0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan5 halaman

Bab 1 Dan Bab 3

Makalah

Diunggah oleh

Tri Indah Moulina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan5 halaman

Bab 1 Dan Bab 3

Makalah

Diunggah oleh

Tri Indah Moulina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

Bidang epidemiologi lebih fokus pada pencegahan dan pengendalian


penyakit bukan pada teknik pengobatan sekunder dan tersier yang ada dalam ilmu
pengobatan tradisional. Pencegahan dalam arti sempit berarti mencegah
perkembangan penyakit yang akan mewujud di masa depan. Dalam arti luas
pencegahan terdiri dari semua langkah termasuk terapi definitif. Pengertian
pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum
kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah pencegahan, haruslah didasarkan
pada data atau keterangan yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau
hasil pengamatan atau penelitian epidemiologi.1

Upaya preventif/pencegahan adalah sebuah usaha yang dilakukan individu


dalam mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Prevensi secara
etimologi berasal dari bahasa latin, praevenire, yang artinya datang sebelum atau
antisipasi, atau mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang sangat
luas, prevensi diartikan sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah
terjadinya ganggguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat.
Upaya pencegahan penyakit telah dilakukan sejak zaman prasejarah. Misalnya, di
Negara Cina pada sekitar 2000 tahun SM telah dilakukan pencegahan terhadap
penyakit variola hingga pada saat itu timbul ungkapan “seorang dokter yang baik
bukan menyembuhkan orang sakit, tetapi menyembuhkan orang sehat“.2

Pencegahan penyakit ini berkembang terus dan pencegahan tidak hanya


ditujukan pada penyakit infeksi saja, tetapi pencegahan penyakit non-infeksi,
seperti James Lind yang menganjurkan makanan sayur dan buah segar untuk
mencegah penyakitscorbut. Bahkan, pada saat ini pencegahan dilakukan pada
fenomena non-penyakit, seperti pencegahan terhadap ledakan penduduk dengan
keluarga berencana. Pencegahan yang efektif dan praktek control merupakan fitur
penting dari perlindungan masyarakat, dengan demikian dapat meningkatkan
keselamatan dan meningkatkan kesehatan masyarakat.3

Pencegahan mencegah perkembangan penyakit yang akan bermanifestasi


di masa depan. Ini terdiri dari semua langkah, termasuk terapi definitif, yang
membatasi perkembangan penyakit. Ada tiga tingkat pencegahan, primer,
sekunder, dan tersier yang beroperasi pada suatu kontinum tetapi dapat tumpang
tindih dalam praktek. Pencegahan primer mendahului penyakit atau disfungsi.
Intervensi pencegahan primer termasuk promosi kesehatan, seperti penyuluhan
kesehatan tentang faktor risiko penyakit jantung, dan perlindungan khusus, seperti
imunisasi terhadap hepatitis B. Tujuannya adalah untuk mengurangi kerentanan
individu atau populasi terhadap penyakit atau disfungsi. Pencegahan sekunder
berkisar dari menyediakan kegiatan skrining dan mengobati tahap awal penyakit
untuk membatasi cacat dengan mencegah atau menunda konsekuensi penyakit
lanjut. Pencegahan tersier terjadi ketika cacat atau cacat permanen dan tidak dapat
diubah. Proses ini melibatkan meminimalkan efek penyakit dan kecacatan dengan
kegiatan pengawasan dan pemeliharaan yang ditujukan untuk mencegah
komplikasi dan kerusakan. Pencegahan tersier berfokus pada rehabilitasi untuk
membantu orang mencapai dan mempertahankan tingkat fungsi yang optimal
terlepas dari kondisi penonaktifannya.4

Usaha pencegahan penyakit secara umum dikenal berbagai strategi


pelaksanaan yang tergantung pada jenis, sasaran serta tingkat pencegahan. Dalam
strategi penerapan ilmu kesehatan masyarakat dengan prinsip tingkat pencegahan
seperti tersebut di atas, sasaran kegiatan diutamakan pada peningkatan derajat
kesehatan individu dan masyarakat, perlindungan terhadap ancaman dan gangguan
kesehatan, penanganan dan pengurangan gangguan serta masalah kesehatan, serta
usaha rehabilisasi lingkungan.4

Tujuan pencegahan penyakit adalah menghalangi perkembangan penyakit


dan kesakitan sebelum sempat berlanjut. Sehingga diharapkan upaya pencegahan
penyakit ini mampu menyelesaikan masalah kesehatan di masyarakat dan
menghasilkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
BAB III

KESIMPULAN

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan akan sesuai dengan


perkembangan patologis penyakit itu dari waktu ke waktu, sehingga upaya
pencegahan itu di bagi atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.
Dalam epidemiologi dikenal ada empat tingkat utama pencegahan
penyakit, yaitu :
 Pencegahan tingkat awal (Priemodial Prevention)
 Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
 Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
 Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
Salah satu teori public health yang berkaitan dengan pencegahan timbulnya
penyakit dikenal dengan istilah 5 Level Of Prevention Against Diseases. Leavel dan
Clark dalam bukunya Preventive Medicine For The Doctor In His Community
mengemukakan adanya tiga tingkatan dalam proses pencegahan terhadap
timbulnya suatu penyakit. Kedua tingkatan utama tersebut meliputi hal-hal sebagai
berikut :
 Fase sebelum sakit
Fase pre-pathogenesis dengan tingkat pencegahan yang disebut
pencegahan primer (primary prevention). Fase ini ditandai dengan adanya
keseimbangan antara agent (kuman penyakit/ penyebab), host (pejamu) dan
environtment (lingkungan).
 Fase selama proses sakit
Fase pathogenesis, terbagi dalam 2 tingkatan pencegahan yang disebut
pencegahan sekunder (secondary prevention) dan pencegahan tersier (tertiary
prevention). Fase ini dimulai dari pertama kali seorang terkena sakit yang
pada akhirnya memiliki kemungkinan sembuh atau mati.
Pada dasarnya ada 4 tingkat pencegahan penyakit secara umum, yakni
pencegahan tingkat dasar (primordial prevention), pencegahan tingkat pertama
(primary prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus,
pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosis dini
serta pengobatan yang tepat, dan pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention)
yang meliputi pencegahan terhadap terjadinya cacat dan terakhir adalah rehabilitasi.
Penanggulangan penyakit menular (control) adalah upaya untuk menekan
peristiwa penyakit menular dalam masyarakat serendah mungkin sehingga tidak
merupakan gangguan kesehatan bagi masyarakat tersebut. Penanggulangan
penyakit menular dapat pula dikelompokan pada tiga kelompok sesuai dengan
sasaran utamanya yang meliputi: sasaran langsung melawan sumber penularan atau
reservoir, sasaran ditunjukan pada cara penularan penyakit, dan sasaran yang
ditunjukan terhadap pejamu dengan menurunkan kepekaan pejamu.
DAFTAR PUSTAKA

1. Noor, Nur Nasry. 2016. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta:


Rineka Cipta.
2. Notosoedirdjo & Latipun. 2015. Kesehatan Mental, Konsep, dan Penerapan.
Jakarta: UMM Pres.
3. Loveday.dkk. 2015. National Evidence-Based Guidelines for Preventing
Healthcare Associated Infections in NHS Hospitals in England. Journal of
Hospital Infection. Vol 86: hal 1.
4. Irhuma, Amer Eltwati B. 2015. Foundations for Health Promotion Levels of
Prevention. Sebha Medical Journal.Vol. 8(2).

Common questions

Didukung oleh AI

Implementing disease prevention strategies faces several challenges, including variability in resources, socio-economic disparities, healthcare infrastructure, and public awareness. Primary prevention might be hindered by a lack of education on healthy lifestyles, while secondary prevention depends on the availability of screening programs and access to early treatment. Tertiary prevention can be challenged by insufficient rehabilitation services and support systems for chronic conditions, necessitating targeted policy and resource allocation to address these barriers .

Disease prevention has evolved from ancient practices focused on preventing specific diseases, like variola in ancient China, to modern strategies that encompass a wide range of interventions aimed at both infectious and non-infectious diseases. Today’s prevention strategies are informed by epidemiology and include a structured approach through primary, secondary, and tertiary levels, reflecting an understanding of disease etiology, transmission, and public health impact. This evolution has been driven by advancements in scientific knowledge and public health policy .

Different levels of prevention are crucial for addressing various stages of disease progression. Primordial and primary prevention aim to reduce the risk of disease development, secondary prevention focuses on early detection and intervention to slow progression, and tertiary prevention helps manage long-term impacts and complications. This structured approach allows for targeted strategies that improve health outcomes and efficiently allocate resources across varying health needs in the population .

Primary prevention integrates with public health goals by adopting measures that avert the occurrence of disease and enhance population health through health promotion and specific protection measures. It aims to reduce disease incidence by addressing risk factors and intervening before health effects occur. This aligns with public health objectives of improving health outcomes, reducing healthcare costs, and enhancing environmental and social factors that support health .

Epidemiology has significantly influenced modern disease prevention by emphasizing systematic data collection and analysis to guide preventive measures. It has broadened the focus beyond infectious diseases to include chronic and lifestyle-related conditions, and has been instrumental in developing structured prevention levels—primordial, primary, secondary, and tertiary. Through research and surveillance, epidemiology provides the evidence base for effective public health policies and interventions .

Early detection in secondary prevention is crucial because it allows for timely intervention which can halt or reverse disease progression, reduce severity, and prevent complications. It involves screening programs and early diagnosis, which lead to better management and potential reduction in disease prevalence and healthcare costs. This approach also increases the chances of successful treatment and enhances the individuals' quality of life .

Effective disease prevention in public health involves multiple strategies including health promotion, specific protection, early diagnosis and treatment, disability limitation, and rehabilitation. Public health focuses on promoting healthier lifestyles, providing vaccinations, conducting screenings for early detection, ensuring prompt treatment to limit the progression of diseases, and rehabilitating affected individuals to regain optimal functioning. The implementation of these strategies depends on understanding each disease's epidemiology and the socio-economic context .

Epidemiology recognizes four levels of disease prevention: primordial, primary, secondary, and tertiary. Primordial prevention focuses on avoiding the emergence of risks that lead to disease by modifying social policies, such as promoting healthy lifestyles to prevent cardiovascular diseases. Primary prevention involves interventions before the disease occurs, such as health promotion and specific protection like immunization. Secondary prevention targets early disease stages, focusing on early diagnosis and prompt treatment to halt disease progression. Tertiary prevention aims at reducing disability and assisting rehabilitation in individuals with established disease, minimizing its impact .

Rehabilitation in tertiary prevention is vital for helping individuals with chronic diseases or disabilities regain optimal function and enhance their quality of life. It aims to minimize the impact of long-term health conditions by offering support that enables individuals to lead productive lives despite their limitations. This contributes to public health by reducing dependency, lowering healthcare costs, and improving the overall health and well-being of the population .

In epidemiology, prevention is primarily about anticipatory actions to avoid the onset of disease, focusing on data-driven efforts to prevent rather than treat diseases. Epidemiologists implement various strategies at different prevention levels to manage public health risks. Traditional medicine often emphasizes secondary and tertiary care, dealing more with treatment after the onset of disease. While both aim to improve health, epidemiology emphasizes prevention across whole populations, whereas traditional medicine often focuses on individuals and existing conditions .

Anda mungkin juga menyukai