Anda di halaman 1dari 4

V.1.3.

Analisa Daerah Imbuhan dan Daerah Lepasan Air Tanah


Sebagian besar wilayah Kabupaten Sidoarjo secara umum merupakan daerah
lepasan air tanah, ditandai dengan morfologi yang datar/flat. Berdasarkan pengamatan di
lapangan dijumpai keberadaan air tanah dangkal (sumur gali warga antara 0,5 – 5 m dari
muka tanah setempat). Daerah lepasan air tanah merupakan tempat kemunculan air tanah,
yang tentu saja pada lokasi ini dijumpai pemanfaatan air tanah baik dalam skala kecil
maupun besar (dalam hal ini pada lokasi penelitian terdapat wilayah industri), sehingga
keberadaan daerah lepasan air tanah ini selain bergantung pada kelestarian daerah
imbuhan air tanah juga sangat dipengaruhi oleh besarnya pemanfaatan air tanah oleh
kegiatan industri. Adapun kondisi litologi berupa endapan lepas dan topografi yang relatif
datar. Air tanah mengalir dominan melalui ruang antar butir dengan arah aliran menuju ke
timur (Selat Madura).

Litologi sidoarjo seperti apapermeabilitas kawasan

Morfologi lokasi penelitian berupa daerah dengan topografi yang relatif datar/flat
dengan elevasi yang rendah, berkisar antara 5 – 9 m dari permukaan laut. Litologi umum
yang menyusun lokasi penelitian terdiri dari endapan aluvial, yang merupakan endapan hasil
sedimentasi oleh sungai. Pemanfaatan lahan di daerah penelitian ini dominan berupa
pemukiman dan industri, serta hanya sebagian kecil merupakan lahan pertanian dan
tambak.
Diketahui bahwa telah terjadi intrusi air tanah tepatnya pada daerah di sekitar
pesisir (sebelah timur lokasi penelitian).
V.2. Wilayah Potensi Air Tanah
Wilayah potensi air tanah pada suatu daerah mengacu pada kriteria kuantitas
(jumlah) dan kualitas (mutu) air tanah di daerah tersebut berdasarkan matriks potensi air
tanah dari Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1451 K/10/MEM/2000.
Berdasarkan kriteria kuantitas dan kualitas air tanah, maka potensi air tanah di lokasi
penelitian terbagi menjadi 2 (dua) wilayah (dapat dilihat pada lampiran peta) :
a. Wilayah potensi air tanah sedang
Wilayah dengan potensi air tanah sedang menempati sebagian besar daerah bagian
barat lokasi penelitian yaitu seluruh wilayah Kecamatan Taman serta sebagian
wilayah barat Kecamatan Waru yaitu Bungurasih, Medaeng, Pepelegi, Waru,
Kedungrejo, Kureksari, Ngingas, Janti, Wedoro, Tropodo, Kepuh Kiriman, dan Berbek.
Morfologi di wilayah ini merupakan daerah dataran.
Batuan penyusun wilayah ini berupa pasir lempungan, lempung, endapan lepas
(kerikil hingga lempung), dan pasir.
Penggunaan lahan di wilayah ini sebagian besar adalah permukiman penduduk dan
fasilitas umum, tempat kegiatan industri, perdagangan dan jasa, dan tanah kosong.
Pemanfaatan air tanah di daerah ini berasal dari sumur gali dan sumur bor. Selain itu
sebagian penduduk juga memanfaatkan air PDAM.
Kedalaman akuifer batupasir berkisar dari 25 – 70 m dari muka tanah setempat. Jenis
akuifer pada daerah ini adalah akuifer dengan aliran air tanah pada ruang antar
butir. Akuifer batupasir di wilayah ini dijumpai tidak menerus, dijumpai secara
setempat-setempat.
Kualitas air tanah secara umum baik, diketahui bahwa kandungan kation (terutama
Mg) relatif lebih banyak dibanding anion, menandakan lapisan batuan pembawa air
tanah (akuifer) terbentuk oleh material asal darat.
b. Wilayah potensi air tanah rendah
Wilayah dengan potensi air tanah rendah menempati sebagian wilayah timur
Kecamatan Waru yaitu di daerah Berbek, Kepuh Kiriman, Tropodo, Wadungasri,
Tambak Sumur, Tambak Rejo, Tambak Sawah, dan Tambak Oso.
Morfologi di wilayah ini merupakan daerah dataran.
Batuan penyusun wilayah ini berupa endapan lepas (pasir hingga kerikil), lempung,
dan pasir lempungan.
Penggunaan lahan di wilayah ini sebagian besar adalah permukiman penduduk dan
fasilitas umum, tempat kegiatan industri, perdagangan dan jasa, tanah kosong, dan
tambak.
Pemanfaatan air tanah oleh penduduk berasal dari sumur gali, dan sumur bor, selain
itu sebagian penduduk juga memanfaatkan air dari PDAM.
Kedalaman akuifer batupasir berkisar dari 10 – 160 m dari muka tanah setempat.
Jenis akuifer pada daerah ini adalah akuifer dengan aliran air tanah pada ruang antar
butir. Akuifer batupasir di wilayah ini dijumpai menerus.
Kualitas air tanah secara umum baik, diketahui bahwa kandungan kation (terutama
Mg) relatif lebih banyak dibanding anion, menandakan lapisan batuan pembawa air
tanah (akuifer) terbentuk oleh material asal darat. Pada bagian timur diindikasikan
telah terjadi intrusi air laut, ditunjukkan dari keberadaan kandungan Klorida (Cl) yang
cukup dominan.
V.3. Kualitas Air Tanah di Lokasi Penelitian
Kualitas air tanah di lokasi penelitian untuk air tanah dangkal secara umum baik, sifat
fisik air tanahnya baik, sifat kimia air tanahnya juga baik, hanya sifat biologinya terdapat
bakteri Coli. Keberadaan bakteri Coli ini diperkirakan hasil dari aktivitas baik rumah tangga
maupun kegiatan usaha / industri.
Kualitas air tanah di lokasi penelitian menunjukkan kondisi air tanah yang berasal
dari material asal darat (kandungan Mg yang cukup dominan) dan di bagian timur (daerah
pesisir pantai) diketahui telah mengalami intrusi air laut, dengan kandungan Klorida yang
cukup tinggi. Keberadaan intrusi air laut diperkirakan pada kedalaman sekitar 10 m dari
muka tanah setempat.
Kondisi kualitas air tanah di lokasi penelitian ini diperkirakan akibat banyaknya
aktivitas manusia pada wilayah ini, jumlah penduduk yang padat, industri yang cukup
banyak, sehingga menimbulkan limbah yang banyak pula. Minimnya teknik pengolahan
limbah di wilayah ini dapat pula menjadi penyebab perubahan kondisi kualitas air tanah.
Jumlah penggunaan air non domestik di wilayah penelitian adalah sebesar
7.019.351,5 m3/tahun. Pengembalian penggunaan air untuk kebutuhan air non domestik
sebesar 90% adalah 6.317.416,35 m3/tahun.
Jumlah kebutuhan air domestik di lokasi penelitian adalah sebesar 16.450.002,5
m3/tahun. Pengembalian penggunaan air untuk kebutuhan air domestik sebesar 85% adalah
13.982.502,13 m3/tahun.
Jumlah total keseluruhan kebutuhan air (WU) di wilayah penelitian adalah sebesar
23.469.354 m3/tahun.
Berdasarkan hasil pengukuran kedalaman muka air tanah dangkal di lokasi penelitian
yang diketahui berkisar antara 0,5 – 5 m dari muka tanah setempat, kemudian di
konversikan dengan elevasi di lokasi penelitian lalu dapat digambarkan kontur ketinggian
muka air tanah tersebut dari permukaan air laut (pada lampiran peta).
Dari gambar tersebut diketahui bahwa arah aliran air tanah relatif dari selatan
kemudian ke utara dan ke timur, menuju ke Selat Madura.