Anda di halaman 1dari 27

Referat

GANTUNG DIRI

Disusun oleh :

DWIPA DHURANDHARA
SARTIKA
IRA WIDYA JAHRI
R. DWI JLLY RAHAYU
YEGI ESTU RISUNANG

Pembimbing :

AKBP. dr. Khodijah, MM.

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


FKJ ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD - RS BHAYANGKARA PEKANBARU
2018
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..........................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................2
1.3.1 Tujuan Umum...........................................................................................2
1.3.2 Tujuan Khusus..........................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan..............................................................................................2
1.5 Metode Penulisan...............................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................3
2.1 Definisi Gantung Diri.........................................................................................3
2.2 Epidemiologi......................................................................................................4
2.3 Klasifikasi..........................................................................................................5
2.4 Mekanisme dan Penyebab..................................................................................7
2.5 Metode-Metode Gantung Diri............................................................................7
2.6 Tanda Gantung Diri..........................................................................................14
2.6.1 Pemeriksaan di Tempat Kejadian Perkara.............................................15
2.6.2 Perbedaan Penggantungan Ante Mortem dan Post Mortem..................16
2.7 Pemeriksaan Jenazah Korban Asfiksia............................................................17
2.7.1 Pemeriksaan Luar...................................................................................17
2.7.1 Pemeriksaan Dalam................................................................................18
2.7.3 Penampakan Otopsi pada Gantung Diri.................................................18
BAB III LAPORAN KASUS.................................................................................20
BAB IV PEMBAHASAN......................................................................................22
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................24
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT karena atas
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan referat ini yang
diajukan sebagai salah satu syarat untuk ujian Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran
Forensik dan Legal Fakultas Kedokteran Universitas Riau. Adapun judul referat ini
adalah “Gantung Diri”
Dalam menyelesaikan referat ini, Penulis banyak menerima bantuan dan
dorongan baik moral maupun material dari berbagai pihak, untuk itu pada
kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, Penulis ingin mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada dokter-dokter pembimbing di RSUD Arifin
Achmad Provinsi Riau dan RS Bhayangkara Pekanbaru. Penulis mengharapkan kritik
dan saran yang membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan penulisan referat
ini. Semoga referat ini dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan di bidang
Ilmu Kedokteran Forensik dan Legal Fakultas Kedokteran Universitas Riau.

Pekanbaru, 1 Oktober 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Gantung diri merupakan cara kematian yang paling sering dijumpai pada
bunuh diri. Tindakan bunuh diri dengan cara penggantungan sering dilakukan karena
dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, dapat menggunakan seutas tali, kain,
dasi atau bahan apa saja yang dapat melilit leher. Demikian pada pembunuhan atau
hukuman mati dengan cara penggantungan yang sudah digunakan sejak zaman dulu.
Penggantungan (hanging) adalah penyebab kematian asfiksia yang paling sering
ditemukan.1
Gantung diri adalah salah satu bentuk penjeratan yang melibatkan gantungan
pada bagian leher. Beberapa jurnal mengatakan bahwa gantung diri meliputi kompresi
atau tekanan di sekitar struktur leher oleh penjerat yang terletak di sekitar leher dan
mengikat struktur di dalamnya dengan bantuan seluruh atau sebagian berat tubuh.
Pada kenyataannya, keseluruhan berat tubuh bukanlah poin utama dan hanya
dibutuhkan sedikit gaya untuk menyebabkan kematian pada gantung diri.2
Di India, dari tahun 1997-2000, didapatkan kematian akibat gantung diri
sebesar 3,4%. Gantung diri yang diakibatkan oleh bunuh diri lebih sering ditemukan
pada jenis kelamin laki-laki, tetapi kematian yang disebabkan oleh kekerasan
strangulasi lebih dominan ditemukan pada wanita. Di Istanbul, Turki, 537 dari semua
kasus gantung diri adalah laki-laki (70,56%) dan 224 adalah wanita (29,44%). 2 Jika
dilihat dari faktor umur, insidens penggantung lebih sering terjadi pada dewasa muda.
Di India misalnya, kematian akibat penggantungan paling sering ditemukan pada
kelompok umur 21-25 tahun, insidens penggantungan yang paling tinggi adalah pada
kelompok umur 20-39 tahun.1 Data statistic mengenai frekuensi dan distribusi variasi
kasus gantung diri di Indonesia masih sangat langka. Penelitian tentang gantung diri
di Indonesia juga masih terbatas jumlahnya. Data yang dihimpun dari Polda Metro
Jaya diketahui bahwa pada tahun 2009 ada 90 kasus gantung diri, tahun 2010 ada 101
kasus dan tahun 2011 ada 82 kasus gantung diri.3
Kasus gantung diri hampir sama dengan penjeratan. Perbedaannya terletak
pada asal tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkaran jerat. Pada penjeratan
tenaga tersebut datang dari luar, sedangkan pada kasus gantung tenaga tersebut
berasal dari berat badan korban sendiri, meskipun tidak seluruh berat badan
digunakan. Dalam rutinitas medikolegal, perbedaan keduanya penting karena kasus
gantung diri dianggap bunuh diri sehingga dibuktikan sebaliknya, manakala kasus
penjeratan dianggap pembunuhan.4

1.2 Rumusan masalah


Tujuan penulisan referat ini adalah untuk memenuhi tugas kepaniteraan Klinik
di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru dan
untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa mengenai gantung diri.

1.3 Tujuan penulisan


1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui dan memahami mengenai gantung diri.
1.3.2 Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui jenis-jenis gantung diri
b. Untuk mengetahui gantung diri dari perspektif medis dan forensik
c. Sebagai salah satu syarat mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Riau.

1.4 Manfaat penulisan


Referat ini diharapkan dapat menambahkan pengetahuan penulis mengenai
gantung diri.
1.5 Metode penulisan
Metode penulisan pada referat ini menggunakan metode tinjauan pustaka
dengan mengacu pada beberapa literatur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Gantung Diri


Gantung diri (hanging) merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada leher
akibat adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban. Temuan pada
pemeriksaan luar pada daerah kepala : Muka korban gantung diri akan mengalami
sianosis dan terlihat pucat karena vena terjepit. Selain itu, pucat pada muka korban juga
disebabkan terjepitnya arteri. Mata korban dapat melotot akibat adanya bendungan pada
kepala korban. Hal ini disebabkan terhambatnya vena-vena kepala tetapi arteri kepala
tidak terhambat. Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban terjadi akibat
pecahnya vena dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena asfiksia.5
Lidah korban penggantungan bisa terjulur, bisa juga tidak terjulur. Lidah
terjulur apabila letak jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea. Lidah
tidak terjulur apabila letaknya berada diatas kartilago tiroidea. Pada daerah leher alur
jeratan pada leher korban penggantungan berbentuk lingkaran (V shape). Anggota
gerak (lengan dan tungkai) ditemukan lebam mayat pada ujung bawah lengan dan
tungkai. Dubur dapat mengeluarkan feses dan alat kelamin dapat mengeluarkan mani,
urin. Lebam mayat dapat ditemukan pada genitalia eksterna.6
Gantung diri adalah suatu tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk
membunuh diri sendiri melalui suatu penggantungan. Ada beberapa definisi tentang
penggantungan. Penggantungan atau hanging adalah suatu keadaan dimana terjadi
konstriksi dari leher oleh alat jerat yang ditimbulkan oleh berat badan seluruh atau
sebagian.7 Pada hanging, kematian disebabkan oleh asfiksia akibat tersumbatnya
saluran napas, kongesti vena sampai menyebabkan pendarahan di otak, iskemik
serebral karena sumbatan arteri karotis dan vertebralis, shock vagal karena tekanan
pada sinus karotis yang mengakibatkan jantung berhenti berdenyut, dan fraktur atau
dislokasi tulang vertebra cervicalis 2 dan 3 yang menekan medulla oblongata dan
mengakibatkan terhentinya pernapasan.8

2.2 Epidemiologi
Kematian akibat asfiksia dapat disebabkan oleh kecelakaan, bunuh diri atau
pembunuhan. Dibandingkan dengan penyebab lain dari pembunuhan, angka kejadian
pembunuhan dikarenakan asfiksia relatif jarang terjadi. Gantung diri merupakan cara
kematian yang paling sering dijumpai pada strangulasi yaitu 90% dari seluruh kasus
di Amerika dan sepuluh tahun terakhir, kejadian strangulasi rata-rata 286 kasus per
tahunnya dan cederung menurun.9
Menurut data mengenai bunuh diri berdasarkan jumlah mayat yang diperiksa
di Bagian Kedokteran Forensik FKUI/RSUP Cipto Mangunkusumo, sepanjang
periode 1995-2004, angka bunuh diri di Jakarta mencapai 5,8%. Dari 1.119 korban
bunuh diri, 41% di antaranya gantung diri, 23% bunuh diri dengan minum obat
serangga dan sisanya 356 orang tewas karena overdosis obat-obatan terlarang.
Mayoritas kasus bunuh diri dilakukan oleh Laki-laki. Kasus bunuh diri di Jakarta itu
lebih disebabkan masalah psikologis, sosial dan ekonomi.8
Pada tahun 2008 di 56 negara berdasarkan data mortalitas World Health
Organization(WHO) ditemukan bahwa penggantungan merupakan metode bunuh diri
yang paling utama pada sebagian besar negara-negara tersebut.6 Di Amerika Serikat,
pada tahun 2005, the national centerfor injury, prevention and control melaporkan
13.920 kematan di seluruh Amerika Serikat akibat sufokasi, dengan angka rata-rata
4,63 per 100.000. Angka ini meliputi pula strangulasi dan hanging aksidental,
strangulasi dan suffokasi serta ancaman terhadap pernafasan aksidental lainnya.1
Penggantungan bunuh diri disetujui bersama lebih banyak laki-laki. Di Eropa
Timur (misalnya Polandia dan Romania), proporsi tertinggi kasus gantung diri lebih
banyak pada laki-laki, yaitu 90% sedangkan pada wanita 80%. Namun akhir-akhir ini
wanita lebih banyak memilih metode ini untuk melakukan bunuh diri dibanding
penggunaan senjata api dan racun. Sedangkan berdasarkan usia, kelompok remaja
melakukan tindakan bunuh diri akibat depresi dimana dapat memicu gantung diri.
Terdapat pula peningkatan insidensi accidental hanging karena “the chocking game”,
suatu strangulasi leher yang disengaja dalam rangka menikmati perubahan status
mental dan sensasi fisik. Pada kelompok usia muda, penyebab tersering adalah
penyerangan dan bunuh diri akibat depresi. Para narapidana sering memilih gantung
diri sebagai upaya bunuh diri karena ini merupakan satu dari sedikit metode yang
tersedia bagi mereka.8

2.3 Klasifikasi
Penggantungan dapat dikelompokkan berdasarkan posisi korban pada saat
gantung diri, yaitu terdiri dari :
1. Complete Hanging, yaitu posisi penggantungan di mana kedua kaki tidak
menyentuh lantai.

Gambar 1 Complete Hanging10

2. Partial Hanging, yaitu posisi penggantungan berupa duduk berlutut. Istilah ini
digunakan jika beban berat badan tubuh tidak sepenuhnya menjadi kekuatan
daya jerat tali. Pada kasus tersebut berat badan tubuh tidak seluruhnya
menjadi gaya berat sehingga disebut penggantungan parsial.
Gambar 2 Partial Hanging10

3. Berbaring, yaitu posis penggantungan sepeti ini biasanya dilakukan di bawah


tempat tidur.10

Gambar 3 Posisi Berbaring10

Selain berdasarkan posisi, penggantungan (hanging) juga dapat


dikelompokkan berdasarkan letak jerat, yaitu :10
1. Typical hanging, terjadi bila titik gantung terletak di atas oksiput dan tekanan
pada arteri karotis paling besar.
2. Atypical hanging, bila titik pengantungan terdapat di samping, di depan, dan
atau di dagu, sehingga leher dalam posisi sangat miring (fleksi lateral) yang
akan mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis. Saat
arteri terhambat, korban segera tidak sadar.

2.4 Mekanisme dan Penyebab


1. Kerusakan pada batang otak dan medula spinalis. Hal ini terjadi akibat
dislokasi atau fraktur vertebra ruas leher, misalnya pada judicial hanging
(hukum gantung). Terhukum dijatuhkan dari ketinggian 2 meter secara
mendadak dengan “menghilangkan“ tempat berpijaknya sehingga
mengakibatkan terpisahnya C2-C3 atau C3-C4, yang juga terjadi akibat
terdorong oleh simpul besar yang terletak pada sisi leher. Medula spinalis
bagian atas akan tertarik/teregang atau terputar dan menekan medula
oblongata. Kadang-kadang medula oblongata pada batas pons terputar
sehingga akan menyebabkan hilang kesadaran sedangkan denyut jantung dan
pernapasan masih berlangsung 10-15 menit.11
2. Asfiksia akibat terhambatnya aliran udara pernapasan.
3. Iskemia otak akibat terhambatnya aliran arteri-arteri.
4. Refleks vagal

2.5 Metode-metode Gantung Diri


Kebanyakan gantung diri merupakan penangguhan sendiri. Gantung diri ini
dapat terjadi dalam berbagai metode, tapi metode khusus pada penangguhan diri
sendiri adalah pelampiran pada tali tipis menuju titik tertinggi seperti balok langit-
langit atau tangga. Akhir yang lebih pendek dibentuk baik pada lingkaran tetap atau
sebuah simpul hidup, yang ditempatkan mengelilingi leher sementara niat bunuh diri
berdiri pada kursi atau penunjang lainnya. Pelompatan atau penendangan penunjang
tersebut, korban kemudian bertangguh dengan seluruh atau hampir seluruh pada berat
badannya di atas tali.9
Berbagai variasi dari gantung diri ini termasuk baik ligatur atau tingginya
penangguhan. Kawat, tali, tali piyama, ikat pinggang, tali selempang, selendang, dasi,
stocking, dan alat-alat lainnya dapat digunakan, tergantung kemampuannya. Di
penjara atau tahanan kepolisian pertimbangan kecerdikan mungkin dibutuhkan untuk
melawan usaha para tahanan untuk menggunakan segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk bunuh diri seperti : tali sepatu, kaos kaki, dan robekan seprai yang
telah digunakan di sel penjara.9
Penangguhan seringnya tidak cukup tinggi untuk menjaga kaki korban agar
secara jelas tidak menyentuh lantai. Biasanya, ketika seseorang melompat dari tempat
tumpuannya, regangan pada tali ligatur cukup untuk membiarkan kaki mencapai
tanah, tapi hal ini tanpa arti apa-apa akan mencegah hasil yang fatal. Berat tubuh
bagian atas bersandar pada jeratannya sering lebih dari cukup untuk menyebabkan
kematian.9
Gantung diri yang sukses dapat terjadi dari titik penangguhan rendah, dimana
seseorang hanya merosot dengan bagian berat tubuhnya pada ligatur. Gantung diri
dapat mengambil tempat dari titik gagang pintu, tiang ranjang, dan berbagai titik
termudah dengan keamanan yang kurang. Tubuh dapat merosot melawan pintu atau
tempat tidur atau kursi, dengan kaki dan bokong pada lantai, sehingga hanya berat
dada dan lengan berkontribusi pada tekanan fatal dengan jeratan. Satu contoh
“gantung diri” dilihat oleh penulis dapat secara sukses dicapai hanya dengan
menyandarkan leher menuju kurva dangkal dari tali jemuran pendek yang teregang
antara 2 titik di kebun.6
Tidak biasanya gantung diri karena bunuh diri merupakan kekejaman yang
secara cukup untuk merusak tulang belakang servikal untuk terjadi karena proses
penurunan yang terlalu pendek. Hanya khususnya karena membiarkan seseorang
melompat dari atap atau tempat tinggi lainnya dengan tali mengelilingi lehernya – di
sini cedera berat dapat terjadi, bahkan pemenggalan kepala jika talinya terlalu kuat.
Lebih sering lompatan dari loteng pintu jebakan atau sebuah pohon, cukup untuk
merusak vertebra atau sendi atlanto-oksipital.6
Gambar 4 Gantung diri dengan simpul tetap pada tali, terdapat segmen kulit yang
bebas dari tanda dimana tali naik melewati simpul. Ini merupakan bagian yang sering
pada pembunuh-bunuh diri pada rumah tangga.13

Gambar 5 Korban terlilit pada tali dan tergantung pada kran air ledeng (tidak
ditampilkan) dan terikat pada lingkaran dengan posisi duduk terdapat jejas pada leher
belakang.13
Gambar 6 Tanda gantung diri yang dalam menunjukkan posisi yang tinggi di bawah
dagu naik ke leher belakang. Bentuk spiral pada tali akan terlihat jelas pada kulit.13

Gambar 7 Tanda horizontal yang sempurna di sekeliling leher seorang pria yang
menggantungkan dirinya sendiri dari kursi tangga. Simpul hidup digunakan, yang
kencang pada tanda gantung diri tidak tampak.13
Gambar 8 Tanda gantung diri menunjukkan jejas kabel. Terdapat garis sentral abrasi,
dalam daerah yang pucat disebabkan oleh kompresi vaskular.13

Gambar 9 Posisi tanda gantung diri pada leher. (a) posisi biasa dengan leher
membengkok dan titik suspensi tinggi. Tanda setinggi jarak. (b) jika simpul hidup
digunakan, kekencangan jejas yang dalam untuk mencari lingkar terkecil pada leher,
dan mungkin lebih rendar dan lebih horizontal. (c) jika titik suspensi rendah dan
subjek menjauh, makan tanda dapat horizontal.13

Gambar 10 Gantung diri pada suspensi frontal. Tali kulit digunakan sehingga
kompresi tampak di sekitar perifer leher. Jejas logam pada rahang terlihat jelas.13

Gambar 11 Gantung bunuh diri dengan tali pada posisi frontal. Walaupun laring
tidak bisa dikompresi, kematian berdasarkan tekanan pada arteri karotis dan sinus.
Wajah pucat, dengan tidak disebut sebagai tanda asfiksia.13
Gambar 12 Punggung korban menunjukkan ikatan pada pergelangan tangan. Ini
tidak mengindikasikan pembunuhan rumah tangga, setidaknya pembunuhan tidak
dapat di aplikasikan sendiri. Beberapa orang yang melakukan pengerusakan diri akan
mencoba bahwa mereka tidak dapat menolong dirinya sendiri. Catatan pembunuhan
ditinggalkan dalam kasus ini.13

2.6 Tanda Gantung Diri


Tanda pada leher gantung diri dapat hampir selalu berbeda dari pencekikan.
Gambaran biasanya akan mengindikasikan fakta gantung diri, namun terkadang tali
akan putus, dan mayat ditemukan bekas cekikan di sekitar leher. Masih diragukan
apakah mayat tersebut digantung atau dicekik. Pencarian lokus untuk titik suspensi
dan tanda tali akan menjadi tugas penyidik.
Tanda gantung diri hampir tidak pernah ditemukan pada leher setidaknya
digunakan simpul hidup, kulit melewati lingkar penuh leher. Pada kebanyakan kasus
titik suspensi diindikasikan oleh jarak yang tertinggal pada kepala yang naik ke
simpul dan ke titik suspensi. Jarak ini biasanya terlihat pada satu atau sisi yang lain
pada leher atau leher belakang bagian tengah. Beberapa diantaranya sering di bawah
dagu. Simpul itu sendiri melewati kulit, khususnya jika pada sisi kepala, di atas tanda
anterior leher dimulai.8
Tanda gantung diri, bahan sudah dijelaskan sebelumnya pada strangulasi,
biasanya lebih dalam pada diameter sisi yang berlawanan. Seperti pencekikan, tanda
akan muncul, kecoklatan dan kering seperti konsistensi perkamen setelah kematian.
Dapat terlihat zona merah yang lebar baik di atas atau di bawah tanda pencekikan. Ini
bukan merupakan indikasi reaksi vital, sebagaimana dijelaskan dalam hubungan
pencekikan, tetapi berdasarkan kegagalan darah dari zona di bawah tekanan
maksimal.9

2.6.1 Pemeriksaan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memperkirakan cara kematian menggambarkan:9

Pembunuhan Bunuh diri


Alat penjerat :
Simpul Biasa simpul mati Simpul hidup
Jumlah lilitan Hanya satu Satu atau lebih
Arah Mendatar Serong ke atas
Jarak titik tumpu-simpul Dekat Jauh

Korban :
Jejas jerat Berjalan mendatar Meninggi ke arah simpul
Biasanya tidak ada
Luka-luka lain Ada,sering didaerah leher Mungkin terdapat luka
percobaan lain.
Jarak dari lantai Menjauh Dekat, tidak tergantung

TKP:
Lokasi Bervariasi Tersembunyi
Kondisi Tidak teratur Teratur
Pakaian Tak teratur, robek Baik dan rapi

Alat : Dari si pembunuh Berasal dari TKP


Surat peninggalan : - +

Ruangan : Tak teratur, terkunci.

2.6.2 Perbedaan Penggantungan Ante Mortem dan Post Mortem9


No. Ante Mortem Post Mortem
1 Tanda-tanda penggantungan ante Tanda-tanda post mortem
mortem bervariasi. Tergantung dari menunjukkan kematian yang bukan
cara kematian korban. disebabkan penggantungan
2 Tanda jejas jeratan miring, berupa Tanda jejas jeratan biasanya berbentuk
lingkaran terputus (non-continous) lingkaran utuh (continous), agak
dan letaknya pada leher bagian atas sirkuler dan letaknya pada bagian leher
tidak begitu tinggi
3 Simpul tali biasanya tunggal, terdapat Simpul tali biasanya lebih dari satu
pada sisi leher diikatkan dengan kuat dan diletakkan
pada bagian depan leher
4 Ekimosis tampak jelas pada salah satu Ekimosis pada salah satu sisi
dari jejas penjeratan. Lebam mayat penjeratan tidak ada atau tidak jelas.
tampak diatas jejas jerat dan pada Lebam mayat terdapat pada bagian
tungkai bawah. tubuh yang menggantung sesuai
dengan posisi mayat setelah
meninggal.
5 Pada kulit, ditempat jejas penjeratan Tanda parchmentisasi tidak ada atau
teraba seperti perabaan kertas tidak begitu jelas.
perkamen, yaitu tanda parchmentisasi.
6 Sianosis pada wajah, bibir, telinga dan Sianosis pada bagian wajah, bibir,
lain-lain sangat jelas terlihat terutama telinga dan lain-lain tergantung dari
jika kematian karna asfiksia penyebab kematian
7 Wajah membengkak dan mata Tanda-tanda pada wajah dan mata
mengalami kongesti dan agak tidak terdapat, kecuali jika penyebab
menonjol, disertai dengan gambaran kematian adalah pencekikan
pembuluh dara vena yang jelas pada (strangulasi) atau sufokasi
bagian kening
8 Lidah bisa terjulur atau tidak sama Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus
sekali kematian akibat pencekikan
9 Penis. Ereksi penis disertai dengan Penis. Ereksi penis dan cairan sperma
keluarnya cairan sperma sering pada tidak ada. Pengeluaran feses juga tidak
pria. Demikian juga sering ditemukan ada.
keluarnya feses.
10 Air liur. Ditemukan menetes dari Air liur tidak ditemukan yang menetes
sudut mulut, dengan arah yang pada kasus selain kasus
vertikal menuju dada. Hal ini penggantungan.
merupakan pertanda pasti
penggantungan ante-mortem.

2.7 Pemeriksaan jenazah korban asfiksia


2.7.1 Pemeriksaan luar11
a. Sianosis pada bibir, ujung jari, dan kuku.
b. Lebam mayat merah kebiruan tampak lebih gelap dan luas serta terbentuk
lebih cepat.
c. Busa halus pada hidung dan mulut.
d. Pelebaran pembuluh darah serta munculnya bintik-bintik perdarahan
(tardieu’s spot) pada konjungtiva bulbi dan palpebra.
e. Tanda-tanda kekerasan dan perlawanan :
Dapat ditemukan luka lecet sekitar jejas jerat, yaitu kulit mencekung
warna cokelat-kaku dengan gambaran sesuai pola permukaan tali, atau
sedikit perdarahan pada tepi jerat. Pada kasus jerat tampak mendatar,
melingkari leher, dan letaknya setinggi atau di bawah rawan gondok. Pada
kasus gantung typical, timbul hambatan total arteri sehingga muka tampak
pucat dan tidak ada petekie pada kulit atau konjungtiva. Namun, terdapat
pula kasus atipikal akan terjadi hambatan jalan nafas dan vena sehingga
terjadi bendungan di sebelah atas ikatan dan masih terdapat petekie pada
kulit-konjungtiva ; biasanya jejas gantung terletak lebih tinggi dibanding
jejas kasus jerat. Tanda intravital pada kasus ini berupa bula dan vesikel di
sekitar jejas. Selain itu, dapat dilihat bahwa lebam mayat pada kasus
gantung terletak di lengan bawah dan tungkai bawah.

2.7.2 Pemeriksaan Dalam11


a. Darah berwarna lebih gelap dan encer
b. Busa halus di saluran nafas
c. Perbendungan sirkulasi di seluruh organ tubuh sehingga organ menjadi
lebih gelap dan berat
d. Petekie (tardieus spot) pada mukosa organ dalam, yaitu oerikardium,
pleura viseral paru terutama pada aorta lobus dan busur, kelenjar tiroid,
kelenjat thymus, dan pielum ginjal
e. Edema paru
f. Kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan seperti resapan darah
pada luka, fraktur tulang lidah, frkatur laring.

2.7.3 ` Penampakan otopsi pada gantung diri11


Pada penampakan gantung diri, terdapat beberapa bahan untuk di catat.
Pertama, hipotesis post-mortem akan terdapat pada tungkai dan tangan jika tubuh
tersebut dalam posisi vertikal dan horizontal untuk beberapa waktu, beberapa atau
seluruh penampakan pola yang biasa. Perdarahan petekie merupakan pengecualian
dibandingkan peraturan, kebanyakan serial melaporkan hal tersebut sebanyak 25%
dari kasus. Beberapa perdarahan petekie muncul lebih sering pada suspensi tidak
komplit tetapi sering tampak pada kongesti signifikan. Kongesti sendiri lebih tidak
biasa dibandingkan wajah pucat.11
Pada jaringan leher mungkin sedikit ditemukan dengan adanya fraktur laring
atau perdarahan otot menjadi penemuan umum. Namun, literatur mengatakan rata-
rata gambar insidensi pada perdarahan jaringan lunak sekitar 20-45% dari kasus.
Fraktur pada kedua hioid dan tiroid terlihat.11
Menurut Simon, Amussat merupakan yang pertama mengobservasi kerusakan
pada arteri karotis intima dan media saat melakukan otopsi pada kasus gantung diri.
Kerusakan pada arteri karotik intima dan media, sering pada regio dari sinus,
mungkin terkadang terdapat diseksi yang hati-hati. Pada gantung diri dengan jatuh
dari ketinggian tinggi, kerusakan berat pada laring akan terlihat. Simon yang lain
menjelaskam dalam temuannya, dimana sering di observasi pada kasus gantung diri,
terutama pada torakal dan lumbal bawah.7
BAB III
LAPORAN KASUS

Seorang pria berusia 33 tahun dengan riwayat medis yang tidak diketahui
adalah seorang wiraswasta. Korban ditemukan terjerat tali pada posisi kepala
menyimpang ke kiri. Korban dilepaskan dari jerat tali dengan perlahan. Tidak ada
tanda-tanda vital yang ditemukan saat tiba di Rumah Sakit. Pada korban tidak sempat
dilakukan resusitasi, korban tidak dapat diselamatkan. Tidak ditemukan adanya
informasi tentang peralatan yang dibawa oleh korban. Pemeriksaan luar yang
dilakukan menunjukkan terdapat kaku mayat pada sendi besar dan sendi kecil yang
sukar dilawan. Lebam mayat terdapat pada tengkuk, pinggang, bokong, dan
selangkangan berwarna biru keunguan yang tidak hilang dengan penekanan. Pada
pemeriksaan juga ditemukan bintik-bintik perdarahan pada kedua kaki dan kebiruan
pada bibir, ujung kuku, dan jari. Luka-luka pada leher ditemukan luka lecet tekan
berwarna kehitaman dengan perabaan kertas seperti perkamen, berjalan mengelilingi
leher dengan deskripsi sebagai berikut
1. Luka lecet tekan pertama
a) Pada leher sisi depan tepat pada garis pertengahan depan, 3 cm di atas jakun
dengan lebar jejas 10 cm.
b) Pada leher samping kiri. 8 cm dari garis pertengahan depan. 6,5 cm di bawah
liang telinga dengan lebar jejas 0,2 cm.
c) Pada leher samping kanan, 8 cm dari garis pertengahan depan, 6,5 cm di
bawah liang telinga dengan lebar jejas 5 mm.
d) Pada leher sisi belakang tepat garis pertengahan belakang, 2 cm di atas batas
tumbuh rambut belakang, tampak kedua jejas bertemu dengan lebar jejas 0,7
cm.
2. Luka lecet tekan kedua
a) Tepat garis pertengahan depan, 1 cm di bawah jakun
b) Pada leher sisi kiri, 8 cm dari garis pertengahan depan, 10 cm di bawah liang
telinga dengan lebar jejas 0,2 mm
c) Pada leher sisi samping kanan, 8 cm dari garis pertengahan depan, 9 cm di
bawah liang telinga dengan lebar jejas 0,8 cm.
d) Pada leher kanan tampak jejas menghilang pada 5 cm dari garis pertengahan
depan, 5,5 cm di bawah liang telinga dengan lebar jejas 0,4 cm
e) Pada leher samping kiri jejas berlanjut ke kepala sisi belakang berakhir pada
satu koma lima sentimeter garis pertengahan belakang, 0,5 cm di atas batas
tumbuh rambut belakang.
f) Jarak luka lecet pertama dan kedua pada leher sisi depan adalah 3,5 cm.
Untuk analisis toksikologi menunjukkan bahwa tidak ada zat racun atau
alkohol yang ditemukan di spesimen darah atau urin. Penyebab kematian pada
mayat ini tidak dapat ditemtukan karena tidak dilakukan pemeriksaan bedah
mayat.
BAB IV
PEMBAHASAN

Gantung diri (Hanging) adalah salah satu bentuk dari penjeratan yang
melibatkan gantungan pada bagian leher. Gantung diri merupakan cara kematian yang
sering dijumpai pada kasus bunuh diri. Kasus gantung diri hampir sama dengan
penjeratan pada penjeratan tenaga dari luar, sedangkan pada kasus gantung tenaga
tersebut berasal dari berat badan korban tersendiri, meskipun tidak semua berat badan
digunakan. Gantung diri lebih banyak ditemukan pada laki-laki dari pada perempuan.
Sedangkan berdasarkan usia kelompok remaja lebih sering melakukan tindakan
bunuh diri yang disebabkan oleh depresi atau penyerangan. Gantung diri
dikelompokkan berdasarkan posisi korban yang terdiri dari complete hanging, partial
hanging, dan berbaring. Berdasarkan letak jeratnya terdiri dari typical dan atypical
hanging. Mekanisme dan penyebab gantung diri adalah karena kerusakan pada batang
otak dan medulla spinalis, asfiksia, refluks vagal. Alat-alat yang sering digunakan
pada metode gantung diri adalah kawat, tali, ikat pinggang, selendang, dasi, kaus
kaki.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Penatalaksanaan korban mati akibat gantung di mulai dari TKP. Gantung
dapat di bagi berdasarkan letak simpul yaitu atipikal dan tipikal, sedangkan
berdasarkan posisi tubuh gantung dibagi menjadi inkomplit dan komplit. Pada kasus
ini jenis gantung inkomplit karena posisi korban duduk dan kaki menyentuh lantai,
jenis simpul hidup yang terletak di bawah telinga, termasuk atipikal. Keadaan TKP
yang tenang, tempat untuk mengikatkan tali yang mudah dijangkau, alat untuk
menjerat kemungkinan didapatkan di TKP, riwayat korban yang menderita penyakit,
baru keluar dari penjara bisa menunjukkan korban mati karena bunuh diri. Dari
pemeriksaan luar korban khas atau lazim didapatkan pada korban gantung diri dan
pada pemeriksaan dalam ditemukan tanda yang lazim pada mati lemas (asfiksia).

5.2 Saran
1. Sebaiknya seorang dokter atau calon dokter mampu mengenali jenis-jenis
gantung diri, sehingga mampu melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Sebaiknya seorang dokter atau calon dokter tidak hanya mempelajari ilmu
kedokteran medis, tetapi juga memahami pemeriksaan forensik dan hukum
kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Badkur DS, Yadav J, Arora A, Bajpayee R, Dubey BP. Nomenclature for Knot
Position in Hanging: A Study of 200 Cases.J. Indian Acad Forensic Med. Jan-
March 2012, Vol. 34 No.1.
2. Sharma B.R, Harish D. Ligature Mark on the neck: How Informative? JIAFM
2005:27(1), p 10-15.
3. Felisiani T. Laporan wartawan Tribunnews.com : Gatung diri jadi trend 2009

hingga awal 2012. Rabu 7 Maret 2012 09.24 WIB. Diunduh dari :

http://m.tribunnews.com/2012/03/07//gantung-diri-jadi-trend-2009-hingga-

awal-2012.

4. Rajeev J, Ashok C, Hakumat R. Incidence and Medicolegal Importance of

Autopsy Study of Fracture of Neck Structure in Hanging and Strangulation.

Medico-Legal Update. October-December, 2007:7(4). P 105-130.

5. Leonardo. Asfiksia Forensik. Cited May 9th 2008.


6. Arun M. Methods of Suicide: A Medicolegal Perspective. JIAFM 2006 : 28
(1). P 22-26.
7. Budiyanto A. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik Edisi I. Jakarta. Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
8. Anonim. Tanatologi Dan Identifikasi Kematian Mendadak (Khususnya Pada
Kasus Penggantungan).http://fkuii.org/tikidownload_wiki_attachment.php?
attId=14, diakses pada 26 April 2011.
9. Mun’im, Abdul. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi pertama.
Dina Rupa Aksara. Jakarta.

10. Fikasari D. Gantung Diri (Hanging). Online. 2008. Diunduh dari:

http://sibermedik.files.com/2008/11/gantung_diri.pdf.
11. Buku ilmu kedokteran forensik bagian kedokteran forensik fakultas
kedokteran universitas riau hal.61-64 edisi pertama cetakan kedua, 1994.
12. Marcus P,Alcabes P.Characteristics of suicides by inmates in an urban jail.
Hosp Community Psychiatry 1993;44(3):256-61.
13. Knight B. Fatal masochism – accident or suicide. Med Sci Law
1979;12(2):118-20.