KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA PESISIR & KEPULAUAN
“ ANALISIS RESIKO DAN BAHAYA DARI TENAGA KERJA NELAYAN ”
Dosen Pengampuh:
Syawal Kamiluddin Saptaputra, SKM.,M.Sc
Oleh:
Agil Reski (J1A122003)
Aisyah Nurul Musyaraffah (J1A122004)
Auderey Wina Keisyiah Rachim ( J1A122012)
Chikita Ratu Sintiya ( J1A122016)
Dinda Putri Aprilia ( J1A122022)
Fitri Hajra Pandiana ( J1A122030 )
Hajratul Asfa ( JA122032 )
Niken Patricia Ramadhani ( JA122054 )
JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat, taufik, dan
hidayah- Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya dengan sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai satu
acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pengampuh mata kuliah KESEHATAN
DAN KESELAMATAN KERJA PESISIR & KEPULAUAN, Bapak Syawal Kamiluddin
Saptaputra, SKM.,M.Sc selaku dosen yang memimpin penulis dalam pengerjaan tugas makalah
ini dengan judul ANALISIS RESIKO DAN BAHAYA DARI TENAGA KERJA
NELAYAN. Mungkin dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan yang belum penulis
ketahui, maka dari itu penulis mohon saran dan kritik dari teman teman maunpun dosen demi
terciptanya makalah yang sempurna.
Akhir kata, saya berharap semoga makalah dapat bermanfaat dan Allah SWT memberikan
imbalan setimpal kepada mereka yang memberikan bantuan dan dapat menjadikan semua
bantuan itu sebagai ibadah. Amin Ya Rabbal Alamin.
Kendari 20 Oktober 2023
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang secara geografis
terletak pada posisi strategis, yakni di persilangan antara dua benua (Benua Asia dan Benua
Australia), dan dua samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik). Karena letak
geografisnya yang strategis dan besarnya luas perairan, Indonesia berbatasan langsung di laut
dengan 10 (sepuluh) negara tetangga, yakni India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam,
Filipina, Palau, Papa Nugini, Timor-Leste, dan Australia. Dan beberapa pekerjaan
Masyarakat di laut yang dimana Publikasi dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan
Tinggi Indonesia menyebutkan penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai nelayan
berjumlah 2,17 juta atau hanya 0,87 persen dari tenaga kerja Indonesia. Nelayan yang
memiliki risiko yang sangat tinggi dengan mempertimbangkan ketidakpastian dari alam,
nelayan harus tetap menjaga keselamatan dan dalam kondisi aman.
Nelayan memiliki hak atas pengetahuan yang memadai dan hak untuk berhenti
bekerja ketika dalam bahaya yang akan mengancam keselamatan atau kesehatan mereka
(Saleh, 2018). Salah satu nelayan yang memiliki risiko tinggi dalam pekerjaannya yakni
nelayan yang melakukan aktivitas penyelaman tradisional. ILO menjelaskan bahwa
pendapatan nelayan diukur dengan jumlah tangkapan yang diperoleh. Sistem pendapatan
nelayan tersbeut mengakibatkan nelayan akan mengambil ikan sebanyak mungkin dan
mengabaikan cuaca buruk. Gangguan kesehatan yang dialami oleh nelayan penyelam salah
satunya adalah perbedaan tekanan udara dan dekompresi (Suma'mur, 2009). Kedalaman
penyelaman dan kecepatan nelayan ketika naik merupakan salah satu faktor yang harus
diperhatikan. Nelayan harus melakukan beberapapenyesuaian terkait perbedaan tekanan
tersebut dengan melaukan ekualisasi dan decompression stop.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Definisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja
2. Definisi Nelayan
3. Alat Yang Digunakan Nelayan
4. Potensi Dampak Pekerja Nelayan
5. Definisi Bahaya
6. 5 W + 1 H
7. Tabel Penilain Resiko
1.3 TUJUAN
1. Untuk Mengetahui Definisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja
2. Untuk Mengetahui Definisi Nelayan
3. Untuk Mengetahui Alat Yang Digunakan Nelayan
4. Untuk Mengetahui Potensi Dampak Pekerja Nelayan
5. Untuk Mengetahui Definisi Bahaya
6. Untuk Mengetahui 5 W + 1 H
7. Untuk Mengetahui Tabel Penilain Resiko
BAB II
PENDAHULUAN
2.1 DEFINISI KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
Secara filosofi Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah usaha yang dilakukan oleh
setiap orang atau kelompok manusia untuk menjamin kesehatannya dan keselamatannya
untuk mewujudkan masyarakat yang Makmur dan sejahtera. Secara ilmu pengetahuan,
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan ilmu pengetahuan yang diterapkan ole
manusia untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau meminimalisir akan terjadinya risiko
saat kerja.(Paskarini, Abdul, Dkk,2016).
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah penempatan dan pemeliharaan pekerja
dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kapasitas fisik dan psikologi dan
sebagai adaptasi pekerjaan terhadap manusia dan setiap manusia kepada jabatannya suatu
upaya untuk eningkatkan derajat kesejahteraan baik fisik, mental dan social yang setinggi-
tingginya bagi pekerja disemua jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan diantara
pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan, perlindungan perkerja dalam pekerjaannya
dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan (Notoadmodjo,2014). Kesehatan dan
Keselamatan Kerja adalah suatu hasil pemikiran manusia yang menjamin kesejahteraan
jasmani dan rohani setiap manusia yang dituangkan dalam karya berbentuk ilmu pengetahuan
yang terstruktur, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
Indicator penyebab keselamatan kerja adalah keadaan tempat lingkungan kerja, yang
meliputi:
1. Penyimpanan dan penyusunan barang barang yang berbahaya yang kurang tetap pada
posisinya dan membahayakan
2. Ruang kerja yang terlalu padat.
3. Pembuangan limbah yang tidak pada tempatnya.
4. Pemakaian peralatan kerja yang melputi pengaman peralatan kerjayang sudah using atau
rusak dan penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengaman yang baik pengeturan
penerangan
Secara umum, keselamatan kerja adalah ilmu dan penerapannya berkaitan degnan
mesin, bahan, alat, dan perlengkapan yang digunakan lainnya yang diperlukan dalam
setiap aktiitas kerja yang digunakan secara tepat sasaran demi keselamatan dan
kenyamanan kerja para pekerja dalam lingkungan kerja. Sedangkan kesehatan kerja
bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pekerja melalui peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit akibat kerja yang meliputi pemeriksaan kesehatan, pengobatan, dan
pemberian makan serta minum yang bergizi (Wahyuni,2017)
2.2 DEFINISI NELAYAN
Berdasarkan UU No.31 Tahun 1990 tentang perikanan, nelayan adalah SDM yang
memegang peranan yang begitu penting dalam kegiatan penangkapan ikan. Sedangkan menurut
yang lain menyebutkan bahwa nelayan merupakan manusia yang kesehariannya hidup dengan
mata pencahariannya untuk hidup dari hasil laut. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan
secara gambling bahwwa nelayan merupakan orang atau kelompok orang yang menjalani
aktiitas hidupnya dilaut dengan mengharapkan hasil dari laut untuk hidup menghidupi dengan
keluarganya. Diindonesia para nelayan biasanya tinggal didaerah pesisir pantai atau laut. Tak
banyak ditemui pada masyarakat bahwa hidup jadi nelayan juga memiliki kelompok atau
komunitas tersendiri yang dibentuk untuk saling memberi manfaat. Komunitas nelayan adalah
kelompok orang yang mata pencahariannya hasil laut dan tinggal di desa-desa dekat pesisir.
Komunitas nelayan dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain:
1. Segi mata penacharian, nelayan adalah masyarakat yang segala aktivitas
bercook tanamnya berkaitan dengan lingkungan laut atau pesisir. Atau mereka
yang menjadikan aspek perikanan sebagai mata pencaharian pokok untuk
mereka.
2. Segi cara hidup. Komunitas nelayan menupakan komunitas yang hidup
bergotong royong atau. Kehidupan bergotong royong merupakan hal yang
sangat penting saat mengatasi keadaan yang menurutnya mengeluarkan biaya
besar dan tenaga yang banyak.
3. Segi keterampilan, nelayan merupakan pekerjaan yang ccukup berat, akan
tetapi memiliki keterampilan yang sederhana dari turun temurun diajarkan
oleh nenek moyang mereka.
Bagi masyarakat yang pekerjaannya sebagai nelayan, kegiatan menangkap ikan dan
mengelola sumber daya laut, bukan sekedar rutinitas semata untuk tumpuan ekonomi tetapi
juga ditempatkan sebagai kebulatan tekat yang memberi arti tujuan hidup secara luas dan
memiliki prinsip masing-masing (Rontuboi, Aprilia, Dkk,2015). Nelayan yang melakukan
operasi penangkapan ikan dilaut sangat perlu memperhatikan berapa lama ia melaut dalam
jumlah trip penangkapan yang dilakukannya dalam kurun waktu tertentu (sebulan,triwulan
ataupun satu tahun). Dimana kedua hal diatas sangat erat kaitannya dengan hasil tangkapan
yang diperoleh dalam kurun waktu tertentu. Nelayan yang merupakan pekerjaan aktif
elakukan operasi penangkapan ikan dan binatang airlainnya dan tanaman air. Penelitian
mengenai nelayan yang melakukan penangkapan ikan dilaut dibatasi yaitu hanya dengan
menggunakan kapal motor dengan pukat cincin saja (Sudaryanto,2006)
2. 3 ALAT YANG DIGUNAKAN NELAYAN
Untuk terus mendukung pertumbuhan ekologi laut dan juga melestarikan sumber
daya ikan, maka telah ditetapkan Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan (Permen KP)
Nomor 18 Tahun 2021 tentang Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu
Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia dan Laut
Lepas Serta Penataan Andon Penangkapan Ikan.
Pembentukan Permen KP ini merupakan elaborasi dari Permen KP Nomor 26 Tahun
2014 tentang Rumpon, Permen KP Nomor 25 tentang Andon Penangkap Ikan, Permen KP
Nomor 59 Tahun 2020 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Alat Penangkapan Ikan dan
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 6 Tahun 2020 tentang Alat Penangkap
Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Jenis Alat Penangkap Ikan (API) yang diperbolehkan terdiri atas:
1. Pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal.
2. Pukat cincin pelagis besar dengan satu kapal.
3. Pukat cincin teri dengan satu kapal.
4. Pukat cincin pelagis kecil dengan dua kapal.
5. Jaring lingkar tanpa tali kerut.
Penangkapan Ikan dengan menggunakan jenis API yang diperbolehkan tetap
mempertimbangkan alokasi sumber daya ikan.
2.4 POTENSI DAMPAK PEKERJA NELAYAN
Penyakit akibat kerja merupakan salah satu penyakit yang dialami pekerja yang
disebabkan ole pekerjaannya. Ada beberapa faktor berisiko penyebab timbulnya penyakit
akibat kerja, diantaranya yaitu, peralatan kerja, bahan bahan yang dipakai, lingkungan kerja,
dan proses dari pekerjaannya. Upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan pada setiap
tenaga kerja. Hal ini berdasarkan undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 mengatur tentang
keselamatan ketenagakerjaan di Indonesia, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko
bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja. Diharapkan pekerja mampu melakukan
pekerjaannya secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya,
sehingga bisa memperoleh produktivitas kerja yang optimal sejalan dengan adanya program
perlindungan tenaga kerja. Penerapan keselamatan dan Kesehatan kerja (PAK) merupakan
salah satu aspek penting yang perlu untuk diperhatikan
2.5 DEFINISI BAHAYA
Bahaya atau hazard, adalah suatu objek dimana terdapat energi, zat atau kondisi kerja
yang potensial dapat mengancam keselamatan. Hazard dapat berupa;bahan-bahan kimia,
bagian-bagian mesin, metode kerja atau situasi kerja sebagai sumber bahaya potensial yang
dapat menyebabkan kerusakan. Kerusakan dan bentuk kerugian berupa kematian, cedera,
sakit fisik atau mental, kerusakan properti, kerugian produksi, kerusakan lingkungan atau
kombinasi dari kerugian- kerugian (Ridley, 2008). Bahaya juga diartikan sebagai sumber
atau situasi yang berpotensi menimbulkan kerugian berpa kecelakaan pada manusia atau
penyakit, kerusakan terhadap lingkungan atau kombinasi dari semua hal tersebut. Pendapat
lain mengatakan bahwa bahaya adalah kondisi tempat kerja atau perilaku pekerja yang dapat
menyebabkan kecelakaan, penyakit, atau kerugian pada perusahaan (Friend dan Kohn, 2007).
Safe Work SA, Government of South Australia dalam Managing Hazards,
menjelaskan definisi bahaya sebagai sebuah situasi di tempat kerja yang berpotensi
membahayakan kesehatan dan keselamatan pekerja atau merusak pabrik atau peralatan
kerja. Situasi tersebut dapat melibatkan tugas pekerja, bahan kimia, maupun peralatan yang
digunakan. Manajemen bahaya merupakan sebuah proses berkelanjutan yang digunakan
untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan ditempat kerja. Manajemen bahaya pada
dasarnya merupakan sebuah proses masalah yang bertujuan untuk menentukan masalah
(mengidentifikasi bahaya), mengumpulkan informasi seputaran bahaya (penilaian risiko),
dan pemecahan masalah (pengendalian risiko). Ketika suatu pengendalian telah dijalankan
untuk menangani bahaya yang telah teridentifikasi, maka hendaklah dilakukan peninjauan
kembali dengan memeriksa keefektifan pengendalian (evaluasi). Hazard adalah faktor risiko,
yaitu sumber kondisi atau kondisi yang memilik potensi bahaya kesehatan kerja. Mengacu
kepada kesehatan kerja yakni tiga kelompok variabel yaitu kapasitas kerja, lingkungan kerja,
dan beban atau jenis kerja, maka hazard atau potensi bahaya dapat berasal dari ketiga
kelompok variabel tersebut. Dari aspek kapasitas kerja, hazards dapat berasal dari manusia,
baik berupa perilaku kelalaian atau perilaku tidak sehat lainnya. Hazard dari lingkungan kerja
tidak terhitung banyaknya namun dapat dikelompokkan ke dalam kelompok fisik,
kelompok bahan kimia toksin, dan mikroorganisme. Hazard juga dapat berasal dari jenis
pekerjaan atau beban pekerjaannya (Achmadi,2014).
2.6 5 W + 1 H
Pada dasarnya definisi 5 W + 1 H ini adalah panduan yang berisikan pertanyaan pertanyaan
untuk menyusun sebuah analisis. Pada 5 W + 1 H ini terdapat unsur yakni berupa : What
( apa ) Who ( siapa ) Where ( dimana ) When ( kapan ) Why ( mengapa ) dan How
( bagaimana )
What ( apa ) : apa saja kelalaian kerja yang sering terjadi pada nelayan ?
Who ( siapa ) : siapa yang berpotensi mengalami kecelakaan kerja/penyakit akibat
kerja ?
Where ( dimana ) : dimana kiranya/kemungkinan kecelakaan kerja/penyakit akibat
kerja terjadi ?
When ( kapan ) : kapan kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja terjadi ?
Why ( mengapa ) : mengapa kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja terjadi ?
How ( bagaimana ) : bagaimana kronologi terjadinya peristiwa kecelakaan
kerja/penyakit akibat kerja terjadi ?
HASIL ANALISIS
1. What ( apa )
Kelalaian kerja yang sering terjadi pada nelayan yaitu, kurangnya alat
keselamatan kerja yang disediakan, muatan kapal yang terlalu banyak yang dapat
menimbulkan kapal terbalik, tidak menyediakan kotak P3K, serta peralatan yang
akan digunakan dan kurang memperhatikan kondisi kesehatan.
2. Who ( siapa )
Yang berpotensi mengalami kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja adalah para
pekerja di profesi nelayan yang dapat dialami oleh pekerja kapal itu sendiri dan
yang bekerja pada sector perikanan
3. Where ( dimana )
Tempat terjadiny kecelakaan kerja pada nelayan dapat terjadi diberbagai lokasi
dan situasi saat mereka berada dilaut. Beberapa area atau kondisi dimana
kemungkinan kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja dapat terjadi yaitu, dilaut,
saat memasuki/meninggalkan pelabuhan, di dek kapal, cuaca buruk, saat
memindahkan muatan, pada saat mengoperasikan perangkat navigasi dan saat
bertugas malam hari.
4. When ( kapan )
Kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja terjadi kapan saja selama menjalankan
pekerjaan dilaut. Waktu terjadinya kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja pada
nelayan tidak terbatas pada periode waktu tertentu karena memiliki resiko yang
ada sepanjang waktu serta beberapa factor yang memperngaruhi terjadinya
kecelakaan kerja.
5. Why ( mengapa )
Kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja terjadi karena kurangnya kesadaran dan
kualiatas pekerja, lingkungan kerja yang tidak aman, pekerjaan yang melibatkan
resiko yang tinggi, kurangnya pelatihan keselamatan kerja dan penggunaan alat
pelindung diri, serta pajanan pada pekerja dari lingkungan kerja, cara kerja dan
alat yang digunakan saat bekerja.
6. How ( bagaimana )
Kronologi kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja pada nelayan dapat bervariasi
tergantung pada jenis kecelakaan dan situasinya
2.7 TABEL PENILAIAN RESIKO
Menurut AS/NZS 4360:2004, risiko adalah peluang terjadinya sesuatu yang akan
mempunyai dampak terhadap sasaran, diukur dengan hukum ebab akibat. Risiko diukur
berdasarkan nilai probability dan onsequences. Konsekuensi atau dampak hanya akan terjadi bila
ada bahaya dan koontak atau exposure antara manusia dengan peralatan ataupun material yang
terlibat dalam suatu interaksi. Formula yang digunakan dalam melakukan perhitungan risiko
adalah :
Risk = Probability x Exposure x Consequences
Menurut Tarwaka (2014) Risiko adalah suatu kemungkinan terjadinya kecelakaan atau
kerugian pada waktu tertentu, yang dapat menimpa seseorang baik dalam melakukan suatu
pekerjaan maupun tidak. Jenis risiko bahaya yang mungkin terjadi pada saat melakukan
pekerjaan yaitu :
1. Risiko Terjatuh
Terjatuh terjadi ketika pekerja kehilangan keseimbangan. Terjatuh dibagi
menjadi dua, yaitu yang pertama jatuh dilevel yang sama, kedua jatuh dileel
dibawahnya. Terjatuh bisa diakibatkan karena tidak adanya pembatas (ralling)
yang menahan orang dari jatuh, dan tidak dilakukan 3 point contact (1 tangan, 2
kaki bertumpu pada titik yang kuat).
2. Risiko Terjepit
Risiko terjepit pada saat melakukan pekerjaan bisa terjadi pada pekerja. Potensi
bahaya sangat tinggi karena pada proses kerja menggunakan teknologi yang
canggih seperti mesin. Pekerja bisa kapan saja terjepit jika dalam melakukan
pekerjaan tidak hati-hati. Pekerja harus konsentrasi dan berhati-hati serta
menggunakan alat pelindung diri saat melakukan pekerjaan agar tidak terjadi
kecelakaan.
3. Risiko Cidera
Cidera merupakan dampak yang ditimbulkan karena seseorang telah mengalami
kecelakaan. Cidera diklasifikasikan menjadi tiga yaitu :
a. Cidera ringan, yaitu apabila akibat kecelakaan yang menyebabkan
pekerja tidak mampu melakukan tugas atau pekerjaan semula
b. Cidera berat apabila akibat kecelakaan menyebabkan pekerjaan tidak
mampu melakukan pekerjaan semula karena mengalami cidera, seperti
luka berat atau luka robek yang tidak dapat mengakibatkan
ketidakmampuan melakukan pekerjaan
c. Meninggal, meninggal apabila kecelakaan yang mengakibatkan pekerja
meninggal dalam waktu 24 jam terhitung dari waktu terjadinya
keelakaan tersebut
4. Risiko Terpeleset
Terpelest diakibatkan oleh terlalu sedikit factor gesekan antara alas kaki dengan
lantai kerja sehingga menyebabkan pekerja kehilangan seseimbangan.
Terpeleset dapat menyebabkan lantai kerja licin, bahan lantai yang terlalu licin,
cairan yang sudah membeku, alas kaki yang tidak memiliki permukaan luas
untuk bergesekan dengan lantai
5. Risiko Tersandung
Terjadi ketika kaki menabrak benda dan pada saat yang bersamaan, tubuk
kita tetap bergerak sehingga kita akan kehilangan keseimbangan.
Tersandung dapat disebabkan karena kabel, selang, kawat atau benda lain
yang melintang diarea pejalan kaki, laci yang terbuka, pergantian ketinggian
yang tidak memiliki tanda ujungnya, bagian lantai yang hilang, tangga yang
rusak atau ketinggian tangga yang tidak sama.
6. Risiko Tergelincir
Tergelincir dapat terjadi akibat aktivitas kerja kurang haati-hati. Untuk
menghindari atau menegah kecelakaan ini maka pekerja seharusnya memakai
APD guna meminimalisir risiko tergelincir saat bekerja ditempat kerja
7. Risiko Terkena Alat Kerja
Risiko terkena alat kerja ini dipicu karena lingkungan yang tidak aman. Risiko
dalam melakukan pekerjaan saat mungkin terjadi karena dalam melakukan
pekerjaan baik berat maupun ringan membutuhkan alat bantu yaitu berupa alat
kerja seperti mesin yang memproduksi barang. Jika pekerja tidak hati-hati risiko
ini dapat terjadi dan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi keselamatan
kerja.
8. Risiko Kecelakaan Alam
Risiko keeclakaan alam atau natural dapat berupa banana alam yang merupakan
risiko yang dihadapi oleh siapa saja dan dapat terjadi setiap saat tanpa bisa
diduga waktu, bentuk dan kekuatannya. Risiko alami ini menjadi salah satu
ancaman bisnis global. Bencana alam yang terjadi dapat terjadi berupa gempa
bumi, tsunami, banjir, badai, dll.
RESIKO YANG SERING TERJADI PADA NELAYAN
Bahaya fisik merupakan bahaya seperti : ruangan terlalu panas, terlalu dingin, bising,
kurang penerangan, getaran yang berlebihan, radiasi dan lain sebagainya Menghadapi
cuaca buruk pada berlayar termasuk jenis bahaya fisik. Bahaya mekanik merupakan
potensi bahaya yang berasal dari benda atu proses yang bergerak yang dapat
menimbulkan dampak benturan, terpotong, tertusuk, tersayat, tergores, terjatuh, dan
terjepit. Dan perahu terbalik, kebocoran perahu, dan mesin mati ditengah laut
merupakan jenis bahaya mekanik.
1 2 3 4 5
Menghadapi Tidak Minor Moderate Major Catastropic
Cuaca Buruk
Signifikan
1
Sering
Sekali
2 M H H E E
Sering
3
Sedang
4
Jarang
5
Sangat
jarang
1 2 3 4 5
Perahu Terbalik Tidak Minor Moderate Major Catastropic
Signifikan
1
Sering
Sekali
2
Sering
3 M H E E E
Sedang
4
Jarang
5
Sangat
jarang
1 2 3 4 5
Kebocoran Perahu Tidak Minor Moderate Major Catastropic
Signifikan
1
Sering
Sekali
2
Sering
3 M M H E E
Sedang
4
Jarang
5
Sangat
jarang
1 2 3 4 5
Mati Mesin Di Tidak Minor Moderate Major Catastropic
Tengah Laut
Signifikan
1
Sering
Sekali
2 M M H H E
Sering
3
Sedang
4
Jarang
5
Sangat
jarang
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang secara geografis
terletak pada posisi strategis, yakni di persilangan antara dua benua (Benua Asia dan Benua
Australia), dan dua samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik). Dan beberapa
pekerjaan Masyarakat di laut yang dimana Publikasi dari Kementerian Riset Teknologi dan
Pendidikan Tinggi Indonesia menyebutkan penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai
nelayan berjumlah 2,17 juta atau hanya 0,87 persen dari tenaga kerja Indonesia. Nelayan
yang memiliki risiko yang sangat tinggi dengan mempertimbangkan ketidakpastian dari
alam, nelayan harus tetap menjaga keselamatan dan dalam kondisi aman. Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) adalah penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu
lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kapasitas fisik dan psikologi dan sebagai adaptasi
pekerjaan terhadap manusia dan setiap manusia kepada jabatannya suatu upaya untuk
eningkatkan derajat kesejahteraan baik fisik, mental dan social yang setinggi-tingginya bagi
pekerja disemua jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan diantara pekerja yang
disebabkan oleh kondisi pekerjaan, perlindungan perkerja dalam pekerjaannya dari risiko
akibat faktor yang merugikan kesehatan (Notoadmodjo,2014).
3.2 SARAN
Pentingnya memperhatikan segala sesuatu saat bekerja terutama pada profesi nelayan.
Untuk menghindari kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja. Yang dimana harus memperhatikan
dan mempersiakan alat keselamatan, kotak P3K, kondisi kesehatan, kondisi kapal, alat yang akan
dgunakan serta cuaca pada saat ingin berlayar agar terhindae dari kecelakaan kerja/penyakit
akibat kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, U. F. 2014. Kesehatan Masyarakat: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali
Pers.
Dharmawirawan, D. A., & Modjo, R. (2012). Identifikasi Bahaya Keselamatan dan
Kesehatan Kerja pada Penangkapan Ikan Nelayan Muroami.. Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional, 6 (4), 85-192
Vinezzia. D. (2021). Identifikasi Bahaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada
Aktivitas Nelayan. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. Vol 3 No 1
Suma’mur,1995. Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.Jakarta : Gunung Agung
LAMPIRAN