Anda di halaman 1dari 2

Konservasi Arsitektur Bali pada Pelinggih Meru di Pura Taman Ayun sebagai Bagian

Warisan Budaya Dunia

BAB I.

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

Bali merupakan salah satu destinasi terbaik wisata di Indonesia dan dunia.Berdasarkan
relief dan topografinya, di tengah-tengah pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang
dari barat ke timur, secara geografis pulau Bali terletak di antara pulau Jawakan dan pulau
Lombok dengan luas wilayahnya mencapai 5.636,66 km2 ,dengan mayoritas masyarakatnya
yang beragama Hindu.Berdasarkan latar belakang kondisi tersebut,pulau Bali memiliki suatu
daya tarik baik secara geografis alamnya, maupun dari karakter,adat istiadat dan kebudayaan
masyarakatnya,karena mayoritas masyarakat di pulau Bali, merupakan penganut agama Hindu
dan dipengaruhi kepercayaan terhadap roh dan leluhur atau paham animisme menjadikan daerah
ini terdapat banyak tempat suci keagamaan dengan fungsi dan jenis yang berbeda-
beda.,berdasarkan hal ini,Bali juga di juluki sebagai Pulau seribu pura.

Keberadaan Pura sebagai tempat suci dan warisan kebudayaan leluhur, tidak hanya
sebagai bangunan dengan nilai spiritual dan budaya tetapi juga sebagai bangunan bernilai
ekonomi,hal ini dapat diketahui dari perkembangan beberapa fungsi pura di Bali yang telah
dibuka unuk kepentingan pengembangan pariwisata,salah satu pura yang di buka untuk
pengembangan pariwisata adalah pura Taman Ayun.Pura Taman Ayun berada pada areal seluas
100 x 250 m2 dan berlokasi di desa Mengi,kec.Mengi kab.Badung, pada awal pendirianya pura
Taman Ayun merupakan pura ibu/keluarga atau paibon,bagi keluarga puri Mengwi.Pura Taman
Ayun dibangun pada abad ke-17 tepatnya dimulai pada tahun 1632.(sejarah pura taman
ayun,Wikipedia)Latarbelakang pendirian pura Taman Ayun didasarkan kepada permasalahan
saat itu,dimana pura – pura besar dan penting lainya di Bali berlokasi cukup jauh dari wilayah
kerajaan Mengwi,hal inilah yang menjadi alasan utama dibangunnya pura Taman
Ayun.Berdasarkan permasalahan tersebut maka pada areal pura Taman Ayun di bangun beberapa
pelinggih Meru dengan beberapa tingkat yang berbeda,sebagai simbol atau penyawangan untuk
pemujaan roh leluhur dan pura – pura besar dan penting lainnya di Bali.

Pada areal pura Taman Ayun di bangun 10 buah pelinggih Meru, yang memiliki tingkat
berbeda yang ditunjukan pada tingkatan atap Meru tersebut.Meru merupakan suatu bangunan
yang bernilai budaya dan arsitektur tinggi,diluar itu juga meru di bangun berdasarkan
perhitungan struktur yang sangat baik,struktur Meru dirancang mampu menahan
gempa.Berdasarkan filosofinya Meru merupakan bangunan suci sebagai tempat atau setana roh
leluhur maupun manifestasi Tuhan.Meru dalam lontar Kusumadewa disebutkan bahwa
bangunan yang berupa Meru itu diciptakan oleh Mpu Kuturan, Saat Mpu Kuturan menata pulau
Bali( Bali Pulina )menjadi desa pekraman pada sekitar abad ke 11(lontar
Kusumadewa),disamping itu versi lainnya menyebutkan bahwa Meru juga sebagai simbol
gunung,yang berdasarkan kepercayaan merupakan tempat bersemayaamnya roh leluhur dan para
dewa.
Keberadaan Meru pada pura Taman Ayun jika ditinjau dari segi pengembangan
pariwisata dan ekonomi memiliki nilai yang positif,hal ini dapat di ketahui dari data statistic
kunjungan wisatawan ke pura Taman Ayun,pada tahun 2013 mencapai 281.901,2014 mencapai
329.691,2015 mencapai 363.507 dan pada tahun 2016 mencapai 369.963 kunjungan.Berdasarkan
data tersebut menunjukan peningkatan pada kunjungan ke pura Taman Ayun pada setiap
tahunnya.Salah satu faktor Tingginya kunjuungan wisatawan ke pura Taman Ayun disebabkan
karena ketertarikan wisatawan terhadap budaya,nilai religius,kerifan lokal serta keunikan
arsitekturnya yang ditunjukan pada setiap bangunan di area pura Taman Ayun,khususnya
pelinggih Merunya.Penetapan pura Taman Ayun sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO
pada tanggal 29 Juni 2012,menunjukan bahwa perhatian dunia terhadap warisan budaya dan
kearifan masyarakat lokal sangatlah tinggi,dengan perhatian dari semua elemen baik masyarakat
dan pemerintah akan mampu mengembangkan pariwisata berbasis budaya pada pura Taman
Ayun tanpa mengesampingkan koservasi dan pelestarian pada pengembangan pura Taman
Ayun,baik konservasi secara fisik maupun non-fisiknya.

1.2 Tujuan

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan di atas,maka tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya masyarakat dan pemerintah dalam
melakukan konservasi pada area pura Taman Ayun khusunya pelinggih Meru.

1.3 Kegunaan