CRAN POSITION SENSOR (CKP)
MAKALAH
Diajukan kepada
Bpk. M. Ihwanudin
untuk memenuhi salah satu tugas
Oleh :
Nanang Hidayat NIM 160513609635
Than Eric Andias NIM 160513609674
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
PRODI STUDI S1 PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF
MARET 2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di jaman sekarang kemajuan teknologi sudah sangat pesat. Salah satunya
pada kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor kini sudah menggunakan sistem
EFI (Electronic Fuel Injection). Pada kendaraan bermotor yang memuat sistem
EFI banyak sensor yang digunakan untuk mendukung kerja sistem. Pengetahuan
tentang sensor-sensor sistem EFI menjadi sangat penting, salah satunya yaotu
Crankshaft Position (CKP) sensor yang yang menunjang banyak sistem pada
kendaraan EFI.
Maka dari itu kami menulis makalah tentang sensor ini untuk mendukung
pengetahuan tentang sensor EFI. Dalam makalah ini akan membahas salah satu
sensor yakni CKP (Crankshaft Potition Sensor).
Rumusan Masalah
1. Apa itu Crankshaft Position sensor?
2. Bagaimana cara kerja Crankshaft Position sensor?
3. Apa saja macam-macam Crankshaft Position sensor?
BAB II
PEMBAHASAN
CRANK SHAFT POSITION SENSOR
Sebuah sensor engkol (crankshaft position sensor) adalah perangkat
elektronik yang digunakan dalam mesin pembakaran internal untuk mendeteksi
posisi atau kecepatan rotasi crankshaft. Informasi ini digunakan oleh sistem
manajemen mesin untuk mengontrol waktu sistem pengapian dan parameter mesin
lainnya. Sebelum sensor engkol elektronik yang tersedia, distributor harus diatur
secara manual untuk tanda waktu pada mesin.
Sensor engkol dapat digunakan dalam kombinasi dengan sensor posisi
camshaft mirip dengan memantau hubungan antara piston dan katup di mesin,
yang sangat penting dalam mesin dengan variable valve timing. Metode ini juga
digunakan untuk "sinkronisasi" mesin empat langkah pada awal, memungkinkan
sistem manajemen untuk mengetahui kapan harus menyuntikkan bahan bakar. Hal
ini juga sering digunakan sebagai sumber utama untuk pengukuran kecepatan
mesin di putaran per menit.
Lokasi pemasangan umum termasuk katrol engkol utama, roda gila,
camshaft atau poros engkol itu sendiri. Sensor ini adalah sensor yang paling
penting dalam mesin modern. Ketika gagal, ada kemungkinan mesin tidak akan
mulai, atau memotong sambil berjalan.
Macam-macam Tipe
Rpm sensor yang digunakan terdiri dari dua tipe yaitu:
a) Rpm sensor Tipe Induksi
Rpm sensor tipe induksi disebut juga Magnetic Pickup Sensor, saat
bekerja sensor ini menghasilkan tegangan listrik AC akibat dari efek
induksi magnet pada gulungan coil di dalam sensor.
Saat gigi triger wheel lewat mendekati pada jarak yang cukup dekat ( G )
dengan kutub sensor , medan magnet yang mengelilingi gulungan coil
akan berubah.
Akibat dari perubahan medan magnet tersebut, maka gulungan coil
akan menghasilkan tegangan induksi, besarnya tegangan induksi
tergantung pada kekuatan dan kecepatan perubahan medan magnet, satu
gelombang penuh akan dihasilkan setiap satu gigi triger wheel melewati
kutub magnet dari sensor.
Gambar dibawah menunjukkan komponen dasar sensor type inductive dan
bentuk gelombang yang dihasilkan.
Inductive sensor:
1. Sensor housing.
2. Output signal wires.
3. Coaxial coated protection.
4. Permanent magnet.
5. Inductive coil. Pole pin.
6. Trigger wheel.
7. Air gap
Tahanan gulungan sensor berkisar antar 500 – 1500 ohm tergantung
dari aplikasi sensor tersebut. Dalam beberapa kasus ada sensor dengan
tahanan terendah 200 ohm , dan tahanan tertinggi 2500 ohm.
Tegangan listrik yang dihasilkan oleh sensor tergantung dari kecepatan
putaran trigger wheel dan jumlah gulungan coil di dalam sensor.
Tegangan output yang dihasilkan berkisar antara 1 – 2 volt pada saat
mesin distarter, namun pada saat putaran tinggi tegangan yang dihasilkan
bisa lebih tinggi lagi.
Tegangan yang dihasilkan oleh sensor sangat lemah sehingga mudah
terganggu oleh sinyal tegangan yang lebih tinggi, contohnya sinyal
tegangan dari sistem pengapian.
Oleh karena itu untuk mencegah gangguan tersebut kabel dari sensor
yang menuju control unit biasanya dilindungi oleh cable shield ( coaxial
coated wire ).
b) Rpm Sensor Tipe Hall Effect
Tergantung pada komponen elektronik yang terdapat didalam
sensor , sinyal ouput yang dihasilkan dapat berupa positf dan negatif
dengan nilai tegangan tertinggi mencapai 5 atau 12 Volt tergantung jenis
komponen elektronik dan kebutuhan sistem yang membutuhkan.
Berbeda dengan inductive sensor, sinyal output yang dihasilkan
hall effect sensor tidak tergantung pada perubahan medan magnet.
Tegangan output yang dihasilkan biasanya berkisar dalam milli
volt ( mV ) yang kemudian diperkuat oleh komponen elektronik yang
dipasang di dalam sensor housing.
Gambar dibawah menunjukkan jenis sensor tipe hall effect. Tipe
sinyal yang dihasilkan berbentuk sinyal digital ( square form ).
1. Sensor housing.
2. Output wires (+Vcc, −Vcc and signal).
3. Integrated electronics.
4. Permanent magnet.
5. Hall Effect device.
6. Trigger wheel.
7. G. Air gap
Lebar sinyal yang dihasilkan selalu tetap , namun frekuensi sinyal akan
berubah sesuai dengan kecepatan putaran. Berbeda dengan sensor tipe
induksi yang dapat memproduksi tegangan sendiri, hall effect sensor
membutuhkan suplai tegangan external yang dibutuhkan komponen
elektroniknya.
Biasanya tegangan suplai ( Vcc ) sebesar 5 v namun pada beberapa sistem
ada yang memakai tegangan suplai 12 v.
Tabel perbandingan
Tipe Jenis Sinyal Tegangan Kabel konektor
Induksi Analog 1 – 2 volt 2 kabel
Hall Effect Digital 5 / 12 volt 3 kabel
a. Pemicu ecm pada ujung sinyal yang turun sejajar dengan tepi gigi menjauh
dari poros sensor
b. Pemicu ecm pada ujung sinyal yang naik sejajar dengan tepi gigi menjauh
dari poros sensor
Aliran Kerja
CKP coil menerima induksi magnet dari trigger wheel sehingga timbul
arus listrik AC (sinyal digital) pada lilitan CKP coil dengan tegangan 1-2 volt.
Selanjutnya tegangan tersebut diterima ECM untuk dibaca.
CKP coil menerima arus sebesar 5-12 v melalui C2 ke C dari ECM. Saat
CKP sensor menerima induksi magnet dari triggel wheel maka akan timbul
tegangan sinyal yang keluar dari A dan kembali ke ECM untuk dibaca.
ADC Converter
ADC (Analog To Digital Converter) adalah perangkat elektronika yang
berfungsi untuk mengubah sinyal analog (sinyal kontinyu) menjadi sinyal digital.
Perangkat ADC (Analog To Digital Convertion) dapat berbentuk suatu modul
atau rangkaian elektronika maupun suatu chip IC. ADC (Analog To Digital
Converter) berfungsi untuk menjembatani pemrosesan sinyal analog oleh sistem
digital.
Analog To Digital Converter (ADC) adalah pengubah input analog
menjadi kode – kode digital. ADC banyak digunakan sebagai Pengatur proses
industri, komunikasi digital dan rangkaian pengukuran/ pengujian. Umumnya
ADC digunakan sebagai perantara antara sensor yang kebanyakan analog dengan
sistim komputer seperti sensor suhu, cahaya, tekanan/ berat, aliran dan sebagainya
kemudian diukur dengan menggunakan sistim digital (komputer).
Perangkat yang Serupa
Komponen Pick Up Coil
Signal rotor memancarkan induksi magnet sehingga dapat membangkitkan
tegangan pada pick up coil.
Wheel speed sensor pada sistem ABS
ABS reluctor ring membangkitkan induksi magnet pada ABS wheel speed
sensor.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Crankshaft Potition Sensor (CKP) digunakan pada kendaraan dengan
sistem EFI. Ada dua jenis sensor CKP, yakni sensor tipe induksi dan sensor tipe
Hall Effect. Sensor CKP ini digunakan untuk acuan pengapian dan penyemprotan
bahan bakar, selain itu juga untuk mengetahui kecepatan putaran mesin atau RPM.