Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

SISTEM TEKNOLOGI INFORMASI YANG


MENDUKUNG KESEHATAN GIGI DI
DAERAH TERPENCIL
“TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PELAYANAN
KEPERAWATAN GIGI DAN MULUT”

Disusun oleh :
D.IV Keperawatan Gigi
Kelas 2.A
Kelompok 12 :

1. Miftahul Khair
2. Nadiah Thahirah AR
3. Nur Annisa Kurnia Sari

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR


TAHUN AKADEMIK 2018 - 2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami berhasil menyelesaikan
makalah ini yang alhamdulillah selesai tepat pada waktunya yang berjudul
“Sistem Teknologi Informasi yang Mendukung Kesehatan Gigi di Daerah
Terpencil”.

Makalah ini berisikan tentang Sistem Teknologi Informasi yang


Mendukung Kesehatan Gigi di Daerah Terpencil, bagaimana diharapkan makalah
ini dapat menambahkan pengetahuan kita semua.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.Oleh karena
itu, kritik dan saran dari dosen dan teman-teman yang bersifat membangun, selalu
saya harapkan demi lebih baiknya makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga
Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita.

Makassar, Oktober 2018

Penulis
DAFTAR ISI

Kata pengantar ................................................................................................ i

Daftar isi ......................................................................................................... ii

BAB I Pendahuluan ....................................................................................... 1

A. latar belakang masalah ................................................................. 1


B. rumusan masalah .......................................................................... 1
C. tujuan ............................................................................................ 1

BAB II Pembahasan ....................................................................................... 2

A. PENGERTIAN SISTEM INFORMASI ............................................ 2


B. TUJUAN SISTEM INFORMASI ...................................................... 2
C. IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI ........................................ 6
D. SISTEM INFORMASI YANG ADA DI DAERAH ...................... 12
BAB III PENUTUP ..................................................................................... 15

A. KESIMPULAN ................................................................................ 15
B. SARAN ................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk
terbanyak di Asia. Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010, penduduk
Indonesia berjumlah 237,6 juta jiwa. Badan Pusat Statistik (BPS)
memprediksikan pada tahun 2035 angka pertumbuhan penduduk Indonesia
bisa mencapai 315 juta jiwa, dengan perkiraan laju pertumbuhan penduduk
saat ini sebesar 1,25% .1 Penyakit gigi dan mulut menempati urutan
pertama dari 10 besar penyakit yang dikeluhkan oleh masyakarat Indonesia
(Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010) dan menempati
urutan keempat pengobatan penyakit termahal (International Dental Journal,
2008).2,3 Survei dari Kementerian Pendidikan Nasional dalam Health
Professional Education Quality (HPEQ) Project tahun 2010 menyatakan
bahwa 10 besar penyakit gigi dan mulut di Puskesmas, antara lain kelainan
pulpa dan periapikal, kelainan gusi dan periodontal, karies gigi, persistensi
gigi sulung, stomatitis, kelainan dentofacial (maloklusi), oral abses,
kehilangan gigi, gangren pulpa dan fraktur gigi dan rahang.4 Dari data
tersebut, prevalensi penyakit karies dan jaringan periodontal menduduki
tingkat teratas penyakit terbanyak kunjungan poli gigi. Di lihat dari insiden
karies saja, tahun 2007 sebesar 43,4% meningkat menjadi 53,2% tahun
2013, yaitu kurang lebih 93.998.727 jiwa penduduk Indonesia yang
menderita karies gigi.
Mahalnya perawatan atau pengobatan gigi dan mulut juga
berpengaruh terhadap kebutuhan masyarakat mencari pengobatan yang
layak di klinik - klinik gigi, terutama masyarakat dengan tingkat ekonomi
rendah. Hasil penelitian Kristanti (2001) memperlihatkan bahwa 69% orang
yang memiliki masalah kesehatan gigi tidak berusaha mencari pengobatan
karena masalah keuangan.Untuk mencapai target pelayanan kesehatan gigi
2010, berbagai program telah dilakukan, baik promotif, preventif, protektif,
kuratif maupun rehabilitatif. WHO (World Health Organization) telah
menetapkan indikator kesehatan gigi, antara lain anak umur 5 tahun 90%
bebas karies, anak umur 12 tahun dengan indeks DMF-T sebesar 1 (satu)
gigi; penduduk umur 18 tahun (M=0) bebas gigi yang dicabut; penduduk
umur 35-44 tahun minimal memiliki 20 gigi berfungsi sebesar 90%, dan
penduduk umur 35-44 tanpa gigi (edentulous) ≤ 2%; penduduk umur 65
tahun ke atas memiliki gigi berfungsi sebesar 75%, dan ≤ 5% penduduk
tanpa gigi.
Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa target pelayanan
kesehatan gigi Indonesia masih jauh dari indiktor kesehatan gigi yang
ditetapkan WHO. Selain tingginya penyakit gigi dan jaringan periodontal, di
Indonesia kesenjangan ratio antara ketersediaannya dokter gigi dengan
jumlah penduduk penerima pelayanan jauh dari target WHO. WHO
mempunyai target perbandingan dokter gigi dengan penduduk untuk
mengoptimalkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebesar 1 : 7.500,
sedangkan di Indonesia sebesar 1 : 9.090.10,11.
Bentuk usaha Departemen Kesehatan dalam Perancangan
Indonesia Sehat 2010, yaitu menyusun Sistem Kesehatan Nasional yang
dapat mendukung keberhasilan pembaruan kebijakan pembangunan
kesehatan masa kini maupun masa mendatang. Tujuannya agar harapan
terhadap cita-cita reformasi kesehatan yang terdapat dalam visi
pembangunan kesehatan, diantaranya pencapaian penduduk dengan perilaku
hidup sehat, kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya dapat terwujud diseluruh wilayah Indonesia.
Kemudahan akses untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan
mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya promotif dan preventif
kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Salah satu faktor yang mendukung
kemudahan memperoleh kesehatan gigi dan mulut adalah akses jarak dan
waktu yang singkat. Karena kesenjangannya pelayanan kesehatan gigi dan
mulut antara daerah desa dan kota masih terlihat signifikan, seiring dengan
pesatnya perkembangan teknologi dan informasi saat ini membuat
pelayanan kesehatan gigi yang dulunya hanya bisa didapat saat berkunjung
ke klinik, puskesmas atau rumah sakit, kini berkembang menjadi Mobile
Dental Clinic (Klinik Gigi Keliling).
Penyediaan fasilitas Mobile Dental Clinic menawarkan suatu
alternatif baru model pelayanan kesehatan yang sedang dikembangkan dan
dirasa cocok untuk negara-negara berkembang. Pelayanan dengan sistem
mendatangi daerah-daerah yang kurang pelayanan kesehatan gigi dan
mulut. Salah satu contoh negara yang berhasil menerapkan Mobile Dental
Clinic yaitu India. Solusi tepat dalam meningkatkan kepedulian masyarakat
terhadap kesehatan gigi dan mulut dan meningkatkan penyediaan pelayanan
kesehatan gigi dan mulut yaitu dengan Mobile Dental Clinic. Dari hasil
penelitian selama 3 bulan yang dilakukan oleh Dr. Shobha Tandon tahun
2012 dalam jurnal “Utilization Of Mobile Dental Health Care Service To
Answer The Oral Health Needs Of Rural Population” menunjukkan bahwa
Mobile Dental Clinic dapat meningkatkan perilaku terhadap kesehatan gigi
dan mulut masyarakat lebih baik dari tiga bulan sebelumnya.
Hasil penelitian tahun 2014 oleh Nagarajappa Sandesh dalam
jurnal “Utilization Of Mobile Dental Vans At Post Graduate Dental
Institutions In India” menunjukkan bahwa sebagian besar institusi
perkuliahan mengunakan satu Mobile Dental Unit dalam beroperasi selama
satu sampai dua minggu ke daerah–daerah terpencil. Program ini
menjangkau rata-rata daerah dengan jarak 50–100 km per kunjungan dengan
rata-rata kunjungan pasien 25-50, bahkan kadang sampai 100 pasien per
hari.
Masalah rendahnya tingkat ekonomi seseorang yang sulit
mendapatkan perawatan atau pengobatan pelayanan kesehatan dapat diatasi
dengan pengadaan Mobile Dental Clinic. Sebuah contoh kesuksesan
pelayanan Mobile Dental Clinic yang dilakukan oleh St. David’s Dental
Program. St. David menggabungan program kesehatan masyarakat gigi dan
mulut dengan program pelayanan gigi dasar untuk murid-murid di sekolah.
Program pelayanan kesehatan gigi dan mulut ini diberikan secara gratis
kepada murid-murid sekolah yang kurang mampu.
Penggunaan Mobile Dental Clinic tepat digunakan di daerah
terpencil untuk melayani kebutuhan kesehatan gigi dan mulut masyarakat.
Pada Mobile Dental Clinic tersedia berbagai pelayanan seperti pemeriksaan
gigi, aplikasi flouride, fissure sealant, pemeriksaan sinar X dan pemberian
edukasi mengenai kepedulian menjaga dan merawat kesehatan gigi dan
mulut. Mobile Dental Clinic juga menyediakan peralatan dental portable
sehingga dapat diaplikasikan secara langsung di sekolah-sekolah, pusat
kesehatan dan himpunan organisasi yang mengizinkan dokter gigi untuk
melakukan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di tempat tersebut. Dalam
setahun, Mobile Dental Clinic dapat beberapa kali datang ke tempat yang
sama sesuai dengan daerah program kerjanya.
Pemilihan dokter gigi serta staf penunjang untuk menjalankan
program ini sangat perlu diperhatikan, selain penyediaan fasilitas Mobile
Dental Clinic. Berdasarkan laporan The 330A Outreach Authority
menyatakan bahwa keberhasilan penyelenggaraan program Mobile Dental
Clinic dibutuhkan koordinasi antara dokter gigi dan staf, organisasi yang
mendukung program tersebut, serta kolaborasi antara klinik kesehatan gigi,
rumah sakit dan pusat edukasi kesehatan.
Pengadaan Mobile Dental Clinic menjadi salah satu contoh sarana
yang dapat membantu pelayanan kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Oleh
karena objek penelitian belum ada di kota Padang, penulis memfokuskan
penelitian pada persepsi DPRD, dinas kesehatan, dokter gigi dan masyarakat
tentang seberapa penting pengadaan pelayanan Mobile Dental Clinic
dibutukan di Kota Padang.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dari Teknologi Informasi dan Komunikasi di bidang
Kesehatan?
2. Apa saja Tujuan dari Teknologi Informasi dan komunikasi di bidang
kesehatan?
3. Apa saja Implementasi Teknologi Informasi di Bidang Kesehatan?
4. Teknologi Informasi apa saja yang dapat meningkatkan sistem kesehatan
di desa terpencil?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa yang diaksud dengan Teknologi informasi dan
komunikasi di bidang kesehatan
2. Untuk mengetahui tujuan teknologi informasi dan komunikasi di bidang
kesehatan
3. Untuk mengetahui Implementasi Teknologi Informasi di Bidang
Kesehatan Implementasi Teknologi Informasi di Bidang Kesehatan
4. Untuk mengetahui Teknologi Informasi apa saja yang dapat meningkatkan
sistem kesehatan di desa terpencil
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teknologi Informasi
a. Menurut kamus oxford tahun 1995, Teknologi informasi adalah studi
atau peralatan elektronika komputer untuk menyimpan, menganalisa,
dan mendistribusikan seluruh informasi. Misalnya gambar, suara,
video dan data digital lainnya.
b. Menurut Haag & keen tahun 1996, Teknologi informasi adalah
seperangkat alat yang membantu manusia bekerja dengan informasi
dan melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan
informasi.
c. Menurut Anatta Sannai, (2004:20) Teknologi Informasi dan
Komunikasi adalah sebuah media atau alat bantu dalam memperoleh
pengetahuan antara seseorang kepada orang lain.
d. Menurut Puskur Diknas Indonesia (2003:2) Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek yaitu :
1. Teknologi Informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan
dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan
pengelolaan informasi.
2. Teknologi Komunikasi adalah segala hal yang berkaitan dengan
penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data
dari perangkat yang satu ke lainnya.
Secara lebih ringkas, Martin mengemukakan adanya keterkaitan erat
antara teknologi informasi dan komunikasi, bahwa teknologi informasi
lebih pada sistem pengelolaan informasi sedangkan teknologi komunikasi
berfungsi untuk pengiriman informasi.

B. Tujuan Sistem Informasi


1. Mengumpulkan, memproses dan mengubah informasi
2. Mendukung kegiatan, manajemen dan pembuat keputusan
3. SIK Sebagai Suatu Sistem
Suatu tatanan yang berurusan dengan pengumpulan , pengolahan,
pengkajian dan penyampaian informasi yg dibutuhkan untuk melakukan
tindakan pelayanan kesehatan.

Pelayanan Kesehatan :

a. Pelayanan Masyarakat : Pelayanan Program Kesehatan

b. Pelayanan Individu : Pelayanan Klinis

4. SIK Sebagai Alat Organisasi


SIK sebagai alat yang berupa satu kesatuan / rangkaian kegiatan
yang menyangkut seluruh tingkat administrasi yang mampu memberikan
informasi kepada:
b. Pengelola Program kesehatan ( Puskesmas, Dinas Kesehatan,
Rumahsakit)
c. Masyarakat

C. Implementasi Teknologi Informasi di Bidang Kesehatan

1. Surveilans Epidemiologi:
Surveilans epidemiologi adalah pengumpulan dan pengamatan
secara sistematik berkesinambungan, analisa dan interprestasi data
kesehatan dalam proses menjelaskan dan memonitoring kesehatan dengan
kata lain surveilans epidemiologi merupakan kegiatan pengamatan secara
teratur dan terus menerus terhadap semua aspek kejadian penyakit dan
kematian akibat penyakit tertentu, baik keadaan maupun penyebarannya
dalam suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan
penanggulangan. (Noor,1997).
Keuntungan :
a. Mempermudah pendataan sehingga penanganan pada pasien
lebih cepat dan terarah
b. Memudahkan pengolahan dan penyajian serta analisis data
surveilans
c. Data surveilans dapat disajikan secara spasial sehingga mudah
dianalisis. Contohnya adalah pemanfaatan Sistem Informasi
Geografis
d. Memudahkan dalam penyebarluasan informasi hasil surveilans
Hambatan :
a. Tidak semua SDM kesehatan menguasasi teknologi informasi
sehingga membutuhkan biaya untuk pelatihan
b. Anggaran dana untuk penerapan TI dalam sistem informasi
cukup besar
c. Dibutuhkan jaringan atau akses informasi yang kuat agar
laporan atau pendataan surveilans dari daerah terpencil dapat
diproses, dikirim atau disebar dengan baik
2. Manajemen dan Perencanaan Program
Manajemen dan perencanaan yang diterapkan melalui
implementasi TI seperti program kegiatan perencanaan tingkat puskesmas,
pelaksanaan pengendalian rangkaian kegiatan mulai dari
pengorganisasian, penyelenggaraan, pemantauan. Dengan bantuan TI
manajemen serta perencanaan program yang dkehendaki dapat terlaksana
secara terstruktur rapi dan runtut.
3. Mengidentifikasi dan penyelesaian masalah Kesehatan
Dalam melakukan identifikasi masalah kesehatan ada kalanya
memanfaatkan teknologi informasi, yaitu SPSS. SPSS merupakan
perangkat lunak statistik komputer untuk mengolah data kesehatan dengan
menerapakan prinsip dan metode statistic menjadi informasi yang
dibutuhkan. Sehingga dapat terlihat kasus atau masalah kesehatan yang
sedang dihadapi. Selain itu, juga ada aplikasi eHealth (electronic Health)
dan mHealth ( mobile Health). Sedangkan untuk mengatasi masalah dapat
menggunakan WAN dan internet untuk mengatasi masalah komunikasi
antar puskesmas juga menggunakan website untuk media dari puskesmas
A ke puskesmas B.
D. Teknologi Informasi yang dapat meningkatkan sistem kesehatan di desa
terpencil
1. Telemedik
Menurut Asosiasi Telemedik Amerika (ATA) yang berdiri tahun
1993, telemedik adalah pertukaran informasi dari satu tempat ke tempat
lain lewat komunikasi elektronik untuk kesehatan dan pendidikan, baik
pada pasien maupun orang yang berminat pada kesehatan dengan tujuan
untuk memperbaiki penanganan pasien . Teknologi telemedik ini mulai
berkembang sekitar awal tahun 1990-an. Pada kasus di area pedalaman
yang jauh , dimana jarak pasien dengan profesional kesehatan yang
terdekat dipisahkan dengan jarak ratusan mil, telemedik dapat
mengakses pelayanan kesehatan dengan waktu yang lebih singkat. Pada
kasus darurat, kecepatan akses ini menentukan antara hidup dan mati.
Sehubungan dengan kebutuhan ketanggapan yang cepat serta keahlian
dokter (spesialis), penggunaan telemedik sangat diperlukan (Anonim,
1997).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan telemedik
sebagai penghantar dari pelayanan kesehatan dimana jarak adalah
sebagai faktor penghalang, dimana semua profesional kesehatan
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk pertukaran
informasi yang valid atas diagnosis, penanganan dan pencegahan dari
penyakit dan kecelakaan, penelitian dan evaluasi, dan untuk
keberlanjutan pendidikan provider kesehatan, dan bagi semua yang
berminat kepada peningkatan kesehatan baik itu secara individu
maupun bagi kelompok komunitasnya.
E-Health adalah penggunaan data digital yang ditransmisikan
secara elektronik untuk mendukung pelayanan kesehatan baik itu di
tingkat lokal maupun jarak jauh.
Keuntungan dengan adanya telemedik antara lain :
- Meningkatkan akses kepada pasien
- Mengurangi biaya pasien
- Mengurangi keterpencilan akan kebutuhan dokter
- Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan (Satyamurthy, 2007).

2. SIRS
SIRS merupakan suatu sistem informasi yang, cakupannya luas
(terutama untuk rumah sakit tipe A dan B) dan mempunyai
kompleksitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu penerapan sistem yang
dirancang harus dilakukan dengan memilih pentahapan yang sesuai
dengan kondisi masing masing subsistem, atas dasar kriteria dan
prioritas yang ditentukan. Kesinambungan antara tahapan yang satu
dengan tahapan berikutnya harus tetap terjaga. Secara garis besar
tahapan pengembangan SIRS adalah sebagai berikut:
a. Penyusunan Rencana Induk Pengembangan SIRS,
b. Penyusunan Rancangan Global SIRS,
c. Penyusunan Rancangan Detail/Rinci SIRS,
d. Pembuatan Prototipe, terutama untuk aplikasi yang sangat spesifik,
e. Implementasi, dalam arti pembuatan aplikasi, pemilihan dan pengadaan
perangkat keras maupun perangkat lunak pendukung.
f. Operasionalisasi dan Pemantapan.

3. Sistem Informasi Rumah Sakit yang berbasis komputer (Computer Based


Hospital Information System) memang sangat diperlukan untuk sebuah
rumah sakit dalam era globalisasi, namun untuk membangun sistem
informasi yang terpadu memerlukan tenaga dan biaya yang cukup besar.
Kebutuhan akan tenaga dan biaya yang besar tidak hanya dalam
pengembangannya, namun juga dalam pemeliharaan SIRS maupun dalam
melakukan migrasi dari sistem yang lama pada sistem yang baru. Selama
manajemen rumah sakit belum menganggap bahwa informasi adalah
merupakan aset dari rumah sakit tersebut, maka kebutuhan biaya dan
tenaga tersebut diatas dirasakan sebagai beban yang berat, bukan sebagai
konsekuensi dari adanya kebutuhan akan informasi.
Kalau informasi telah menjadi aset rumah sakit, maka beban
biaya untuk pengembangan, pemeliharaan maupun migrasi SIRS sudah
selayaknya masuk dalam kalkulasi biaya layanan kesehatan yang dapat
diberikan oleh rumah sakit itu. Perlu disadari sepenuhnya, bahwa
penggunaan teknologi informasi dapat menyebabkan ketergantungan,
dalam arti sekali mengimplementasikan dan mengoperasionalkan SIRS,
maka rumah sakit tersebut selamanya terpaksa harus menggunakan
teknologi informasi.
Hal ini disebabkan karena perubahan dari sistem yang terotomasi
menjadi sistem manual merupakan kejadian yang sangat tidak
menguntungkan bagi rumah sakit tersebut. Perangkat lunak SIRS siap
pakai yang tersedia di pasaran pada saat ini sebagian besar adalah
perangkat lunak SIRS yang hanya mengelola sebagian sistem atau
beberapa subsistem dari SIRS. Untuk dapat memilih perangkat lunak SIRS
siap pakai dan perangkat keras yang akan digunakan, maka rumah sakit
tersebut harus sudah memiliki rancang bangun (desain) SIRS yang sesuai
dengan kondisi dan situasi rumah Sakit.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut Haag & keen tahun 1996, Teknologi informasi adalah
seperangkat alat yang membantu manusia bekerja dengan informasi dan
melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi.
Tujuan Sistem Informasi
1. Mengumpulkan, memproses dan mengubah informasi
2. Mendukung kegiatan, manajemen dan pembuat keputusan
3. SIK Sebagai Suatu Sistem
Suatu tatanan yang berurusan dengan pengumpulan , pengolahan,
pengkajian dan penyampaian informasi yg dibutuhkan untuk melakukan
tindakan pelayanan kesehatan.

Pelayanan Kesehatan :

a. Pelayanan Masyarakat : Pelayanan Program Kesehatan

b. Pelayanan Individu : Pelayanan Klinis

4. SIK Sebagai Alat Organisasi


SIK sebagai alat yang berupa satu kesatuan / rangkaian kegiatan
yang menyangkut seluruh tingkat administrasi yang mampu memberikan
informasi kepada:
a. Pengelola Program kesehatan ( Puskesmas, Dinas Kesehatan, Rumah
sakit)
b. Masyarakat
B. Saran
Diharapkan seluruh Mahasiswa untuk mengetahui dan memahami tentang
sistem informasi di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan. 2012, Roadmap Sistem Informasi dan Kesehatan tahun


2011-2014. Kementrian Kesehatan RI, Jakarta.
Zhou, Rosalina. 2012.’Hasil Diskusi SIKNAS dan SIKDA’. Dari:
www.scribd.com. [14 May 2013]