Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Strategi Pilar pembangunan manusia bangsa Indonesia ke lima adalah


penyediaan pelayanan kesehatan dasar yang berkualitas. Kesehatan Fisik
dan Mental Masyarakat perlu di dukung oleh pemerintah dalam kehidupan
masyarakat dimana pemerintah memberikan jaminan kesehatan bagi setiap
lapisan masyarakat tanpa kecuali dan menyediakan sarana dan prasananya.
Pada 25-27 September 2015 dunia menyepakati 17 program
pembangunan berkelanjutan atau Suistanable Development Goals (SDGs).
Secara garis besar, 17 tujuan SDGs dapat dikelompokkan dalam empat pilar,
yakni pembangunan manusia, pembangunan ekonomi,pembangunan
lingkungan hidup, dan governance.
Pada tujuan ke tiga SDG`s adalah Akselerasi pemenuhan akses
pelayanan kesehatan ibu, anak, remaja, dan lanjut usia yang berkualitas serta
mempercepat perbaikan gizi masyarakat. Dalam mendukung percepatan hal
tersebut diperlukan suatu strategi diantaranya melalui program 1000 hari
pertama kehidupan yang diantaranya bertujuan untuk mencegah terjadinya
kematian bayi (AKB) dan kematian ibu (AKI).
ASI eksklusif adalah intervensi yang paling efektif untuk mencegah
kematian anak, namun menurut Survei Demografi Kesehatan tingkat
pemberian ASI eksklusif telah menurun selama dekade terakhir. Hari ini,
hanya sepertiga penduduk Indonesia secara eksklusif menyusui anak-anak
mereka pada enam bulan pertama. Ada banyak hambatan untuk menyusui di
Indonesia, termasuk anggota keluarga dan dokter yang tidak mendukung.
Beberapa ibu juga takut menyusui akan menyakitkan dan tidak praktis, tapi
salah satu kendala terbesar adalah kesalahpahaman dari istilah 'eksklusif'.
Melalui Peraturan Pemerintah No 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI,
secara resmi pemerintah menjamin pemberian ASI Eksklusif dan melarang
praktik atau upaya yang menghambat pemberian ASI. Mengacu pada
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
450/MENKES/SK/IV/2004 tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara
ekslklusif pada bayi menyatakan bahwa semua tenaga kesehatan yang
berkerja di sarana pelayanan kesehatan untuk menginformasikan kepada
semua ibu nifas untuk memerikan ASI secara eksklusif. Lebih lanjut dalam
peraturan tersebut menghimbau agar setiap pelayanan kesehatan memiliki
kebijakan untuk melakukan upaya untuk peningkatan pemberian ASI Eksklusif
pada bayi.
Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan masyarakat yang
paling utama di suatu wilayah kecamatan. Sesuai dengan fungsinya yang
termahtup pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2014 tentang
Puskesmas, bahwa Puskesmas bertanggung jawab secara keseluruhan pada
pembangunan kesehatan di wilayahnya. Dalam rangka mewujudkan derajat
kesehatan masyarakat yang optimal, maka kebijakan untuk
menyelenggarakan poli laktasi merupakan bagian dari kebijakan strategis
mencegah AKI dan AKB sehingga secara berkesinambungan mampu
mewujudkan tujuan dari SDG`s.
Untuk meningkatkan pelayanan yang bermutu dan berkesinambungan
maka perlu diupayakan untuk membuat pedoman atau standart dari
pelayanan poli laktasi. Diharapkan melalui pedoman ini UPT. Puskesmas
Wates dapat menyelengggarakan proses edukasi dan konseling ASI yang
sesuai dengan standart konseling ASI dan dapat diterima oleh ibu. Sehingga
proses motivasi ASI dapat berjalan secara komprehensif.

II. TUJUAN

a. Tujuan Umum
Terciptanya pelayanan poli laktasi yang komprehensif di Puskesmas
sebagai bagian dari kebijakan UPT. Puskesmas Wates untuk mengupayakan
promosi ASI.

b. Tujuan Khusus
1. Terselenggaranya pelayanan laktasi/menyusui yang sesuai.
2. Terselenggaranya promosi ASI pada masyarakat
3. Terlaksananya edukasi, konseling serta motivasi tentang ASI Eksklusif.

III. SASARAN PEDOMAN


1. Tenaga Gizi di UPT. Puskesmas Wates
2. Semua tenaga kesehatan di UPT. Puskesmas Wates.

IV. RUANG LINGKUP PEDOMAN

2
1. Kebijakan upaya untuk peningkatan pemberian ASI Eksklusif
2. Pelayanan promosi ASI
3. Pelayanan konseling, edukasi dan motivasi
4. Intervensi, monitoring dan evaluasi

V. BATASAN OPRASIONAL
1. Konseling ASI
Serangkaian kegiatan yang tersistematis untuk mengidentifikasi masalah atau
kesulita menyusui dan penyediaan rencana tindak lanjut untuk mendukung
suksesnya menyusui atau mempertahankan menyusui.

2. Edukasi ASI
Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memberikan informai tentang
manfaat asi dan prospek pemberian Asi baik untuk bayi ataupun ibu.

3. Motivasi ASI
Suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkat kepercayaan diri ibu agar
dapat mempertahankan proses menyusui.

4. Promosi ASI
Suatu kegiatan pemberian informasi satu arah yang bertujuan untuk
memaparkan tentang Asi eksklusif.

5. Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Merupakan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan
kesehatan

6. Konselor ASI
Tenaga kesehatan yang dilatih secara professional untuk dapat memberikan
konseling berkaitan dengan pemberian ASi secara eksklusif.

7. Inisiasi Menyusui Dini


Merupakan proses perlekatan bayi denganputing ibu segera setelah
persalinan dan dilakukan sebelum pemotongan tali pusar.

8. ASI Eksklusif
Merupakan pemberian ASI saja tanpa memberikan makanan atau minuman
apapun pada bayi.

9. Tenaga Kesehatan
Setiap orang yang mengabdikan diri di bidang kesehatan serta memiliki
kemampuan dan atau ketrampilan melalui pendidikan formal di bidang

3
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam
melakukan upaya kesehatan.

10. Relaktasi
Serangkaian proses untuk mengupayakan ibu untuk menyusui kembali.

11. Bonding
Merupakan ikatan antara ibu dan bayi yang merupakan bagian dari hubungan
psikologis anak dan ibu.

12. Pengamatan Menyusui


Merupakan serangkaian kegiatan untuk menilai kegiatan menyusui yang
meliputi pengamatan kesehatan secara umum ibu dan bayi, pengamatan
perlekatan bayi, posisi menyusui, kondisi payudara dan perasaan yang
dirasakan ibu pada saat kegiatan menyusui berlangsung.

VI. LANDASAN HUKUM

1. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan


2. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
3. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Azazi Manusia
4. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
5. UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
6. UU No. 7 Tahun 19996 tentang Pangan
7. UU No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan
8. UU No. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konfensi tentang Hak-Hak Anak
9. Keputusan Menkes RI No. 450/MENKES/SK/IV/2004 tentang Pemberian ASI
Secara Eksklusif Pada Bayi di Indonesia
10. Keputusan Menkes RI No. 237/MENKES/SK/IV/1997 tentang Pemasaran
Pengganti Air Susu Ibu
11. Peraturan Bersama MenagPP, Menakertrans dan Menkes tentang
Peningkatan Pemberian ASI Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja

4
BAB II
STANDART KETENAGAAN

I. KUALIFIKASI SUMBER DAYA


Tenaga pemberi pelayanan di Poli Laktasi diharapkan adalag tenaga
kesehatan terlatig yang telah mendapatkan pelatihan konselor ASI.
Pendidikan minimal D3 kesehatan dan memiliki kemampuan untuk melakukan
konseling yang baik.

Konselor ASI di UPT. Puskesmas Wates sekaligus sebagai penanggung


jawab poli laktasi sekaligus sebagai tenaga pelaksana konseling ASI yang
mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut :

a. Melakukan identifikasi masalah menyusui

b. Melakukan anamese terkait proses menyusui

c. Melakukan pemberian motivasi ASi

d. Melakukan upaya untuk meningkatkan kepercayaan ibu dalam hal


menyusui.

e. Melakukan pengmatan menyusui

f. Melakukan konseling, edukasi dan promosi tentang ASI

g. Melakukan rencana tindak lanjut

5
h. Melakukan perencanaan monitoring untuk memantau kemampuan ibu
dalam hal menyusui

i. Mengevaluasi kegiatan menyusui yang dilakukan oleh ibu apabila


memungkinkan dilakukan konseling untuk menentukan cara yang
terbaik dalam memecahkan masalah.

j. Melakukan sosialisasi tentang masalah yang dihadapi klien pada


keluarga terutama suami klien.

k. Melakukan penggalangan dukungan untuk mengidentifikasi peran


keluarga dalam mendukung pemberian ASI secara eksklusif.

II. DISTRIBUSI KETENAGAAN


Saat ini UPT. Puskesmas Wates memiliki 3 orang yang teratih konselor ASI,
yang berperan dalam mendukung kegiatan poli laktasi. Konselor ASI yang
ada 2 dari tenaga bidan dan 1 orang dari tenaga gizi. Dari 2 orang bidan
tersebut 1 bidan merupakan bidan kordinator KIA-KB dan 1 bidan merupakan
kordinator KIA-KB di unit puskesmas pembantu (pustu) Bancang.

Penanggung jawab poli laktasi adalah satu tenaga gizi yang telah
medapatkan pelatihan konselor ASI. Poli laktasi merupakan poli penunjang
yang proses asuhannya juga melibatkan asuhan gizi yang dibuat dari poli gizi
UPT. Puskesmas Wates.

III. JADWAL KEGIATAN


Poli Laktasi buka setiap hari senin-sabtu pada saat pelayanan pagi. Tidak ada
spesifikasi khusu layanan pada jam tertentu namun masyarakat juga dapat
mengakses penitipan ASI 24 jam di poli laktasi.

Tabel 1 . Keterangan Jadwal Pelayanan Poli Laktasi

No Pelayanan Hari Pukul

1 Pelayanan konseling ASI Senin- Sabtu 08.00 – selesai


2 Penitipan ASI Senin - Minggu 24 Jam

6
IV. PERAN DAN FUNGSI KETENAGAAN DI PUSKESMAS DALAM
PELAYANAN POLI LAKTASI
a. Dokter

Dokter sebagai penanggung jawab pelayanan kesehatan pasien sekaligus


Kordinator Poli Laktasi Puskesmas yang mempunyai tugas pokok dan
fungsi diantaranya melakukan anamesis, pemeriksaan fisik serta
menegakkan diagnose. Menentukan pilihan tindakan, terapi obat,
pemantauan, evaluasi, konseling penyakit serta melakukan rujukan.

b. Perawat/Bidan

Sebagai penanggung jawab asuhan keperawatan/kebidanan dan sekaligus


sebagai pelaksana asuhan keperawatan dan kebidanan yang memiliki
tugas pokok dan fungsi sebagai berikut :

1. Melakukan skrening awal dalam rangka membantu menentukan


apakah pasien/klien memerlukan konseling ASI

2. Bertanggung jawab pada asuhan keperawatan dan kebidanan bagi


pasien/klien.

3. Melakukan tindakan dan perawatan sesuai instuksi dokter.

4. Melakukan motivasi pasien dan keluarga agar pasien lebih percaya


diri menyusui.

5. Melakukan pemantauan dan evaluasi pemberian makanan kepada


pasien/klien.

c. Nutrisionist

Melakukan asuhan gizi pada pasien/klien, yang memiliki tugas pokok dan
fungus sebagai berikut :

1. Melakukan skrening antropometri dan menentukan status gizi.

2. Melakukan asuhan gizi dan menegakkan diagnose gizi.

7
3. Melakukan konseling terkait diet yang diperlukan untuk mendukung
proses menyusui.

4. Memberikan pemberian vitamin A dan tablet tambah darah (TTD)


pada ibu nifas dan ibu menyusui (busui).

5. Melakukan motivasi pada pasien dan keluarga terkait proses


menyusui.

6. Melakukan rencana pemantauan dan evaluasi pemberian ASI pada


pasien/klien.

d. Tenaga Farmasi

Menyediakan peralatan menyusui yang sekali pakai (disposable) seperti


spuit, pipa NGT untuk relaktasi, tissue, alcohol, minyak zaitun dan
perlengkapan lain terkait laktasi. Unit Farmasi bertanggung jawab juga
pada pemenuhan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga konselor ASI.

e. Securiti

Bertanggung jawab terhadap operasional kulkas ASI yang terintegrasi


dengan genset. Security juga membantu ibu untuk meletakkan dan
memberikan ASI perah yang dititipkan oleh ibu. Peran security ini dilakukan
di luar jam pelayanan pagi dan dilakukan setiap hari selama 24 jam.

8
BAB III
STANDART FASILITAS

I. DENAH RUANGAN
Mendukung kegiatan menyusui poli laktasi berada di sebelah poli KIA-KB dan
poli gizi. Berikut denah poli laktasi :

Gambar 1 Denah Poli Laktasi UPT. Puskesmas Wates

9
Poli laktasi UPT. Puskesmas Wates terletak di sebelah Poli Gizi. Letaknya
bersebelahan dengan poli DDTK. Poli Laktasi di tata dengan sangat terjaga
privasinya sehingga membuat ibu menjadi nyaman untuk menyusui. Luas
ruangan 3 x 6 M dengan ketinggian langit – langit 2,8 meter dengan atap
yang kokoh dan langit-langit tidak bocor dan tidak ditemukan adanya vector
Di bagian timur tembok ruangan laktasi terlihat lembab dan ditemukan jamur
tumbuh.Lantai berbahan granit dan tidak licin. Struktur tembok tidak berserat
dan mudah dibersihkan. Pintu dan jendela terbuka lebar dan terdapat tirai
yang mudah diatur untuk menjaga sisi privasi ibu yang menyusui atau yang
sedang menyusui bayinya. Ventilasi terjaga degan jumlah bukaan 15% dari
luas lantai ruangan. Tersedia kontak listri sebanyak 3 titik dan titik untuk
kulkas ASI terintegrasi dengan genset yang dapat dioperaiskan ketika listrik
padam.

II. STANDART ALAT


Untuk memenuhi pelayan di Poli Latasi beberapa peralatan dan perlengkapan yang ada dlaam
poli laktasi diantaanya sebagai berikut :

JUMLAH

PERALATAN
NO JENIS PERALATAN Jumlah Satuan

I. Set ASI
1. Breast pump 15 Set
2 Botol Asi 15 Botol

II. Ba han Habis Pakai


1 Set
1. Cairan Desinfektan Tangan

1 Set
2. Cairan Desinfektan Ruangan

15 Buah
3 Pipa Naso Gastrik Tube

10
15 Buah
4 Spuit 20 ml

1 Buah
5 Plester

2 Buah
6 Tisue Roll

III. P erlengkapan
1. Tempat Sampah Tertutup 2 Buah
2. Waskom 1 Buah
3. Waslap 5 Buah
4 Bantal Menyusui 2 Buah
5 Boneka 1 Buah
6 Leaflet ASI 1 Set
7 Poster 5 Buah

IV. M eubelair
1. Sofa 2 Buah
2. Meja untuk ganti popok bayi 1 Buah
3. Meja perlengkapan 1 Buah
4 Keranjang Bayi 2 Buah

v. Peralatan Electrik
1 Kulkas ASI 1 Buah
2 Inkubator bayi 1 Buah
3 Alat Sterilator 1 Buah
4 Penghangat ASI 1 Buah
5 Kipas Angin 1 Buah
6 Dispenser Air 1 Buah
7 Flash Disk 1 Buah

VI. Peralatan Tulis


1 Buku Tulis 4 Buah
2 Pulpen 2 Buah

11
3 Label 1 Set
4 Gunting 1 Buah

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. KONSELING ASI

Petugas pelayanan poli Laktasi adalah seorang konselor ASI. Konselor


Laktasi adalah seseorang (baik dari kalangan medis maupun nonmedis) yang
telah mengikuti pelatihan konselor laktasi berdasarkan modul 40 jam WHO.
Aspek konseling yang merupakan kegiatan utama dari seorang Konselor
Laktasi terdiri dari 2 komponen:

1. Mendengarkan dan menerima pendapat atau pandangan ibu tanpa


menghakimi; dan

2. Membantu ibu untuk menentukan pilihan yang terbaik berdasarkan


informasi relevan dan saran-saran yang telah diberikan oleh seorang
Konselor Laktasi.

Bukan suatu kebetulan kalau urutan dari suatu proses konseling adalah
seperti di atas ini, karena tanpa melakukan yang nomor 1 dengan baik dan
benar, seorang Konselor Laktasi belum bisa melakukan yang nomor 2.
Oleh karena itu, dalam melakukan konseling seorang Konselor Laktasi
dituntut untuk memiliki setidaknya beberapa keterampilan berikut ini:

1. Keterampilan mendengarkan dan mempelajari

2. Keterampilan membangun percaya diri dan memberikan dukungan

3. Keterampilan mengamati kegiatan menyusui dan mencatat riwayat


menyusui

Selain itu, ada 12 kompetensi dasar dan 16 kompetensi tambahan yang


sebaiknya dimiliki oleh seorang Konselor Laktasi agar dapat menjalankan
perannya secara baik dan efektif

12
Komponen utama dari suatu proses konseling, serta keterampilan dasar yang
HARUS dimiliki oleh seorang Konselor Laktasi adalah: kemampuan
berkomunikasi. Bagaimana caranya, dengancommunication skills-nya,
seorang Konselor Laktasi dapat membuat ibu untuk membuka diri, menyadari
sendiri persepsi keliru yang selama ini mungkin dimilikinya terkait dengan
kegiatan menyusui, serta kemudian berkeinginan untuk mengubah atau
memperbaiki persepsi keliru tersebut sehingga kegiatan menyusui dapat
berjalan lebih lancar. Tidak mudah tentunya. Salahngomong sedikit, bisa
berakibat ibu menutup diri dan menolak proses konseling yang sedang
dijalani. Perlu diingat, konseling adalah komunikasi dua arah antara ibu
menyusui dengan seorang Konselor Laktasi. Konseling BUKAN penyuluhan,
TIDAK SAMA dengan kegiatan pengajaran atau pemberian nasihat.
Seorang Konselor Laktasi yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik, akan
mengalami tantangan yang lebih besar ketika sedang menjalankan tugasnya.
Apa saja, sih, kemampuan komunikasi yang sebaiknya dimiliki dan
dipraktikkan.

1. Mendengarkan (active listening)

 Komunikasi nonverbal atau bahasa tubuh sangat dibutuhkan ketika seorang


Konselor Laktasi sedang berupaya untuk menjalin keakraban dengan ibu
menyusui, di mana buah dari keakraban yang diharapkan terjalin adalah
kemauan dari si ibu untuk membuka diri dan menceritakan riwayat
menyusuinya secara jujur.

 Ketika suasana mulai mencair dan ibu mulai terlihat nyaman untuk bercerita,
sang Konselor Laktasi diharapkan memiliki kemampuan untuk menggali
cerita, riwayat dan keterangan sebanyak mungkin melalui beragam
pertanyaan terbuka yang diajukan–ciri dari kegiatan konseling yang berjalan
baik, si ibu lebih banyak bercerita dan berbicara dibandingkan dengan
Konselor Laktasinya.

 Memberikan respons wajar dan bersungguh-sungguh (sincere)– tunjukkan


empati (bukan simpati), berikan respons tubuh (gestures) yang pantas serta
hindari menggunakan kata-kata yang menghakimi si ibu. Mimik muka serta
nada dan tonasi suara yang digunakan sangat berpengaruh terhadap

13
keterampilan ini. Contoh: “Oh, jadi ibu belum tahu, ya, kalau ASI eksklusif
adalah 6 bulan?” (dengan nada lembut, sambil menyentuh tangan ibu dan
mimik muka penuh perhatian). Bandingkan dengan “Oh, jadi ibu belum tahu,
ya, kalau ASI eksklusif adalah 6 bulan?” (dengan nada meninggi dan
menuduh, alis dinaikkan sebelah, dan pandangan meremehkan).
2. Membangun Percaya Diri (building self confidence)

 Kemampuan untuk menerima apa yang ibu pikirkan dan rasakan, meskipun
apa yang dipikirkan tersebut adalah salah, tanpa memberikan pembenaran
atas kesalahan tersebut. “Oh, jadi ibu khawatir, ya, ASI ibu sedikit karena
ukuran payudara ibu kecil?”

 Konselor Laktasi seharusnya dapat mengidentifikasikan hal-hal apa saja yang


sudah dilakukan dengan benar oleh ibu dan bayi, dan dapat memberikan
pujian tersebut secara wajar dan bersungguh-sungguh (sincere).
 Kemampuan untuk menggunakan bahasa sederhana ketika sedang
konseling, terutama saat memberikan informasi relevan dan saran-saran
(bukan perintah, bukan nasihat) kepada ibu. Seringkali Konselor Laktasi
mengalami kesulitan dalam memberikan informasi relevan, yaitu informasi
yang dibutuhkan oleh ibu untuk situasinya saat itu. Hal ini karena biasanya
Konselor Laktasi memiliki segudang informasi yang dianggap benar serta
mungkin perlu diketahui oleh si ibu. Tetapi, benar dan perlu diketahui belum
tentu relevan untuk kondisi ibu saat itu. Information overload justru bisa
menyebabkan hasil akhir konseling menjadi kurang efektif. Begitu pula saat
memberikan saran, tidak perlu banyak-banyak, dan bagaimana cara
menyampaikan agar tidak berkesan memerintah dan menasihati si ibu.
Tatalaksana Konseling
Jika membaca rangkaian keterangan di atas, maka bisa diambil kesimpulan
bahwa kegiatan konseling adalah:

1. Ada tatap muka antara ibu dan Konselor Laktasi–dalam hal ini, konseling
melalui telepon dan email mungkin bisa katakan kurang efektif karena
sebagian besar teknik berkomunikasi tidak dapat dilakukan;

2. Kegiatan yang dilakukan satu lawan satu atau one on one, artinya seorang
Konselor Laktasi melakukan satu kesempatan konseling dengan hanya satu

14
ibu–kegiatan konseling tidak dapat dilakukan secara berkelompok, bahkan
dalam suatu KP Ibu sekalipun, karena hal tersebut akan mengarah pada
kegiatan penyuluhan dan pengajaran;

3. Dalam proses konseling selalu ada komunikasi dua arah, dengan porsi
berbicara yang lebih banyak pada si ibu menyusui–Konselor Laktasi tidak
mendikte, memerintah, menyuluh, mengajar atau menasihati;

4. Konselor Laktasi mempraktikkan semua keterampilan dan kompetensi yang


seharusnya dimiliki olehnya, terutama keterampilan berkomunikasi
sebagaimana yang telah diuraikan di atas;

5. Konselor Laktasi dan ibu menyusui bersama-sama berdiskusi dan


memutuskan hal terbaik yang akan dilakukan oleh si ibu sesuai dengan
informasi relevan serta saran-saran yang telah diberikan oleh Konselor
Laktasi terkait dengan kondisi menyusui ibu tersebut.

B. MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI

Menyusui bukan hanya berguna buat bayi tapi juga sangat berguna buat si ibu.
Kontak fisik antara ibu dan bayi memang penting namun terlebih lagi faktor
psikologisnya. Menyusui membentuk ikatan yang kuat diantara ibu dan bayinya.
Para ibu yang menyusui merasakan adanya perasaan hangat dan saling
memberi respons, istilahnya in synch. Selain itu, menyusui dapat menimbulkan
rasa bangga, rasa dibutuhkan dan meningkatkan percaya diri ibu.

Rasa cinta kasih anak dan rasa aman adalah kebutuhan vital anak, mereka
membutuhkan afeksi dari orangtua. Ibu adalah orangtua pertama yang
membangun trust pada anak melalui pemberian ASI. Perasaan aman dan trust
adalah fondasi dalam perkembangan kepribadian anak. Menyusui adalah hal
pertama dan penting dalam menumbuhkan attachment (kelekatan) yang
dianggap penting untuk pertumbuhan psikologis bayi. Dari penelitian mengenai
breast feeding ditemukan bahwa attachment seorang anak pada ibu melalui
breast feeding menumbuhkan anak2 yang berkepribadian baik dalam keluarga

15
dengan orangtua yang lebih sensitif pada kebutuhan anak dan sebaliknya. Ibu
diharapkan menyusui bayinya sambil mengelus,
menyanyi/bersenandung,menatap mata anak, mengalirkan perasaan
menyenangkan kepada bayinya dan perasaan menyenangkan bagi ibu.

Hari-hari pertama melahirkan biasanya ibu dipenuhi perasaan bahagia karena


berakhirnya penantian yang melelahkan fisik dan psikologis selama 9 bulan.
Biasanya ibu pun merasakan perasaan yang “ajaib” yaitu rasa bahagia yang luar
biasa, setelah bayi meluncur dari tubuhnya. Sehingga rasa lelah dan sakit yang
dirasakan dalam proses melahirkan seakan-akan hilang dalam sekejap. Akan
tetapi, setelah rasa bahagia yang luar biasa itu, hampir 70% ibu yang baru
melahirkan mengalami periode rasa sedih, penuh tangis, cepat tersinggung,
bingung, khawatir, dan juga rasa tak percaya dapat mengurus bayinya. Hal
tersebut bisa dikatakan ibu mengalami baby blues atau postpartum blues.
Bagi orang lain, terkadang baby blues dianggap hal yang biasa, karena :
1. disebabkan oleh faktor-faktor hormonal yang luar biasa yang terjadi disaat
melahirkan dan saat sesudahnya

2. Perasaan lelah yang hebat setelah melahirkan

3. Muncul di hari-hari pertama melahirkan dan berakhir paling lama dalam 10


hari

4. Tidak parah dan tidak mengganggu fungsi pribadi ibu.

Ciri-ciri Baby Blues :


1. Merasa sedih, menangis tanpa sebab yang jelas

2. Cepat tersinggung atau marah kepada orang-orang terdekat

3. Merasa panik, khawatir atau cemas

4. Merasa tak dapat mengontrol perasaan

5. Merasa banyak hal berkecamuk dalam fikiran

6. Merasa kuatir tidak dapat menjadi ibu yang baik

7. Merasa sendirian dengan bayinya

16
Depresi Pasca melahirkan disebabkan oleh interaksi diantara faktor hormonal
dan faktor psikologis yang menyangkut perubahan besar dalam hidup seorang
perempuan (menjadi seorang ibu) dan rasa khawatir apakah ‘saya’ dapat menjadi
ibu yang baik. Selain itu, adanya permasalahan dalam perkawinan atau bayi yang
sakit juga bisa menjadi faktor penyebab depresi paska melahirkan.

Untuk mencegah, bagaimana seorang ibu baru dapat membantu diri sendiri untuk
mengatasi mood yang kurang nyaman paska melahirkan?

1. Tidur yang cukup

2. Punya waktu untuk diri sendiri tapi bukan menyendiri

3. Cukup makan makanan yang sehat

4. Keluar rumah sebentar

5. Senam-senam sederhana

6. Cari dukungan psikologis dari orang-orang yang terdekat

7. Berusaha untuk tetap melakukan kegiatan yang disenangi

8. Bila perlu tulis diary tentang bilamana merasa mood turun,


berapa lama dirasakan, apa penyebabnya, apa yang dapat meningkatkan
kembali mood baik.

C. PENGAMATAN MENYUSUI

Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan


tanda-tanda sebagai berikut :
D. 1. Bayi tampak tenang.
E. 2. Badan bayi menempel pada perut ibu.
F. 3. Mulut bayi terbuka lebar.
G. 4. Dagu bayi menempel pada payudara ibu.
H. 5. Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih
banyak yang masuk.
I. 6. Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan.

17
J. 7. Puting susu tidak terasa nyeri.
K. 8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
L. 9. Kepala bayi agak menengadah
M.
N. Akibat posisi menetek yang salah:
O.
P.  Puting susu menjadi lecet
Q.  Asi tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi asi
selanjutnya atau bayi enggan menyusu.
R.  ASI bisa masuk ke dalam telinga bayi yang dapat menyebabkan
infeksi pada telinga yang dikenal dengan Otitis Media Akut (OMA)

18
BAB V
LOGISTIK

A. PERENCANAAN
Mengikuti system yang ada kebutuhan pelayanan di ruang ASI, dipesan
melalui Apoteker dan admen tepatnya bagian rumah tangga Puskesmas.
Kebutuhan pelayanan poli Laktasi terdiri dari 2 jenis yakni kebutuhan promosi
dan pelayanan itu sendiri. Untuk kebutuhan Promosi diajukan melalui dana
Dau untuk pemesanan leaflet dan sebagainya. Untuk kebutuhan penunjang
lainnya seperti tissue, spuit dan selang relaktasi melalui pernecanaan unit
obat.

B. PEMESANAN
Pemesanan disesuaikan dengan spesifikasi yang terstandar, dan yang telah
disetujui oleh kepala Puskesmas. Untuk jenis promosi dilakukan pemesanan
dengan alokasi belanja DAU untuk pendunkung pelayanan melalui unit
farmasi.

c. PENYIMPANAN

Penyimpanan dilakukan di unit farmasi di gudang farmasi UPT. Puskesmas


Wates. Permintaan obat gizi pendukung menyusui seperti tablet Fe dilakukan
melalu peresepan dari papper pasien/klien. Di Poli laktasi tidak melakukan
penyimpanan obat apapaun kecuali ASI yang dititipkan.

19
BAB IX
PENUTUP

Pedoman Poli Laktasi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi


konselor asi di UPT. Puskesmas Wates dalam memberikan pelayanan asuhan gizi
yang sesuai standart. Untuk itu agar pedoman ini dapat diimplementasikan dengan
baik maka perlu kerjasama yang baik antara tenaga kesehatan lainnya dan
pengambil kebijakan dalam hal ini kepala UPT. Puskesmas Wates.

Dalam penyusunan tidak menutup kemungkinan ada bagian yang kurang


atau masih tidak sesuai. Untuk penting bagi kami untuk menggali kordinasi dan
kerjasama atas segala kekurangan untuk melengkap kegiatan pelayan yang
terstandart. Semoga apa yang diutarakan dan ditulis dalam buku pedoman ini
mampu memberikan manfaat bagi pelayanan gizi di UPT. Puskesmas Wates

DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Jendral Bin Gizi Masyarakat dan KIA, 2014,
PEDOMAN PELAYANAN GIZI DI PUSKESMAS, JAKARTA.

20
Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Jendral Bin Gizi Masyarakat dan KIA, 2014,
PEDOMAN PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR (PGAT), JAKARTA.

Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Jendral Bin Gizi Masyarakat dan KIA, 2014,
PEDOMAN GIZI SEIMBANG, JAKARTA.

_________________________________________, 2013, MODUL KONSELOR


ASI, AIMI JAKARTA

1. Rekaman historis perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan

21
22