SKRIPSI
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KAWASAN TANPA ROKOK
(KTR) DI RUMAH SAKIT INCO SOROAKO
Fachrizal David
E211 13 317
PROGAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2018
i
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA
ABSTRAK
Fachrizal David (E21113317), Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa
Rokok (KTR) di Rumah Sakit Inco Soroako, xiii + 92 halaman + 1 Tabel + 6
gambar + 13 Pustaka (2002-2016) + 7 lampiran + Dibimbing oleh Dr. Moh.
Thahir Haning, M.Si dan Dr. Suryadi Lambali, M.A
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor yang
mempengaruhi implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco
Soroako. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis
penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi
dan studi dokumentasi. Tahap dalam teknik analisis data yang digunakan yaitu
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa
Rokok di rumah sakit Inco Soroako belum sepenuhnya terlaksana dengan baik.
Sosialisasi telah dilakukan sejak diberlakukannya kebijakan kawasan tanpa
rokok. Namun, belum ada tim khusus untuk mendukung dan mengontrol
aktivitas merokok di lingkungan rumah sakit. Penganggaran dan peralatan
pihak rumah sakit sudah memasang tanda larangan merokok tapi belum
membuat tempat khusus untuk merokok. Kesiapan pelaksana belum
sepenuhnya menunjukkan sikap yang mendukung kebijakan kawasan tanpa
rokok di rumah sakit Inco Soroako, masih ada beberapa karyawan yang acuh
tak acuh terhadap pengunjung yang merokok di lingkungan rumah sakit, namun
sebagian juga sudah ada karyawan yang acuh. Pihak rumah sakit belum
menyiapkan pedoman yang jelas terkait kawasan tanpa rokok.
Kata Kunci: Implementasi, Kawasan Tanpa Rokok, Kualitatif
ii
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA
ABSTRACT
Fachrizal David (E21113317), Implementation of Policy Areas Without
Smoking in the Inco Soroako Hospital, xiii + 92 pages + 1 Table + 6 image
+ 13 Library (2002-2016) + 7 appendix + Guided by Dr. Moh. Thahir Haning,
M.Si dan Dr. Suryadi Lambali, M.A
The purpose of this study was to describe the factors that influence the
implementation of policy areas without smoking in Inco Soroako hospitals. This
study used a qualitative approach to the types of descriptive research. Method of
data collection through interviews, observation and study of documentation.
Stage in the data analysis techniques used for data reduction, namely the
presentation of data, and the withdrawal of the conclusion.
The results showed the implementation of Policy Areas Without Smoking
in Inco Soroako hospitals has not been fully accomplished mine well.
Socialization has been done since the enactment of policy areas without
smoking. However, there has not been a special team to support and control the
activity of smoking in a hospital environment. Budgeting and equipment the
hospital already put up a sign smoking ban but have not made any special places
for smoking. The readiness of the executor has not fully demonstrated the
attitude that supports policy areas without smoking in Inco Soroako hospitals, still
there are some employees who are indifferent to visitors who smoke in the
hospital environment, but some have also been there are employees who are
indifferent. The hospital has not yet set up clear guidelines related areas without
smoking.
Keywords: Implementation, Area With No Smoking, Qualitative
iii
iv
v
vi
KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur yang tiada hentinya
penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini tepat waktu dengan judul “Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa
Rokok (KTR) di Rumah Sakit Inco Soroako”. Salam dan shalawat atas
junjungan Nabi besar Muhammad SAW sebagai sang revolusioner sejati.
Skripsi ini merupakan salah satu karya ilmiah yang diperlukan
untuk melengkapi persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana sebagai
wahana untuk melatih diri dan mengembangkan wawasan berpikir.
Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini tentunya tidak lepas
dari hambatan-hambatan, namun dengan adanya bantuan, bimbingan
dan motivasi dari berbagai pihak sehingga hambatan yang ada
dapat dilalui dengan baik. Dalam penyusunan skripsi ini tentunya
tidak terlepas dari doa-doa yang selama ini telah dipanjatkan untuk
ananda, serta jasa-jasa yang tidak terhingga, terutama terima kasih
kepada keluarga dan kedua orang tua penulis, ayahanda tercinta M.
David Lecku yang menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dalam kehidupan
saya dan ibunda Faridah yang menjadi nafas perjuangan untuk saya.
Terima kasih atas doa-doa yang tidak ada hentinya dan bantuan,
vii
dukungan, kasih sayang serta dukungan moral dan material yang telah
diberikan untuk ananda selama ini. Engkaulah ibu dan ayah yang sangat
luar biasa sejagat raya yang terus mendampingi ananda saat suka
maupun duka. Teruntuk saudara(i) dalam satu darah Diansyah Afriandi,
Fauziah Nur Aisyah, Muhammad Jufari, dan Nur Fadiah David yang
telah menjadi sumber kekuatan dalam kehidupan keluarga, berkat diri
mereka pula sehingga penulis terus semangat melanjutkan pendidikan.
Tidak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada Om Iqra, Om
Nasrul, Bang Moed yang selalu mendukung saya dalam hal materil
maupun non materil.
Terima kasih juga kepada orang tua saya di dunia kampus Bapak
Adnan Nasution, M.Si selaku Penasehat Akademik, Bapak Prof. Muh.
Tahrir Haning, M.Si selaku pembimbing I dan Suryadi Lambali, M.Si
selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan dukungan arahan
dan bimbingannya selama penyusunan dan penulisan skripsi ini.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada :
1. Ibu Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA selaku Rektor
Unhas beserta para Wakil Rektor Universitas Hasanuddin.
2. Bapak Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde, M.Si selaku Dekan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin
beserta para Wakil Dekan dan stafnya.
3. Ibu Dr. Hasniati, M.Si selaku Ketua Departemen dan Bapak Drs.
Nelman Edy, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu
viii
Administrasi Fakultas llmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Hasanuddin.
4. Para dosen Departemen Ilmu Administrasi Universitas
Hasanuddin yang telah memberikan bimbingan selama kurang
lebih 3 (tiga) tahun perkuliahan serta para staf Akademik FISIP
UNHAS dan seluruh staf Departemen Ilmu Administrasi FISIP
UNHAS (kak Ros, pak Revi, ibu Ani dan pak Lili) yang telah
membantu dalam pengurusan surat-surat kelengkapan penulis
selama kuliah.
5. Terima kasih kepada pihak Rumah Sakit Inco Soroako yang
telah banyak membantu selama penelitian.
6. Untuk teman - teman seperjuangan selama perkuliahan dikampus
RECORD (Regeneration Colored Of Determiner) 2013 penulis
mengucapkan terima kasih.
7. Teman-teman teristimewa GALAPOS’013 yang memberikan
informasi-informasi terhangatnya.
8. Terima kasih juga kepada seluruh anggota HUMANIS FISIP
UNHAS yang telah memberikan pelajaran dan pengalaman dalam
berorganisasi selama ini.
9. Teman-teman LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA (LAW)
UNIVERSITAS HASANUDDIN.
10. Teman-teman DEWAN MAHASISWA (DEMA) FISIP UNHAS.
11. Teman-teman CAMPING ADVOKASI
ix
12. Saudara(i)ku dari “BUMI BATARA GURU” IKATAN PELAJAR
MAHASISWA LUWU TIMUR (IPMALUTIM) yang telah membuat
saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Yang mengajarkan saya
arti tempaan dan solusi kehidupan.
13. Saudara(i)ku di IKATAN PELAJAR MAHASISWA INDONESIA
LUWU RAYA UNIVERSITAS HASANUDDIN (IPMIL RAYA
UNHAS) yang telah menjadi tempat mengasah keberanian.
14. Saudara-saudariku dan para revolusioner sejati IKATAN
PELAJAR MAHASISWA LUWU TIMUR PENGURUS
KOMISARIAT NUHA terima kasih karena tetap menjaga
semangat berlembaga dan terus memperlihatkan eksistensinya.
15. Teman-teman sependeritaan KKN UNHAS GEL. 93 KELURAHAN
KANYUARA KECAMATAN WATANG SIDENRENG SIDRAP
“POSKO KERINDUAN” (Aksa, Fahrul, Charles, Hilda, Diba,
Whyna, serta mami posko beserta anak-anak cantiknya) terima
kasih atas kebersamaan, kenangan, dan pengalamannya selama
kurang lebih 2 bulan.
16. Sahabat – sahabat saya yang menjadi penerang kegelapan di tana
rantau (Ridho Arjuna, Haliq Mubarak, Yoelenda Pabatek, Muh.
Aditya Dipura Anthon, Dheby Anggrainy S. dan Adhi
Supriadi) penulis ucapkan terima kasih semoga kalian menjadi
orang yang sukses dan berguna bagi diri sendiri, bangsa dan
negara.
x
17. Tidak lupa pula saudari penulis yang telah mendedikasikan dirinya
sampai waktu yang tidak ditentukan, ialah nafas perjuangan
setelah ibunda saya, motivator pribadi yang selalu mendampingi,
memberikan saya nasihat dan saran, thank you for loving me
wanita hebatku yang terkasih, Diana Daud:*.
Serta sahabat dan teman-teman Penulis tanpa terkecuali, yang
tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu, terima kasih atas
bantuannya selama ini. Serta semua pihak yang telah banyak membantu
dan tidak sempat penulis sebutkan, semoga ALLAH SWT memberikan
balasan yang setimpal atas kebaikan yang telah diberikan kepada
penulis.
Wasalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Makassar, 8 Maret 2018
Penulis
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
ABSTRAK ........................................................................................................ ii
ABSTRACT ..................................................................................................... iii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................. iv
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ................................................................ v
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ................................................................ vi
KATA PENGANTAR ....................................................................................... vii
DAFTAR ISI...................................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiv
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................... 4
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................... 5
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................... 5
1.4.1 Manfaat Teoritis ............................................................ 5
1.4.2 Manfaat Praktis ............................................................. 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 7
II.1 Konsep Kebijakan Publik .......................................................... 7
II.1.1 Pengertian Kebijakan Publik ....................................... 7
II.1.2 Ciri-Ciri Kebijakan Publik .............................................. 9
II.1.3 Proses Kebijakan Publik ............................................... 11
II.2 Konsep Implementasi Kebijakan .............................................. 12
II.2.1 Pengertian Implementasi Kebijakan ............................ 12
II.2.2 Implikasi dan Tahap-Tahap Implementasi ................... 15
II.2.3 Faktor Penentu Implementasi Kebijakan ..................... 17
II.2.4 Model Implementasi Kebijakan George C. Edward III . 18
II.3 Konsep Kawasan Tanpa Rokok ............................................... 23
II.3.1 Pengertian Kawasan Tanpa Rokok ............................. 23
II.3.2 Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok ..... 24
II.3.3 Area Kawasan Tanpa Rokok........................................ 25
II.3.4 Kewajiban dan Larangan tentang KTR ........................ 27
II.3.5 Sanksi Peraturan Daerah tentang KTR ....................... 28
II.4 Kerangka Pikir .......................................................................... 30
xii
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 32
III.1 Pendekatan Penelitian ............................................................. 32
III.2 Jenis/Tipe Penelitian ................................................................ 33
III.3 Lokasi Penelitian ...................................................................... 33
III.4 Unit Analisis .............................................................................. 34
III.5 Fokus Penelitian ....................................................................... 34
III.6 Informan .................................................................................... 35
III.7 Jenis Data ................................................................................. 36
III.8 Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 37
III.9 Teknik Analisis Data ................................................................. 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 41
IV.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ......................................... 41
IV.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Luwu Timur ................. 41
IV.1.2 Profil Rumah Sakit Inco Soroako ................................. 42
IV.1.1 Visi dan Misi Rumah Sakit ................................. 44
IV.1.2 Pelayanan .......................................................... 44
IV.1.3 Tata Tertib dan Tata Laksana Pasien .............. 47
IV.2 Hasil Penelitian ......................................................................... 48
IV.2.1 Komunikasi ................................................................... 48
IV.2.2 Sumber Daya ................................................................ 55
IV.2.3 Disposisi........................................................................ 61
IV.2.4 Struktur Birokrasi .......................................................... 63
IV.3 Pembahasan Hasil Penelitian .................................................. 66
BAB V PENUTUP…….................................................................................. . 80
V.1 Kesimpulan ............................................................................... 80
V.2 Saran ..................................................................................…. 82
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 84
LAMPIRAN………… ........................................................................................ 86
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
II.1 Kerangka Pikir ............................................................................. 31
IV.1 Baliho Daerah Kawasan Tanpa Rokok ............................... …… 51
IV.2 Pengunjung yang merokok……………………………………...... 53
IV.3 Puntung dan bungkus rokok di lingkungan rumah sakt ............. 53
IV.4 Pengunjung merokok di dekat tanda larangan........................... 59
IV.5 Tempat khusus merokok pengunjung ........................................ 59
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
II.1 Proses Kebijakan Publik ............................................................. 11
xv
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pembangunan suatu bangsa dapat terlihat dari kemajuan suatu
daerah. Aspek kesehatan merupakan salah satu indikator
keberhasilannya. Karena tanpa kesehatan pelaksanaan pembangunan
nasioanal yang menyeluruh tidak akan tewujud. Adapun tujuan
pembangunan kesehatan juga menjadi yang tertuang dalam Undang-
Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 2 yang berbunyi
“bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang setingg-tingginya, sebagai investai
bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial
dan ekonomis”. Cita-cita tersebut tidak akan tercipta tanpa upaya yang
terukur dan terarah. Pemerintah selaku penyelenggara Negara
berkewajiban untuk menyelenggarakan upaya kesehatan bagi seluruh
warga Negara Indonesia. Salah satu upaya yang harus dilakukan yaitu
pengamanan yang mengandung zat adiktif. Rokok merupakan salah satu
bahan yang mengandung zat tersebut. Pengamanan bahan yang
mengandung zat adiktif tertuang juga dalam UU No. 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan pasal 113 yang berbunyi, bahwa “pengamanan
penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak
1
mengganggu dan membahayakan kesehatan diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan”. Karena dalam sebatang rokok terdapat empat ribu bahan
kimia, empat ratus diantaranya bahan beracun dan empat puluh
Karsinogenik.
Setiap tahun frekuensi penderita penyakit kronis akibat rokok
semakin meningkat. Meskipun telah terlihat jelas di beberapa tulisan-
tulisan bahwa “rokok dapat membunuhmu”, namun para perokok masih
saja tak peduli akan dirinya. Ini karena rokok memunculkan rasa
kecanduan. Di dalam rokok terkandung zat yang bernama nikotin. Zat
inilah yang bisa menimbulkan efek santai dan membuat kebiasaan
merokok sulit untuk ditinggalkan. Lebih parah lagi bagi orang yang
menghirup asap rokok si perokok, bahaya yang di tanggung bisa tiga kali
lipat. Sebanyak 25 % zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk
ke dalam tubuh perokok, sedangkan 75 % beredar di udara bebas yang
beresiko masuk ke tubuh orang lain. Tak ada lagi batas aman dari asap
rokok. Sehingga sangat perlu untuk menerapkan langkah untuk kawasan
tanpa rokok atau yang biasa disingkat KTR.
Perlunya KTR juga menjadi instruksi untuk pemerintah daerah
untuk mengeluarkan kebijakan pelarangan merokok di tempat-tempat
yang ditentukan. Hal ini termuat dalam Peraturan Pemerintah No 19
Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Pasal 25 yang
memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mewujudkan
kawasan tanpa rokok. Namun masih sedikit pemerintah daerah yang
2
menerapkan kawasan tanpa rokok. Padahal pemerintah sudah
memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk membentuk
kawasan tanpa rokok. Ini mengindikasikan belum seriusnya pemerintah
daerah di Indonesia dalam mengatasi bahaya rokok.
Salah satu pemerintah daerah di Indonesia yang mulai sadar akan
bahaya rokok adalah pemerintah daerah kabupaten luwu timur. Tepat
pada tanggal 27 Oktober 2016 ditetapkannya Peraturan Daerah
Kabupaten Luwu Timur Nomor 9 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa
Rokok. Namun kawasan tanpa rokok masih belum menyeluruh di pahami
oleh masayarkat dan masih banyak perokok yang acuh untuk aturan
tersebut sehingga masih ada juga yang melaksanakan kebiasaan
merokoknya di dalam area KTR. Hal ini merupakan usaha yang harus di
lakukan pemerintah daerah dan pihak yang terkait untuk aturan KTR
tersebut untuk mengambil langkah agar di Kabupaten Luwu Timur bisa
bebas asap rokok, khususnya tempat-tempat yang telah menjadi
ketetapan dalam peraturan daerah tentang KTR.
Dalam peraturan daerah tentang kawasan tanpa rokok tersebut,
terdapat tempat-tempat yang telah ditetapkan yaitu ; fasilitas pelayanan
kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat
ibadah, angkutan umum dan kendaraan dinas pemerintah, tempat kerja,
tempat umum. Tempat fasilitas pelayanan kesehatan merupakan salah
satu yang menjadi pusat perhatian untuk tempat kawasan tanpa rokok.
Tempat terserbut salah satunya adalah rumah sakit.
3
Di kabupaten luwu timur terdapat rumah sakit yang telah
menerapkan kawasan tanpa rokok di area rumah sakit. Rumah sakit ini
diberi nama Rumah Sakit Inco Soroako. Wujud penerapan kebijakan
tersebut dibuatnya informasi dalam bentuk tanda larangan di beberapa
area rumah sakit yang menjelaskan kawasan tanpa rokok. Namun, masih
ada saja orang yang merokok di area rumah sakit terserbut. Ini
menunjukan bahwa belum ada tindak tegas dari pihak rumah sakit.
Kenyataan yang memperkuat hal tersebut masih terlihatnya puntung
rokok yang sudah di isap di area rumah sakit. Hal ini perlu menjadi
perhatian untuk lebih di tegaskannya Peraturan Daerah Kabupaten Luwu
Timur No 9 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengkaji
bagaimana Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Kabupaten Luwu
Timur. Oleh karena itu, judul yang di ambil oleh penulis adalah :
“Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Rumah
Sakit Inco Soroako”.
I.2. Rumusan Masalah
Bertolak dari permasalahan di atas, maka penulis merumuskan
masalah penelitian, yaitu :
1. Bagaimana komunikasi dalam Implementasi Kebijakan Kawasan
Tanpa Rokok (KTR) Di Rumah Sakit Inco Soroako ?
4
2. Bagaimana sumberdaya dalam Implementasi Kebijakan Kawasan
Tanpa Rokok (KTR) Di Rumah Sakit Inco Soroako ?
3. Bagaimana disposisi dalam Implementasi Kebijakan Kawasan
Tanpa Rokok (KTR) Di Rumah Sakit Inco Soroako ?
4. Bagaimana struktur birokrasi dalam Implementasi Kebijakan
Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Di Rumah Sakit Inco Soroako ?
I.3. Tujuan Penelitian
Sehubungan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang
ingin dicapai penelitian ini yaitu :
1. Untuk mendeskripsikan proses komunikasi dalam Implementasi
Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako.
2. Untuk mendeskripsikan kemampuan sumber daya dalam
Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit
Inco Soroako.
3. Untuk mendeskripsikan disposisi dalam Implementasi Kebijakan
Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako.
4. Untuk mendeskripsikan struktur birokrasi dalam Implementasi
Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako.
I.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini mengarah kepada :
1. Manfaat akademis
5
Hasil dari penelitian ini diharapkan memberi sumbangan pemikiran
intelektual ke arah pengembangan ilmu pengetahuan sosial
khususnya dalam bidang kajian pemerintahan dan sebagai bahan
referensi bagi siapapun yang berkeinginan melakukan penelitian
lanjutan pada bidang yang sama.
2. Manfaat praktis
Secara praktis, penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumbang
saran dan masukan bagi pemerintah, swasta, khususnya
masyarakat dalam Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok
Di Rumah Sakit Inco Soroako.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Konsep Kebijakan Publik
II.1.1 Pengertian Kebijakan Publik
Pengertian kebijakan publik menurut W.I. Jenkins (1978) dalam
Abdul Wahab (2012:15):
“Kebijakan publik adalah serangkaian keputusan yang saling
berkaitan yang diambil oleh aktor politik atau kelompok aktor,
berkenaan dengan tujuan yang dipilih beserta cara-cara untuk
mencapainya dalam suatu situasi. Keputusan-keputusan itu pada
prinsipnya masih berada dalam batasan kewenagan-kewenangan
kekuasaan dari pada aktor tersebut”.
Sedangkan menurut Anderson (1969) dalam Agustino (2016:17)
memberikan pengertian atas definisi kebijakan publik sebagai berikut :
“Serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu
yang diikuti atau dilaksanakan oleh seorang aktor atau sekelompok
aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu
hal yang diperhatikan”.
Thomas R. Dye (1992) dalam Islamy (2009: 19) mendefinisikan
kebijakan publik sebagai “is whatever government choose to do or not to
do” (apapun yang dipilih pemerintah untuk dilakukan atau untuk tidak
dilakukan). Definisi ini menekankan bahwa kebijakan publik adalah
mengenai perwujudan “tindakan” dan bukan merupakan pernyataan
keinginan pemerintah atau pejabat publik semata. Di samping itu pilihan
pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu juga merupakan kebijakan
7
publik karena mempunyai pengaruh (dampak yang sama dengan pilihan
pemerintah untuk melakukan sesuatu.
Terdapat beberapa ahli yang mendefiniskan kebijakan publik
sebagai tindakan yang diambil oleh pemerintah dalam merespon suatu
krisis atau masalah publik. Begitupun dengan Chandler dan Plano (1998)
dalam Tangkilisan (2003: 1) yang menyatakan bahwa kebijakan publik
adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumberdaya yang ada untuk
memecahkan masalah-masalah publik atau pemerintah. Selanjutnya
dikatakan bahwa kebijakan publik merupakan suatu bentuk intervensi
yang dilakukan secara terus-menerus oleh pemerintah demi kepentingan
kelompok yang kurang beruntung dalam masyarakat agar mereka dapat
hidup, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan secara luas.
David Easton (1965) dalam Agustino (2016: 19) memberikan
definisi kebijakan publik sebagai “the autorative allocation of values for the
whole society”. Definisi ini menegaskan bahwa hanya pemilik otoritas
dalam sistem politik (pemerintah) yang secara syah dapat berbuat sesuatu
pada masyarakatnya dan pilihan pemerintah untuk melakukan sesuatu
atau tidak melakukan sesuatu diwujudkan dalam bentuk pengalokasian
nilai-nilai. Hal ini disebabkan karena pemerintah termasuk ke dalam
“authorities in a political system” yaitu para penguasa dalam sistem politik
yang terlibat dalam urusan sistem politik sehari-hari dan mempunyai
tanggungjawab dalam suatu maslaha tertentu dimana pada suatu titik
mereka diminta untuk mengambil keputusan di kemudian hari kelak
8
diterima serta mengikat sebagian besar anggota masyarakat selama
waktu tertentu.
Berdasarkan pendapat berbagai ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa kebijakan publik adalah serangkaian tindakan yang dilakukan atau
tidak dilakukan oleh pemerintah yang berorientasi pada tujuan tertentu
guna memecahkan masalah-masalah publik atau demi kepentingan
publik. Kebijakan untuk melakukan sesuatu biasanya tertuang dalam
ketentuan-ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang dibuat
pemerintah sehingga memiliki sifat yang mengikat dan memaksa.
II.1.2 Ciri-Ciri Kebijakan Publik
Menurut Suharno (2010: 22-24), ciri-ciri khusus yang melekat pada
kebijakan publik bersumber pada kenyataan bahwa kebijakan itu
dirumuskan. Ciri-ciri kebijakan publik antara lain:
1. Kebijakan publik lebih merupakan tindakan yang mengarah
pada tujuan daripada sebagai perilaku atau tindakan yang serba
acak dan kebetulan. Kebijakan-kebijakan publik dalam system
politik modern merupakan suatu tindakan yang direncanakan.
2. Kebijakan pada hakekatnya terdiri atas tindakan-tindakan yang
saling berkait dan berpola yang mengarah pada tujuan tertentu
yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintah dan bukan
merupakan keputusan yang berdiri sendiri. Kebijakan tidak
cukup mencakup keputusan untuk membuat undang-undang
dalam bidang tertentu, melainkan diikuti pula dengan
keputusan-keputusan yang bersangkut paut dengan
implementasi dan pemaksaan pemberlakuan.
3. Kebijakan bersangkut paut dengan apa yang senyatanya
dilakukan pemerintah dalam bidang tertentu.
4. Kebijakan publik mungkin berbentuk positif, munkin pula negatif,
kemungkinan meliputi keputusan-keputusan pejabat pemerintah
untuk tidak bertindak atau tidak melakukan tindakan apapun
9
dalam masalah-masalah dimana justru campur tangan
pemerintah diperlukan.
Menurut Abdul Wahab (2012:20), ciri-ciri kebijakan publik yaitu :
1. Kebijakan Publik lebih merupakan tindakan yang sengaja
dilakukan mengarah pada tujuan tertentu, daripada sekedar
sebagai bentuk perilaku atau tindakan menyimpang yang serba
acak (at randown), asal-asalan, dan serba kebetulan.
2. Kebijakan pada hakikatnya terdiri atas tindakan-tindakan yang
saling berkaitan dan berpola, mengarah pada tujuan tertentu
yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintahan, dan bukan
keputusan-keputusan yang berdiri sendiri.
3. Kebijakan itu ialah apa yang nyatanya dilakukan pemerintah
dalam bidang-bidang tertentu.
4. Kebijakan Publik mungkin berbentuk positif, mungkin pula
negatif. Dalam bentuk yang positif, kebijakan publik mungkin
mencakup beberapa bentuk tindakan pemerintah yang
dimaksudkan untuk mempengaruhi penyelesaian atas masalah
tertentu. Sementara dalam bentuknya yang negatif, ia
kemungkinan meliputi keputusan-keputusan pejabat-pejabat
pemerintah untuk tidak bertindak, atau tidak melakukan tindakan
apa pun dalam masalah-masalah dimana campur tangan
pemerintah itu sebenarnya justru amat diperlukan.
Sedangkan menurut Anderson (1969) dalam Abidin (2012:22)
memberikan pengertian atas definisi kebijakan publik sebagai berikut :
1. Setiap kebijakan harus ada tujuannya, Artinya, pembuatan
suatu kebijakan tidak boleh sekedar asal buat atau karena
kebetulan ada kesempatan membuatnya. Tanpa ada tujuan
tidak perlu ada kebijakan.
2. Suatu kebijakan tidak berdiri sendiri, terpisah dari kebijakan
yang lain. Namun, ia berkaitan dengan kebijakan dalam
masyarakat, berorientasi pada implementasi, interprestasi, dan
penegak hukum.
3. Kebijakan adalah apa yang dilakukan pemerintah, bukan apa
yang masih ingin atau dikehendaki untuk dilakukan pemerintah.
4. Kebijakan dapat berbentuk negative atau melarang dan juga
dapat berupa pengarahan untuk melaksanakan atau
menganjurkan.
5. Kebijaksanaan harus berdasarkan hukum, sehingga mempunyai
kewenangan untuk memaksa masyarakat mengikutinya.
10
II.1.3 Proses Kebijakan Publik
Proses analisis kebijakan publik adalah serangkaian aktivitas
intelektual yang dilakukan dalam proses kegiatan yang bersifat politis.
Aktivitas politik tersebut nampak dalam serangkaian kegiatan, adopsi
kebijakan, implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan. Sedangkan
aktivitas perumusan masalah, forecasting, rekomendasi kebijakan
monitoring dan evaluasi kebijakan adalah aktivitas yang lebih bersifat
intelektual.
Berikut adalah proses kebijakan publik yang dikemukakan Dunn
(2013:24).
Tabel II.1 Proses Kebijakan Publik
Fase Karakteristik Ilustrasi
Penyusunan Para pejabat yang dipilih dan Legislator Negara dan
Agenda diangkat menempatkan kosposornya
masalah pada agenda publik. menyiapkan
Banyak masalah tidak rancangan undang-
disentuh sama sekali, undang mengirimkan
sementara lainnya ditunda ke Komisi Kesehatan
untuk waktu lama. dan Kesejahteraan
untuk di pelajari dan
disetujui. Atau
rancangan berhenti
dikomite dan tidak
terpilih.
Formulasi Para pejabat merumuskan Peradilan Negara
Kebijakan alternatif kebijakan untuk Bagian
mengatasi masalah. Alternatif mepertimbangkan
kebijakan melihat perlunya pelarangan
membuat perintah eksekutif, penggunaan tes
keputusan peradilan dam kemampuan standar
tindakan legislatif. seperti SAT dengan
alasan bahwa tes
11
tersebut cenderung
bias terhadap
perempuan dan
minoritas.
Adopsi Alternatif kebijakan yang Dalam keputusan
Kebijakan diadopsi dengan dukungan Mahkamah Agung
dari mayoritas legislatif, pada kasus Roe. V.
konsensus di antara direktur Wade tercapai
lembaga atau keputusan keputusan mayoritas
peradilan. bahwa wanita
mempunya hak untuk
mengakhiri kehamilan
melalui aborsi.
Implementasi Kebijakan yang telah diambil, Bagian Keuangan Kota
Kebijakan dilaksanakan oleh unit-unit mengangkat pegawai
administrasi yang untuk mendukung
memobilisasikan sumberdaya peraturan baru tentang
finansial dan manusia penarikan pajak
kepada rumah sakit
yang tidak lagi memiliki
status pengecualian
pajak.
Penilaian Unit-unit pemeriksaan dan Kantor akuntansi
Kebijakan akuntansi dalam pemerintahan publik memantau
menentukan apakah badan- program-program
badan eksekutif, legislatif, dan kesejahteraan sosisal
peradilan undang-undang seperti bantuan untuk
dalam membuat kebijakan dan keluarga dengan anak
pencapaian tujuan. tanggungan (AFCD)
untuk menentukan
luasnya
penyimpangan/korupsi.
Sumber : William N. Dunn (2013;24)
II.2 Konsep Implementasi Kebijakan
II.2.1 Pengertian Implementasi Kebijakan
Secara umum istilah implementasi dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) berati pelaksanaan atau penerapan. Istilah implementasi
12
biasanya dikaitkan dengan suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk
mencapai tujuan tertentu.
“Konsep implementasi berasal dari bahasa inggris yaitu to
implement (mengimplementasikan) berarti to provide the means for
carryingout (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu), to
give practical effect to (menimbulkan dampak atau akibat terhadap
sesuatu). Pengertian tersebut mempunyai arti bahwa untuk
mengimplementasikan sesuatu harus disertai sarana yang
mendukung yang nantinya akan menimbulkan dampak atau akibat
terhadap sesuatu (Abdul Wahab 2012: 67).”
Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah
rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Implementasi
biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap sempurna.
Menurut Nurdin Usman (2002: 70), implementasi bermuara pada aktivitas,
aksi, tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, implementasi bukan
sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai
tujuan kegiatan. Guntur Setiawan (2004: 39) berpendapat, implementasi
adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi
antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan
pelaksana, birokrasi yang efektif.
Dari pengertian diatas memperlihatkan bahwa kata implementasi
bermuara pada mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme
mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi
suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh
berdasarkan acuan rencana-rencana tertentu untuk mencapai tujuan
kegiatan. Tahapan implementasi merupakan tahapan yang krusial, karena
13
tahapan ini menentukan keberhasilan sebuah kebijakan atau program.
Tahapan implementasi perlu dipersiapkan dengan baik pada tahap
perumusan dan pelaksanaannya dilapangan. Seperti yang di kemukakan
oleh Suharno (2010:187).
Van Meter dan Van Horn (1974) dalam Agustino (2016:126)
mendefinisikan implementasi kebijakan publik sebagai:
“Tindakan-tindakan dalam keputusan-keputusan sebelumnya.
Tindakan-tindakan ini mencakup usaha-usaha untuk mengubah
keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam
kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-
usaha untuk mencapai perubahan besar dan kecil yang ditetapkan
oleh keputusan-keputusan kebijakan yang dilakukan oleh
organisasi publik yang diarahkan mencapai tujuan-tujuan yang
telah ditetapkan”.
Adapun makna implementasi menurut Mazmanian dan Paul
Sabatier (1979) dalam Abdul Wahab (2012: 65), mengatakan bahwa :
“Implementasi adalah memahami ada yang senyatanya terjadi
sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan
merupakan focus perhatian implementasi kebijaksanaan yakni
kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah
disahkannya pedoman-pedoman kebijksanaan Negara yang
mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya
maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat
atau kejadian-kejadian”.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi
kebjakan tidak akan dimulai sebelum tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran
ditetapkan atau didefinisikan oleh keputusan-keputusan kebijakan. Jadi
implementasi merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh
berbagai aktor sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil
14
yang sesuai dengan tujuan-tujuan atau sasarans-sasaran kebijakan itu
sendiri.
II.2.2 Implikasi Dan Tahap-Tahap Implementasi
Menurut Luankali (2007) dalam Dewi (2016: 159), implikasi
implementasi kebijakan secara ringkas mencakup hal-hal sebagai berikut.
1. Pelaksanaan keputusan dasar, (undang-undang, peraturan
pemerintah, atau keputusan eksekutif yang penting), atau
keputusan pengadilan
2. Keputusan mengidentifikasi masalah, tujuan, sasaran yang jelas
akan dicapai, berbagai cara untuk mengatur proses
implementasinya.
3. Implementasi berlangsung dalam proses dengan tahapan
tertentu (pengesahan undang-undang menjadi output,
keputusan atau aksi).
4. Pelaksanaan keputusan.
5. Kesediaan melaksanakan dari kelompok-kelompok sasaran.
6. Ada dampak yang dipersepsikan oleh badan-badan decision
making (pengambilan keputusan).
7. Perbaikan-perbaikan penting yang dilakukan perumus
kebijakan.
8. Rekomendasi untuk revisi atau melanjutkan kebijakan tersebut,
atau mengubah dalam bentuk suatu kebijakan baru (a new
polic).
Sedangkan untuk mengefektifkan implementasi kebijakan yang
ditetapkan, maka diperlukan adanya tahap-tahap implementasi kebijakan.
(Islamy 2009:102-106) membagi tahap implementasi dalam 2 bentuk,
yaitu:
1. Bersifat self-executing, yang berarti bahwa dengan
dirumuskannya dan disahkannya suatu kebijakan maka
kebijakan tersebut akan terimplementasikan dengan sendirinya,
misalnya pengakuan suatu negara terhadap kedaulatan negara
lain.
15
2. Bersifat non self-executing yang berarti bahwa suatu kebijakan
publik perlu diwujudkan dan dilaksanakan oleh berbagai pihak
supaya tujuan pembuatan kebijakan tercapai.
Ahli lain, Brian W. Hogwood dan Lewis A. Gunn (1978) dalam
Abdul Wahab (2012: 36) dalam buku analisis kebijakan: dari formulasi ke
implementasi kebijakan negara mengemukakan sejumlah tahap
implementasi sebagai berikut:
Tahap I : Terdiri atas kegiatan-kegiatan:
1. Menggambarkan rencana suatu program dengan penetapan
tujuan secara jelas
2. Menentukan standar pelaksanaan
3. Menentukan biaya yang akan digunakan beserta waktu
pelaksanaan.
Tahap II : Merupakan pelaksanaan program dengan mendayagunakan
struktur staf, sumber daya, prosedur, biaya serta metode
Tahap III : Merupakan kegiatan-kegiatan:
1. Menentukan jadwal
2. Melakukan pemantauan
3. Mengadakan pengawasan untuk menjamin kelancaran
pelaksanaan program. Dengan demikian jika terdapat
penyimpangan atau pelanggaran dapat diambil tindakan yang
sesuai dengan segera.
Jadi implementasi kebijakan akan selalu berkaitan dengan
perencanaan penetapan waktu dan pengawasan. Mempelajari masalah
implementasi kebijakan berarti berusaha untuk memahami apa yang
senyatanya terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan.
Yakni peristiwa-peristiwa dan kegiatankegiatan yang terjadi setelah proses
pengesahan kebijakan baik yang menyangkut usaha usaha untuk
mengadministrasi maupun usaha untuk memberikan dampak tertentu
pada masyarakat. Hal ini tidak saja mempengaruhi perilaku
lembagalembaga yang bertanggung jawab atas sasaran (target grup)
16
tetapi memperhatikan berbagai kekuatan politik, ekonomi, sosial yang
berpengaruh pada impelementasi kebijakan negara.
II.2.3 Faktor Penentu Implementasi Kebijakan
Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak hanya ditujukan dan
dilaksanakan untuk intern pemerintah saja, akan tetapi ditujukan dan
harus dilaksanakan pula oleh seluruh masyarakat yang berada di
lingkunganny baik itu. Faktor penentu implementasi kebijakan menurut
Agustino (2016: 155-162), yaitu sebagai berikut.
1. Respek anggota masyarakat pada otoritas dan keputusan
pemerintah
Dalam hal ini, faktor penentu keefektifan pelaksanaan
kebijakan didasarkan atas penghormatan dan penghargaan
publik pada pemerintah yang legitimat. Apabila publik
menghormati pemerintah yang berkuasa oleh karena
legitimasinya, maka secara otomatis mereka akan turut
memenuhi ajakan pemerintah melalui berbagai bentuk
kebijakan.
2. Kesadaran untuk menerima kebijakan
Bermain dalam ranah kesadaran publik merupakan hal yang
sulit sebab pemerintah perlu merubah mindset warga.
3. Ada tidaknya sanksi hukum
Faktor penentu lainnya agar implementasi kebijakan dapat
berjalan efektif adalah sanksi hukum. Orang akan
melaksanakan dan menjauhkan suatu kebijakan (kendati
dengan perasaan terpaksa) karena mereka takut terkena sanksi
hukum yang dijabarkan oleh kontan suatu kebijakan seperti
dinda, kurungan, dan sanksi lainnya.
4. Kepentingan pribadi atau kelompok
Subjek kebijakan (individu atau kelompok) sering
memperoleh keuntungan langsung dari suatu kebijakan. Maka
tidak heran apabila efektifitas suatu implementasi kebijakan ikut
berpengaruh oleh penerimaan dan dukungan subjek kebijakan
atas pelaksanaan suatu kebijakan.
5. Bertentangan dengan nilai yang ada
Implementasi kebijakan pun berjalan tidak efektif apabila
bertentangan dengan sistem nilai yang ada pada suatu daerah.
17
6. Keanggotaan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu
organisasi
Kepatuhan atau ketidakpatuhan seseorang atau sekelompok
orang pada kebijakan dapat disebabkan oleh bergabung atau
tidak bergabungnya subjek kebijakan dalam suatu organisasi
tertentu atau tidak.
7. Wujudnya kepatuhan selektif
Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua subjek kebijakan
patuh atas aturan atau kebijakan yang ditetapkan oleh
pemerintah. Hal ini terjadi karena sebagian besar masyarakat
yang patuh pada suatu kebijakan tertentu, tetapi tidak pada
kebijakan lain.
8. Waktu
Efektif tidaknya suatu implementasi kebijakan sangat
dipengaruhi juga oleh faktor waktu, kebijakan yang pada
awalnya ditolak dan dianggap controversial bisa menjadi
kebijakan yang wajar dan dapat diterima oleh masyarakat.
9. Sosialisasi
Hal berikutnya yang dapat digunakan untuk menilai efektif
tidaknya suatu implementasi kebijakan adalah dilaksanakan
atau tidaknya sosialisasi. Sosialisasi merupakan salah satu cara
untuk mendistribusikan berbagai hal yang akan dilakukan dan
ditempuh oleh pemerintah melalui kebijakan yang
diformulasikannya. Tanpa sosialisasi yang cukup baik, makan
tujuan kebijakan bisa jadi tidak tercapai.
10. Koordinasi antar lembaga atau antar-organisasi
Implentasi kebijakan tidak jarang melibatkan banyak
pemangku kebijakan atau stakeholder. Oleh karena itu,
koordinasi merupakan hal penting dalam menilai keefektifan
suatu implementasi kebijakan.
II.2.4 Model Implementasi Kebijakan George C. Edward III
Implementasi kebijakan merupakan kegiatan yang kompleks
dengan begitu banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu
implementasi kebijakan. Dalam mengkaji implementasi kebijakan publik,
Edward III mulai dngan mengajukan dua pertanyaan, yakni :
1. What is the precondition for successful policy implementation ?
18
2. What are the primary obstacles to successful policy
implementation ?
George C. Edwar III berusaha menjawab dua pertanyaan tersebut
dengan mengajukan empat faktor atau variabel dari kebijakan.
Sebagaimana yang dimaksud Model implementasi kebijakan George C.
Edward III (1980) dalam Agustino (2016: 136-141) mengajukan empat
faktor atau variabel yang berpengaruh terhadap keberhasilan atau
kegagalan implementasi kebijakan. Empat variabel atau faktor yang
dimaksud antara lain meliputi :
1. Variabel Komunikasi (communication).
Komunikasi kebijakan berarti merupakan proses
penyampaian informasi kebijakan dari pembuat kebijakan
(policy maker) kepada pelaksana kebijakan (policy
implementor). Menurut Edward III, komunikasi sangat
menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi
kebijakan publik, implementasi yang efektif terjadi apabila para
pembuat keputusan sudah mengetahui apa yang akan mereka
kerjakan.
Komunikasi kebijakan memliki tiga dimensi, pertama
transfromasi (transmission), yang menghendaki agar kebijakan
publik dapat ditransformasikan kepada para pelaksana,
kelompok sasaran, dan pihak lain yang terkait dengan
kebijakan. Kedua adalah dimensi kejelasan (clarity)
19
menghendaki agar kebijakan yang ditransmisikan kepada
pelaksana, target grup, dan pihak lain yang berkepentingan
langsung maupun tidak langsung terhadap kebijakan dapat
diterima dengan jelas sehingga di antara mereka mengetahui
apa yang menjadi maksud, tujuan, dan sasaran serta substansi
dari kebijakan publik tersebut dapat tercapai secara efektif dan
efisien. Ketiga adalah dimensi konsistensi (consistency)
menghendaki agar dalam pelaksanaan kebijakan haruslah
konsisten dan jelas (untuk diterapkan dan dijalankan), karena
jika perintah yang diberikan berubah-ubah, maka dapat
menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana lapangan.
2. Variabel Sumber Daya (Recources)
Edward III mengemukakan bahwa faktor sumber daya ini
juga memliki peranan penting dalam implementasi kebijakan.
Dalam implementasi kebijakan, sumber daya terdiri dari empat
variabel, yaitu :
a. Sumber daya manusia, merupakan salah satu variabel
yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan
pelaksana kebijakan. Edward III menegaskan bahwa
“Probably the most essential recourses in implementing
policy is staff”. Sumber daya manusia (staff), harus cukup
(jumlah) dan cakap (keahlian). Oleh karena itu,
sumberdaya manusia harus ada kegiatan dan kelayakan
20
antara jumlah staf yang dibutuhkan dan keahlian yang
dimiliki sesuai dengan tugas pekerjaan yang
ditanganinya.
b. Sumber daya anggaran, yang dimaksud adalah dana
(anggaran) yang diperlukan untuk membiayai
operasionalisasi pelaksana kebijakan. Sumberdaya
keuangan (anggaran) akan mempengaruhi keberhasilan
pelaksanaan kebijakan. Disamping program tidak dapat
dilaksanakan dengan optimal, terbatasnya anggaran
menyebabkan disposisi para pelaku kebijakan rendah,
bahkan akan terjadi goal displacement yang dilakukan
oleh pelaksana kebijakan terhadap pencapaian tujuan.
Maka dari itu, perlu ditetapkan suatu sistem insentif
dalam sistem akuntabilitas.
c. Sumber daya peralatan (facility), merupakan sarana yang
digunakan untuk operasionalisasi implementasi suatu
kebijakan yang meliputi gedung, tanah, dan sarana yang
semuanya akan memudahkan dalam memberikan
pelayanan dalam implementasi kebijakan.
d. Sumber daya informasi dan kewenangan, yang dimaksud
adalah informasi yang relevan dan cukup tentang
berkaitan dengan bagaimana cara mengimplementasikan
suatu kebijakan. Kewenangan yang dimaksud adalah
21
kewenangan yang digunakan untuk membuat keputusan
sendiri dalam bingkai melaksanakan kebijakan yang
menjadi kewenangannya.
3. Varibael Disposisi (Dispotition)
Disposisi merupakan sikap dari pelaksana kebijakan untuk
melaksanakan kebijakan secara sungguh-sungguh sehingga
tujuan kebijakan dapat diwujudkan. Sikap yang bisa
mempengaruhi berupa sikap menerima, acuh tak acuh, atau
menolak. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan dari seorang
implementor akan kebijakan tersebut mampu menguntungkan
organisasi atau dirinya sendiri. Pada akhirnya, intensitas
disposisi implementor dapat mempengaruhi pelaksana
kebijakan. Kurangnya atau terbatasnya intensitas disposisi ini,
akan bisa menyebabkan gagalnya implementasi kebijakan.
4. Variabel Struktur Birokrasi (Bureaucratic Structure)
Menurut Edward III, kebijakan yang begitu kompleks
menuntut adanya kerjasama banyak orang, ketika struktur
birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka hal
ini akan menyebabkan sumber-sumber daya yang tidak
termotivasi sehingga menghambat jalannya kebijakan. Birokrasi
sebagai pelaksana sebuah kebijakan harus dapat mendukung
kebijakan yang telah diputuskan secara politik dengan jalan
melakukan koordinasi dengan baik.
22
Dua karakteristik menurut Edward III, yang dapat
mendongkrak kinerja struktur birokrasi kinerja struktur birokrasi
atau organisasi ke arah yang lebih baik adalah :
a. Membuat standar operating procedure (SOPs) yang lebih
fleksibel; SOPs adalah suatu prosedur atau aktivitas
terencana rutin yang memungkinkan para pegawai (atau
pelaksana kebijakan seperti aparatur, administrator, atau
birokrat) untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya pada
setiap harinya sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan.
b. Melaksanakan fragmentasi, tujuannya untuk menyebar
pelbagai tanggung jawab aktivitas, kegiatan atau program
pada beberapa unit kerja yang sesuai dengan bidangnya
masing-masing. Dengan fragmentasinya struktur
birokrasi, maka implementasi akan lebih efektif karena
dilaksankan oleh organisasi yang berkompeten dan
kapabel.
II.3 Konsep Kawasan Tanpa Rokok
II.3.1 Pengertian Kawasan Tanpa Rokok
Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang
dinyatakan dilarang untuk melakukan kegiatan produksi, penjualan, iklan,
promosi, dan atau penggunaan rokok. Penetapan KTR merupakan upaya
23
perlindungan untuk masyarakat terhadap risiko ancaman gangguan
kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok. Secara umum,
penetapan KTR betujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian akibat rokok, dan secara khusus, tujuan penetapan KTR adalah
mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, aman dan nyaman,
memberikan perlindungan bagi masyarakat bukan perokok, menurunkan
angka perokok, mencegah perokok pemula dan melindungi generasi
muda dari penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan zat Adiktif
(NAPZA).
II.3.1 Peraturan Daerah Tentang Kawasan Tanpa Rokok
Pemerintah Republik Indonesia telah mengatur kebijakan
pelarangan merokok melalui Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang
dijabarkan dalam UU nomor 36 tahun 2009 dan Keputusan Bersama
Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor
188/Menkes/PB/I/2011 serta PP Nomor 109 tahun 2013. Di Kabupaten
Luwu Timur sudah diterapkan Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur
Nomor 9 tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Lahirnya Peraturan
Daerah tersebut karena bahaya yang ditimbulkan rokok tidak hanya
terhadap perokok aktif tetapi juga sangat berbahaya bagi perokok pasif.
Disamping itu KTR dianggap dapat menekan angka perokok, khususnya
bagi perokok pemula yang belakangan cenderung meningkat. Selain
dampak kesehatan asap rokok orang lain juga akan berdampak terhadap
ekonomi individu, keluarga dan masyarakat akibat hilangnya pendapatan
24
karena sakit dan tidak dapat bekerja, pengeluaran biaya obat dan biaya
perawatan. Penetapan KTR di suatu wilayah pada dasarnya adalah
kebijakan untuk memberikan perlindungan terhadap perokok pasif dari
dampak buruk asap rokok, serta menyediakan udara bersih dan sehat
yang merupakan hak asasi manusia.
II.3.2 Area Kawasan Tanpa Rokok
1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Suatu tempat atau alat yang digunakan untuk menyelenggarakan
upaya pelayanan kesehatan baik secara promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitative yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Faslitias
pelayanan kesehatan yang dimaksud adalah Rumah Sakit, Rumah
Bersalin, Poliklinik, Puskesmas, Balai pengobatan, Laboratorium,
Posyandu, Tempat praktek kesehatan swasta.
2. Tempat Proses Belajar Mengajar
Sarana yang digunakan untuk kegiatan belajar, mengajar,
pendidikan dan pelatihan. Tempat kegiatan proses belajar mengajar
yang di maksud adalah sekolah, perguruan tinggi, balai pendidikan dan
pelatihan, balai latihan kerja, bimbingan belajar, dan tempat kursus.
3. Tempat Anak Bermain
Area atau tempat baik terbuka maupun tertutup, yang digunakan
untuk kegiatan bermain anak-anak. Tempat anak bermain yang
25
dimaksud adalah kelompok bermain, penitipan anak, pendidikan anak
usia dini (PAUD), dan taman kanak-kanak.
4. Tempat Ibadah
Bangunan atau ruang tertutup atau terbuka yang memiliki ciri-ciri
tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadah bagi para pemeluk
masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat ibadah
keluarga. Tempat ibadah yang dimaksud adalah pura, masjid atau
mushola, gereja, vihara, dan klenteng.
5. Angkutan Umum
Alat trasnportasi bagi masyarakat yang berupa kendaraan darat, air,
dan udara biasanya dengan kompensasi. Angkutan umum yang
dimaksud adalah bus umum, taxi, angkutan kota termasuk kendaraan
wisata, bus angkutan anak sekolah dan bus angkutan karyawan,
angkutan antar kota, angkutan pedesaan, angkutan air, dan angkutan
udara.
6. Tempat Kerja
Ruang atau lapangan terbuka atau tertutup, bergerak atau tetap
dimana tenaga bekerja, atau yang dimasuki tenaga kerja untuk
keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber bahaya. Tempat
kerja yang dimaksud adalah perkantoran pemerintah baik sipil maupun
TNI dan POLRI, perkantoran swasta, industri, dan bengkel.
26
7. Tempat Umum
Semua tempat terbuka atau tertutup yang dapat diaskses oleh
masyarakat umum dan atau tempat yang dapat dimanfaatkan bersama-
sama untuk kegiatan masyarakat yang dikelola oleh pemerintah,
swasta, dan masyarakat. Tempat umum yang dimaksud adalah pasar
modern, pasar tradisional, tempat wisata, tempat hiburan, hotel,
restoran, tempat rekreasi, halte, terminal angkutan umum, terminal
angkutan barang, pelabuhan, dan bandara.
8. Tempat Lain yang ditetapkan
Tempat terbuka yang dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan
masyarakat.
II.3.3 Kewajiban dan Larang Tentang Kawasan Tanpa Rokok
Dalam Pasal 8 Setiap Pimpinan atau Penanggung jawab KTR wajib
untuk ; melakukan pengawasan internal pada tempat dan/atau lokasi yang
menjadi tanggung jawabnya; melarang dan/atau menyingkirkan asbak
atau sejenisnya di KTR; menegur setiap orang yang merokok di KTR dan
memerintahkan setiap orang yang tidak mengindahkan teguran untuk
meninggalkan KTR; memasang tanda dan/atau pengumuman dilarang
merokok sesuai persyaratan di setiap pintu masuk utama dan tempat yang
dipandang perlu serta mudah terbaca dan/atau didengar dengan baik;
memasang tulisan tanda Bebas Asap Rokok di setiap kendaraan dinas
27
dan/operasional; dan menyediakan tempat khusus merokok pada
kawasan atau tempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2)
huruf f dan huruf g.
Dalam Pasal 9, setiap orang dilarang merokok pada tempat atau
area yang dinyatakan sebagai KTR; setiap orang dilarang
mempromosikan, mengiklankan, menjual dan/atau membeli rokok pada
tempat atau area yang dinyatakan sebagai KTR; Setiap orang dilarang
menjual rokok kepada siswa atau anak di bawah usia 18 (delapan belas)
tahun;dan perempuan hamil. Ketentuan lebih lanjut mengenai larangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikecualikan untuk tempat umum
dan/atau tempat kerja yang ditetapkan dalam Peraturan Bupati.
(Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No. 9 Tahun 2016 tentang Kawasan
Tanpa Rokok)
II.3.4 Sanksi Peraturan Daerah Tentang Kawasan Tanpa Rokok
Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No. 9 tahun 2016
ada pun sanksi yang diberikan untuk yang melanggar ketentuan aturan
sebagai berikut ;
1. Saksi Administrasi
Dalam Bab VIII Pasal 18 ayat (1) Setiap orang, lembaga dan/atau
badan yang tidak memenuhi kewajiban dan melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 9 dikenakan
28
sanksi administratif. Saksi administratif sebagaimana di maksud
pada ayat (1) berupa ;
a. Peringatan lisan
b. Peringatan tertulis
c. Pembekuan dan/ atau pencabutan izin
d. Denda administratif
e. Penutupan atau penyegelan kegiatan/usaha
Adapun ayat (3) dalam pasal ini besaran denda administratif
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d paling sedikit Rp
50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000,00 (satu juta rupiah).
2. Tindak Pidana
Untuk ketentuan pidana dalam BAB IX di jelaskan sebagaimana
dalam pasal 21 ayat (1) Setiap orang yang merokok dan melanggar
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda
paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) lanjut ayat (2)
Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) ayat (3) Setiap orang
yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
29
ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama
3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah).
(Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No. 9 Tahun 2016 tentang Kawasan
Tanpa Rokok)
II.4 Kerangka Pikir
Rendahnya tingkat kesehatan yang disebabkan dianatranya akibat
kecanduan rokok merupakan kenyataan yang harus di hadapi dan
memerlukan pemecahan masalah. Itulah tantangan yang harus dihadapi
oleh masyarakat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak dalam rangka
terciptanya lingkungan dan sumber daya manusia yang sehat. Tentunya,
perlu dilakukan upayah yang serius untuk mencegah hal-hal tersebut.
Amanat Undang-Undang, Peraturan Pemerintah maupun Peraturan
Menteri bagi pemerintah daerah untuk membuat kebijakan kawasan tanpa
rokok. Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur yang mulai sadar akan
hal tersebut telah membuat Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No.
9 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Terdapat pula di daerah
tersebut rumah sakit (Rumah Sakit Inco Soroako) yang menerapkan
kawasan tanpa rokok. Dalam implementasi kebijakan ini diharapkan
rumah sakit yang menerapkan kawasan tanpa rokok bisa menerapkan
sesuai dengan aturan yang berlaku agar tujuan yang di rencanakan bisa
tercapai. Untuk itu penulis menggunakan teori George C. Edward III
30
(1980) dalam Agustino (2016: 136-141) yang mengajukan empat faktor
atau variabel yang berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan
implementasi kebijakan.
Kerangka pikir yang digunakan adalah sebagai berikut :
PERDA
IPMLEMENTASI
KTR
Komunikasi RUMAH SAKIT
Sumber Daya INCO SOROAKO
Tujuan Perda No. 9 Tahun
2016 Disposisi
1. Menciptakan ruang dan Struktural Birokrasi
lingkungan yang bersih
dan sehat;
2. Melindungi kesehatan
perseorangan, keluarga, KAWASAN
masyarakat, dan TANPA ROKOK
lingkungan dari bahan
yang mengandung
karsinogen dan zat adiktif
dalam produk tembakau
yang dapat menyebabkan
penyakit, kematian dan
menurunkan kualitas
hidup;
3. Meningkatkan kesadaran
dan kewaspadaan
masyarakat terhadap
bahaya merokok dan
manfaat hidup tanpa
merokok; dan
4. Melindungi kesehatan
masyarakat dari asap
rokok orang lain. Gambar II.1 Kerangka Pikir
31
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam
sebuah penelitian. Metode penelitian adalah sebuah alat atau cara ilmiah
untuk mendapatkan data dan mencapai tujuan penelitian yang sesuai dan
konsisten dengan permasalahan yang diteliti. Metode penelitian tersebut
sangat berguna dan penting dalam proses pengumpulan data, yang dalam
hal ini adalah data tentang Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa
Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako. Oleh karena itu metode penelitian
mempunyai peranan yang sangat penting dalam menemukan arah dan
kegiatan serta dapat mempermudah dalam pencapaian tujuan.
III.1 Pendekatan Penelitian
Dalam peneitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif.
Dikatakan kualitatif karena data yang dihasilkan dalam penelitian ini
berupa kata-kata tertulis atau lisan. Penggunaan jenis penelitian ini
dipandang lebih mendukung dalam memberikan arti dan makna yang
berguna dalam menyerap permasalahan yang berkaitan dengan fokus
penelitian. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dimaksudkan
untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek
penelitian, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan secara holistik dan
dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu
konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai
32
metode ilmiah (Lexy J, 2008:6). Pendektan kualitatif bertujuan
menggambarkan realita empirik dengan yang ada dalam suatu fenomena
secara rinci dan mendalam. Adapun penlitian kualitatif dalam penyajian
data berupa wawancara, dokumen resmi maupun pribadi, catatan
lapangan, dan bukan berupa angka-angka.
III.2 Jenis/Tipe Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis
penelitian deskriptif. Dikatakan penelitian deskriptif menurut Arikunto
(2005:234) karena berupaya untuk mengungkapkan suatu masalah dan
keadaan sebagaimana adanya. Disamping itu penelitian deskriptif tidak
hanya terbatas pada pengumpulan data dan penjelasan data saja, tetapi
juga menganalisa dan menginterprestasikannya. Penelitian deskriptif
menurut Arikunto (2005:234) adalah penelitian yang dimaksud untuk
mengumpulkan informasi mengenai status gejala yang ada, yaitu keadaan
gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Penelitian
deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya
menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan.
III.3 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Inco Soroako
Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Pemilihan lokasi didasarkan
pada pertimbangan lebih mudah untuk jangkauan informasi dan
33
pengumpulan data, serta dianggap perlu untuk melakukan penilitian
mengenai Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok tersebut.
III.4 Unit Analisis
Sehubungan dengan rumusan masalah yang diangkat dalam
penelitian ini, maka yang menjadi unit analisis adalah Kebijakan Kawasan
Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako. Unit analisis didasarkan pada
pertimbangan bagaimana implementasi kawasan tanpa rokok di
Kabupaten Luwu Timur Khususnya di Rumah Sakit Inco Soroako.
III.5 Fokus Penelitian
Salah satu faktor penting dalam suatu penelitian adalah
menentukan fokus penelitian. Perlunya fokus penelitian ini adalah untuk
membatasi masalah dalam penelitian sehingga obyek yang akan diteliti
tidak melebar dan terlalu luas. Menurut Lexy J (2008:8), fokus penelitian
adalah penempatan masalah yang menjadi pusat perhatian penelitian.
Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antar dua
faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda
tanya dan dengan sendirinya memerlukan upaya untuk mencari suatu
jawaban. Faktor dalam hal ini dapat berupa konsep, data empiris,
pengalaman atau unsur lainnya yang apabila keduanya ditempatkan
secara berpasangan akan menimbulkan sejumlah tanda tanya atau
kesulitan (Lexy J,2008:93). Adapun hal terkait yang ditetapkan dalam
fokus penelitian ini adalah :
34
1. Proses komunikasi dalam implementasi kebijakan kawasan
tanpa rokok di Rumah Sakit Inco Sorowako.
2. Kemampuan sumber daya dalam implementasi kebijakan
kawasan tanpa rokok di rumah Sakit Inco Sorowako.
3. Proses disposisi dalam implementasi kebijakan kawasan tanpa
rokok di Rumah Sakit Inco Sorowako.
4. Kemampuan struktur birokrasi dalam implementasi kebijakan
kawasan tanpa rokok.
III.6 Informan
Informan adalah orang-orang yang paham atau pelaku yang terlibat
langsung dengan permasalahan penelitian. Informan yang dipilih adalah
yang dianggap relevan dalam memberikan informasi mengenai
Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco
Soroako. Adapun informan dalam penelitian ini adalah :
1. Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular Luwu Timur
2. Kepala Seksi Pengawasan dan Penegakan Peraturan Daerah
Luwu Timur
3. Kepala Rumah Sakit Inco Soroako
4. Karyawan Rumah Sakit Inco Soroako
5. Security Rumah Sakit Inco Soroako
6. Pengunjung Rumah Sakit Inco Soroako 5 Orang
35
III.7 Jenis Data
Dalam penelitian ini, sumber data yang dimaksud dalam penelitian
ini adalah berkaitan dengan sumber-sumber penyedia informasi yang
mendukung dan menjadi pusat perhatian bagi peneliti. Menurut Lofland
(1984) dalam Lexy J (2008:157) sumber data utama dalam penelitian
kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan
seperti dokumentasi dan lain-lain. Hal ini dikarenakan dalam penelitian
kualitatif cenderung mengutamakan wawancara (interview) dan
pengamatan langsung (observasi) di lapangan dalam memperoleh data
yang bersifat tambahan.
Adapun data-data yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri
dari dua jenis, yaitu:
1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan
atau langsung saat melakukan penelitian. Data primer ini
diperoleh langsung dari orang-orang yang terkait langsung
dengan permasalahan tanpa melalui perantara.
2. Data sekunder merupakan data yang mendukung data primer,
yang diperoleh secara tidak langsung dapat berupa catatan atau
informasi yang berupa dokumen atau buku-buku ilmiah, laporan-
laporan, situs internet serta informasi yang berkaitan dengan
obyek penelitian.
36
III.8 Teknik Pengumpulan Data
Pengertian teknik pengumpulan data menurut Arikunto (2005:126)
teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh
peneliti untuk mengumpulkan atau memperoleh data. Oleh karena itu,
untuk memperoleh data yang valid dan relevan dalam peneliti ini, maka
peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Wawancara (interview)
Wawancara adalah kegiatan tanya jawab antara dua orang
atau lebih secara langsung. Wawancara yang digunakan
peneliti adalah wawancara langsung terhadap informan atau
responden. Peneliti menggunakan handphone dengan aplikasi
voice recorder untuk merekam hasil wawancara responden dan
peneliti juga menggunakan alat tulis berupa buku dan ballpoint
untuk menulis hal-hal penting yang disampaikan oleh
responden. Responden diminta untuk memberikan informasi
dalam bentuk fakta yang terjadi, opini yang ingin disampaikan,
sikap, dll.
Wawancara ini dilakukan secara formal (terstruktur). Dalam
hal wawancara formal, peneliti berpedoman pada daftar
pertanyaan yang telah disediakan.
2. Pengamatan (observasi)
Dalam penelitian observasi ini, peneliti menggunakan
seluruh alat indera untuk mengamati fenomena-fenomena yang
37
terjadi di lokasi. Alat-alat yang digunakan dalam observasi yaitu
buku dan ballpoint untuk mencatat kejadian-kejadian penting.
Selain itu peneliti menggunakan tabel observasi untuk
mengetahui aktivitas merokok pada lokasi penelitian. Selama
lima hari peneliti melakukan observasi di lokasi penelitian
dengan menggunakan tabel observasi.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara memperoleh data dengan
mempelajari, mencatat atau membuat salinan dari dokumen-
dokumen dan arsip-arsip yang berhubungan dengan obyek.
Dalam pedoman dokumentasi peneliti menggunakan
handphone dalam rangka menguatkan data yang diperoleh
melalui wawancara dan observasi peneliti. Peneliti mengambil
gambar di setiap momen yang penting untuk mendukung data
penelitian.
III.9 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan suatu proses penghimpunan data yang
telah diperoleh ke dalam bentuk sederhana. Tujuannya agar data yang
diperoleh mudah dimengerti dan maknanya dapat dipahami oleh diri
sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Lexy J. (2008:103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses
mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola
kategori, dan satuan uraian dasar. Dalam penelitian ini analisis data yang
38
digunakan adalah model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana
(2014:14). Adapun alur aktivitas analisis data interaktif yang di maksud
sebagai berikut:
1. Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat
pengumpulan data berlangsung. Pada tahap pertama, peneliti
mengumpulkan data yang telah ditentukan sejak awal yang
melibatkan aktor, aktifitas dan terjadinya fenomena.
2. Kondensasi data diartikan sebagai proses pemilihan,
penyederhanaan dan transformasi data mentah yang di dapat
dari lapangan. Kondensasi data berlangsung terus-menerus
selama penelitian. Kondensasi dapat dilakukan dengan cara,
menjabarkan data yang diperoleh di lokasi penelitian dituangkan
dalam uraian secara lengkap dan terperinci. Laporan lapangan
disederhanakan dan dipilih hal-hal yang penting atau pokok,
difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian dicari polanya.
Hal ini bertujuan untuk memperkuat data sebuah konsep yang
berbeda dengan reduksi data yang terkesan melemahkan data
dengan membuang data yang diperoleh di lapangan.
3. Data yang telah terkumpul dan diklasifikasikan selanjutnya
disajikan baik dalam bentuk tabel maupun bentuk kalimat atau
uraian.
4. Penarikan kesimpulan dalam penelitian kualitatif dilakukan
secara terus-menerus sepanjang proses penelitian berlangsung.
39
Penarikan kesimpulan merupakan bagian akhir dalam kegiatan
analisis. Dari hasil data yang diperoleh dari lapangan tersebut
kemudian dikumpulkan serta dianalisa untuk dapat ditarik
kesimpulannya.
40
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Wilayah penelitian merupakan hal yang diperlukan untuk
memberikan pendalaman pemahaman mengenai permasalahan yang
akan diteliti lebih lanjut. Berikut gambaran mengenai Kabupaten Luwu
Timur dan Profil Rumah Sakit Inco Soroako.
IV.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Luwu Timur
Kabupaten Luwu Timur merupakan salah satu dari 24
kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Luwu Timur
terletak di sebelah selatan garis khatulistiwa. Tepatnya di antara
1190.28’.58” – 1210.47’.27” Bujur Timur. Kabupaten Luwu Timur
berbatasan dengan dua provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Tengah di
sebelah utara dan timur dan Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah
Selatan. Sementara itu, batas sebelah barat kabupaten ini adalah
Kabupaten Luwu Utara. Selain itu Kabupaten Luwu Timur juga berbatasan
langsung dengan laut yaitu dengan Teluk Bone di sebelah Selatan.
Ibukota Kabupaten Luwu Timur adalah Malili. Luas Wilayah
Kabupaten Luwu Timur tercatat 6.944,88 km2 atau 11,14 persen dari luas
wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Luwu Timur dibagi menjadi
11 kecamatan yaitu kecamatan Burau, Wotu, Tomoni, Tomoni Timur,
41
Angkona, Malili, Towuti, Nuha, Wasuponda, Mangkutana, dan Kalaena.
Kecamatan terluas adalah Kecamatan Towuti yang mencapai 1.820.48
km2 atau 26,21 persen dari luas Kabupaten Luwu Timur. Luas wilayah
Kabupaten Luwu Timur tercatat 6.944,88 km2 atau sekitar 11,14 persen
dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.
Adapun batas – batas wilayahnya adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara Berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah
2. Sebelah Timur Berbatasan dengan Provinisi Sulawesi Tengah
3. Sebelah Selatan Berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara
dan Teluk Bone
4. Sebelah Barat Berbatasan dengan Kabupaten Luwu Utara
IV.1.2 Profil Rumah Sakit Inco Soroako
Rumah sakit INCO SOROWAKO adalah Rumah Sakit Tambang
dan pengolahan biji Nickel yang diresmikan oleh Bapak Presiden Suharto
dan Ibu Tien Suharto pada Tanggal 31 Maret 1977.
Rumah Sakit berkapasitas 50 Tempat Tidur ini dirancang olek
Kaiser Engineering dan dibangun oleh Perusahaan Bechtel dari Amerika
yang dipercayakan oleh INCO Limited untuk mengawasi pelaksanaan
pembangunan pabrik pengolahan Nickel Sorowako.
Rumah Sakit INCO Sorowako merupakan salah satu Unit
Pelayanan Kesehatan dari Departemen Medical Services yang dua
42
kegiatan lainnya adalah Occupational Health dan Public Health Services.
Sebagai sebuah Rumah Sakit Swasta di wilayah pertambangan, struktur
organisasinya, maupun jumlah tenaga medis, paramedic, paramedic non
perawatan dan non medis lainnya berbeda dengan rumah sakit swasta
maupun pemerintah dengan jumlah tempat tidur yang sama. Demikian
juga dengan kegiatan administrasinya yang mencakup seluruh kegiatan
Departemen Medical Services.
Mengingat kegiatan dipabrik pengolahan dan Unit-Unit terkait
berlangsung selama 24 jam, sedapat mungkin tersedia beberapa tempat
tidur kosong dalam mengantisipasi kecelakaan kerja yang sewaktu-waktu
dapat saja terjadi.
Dalam upaya mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang paripurna,
selain Pelayanan spesialis dasar, perusahaan juga mendatangkan dokter-
dokter ahli lainnya seperti Ahli THT, Ahli Penyakit Kulit & Kelamin,
Penyakit Jantung & Kardiovaskuler, Ahli Mata, Ahli bedah Tulang & Sub
Spesialis lain sesuai dengan kebutuhan.disamping itu dilakukan rujukan
ke rumah sakit di Makassar, Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta bahkan
sampai ke Singapura.(Offsite Medical Treatment/OMT).
Sejalan dengan Program Perusahaan dalam hal pengembangan
sumber daya manusia, semua karyawan Medical Services diberikan
kesempatan secara periodik untuk mengikuti kursus, symposium dan
kongres sesuai bidang masing-masing.
43
Perkembangan Rumah Sakit INCO Sorowako selanjutnya tentu
tidak terlepas dari pengembangan proyek ini pada masa mendatang
seirama dengan pasang surutnya harga nickel.
IV.1.2.1 Visi dan Misi Rumah Sakit
1. Visi
Menjadi unit pelayanan kesehatan terbaik dilingkungan perusahaan
pertambangan di Indonesia.
2. Misi
Menjamin agar setiap orang dilingkungan kerja PT. VALE Indonesia
bisa mendapatkan pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif yang berkualitas.
3. Tujuan
Memberikan pelayanan kesehatan yang optimum, bermutu, tepat,
efektif dan komunikatif bagi karyawan dan keluarganya, serta
masyarakat sekitar tanpa membedakan status sosial, ekonomi
agama, atau budaya sesuai dengan Etika Rumah Sakit.
IV.1.2.2 Pelayanan
Pelayanan di rumah sakit Inco Soroako diberikan kepada :
1. Karyawan PT Vale Indonesia dan Keluarganya
2. Karyawan Kontraktor dan Keluarganya
3. Masyarakat Umum
44
Pelayanan Poliklinik
1. Umum : Senin-Jumat
2. Spesialis Anak : Senin s/dJumat
3. Bedah : Selasa/Kamis
4. Kebidanan/Kandungan : Senin/Jumat
5. Gigi : Senin-Jumat
6. Pelayanan Ibu Hamil : Selasa/Rabu/Kamis
7. Keluarga Berencana : Senin
Loket Buka:
• Senin-Kamis : Pagi, Jam 07.00 – 10.00
Siang, Jam 12.15 – 14.00
• Jumat : Pagi, Jam 07.00 – 10.00
Siang, Jam 13.00 – 14.30
• Klinik Sore : Senin-Jumat, Jam 15.30 – 17.00
• Sabtu/Minggu/Hari Raya : Tutup
Ketentuan Umum:
1. Bagi pasien dari golongan masyarakat umum harus membawa
surat pengantar dari Puskesmas dan menunjukkan kartu Rekam
Medik (yang telah memiliki), dan yang belum memiliki kartu
Rekam Medik, akan dibuatkan dengan melengkapi data yang
dibutuhkan.
2. Bagi keluarga karyawan tanggungan PT Vale Indonesia, setiap
kali berobat harus menunjukkan kartu berobat keluarga (warna
45
kuning, yang dikeluarkan oleh Personalia PTVI) dan kartu
Rekam Medik (warna putih, yang dikeluarkan oleh Petugas
Rekam Medik RS INCO Sorowako.
3. Bagi karyawan kontraktor, setiap kali berobat harus membawa
surat jaminan (pengantar) dari Perusahaan tempatnya bekerja
dan memperlihatkan kartu Rekam Medik yang telah dimilikinya.
Karyawan wajib membayar tunai atas biaya pelayanan serta
pengobatan yang didapatnya bila tidak membawa surat jaminan
(pengantar) dari perusahaan tempatnya bekerja.
4. Bagi karyawan PT. Vale Indonesia yang bekerja harus
membawa surat pengantar berobat (SAF 001) yang
ditandatangani oleh atasannya dan memperlihatkan kartu
Rekam Medik yang telah dimilikinya.
Prosedur:
Penerimaan pasien rawat jalan dilakukan setiap hari:
• Pagi : Jam 07.00 – 10.00
• Siang : Jam 12.15 – 14.00 (di loket pendaftaran)
Khusus pasien Non Vale, terlebih dahulu menyelesaikan biaya
pendaftaran, pemeriksaan dan lain-lain di loket pembayaran (kasir),
kecuali dalam keadaan darurat, selanjutnya pasien menunggu panggilan
di ruang tunggu.
46
IV.1.2.2 Tata Tertib dan Tata Laksana Perawatan Pasien
1. Waktu besuk pada hari Senin - Jumat :
Sore : Pukul 15.30 – 16.30 Wita
Malam : Pukul 18.30 – 19.30 Wita
2. Waktu besuk pasien pada hari Sabtu & Minggu/Hari Raya:
Pagi : Pukul 10.30 – 11.30 Wita
Sore : Pukul 15.30 – 16.30 Wita
3. Anak dibawah umur 5 tahun dilarang masuk kedalam ruangan.
4. Pasien diharuskan berada diruangan masing-masing pada
waktu kunjungan.
5. Pengunjung dilarang membawa makanan basah, dan makanan
beraroma tajam ( buah durian, dll.)
6. Pengunjung dilarang makan/merokok didalam ruangan.
7. Pengunjung dilarang menggunakan fasilitas rumah sakit yang
khusus disediakan untuk pasien (misalnya air untuk mencuci
dan mandi).
8. Penjaga pasien/penunggu pasien harus mempunyai kartu
penunggu yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit.
9. Penjaga pasien/penunggu pasien hanya diperbolehkan 1 orang
pada malam hari, kecuali pasien yang dalam keadaan kritis,
boleh dijaga 2 orang saja.
10. Penunggu/penjaga/pengunjung tidak dibenarkan duduk/tidur
ditempat tidur pasien.
47
11. Penunggu/penjaga/pengunjung dilarang membawa alat-alat
elektronik yang dapat mengganggu ketenangan pasien.
12. Penunggu/penjaga/pengunjung dilarang membawa senjata
api/senjata tajam.
13. Penunggu/penjaga/pengunjung diharapkan tidak boleh
membawa barang berharga atau uang dalam jumlah yang besar
(kehilangan diluar tanggung jawab Rumah Sakit).
14. Penunggu/penjaga/pengunjung, diharapkan dapat memelihara
kebersihan, kerapihan, ketertiban dan ketenangan di Rumah
Sakit.
15. Penunggu/penjaga/pengunjung diruang ICU dan Emergency
terlebih dahulu harus mendapatkan ijin dari perawat jaga/dokter
jaga.
IV.2 Hasil Penelitian
Implementasi kebijakan merupakan cara yang dilakukan untuk
mencapai sebuah tujuan pada suatu kebijakan. Dalam implementasi
kebijakan terdapat empat faktor atau variabel yang berpengaruh terhadap
keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan. Empat faktor
tersebut adalah komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokasi.
IV.2.1 Komunikasi
Komunikasi merupakan faktor penting pertama dalam implementasi
kebijakan. Komunikasi bertujuan untuk memberikan informasi dari pihak
48
yang berwenang kepada pelaksana kebijakan tentang maksud dari
implementasi kebijakan. Pelaksana Kebijakan Kawasan Tanpa Asap
Rokok di Lingkungan Rumah Sakit Inco Soroako adalah Kepala Rumah
Sakit, pegawai rumah sakit, masyarakat, dan pihak lain di dalam
lingkungan rumah sakit.
Pihak rumah sakit mempunyai wewenang atau tugas untuk
mengkomunikasikan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di rumah sakit
kepada semua pihak. Komunikasi dalam implementasi kebijakan terdiri
dari 3 dimensi yaitu dimensi transmisi (transmision), dimensi kejelasan
(clarity), dimensi konsistensi (consistency).
1. Dimensi transmisi mengharapkan agar kebijakan disampaikan
kepada sasaran kebijakan agar tujuan dari kebijakan dapat
dipahami dan dilaksanakan dengan baik. Sosialisasi menjadi
alat komunikasi Rumah Sakit Inco Soroako untuk
menyampaikan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah.
Kegiatan sosialisasi pernah dilakukan pihak rumah sakit. Hal ini
seperti yang dijelaskan oleh Bapak KBR selaku Kepala Rumah
Sakit di rumah sakit Inco Soroako bahwa:
“…pernah dilakukan sosialisai tapi untuk yang formal itu
sudah lama, sudah 5 tahun lebih karena aturan kawasan
tanpa rokok ini sudah jauh diterapkan sebelum adanya
perda tentang kawasan tanpa rokok di kabupaten luwu
timur. Kalau untuk karyawan rumah sakit sudah sama dulu
sosialisasinya pada waktu diterapkannya kawasan tanpa
rokok ini. Kalau untuk sosialisasi yang berlanjut itu di
sampaikan saja ke setiap pasien yang akan masuk melalui
lembar pernyataan.” (KBR/10/11/2017)
49
Dari pihak rumah sakit telah melakukan penyampaian informasi
terkait kebijakan kawasan tanpa rokok. Pernyataan tersebut
diperjelas oleh bapak ES selaku security rumah sakit Inco
Soroako yang menjelaskan:
“…sudah disampaikan kayaknya kepada karyawan
pada saat meeting tidak tau kapan waktunya kalau ini
rumah sakit sudah bebas rokok tapi sudah lama sudah ada
juga papan – papan di sekitar area rumah sakit. Kami juga
pihak security sudah di sampaikan dan jadi tugas kami
untuk masalah melarang orang merokok. Kalau untuk
pengunjung rumah sakit pasti akan baca papan – papan
larang merokok karena sudah banyak di pasang.”
(ES/16/11/2017)
Hal serupa disampaikan oleh salah satu pegawai Dinas
Kesehatan Kabupaten Luwu Timur bapak RT selaku Kepala
Seksi PTM (Penyakit Tidak Menular) bahwa:
“…Sosialisasi kami sudah lakukan 100%, kami bahkan
sudah tiga kali menyampaikan untuk tingkat kabupaten
kami memanggil semua dari tingkat desa sampai
kecamatan bahkan dari pihak rumah sakit dan seluruh
stakeholder terkait kawasan bebas rokok. Wajib semua
sasaran kebijakan untuk menerapkan aturan tersebut
tahun 2018. Untuk tahun ini 2017 kami masih memang
dalam tahap sosialisai tapi untuk rumah sakit tempat
kesehatan lainnya sekolah harus menjalankan larang
merokok tersebut wajib itu. Apalagi rumah sakit Vale
bahkan menjadi pemateri pada saat sosialisasi”
(RT/15/11/2017)
Dari pihak Satpol PP juga menyampaikan, oleh bapak L selaku
Kepala Seksi Pengawasan dan Penegakan Peraturan Daerah
bahwa:
“…Kalau di luwu timur ini semua orang hampir tau
bahwa di luwu timur sudah kawasan tanpa rokok. Tapi
50
kami juga sudah sampaikan gambaran umumnya terkait
kawasan tanpa rokok bersama pemerintah daerah. Semua
dipanggil dari kecamatan nanti dia sampaikan ke
warganya. Memang sekarang kami dulu hanya melakukan
sosialisasi. Jadi nanti kami turun ke semua tempat sasaran
untuk melakukan penindakan kalau sudah tersusun semua
teknisnya. Jadi mungkin nanti 2018 kami sudah adakan
penindakan.” (L/15/11/2017)
Hasil dokumentasi juga menemkan bahwa rumah sakit Inco
Soroako sudah termasuk kawasan tanpa rokok.
Gambar IV.1 Baliho Daerah
Kawasan Tanpa Rokok
Kegiatan sosialisasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di
Rumah Sakit Inco Soroako dilakukan sekitar kurang lebih lima
tahun yang lalu. Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok juga di
sosialisasikan oleh pemerintah daerah Kabupaten Luwu Timur.
Sosialisasi merupakan sarana komunikasi yang penting karena
suatu informasi dalam kebijakan akan tersampaikan dengan
baik kepada sasaran dan akan mempengaruhi keberhasilan
implementasi kebijakan
51
2. Dimensi kejelasan dalam komunikasi kebijakan menginginkan
kebijakan dapat dimengerti oleh implementator dan sasaran
kebijakan. Kejelasan yang diterima oleh implementator dan
sasaran kebijakan sangat penting agar mengetahui tujuan dan
maksud dari kebijakan tersebut. Beberapa pengunjung
mengaku tidak tahu akan adanya kebijakan tersebut tetapi
mereka paham bahwa merokok di rumah sakit itu dilarang.
Seperti yang dijelaskan oleh ML keluarga pasien rumah sakit
Inco Soroako sebagai berikut:
“…Kalau untuk dilarang merokok di rumah sakit saya
tau ji dek, tapi masih banyak ji yang merokok karena kalau
pegawai rumah sakit ji jarang ji menegur, security juga nda
terlalu perhatikan ji kalau orang merokok, saya juga baru
tau kalau ada aturannya itu kalau ada ternyata hanya tidak
pernah disampaikan. Jadi saya merokok saja.”
(ML/08/11/2017)
Hal serupa disampaikan oleh pihak security bapak ES rumah
sakit menjelaskan bahwa:
“…Memang masih ada yang merokok apalagi
pengunjung yang baru yang tidak tau mungkin no smoking
area ada juga karyawan tapi merokoknya jauh – jauh kalau
mau merokok di dekat pos ada parkiran kah atau dimana.”
(ES/16/11/2017)
Diperjelas lagi oleh salah satu pengunjung rumah sakit bapak
AK bahwa:
“…Saya juga tidak tau kalau ada aturannya tersendiri.
Tentang merokok tapi susah juga kalau mau merokok
keluar jauh – jauh.” (AK/10/11/2017)
52
Hasil observasi di lapangan juga menemukan beberapa
pengunjung merokok di lingkungan rumah sakit. Selain itu
terdapat beberapa puntung rokok beserta bungkusnya dibuang
sembarangan di lingkungan dan koridor rumah sakit. Hal
tersebut menunjukan bahwa pengunjung sudah terbiasa
merokok di lingkungan rumah sakit. Berikut beberapa foto hasil
observasi:
Gambar IV.2 Pengunjung yang merokok
Gambar IV.3 Puntung dan bungkus rokok
di lingkungan rumah sakit
53
Beberapa informasi di atas dapat disimpulkan bahwa
penyampaian kebijakan kawasan tanpa rokok masih belum
jelas. Pemahaman mengenai kebijakan tersebut khususnya
pada pengunjung kemungkinan dapat terhambat apabila pihak
rumah sakit tidak memperjelas kebijakan tersebut kepada
pengunjung, pasien, atau pihak dari rumah sakit itu sendiri
karena sosialisasi yang diadakan ditujukan hanya untuk
karyawan saja yang sosialisasinya sudah di lakukan sudah
beberapa tahun yang lalu.
3. Dimensi konsistensi dalam komunikasi kebijakan menginginkan
implementasi kebijakan berjalan efektif dengan perintah-
perintah yang jelas dan konsisten. Dimensi konsistensi di
rumah sakit Inco Soroako belum bisa dianggap sebagai sikap
konsisten karena terdapat sebuah tempat di lingkungan yang
digunakan khusus untuk merokok dan lingkungan tersebut
masih digunakan bebas untuk merokok tanpa adanya teguran
dari pihak rumah sakit. Tempat yang dimaksud terletak tidak
jauh dari ruangan di rumah sakit. Tempat khusus merokok
tersebut merupakan tempat kebiasaan bagi para pengunjung
bahkan dari sebagian karyawan rumah sakit. Hal tersebut
sesuai dengan hasil wawancara kepada Ibu AUK selaku
karyawan rumah sakit Inco Soroako sebagai berikut:
“…Masih banyak yang merokok di dekat wc memang di
situ tempat kebiasaan pengunjung keluarga pasien
54
merokok dan bahkan saya biasa lihat karyawan juga
merokok di situ memang di situ seperti tempat untuk
khusus merokok tapi karena faktor kebiasaan saja jadi di
anggap di situ tempat bebas merokok untuk di rumah sakit.
Di dekat wc memang jarang orang mau di tegur”
(AUM/16/11/2017)
Pendapat yang lain disampaikan oleh KBR selaku kepala
rumah sakit mengenai adanya tempat kebiasaan merokok
sebagai berikut:
“…Memang susah karena tidak ada sanksi dan kita
tidak bisa memberi sanksi dan tidak di atur kita bukan
penegak hukum, jadi masih ada memang tempat
pengunjung merokok agak di luar – luar, tapi kalau untuk
dalam ruangan sudah tidak boleh lagi.” (KBR/10/11/2017)
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa tidak adanya
konsistensi antara kebijakan yang diberlakukan dengan
kenyataan yang terjadi di lapangan. Kebijakan Kawasan Tanpa
Rokok di rumah sakit sudah jelas menegaskan bahwa
lingkungan rumah sakit Inco Soroako merupakan kawasan
tanpa rokok.
IV.2.2 Sumber Daya
Sumber daya mempunyai peran yang sangat berpengaruh dalam
implementasi sebuah kebijakan. Sumber daya yang tersedia diharapkan
mendukung implementasi kebijakan, jika sumber daya tidak mendukung
tentu saja akan menghambat pelaksanaan kebijakan. Sarana penunjang
yang tepat juga dapat memaksimalkan tujuan dari sebuah kebijakan.
55
Sumber daya pada proses implementasi kebijakan kawasan tanpa
rokok di rumah sakit berhubungan dengan kesiapan dari pihak pelaksana.
Sumber daya tersebut dapat berupa sumber daya manusia, sumber daya
anggaran, sumber daya peralatan, dan sumber daya kewenangan. Berikut
hasil penelitian mengenai sumber daya implementasi kebijakan kawasan
tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako:
1. Sumber daya manusia dari pihak rumah sakit dapat dilihat dari
jumlah pelaksana yang menangani kebijakan tersebut, keahlian
yang dimiliki anggota pelaksana, informasi yang relevan
tentang implementasi kebijakan dan persiapan lainnya. Sumber
daya manusia yang digunakan sebagai pelaksana kebijakan
kawasan tanpa rokok di rumah sakit adalah security dan
seluruh karyawan. Berikut penjelasan dari Bapak KBR selaku
Kepala rumah sakit Inco Soroako:
“…Kalau untuk tim khusus untuk menangani masalah
kebijakan tentang larangan rokok ini memang tidak ada.
Namun untuk pengamanan lingkungan rumah sakit kan
ada security jadi security nanti yang menegur atau
melarang tentang masalah rokok ini karyawan juga di
suruh untuk menegur namun masih banyak yang acuh
untuk menegur.” (KBR/10/11/2017)
Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Bapak ES selaku selaku
security rumah sakit Inco Soroako sebagai berikut:
“…Jadi memang untuk disini rumah sakit saya yang
patroli untuk melihat sekeliling lingkungan rumah sakit jadi
saya yang di tugaskan untuk melarang orang merokok di
sekitar rumah sakit namun karyawan juga sudah harus dan
56
menjadi kewajiban untuk melarang orang yang berada di
rumah sakit supaya tidak merokok.” (ES/16/11/2017)
Jumlah pelaksana yang menangani kebijakan kawasan tanpa
rokok di rumah sakit Inco Soroako masih sangat kurang karena
terkendala di jumlah security hanya cuma dua orang,
sedangkan karyawan juga mayoritas berada di dalam ruangan
rumah sakit. sehingga kesulitan untuk memperhatikan orang –
orang yang merokok di sekitar rumah sakit. Hal tersebut sesuai
dengan hasil wawancara dengan Bapak ES selaku security
rumah sakit Inco Soroako menjelaskan bahwa:
“…Memang agak kesulitan yah karena saya harus di
pos juga harus memperhatikan kondisi orang-orang sekitar
rumah sakit ini luas jadi kalau saya cuma sendiri kesulitan
karena teman yang menjaga satu orang berada di dalam
ruangan kalau saya patroli di area selatan rumah sakit
biasanya area utara ada yang merokok jadi memang agak
sulit jadi berharap juga kesadaran pengunjung dan
karyawan untuk menegur ketika melihat dan melaporkan
ke saya.” (ES/16/11/2017)
Kesiapan sumber daya manusia dalam implementasi kebijakan
kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako di tangani
oleh security dan karyawan, namun dari adanya kebijakan
kawasan tanpa rokok tersebut kondisi sumber daya yang ada
belum dimaksimalkan.
2. Sumber daya anggaran dalam pelaksanaan kebijakan kawasan
tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako sudah cukup karena
program dari untuk pelaksanaan kawasan tanpa rokok di
57
rumah sakit tidak membutuhkan pendanaan yang banyak.
Pendanaan untuk kebijakan tersebut hanya terdapat pada
pemasangan tanda dilarang merokok. Pemasangan tanda
dilarang merokok menggunakan anggaran dari rumah sakit.
Hal tersebut disampaikan oleh Bapak KBR selaku kepala
rumah sakit Inco Soroako bahwa :
“…Untuk anggaran tentang kawasn rokok ini
menggunakan anggaran dari rumah sakit untuk
pemasangan papan – papan dan poster terkait larangan
merokok.” (KBR/10/11/2017)
Anggaran dalam pelaksanaan kebijakan kawasan tanpa rokok
yang dikeluarkan hanya untuk memasang tanda larangan
merokok di sekitar area rumah sakit dengan anggaran yang
sudah disediakan dari rumah sakit Inco Soroako.
3. Sumber daya peralatan yang digunakan untuk melaksanakan
kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako
hanya menggunakan tanda larangan merokok. Tidak ada
peralatan khusus dari rumah sakit karena tidak ada program
khusus untuk menangani kebijakan tersebut. Informasi tersebut
didapatkan dari hasil wawancara dengan Bapak KBR selaku
kepala rumah sakit Inco Soroako menjelaskan bahwa:
“…Kalau untuk di rumah sakit di sini kami hanya
memasang tanda larangan saja untuk tidak merokok
selebihnya yang namanya perturan kan apalagi undang –
undang tau atau tidak harus dilaksanakan.”
(KBR/10/11/2017)
58
Belum ada tempat khusus untuk merokok di lingkungan rumah
sakit. Sehingga masih terdapat aktivitas merokok sembarangan
di lingkungan rumah sakit. Sesuai dengan penjelasan
pengunjung rumah sakit Bapak AK sebagai berikut:
“…Disini memang ada tanda larangan merokok tapi
bagaimana juga kita yang merokok tidak ada tempat
khusus jadi biasa saya merokok saja jarang juga ada yang
menegur.” (AK/10/11/2017)
Hasil obeservasi menemukan tanda larangan merokok itu
hanya sebatas pajangan. Masih terdapat penunjung yang
belum bisa menghentikan aktivitas merokok dan juga terdapat
tempat khusus bagi para pengunjung untuk merokok.
Gambar IV.4 Pengunjung merokok
di dekat tanda larangan
Gambar IV.5 Tempat khusus merokok pengunjung
59
4. Sumber daya kewenangan yang berada di rumah sakit Inco
Soroako menjadi tugas dari Kepala Rumah Sakit. Kepala
Sekolah mempunyai kewenangan untuk mengatur pelaksanaan
kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit. Sumber daya
kewenangan di rumah sakit Inco Soroako dalam pelaksanaan
kebijakan kawasan tanpa rokok kurang maksimal. Selain
sosialisasi, belum ada program dari rumah sakit yang
mendukung implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok di
rumah sakit Inco Soroako. Hal tersebut dijelaskan oleh Bapak
KBR selaku Kepala Rumah Sakit Inco Soroako:
“…Jadi di rumah sakit ini memang hanya larangan
merokok dalam bentuk kebijakan rumah sakit itu mengacu
juga dengan Undang – undang maupun peraturan daerah
namun untuk program khusus kawasan tanpa rokok
memang belum ada kita cukup memasang tanda – tanda
saja karena yang namanya peraturan apalagi UU itu tau
tidak tau harus dilaksanakan yang jadi masalah juga kita
tidak bisa memberikan sanksi.” (KBR/10/11/2017)
Hal tersebut juga dijelaskan oleh Ibu AUK selaku karyawan
rumah sakit Inco Soroako bahwa:
“…Kalau dari pihak rumah sakit memang tidak tim
khusus untuk kawasan tanpa rokok ini hanya berupa
larangan saja dan tidak program khusus yang mengatur
tapi sudah ada tanda – tanda larangan untuk tidak
merokok di aera rumah sakit.” (AUM/16/11/2017)
Hal serupa juga dikemukakan oleh Bapak ES selaku security
rumah sakit:
60
“…Kalau untuk larangan merokok cuma saya saja
sama teman yang menjaga untuk program khususnya tidak
adaji hanya tanda – tanda saja di pasang sudah cukupmi
itu yang jelas kami selalu ingatkan kalau ada yang
ketahuan merokok.” (ES/16/11/2017)
Sumber daya yang ada belum bisa untuk memaksimalkan
pelaksanaan kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit
Inco Soroako. Belum ada sumber kewenangan dari Kepala
Rumah Sakit untuk mendukung dan mengontrol orang – orang
yang berada di rumah sakit agar tidak merokok.
IV.2.3 Disposisi
Disposisi merupakan sikap dari pelaksana kebijakan untuk
melaksanakan kebijakan secara sungguh-sungguh sehingga tujuan
kebijakan dapat diwujudkan. Sikap yang bisa mempengaruhi berupa sikap
menerima, acuh tak acuh, atau menolak. Hal ini dipengaruhi oleh
pengetahuan dari seorang implementor akan kebijakan tersebut mampu
menguntungkan organisasi atau dirinya sendiri. Pada akhirnya, intensitas
disposisi implementor dapat mempengaruhi pelaksana kebijakan.
Kurangnya atau terbatasnya intensitas disposisi ini, akan bisa
menyebabkan gagalnya implementasi kebijakan.
Pelaksana kebijakan kawasan tanpa rokok di sekolah meliputi
Kepala Rumah Sakit, Karyawan rumah sakit dan security. Pihak – pihak
yang terlibat dalam implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah
sakit diharapkan memiliki dedikasi untuk melaksanakan tanggung jawab
61
tersebut. Kepala rumah sakit memiliki tanggung jawab mengawasi dan
mensukseskan kebijakan tersebut dengan bekerja sama dengan seluruh
karyawan. Pihak rumah sakit melakukan upaya untuk mensosialisasikan
kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit kepada kelompok sasaran,
pemasangan papan tanda larangan dilarang merokok di kawasan rumah
sakit. Sikap pelaksana kebijakan di rumah sakit Inco Soroako masih belum
menunjukkan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kebijakan kawasan
tanpa rokok di rumah sakit, hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara
dengan Bapak KBR selaku Kepala Rumah Sakit Inco Soroako:
“…Tanda larangan kami sudah pasang tapi memang
susah kami tidak bisa berikan sanksi tapi yang namanya
undang – undang tau tidak tau di anggap tau harus di
laksanakan karyawan juga ada yang masih acuh untuk
menegur.” (KBR/10/11/2017)
Hasil observasi dilapangan juga menemukan seorang pengunjung
yang merokok di sekitaran tanda larangan merokok di rumah sakit.
Pengunjung yang merokok tidak mendapatkan teguran sedikitpun padahal
beberapa karyawan hanya lewat begitu saja. Hal tersebut menunjukkan
sikap yang tidak sejalan dengan Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di
lingkungan rumah sakit. Hasil wawancara dengan Bapak ML selaku
pengunjung rumah sakit Inco Soroako menjelaskan:
“…Saya merokok disini karena jauh lagi mau keluar
merokok dari tadi juga saya merokok disiniji tapi nda ada ji juga
yang tegur.” (ML/08/11/2017)
Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Bapak AL selaku
pengunjung rumah sakit menjelaskan:
62
“…Disini memang ada tanda larangan merokok tapi
bagaimana juga kita yang merokok jadi biasa saya merokok
saja jarang juga ada yang menegur.” (AK/10/11/2017)
Hasil observasi yang lain juga menemukan adanya lokasi yang
digunakan menjadi tempat kebiasaan merokok bagi para pengunjung.
Lokasi tersebut ada beberapa titik tempat yang masih berada di
lingkungan rumah sakit Inco Soroako.
Kesimpulan dari beberapa pendapat dan hasil observasi di atas
menunjukkan bahwa sikap atau disposisi pelaksana kebijakan di rumah
sakit Inco Soroako ini belum bisa sesuai dengan kebijakan kawasan tanpa
rokok. Pelaksana kebijakan masih menunjukkan sikap yang tidak
mendukung atas kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako.
IV.2.4 Struktur Birokrasi
Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya kerjasama
banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang
tersedia, maka hal ini akan menyebabkan sumber-sumber daya yang tidak
termotivasi sehingga menghambat jalannya kebijakan. Birokrasi sebagai
pelaksana sebuah kebijakan harus dapat mendukung kebijakan yang
telah diputuskan secara politik dengan jalan melakukan koordinasi dengan
baik.
Struktur birokrasi jelas mempengaruhi keberhasilan kebijakan
karena melibatkan banyak pihak di dalamnya. Beberapa pihak yang
terlibat dalam pelaksanaan kebijakan akan bersinergi membentuk struktur
63
birokrasi untuk mewujudkan implementasi kebijakan sesuai dengan
tujuan. Struktur birokrasi memiliki pemimpin yang mempunyai peran
sebagai penanggung jawab. Pemimpin struktur birokrasi dalam
implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Sorako
adalah Kepala Rumah Sakit.
Sebuah implementasi kebijakan tentu saja memiliki Standart
Operating Procedure (SOP). SOP digunakan sebagai pedoman oleh
pelaksana kebijakan dalam melaksanakan tugasnya. Implementasi
kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako tidak
sepenuhnya serupa dengan SOP, hanya dilakukan secara sederhana
seperti yang dijelaskan oleh Bapak KBR selaku Kepala Rumah Sakit Inco
Soroako:
“…Memang untuk SOPnya belum ada tapi kami sudah
masukan kawasan tanpa rokok ini dalam tata tertib dan tata
laksana perawatan pasien pengawasan tata tertib ini diawasi
oleh Kepala Rumah Sakit security dan dibantu oleh karyawan
rumah sakit kami juga sudah memasang tanda larangan
merokok kalau untuk pedoman tidak ada dari rumah sakit yang
membahas khusus terkait kawasan tanpa rokok.”
(KBR/10/11/2017)
Pelaksanaan kebijakan tersebut tidak memiliki tim khusus untuk
mendukung kawasan tanpa rokok namun diberikan tanggung jawab untuk
masalah kawasan tanpa rokok di lingkungan rumah sakit itu kepada
security dan dibantu oleh karyawan rumah sakit. Penyampaian tersebut di
peroleh dari hasil wawancara dengan Bapak ES selaku security rumah
sakit Inco Soroako:
64
“…Selaku security di rumah sakit ini memang saya dan
rekan saya yang menjaga bertanggung jawab atas lingkungan
rumah sakit salah satunya tentang kawasan tanpa rokok di
rumah sakit ini di bantu juga oleh karyawan rumah sakit hanya
sulit karena saya di luar ruangan cuma sendiri rekan saya
satunya di dalam ruangan nah rumah sakit ini kan luas jadi
agak kesulitan untuk mengawasi sepenuhnya bagi – bagi orang
yang merokok karyawan juga mayoritas di dalam ruangan jadi
agak sulit namun tanda – tanda larangan di lingkungan rumah
sakit sudah banyak di pasang jadi kita juga harapkan
kesadaran masyarakat yang dating ke rumah sakit.”
(ES/16/11/2017)
Hal serupa juga disampaikan oleh Ibu AUM selaku karyawan rumah
sakit Inco Soroako:
“…Kalau dari pihak rumah sakit memang tidak tim ada
khusus untuk kawasan tanpa rokok ini hanya berupa larangan
saja dan tidak program khusus yang mengatur tapi sudah ada
tanda – tanda larangan untuk tidak merokok di aera rumah
sakit jadi yang bertanggung jawab itu security rumah sakit dan
karyawan juga harus menegur bila ada yang merokok
dilingkungan rumah sakit namun masih banyak juga yang
merokok karena masih ada beberapa tempat dalam area
rumah sakit yang menjadi kebiasaan pengunjung untuk
merokok.” (AUM/16/11/2017)
Kesimpulan dari beberapa pendapat di atas menunjukkan bahwa
belum ada pedoman yang jelas dari pihak rumah sakit untuk mengatur
pelaksanaan Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di lingkungan rumah sakit.
Pihak rumah sakit sudah melaksanakan perintah untuk memasukan
larangan merokok di lingkungan rumah sakit pada tata tertib dan tata
laksana perawatan pasien, selain itu pihak sekolah juga telah memasang
tanda dilarang merokok.
65
Tim pelaksana kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco
Soroako tidak dibentuk karena sudah ada security yang diberikan
tanggung jawab untuk mengawasi orang – orang yang merokok di
lingkungan rumah sakit.
IV.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Impelementasi merupakan tahap yang penting dalam sebuah
kebijakan. Implementasi akan mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu
kebijakan yang telah dibuat. Kebijakan yang telah dibuat dengan baik
tidak akan berjalan jika tidak diimplementasikan dan hanya akan menjadi
wacana semata. Proses implementasi kebijakan pastinya akan
dipengaruhi beberapa faktor yang menyebabkan sebuah keberhasilan
maupun kegagalan.
Terdapat empat faktor yang akan mempengaruhi sebuah proses
implementasi kebijakan. Faktor pertama adalah bagaimana jalinan
komunikasi dalam proses implementasi kebijakan. Ketersediaan sumber
daya menjadi faktor berikutnya. Faktor ketiga yang mempengaruhi
keberhasilan dan kegagalan dalam proses implementasi kebijakan adalah
komitmen atau sikap dari pelaksana kebijakan. Faktor terkahir yaitu
struktur birokrasi. Seluruh faktor tersebut akan menentukan pelaksanaan
kebijakan sesuai dengan tujuan atau tidak.
Berdasarkan hasil wawancara, obersvasi, dan studi dokumentasi
dapat dijelaskan bagaimana faktor komunikasi, ketersediaan sumber
66
daya, disposisi, serta struktur birokrasi akan mempengaruhi implementasi
kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako berikut:
1. Komunikasi
Komunikasi kebijakan berarti merupakan proses
penyampaian informasi kebijakan dari pembuat kebijakan
(policy maker) kepada pelaksana kebijakan (policy
implementor). Komunikasi sangat menentukan keberhasilan
pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik,
implementasi yang efektif terjadi apabila para pembuat
keputusan sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.
Faktor yang pertama ini mempunyai peran yang penting
dalam implementasi suatu kebijakan. Sebuah kebijakan harus
dikomunikasikan antara pembuat kebijakan dengan pelaksana
kebijakan. Pelaksana kebijakan kawasan tanpa asap rokok
dalam hal ini adalah pihak rumah sakit. Pelaksana mempunyai
tugas untuk menyampaikan infromasi mengenai kebijakan
kawasan tanpa rokok kepada seluruh masyarakat selaku obyek
kebijakan. Komunikasi harus disampaikan dengan jelas dan
akurat agar mudah dimengerti dan berjalan sesuai dengan
tujuan kebijakan kawasan tanpa asap rokok di rumah sakit Inco
Soroako.
67
Dalam implementasi kebijakan komunikasi terdiri dari 3
dimensi yaitu dimensi transfromasi (transmission), dimensi
kejelasan (clarity), dimensi konsistensi (consistency).
a. Dimensi Transformasi
Dimensi transformasi dalam komunikasi
pelaksanaan kebijakan mengharapkan pelaksana
kebijakan memberitahukan tentang kebijakan yang
akan dilaksanakan. Penjelasan kebijakan mencakup
tujuan yang akan dicapai dan persiapan apa saja
yang dilakukan untuk mencapai tujuan kebijakan
tersebut.
Rumah sakit Inco Soroako melakukan
komunikasi kebijakan kawasan tanpa rokok melalui
cara sosialisasi. Sosialisasi dilakukan kepala rumah
sakit yang lama sejak kurang lebih lima tahun yang
lalu setelah terpilihnya kepala rumah sakit yang
sekarang. Penyampaian informasi mengenai
kebijakan kawasan tanpa rokok atau dilarang
merokok juga dilakukan langsung kepada karyawan
rumah sakit dan security. Komunikasi antara Kepala
Rumah Sakit, Karyawan, dan security adalah
menjelaskan bahwa rumah sakit Inco Soroako adalah
kawasan tanpa rokok. Penyampaian juga
68
disampaikan khusus untuk seluruh pasien yang akan
masuk rumah sakit melalu lembar persetujuan. Dalam
lembaran tersebut salah satu poinnya yaitu rumah
sakit Inco Soroako adalah kawasan tanpa rokok
Kesimpulan dari penjelasan di atas adalah
dimensi transisi dalam pelaksanaan kebijakan kawsan
tnpa rokok dilakukan dengan cara sosialisasi sejak di
diberlakukannya aturan kawasan tanpa rokok. Untuk
penyampain lain dengan cara melalui lembar
perstejuan setiap pasien yang akan masuk bahwa
akan mentaati seluruh aturan yang ada di rumah
sakit Inco Soroako.
b. Dimensi Kejelasan
Pada dimensi kejelasan, komunikasi yang
dilakukan oleh pelaksana kebijakan diharapkan dapat
diterima secara jelas oleh sasaran kebijakan.
Kejelasan yang diterima oleh sasaran kebijakan
sangat penting agar mengetahui tujuan dan maksud
dari kebijakan tersebut.
Hasil wawancara dengan pengunjung rumah
sakit mengenai pelaksanaan kebijakan kawasan
tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako
menunjukkan beberapa pengunjung mengaku tidak
69
tahu akan adanya kebijakan tersebut tetapi mereka
paham bahwa merokok di rumah sakit itu tidak boleh.
Hasil observasi menemukan beberapa pengunjung
merokok di area larangan merokok yang ada di rumah
sakit, bahkan ditemukan puntung rokok yang dibuang
sembarangan di sekitar lingkungan rumah sakit. Hal
tersebut mengindikasikan bahwa merokok di
lingkungan rumah sakit adalah hal sudah biasa
dilakukan. Hal tersebut tentu saja tidak sesuai dengan
Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No. 9
Tahun 2016 yang jelas memberikan larangan
merokok di tempat kesehatan salah satuya yaitu
rumah sakit.
Kesimpulan dari penjelasan di atas adalah
sosialisasi kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah
sakit Inco Soroako masih belum jelas karena ada
pengunjung yang mengaku tidak tahu mengenai
kebijakan tersebut bahkan ada karyawan yang
menjelaskan kalau sosialisasi itu tidak pernah
dilaksanakan.
c. Dimensi Konsistensi
Dalam implementasi kebijakan menjelaskan
bahwa dimensi konsistensi menginginkan
70
implementasi kebijakan berlangsung efektif dengan
cara pemberian perintah-perintah pelaksanaan harus
konsisten dan jelas agar kebijakan yang diterapkan
tidak membingungkan.
Pelaksana kebijakan kawasan tanpa rokok di
rumah sakit Inco Soroako adalah Kepala Rumah
Sakit, security, dan karyawan rumah sakit. Pihak
rumah sakit sudah memasukan aturan larangan
merokok dalam tata tertib rumah sakit Inco Soroako.
Namun, konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan di
rumah sakit Inco Soroako belum terlihat karena belum
terdapat tempat khusus untuk merokok. Sedangkan
dalam Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur
Nomor 9 Tahun 2016 tentang kawasn tanpa rokok
menjelaskan bahwa pimpinan atau penanggung
jawab kawasan tanpa rokok wajib menyiapkan tempat
khusus untuk merokok.
Kesimpulan dari penjelasan di atas adalah
pihak rumah sakit sudah memasukkan larangan
merokok dalam tata tertib dan namun belum
menyiapkan area untuk khusus tempat merokok.
71
2. Sumber Daya
Sumber daya menjadi faktor pendukung keberhasilan
komunikasi yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan kepada
objek kebijakan. Sumber daya pada proses implementasi
kebijakan kawasan tanpa rokok di sekolah berhubungan
dengan kesiapan dari pihak pelaksana. Sumber daya tersebut
dapat berupa sumber daya manusia, sumber daya anggaran,
sumber daya peralatan, dan sumber daya kewenangan.
a. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan salah satu
variabel yang mempengaruhi keberhasilan dan
kegagalan pelaksana kebijakan. Edward III
menegaskan bahwa “Probably the most essential
recourses in implementing policy is staff”. Sumber
daya manusia (staff), harus cukup (jumlah) dan cakap
(keahlian). Oleh karena itu, sumberdaya manusia
harus ada kegiatan dan kelayakan antara jumlah staf
yang dibutuhkan dan keahlian yang dimiliki sesuai
dengan tugas pekerjaan yang ditanganinya.
Saat ini jumlah pelaksana kebijakan di rumah
sakit Inco Soroako masih kurang dan terkendala antar
pelaksana tidak adanya tim khusus untuk
melaksanakan kawasan tanpa rokok. Sumber daya
72
manusia dalam implementasi kebijakan kawasan
tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako
menggunakan security dan dibantu oleh karyawan.
Namun security tidak bisa sepenuhnya menghindari
aktivitas merokok oleh pengunjung rumah sakit
karena kekurangan pelaksana di lingkungan rumah
sakit yang bisa mengamati dan menegur orang yang
merokok.
b. Sumber Daya Anggaran
Sumber daya anggaran, yang dimaksud adalah
dana (anggaran) yang diperlukan untuk membiayai
operasionalisasi pelaksana kebijakan. Sumberdaya
keuangan (anggaran) akan mempengaruhi
keberhasilan pelaksanaan kebijakan. Disamping
program tidak dapat dilaksanakan dengan optimal,
terbatasnya anggaran menyebabkan disposisi para
pelaku kebijakan rendah, bahkan akan terjadi goal
displacement yang dilakukan oleh pelaksana
kebijakan terhadap pencapaian tujuan. Maka dari itu,
perlu ditetapkan suatu sistem insentif dalam sistem
akuntabilitas.
Sumber daya anggaran yang digunakan untuk
pelaksanaan kebijakan kawasan tanpa rokok tidak
73
dianggarkan secara khusus oleh pihak rumah sakit.
Pihak rumah sakit Inco Soroako tidak menganggarkan
khusus karena tidak ada program khusus untuk
menanggapi kebijakan tersebut.
Sosialisasi menjadi langkah awal pihak rumah
sakit menanggapi kebijakan tersebut namun
sosialisasi yang dilakukan tidak membutuh anggaran
karena sosialisasi yang dilakukan hanya bentuk
penyampaian ke security dan karyawan. Pihak rumah
sakit memasang tanda dilarang merokok di
lingkungan rumah sakit. Pemasangan tanda tersebut
menggunakan anggran tersendiri.
c. Sumber Daya Peralatan
Sumber daya peralatan merupakan sarana
yang digunakan untuk operasionalisasi implementasi
suatu kebijakan yang meliputi gedung, tanah, dan
sarana yang semuanya akan memudahkan dalam
memberikan pelayanan dalam implementasi
kebijakan.
Sumber daya peralatan menjadi hal yang
penting dalam implementasi kebijakan. Sumber daya
peralatan digunakan untuk menunjang pelaksanaan
kebijakan. Implementasi kebijakan kawasan tanpa
74
rokok juga membutuhkan peralatan untuk menunjang
keberhasilan tujuan kebijakan. Peraturan Daerah
Kabupaten Luwu Timur No. 9 Tahun 2016 tentang
kawasan tanpa rokok memberikan perintah kepada
pimpinan atau penanggung jawab kawasan tanpa
rokok untuk memasang tanda kawasan tanpa rokok
dan tempat khusus untuk merokok di tempat KTR.
Pelaksanaan kebijakan kawasan tanpa rokok di
rumah sakit Inco Soroako sudah memasang tanda
kawasan tanpa rokok di lingkungan rumah sakit
namun untuk khusus tempat merokok belum ada.
Untuk sumber peralatan yang lain tidak atur khusus
untuk mendukung kebijakang kawasan tanpa rokok di
rumah sakit Inco Soroako.
d. Sumber Daya Informasi dan Kewenangan
Yang dimaksud adalah informasi yang relevan
dan cukup tentang berkaitan dengan bagaimana cara
mengimplementasikan suatu kebijakan. Kewenangan
yang dimaksud adalah kewenangan yang digunakan
untuk membuat keputusan sendiri dalam bingkai
melaksanakan kebijakan yang menjadi
kewenangannya.
75
Menurut Edward III sumber daya kewenangan
menjadi kekuatan oleh suatu lembaga untuk
mempengaruhi lembaga tersebut dalam
melaksanakan suatu kebijakan. Kewenangan tersebut
sangat penting ketika suatu lembaga dihadapkan
suatu masalah dan harus segera diselesaikan dengan
suatu keputusan.
Kewenangan dalam pelaksanaan kebijakan
kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako
adalah Kepala Rumah Skait. Kewenangan yang
dimiliki oleh Kepala Rumah sakit belum bisa
memaksimalkan pelaksanaan kebijakan kawasan
tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako. Belum ada
keputusan dari Kepala Rumah sakit yang dapat
mengkontrol para perokok yang berada di lingkungan
rumah sakit. Jadi, kesiapan dari pihak rumah sakit
masih kurang. Belum ada program khusus dari rumah
sakit yang mendukung implementasi kebijakan
kawasan tanpa rokok selain sosialisasi. Sosialisasi
yang dilakukan juga sejak kurang lebih lima tahun
yang lalu yang dilakukan.
Belum adanya program lanjutan yang
mendukung kebijakan tersebut secara tidak langsung
76
Kepala Rumah sakit belum memaksimalkan jumlah
dan keahlian anggota pelaksana kebijakan yang
dimiliki oleh rumah sakit. Hasil observasi juga
menemukan sarana pendukung yang dibuat pihak
rumah sakit berupa tanda tulisan dilarang merokok
diacuhkan oleh beberapa perokok yang berkunjung di
rumah sakit.
3. Disposisi
Sikap atau komitmen dari pelaksana kebijakan
dibutuhkan dalam implementasi kebijakan. Komitmen yang
kuat dari pelaksana kebijakan dapat mensukseskan
implementasi kebijakan, untuk itu tuntutan komitmen pada
pelaksana kebijakan harus kuat dan penuh dedikasi terhadap
pelaksanaan sebuah kebijakan.
Implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah
sakit Inco Soroako yang dapat dilihat pada saat wawancara
dan observasi menunjukan bahwa sikap pelaksana kebijakan
masih belum bisa mendukung sepenuhnya terhadap
pelaksanaan kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit.
Belum adanya tempat khusus untuk merokok. Beberapa
pelaksana menunjukan sikap yang tidak mendukung kebijakan
kawasan tanpa rokok. Karyawan yang acuh terhadap orang
yang merokok di rumah sakit dan kesiapan pelaksana seperti
77
security yang masih kesulitan dalam menangani perokok yang
berada di lingkungan rumah sakit Inco Soroako.
4. Struktur Birokrasi
Struktur birokrasi merupakan faktor yang perlu
diperhatikan selain komunikasi, sumber daya, dan disposisi.
Struktur birokrasi mempunyai pengaruh dalam implementasi
kebijakan. Implementasi kebijakan akan melibatkan banyak
orang di dalamnya. Standar operasional prosedur (SOP) dibuat
untuk mempermudah impelementasi kebijakan dan memberi
pedoman kepada pelaksana kebijakan.
Dalam struktur birokrasi diperlukannya pembagian tugas
tanggung jawab, kegiatan atau program pada beberapa unit
kerja yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Adanya
hal tersebut maka implementasi akan lebih efektif karena
dilaksankan oleh organisasi yang berkompeten dan kapabel.
Struktur birokrasi dalam implementasi kebijakan
kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako belum dibuat
pedoman berupa SOP secara jelas untuk mengatur pembagian
tugas pelaksana kebijakan sehingga implementasi kebijakan
kawasan tanpa rokok kurang berjalan efektif. Pihak rumah sakit
juga tidak memiliki struktur dan tidak memiliki tim khusus untuk
kawasan tanpa rokok sehingga pelaksana kesulitan dalam
menyukseskan kebijakan tersebut.
78
Pembagian tugas yang tidak terlalu rumit dalam
pelaksanaan kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit
Inco Soroako ternyata masih belum bisa dimaksimalkan. Masih
banyak pelanggaran yang terjadi di rumah sakit tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belum
ada upaya dari pihak rumah yang mampu mengatasi
permasalahan terkait dengan pelaksanaan kebijakan kawasan
tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako.
79
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Sesuai dengan rumusan masalah pada penelitian ini yaitu faktor
yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di
Rumah Sakit Inco Soroako, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Komunikasi
Proses penyampain tentang kebijakan kawasan tanpa rokok di
rumah Sakit Inco Soroako belum maksimal karena masih banyak
masyarakat yang hanya sekedar mengetahui larangan merokok di
rumah sakit tapi tidak mengetahui isi dari kebijakan atau batasan-
batasan untuk tidak merokok di Kawasan Tanpa Rokok. Hal
tersebut di sebabkan oleh proses penyampaian yang tidak
melibatkan sasaran kebijakan. Masih banyak juga dari pihak rumah
sakit tidak dapat menegur atau melarang pelanggar secara terus
menerus diakibatkan karena tidak mengetahui kebijakan terseut
dan tidak bisa meninggalkan kewajiban pokoknya sebagai
karyawan rumah sakit.
2. Sumber Daya
Pelaksanaan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako
mengeluarkan angagaran untuk pemasangan tanda – tanda
larangan merokok. Namun anggaran yang mesti di keluarkan untuk
80
mebmbuat tempat khusus untuk merokok itu tidak laksanakan
karena pihak rumah sakit tidak peduli untuk orang yang merokok
melainkan mengharap kesadarn para pengunjung yang merokok.
Terkait sumber daya manusia pihak rumah sakit masih kekurangan
untuk mendukung kebijakan kawasan tanpa rokok. Karena
beberapa pelaksana KTR di rumah sakit Inco Soroako harus
melakukan tugas yang multifungsi sehingga kesulitan dalam
menjalankan tugasnya. Hal ini berdamkan penyelenggaraan
kawasan tanpa rokok tidak dapat terlaksana dengan baik.
3. Disposisi
Pemahaman pelaksana kebijakan kawasan tanpa rokok di
rumah sakit Inco Soroako sudah di pahami dengan baik. Namun
masih terdapat sikap acuh tak acuh dari pihak rumah sakit untuk
menegur atau melarang para perokok yang merokok di lingkungan
rumah sakit. Hal tersebut menunjukkan bahwa para pelaksana tidak
mencerminkan sikap yang dapat mendukung tujuan kawasan tanpa
rokok di rumah sakit. Akibat dari hal tersebut juga karena Peraturan
Daerah Kabupaten Luwu Timur No 9 Tahun 2016 tentang Kawasan
Tanpa Rokok belum di tegakan dan masih tahap sosialisasi
sehingga belum ada efek jera untuk pelanggar. Sehingga aktivitas
merokok di lingkungan rumah sakit itu masih sering di temukan.
81
4. Struktur Birokrasi
Dalam pelaksanaan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco
Soroako tidak memiliki pedoman atau SOP yang jelas terkait
larangan merokok di lingkungan rumah sakit. Hal tersebut terlihat
pihak rumah sakit memang kurang serius dalam menerapkan
kebijakan kawasan tanpa rokok. Tidak adanya tim khusus untuk
menangani hal tersebut. Pembagian tugas atau unit terkait
kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah itu tidak di indahkan.
Sehigga penerapan kebijakan yang di anggap tidak rumit tersebut
hasil tidak berjalan efektif. Kesulitan dari beberapa pelaksana dari
pihak sakit pun tidak teratasi untuk mendukung kebijakan kawasan
tanpa rokok.
V.2 Saran
Berdasarkan uraian kesimpulan diatas, maka penulis
merekomendasikan saran-saran terkait Implementasi Kebijakan Kawasan
Tanpa Rokok di Rumah Sakit Inco Soroako sebagai berikut:
1. Sehubungan dengan kurangnya sumberdaya yang menjadi
pelaksana KTR di rumah sakit Inco Soroako, kedepannya agar di
bentuk tim khusus untuk dapat mengontrol dan menghentikan
aktivitas merokok di lingkungan rumah sakit. Pembuatan tempat
khusus untuk merokok di area rumah sakit yang tidak mengganggu
kondisi lingkungan rumah sakit.
82
2. Pihak yang bertanggung jawab dalam penegakan aturan kawasan
tanpa rokok seperti satpol PP dapat menegakkan Perda KTR yang
telah di tetapkan.
3. Meyediakan media sosialisasi dalam bentuk video atau pengeras
suara terkait adanya aturan kawasan tanpa rokok di rumah sakit
Inco Soroako. Agar pengunjung dapat memahami dengan jelas dan
selalu mengingat bahwa rumah sakit Inco Soroako harus bebas
dari asap rokok.
83
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Abdul Wahab, Solichin. 2012. Analisi Kebijakan Dari Formulasi
Kebijaksanaan Imlementasi Kebijakan Negara. Jakarta : Bumi Aksara
Abidin, Said Zainal. 2012. Kebijakan Publik Edisi Ke-2. Jakarta : Salemba
Humanika.
Agustino, Leo. 2016. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Edisi Revisi.
Bandung: Alfabeta.
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Dewi, Rahayu K. 2016. Study Analisis Kebijakan. Bandung : Pustaka
Setia.
Dunn, William N. 2013. Pengantar Kebijakan Publik. Edisi Ke-2.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Islamy, M. Irfan. 2009. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara.
Jakarta : Sinar Grafika.
Lexy J. Moleong. 2008 . Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung :
Remaja Rosdakarya
Miles, Mathew B.A, Michael Huberman, Saldana. 2014. Analisis Data
Kualitatif. Penerjemah Tjetjep Rohendi Rohidi. UI Press. Jakarta.
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah 19 Tahun 2003 Tentang
Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah 109 Tahun 2012 Tentang
Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk
Tembakau Bagi Kesehatan.
Republik Indonesia. Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri
Dalam Negeri Nomor 188/MENKES/PB/I/2011 dan Nomor 7 Tahun
2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok.
Republik Indonesia. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 1
Tahun 2015 Tentang Kawasan Tanpa Rokok.
Republik Indonesia. Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur Nomor 9
Tahun 2016 Tentang Kawasan Tanpa Rokok.
84
Setiawan, Guntur. 2004. Implementasi dalam Birokrasi Pembangunan.
Jakarta: Balai Pustaka.
Suharno. 2010. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Yogyakarta : UNY Press.
Tangkilisan, Hessel Nogi S. 2003. Implementasi Kebijakan Publik.
Transformasi Pikiran George Edward. Jakarta : Lukman Offset dan
Yayasan Pembaruan Administrasi Publik Indonesia.
Usman, Nurdin. 2002. Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum. Jakarta:
Grasindo.
Lainnya:
http://palopopos.fajar.co.id/2017/07/25/fraksi-pdip-pertanyakan-kawasan-
tanpa-rokok/ pada tanggal 15 Agustus 2017, pukul 20.00 WITA
https://kabarislamia.com/2010/03/25/4-000-bahan-kimia-dan-400-racun-di-
dalam-rokok/ pada tanggal 15 Agustus 2017, pukul 20.00 WITA
https://promkes.net/2017/05/17/pedoman-pengawasan-kawasan-tanpa-
rokok/ pada tanggal 15 Agustus 2017, pukul 20.00 WITA
85
L
A
M
P
I
R
A
N
86
(Gambar setelah wawancara dengan Direktur Rumah Sakit Inco Soroako)
(Gambar wawancara dengan Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular Dinas
Kesehatan Kabupaten Luwu Timur)
87
(Gambar wawancara dengan Karyawan Rumah Sakit Inco Soroako)
(Gambar wawancara dengan Security Rumah Sakit Inco Soroako)
88
(Gambar wawancara dengan Kepala Pengawasan dan Penegakan Peraturan
Daerah Satpol PP Kabupaten Luwu Timur)
(Beberapa gambar kondisi di Rumah Sakit Inco Soroako)
89
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Fachrizal David
Tempat dan Tanggal Lahir : Soroako, 12 Desember 1994
Alamat : Jl. Kejayaan Timur 1 No. 256 Blok i BTP
Nomor telepon : 082298717664
Nama orang tua
Ayah : M. David Lecku
Ibu : Farida
Riwayat Pendidikan :
1. SD YPS LAWEWU (2001-2007)
2. SMP YPS SINGKOLE (2007-2010)
3. SMA YPS SOROAKO (2010-2013)
4. Universitas Hasanudin S1 (2013-2018)
Pengalaman Organisasi :
1. Ketua Umum IPMALUTIM Pengurus Komisariat Nuha (2014-2016)
2. Wakil Sekretaris Jenderal PP IPMALUTIM (2017-2019)
3. Departemen Advokasi HUMANIS FISIP UNHAS (2015-2016)
4. Dewan Musyawarah IPMIL RAYA UNHAS (2015-2016)
5. Anggota LAW UNHAS
6. Anggota KEMA FISIP UNHAS
7. Anggota UKM SEPAK BOLA UNHAS
Prestasi yang pernah diraih :
- Champion Man 1st Flight A Soroako Golf Turnament
90
91
92