Anda di halaman 1dari 34

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana menentukan kebutuhan air dengan pola tanam xxx-xxx-xxx
D.I. xxx?
b. Bagaimana menentukan ketersediaan air di D.I. xxx?
c. Bagaimana grafik neraca air di D.I. xxx?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Mengetahui kebutuhan air dengan pola tanam xxx-xxx-xxx di D.I. xxx.
b. Mengetahui ketersediaan air di D.I. xxx.
c. Mengetahui grafik neraca air D.I. xxx.
1.4 Batasan Masalah
a. Data curah hujan menggunakan Data Hujan Stasiun xxx dari tahun xxxx-
xxxx, sedangkan data klimatologi menggunakan Data Klimatologi dari
tahun xxxx-xxxx.
b. Menghitung curah hujan efektif dengan metode aljabar rata-rata.
c. Menghitung evapotranspirasi (ETo) dengan menggunakan rumus
Penmann-Monteith.
d. Efisiensi irigasi pada tingkatan primer dan sekunder diambil 90%
sedangkan untuk tingkatan tersier adalah 80% sesuai dengan standar
kriteria perencanaan irigasi.
e. Hanya menghitung daerah irigasi dengan luas layanan 1 = xxxx ha dan
luas layanan 2 = xxxx ha.
f. Menghitung kebutuhan air irigasi terhadap pola tanam xxx-xxx-xxx
dengan total daerah irigasi xxxx ha.
g. Menghitung ketersediaan air dengan metode F.J. Mock.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Irigasi

2.2 Maksud dan Tujuan Irigasi


2.3 Jenis-Jenis Irigasi

2.4 Klasifikasi Jaringan Irigasi

2.5 Parameter Hidrologi

2.5.1 Curah Hujan

2.5.2 Evapotranspirasi

2.6 Kebutuhan Air Irigasi

2.6.1 Kebutuhan air konsumtif

2.6.2 Estimasi koefisien tanaman bulanan

2.6.3 Kebutuhan air untuk penyiapan lahan

2.6.4 Perkolasi

2.6.5 Kebutuhan air untuk mengganti lapisan air (WLR)

2.6.6 Kebutuhan air bersih di sawah (NFR)

2.6.7 Efisiensi irigasi

2.7 Ketersediaan Air (Metode Mock)

2.7.1 Evapotranspirasi Terbatas (Limited Evapotranspiration)

2.7.2 Keseimbangan Air (Water Balance)

2.7.3 Neraca Air di Bawah Permukaan


2.7.4 Aliran Permukaan

BAB 3

LANGKAH KERJA

3.1 Menghitung Kebutuhan Air Irigasi


3.1.1 Menghitung Curah Hujan Efektif (Re)
Curah hujan efektif adalah bagian dari curah hujan total yang
digunakan oleh akar-akar tanaman selama masa pertumbuhan.
Menghitung curah hujan efektif menggunakan data curah hujan
setengah bulanan.
a. Mengurutkan data curah hujan setengah bulanan (mm) dari kecil ke
besar pada tahun-tahun yang dibutuhkan. Dalam laporan ini
digunakan data hujan pada Stasiun Gopeng dari tahun 1992 hingga
tahun 2001,
b. Membuat probabilitas pada setiap data hujan setengah bulan
dengan rumus sebagai berikut:

Probabilitas = × 100 %
c. Membuat grafik dari data curah hujan setengah bulanan dengan
angka probabilitas pada ms. excel, Dengan bantuan trendline
polynomial, akan didapatkan garis yang menghubungkan titik-titik
pada grafik dan koefisien determinasi (R2) yang baik nilainya
apabila sama dengan 0,9 hingga 1. Garis yang didapatkan melalui
trendline harus bagus dengan tidak menurun ke bawah, garis harus
naik secara konstan dengan cara mengganti orde polynomial.
d. Memasukkan x = 20 ke dalam persamaan di atas untuk mengetahui
besarnya R80,
e. Rumus dari curah hujan efektif (Re) di persamaan (2.1)
f. Curah hujan efektif dihitung setiap bulan Januari hingga Desember
dengan mengulang cara (a) hingga (g).

3.1.2 Menghitung Evapotranspirasi Acuan (ETo)


Acuan perhitungan ETo menggunakan metode Penman-Monteith
yang dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional. Penjabaran rumus
sudah dibahas pada tinjauan pustaka. Adapun langkah-langkah
perhitungan ETo adalah sebagai berikut:
a. Mengumpulkan data cuaca yang tersedia di lokasi stasiun beserta
data elevasi dan letak lintang stasiun,
b. Menghitung besarnya nilai tekanan uap jenuh berdasarkan data
suhu udara dengan persamaan (2.20),
c. Menghitung besarnya tekanan uap actual berdasarkan data
kelembaban udara dengan persamaan (2.21),
d. Mengurangkan nilai tekanan uap jenuh dengan nilai tekanan uap
actual atau hasil langkah (b) dengan langkah (c),
e. Menentukan nilai perkalian antara konstanta 4098 dengan tekanan
uap jenuh atau hasil langkah (b),
f. Menghitung perkalian antara konstanta 0,00163 dan data tekanan
udara di lokasi stasiun,
g. Menghitung besarnya nilai panas laten berdasarkan data suhu udara
dan menggunakan persamaan (2.25),
h. Menghitung nilai konstanta psikrometrik dengan membagikan hasil
nilai langkah (f) dengan langkah (g) atau menggunakan persamaan
(2.23),
i. Menghitung nilai dari (T + 237,3)2,
j. Menghitung nilai kemiringan kurva terhadap uap () dengan
membagikan hasil langkah (e) dengan langkah (i) atau
menggunakan persamaan (2.22),
k. Menentukan hasil pembagian antara konstanta 900 dengan suhu
kelvin,
l. Menentukan hasil perkalian data kecepatan angina, hasil langkah
(h), langkah (d), dan langkah (k),
m. Menghitung besarnya nilai sudut deklinasi () berdasakan
persamaan (8),
n. Menghitung besarnya jarak relative matahari dengan bumi (dr)
menggunakan persamaan (2.13),
o. Menentukan nilai sudut saat matahari terbenam (s) dengan
menggunakan persamaan (2.12) berdasarkan data letak lintang
stasiun,
p. Menentukan nilai radiasi matahari ekstraterestrial (Ra) berdasarkan
persamaan (2.11),
q. Menghitung nilai radiasi matahari (Rs) berdasarkann data langkah
(p) dengan data lama penyinaran matahari,
r. Menghitung faktor penutupan awan berdasarkan data lama
penyinaran matahari menggunakan persamaan (2.17),
s. Menghitung besarnya radiasi gelombang pendek (Rns) berdasarkan
hasil langkah (q) dan nilai albedo dengan menggunakan persamaan
(2.9),
t. Menghitung nilai emisivitas atmosfer berdasarkan persamaan
(2.18),
u. Menentukan nilai hasil perkalian antara konstanta Stefan –
Boltzman dan pangkat empat suhu Kelvin,
v. Menentukan nilai radiasi gelombang panjang (Rnl) berdasarkan
hasil perkalian langkah (r), langkah (t), dan langkah (u) atau
menggunakan persamaan (2.16),
w. Menghitung besarnya nilai radiasi netto dengan mengurangkan
hasil langkah (s) dengan langkah (v),
x. Menentukan perkalian antara konstanta 0,408, hasil langkah (j),
dan langkah (w),
y. Menjumlahkan hasil langkah (l) dan langkah (x),
z. Menghitung nilai dari ( +  (1 + 0,34 U2)) berdasarkan data
kecepatan angin, hasil langkah (j), dan langkah (h),
aa. Menghitung besarnya nilai ETo dengan membagi hasil langkah (y)
dengan hasil langkah (z).

3.1.3 Menghitung Kebutuhan Air Irigasi pada Padi


a. Kebutuhan Air Selama Pengolahan Lahan
1. Menghitung M (kebutuhan air pengganti kehilangan air)
dengan menggunakan persamaan (1,1  ETo) + P. P yang
digunakan adalah sebesar 2,
2. Menghitung nilai k dengan menggunakan persamaan (2.4a),
Dengan S sebesar 250 mm dan T adalah 30 hari,
3. Menghitung IR (kebutuhan air pengolahan lahan) dengan
mengunakan persamaan (2.4),
4. Kebutuhan air irigasi dapat dihitung dengan mengurangkan
kebutuhan air pengolahan lahan (IR) dengan curah hujan
efektif (Re).
b. Kebutuhan Air Selama Masa Tanam
1. Menghitung ETc (penggunaan konsumtif) dengan mengalikan
Kc dengan ETo,
2. WLR (penggantian lapisan air) dilakukan pada 2 minggu
kedua dalam 1 bulan penanaman sebesar 3,3 mm/hari. Pada 2
minggu pertama dalam 1 bulan tidak dilakukan penggantian
lapisan air, sehingga 0.
3. Kebutuhan air bersih di sawah (NFR) dapat dihitung dengan
persamaan (2.5)

3.1.4 Menghitung Kebutuhan Air Irigasi pada Palawija


1. Menghitung ETc (penggunaan konsumtif) dengan mangalikan Kc
dengan ETo,
2. Kebutuhan air bersih di sawah (NFR) dapat dihitung dengan
persamaan (2.6)

3.1.5 Menghitung Kebutuhan Air pada Saluran Irigasi


1. Menghitung pembobotan masa tanam golongan 1 dengan
membagikan luas golongan1 dengan total luas daerah lalu dikalikan
100%.
2. Menghitung pembobotan masa tanam golongan 2 dengan
membagikan luas golongan1 dengan total luas daerah lalu dikalikan
100%.
3. Menghitung k (mm/hari) dengan cara: (kebutuhan air Gol. I 
bobot Gol. I) + (kebutuhan air Gol II  bobot Gol. II)
4. Mengubah satuan k yang semula mm/hari menjadi liter/detik/ha
dengan cara mengalikan k (mm/hari) dengan 0,1157,
5. Menghitung k saluran tersier dengan cara langkah nomor 4 dibagi
dengan efisiensi di salurah tersier,
6. Menghitung k saluran sekunder dengan cara membagi k saluran
tersier dengan efisiensi di saluran sekunder,
7. Menghitung k saluran primer dengan cara membagi k saluran
sekunder dengan efisiensi di saluran primer,
8. Membuat grafik hubungan antara kebutuhan air pada saluran
primer dengan periode.

3.2 Menghitung Ketersediaan Air


3.2.1 Menghitung Evapotranspirasi Terbatas
1. Nilai P didapatkan dari mengambil dua nilai terkecil pada curah
hujan setengah bulanan,
2. Nilai n didapatkan dari jumlah hari hujan pada bulan dan tahun
yang sesuai dengan nilai P.
3. Menghitung ETp dengan cara mengalikan 1,1 dengan ETo,
4. Nilai m didapatkan dari bobot lahan yang tidak tertutup vegetasi,
nilainya berkisar antara 20% hingga 50%,
5. Menghitung E (Perbedaan ET potensial dengan ET terbatas)
dengan menggunakan persamaan (2.26),
6. Kemudian dalam menghitung ETa (evapotranspirasi terbatas)
menggunakan persamaan (2.27).

3.2.2 Menghitung Keseimbangan Air


1. Menghitung S menggunakan persamaan (2.28),
2. Menghitung SMt–1 dengan cara mengambil nilai kelembaban tanah
pada periode sebelumnya,
3. SMC (kapasitas kelembaban tanah) didapatkan dengan mengetahui
jenis tanah,
4. Mendapatkan nilai SS dengan syarat:
a. Jika SMt-1 = SMC dan SMt-1 + ∆S > SMC maka SS = 0
b. Jika SMt-1 < SMC dan SMt-1 + ∆S > SMC maka SS = SMC –
SMt-1
c. Jika tidak maka SS = ∆S
5. Menghitung SMt menggunakan persamaan (2.29)
6. Mendapatkan kelebihan air (WS) menggunakan persamaan (2.30).

3.2.3 Menghitung Neraca Air di Bawah Permukaan


1. Mengetahui koefisien infiltrasi (i) dan koefisien resesi (k)
berdasarkan jenis tanah,
2. Menghitung infiltrasi (I) menggunakan persamaan (2.31)
3. Mendapatkan Vt-1 dengan mengambil nilai Vt kandungan air tanah)
pada periode sebelumnya,
4. Menghitung Vt menggunakan persamaan (2.32),
5. Menghitung dVt (perubahan kadungan air tanah) menggunakan
persamaan (2.33),

3.2.4 Menghitung Aliran Permukaan


1. Mendapatkan BF (aliran dasar/aliran air tanah) menggunakan
persamaan (2.34),
2. Mendapatkan nilai DRo (aliran langsung) menggunakan persamaan
(2.35),
3. Mendapatkan Run Off (aliran permukaan) menggunakan persamaan
(2.36).

3.3 Menggambarkan Grafik Neraca Air


1. Mengubah satuan dari kebutuhan air di saluran primer yang semula
liter/detik/ha menjadi m3/detik,
2. Membuat grafik neraca air perbandingan antara kebutuhan air di saluran
primer, ketersediaan air/run off, dan periode.

BAB 4

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Uraian Umum

Pada Tugas Besar Rekayasa Irigasi ini, diambil soal untuk NIM 3.
Dengan ketentuan data hujan diambil dari Stasiun Godong tahun 1992
sampai 2001 dan data klimatologi dari Stasiun Karangploso tahun 1998
sampai 1999. Daerah irigasi (D.I.) xxx memiliki pola tanam padi-kedelai-
jagung, dengan awal masa tanam dimulai pada bulan Desember periode 01.
Luas D.I. diperoleh dari hasil penjumlahan luas D.I. golongan I dan II. Luas
D.I. golongan I = 1000 + NIM × 10 = 1000 + 1 × 10 = 1010 ha. Luas D.I.
golongan II didapat dari tanggal dan bulan kelahiran secara berurutan, yaitu
2512 ha. Sehingga didapat luas D.I. xxx = 1010 + 2512 = 3522 ha. Ketentuan
mengenai tugas besar dapat dilihat dari Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Data Perhitungan D.I. xxx

Luas D.I.
Data Hujan Data Klimatologi Pola Tanam
(ha) Awal
MT 1
Dr Smp Dr Smp Gol.
Stasiun Stasiun Gol. I MT1 MT2 MT3
Thn Thn Thn Thn II
Godong 1992 2001 Karangploso 1998 1999 1010 2512 Padi Padi Kedelai Okt 1

4.2 Menghitung Curah Hujan Efektif

4.2.1 Pengumpulan Data Hujan Setiap Periode (Dua Periode Tiap Satu
Bulan)

Berikut ini adalah data curah hujan setengah bulanan Stasiun


Godong tahun 1992 sampai 2001 yang akan digunakan.

Tabel 4.2. Data Hujan Setengah Bulanan Stasiun Godong Tahun 1992-
2001 Januari-Juni (mm/hari)

Januari Februari Maret April Mei Juni


Tahun
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
1992 128 63 83 56 251 91 206 302 94 159 125 14
1993 106 654 163 41 9 151 91 72 33 16 23 84
1994 23 275 109 58 143 63 41 92 107 0 0 0
1995 343 190 264 46 116 134 86 0 88 68 42 60
1996 91 122 291 144 270 203 94 80 35 33 22 27
1997 158 106 212 105 85 89 121 57 53 14 0 0
1998 127 93 102 170 155 80 78 123 86 55 90 27
1999 63 301 147 17 52 128 245 40 48 0 26 3
2000 83 337 149 30 56 292 96 28 60 101 20 32
2001 149 165 182 81 267 118 165 91 24 58 149 0
4.2.2

Tabel 4.3. Data Hujan Setengah Bulanan Stasiun Godong Tahun 1992-
2001 Juli-Desember (mm/hari)

Juli Agustus September Oktober November Desember


Tahun
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
1992 128 63 83 56 251 91 206 302 94 159 125 14
1993 106 654 163 41 9 151 91 72 33 16 23 84
1994 23 275 109 58 143 63 41 92 107 0 0 0
1995 343 190 264 46 116 134 86 0 88 68 42 60
1996 91 122 291 144 270 203 94 80 35 33 22 27
1997 158 106 212 105 85 89 121 57 53 14 0 0
1998 127 93 102 170 155 80 78 123 86 55 90 27
1999 63 301 147 17 52 128 245 40 48 0 26 3
2000 83 337 149 30 56 292 96 28 60 101 20 32
2001 149 165 182 81 267 118 165 91 24 58 149 0

4.2.3 Mengurutkan data hujan tiap periode dari yang terkecil hingga yang
terbesar

Dari data hujan Stasiun Godong tahun 1992-2001, kemudian


data tersebut dicari curah hujan efektifnya dengan menggunakan grafik.
Sebelum membuat grafik data dari setiap setengah bulan harus
diurutkan dari yang terkecil lalu ke terbesar.

Berikut adalah Contoh Data Hujan Bulan Januari sebelum dan


sesudah diurutkan.
Tabel 4.4. Tabel Data Hujan 15 Harian Bulan Januari Sebelum dan
Sesudah Diurutkan (mm/hari)

Sebelum diurutkan Sesudah Diurutkan


Januari 1 Januari 2 Januari 1 Januari 2
128 63 23.0 63.0
106 654 63.0 93.0
23 275 83.0 106.0
343 190 91.0 122.0
91 122 106.0 165.0
158 106 127.0 190.0
127 93 128.0 275.0
63 301 149.0 301.0
83 337 158.0 337.0
149 165 343.0 654.0

4.2.4 Menghitung Probabilitas, R80, dan Re

Contoh perhitungan menghitung probabilitas pada bulan


Januari periode pertama data pertama :

Probabilitas = × 100 %

Probabilitas= × 100 %

= 16.67 %

Lalu antara data R hujan dan Probabilitas dibuat grafik dan


dicari trendline-nya, agar muncul persamaan yang akan digunakan
untuk menghitung R80 (curah hujan 80%). Grafik yang dihasilkan tidak
boleh menunjukkan kurva turun dan harus naik. Setelah mendapatkan
grafik seperti Gambar 4.1, maka akan muncul persamaan. Gambar 4.1
memiliki persamaan y = 5×10-8x6 – 1×10-5x5 + 0.0013x4 – 0.0602x3 +
1.2613x2 -7.5509x + 24.633. Setelah itu, nilai koefisien x diinput angka
20, karena kemungkinan terpenuhi 80% mendapatkan nilai R80.

Contoh persamaan y yang didapat dari trendline Gambar 4.1

y = 5×10-8x6 – 1×10-5x5 + 0.0013x4 – 0.0602x3 + 1.2613x2 -7.5509x +

24.633

y = 5×10-8(20)6 – 1×10-5(20)5 + 0.0013(20)4 – 0.0602(20)3 +

1.2613(20)2 -7.5509(20) + 24.633

y = 71.65 mm/hari

Maka, nilai R80 pada bulan Januari periode pertama yaitu sebesar
71.65 mm/hari. Setelah itu barulah dicari Re (curah hujan efektif)
dengan cara:

Re = × 0.7 × R80
Menghitung curah hujan efektif (Re)

Re = × 0.7 × R80

= × 0.7 × 71.65

= 3.34 mm/hari

Berikut hasil nilai R80 dan Re (curah hujan efektif):

Tabel 4.4 Contoh Perhitungan


R80 Januari-1
Januari-01
R
n Prob (%)
(mm/hari)
1 9.0909 23.0
2 18.1818 63.0
3 27.2727 83.0
4 36.3636 91.0
5 45.4545 106.0
6 54.5455 127.0
7 63.6364 128.0
8 72.7273 149.0
9 81.8182 158.0
10 90.9091 343.0
R80 71.65 mm/hari Gambar 4.2. Contoh Grafik Curah Hujan
Re 3.34 mm/hari Bulan Januari-01

Berikut adalah hasil R80 dan Re selama satu tahun yang disajikan pada
tabel 4.5-4.28 dan gambar 4.2-4.25.

Januari

Tabel 4.5 Curah Hujan


Januari-01

Januari-01 Gambar 4.3. Grafik Curah Hujan


R
n Prob (%)
(mm/hari)
Januari-01
1 9.0909 23.0
.
2 18.1818 63.0
3 27.2727 83.0 .
4 36.3636 91.0
5 45.4545 106.0 .
6 54.5455 127.0
7 63.6364 128.0 Desember
8 72.7273 149.0
9 81.8182 158.0
.
10 90.9091 343.0
.
R80 71.65 mm/hari
Re 3.34 mm/hari .

Tabel Data R80 dan Re


Berikut ini adalah tabel R80 dan grafik curah hujan efektif (Re)
sepanjang satu tahun:

Tabel 4.29. Nilai R80 dan Re

Periode R80 (mm/hari) Re (mm/hari)


Jan-01 71.65 3.34
Jan-02 105.59 4.93
Feb-01 101.58 4.74
Feb-02 39.22 1.83
Mar-01 41.57 1.94
Mar-02 85.71 4.00
Apr-01 107.30 5.01
Apr-02 30.94 1.44
Mei-01 31.27 1.46
Mei-02 4.27 0.20
Jun-01 7.25 0.34
Jun-02 1.49 0.07
Jul-01 0.54 0.03
Jul-02 1.26 0.06
Agu-01 0.21 0.01
Agu-02 -3.59 0.00
Sep-01 -0.04 0.00
Sep-02 4.82 0.22
Okt-01 10.93 0.51
Okt-02 8.24 0.38
Nov-01 41.53 1.94
Nov-02 97.07 4.53
Des-01 32.59 1.52
Des-02 23.29 1.09
Gambar 4.26. Grafik Batang Curah Hujan Efektif (Re)

Dari grafik di atas dapat kita cermati bahwa Re tertinggi terjadi


pada bulan April periode pertama sebesar 5.01 mm/hari. Untuk Re
terendah terjadi pada bulan Agustus periode kedua dan September
periode pertama sebesar 0 mm/hari karena pada bulan dan periode
tersebut tidak terjadi hujan.

4.3 Menghitung Evapotranspirasi Rata-Rata Dengan Metode Penmann-


Monteith

Data Klimatologi Karangploso tahun 1996-1997


Berikut ini adalah tabel data klimatologi yang terdiri dari Data Suhu
Udara, Data Kelembaban, Data Kecepatan Angin, dan Data Lama Penyinaran
yang diambil di:
 Nama Pos : Klimatologi Karangploso - Malang
 Koordinat : 07°45'5" LS 112°35'48" BT
 Kota : Malang
 Elevasi : 575 mdpl
Tabel 4.30. Tabel Data Klimatologi
Nilai evapotranspirasi (Eto) dipengaruhi oleh beberapa faktor, di
antaranya adalah : suhu, kecepatan angin, kelembapan, lama penyinaran,
tekanan udara, ketinggian tempat tersebut (elevasi). Selain itu Letak lintang
dalam mencari evapotranspirasi (ETo) harus dikonversikan dulu satuannya
dalam bentuk radian. Apabila data letak lintang berada pada lintang utara
maka nilainya positif, pada lintang selatan nilainya negatif. Nilai J
merupakan urutan hari tiap setengah bulan (pada hari ke-15). Satuan juga
perlu diperhatikan konversinya dalam perhitungan agar mendapatkan nilai
yang sesuai (satuan untuk suhu udara, kecepatan angin, lama penyinaran,
tekanan udara). Dalam mencari kecepatan angin dalam ketinggian 2 m (U 2)
data ketinggian alat diasumsikan 2 m.

Elevasi acuan saat menghitung tekanan atomosfer pada suatu elevasi


tertentu diasumsikan 0 m. Faktor penutupan awan (f) besarnya nilai lama
matahari bersinar dalam satu hari dibandingkan lama maksimum matahari
dalam satu hari ( menggunakan nilai lama penyinaran. Setelah nilai ETo

dalam setiap bulan per tahun didapat kemudian barula dirata-rata per
bulannya, barulah didapatkan nilai ETo rata-rata.

Berikut ini adalah contoh perhitungan ETo bulan Januari tahun 1998 :

1. Menghitung tekanan uap jenuh (es)


 12.27T 
es = 0.611 exp  
 T  237.3 
 12.27  24.38 
= 0.611 exp  
 24.38  237.3 
= 3.05 kPa
2. Menghitung tekanan uap actual (ea)
ea = es × RH
= 3.05 × 0.79
= 2.40 kPa
3. Menghitung kemiringan kurva tekanan uap air terhadap suhu udara (∆)
4098  es
∆ =
 T  237.3 2
4098  3.05
=
 24.38  237.3 2
= 0.18 kPa/°C
4. Menghitung panas laten untuk penguapan (λ)
λ = 2.501 – (2.361 × 10-3) T
= 2.501 – (2.361 × 10-3) 24.38
= 2.44 MJ/kg
5. Menghitung konstantan psikometrik (γ)
p
γ = 0.00163

101.09
= 0.00163
2.44
= 0.07 kPa/°C
6. Menghitung sudut deklinasi matahari (δ)
δ = 0.409 sin (0.0172 J – 1.39)
= 0.409 sin (0.0172 (15) – 1.39)
= -0.37 rad
7. Menghitung jarak relatih antara bumi dan matahari (dr)
dr = 1 + 0.033 cos (0.0172 J)
= 1 + 0.033 cos (0.0172 (15))
= 1.03
8. Sudut saat matahari terbenam (ws)
φ = 07°45'5"
= 7.75° × 57,/29575 rad
= -0.14 radian (minus karena berada di Lintang Selatan)
ws = arccos (-tan φ tan δ)
= arccos (-tan (-0.14) tan (-0.37))
= 1.62 rad
9. Menghitung Radiasi matahari ekstraterestrial (Ra)
Ra = 37.6 dr (ws sin φ sin δ + cos φ cos δ sin ws)
= 37.6 × 1.03 (1.62 sin (-0.14) sin (-0.37) + cos (-0.14) cos
(-0.37) sin (1.62))
= 38.86 MJ/m2/hari
10. Menghitung Radiasi matahari (Rs)
Rs = (0,25 + 0,5 ) Ra
= (0,25 + 0,5 (0.62)) × 38.86
= 21.82 MJ/m2/hari
11. Menghitung radiasi gelombang pendek ( Rns )
Rns = (1 – α) Rs
= (1 – 0.23) × 21.82
= 16.80 MJ/m2/hari
12. Menghitung factor penutupan awan (f )
f = 0.9 + 0.1
= 0.9 (0.62) + 0.1
= 0.66
13. Menghitung esimivitas (εa – εvs )
εa – εvs = 0.34 – 0.14 ×

= 0.34 – 0.14 ×
= 0.12 kPa
14. Menghitung radiasi gelombang panjang (Rnl )
Rnl = f (εa – εvs) × σ × T4
= 0.66 (0.12) × 4.90 × 10-9 × 24.384
= 3.12 MJ/m2/hari
15. Menghitung radiasi matahari netto di atas permukaan tanah (Rn)
Rn = Rns - Rnl
= 16.80 – 3.12
= 13.68 MJ/m2/hari
16. Menghitung kecepatan angin pada ketinggian 2 m diatas permukaan
tanah (U2)
U2 = 4.21 km/jam
 4.87 
= 4.21 × 0.278   
 ln  67.8  0.278  5.42 
= 0.89 m/s
17. Menghitung nilai evapotranspirasi tanam acuan (ET0)

900
0.408  R n  γ U (e s  e a )
ETo = ( T  273 ) 2
  γ ( 1  0.34 U 2 )

900
0.408  0.18  13.68  0.07 0.89 3.05  2.40 
ETo =  24.38  273
0.18  0.07 1  0.34  0.89 

ETo = 4.21 mm/hari

Tabel Perhitungan ETo tahun 1998 & 1999


Berikut ini adalah contoh perhitungan ETo bulan Januari tahun 1998 :
Tabel 4.31. Tabel Perhitungan ET0 tahun 1998
Tabel 4.32. Tabel Perhitungan ET0 tahun 1999

Evapotranspirasi (ETo) Rata-Rata


Di bawah ini adalah Tabel Evapotranspirasi (ET0) rata- rata dari tahun 1998-
1999 dan grafik evapotranspirasi :
Tabel 4.33. Tabel Perhitungan Evapotranspirasi Rata-Rata
ETo (mm/hari)
Bulan
1998 1999 Rata-Rata
Jan 4.21 3.32 3.76
Feb 3.68 3.05 3.34
Gambar 4.27. Mar 3.58 3.48 3.53 Grafik
Apr 3.80 3.61 3.50 Evapotranspirasi
Mei 3.62 2.14 2.48
Rata-Rata Juni 3.27 3.36 3.32
Juli 3.40 3.43 3.41
Dari tabel 4.33 dapat dicermati
Agt 4.08 3.92 3.99
bulan yang Sept 5.47 4.68 5.10 memiliki
Okt 4.43 2.46 2.94
evapotranspirasi Nov 3.41 1.91 2.21 tertinggi yaitu bulan
September Des 3.37 1.41 1.91 sebesar 5.10
mm/hari. Sedangkan bulan yang memiliki evapotranspirasi terendah yaitu
bulan Desember sebesar 1.91 mm/hari.

4.4 Menghitung Kebutuhan Air Irigasi

4.4.1 Data kebutuhan air irigasi

Berikut ini adalah data Eto, perkolasi, penggantian lapisan air


(WLR), jangka waktu penyiapan lahan (T), kebutuhan air ditambah 50
mm (S), R80, Re, dan nilai Kc yang diperlukan untuk menghitung
kebutuhan air irigasi.

Tabel 4.34. Tabel ETo bulan Januari-Desember

Tabel 4.35 Data Perkolasi, WLR, T, dan S

Perkolasi= 2 mm/hari
WLR= 3.3 mm/hari
T= 30 hari
S= 250 mm

Tabel 4.36 Tabel Kc untuk Tanaman Padi, Kedelai, dan Jagung


Kc
Padi Kedelai Jagung
1 1.1 0.5 0.5
2 1.1 0.75 0.59
3 1.05 1 0.96
4 1.05 1 1.05
5 0.95 0.82 1.02
6 0 0.45 0.95

4.4.2 NFR golongan I dan II

Perhitungan kebutuhan air irigasi dihitung dari awal masa tanam


yaitu pada bulan Desember minggu pertama. Kebutuhan air irigasi
dihitung setiap setengah bulan atau 2 minggu sekali. Dalam tugas ini
dihitung masa tanam 2 golongan, sehingga apabila Golongan I dihitung
masa tanamnya Desember minggu pertama (Oktober-1) maka masa
tanam Golongan II dimulai setengah bulan berikutnya sehingga dimulai
pada bulan Desember dua minggu ke dua (Oktober-2) kemudian
lamanya masa tanam mengikuti periode masa tanam tanaman yang
ditanam.
Pada pola tanam padi, sebelum masa tanam padi dimulai maka
perlu diadakan pengolahan lahan selama satu bulan terhitung dari awal
masa tanam, setelah pengolahan lahan barulah masa tanam padi
dimulai. Namun untuk tanaman jagung tidak perlu pegolahan lahan
terlebih dahulu. Data perkolasi (P) menggunakan nilai 2 mm. Untuk
pergantian lapisan air (WLR) dilakukan hanya pada saat tumbuhan
berumur 1 dan 2 bulan saja dimulai dr awal masa tanam tanaman
tersebut dengan nilai 3.3 mm/hari dan hanya untuk tanaman padi saja.
Data waktu (T) menggunakan 30 hari, sedangkan nilai kebutuhuan air
(S) untuk tanah lempung menggunakan 250 mm.
Dalam menghitung kebutuhan air irigasi diperlukan data yang
diperlukan antara lain: data R80 agar bisa menghitung curah hujan
efektif (Re), data evapotranspirasi (ETo) yang sudah dicari sebelumnya
menggunakan metode Penmann Monteith, dan juga data koefisien
tanaman (Kc) tanaman yang akan kita tanam, dan pada tugas ini
tanaman yang digunakan yaitu padi dan kedelai. Berikut adalah data
koefisien tanaman (Kc) menurut FAO:
Tabel 4.37. Tabel daftar Kc untuk beberapa tanaman

Berikut ini adalah contoh perhitungan kebutuhan air di sawah :


 Pengolahan Lahan periode Desember 1 (golongan 1)
1. Menghitung kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat
evaporasi dan perkolasi disawah yang sudah dijenuhkan (M)
M = (1.1 × Et0) + P
= (1.1 × 1.91) + 2
= 4.10 mm/hari
2. Menghitung koefisien k
k = M × T/S
= 4.10 × 30/250
= 0.49
3. Menghitung kebutuhan air untuk penyiapan lahan (IR)
IR = M ( ek /(ek-1))
= 4.10 (e0.94/(e0.49 -1))
= 10.55 mm/hari
 Periode Januari 1 (golongan 1)
1. Menghitung penggunaan komsumtif (Etc)
Etc = Kc × Et0
= 1.1 × 3.76
= 6.14 mm

2. Menghitung kebutuhan air bersih di sawah (NFR)


NFR = Etc + P – Re + WLR
= 6.14 + 2 – 3.34 + 0
= 2.80 mm/hari
Berikut ini adalah tabel hasil perhitungan kebutuhan air di sawah :

Tabel 4.38. Tabel Kebutuhan Air

(insert tabel kebutuhan air)

4.4.3 Menghitung kebutuhan air di setiap saluran

Setelah Kebutuhan Air Bersih Di Sawah dihitung kemudian


Kebutuhan Air Irigasi total dihitung mulai dari awal periode masa
tanam (Desember-1) hingga berakhirnya masa tanam (Oktober-1).
Koversi satuan juga perlu diperhatikan agar memudahkan kita untuk
mengetahui kebutuhan airnya (dari mm/hari dikonversi ke
liter/detik/ha). Dalam kasus ini luas golongan I adalah 1010 ha dan luas
golongan II 2512 ha. Dalam menghitung kebutuhan air maka harus
digunakan pembobotan luas daerah irigasi setiap golongannya.
Pembobotan dihitung dari setiap golongan, contoh perhitungan
pembobotan Golongan :
Setelah diketahui pembobotan masing-masing golongan, setelah
itu menghitung kebutuhan air di sawah. Berikut ini adalah contoh
perhitungan kebutuhan air di sawah pada periode Desember I:
1. Menghitung kebutuhan air di sawah (k)
k = IR1 2 × bobot gol 1 + IR2 1 × bobot golongan 2
= 9.03 × 0.29 + 0 × 0.71 = 2.59 mm/hari
= 2.59 × 0.1157 = 0.30 liter/detik/ha
Kemudian setelah kebutuhan air irigasi di sawah diketahui,
barulah kita menghitung kebutuhan air pada setiap saluran dengan
memperhatikan efiensi di setiap saluran. Kebutuhan air di saluran
tersier yaitu kebutuhan air irigasi total dibagi efisiensi saluran irigasi
tersier (80%). Kebutuhan air di saluran sekunder yaitu kebutuhan air
irigasi di saluran tersier dibagi efisiensi saluran irigasi sekunder (90%).
Kebutuhan air di saluran primer yaitu kebutuhan air irigasi di saluran
sekunder dibagi efisiensi saluran irigasi primer (90%).
2. Menghitung kebutuhan air pada tiap saluran
k saluran tersier = 0.30/80% = 0.37 liter/detik/ha
k saluran sekunder = 0.37/90% = 0.42 liter/detik/ha
k saluran primer = 0.42/90% = 0.46 liter/detik/ha
Berikut ini adalah tabel perhitungan kebutuhan air di sawah, saluran
tersier, saluran, primer, dan saluran primer :
Tabel 4.39. Tabel Kebutuhan Air di Saluran
Selanjutnya membuat tabel kebutuhan air di saluran primer saja
sepanjang masa tanam. Kemudian barulah dibuat grafik hubungan
antara periode dengan kebutuhan air di saluran primer, karena
kebutuhan air di saluran primer membutuhkan air yang paling besar.
Tabel 4.40 Tabel Kebutuhan Air di Saluran Primer

Gambar 4.28 Grafik Batang Kebutuhan Air Irigasi di Saluran Tersier


Dari grafik di atas, pada Januari 1 memerlukan air yang cukup
tinggi karena pada saat itu sedang dilakukan penamanan padi. Bulan
April 1 sampai dengan bulan Juli 1 tidak memerlukan air yang banyak,
dikarenakan pada saat itu sedang dilakukan penamanan kedelai.
Kemudian pada bulan Juli 2 sampai dengan bulan Oktober 2
memerlukan air yang cukup untuk penanaman jagung.
4.5 Menghitung Ketersediaan Air

Dalam menghitung ketersediaan air maka memerlukan jumlah hari


hujan pada bulan tersebut. Data jumlah hari hujan diperoleh dari data asli
yang diberikan dengan melihat besarnya nilai P pada bulan tersebut
sedangkan nilai P sendiri didapat dari data hujan pada 80% terpenuhi pada
data curah hujan sebelumnya (yang sudah diurutkan) setiap setengah bulanan,
kemudian dihitung berapa jumlah hari hujannya pada bulan dan tahun yang
bersangkutan.
Langkah pertama dalam menghitung ketersediaan air yakni menghitung
Evapotranspirasi Potensial untuk menemukan berapa jumlah Evapotranspirasi
Terbatasnya (ETa). Dalam mengitung Evapotranspirasi Potensial ada nilai m
yang besarnya ditentukan sendiri dengan nila 20%-50%. Hal itu berdasarkan
ketertutupan lahan oleh vegetasi, semakin besar nilai data hujan maka nilai m
semakin kecil, semakin kecil nilai data hujan maka semakin besar nilai m.
Contoh perhitungan : (periode Desember-1)
1. Menghitung Evapotranspirasi potensial (Etp)
Etp = 1.1 × Eto
= 1.1 × 1.91 = 2.10 mm
2. Menghitung Perbedaan ET potensial dgn ET terbatas (E)
E = m/20 × (18-7) × Etp
= 0.3/20 × (18-7) × 2.10
= 0.35 mm
3. Menghitung Evapotranspirasi terbatas/ actual (Eta)
Eta = Etp – E
= 2.10 – 0.35
= 1.75 mm
4. Menghitung Hujan netto (∆S)
∆S = P – Eta
= 35 – 1.75 = 33.25 mm
Selanjutnya mencari keseimbangan air (Water Balance), pada
keseimbangan air ada nilai SMC yang didapat dari kemampuan jenis tanah
yang digunakan untuk menampung kapasitas air secara maksimal. Lalu untuk
nilai SS merupakan syarat yang sudah ditentukan nilainya dalam menghitung
Water Balance.
Syarat besarnya nilai SS:
Jika ΔS >= 0, maka SS = 0
Jika ΔS <= 0, maka SS = ΔS
(ganti syarat SS)
5. Menghitung Kapasitas Penyimpanan Tanah (SS)
SMt-1 = 200 mm (Kelembaban Tanah 1 Periode
Sebelumnya)
SMC = 200 mm
∆S = 33.25 mm
SMt-1 + ∆S = 200 + 33.25
= 233.25 mm
Dapat dihitung SMt-1 = SMC dan SMt-1 + ∆S > SMC, maka SS = 0
6. Menghitung Kelembaban tanah (SMt)
SMt = SMt-1 + SS
= 200 + 0
= 200
7. Menghitung Kelebihan air (WS)
WS = ∆S – SS
= 33.25 – 0
= 33.25 mm
Langkah yang terakhir yakni menghitung Run Off atau besarnya aliran
yang ada di permukaan. Nilai koefisien infiltrasi dan koefisien resesi
digunakan nilai 0.3 karena dipilih berdasarkan jenis tanah silt loam. Range
koefisien infiltrasi dan koefisien resesi berkisar antara 0.1 – 0.8. Satuan dalam
Run Off juga perlu diperhatikan konversinya. Untuk mendapatkan satuan
m3/detik maka juga perlu dikalikan dengan luas DAS yaitu sebesar 1 km 2
(didapat dari dua NIM terakhir) lalu dikonversikan ke m 2 menjadi 1.000.000
m2.
8. Menghitung Infiltrasi (I)
I = koefisien infiltrasi × WS
= 0.1 × 33.25
= 3.32 mm
9. Menghitung Kandungan air tanah (Vn)
Vn = 0.5 × (1 + k) × I + k × Vt-1
= 0.5 × (1 + 0.1) × 3.32 + 0.1 × 0
= 1.83 mm
10. Menghitung Perubahan kandungan air tanah (dVn)
dVn = Vn – Vn-1
= 1.83 – 0
= 1.83 mm
11. Menghitung Aliran dasar/ aliran air tanah (BF)
BF = I – dVn
= 3.32 – 1.83
= 1.49 mm
12. Menghitung Aliran langsung (Dro)
Dro = WS - I
= 33.25 – 3.32
= 29.93 mm
13. Menghitung Run Off (Ro)
Ro = BF + Dro
= 1.49 + 29.93
= 31.42 mm
Ro = 31.42/15
= 2.09 mm/hari
Ro = 3.14 × 1.2 × 10-8 × Luas DAS
= 3.14 × 1.2 × 10-8 × 1.000.000
= 0.02 m3/detik

Berikut ini adalah tabel-tabel yang berisi ketersediaan air untuk irigasi :
Tabel 4.30. Tabel Perencanaan Ketersediaan Air Desember-Mei
Tabel 4.31. Tabel Perencanaan Ketersediaan Air Juni-November

4.6 Membuat Grafik Neraca Air

a. Konversi satuan kebutuhan air


Sebelum membandingkan kebutuhan air di saluran primer dengan
ketersediaan air, terlebih dahulu merubah satuan dari liter/detik/ha menjadi
m3/detik agar dapat dibandingkan. Untuk mengubahnya maka kebutuhan
air di saluran primer di kali dengan total luas Daerah Aliran Sungai yaitu
100 ha, setelah itu dibagi 1000 agar satuanya menjadi m3/detik.
Menghitung kebutuhan air (Desember 1) :
k = 0.66 liter/detik/ha × Luas DI
k = 0.66 × 100 = 66.22 liter/detik
k = 66.22/1000 = 0.07 m3/detik

Tabel 4.32. Tabel Kebutuhan dan Ketersediaan Air di Saluran Primer


Desember-Mei

Tabel 4.33. Tabel Kebutuhan dan Ketersediaan Air di Saluran Primer Juni-
November

b. Neraca Air
Dari tabel 4.32.-4.33. dibuat grafik yang menunjukkan
perbandingan kebutuhan air di saluran primer dengan ketersediaan air.
Gambar 4.30. Grafik Neraca Air

Dari grafik Neraca Air tersebut dapat diketahui perbandingan


antara kebutuhan air dengan ketersediaan air, kebutuhan air paling besar
terdapat pada periode Februari dua minggu pertama (Februari 1) yaitu
sebesar 0.10 m3/detik dan kebutuhan air terendah terletak di periode Mei 1
yaitu sebesar 0 m3 /detik. Ketersediaan air tertinggi terletak pada periode
Februari minggu pertama (Februari 1) yaitu sebesar 0.08 m 3/detik
sedangkan ketersediaan air terendah terdapat pada periode Agustus 1-
September 2 dan Oktober 2 sebesar 0 m3/detik.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

a. Hasil perhitungan kebutuhan air terbesar ada pada xxx periode xxx, yaitu
sebesar xxx m3/s. Sedangkan kebutuhan air terkecil ada pada xxx periode
xxx, yaitu sebesar xxx m3/s.
b. Hasil perhitungan ketersediaan air terbesar ada pada xxx periode xxx,
yaitu sebesar xxx m3/s. Sedangkan ketersediaan air terkecil ada pada xxx
periode xxx, yaitu sebesar xxx m3/s.

c. Ketersediaan air hanya dapat mencukupi masa tanam pada beberapa


periode tertentu saja, yaitu pada bulan xxx periode xxx, xxx periode xxx,
dan xxx periode xxx.

5.2 Saran

a. (Optimalisasi pola tanam)

b. (Ketersediaan air)

c. (Ketersediaan air)