Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

ILMU PRODUKSI ANEKA TERNAK


“Burng Walet”

Oleh:
I MADE JONI AWANTARA
O12116096

PROGRAM STUDI PETERNAKAN


JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peternakan sarang burung walet adalah industri yang istimewa dan sangat
penting untuk beberapa orang seluruh Indonesia terutama Hulu Sungai Utara.
Sarang burung walet terbuat dari air liur burung walet yang dianggap
mempunyai bermanfaat untuk kesehatan. Sarang tersebut biasanya digunakan
untuk membuat sop dan sebagian besar sarang yang menghasilkan di
Indonesia diekspor ke negara China terutama Hong kong.
Burung walet mula-mula membuat sarangnya di atap gua, sehingga
untuk mengambil sarang burung walet sangatlah sulit dan berbahaya. Burung
walet juga membuat sarang di dalam rumah-rumah yang kosong. Karena
budidaya burung walet di dalam rumah-rumah kosong adalah metode yang
sangat efektif untuk menghasilkan sarang tersebut, orang-orang mulai
membuat gedung khusus untuk budidaya sarang burung wallet.
Memiliki rumah / gedung walet ibarat punya harta karun yang tak akan
pernah habis. Namun pemilikan itu tak akan berhasil kalau pemilik tidak
menetapkan 5 prinsip persyaratan ilmu perwaletan dalam pengelolaannya.
Masing-masing adalah biologi, ekologi, geografi, meteorology, dan ekonomi
perwaletan. Kelima itu harus sejalan, saling mendukung, dan salingmelengkapi
pengelolaan.
Upaya mengelola walet gua dan walet rumah telah berlangsung sejak
puluhan tahun lalu di daerah jawa. Tujuannya agar populasi dan produksi sarang
walet terjaga lestari. Ini penting demi kelanjutan bisnis para pengusaha itu sendiri.
Bisnis sarang walet dengan pasaran langsung ke Cina telah berlangsung secara
tradisional dan turun temurun tempo dulu.
1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahi Taksonomi ,manajemen
pemeliharaan, reproduksinya dan Nilai ekonomi dari burung wallet.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Taksonomi Burung Walet


Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:
Superorder : Apomorphae
Order : Apodiformes
Family : Apodidae
Sub Family : Apodenae
Tribes : Collacaliini
Genera Species : Collacaliafuciphaga
Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial
dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran
tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing,
kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah
hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau
rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan
menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat
dan berbiak.

2.2 Manajemen Pemeliharaan


 Persyaratan Lokasi Sarang
Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:
a) Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
b) Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan
perkembangan masyarakat.

3
c) Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
d) Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai,
rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.
 Pedoman Teknis
a) Penyiapan Sarana Dan Peralatan
Suhu, Kelembaban dan Penerangan
Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan
penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-
26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %. Pengaturan kondisi suhu dan
kelembaban dilakukan dengan
1. Melapisi plafon dengan sekam setebal 2° Cm
2. Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.
3. Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu
lubang, berdiameter 4 cm.
4. Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.
Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari
goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap.
Suasana gelap lebih disenangi walet.
Bentuk dan Konstruksi Gedung
Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi
dari 10×15 m 2 sampai 10×20 m 2 . Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan
semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan
lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi.
Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari
campuran semen.
Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan
semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu
dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap
hari. Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-
kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat.

4
Atapnya terbuat dari genting. Gedung walet perlu dilengkapi dengan
roving room sebagai tempat berputar-putar dan resting room sebagai tempat untuk
beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20×20
atau 20×35 cm 2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan
dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding
lubang dicat hitam.

b) Penyiapan Bibit
Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja.
Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para
peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik
rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada
juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga
kecil sebagai bahan makanan burung walet. Berbicara ekolokasi aatau suara walet
ada juga peternak yang menggunakan suara buatan yang menyerupai suara burung
walet, namun jangan salah terkadang walet jga rish dan kabur dari sarangnya
akibat suara itu. Untuk menghindari hal itu bsa d cegah dengan mengganti suara
setiap bulanya,
a. Pemilihan bibit calon induk, Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang
diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk
memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan
menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini
dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali mencari
makan.

5
b. Perawatan bibit dan calon induk. Di dalam usaha budidaya walet, perlu
disiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat
diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan “panen cara
buang telur”. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang
dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya
diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk
memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskannya di dalam
sarang sriti.
 Memilih Telur Burung Walet
 Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari
 Putih kemerahan, berumur 6–10 hari
 Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari
 Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014×1,353 cm dengan berat
1,97 gram.
Ciri telur yang ekbaik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap
kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai : kantung udara yang
relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus
ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan
kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.
 Pemberian Pakan
Setiap hari walet dapat mengkonsumsi pakan sekitar 500 jenis serangga
yang berukuran 0,2-2,5 mm. Pakan tersebut di dapat dari areal persawahan,
kebun, dan lahan yang di tumbuhi tanaman. Kandungan zat pakan yang di
butuhkan walet antara lain Protein 55-60%, Energi 4.100 kkal, Lemak 14%,
Kalsium 0,15-0,25%, Fosfor 0,4-0,6%, dan serat Kasar 5-8%. Persentase kalsium
yang berfungsi sebagai unsur pembentuk tulang lebih sedikit dari pada fosfor
menyebabkan kaki walet lemah sehingga hanya bisa menggantung.
2.3 Repoduksinya
Walet berkembang biak sepanjang tahun. Musim berbiak ditandai dengan
banyaknya kawanan walet yang saling berkejaran dan mengeluarkan nyanyian
untuk menarik hati lawan jenisnya. Namun walet memilih musim kawin dan

6
berkembang biak menjelang musim hujan. Hal ini disebabkan populasi serangga
sebagai sumber makanan walet sangat melimpah pada musim ini. Kebanyakan
walet berkembang biak dua kali dalam setahun, yakni pada musim kemarau dan
musim hujan. Keberhasilan memancing walet juga didukung oleh faktor
musim.Musim berkembangbiak adalah waktu yg tepat untuk memancing
walet.Normalnya walet berkembangbiak sebanyak dua kali dalam setahun.
 Awal pebruari dan awal september walet mulai bertelur
 Awal-akhir maret dan oktober sebagian walet masih bertelur
 Mei-juli dan desember-pebruari walet muda mulai terbang
 Desember-pebruari dan juli-agustus walet muda memasuki fase reproduksi
dan walet muda mulai mencari pasangan dan kemungkinan menghuni
tempat baru.
Proses perkawinan biasanya berlangsung pada malam hari ketika walet telah
kembali ke dalam gua atau rumah burung walet. Namun, ada kalanya walet
melakukan perkawinan di udara. Setelah 5-8 hari masa perkawinan, walet betina
akan bertelur. Dalam satu kali masa bertelur, walet mampu menghasilkan dua
butir telur. Interval keluarnya telur pertama dan kedua berselang 2-3 hari.
Selanjutnya, telur-telur ini akan dierami selama 1 5-1 7 hari. Setelah menetas,
anak walet akan diasuh induknya sekitar 40 hari hingga siap terbang. Selanjutnya,
anak walet mencari serangga makanannya bersama-sama dengan induk dan
koloninya.
 Jenis-jenis burung Walet ( Spesies )
a. Walet Sarang Putih ( Aerodramus fuchipagus)
b. Walet Sarang Hitam ( Aerodramus maximus )
c. Walet Sarang Lumut ( Aerodramus vanikorensi )
d. Walet Gunung ( Aerodramus brevirostris )
e. Walet Sapi (Collocalia esculenta )
f. Walet Besar ( Hydrochous gigas )
 Habitat Burung Walet
a. Walet mempunyai habitat di daerah gelap (dark zone), daerah yang tidak
terjangkau paparan sinar matahari dengan suhu yang relatif stabil(24C – 27C).

7
b. Umumnya, burung walet banyak dijumpai di dalam gua-gua alam yang
dikelilingi hutan lebat.
2.4 Nilai Ekonomi
Yang paling dimanfaatkan dari burung wallet adalah sarangnya yang
terbuat dari air liurnya yang memiliki harga hingga puluhan juta rupiah tergantung
kualitas sarang tersebut.

8
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam membudidayakan burung walet tidak lah sulit, kita hanya perlu
menyediakan tempat yang tidak terjangkau paparan sinar matahari dengan suhu
yang relatif stabil(24C – 27C). Kemudian Hasil dari peternakan walet ini adalah
sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain
mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi dunia kesehatan.
Sarang walet berguna untuk menyembuhkan Paru paru panas dalam melancarkan
peredaran darah dan penambah stamina
Pakan alami berupa burung dan berbagai serangga yang ad di alam bebas,
namun perlu pakan tambahan seperti Protein 55-60%, Energi 4.100 kkal, Lemak
14%, Kalsium 0,15-0,25%, Fosfor 0,4-0,6%, dan serat Kasar 5-8%. Persentase
kalsium yang berfungsi sebagai unsur pembentuk tulang lebih sedikit dari pada
fosfor menyebabkan kaki walet lemah sehingga hanya bisa menggantung
3.2 Saran
Lebih diperhatikan manajemen dalam pemeliharaannya sehingga hasil
yang diperoleh juga baik.

9
DAFTAR PUSTAKA

Adiwibawa, E. 2000. Pengelolaan Rumah Walet. Yogyakarta. Kanisius.


Mardiastuti, A., Y. A. Mulyani, J. Sugarjito, L. N. Ginonga, I. Maryanto, A.
Nugraha dan Ismail. 1998. Teknik pengusahaan Burung Walet rumah,
pemanenan sarang, dan penanganan pasca panen. Laporan Riset Unggulan
Terpadu IV. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Dewan Riset
Nasional, Jakarta.
Marhiyanto, dkk. 1996. Budidaya Rumah dan Sarang Walet. Surabaya. Gitamedia
Press.
Susilorini,Tri Eko, 2010. Budidaya 22 Ternak Potensial, Jakarta: Penebar
Swadaya

10