Anda di halaman 1dari 3

EKSTRAKSI PADAT CAIR (DIFFUSER) NIRA TEBU

Pada saat ini di Indonesia terdapat 61 pabrik gula (PG) dimana pada proses
pemerahan nira dari tebu kebanyakan memakai gilingan. Ada metode lain yang dapat
digunakan untuk memerah nira dari tebu, yaitu menggunakan ‘DIFFUSER” atau ekstraksi
padat cair (EPC). Dari 61 PG hanya ada 2 pabrik gula yang menggunakan diffuser yaitu PG.
Kedawung (1984) dan PG. Bungamayang (1994).

Eksperimen penggunaan difusi untuk mengesktrak nira dari tebu dimulai sejak 1886 – 1889
oleh Spencer di Lousiana. Diffuser skala pilot telah dicoba dan dan dievaluasi pada tahun
1950 an di pabrik gula di Hawaii. Pada kongres XII di Puerto Rico ekstraksi nira
menggunakan diffuser menjadi topik pembahasan yang hangat.

Keuntungan dari pemakaian alat EPC antara lain dengan mudah dapat mencapai ekstraksi
97 – 98 %, biaya operasi lebih rendah, kebutuhan tenaga lebih rendah dan demikian pula
investasi yang diperlukan relatif lebih rendah daripada sistim gilingan. Suhu yang cukup
tinggi diperlukan untuk memperbaiki denaturasi dari sel-sel tebu, sanitasi dan viskositas.
Pemberian kapur sampai pH yang ditetapkan untuk mengurangi proses inversi dan korosi.
Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya korosi dan abrasi maka permukaan dari
diffuser paling sedikit setinggi lapisan cacahan (2 meter) dan penampung nira dilapisi
dengan baja tahan karat.

Untuk mencapai hasil ekstraksi yang tinggi seperti halnya di gilingan, diperlukan
pencacahan tebu yang cukup, imbibisi yang cukup, suhu dalam diffuser sekitar 750 C. pH
dalam EPC 6 – 6.5 dan waktu ekstraksi 50 – 60 menit. Sirkulasi yang optimal dalam diffuser
dapat menghasilkan ekstraksi yang cukup tinggi pada imbibisi dibawah 300 % sabut dan
dengan pengaturan aliran nira / deflektor.

PROSES EKSTRAKSI PADAT CAIR (diffuser)

Proses ekstraksi gula dari batang tebu giling sebelum dimasukkan ke gilingan atau alat
diffuser terlebih dahulu melalui peralatan preparasi tebu, antara lain : cane cutter, shredder,
hammer shredder dll, sehingga dihasilkan cacahan tebu atau preparation index (PI) yang
baik.

Pencacahan dilakukan sampai batas tertentu 90 – 92 % untuk selanjutnya hasil cacahan


dimasukkan kegilingan atau ke dalam alat diffuser dengan feeder sehingga cacahan tebu
dapat terbagi rata selebar diffuser. Dalam pelaksanaannya cacahan tebu tersebut bergerak
dari arah depan ke belakang melalui rantai pengangkut dengan kecepatan 0.9 – 1.2 m/min
atau 50 – 60 menit, supaya nira dalam diffuser tidak tinggal terlalu lama dan mengurangi
inversi karena seringnya sirkulasi.

Alat EPC (diffuser) tipe horisontal terdiri dari 12 tray, gambar 1. Tiap-tiap tray terdapat
deflektor. Kegunaan deflektor adalah untuk mengatur jatuhnya nira yang dipompa atau
disirkulasi dari tray berikutnya dan alat ini dapat dirubah-rubah sesuai dengan kapasitas
giling. Pada tray no. 2 dan no. 10 dipasang lifting screw sepanjang lebar diffuser, gunanya
untuk mengaduk cacahan tebu supaya tidak padat. Untuk mengurangi terjadinya inversi,
maka ditambahkan susu kapur sehingga pH nira terjaga pada pH 6 – 6.5.
Gambar 1. BMA Cane Diffuser

Pemberian air imbibisi panas kedalam EPC dilakukan dengan countercurrent dimana
cacahan tebu bergerak dari depan ke belakang dan cairan dipompa dari belakang ke depan
sehingga proses ekstraksi akan berjalan dengan sendirinya. Pada tray paling depan atau
tray no. 1 dihasilkan konsentrasi nira yang paling tinggi atau kandungan saccharosanya
tinggi, makin ke belakang kandungan saccharosanya makin rendah. Nira pada tray no. 1
selanjutnya dipompa ke proses pengolahan untuk proses lebih lanjut sampai menghasilkan
gula produk.

Ampas yang keluar dari diffuser melewati sebuah dewatering drum untuk mengurangi
kandungan airnya, selanjutnya ampas diperah pada dewatering mill dimana nira hasil
pemerahan dipompa dan dikembalikan ke diffuser dan ampasnya untuk bahan bakar boiler.

Keuntungan dan Kerugian pemakaian EPC (Hugot, 1986) :

1. Keuntungan teknis

 Penggunaan power lebih rendah dibandinkan dengan gilingan.


 Retention time yang lebih lama pada EPC berpengaruh terhadap ekstraksi, sehingga
dapat dicapai > 97 %
 Suhu kerja yang tinggi 80 – 900 C mengakibatkan kenaikan ekstraksi disamping
mereduser munculnya bakteri yang mengaikbatkan inversi pada sukrosa.
 Beban juicer rendah rendah, karena nira di diffuser suhunya tinggi
 Penggunaan tenaga operator lebih sedikit.
 Cara operasional alat EPC lebih mudah

2. Keuntungan dari segi ekonomis

 Harga EPC ± 70 % lebih rendah dari gilingan dengan kapasitas yang sama.

 Biaya perawatan lebih murah.

 Peningkatan ekstraksi ± 3 %.

3. Kerugian :
 Pemakaian uap lebih besar daripada gilingan.
 Kasaman dalam diffuser harus dijaga supaya tidak terjadi korosi dan inversi.
 Pemakaian imbibisi lebih besar, sehingga menambah beban evaporator.

Menurut Rein dan Ingham (1992) mengatakan jumlah air imbibisi bukan merupakan faktor
utama untuk mendapatkan ekstraksi yang tinggi akan tetapi ditentukan oleh bagaimana cara
mengatur sirkulasi yang baik, dapat diharapkan kecepatan perkolasi yang maksimal
sehingga bisa didapatkan pula hasil ekstraksi yang tinggi.

Pengaruh kondisi operasional terhadap ekstraksi, antara lain :

1. Ukuran partikel

Biasanya diukur dengan angka preparation index (PI) yang ditentukan oleh kesiapan alat
pencacah (cane cutter, shredder, hammer shredder)

2. Perbedaan konsentrasi

Ditentukan dengan jumlah dan pencampuran imbibisi nira dan air yang diberikan
dipompa dengan cacahan tebu di masing-masing tray.

3. Kecepatan perkolasi

Kecepatan imbibisi nira atau air dalam menembus lapisan cacahan tebu dalam tray.
Kecepatan perkolasi tentunya akan dipengaruhi oleh ukuran partikel, bila ukuran partikel
terlalu halus akan mengakibatkan banjir atau dengan perkataan lain jumlah imbibisi yang
ditambahkan lebih cepat dibanding yang mampu menembus cacahan tebu

4. Waktu tinggal

Pengaruh positif atas kenaikan waktun tinggal terhadap ekstraksi harus diperhitungkan
dengan kenaikan inversi dan peningkatan warna nira apabila waktu tinggal terlalu lama

5. Suhu dan pH

Suhu yang tinggi akan berpengaruh positif terhadap ekstraksi karena adanya
peningkatan kecepatan difusi dan penurunan viskositas namun akan berpengaruh
negatif terhadap kecepatan perkulasi karena cacahan tebu akan semakin kompak. pH
yang terlalu tinggi akan menurunkan kecepatan perkolasi hal ini mungkin karena
pengaruh endapan kalsium fosfat pada lapisan tebu, tetapi pH yang terlalu rendah akan
menyebabkan inversi.