan ikatan disebut non bonding elektron karena elektron tersebut tidak ikut serta dalam pembentukan ikatan kimia dalam suatu molekul. Non
(elektron n=non bonding) bonding elektron ini biasanya terdapat di sekitar atom N,O,S, dan halogen

Transisi-transisi elektronik yang terjadi diantara tingkat-tingkat energi di dalam suatu molekul ada 4, yaitu:
transisi sigma-sigma star (σσ*) jenis transisi ini terjadi pada daerah ultrabiolet vakum sehingga kurang begitu bermanfaat untuk analisis dengna cara spektrofotometri UV-Vis
transisi n-sigma star(nσ*) jenis transisi ini terjadi pada senyawa organik jenuh yang mengandung atom-atom yang memiliki elektron bukan iktan (elektron n). Energi yang
diperlukan lebih kecil dibanding transisi σσ* sehingga sinar yang diserap pun mempunyai panjang gelombang yang lebih panjang
*
transisi n-phi star (n π ) dan untuk memungkinkan terjadinya transisi ini, maka molekul organik harus mempunyai gugus fungsional yang tidak jenuh sehingga ikatan rangkap
transisi phi-phi star (π π*) dalam gugus tersebut memberikan orbital phi yang yang diperlukan. Jenis transisi ini merupakan transisi yang paling cocok untuk analisis sebab
sesuai dengna panjang gelombang antara 200-700nm dan panjang gelombang ini secara teknis dapat diaplikasikan pada spektrofotometer
Menentukan senyawa campuran:
Spktofotometri derivative
Metode peak to peak
Metode tangensial

Spektrofotometri derivative
Mengalihkan bentuk data spektrum
Mempoltkan turunan pertama/turunan lebih tinggi absorben terhadap panjang gelombang
1. Menentukan λ maks zat x dan zat y
2. Menentukan λ zero crossing zat x dan zat y
3. Membuat kurva baku (di λ zero crossing masing-masing)
Pengukuran kurva baku zat x dibuat pada λ zero crossing zat y
dengan membuat campuran larutan x dan y sbb:
0 : 10
10 : 10
20 : 10
30 : 10
40 : 10
50 : 10

4. Menentukan kadar sampel x pada λ zero crossing zat y dan sebaliknya


Zero crossing: titik dimana A(absorbansi) =0
Jika ada 3 zat, untuk menentukan zat yang ke-3 harus ada perpotongan 2 zat pada titik zero crossingnya
Metode peak to peak
1. Cukup dengan 2 spektrum: sampel & baku
2. Diturunkan beberapa kali hingga:
Pencak maks & min menunjukkan himpitan antara sampel & baku
3. Yang diukur adalah amplitudo himpitan
Metode kalibrasi:
Kalibrasi eksternal
Kalibrasi internal
Standar adisi
Kalibrasi standar adisi
Kalibrasi eksternal
1. Buat larutan baku/induk
2. Buat 5 pengenceran (min 5 titik)
3. 10 μl diinjeksikan ke HPLC dengan volume yang sama
4. Plotkan  persamaan garis
5. Injeksikan aliquot 10 μl (volume yang sama)
Didapatkan y = luas area, masukkan ke persamaan garis
Didapatkan konsentrasi (x)
PCT luas area
1 100
2 200
3 300
4 400
5 500

Aliquot : sampel yang diambil sebagai perwakilan dari sampel yang sama
Y = ax + b
Y=luas area
X=konsentrasi

Kalibrasi internal
1. Larutan stock dibuat (sample yg dianalisis, c: vanilin) minimal 5 titik pengenceran
2. Internal standar dimasukkan ke 5 titik tersebut dengan volume & konsentrasi yang sama
3. Buat persamaan garis: konsentrasi vs rasio
4. Sampel yang belum diketahui (contoh: plasma yang ada vanilin)
dimasukkan Internal Standar dengan volume dan konsentrasi yang sama
5. Didapatkan rasio, masukkan ke persamaan garis dan didapat konsentrasi
vanilin luas area luas area IS rasio
(ppm) vanilin
1+2 100 200 100/200
2+2 200 200 200/200
3+2 300 200 300/200
4+2 400 200 400/200
5+2 500 200 500/200

Y = ax + b
Y=rasio
X= konsentrasi
IS = 2 ppm, dianggap titik tengah, digunakan 2 ppm agar terakomodir
Mass spektroskopi
Mengukur rasio massa terhadap muatan; dimana muatan=1
Proses radiasi menyebabkan molekul terfragmentasi menjadi gugus-gugus fungsi penyusunnya
Aplikasi: menentukan senyawa baru/murni dari tumbuhan
Simbol fisika: m/a (massa/muatan)
Terdapat 5 bagian utama Instrumen
1. Inlet sampel disuntikkan ke inlet, sampel berupa gas yang diuapkan
2. ionisation Chamber didalam ionisation chamber, sampel ditembak oleh elektron
3. Accelelator sampel yang bertumbukan berubah menjadi partikel yang terionisasi (menjadi bermuatan +/-)
4. Medan magnet adanya medan magnek yang kuat akan membelokan partikel menuju detektor, dimana ion tersebut
5. Detektor akan ditentukan massanya
detektor akan membaca dalam bentuk spektrum massa yang disambungkan dengan amplifier
Teknik pemisahan dengan kromatografi dan kegunaan utamanya
Teknik Dasar Penggunaan yang utama
Kromatografi lapis tipis (KLT) Perbedaan kecepatan migrasi analit melalui Analisis kualitatif campuran
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) fase diam dengan gerakan fase cair atau gas Penentuan kualitatif dan kuantitatif
senyawa-senyawa yang tidak mudah
menguap
Kromatografi Gas (KG) Penentuan kualitatif dan kuantitatif
senyawa-senyawa yang mudah menguap
Elektroforesis Perbedaan kecepatan migrasi analit melalui Analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa-
medium buffer senyawa ionik

Analisis pemisahan yang menggunakan penjerap silika dan C18


Penjerap Silika
Polaritas tinggi Rendah
Jenis kisaran polaritas pelarut Rendah ke medium Tinggi ke medium
Jenis pelarut sampel Heksana, toluen, diklorometana air, bufer
Pelarut pengelusi Etil asetat, aseton, asetonitril Air/methanol, air/asetonitril
Urutan elusi sampel Komponen sampel yang paling non polar Komponen sampel yang paling polar akan
akan terelusi paling awal terelusi paling awal
Pelarut yang dibutuhkan untuk mengelusi Polaritas pelarut yang tinggi Polaritas pelarut rendah
senyawa yang tertahan

Kromatografi
 DEFINISI
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase

Jenis-Jenis Kromatografi
 Berdasarkan fase gerak yang digunakan, kromatografi dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu gas chromatography dan liquid chromatography. Masing-masing golongan dapat dibagi lagi seperti
yang telah disebutkan pada definisi di atas.
Kromatografi di dalam bentuk tempat
 Komatografi Kolom : Kromatografi kolom merupakan teknik pemisahan di mana tempat
stasioner dalam tabung.
 Kromatografi Planar
 Kromatografi Kertas
 Kromatografi Lapisan Tipis
Kromatografi Gas
Tidak mengandung baku pembanding
Terdapat library pada instrumen
Yang harus diperhatikan:
Sampel: senyawa volatil dan thermostabil
Senyawa yang tidak volatil dapat diderivatisasi
Harus tau suhu didih senyawa yang dianalisis
Menentukan suhu kolom dan detektor biasanya diset 300C diatas TD
Menentukan detektor
Suhu terprogram: suhu kolom ditingkatkan secara bertahap sehingga terjadi pemisahan bertahap
Tujuan suhu terprogram
Mencari pemisahan yang bagus/resolusi yang baik
Mencari kondisi yang akan ditetapkan sehingga bisa dilakukan dengan cara isokratik

Macam-macam detektor
FID (flame ionisation detector) memiliki sensitivitas yang baik untuk senyawa organik
TCD (thermal conductivity detector) memiliki sensitivitas rendah, jarang digunakan
ECD (electron capture detector) digunakan untuk sampel-sampel yang bersifat pembawa elektron
Respon detector terhadap molekul yang punya elektronegativitas
yang tinggi seperti:
halogen, quinon, peroksida, hidrokarbon,gugus nitro, amin, alkohol
FDP (flame photometry detector) fosfor dan sulfur

Kromatografi Cair

Kromatografi cair adalah kromatografi dengan fasa gerak berupa zat cair.
PROSES-PROSES DISTRIBUSI FASA
 Adsorpsi
 Pertukaran Ion
 Partisi Cair - Cair
Adsorpsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu campuran dengan cara pengikatan bahan tersebut pada seluruh bagian adsorben cair yang diikuti dengan pelarutan.
Persyaratan adsorben :
 Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang sebesar mungkin (kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil).
 Selektif
 Memiliki tekanan uap yang rendah
 Tidak korosif
 Mempunyai viskositas yang rendah
 Stabil secara termis
 Murah
Prinsip Pemisahan Ion
Untuk memisahkan sejumlah anion dan kation satu sama lainnya. Anorganik kation dipisahkan pada kolom resin pemisah kation, sementara anorganik anion dipisahkan pada kolom resin pemisah anion.

Partisi Cair – Cair


Teknik ini tergantung pada partisi zat padat diantara dua pelarut yang tidak dapat bercampur salah satu diantaranya bertindak sebagai fasa diam dan yang lainnya sebagai fasa gerak.
Kromatografi Cair-Cair
Ada dua macam sistem penggunaan dalam kromatografi cair-cair :
1. kromatografi fasa normal
fase gerak → non polar ( ex: heksana, isopropil-eter)
fase diam → sangat polar (ex: air)
digunakan untuk memisahkan senyawa polar, sebab senyawa polar akan tertahan lebih lama didalam kolom yang polar, sedangkan senyawa yang non-polar akan keluar lebih awal dari dalam kolom.

2. Kromatografi fasa terbalik


fase gerak → polar ( ex: air, metanol)
fase diam → non polar (ex: hidrokarbon oktadekana)
digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa non polar.

Analisa Kualitatif
 Dasarnya adalah waktu retensi atau volume retensi suatu senyawa.
 Membandingkan t atau V senyawa dalam sampel yang dianalisis dengan t atau V suatu senyawa standar (yang telah diketahui)
Analisis Kuantitatif
 Metode pengukuran tinggi puncak
Tinggi puncak suatu kromatogram akan sebanding dengan kadar senyawa yang membentuk kromatogram tersebut. Pengukuran tinggi puncak didasarkan pada rumus pengukuran tinggi suatu segitiga,
yaitu suatu garis tegak lurus dari titik tengah alas kromatogram sampai dengan perpotongan sisi segitiga kromatogram tersebut.
 Metode pengukuran luas puncak
Dapat memberikan hasil yang lebih akurat jika dibandingkan dengan cara pengukuran tinggi puncak. Luas puncak diukur seperti menghitung luas segitiga yaitu :

Rumus tersebut memberikan hasil yang baik jika kromatogramnya berbentuk lancip. Cara lain menggunakan rumus :

 Metode gunting dan timbang


Kromatogram yang telah digambarkan pada kertas digunting sesuai bentuknya, kemudian guntingan-guntingan kertas kromatogram ini ditimbang. Berat dari masing-masing guntingan kromatogram ini
akan sebanding dengan kadar senyawa yang membentuk kromatogram tersebut.
 Metode Integrator
Integrator adalah peralatan elektronik yang sering dijumpai pada peralatan kromatografi yang modern. Alat ini akan mengubah tanda-tanda listrik dari detektor menjadi suatu gambaran kromatogram
sekaligus menghitung luas kromatogram yang dibentuk secara elektronik.
Kromatografi Kertas
fase diam → kertas serap
Fase gerak → pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.

Jarak relative pada pelarut disebut sebagai nilai Rf. Untuk setiap senyawa berlaku rumus sebagai berikut:
Rf=jarak yang ditempuh oleh senyawa
jarak yang ditempuh oleh pelarut

Kromatografi Kertas Dua Arah


 Digunakan dalam menyelesaikan masalah pemisahan substansi yang memiliki nilai Rf yang sangat serupa.
 Menggunakan dua pelarut yang berbeda

Kromatografi Lapis Tipis


 Menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras.
 Fase diam → Jel silika (atau alumina) atau substansi yang dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet.
Fase gerak → pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.

Sebuah garis menggunakan pinsil digambar dekat Perhitungan nilai Rf


bagian bawah lempengan dan setetes pelarut dari Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus
campuran pewarna ditempatkan pada garis itu. sebagai berikut:

Ketika bercak dari campuran itu mengering,


lempengan ditempatkan dalam sebuah gelas kimia
bertutup berisi pelarut dalam jumlah yang tidak Sebagai contoh, jika komponen berwarna merah
terlalu banyak. Perlu diperhatikan bahwa batas bergerak dari 1.7 cm dari garis awal, sementara
pelarut berada di bawah garis dimana posisi bercak pelarut berjarak 5.0 cm, sehingga nilai Rf untuk
berada. komponen berwarna merah menjadi:

Menutup gelas kimia untuk meyakinkan bawah


kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari
pelarut. Untuk mendapatkan kondisi ini, dalam
gelas kimia biasanya ditempatkan beberapa kertas
saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi jenuh
dalam gelas kimia dengan uap mencegah
penguapan pelarut.
Analisis Sampel yang Tidak Berwarna

1.Menggunakan pendarflour
Fase diam pada sebuah lempengan lapis tipis seringkali memiliki substansi yang
ditambahkan kedalamnya, supaya menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar
ultraviolet (UV).

Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada kromatogram berada,
meskipun bercak-bercak itu tidak tampak berwarna jika dilihat dengan mata. Ketika
sinar UV diberikan pada lempengan, akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda
dengan posisi bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.

2. Penunjukkan bercak secara kimia

Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk membuat bercak-bercak menjadi tampak


dengan jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga menghasilkan produk yang
berwarna. Sebuah contoh yang baik adalah kromatogram yang dihasilkan dari
campuran asam amino.

Kromatogram dapat dikeringkan dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin.


Ninhidrin bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa-senyawa berwarna,
umumnya coklat atau ungu.

Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan


pada wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama
dengan kristal iodium.

Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau
dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang
dianalisis tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.
Kromatografi Kolom

Kolom kromatografi berkerja berdasarkan skala yang lebih besar menggunakan material terpadatkan pada sebuah kolom gelas vertikal.

Penggunaan kolom
Misalnya memisahkan campuran dari dua senyawa yang berwarna,
yaitu kuning dan biru. Warna campuran yang tampak adalah hijau.
Pertama penutup kran dibuka untuk membiarkan pelarut yang sudah
berada dalam kolom mengering sehingga material terpadatkan rata
pada bagian atas, dan kemudian tambahkan larutan secara hati-hati
dari bagian atas kolom. Lalu buka kran kembali sehingga campuran
berwarna akan diserap pada bagian atas material terpadatkan,
sehingga akan tampak seperti gambar disamping.

menamabahkan pelarut baru melalui bagian atas kolom, jangan


sampai merusak material terpadatkan dalam kolom. Lalu buka kran,
supaya pelarut dapat mengalir melalui kolom, kumpulkan dalam satu
gelas kimia atau labu dibawah kolom. Karena pelarut mengalir
kontinyu, anda tetap tambahkan pelarut baru dari bagian atas kolom
sehingga kolom tidak pernah kering.

Perubahan yang mungkin terjadi sejalan perubahan waktu


High Performance Liquid Chromatography (HPLC)
Peralatan HPLC secara prinsip terdiri dari :
 Tempat pelarut
 Pompa
 Tempat injeksi sampel
 Kolom
 Detektor
 Rekorder

1. Fasa mobile (pelarut)


pelarut yang digunakan harus dilakukan degassing untuk mengeluarkan gas terlarut yang tidak diinginkan.
2. Sistem pompa
ada dua jenis pompa, yang mendasari pemakaiannya yaitu : tekanan tetap dan volume tetap.
3. Flow controller (pengendali aliran)
untuk menstabilkan aliran fasa mobile akibat adanya perubahan tekanan gas, temperatur dan viskositas.
4. Kolom
Tidak memerlukan temperatur yang tinggi, karena sifat ikatan kimia terhadap fasa stasioner sangat sensitif terhadap temperatur yang tinggi.
5. Detektor
karakteristik detektor untuk HPLC
- sensivitasnya tinggi
- respon yang menyeluruh terhadap sampel
- tidak meruska sampel
- tidak sensitif terhadap perubahan temperatur dan kecepatan aliran fasa mobile
- dapat beroperasi secara terus menerus.
6. Rekorder
Mengeluarkan output berupa kromatogram.
Keuntungan HPLC
 Cepat
 Resolusi
 Sensitivitas detektor
 Kolom yang dapat digunakan kembali
 Ideal untuk zat bermolekul besar dan berionik
 Mudah rekoveri sampel
Penggolongan Volumetri (Titrimetri)
Berdasarkan reaksi kimia
Reasksi asam-basa penetapan kadar ini berdasarkan pada perpindahan proton dari zat yang bersifat
(asidi-alkalimetri = netralisasi) asam atau basa, baik dalam lingkungan air ataupun dalam lingkungan bebas air
(TBA = titrasi bebas air)
Reaksi oksidasi-reduksi (redoks) dasar yang digunakan adalah perpindahan elektron. Penetapan kadar senyawa
berdasarkan reaksi ini digunakan secara luas seperti permanganometri,
iodiiodometri, iodatometri, serta bromatometri
Reaksi pengendapan (presipitasi) Penetapan kadar perdasakan pada terjadinya endapan yang sukar larut misalnya
pada penetapan kadar secara argentometri
Reaksi pembentukan kompleks Dasar yang digunakan adalah terjadinya reaksi antara zat-zat pengkompleks
organik dengan ion logam menghasilkan senyawa kompleks yang mantap.
Penetapan kadar yang menggunakan prinsip ini adalah metode kompleksometri

Berdasarkan cara titrasi


Titrasi langsung Cara ini dilakukan dengan melakukan titrasi langsung terhadap zat
yang akan ditetapkan. Cara ini mudah, cepat, dan sederhana
Titrasi kembali Dilakukan dengan cara penambahan titran dalam jumlah
berlebihan, kemudian kelebihan titran dititrasi dengan titran lain.
Pada cara ini ada 2 sumber kesalahan karena menggunakan 2 titran
sehingga kesalahan menjadi lebih besar. Disamping itu juga
memekan waktu yang lama

Syarat baku primer


Mudah didapat, dimurnikan, dikeringkan, dan disimpan dalam keadaan murni Indikator yang biasa digunakan dalam asidi-alkalimetri
Mempunyai kemurnian yang sangat tinggi (100±0,02)% atau dapat dimurnikan dengan penghabluran kembali Indikator Trayek pH Warna
Tidak berubah selama penimbangan (zat yang higroskopis bukan merupakan baku primer) asam basa
Tidak teroksidasi oleh O2 dari udara dan tidak berubah oleh CO2 dari udara
kuning metil 2,4-4,0 merah kuning
Susunan kimianya tepat sesuai jumlahnya
biru bromfeno 3,0-4,6 kunign biru
Mempunyai berat ekivalen yang tinggi, sehingga kesalahan penimbangan akan menjadi lebih kecil
jingga metil 3,1-4,4 jingga merah
Mudah larut
Reaksi dengan zat yang ditetapkan harus stoikiometri, cepat, dan terukur hijau bromkresol 3,8-5,4 kuning biru
Baku primer kegunaan merah metil 4,2-6,3 merah kunign
kalium biftalat Pembakuan larutan natrium hidroksida ungu bromkresol 5,2-6,8 kuning ungu
Pembakuan larutan asam perklorat biru bromtimol 6,1-7,6 kuning biru
kalium iodat Pembakuan larutan natrium tiosulfat melalui merah fenol 6,8-8,4 kuning merah
pembentukan iodium merah kresol 7,2-8,8 kuning merah
Natrium karbonat anhidrat Pembakuan asam klorida biru timol 8,0-9,6 kuning biru
Logan Zn Pembakuan larutan EDTA fenolftalein 8,2-10,0 tak berwarna merah
timolftalein 9,3-10,5 tak berwarna biru
metode asidimetri alkalimetri argentometri kompleksometri redoks nitrimetri
baku primer&sekunder P: boraks (Na2B4O7), N2CO3 P: asam oksalat (H2C2O4) P: NaCl anhidrat P: ZnSO4.7H2O, MgSO4.7H2O P: KIO3, KBrO3, KMnO3 P: asam sulfanilat
S: HCl, H2SO4 S: NaOH, KOH S: AgNO3 0,1 N S: Na2EDTA S: I2 (iodium), Na2S2O3 S: Natrium nitrit
Indikator: pasta kanji
contoh zat yg dianalisis obat basa lemah asam salisilat, as sitrat, efedrin HCl ZnO vitamin C Parasetamol
asetosal, asam borat, ZnO, fenobarbital Ca-glukonat isoniazid (INH) kloramfenikol
ibuprofen tramadol HCl ZnSO4 parasetamol isoniazid
sulfanilamida

teori asam basa


Arrhenius donor protom (H+) dono hidroksida (OH-)
Bronsted donor proton akseptor proton
Lewis akseptor pasangan elektron donor pasangan elektron
Alkali-asidi metri
Asidimetri: menentukan kadar basa dengan pentiter asam Argentometri
Alkalimetri: menentukan kadar asam dengan pentiter basa Reaksi pembentukan endapan antara ion Ag+ dengan anion  halogen, sulfat, tiosianat, carbonat
Prinsip: netralisai Metode Mohr:
H+ + OH-  H2O titrasi langsung dengan AgNO3
TBA (titrasi bebas air)/non aqueous media dilakukan pada pH netral atau basa lemah
Asidimetri: contoh: untuk tiamin bentuk basa, indikator: K2CrO4
Pentiter: HClO4 (yang tersedia dipasaran, 28 % air) dilarutkan dengan as. asetat glasial (CH3COOH 100 titik akhir endapan Ag kromat berwarna merah bata
%) contoh:
Alkalimetri: contoh: untuk luminal, veronal klorida dalam tramadol HCl
Pentiter: Na metilat klorida dalam tiamin klorida hidroklorida/vitamin B1
Syarat: 1 mol Ag+ sebanding dengan Cl- pada tiamin klorida hidroklorida
Zatnya boleh larut air Metode volhard:
Untuk zat yang bersifat asam/basa lemah yang konstanta disosiasinya < 10-8 titrasi dengan pentiter berlebih (titrasi tidak langsung) kemudian kelebihannya akan dititrasi NH4CNS
Kenapa tidak boleh ada air? (amonium tiosianat) atau KCNS (kalium tiosianat)
Air itu banci & kompetitif menjadi basa pada asidimetri, menjadi asam pada alkalimetri sehingga air indikator: Fe (titik akhir berwarna merah)
akan ikut tertitrasi suasana titrasi harus asam dengan penambahan asam nitrat pada pH 3-4
Pada aqueous media: air mudah terionisasi, asam & basa relatif kuat sehingga air ikut tertitrasi contoh: Br & I karena KSP AgBr & AgI < KSP AgCNS
Contoh: Hal yang harus diperhatikan:
Tiamin Titrasi harus dilakukan dalam suasana asam, karena pada pH basa ferri ammonium sulfat akan
Sampel: dilarutkan dengan as. asetat glasial terhidrolisis dan membentuk endapan ferri hidroksida.
Cara buat pentiter: Untuk penetapan ion klorida, endapan perak klorida yang sudah terbentuk harus diisaring agar tidak
Larutan HClO4 melarut kembali karena Ksp dari AgCl lebih besar dari AgCNS, atau ditambahkan masking agent antara
(+) anhidrida asetat  untuk melarutkan air dan membentuk dia molekul as. asetat lian nitrobenzen
Metode fajans: titrasi langsung dengan perak nitrat menggunakan indikator adsorpsi hiingga titik akhir
Syarat pelarut TBA terbentuk warna merah pada permukaan endapan AgCl. Titrasi ini digunakan pada pH 5-6
Mudah dimurnikan Sebelum titik equivalen: karena masih bermuatan (-) maka indikator ( fl- ) tidak bisa masuk
Melarutkan zat
Tidak menghasilkan reaksi samping
Mudah dibebaskan dari air
Larutkan dengan as. asetat glasial Mempunyai tetapan dielektrik yang
Luminal, veronal rendah Setelah titik equivalen: menjadi muatan (+) karena adanya Ag+ berlebih sehingga indikator bisa masuk
Cara buat pentiter:
Na metilat
Logam Na dipotong-potong Syarat TBA
Masukan ke metanol absolut Titrasi benar2 dilakukan dalam
Reaksi endoterm (butuh es) suasana bebas air
Hal yang harus diperhatikan dalam TBA: Buret menggunakan kalsium klorida
Memilih pelarut yang cocok CaCl2 agar terbebas dari uap air Metode buddeuntuk turunan barbiturat
Zat yg dititrasi harus larut dalam pelarut yag dipilih Larutan pentiter harus basa/asam (+) Na2CO3 30 % untuk sampel berbentuk larutan
Titik akhir titrasi dapat diamati dengan jelas kuat karena zat yang akan dititrasi (+)Na2CO3 30 % sebanyak 5x berat sampel, untuk sampel berbentuk serbuk
Pelarut harus mempunyai tetapan dielektrik yang rendah adalah asam/basa lemah Titik akhir
Pelarut dan indikator yang digunakan Kelebihan Ag+ bereaksi dengan CO2-  AgCO3
harus cocok Terbentuk kekeruhan putih/kabut putih [latar belakang harus jelas]
Kompleksometri Nitrimetri Redoks
Pembentukan senyawa kompleks antara logam bervalensi banyak (dua Pembentukan garam diazonium (diazotasi) antara amin aromatik primer Titrasi penentuan suatu oksidator oleh reduktor atau
atau lebih) dengan pembentuk khelat organik yang larut dalam air dan dengan asam nitrit sebaliknya, yang reaksinya merupakan serah terima
praktis tidak terdisosiasi  Terjadi dalam suasana asam elektron, yaitu elektron yang diberikan oleh reduktor
Titik akhir titrasi ditentukan menggunakan indikator logam, yang dapat diterima oleh oksidator
bereaksi membentuk kompleks berwarna dengan ion logam maupun Pembagian titrasi redoks
pembentuk khelat organik Iodometri
Beberapa metode komppleksometri: Pentiternya
Titrasi langsung KIO3 + KI + asam (suasana asam) membentuk iodium (I2)
Ion logam dititrasi langsung dengan larutan pembentuk kompleks terjadi atau
secara cepat, dan ada indikator yang cocok. Pada titrasi ini digunakan Suasana harus asam KIO3 + KI + H+ . I2
dapar salmiak pH 9-10, logam yang dittapkan dengan cara ini adalah logam Jika terlalu asam: HNO2  nitrogen Kelebihannya ditambah Natrium tiosulfat (Na2S2O3),
Mg, Zn. Jka netral: garam diazonium bereaksi dengan amin aromatis indikator: kanji
Titrasi tidak langsung Jika basa: garam diazonium berubah menjadi fenol Titik akhir ditandai dengan hilangnya warna biru pada
Ion logam ditambah larutan pembentuk kompleks berlebih dan Pembuatan asam nitrit: mereaksikan natrium nitrit dengan asam larutan menjadi bening
kelebihannya dititrasi kembali dengan larutan baku yang mengandung ion (NaNO2 + HCl  HNO2 + NaCl)
Mg2+ atau Zn2+  Reaksinya berlangsung lambat & perlu suhu rendah (-5oC/-15oC) untuk iodimetri
Titrasi ini dilakukan jika logam bereaksi lambat dengan pembentuk menstabilkan Iodimetri: langsung menggunakan larutan I2 )/aqua iod
kompleks, atau tidak ada indikator yang cocok. (berwarna ungu/cokelat)
 Karena reaksinya lambat, perlu ditambahkan katalisator: es / KBr
Titrasi pengusiran/substitusi Dilakukan pada pH netral atau basa lemah hingga asam
Es berfungsi agar reaksinya stabil & supaya asam nitrit tidak menguap
Titrasi ini digunakan untuk ion-ion logam yang membentuk kompleks yang lemah, jika terlalu basa I2 akan terurai menjadi hipoiodat
KBr dapat mempecepat reaksi dan berfungsi agar as. nitrit tidak menguap
stabil dengan pembentuk kompleks maupun dengan indikator logam. dan iodidanya.
dengan cara mengikat HONO (HNO2)
Caranya adalah dengan menambahkan Mg-EDTA berlebih, dan posisi Mg2+
KBr + HONO  N=O +(Br) N=O
akan digeser oleh logam yang mempunyai kestabilan kompleks yang lebih Iodatometri
Sampel yang memiliki amin aromatik sekunder
besar, contoh ion logam yang biasa ditentukan dengan cara ini ialah Ca2+ Yaitu titrasi langsung dengan larutan baku KIO3 dalam
Contoh: parasetamol
suasana asam dengan indikator CHCl3 atau CCl4
Ditambahkan asam sebanyak dua kali, fungsi:
Untuk menghidrolisis parasetamol sehingga membentuk amin aromatik primer
Titrasi dengan bromine [bromometri]
Untuk membentuk asam nitrit
Langsung: larutan Br2/aquabrom, indikator: metil merah
C:isoniazid (INH)
Sampel yang memiliki amin aromatik tersier
Tidak langsung:
Contoh: kloramfenikol
KIO3 + KI + H+  I2
Bisa direduksi dengan ditambahkan serbuk/lempeng Zn dalam HCl pekat
I2 + KBr  Br2
Zn + HCl  ZnCl2 + H2
Br2 dititrasi kembali dengan natriumtiosulfat (Na2S2O3)
Reduksi bisa berlangsung selama 1 jam
Titrasi dengan Permanganat [permanganometri]
Pada reaksi diazotasi, sampel dilarutkan dalam asam mineral kuat berlebih,
Metode titrasi yang didasarkan pada reaksi oksidasi oleh
biasanya asam hidroklorida, dan dititrasi dengan larutan baku natrium nitrit.
Titik akhir dapat dideteksi secara elektrometri atau dengan mengamati ion permanganat (MnO4-). Pada titrasi ini permanganat
terjadinya warna biru pada saat beberapa tetes larutan direaksikan dengan berperan sebagai auto indikator dimana titik akhir ditandai
pasta kanji-iodida (indikator luar). Ion iodida dalam indikator akan teroksidasi dengan warna ion MnO4-
menjadi iodium oleh asam nitrit yang berlebih. Iodium yang terbentuk beraksi
dengan amilum dari pasta kanji membentuk warna biru.