Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

GANTUNG DIRI (HANGING)

Wendy Ardiansyah, S.Ked. (702008038)


Dony Satya Nugraha, S.Ked. (702008042)

Pembimbing
dr. Binsar Silalahi, Sp.F, DFM, SH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2012
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

Oktober 2012
HALAMAN PENGESAHAN

Referat berjudul
Gantung Diri (Hanging)

Oleh:
Wendy Ardiansyah, S.Ked.
Dony Satya Nugraha, S.Ked.

telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kegiatan
Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Palembang

Palembang, Oktober 2012


Dosen Pembimbing

Dr. Binsar Silalahi, Sp. F, DFM, SH

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Semesta Alam, Allah SWT, atas nikmat dan
karunia-Nya. Sholawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW.
Penulis menghaturkan terima kasih kepada dr. Binsar Silalahi, Sp.F, DFM, SH
selaku Koordinator Pendidikan di Bagian Kedokteran Forensik yang telah
memberikan kesempatan bagi penulis untuk menimba ilmu dan ketrampilan di bagian
ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas bimbingannya selama pengerjaan
referat, yang berjudul Gantung Diri (Hanging), dan terakhir, bagi semua pihak yang
terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang tidak dapat penulis
sebutkan satu-persatu, penulis haturkan terima kasih atas bantuannya hingga referat
ini dapat terselesaikan. Semoga bantuan yang telah diberikan mendapatkan imbalan
setimpal dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa didalam referat ini masih banyak kekurangan baik
itu dalam penulisan maupun isi referat. Karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi sempurnannya referat ini. Penulis berharap referat ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, Oktober 2012

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii
KATA PENGANTAR . iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ............................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR.. vi
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
............................................................................................ 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Gantung Diri (Hanging) . 3
2.2. Epidemiologi Kasus Gantung Diri.............................................................. 3
2.3. Jenis-Jenis Gantung .. 4
2.4. Mekanisme Kematian Pada Gantung Diri 6
2.5. Cara Kematian Korban Gantung.. 8
2.6. Pemeriksaan Pada Korban Gantung .... 10
2.7. Perbedaan Gantung dan Jerat ...... 13
2.8. Perbedaan Gantung Antemortem dan Postmortem .. 14
2.9. Perbedaan Gantung diri dan Pembunuhan .................................................... 15
2.10. Temuan pada Pemeriksaan TKP Korban Gantung . 16
2.11. Pemeriksaan Autopsi dari Korban .............................................................. 17
2.12. Aspek Medikolegal Pada Pengantungan . 18
BAB III. KESIMPULAN
Kesimpulan 20
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1 Perbedaan Penggantungan dan Penjeratan.. 13


2.2 Perbedaan Gantung Antemortem dan Postmortem . 14
2.3. Perbedaan Gantung diri dan Pembunuhan ................................................... 15

DAFTAR GAMBAR
Gambar

Halaman

2.1 Typical Hanging ............................................... 4


2.2 Atypical Hanging..

2.3 Incomplete Hanging 5


2.4 Complete Hanging ..

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penggantungan (hanging) adalah penyebab kematian akibat asfiksia
yang paling sering ditemukan. Bagaimanapun, penggantungan juga
merupakan penyebab kematian yang paling sering menimbulkan persoalan
karena rawan terjadi salah interpretasi, baik oleh ahli forensik, polisi, dan
dokter non-forensik.1-2 Selain itu, penggantungan merupakan metode
bunuh diri yang sering ditemukan di banyak negara. Di Inggris, terdapat
lebih dari 2000 kasus bunuh diri dengan penggantungan dilaporkan setiap
tahun. Penggantungan baik akibat bunuh diri atau pembunuhan lebih
sering ditemukan di perkotaan. Di Amerika Serikat, pada tahun 2001,
dilaporkan terdapat 279 kematian yang disebabkan penggantungan yang
tidak disengaja dan strangulasi, dan 131 kematian akibat penggantungan,
strangulasi dan mati lemas.1-2
Penggantungan akibat bunuh diri lebih sering ditemukan pada lakilaki (2:1), namun kematian yang disebabkan oleh kekerasan strangulasi
lebih dominan ditemukan pada wanita.1 Di Istanbul, turki, 537 dari semua
kasus gantung diri adalah laki-laki (70,56%) dan wanita (29,44%). 1,3 Jika
dilihat dari faktor umur, insidens penggantungan paling sering ditemukan
pada dewasa muda. Di India misalnya, kematian akibat penggantungan
paling sering ditemukan pada kelompok umur 21-25 tahun, 4 sedangkan
Davidson dan Marshall (1986) melaporkan bahwa insidens penggantungan
yang paling tinggi adalah pada kelompok umur 20-39 tahun.1
Di Indonesia, data statistik mengenai frekuensi dan distribusi
variasi kasus
kasus gantung diri masih sangat langka. Sehingga penelitian tentang gantung diri
di Indonesia juga masih sangat terbatas jumlahnya. Hariadi dalam penelitiannya
tentang karakteristik gantung diri berdasarkan jenis kelamin dan umur, di RSUP
Dr.Sardjito Yogyakarta menunjukkan bahwa kejadian bunuh diri banyak terjadi

pada laki-laki dibanding perempuan, yaitu sebanyak 37 kasus. Berdasarkan usia,


pelaku gantung diri banyak dilakukan oleh usia 19-45 tahun.7
Gantung diri merupakan cara kematian yang paling sering dijumpai
pada bunuh diri, yaitu sekitar 90% dari kasus, walaupun demikian
pemeriksaan yang teliti tetap harus dilakukan untuk mencegah
kemungkinan lain (pembunuhan atau kecelakaan).4 Dengan demikian,
sangatlah

perlu

untuk

mengetahui

lebih

mendalam

mengenai

penggantungan (hanging) mengingat kasus ini merupakan penyebab


kematian akibat asfiksia yang paling sering ditemukan. Selain itu, dalam
aspek medikolegal, sebagai dokter yang memeriksa perlu memastikan
apakah kasus penggantungan tersebut merupakan tindakan bunuh diri,
pembunuhan, atau kecelakaan. Oleh karena itulah, pemahaman yang lebih
mendalam

mengenai

segala

sesuatu

yang

berkenaan

dengan

penggantungan sangat diperlukan agar seorang dokter dapat menjalankan


tugasnya dengan sebaik-baiknya dalam membuat terang suatu perkara
pidana, khususnya penggantungan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Gantung Diri (Hanging)
Terdapat beberapa definisi tentang penggantungan ( hanging ). Salah
satunya, yakni ; Penggantungan ( hanging ) adalah keadaan dimana leher
dijerat dengan ikatan, daya jerat ikatan tersebut memanfaatkan berat badan
tubuh atau kepala. Ada pula yang mendefinisikan sebagai suatu keadaan
dimana terjadi konstriksi dari leher oleh alat penjerat yang ditimbulkan oleh
berat badan seluruhnya atau sebagian. Dengan demikian berarti alat penjerat
sifatnya pasif,sedangkan berat badan sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi
pada leher. Kasus gantung hampir sama dengan penjeratan. Perbedaannya
terdapat pada asal tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkararan
jerat. Kematian karena penggantungan pada umunya bunuh diri. 1
2.2. Epidemiologi Kasus Gantung Diri
Pada tahun 2003, WHO mengungkapkan bahwa satu juta orang bunuh
diri setiap tahunnya. Bunuh diri merupakan satu dari tiga penyebab utama
kematian pada usia 15 - 34 tahun, selain karena kecelakaan. Menurut WHO,
pada tahun 2005 sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan bunuh diri
dan diperkirakan 150 orang di Indonesia melakukan bunuh diri setiap
hari. (2,3,4)
Angka bunuh diri di Jakarta sepanjang tahun 1995 - 2004 mencapai
5,8 per 100.000 penduduk. Mayoritas dilakukan oleh kaum pria. Dari 1.119
korban bunuh diri, 41% di antaranya gantung diri, 23% dengan minum racun
dan 356 orang sisanya karena overdosis obat terlarang. Gantung diri
merupakan cara kematian yang paling sering dijumpai pada penggantungan,
yaitu sekitar 90 % dari seluruh kasus.

2.3. Jenis-jenis Gantung


a. Menurut Letak Simpul
1) Typical hanging
Adalah peristiwa gantung yang terjadi bila titik gantung terletak di
atas daerah oksiput dan terjadi penekanan paling besar pada arteri karotis
dan vena jugularis.

Gambar 2.1 Typical Hanging


2) Atypical hanging
Adalah peristiwa gantung yang terjadi bila titik gantung terletak di
samping, sehingga leher dalam posisi sangat miring (fleksi lateral) yang
akan mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis. (7)

Gambar 2.2 Atypical Hanging


b. Menurut Posisi Tubuh
1) Incomplete hanging
Istilah yang digunakan jika berat tubuh tidak sepenuhnya menjadi
kekuatan daya jerat tali, misal pada korban yang tergantung dalam posisi
berlutut. Pada kasus tersebut, berat tubuh tidak seluruhnya menjadi gaya
berat sehingga disebut penggantungan parsial, akibatnya lebam mayat
terjadi pada tungkai atas bagian bawah dan jari-jari tangan sampai
pergelangan tangan. Namun, hal ini bergantung pada posisi korban.

Gambar 2.3 Incomplete

Hanging

2) Complete hanging
Istilah

yang

digunakan

jika

berat tubuh sepenuhnya menjadi kekuatan daya jerat tali, misal pada
korban dalam posisi seluruh tubuh menggantung di atas. Pada kasus
tersebut, berat tubuh seluruhnya menjadi gaya berat sehingga disebut
penggantungan total, akibatnya lebam mayat akan terjadi mulai dari jarijari kaki sampai 1/3 tungkai bagian bawah, jari-jari tangan sampai
pergelangan tangan, dan bagian lain seperti genitalia eksterna. (4,8)

Gambar 2.4
Complete

Hanging

2.4. Mekanisme Kematian Pada Gantung Diri


a. Kerusakan batang otak dan medula spinalis
Terjadi akibat dislokasi atau fraktur vertebra ruas leher, misal
pada judicial hanging (hukum gantung). Terhukum dijatuhkan dari
ketinggian dua meter secara mendadak dengan menghilangkan tempat
berpijaknya sehingga mengakibatkan terpisahnya C2-C3 atau C3-C4 yang
juga terjadi akibat terdorong oleh simpul besar yang terletak pada sisi
leher. Medula spinalis bagian atas akan tertarik atau teregang atau terputar
dan menekan medula oblongata. Kadang-kadang medula oblongata pada

batas pons terputar sehingga menyebabkan hilang kesadaran, tetapi denyut


jantung dan pernapasan masih berlangsung sampai 10-15 menit. Saat
otopsi sering ditemukan luka pada faring dan biasanya tidak ada
pembendungan, sedangkan arteri karotis terputar sebagian atau seluruhnya.
b. Asfiksia
Penyebab kematian yang paling sering, mengakibatkan proses
anoksik anoksia sampai terjadi iskemi karena terjadi sumbatan jalan napas
yang disebabkan oleh jerat tali yang menutupi jalan napas. Selain tekanan
pada trakea, sumbatan dapat disebabkan elevasi dan pergeseran lidah dan
atap rongga mulut ke posterior, yaitu bila jerat terletak di atas laring.
c. Iskemia otak
Terjadi akibat penekanan dan hambatan pembuluh darah arteri
yang mendarahi otak.
d. Reflek vagal
Perangsangan sinus karotikus menyebabkan henti jantung. Inhibisi
vagal sering diikuti fibrilasi ventrikel. Secara eksperimental pada binatang
yang dimanipulasi sehingga berada dalam keadaan obstruktif asfiksia,
setelah beberapa menit akan diikuti penurunan detak jantung, kemudian
setelah beberapa saat terjadi takikardi sampai mengakibatkan kematian.
e. Apopleksia (kongesti pada otak)
Tekanan pada pembuluh vena menyebabkan kongesti pembuluh
darah otak dan mengakibatkan kegagalan sirkulasi.
f. Kompresi pada arteri karotis
Karena letaknya sebagian tertutup oleh muskulus sternokleidomastoideus , arteri karotis mudah terhambat oleh kompresi langsung pada
bagian depan leher. Jika terjadi oklusi bilateral maka dapat segera
menimbulkan gangguan kesadaran karena suplai darah arteri ke otak oleh
sirkulasi vertebral tidak mampu mempertahankan fungsi korteks yang
tergantung oleh pasokan dari arteri serebri anterior dan media yang
merupakan cabang arteri karotis. Penekanan arteri karotis selama kurang
lebih 10 detik dapat menyebabkan hilang kesadaran. Apabila tekanan
dilepas, kesadaran akan kembali dalam 10-12 detik. Jika sirkulasi karotis
tersumbat secara total selama lebih dari 4 menit maka dapat terjadi
kerusakan otak irreversibel.
Arteri vertebralis lebih tahan terhadap tekanan langsung, tetapi
dapat

tersumbat

apabila

leher

difleksikan

atau

dirotasikan

berlebihan, seperti

kasus atypical

hanging.

Pada

kasus incomplete

hanging, vena jugularis juga tertutup, tetapi kepala tetap mendapat suplai
dari arteri vertebralis, sehingga wajah tampak sembab dan timbul petekie.
Demikian pula pada kasus gantung yang menggunakan jerat lebar dan
lunak. Sedangkan pada kasus dimana terjadi hambatan total arteri leher,
muka akan tampak pucat dan tidak terdapat petekie. Hal ini dapat
ditemukan pada kasus complete hanging, typical hanging, atau bila
penggantungan dilakukan dengan menggunakan jerat yang kecil dan
keras. (6,7,10,11)
2.5. Cara Kematian Korban Gantung
a. Kecelakaan
Kecelakaan (accidental hanging) dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1) Mati tergantung sewaktu bermain. Umumnya terjadi pada anak-anak
dan tidak membutuhkan penyidikan yang sulit karena biasanya kasus
sangat jelas, contoh tersangkut pada cabang batang pohon.
2) Mati tergantung sewaktu bekerja, contoh pekerja bangunan yang jatuh
3)

dari ketinggian dan tersangkut tali.


Auto-erotic hanging merupakan kasus penyimpangan seksual yang
menggunakan cara gantung untuk mendapatkan kepuasan, namun
korban terlambat mengendurkan tali atau sukar melepaskan diri.
Diperlukan

pemeriksaan

yang

teliti

dalam

mempelajari

dan

menguraikan tali-tali yang dipakai yang seringkali diikatkan pada


banyak tempat (ikatan pada daerah genitalia, lengan, tungkai, leher, dan
mulut) untuk mendapatkan orgasme.
b. Bunuh diri
Merupakan bentuk yang paling sering dari peristiwa gantung.
Sekitar 90 % dari seluruh kasus. Gantung diri dapat dilakukan dalam
posisi complete hanging, duduk, berlutut, atau berbaring. Alat yang
digunakan dapat berupa tambang, kabel listrik, sabuk, atau bahkan
sobekan pakaian seperti yang sering terjadi di penjara. Pada saat
korban menggantung dirinya, jerat biasanya tersangkut di atas laring
dan di bawah dagu.
Pada kematian akibat bunuh diri, korban umumnya menempatkan
jerat di leher dengan berdiri pada bangku atau benda lain untuk pijakan
guna meraih tali penjerat. Jerat akan menjadi kuat ketika korban

melangkah keluar dari pijakan sehingga tubuhnya tergantung bebas


dari lantai. Korban juga dapat melaksanakan niatnya dengan
tergantung pada posisi setengah berlutut dari posisi berdiri, jadi hanya
sebagian dari berat tubuh yang memperkuat simpul penjerat. Cara lain
adalah posisi duduk, menyandarkan badan dalam posisi terlungkup
atau terlentang dengan tali yang menahan kepala dari lantai.
c. Homicidal hanging
Pembunuhan dengan metode menggantung korban relatif jarang
dijumpai, cara ini dapat dilakukan bila korbannya anak-anak atau
orang dewasa yang dalam kondisi lemah, baik karena sakit, di bawah
pengaruh obat bius, alkohol, atau korban sedang tidur.
Selain tanda asfiksia, ditemukan juga luka-luka pada tubuh korban
seperti abrasi jari tangan, kulit siku atau pundak sebagai tanda-tanda
perlawanan. Agar pembunuhan dapat berlangsung, pelaku harus lebih
kuat dari korban. Alat penjerat biasanya sudah dipersiapkan oleh
pelaku atau bisa juga benda yang ada di sekitarnya. Dalam
melaksanakan niatnya, seringkali leher korban mendapat trauma dan
tidak jarang tampak luka lecet tekan berbentuk bulan sabit yang
berasal dari tangan pelaku; memar hebat dapat ditemukan pada
jaringan otot dan organ di dalam leher atau tulang lidah; kartilago
tiroid dapat patah karena tekanan yang hebat dari alat penjerat.
Semakin jauh jarak antara kaki korban dengan lantai, semakin kuat
dugaan pembunuhan; semakin dekat jarak antara simpul dengan tiang
tumpuan untuk menggantung, semakin kuat dugaan bahwa kasus yang
dihadapi adalah pembunuhan. Pembunuhan dengan laso merupakan
contoh yang baik untuk kasus homicidal hanging, yaitu setelah laso
menjerat leher korban, kemudian ditarik ke atas. (6)
2.6. Pemeriksaan Pada Korban Gantung
a. Pemeriksaan luar.
Kepala:
1) Muka sianotik (vena terjepit) atau muka pucat (vena dan arteri terjepit)
2) Tanda penjeratan pada leher. Hal ini sangat penting diperhatikan oleh
dokter, dan keadaannya bergantung kepada beberapa kondisi :

Tanda penjeratannya jelas dan dalam jika tali yang digunakan kecil
dibandingkan jika menggunakan tali yang besar. Bila alat penjerat
mempunyai permukaan yang luas, yang berarti tekanan yang
ditimbulkan tidak terlalu besar tetapi cukup menekan pembuluh
balik, maka muka korban tampak sembab, mata menonjol, wajah
berwarna merah kebiruan dan lidah atau air liur dapat keluar
tergantung dari letak alat penjerat. Jika permukaan alat penjerat
kecil, yang berarti tekanan yang ditimbulkan besar dan dapat
menekan baik pembuluh balik maupun pembuluh nadi; maka korban
tampak pucat dan tidak ada penonjolan dari mata.

Alur jerat : bentuk penjeratannya berjalan miring (oblik atau


berbentuk V) pada bagian depan leher, dimulai pada leher bagian
atas di antara kartilago tiroid dengan dagu, lalu berjalan miring
sejajar dengan garis rahang bawah menuju belakang telinga. Tanda
ini semakin tidak jelas pada bagian belakang.

Tanda penjeratan atau jejas jerat yang sebenarnya luka lecet akibat
tekanan alat jerat yang berwarna merah kecoklatan atau coklat gelap
dan kulit tampak kering, keras dan berkilat. Pada perabaan, kulit
terasa

seperti

perabaan

kertas

perkamen,

disebut

tanda parchmentisasi, dan sering ditemukan adanya vesikel pada tepi


jejas jerat tersebut dan tidak jarang jejas jerat membentuk cetakan
sesuai bentuk permukaan dari alat jerat.

Pada tempat dimana terdapat simpul tali yaitu pada kulit dibagian
bawah telinga, tampak daerah segitiga pada kulit dibawah telinga.

Pinggiran berbatas tegas dan tidak terdapat tanda-tanda abrasi


disekitarnya.

Jumlah tanda penjeratan. Kadang-kadang pada leher terlihat 2 buah


atau lebih bekas penjeratan. Hal ini menunjukkan bahwa tali
dijeratkan ke leher sebanyak 2 kali.

3) Tanda-tanda asfiksia.

Mata menonjol keluar; oleh karena pecahnya oleh bendungan kepala,


dimana vena-vena terhambat sedang arteri tidak.

Perdarahan berupa peteki tampak pada wajah dan subkonjungtiva;


pecahnya vena oleh bendungan dan meningkatnya permeabilitas
pembuluh darah akibat asfiksia.

Lidah menjulur; tergantung dari letak jerat. Bila tepat di kartilago


tiroid lidah akan terjulur sedang jika di atasnya lidah tidak akan
terjulur.

1 Air liur mengalir dari sudut bibir di bagian yang berlawanan dengan
simpul tali. Keadaan ini menunjukkan tanda pasti penggantungan antemortem.
2 Kedalaman dari bekas penjeratan menunjukkan lamanya tubuh
tergantung.
3 Jika korban lama tergantung, ukuran leher menjadi semakin panjang.
Anggota gerak
4 Lebam mayat dan bintik-bintik perdarahan terutama pada bagian akral
dari ekstremitas, sangat tergantung dari lamanya korban dalam posisi
tergantung.
5 Posisi tangan biasanya dalam keadaan tergenggam.

Dubur dan kelamin


6 Keluarnya mani, darah (sisa haid), urin dan feses akibat kontraksi otot
polos pada saat stadium konvulsi pada puncak asfiksia. Hai ini bukan
merupakan tanda khas dari penggantungan dan keadaan ini tidak selalu
menyertai penggantungan.
b. Pemeriksaan dalam.
Kepala
1) Tanda bendungan pembuluh darah otak

Leher
2) Jaringan yang berada dibawah jeratan berwarna putih, berkilat dan
perabaan seperti perkamen karena kekurangan darah, terutama jika mayat
tergantung cukup lama. Pada jaringan dibawahnya mungkin tidak terdapat
cedera lainnya.
3) Platisma atau otot lain disekitarnya mungkin memar atau ruptur pada
beberapa keadaan. Kerusakan otot ini lebih banyak terjadi pada kasus
penggantungan yang disertai dengan tindak kekerasan.
4) Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi
ataupun ruptur. Resapan darah hanya terjadi didalam dinding pembuluh
darah.
5) Fraktur tulang hyoid jarang terjadi. Fraktur ini biasanya terdapat pada
penggantungan yang korbannya dijatuhkan dengan tali penggantung yang
panjang dimana tulang hyoid mengalami benturan dengan tulang vertebra.
Adanya

efusi

darah

disekitar

fraktur

menunjukkan

bahwa

penggantungannya ante-mortem.
6) Fraktur kartilago tiroid jarang terjadi. Pada korban diatas 40 tahun, patah
tulang ini darap terjadi bukan karena tekanan alat penjerat tetapi karena
terjadinya traksi pada penggantungan.
7) Fraktur 2 buah tulang vertebra servikalis bagian atas. Fraktur ini sering
terjadi pada korban hukuman gantung
Dada dan perut
8) Perdarahan pada pleura, pericard atau peritoneum
9) Organ-organ dapat mengalami kongesti atau bendungan
2.7. Perbedaan Gantung Dan Jerat
Tabel 2.1 Perbedaan penggantungan dengan penjeratan : (12)

No

Kategori

Gantung

Jerat

1.

Letak jejas

Miring,
lingkaran tidak utuh,
letak di atas kartilago tiroid

Melintang,
lingkaran utuh, letak di
bawah/ di kartilago tiroid

2.

Pinggiran jejas

Batas tegas

Batas tidak tegas, memar

3.

Memar otot leher

Sedikit

Banyak

4.

Tulang hyoid

Sering patah

Jarang patah

5.

Arteri karotis

Rusak, bila dijatuhkan dari


ketinggian

Sering rusak

6.

Kartilago tiroid

Jarang patah

Sering patah

7.

Perdarahan

Hidung, mulut, telinga

Sering

8.

Wajah

Pucat, jarang ada bintik


perdarahan

Kongesti, ada bintik


perdarahan

9.

Tanda asfiksia

Tidak jelas

Jelas

10.

Air liur

Menetes dari mulut

Tidak ada

11.

Paru-paru

Sering ada bula emfisema

Jarang

12.

Inkontinensia urin
danfaeces

Jarang

Sering

13.

Cairan sperma

Sering ada di glans penis

Jarang

14.

Jaringan bawah jejas

Kecoklatan, keras,
mengkilat

Lunak, kemerahan

2.8. Perbedaan Gantung Antemortem dan Postmortem


Tabel 2.2 Perbedaan Gantung Antemortem dan Postmortem : (1,12)

No

kategori

ante mortem

post mortem

1.

Jejas

Miring, lingkaran terputus

Agak sirkuler, lingkaran


utuh

2.

Simpul tali

Tunggal, di samping

Lebih dari 1, di depan

3.

Wajah

Bengkak

Tidak ada, kecuali cekik


dan sufokasi

4.

Mata

Kongesti

Tidak ada, kecuali cekik


dan sufokasi

5.

Lidah

Terjulur/ tidak terjulur


sama sekali

Tidak, kecuali cekik

6.

Sianosis

Jelas

Tergantung sebab

7.

Ekimosis di sisi jerat

Jelas

Tidak jelas

8.

Liur

Menetes, arah vertikal

Tidak ada

9.

Penis

Ereksi dengan keluar


cairan sperma

Tidak ada

10.

Faeces

Sering keluar

Tidak ada

2.9. Perbedaan Gantung diri dan Pembunuhan


Tabel 2.3 Perbedaan Gantung Diri dan Pembunuhan

2.10. Temuan Pada Pemeriksaan TKP Korban Gantung


Pemeriksaan langsung di TKP membantu menentukan cara kematian.
Pada kasus gantung diri, dimana korban ditemukan biasanya tenang, dalam
ruang tersembunyi atau tempat yang sudah digunakan. Posisi korban yang
tergantung lebih mendekati lantai, pakaian korban rapi, sering ditemukan
surat peninggalan pada saku yang berisi alasan mengapa korban melakukan
tindakan tersebut. Pada leher, tidak jarang diberi alas sapu tangan atau kain
sebelum alat penjerat dikalungkan ke leher. Seringkali korban mengikat
tangannya ke belakang agar tidak berubah pikiran. Jumlah lilitan bisa saja
hanya satu kali; semakin banyak lilitan, dugaan bunuh diri semakin besar.
Simpul alat penjerat biasanya simpul hidup dan letak simpul dapat di mana
saja. Pemeriksaan di tempat kejadian perkara untuk memperkirakan cara
kematian memberikan gambaran:
a. Kasus pembunuhan
1) Alat penjerat
Simpul biasanya simpul mati
Jumlah lilitan hanya satu
Arah jeratan mendatar
Jarak titik tumpu ke simpul dekat
2) Korban
Jejas jerat berjalan mendatar

Terdapat luka perlawanan


Terdapat luka-luka lain, sering di daerah leher
Jarak dari lantai: jauh
3) TKP
Lokasi bervariasi
Kondisi tidak teratur
Pakaian tidak teratur, robek
Alat dari si pembunuh
Tidak ditemukan surat peninggalan
Ruangan tidak teratur, terkunci dari luar
b. Kasus bunuh diri
1) Alat penjerat

Simpul biasanya simpul hidup

Jumlah lilitan satu atau lebih

Arah jeratan serong ke atas

Jarak titik tumpu ke simpul: jauh


2) Korban

Jejas jerat berjalan meninggi ke arah simpul

Tidak terdapat luka perlawanan

Biasanya tidak ada luka, mungkin terdapat luka percobaan lain

Jarak dari lantai dekat, dapat tidak tergantung


3) TKP

Lokasi tersembunyi

Kondisi teratur

Pakaian rapi dan baik

Alat berasal dari yang ada di TKP

Ditemukan surat peninggalan

Ruangan terkunci dari dalam (7,10)

2.11. Pemeriksaan Autopsi dari Korban


Ada beberapa hal yang dapat kita jumpai pada pemeriksaan luar dan
dalam autopsi. Ada 5 bagian tubuh korban yang kita perhatikan saat
melakukan pemeriksaan luar autopsi, yaitu:
1.Kepala.
2.Leher.
3.Anggota gerak (lengan dan tungkai).
4.Dubur.
5.Alat kelamin.

Ada 4 bagian kepala korban yang kita perhatikan saat melakukan


pemeriksaan luar autopsi, yaitu:
1. Muka
2.Mata
3.Konjungtiva
4.Lidah
Lokasi luka pada leher korban penggantungan (hanging) dapat
berada di depan,samping dan belakang leher. Luka yang berada di
depan leher kita ukur dari dagu atau manubrium sterni korban. Luka yang
berada di samping leher kita ukur dari garis batas rambut korban. Luka
yang berada di belakang leher kita ukur dari daun telinga atau bahu
korban.
Jenis luka korban penggantungan (hanging) terdiri atas luka lecet,
luka tekan dan luka memar. Penting juga kita mendeskripsikan
mengenai warna, lebar, perabaan dan keadaan sekitar luka. Anggota
gerak korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya lebam
mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai. Penting juga kita ketahui ada
tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut.
2.12. Aspek Medikolegal Pada Pengantungan
Prosedur

mediko-legal

adalah

tata-cara

atau

prosedur

penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran


untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur mediko-legal
mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia,
dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika
kedokteran.
Ruang lingkup medikolegal dapat disimpulkan sebagai yang
berikut :
a. pengadaan visum et repertum,
b. tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka.
c. pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian
keterangan ahli di dalam persidangan,

d. kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran,


e. tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan
Medik ,
f. tentang kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik,
Setelah pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU No. 73
Tahun 1958 yang isinya menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1945
untuk seluruh Indonesia, maka suatu perbuatan tidak dapat dipidana,
kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang
telah ada, sesuai dengan ketentuan Pasal 1 KUHP.6
Penggantungan lebih sering terjadi pada kasus bunuh diri. Tetapi
tidak

menolak

kemungkinan

korban

penggantungan

mati

akibat

penganiayaan. Di sini lah dapat dilihat fungsinya dari satu perundangan


yang ditetapkan pada buku kedua KUHP Bab XIX tentang kejahatan
terhadap nyawa.
Pada kasus penggantungan, dokter forensik dipanggil untuk
membuat pemeriksaan lengkap sesuai dengan Pasal 133 KUHAP yang
menyatakan dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani
seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena
peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
dan atau ahli lainnya. Pada pasal 133 KUHAP (ayat 2 dan 3) menyatakan
permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
bedah mayat; dan mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat
identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu
jari kaki atau bagian lain badan mayat. Pernyataan ini menjadi dasar
pembuatan visum et repertum (laporan bertulis) pada kasus tindak
pidana.12

Salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada korban mati akibat


penggantungan adalah otopsi. Hal ini dapat membantu dokter forensic
untuk mengetahui mekanisme kematian sehingga dapat membantu
penyidik mengetahui cara kematian korban. Sesuai dengan Pasal KUHP
222 yang menyatakan barang siapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana
denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.12
Pada persidangan kasus pidana, dokter forensic akan dipanggil
sebagai saksi ahli. Sesaui dengan Pasal 179 ayat 1 KUHAP yang
menyatakan setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli
kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan
keterangan ahli demi keadilan.12

BAB III
KESIMPULAN
Penggantungan adalah keadaan dimana leher dijerat dengan ikatan,
daya jerat ikatan tersebut memanfaatkan berat badan tubuh atau kepala.
Dengan demikian berarti alat penjerat sifatnya pasif, sedangkan berat
badan sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi pada leher. Biasanya
multifaktorial: kepribadian,

faktor sosial

dan penyakit psikiatrik

memainkan peranan yang berbeda- beda. Penyakit fisik merupakan faktor


penting, terutama pada usia lebih tua. Gantung diri merupakan cara
kematian yang paling sering dijumpai pada penggantungan, yaitu sekitar
90% dari seluruh kasus, walaupun demikian pemeriksaan yang teliti tetap
harus dilakukan untuk mencegah kemungkinan lain. Dalam kasus hanging,
harus dapat dibedakan penyebab hanging dengan melihat ciri khasnya,
apakah hanging tersebut terjadi pada antemortem atau postmortem,ataupun
akibat pembunuhan atau bunuh diri.
Gantung diri merupakan cara kematian yang paling sering dijumpai
pada penggantungan, yaitu sekitar 90% dari seluruh kasus, walaupun

demikian pemeriksaan yang teliti tetap harus dilakukan untuk mencegah


kemungkinan lain.
1. Apakah kematian disebabkan oleh penggantungan ?
2. Apakah penggantungan tersebut merupakan bunuh diri, pembunuhan atau
kecelakaan? Hal tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa faktor di bawah ini
sebagai bahan pertimbangan:
a. Cara terjadinya penggantungan
b. Bukti-bukti tidak langsung di sekitar tempat kejadian
c. Tanda berupa jejas penjeratan
d. Tanda-tanda kekerasan atau perlawanan

DAFTAR PUSTAKA
1.

Munim, A.I dan Tjiptomartono, A.L.2008. Penerapan Ilmu


kedokteran forensik dalam proses penyidikan. Sagung Seto. Jakarta:
2. Budiyanto, A., et al, 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian
Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
3. Idris, Munim Abdul, 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik.
Penerbit Binarupa
Aksara. Jakarta.

4.

I d r i e s , A b d u l . 1 9 9 7 . Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. J a k a r t a :


B i n a R u p a Aksara.

5.

Dahlan, Sofwan. 2004. Ilmu Kedokteran Forensik : Pedoman Bagi Dokter


dan Penegak Hukum . Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
6.

Idries AM. Penggantungan. In: Idries AM, editor. Pedoman


ilmu kedokteran forensik. Edisi 1. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997.
p202-207.

7.

Chadha PV. Kematian Akibat Asfiksia. Dalam Ilmu Forensik


dan Toksikologi. Edisi kelima. Penerbit:Widya Medika

8.

Ernoehazy W. Hanging injuries and Strangulation. Online.


2011.
Available
from
URL:
http://emedicine.medscape.com/article/826704- overview#showall

9.

Ashari I. Penggantungan. Online. 2009. Available from URL:


http://www.irwanashari.com/2009/12/penggantungan.html

10.

Hariadi MB. Karakteristik Gantung Diri yang diperiksa di Instalasi Kedokteran


Forensik RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 1 November 2006 31

November 2009 (abstrak).

11.

Fikasari D. Gantung Diri (Hanging). Online. 2008. Available from URL:


http://sibermedik.files.wordpress.com/2008/11/gantung_diri.pdf

12.

Fikasari D. Gantung Diri (Hanging). Online. 2008. Available from URL:


http://sibermedik.files.wordpress.com/2008/11/ gantung_diri_ makalah
.pdf