Anda di halaman 1dari 28

KAMPUNG RINCA terletak di dalam kawasan Taman pulau berpopulasi terbatas.

Bahasa Komodo ini juga


Nasional Komodo. Dalam kawasan tersebut, wilayah berbeda dari bahasa Bima, Manggarai, dan Bajo yang
Kampung Rinca tercakup ke dalam zona pemukiman dipergunakan oleh masyarakat yang tinggal di
masyarakat tradisional Taman Nasional Komodo. kepulauan sekitar Pulau Komodo dan daratan Pulau
Flores.
Penduduk Kampung Rinca terdiri atas etnis Komodo,
Bima, Bajo, Bugis, dan sebagainya. Masyarakat Desa Penduduk Kampung Rinca mayoritas berasal dari
Komodo biasa menyebut diri mereka “orang Modo” Bima dan Manggarai. Hal ini tidak terlepas dari
atau “ata Modo” dalam bahasa lokal. Orang Modo asli sejarah bahwa Pulau Komodo dulunya adalah tempat
diyakini memiliki bentuk kepala memanjang pembuangan orang hukuman atau berpenyakit yang
cenderung kotak dan telinga lebih panjang daripada ada di wilayah Kerajaan Bima. Kerajaan Bima sendiri
etnis lainnya. wilayahnya mencapai daratan Flores. Maka tidak
mengherankan jika beberapa daerah pedalaman di
Bahasa yang dipergunakan sehari-hari umumnya
Manggarai terdapat komunitas yang berbahasa Bima
adalah Bahasa Komodo. Bahasa Komodo ini terbentuk
alih-alih Bahasa Manggarai.
sebagai akulturasi berbagai bahasa, yakni Bima,
Manggarai, bahkan Jawa dan terisolir dalam satu
SENTUHAN INFRASTRUKTUR MASIH JAUH

AIR MINUM BERSIH MENJADI KEBUTUHAN UTAMA

MAYORITAS WARGA SEBAGAI NELAYAN


JEJAK

LEGENDA BATU BALOK


SALAH SATU DESTINASI SEJARAH KAMPUNG RINCA

Konon, di kampung ini ada seorang pemuda bernama


Rinca, tanpa sengaja bertemu dengan seorang putri
dari Flores yang cantik jelita bernama Fryda.

Melihat paras ayu putri tersebut, Rinca berusaha


meminang putri tersebut. Gayung seakan bersambut,
sang putri tak sanggup menolak, tetapi mengajukan
sebuah permintaan

“bangunkan aku istana dan semuanya harus selesai


sebelum ayam berkokok esok hari”.

Rinca menyanggupi permintaan sang putri, segera dia


menggunakan ilmu yang dimilikinya, dengan dibantu
“kroni kroni” nya segera membangun istana.

Saat dini hari, Putri Fryda melihat pembangunan


istana tersebut hampir jadi, jadi takutlah dia, karena
sebenarnya dia tidak mencintai Rinca, bersama para
dayangnya segera membuat perapian di sebelah
Timur, sehingga menimbulkan asap yang
menandakan hari sudah menjelang pagi,
terdengarlah suara ayam berkokok, oleh karena
itu “kroni kroni” dari Rinca berpikir fajar segera
menyingsing, mereka meninggalkan tugasnya.

Istana yang seharusnya akan selesai menjadi


berantakan dan yang tertinggal adalah batu balok
berserakan dimana mana. Begitulah cerita legenda
dari Batu Balok.

Sumber teks dan foto: www.kopertraveler.id


Haji Isaka, warga kampung Rinca, Desa Pasir sebentar numpang, karena itu mau nginap di Pos Taman
Nasional. Kebetulan petugasnya tidak ada, jadi nginapnya di
Panjang, Kecamatan Komodo Manggarai Barat
sini.
sudah kehabisan cara untuk mempromosikan
homestay-nya. Berbagai upaya sudah Dimana mereka menginap kalau bermalam di
seputaran Rinca?
dilakukan termasuk dengan bersedia hadir di
Karena kebanyakan tamu itu tidurnya di kapal, atau di pulau
salah satu Televisi swasta. Belum lagi ragam Kalong begitu.
produk souvenir yang diciptakan tidak dilirik
Bagaimana tanggapan Bapak Haji terkait situasi ini?
pasar wisata, membuatnya tidak hanya resah, Jadi kami mau berbuat apa, bisa apa, karena itu mungkin
tetapi juga pasrah, “Kami bisanya apa,” Berikut haknya juga.
petikan wawancara lengkap Venan Haryanto,
Promosi apa yang sudah dilakukan?
Vera Bahali dan Kameramen Frangkuy Making Kami sudah menginformasikan kepada guide-guide. Kami
dengan Haji Isaka. sendiri sudah memberikan sesuatu informasi kepada guide-
guide. Tapi, hanya sekedar begitu saja. Ya saya hanya sebatas
Boleh memperkenalkan diri secara singkat? itu saja, memberikan informasi kepada guide-guide, tolong
Saya Haji Isaka, kalau sertifikat apa saja, saya ada semua, kalau ada yang nginap, kami ada siap si sini, tempat
pernah undang ke Jayakarta, tentang homestay juga.” penginapan. Walaupun ala kadarnya, ya bagaimanalah rumah-
rumah di desa itu.
Riwayat singkat mendirikan Homestay
Jadi, saya, sejak akhir 2016 juga, sudah mulai mencoba Harapan Bapak Haji?
merencanakan membangun homestay. Tapi namunpun tidak Tapi harapkan juga kepada pemerintah, bagaimana hal-hal ini,
ada yang tidur. Setelah itu di 2017, sudah ada bantuan BTN kalau ingin betul membantu suatu masyarakat itu.
untuk membuat suatu kamar, plafon”
Kongkretnya?
Jadi atas inisiatip pemerintah. Pemerintah Pusat atau Dengan tamu-tamu yang begini banyak kiranya dapat juga
Daerah? dinginapkan di kampung Rinca itu sendiri. Ya harapan itu saja.
Pemerintah pusat.Ya jadi begitu. Jadi itu juga yang kami Kiranya dari pemerintah itu dapat juga membantu kami, untuk
harapkan. Hanya kami ini ikut sesuatu keinginan dari menggiringkan tamu itu supaya dapat menginap dimana, di
pemerintah.
pulau Rinca. Ya, itu saja harapan kami. Kami tidak bisa
Tujuannya? berbuat apa-apa.
Mengajak kami barangkali membuat suatu homestay, untuk
menambah suatu pendapatan-pendapatan.

4 Kamar
Apakah berhasil?
Tapi, namun kenyataannya tidak berhasil.

Jumlah tamu yang datang dan menginap


Ya, dari itu, dari selesainya akhir 2017, sampai sekarang baru
satu kali yang nginap. Sejak dibangun pada akhir tahun 2017,
Karena mereka tahu di sini ada homestay?
baru satu orang tamu yang menginap,
Itu mungkin tamu yang kebetulan. Bule. Itu pun hanya yakni tertanggal 1 Mei 2018
“ ...memberikan informasi kepada guide-guide,
tolong kalau ada yang nginap, kami ada siap si sini,
tempat penginapan. Walaupun ala kadarnya, ya
bagaimanalah rumah-rumah
di desa itu.”
Selain homestay apakah ada peluang lain?
Saya membuat suatu kerajinan. Itu patung-
patung Komodo. Mainan-mainan kayak Manta itu.
Itu saja. Itu juga menunggu tamu, kalau ada
tamu yang datang.

Sudah pernah disampaikan Aspirasi ini Ke


pemerintah daerah?
“Kami selalu menyampaikan, saya bahkan di
JakTv setiap malam sabtu, habis shallat jumad,
saya itu ada keluar jam 11, yang menyatakan itu
barangkali bagi Taman Nasional Komodo ini
diberlakukan sama seperti orang Komodo, dibuka
tempat souvenirnya di Loh Buaya. Tapi memag
hari ini hanya begitu saja.”

Di Loh Buaya tidak ada tempat Souvenir


untuk Masyarakat Rinca?
Tidak ada. Karena saya selalu, apa sih perbedaan
masyarakat Komodo. Karena dia itu masyarakat
Taman Nasional, Rinca juga masyarakat Taman
Nasional. Dan dia itu masing-masing punya asset.
Di sana Loh Liang, kami Loh Buaya. Kenapa, itu
pertanyaan saya. Tapi kami tidak bisa berbuat apa
-apa. Karena kami ini murni, minta, ya apabila
diberi. Itu saja”

Produk Masyarakat Rinca?


Kalau di Loh Buaya itu koperasi yang menjual di
sana. Berarti kami tidak boleh, mereka boleh.
Barang-barang ini kah mereka beli saja dari
Komodo. Padahal kami juga berharap, produk-
produk kami dan masyarakat yang lain di sini juga
bisa di jual di situ.

Terkait itu, bagaimana respon?


Saya hari ini juga, rasanya, bermalas-malas, mau
omong bagaimana lagi, kami hanya sekedar
begini saja. Menyampaikan lanjut sampai kemana
kami nggak mampu. Tidak tau juga. Kalau ada
bapak-baka yang datang ke sini baru kami
beritahu sesuai keinginan kami. Bahkan dari
sekian tahun itu, kami itu kalau dituntut kerugian
kami itu. Orang Komodo sudah maju dengan
souvenirnya. Tinggal berapa persen saja yang
melaut. Mereka sudah menikmati. Karena juga
lebih diutamakan oleh pemerintah itu sendiri,
apakah TNK atau pusat sendiri saya tidak tahu.
Tapi buktinya dibuatkan tempat souvenir dimana
itu Loh Liang. Koq Loh Buaya tidak?

Memang pemerintah itu membantu untuk melatih


masyarakat, dia latih, tapi dia tidak beri jalan
untuk pelemparan, pemasarannya, jadi sini saja,
jadi siapa yang mau beli di antara orang kampung
ini, nggak mau. Karena tidak ada bule yang
datang ke sini. Bule yang utamakan di sana (Loh
Buaya). Nah, kalaupun ada yang singgah di sini,
itu sisah dari sana. Kalau dia sudah beli di sana,
untuk apa lagi beli di sini. Kan begitu. Kalau di
sana itu, saya katakan, sudah pasti.
Sudah sejak 2017, sebagian warga Kampung Rinca memiliki Homestay. Namun baru
satu tamu yang berkunjung dan menginap di salah satunya. Gejala itu tentu saja tidak
menguntungkan bagi Ahmad Ucok. Selain karena, secara ekonomi dia tidak dapat
membangun homestay, memilih untuk tetyap menjadi nelayan adalah pilihan terbaik.
Bahkan Ahmad Ucok bisa membuka lapangan kerja bagi sebagian warga Kampung
Rinca dengan aktivitas melautnya. Berikut petikan wawancara lengkap Venan Haryanto
dan kameramen Frangky Making dengan Ahmad Ucok.

Terkait Pariwisata, Harapan Anda


Bagaimana Tanggapan Anda Kalau menurut kami masyarakat ini, kalau yang
Ya, kalau itu, memang dari dulu sampai sekarang, mampu kan bisa buat penginapan.
biasa-biasa saja.
Kongkretnya
Dampaknya bagi Warga Kampung Rinca Supaya tamu kalau dari Labuan Bajo atau dari Loh
Terkait pariwisata, maunya kan sukseslah. Kan Buaya, kalau mau nginap daripada menginap di Pulau
banyak sudah homestay. Hanya saya lihat ini mereka Kalong, lebih baik menginap di sini.
ini kan belum ada hasilnya.
Tujuannya?
Mengapa? Masyarakatnya kan merasakan juga hasilnya.
Karena tamu ini tidak terlalu apa ke sini, tidak Sekalipun tidak semua rumah di sini.
kunjung ke sini, ketimbang Padar dan lain-lain. Tamu
hanya jalan kiri kanan di sini, kemudian pulang.
Sebagai Nelayan, Bagaimana Dengan Taman Kemana dan berapa harga pasaran Ikan dari
Nasional Komodo sini
Masalah dengan Taman Nasional, kami masyarakat Ikan-ikan kering ini dipasarkan di Labuan Bajo dan di
dalam kawasan ini, ya bersyukur dengan adanya
sini juga. Perkilonya 18 ribu, kalau ikan Tembang.
Taman Nasional ini. Bersyukurnya kan karena
terlindung. Kalaupun ada patroli dan tanya
masyarakat, bukan untuk menyusahkan masyarakat. Tantangan apa saja yang Anda hadapi
Tapi istilahnya hanya menjaga juga. Saling menjaga Musim tenang kita berteduh. Kalau musim seperti
sekarang, susah kita.
Itu menjadi alasan Anda tetap menjadi nelayan
bersama yang lain Apa Harapan Anda?
Ya. Semua ini anggota kelompok nelayan. Kalau
“Harapan kepada pemerintah bagi masyarakat dalam
dapat ikan kan ini mereka dipanggil semua. Untuk
bantu jemur ikan, terus angkatnya. Kalau sudah kawasan ini, khususnya Desa Pasir Panjang ini,
timbang baru kita kasih mereka punya, istilahnya tolonglah diperhatikan, jangan cuma yang lain yang
uang jajanlah. diperhatikan. Kami-kami ini juga perlu diperhatikan
juga.”
Berapa warga di sini dapat dari lapangan
pekerjaan yang Anda ciptakan Kongkretnya?
Kalau dalam satu hari mereka bantu, mereka dapat
Masalahnya kan begini. Contohnya kan ada bantuan
50 ribu satu orang
dan apa segala macam. Ada yang kena ada yang
Berarti sekali melaut bisa mendapat banyak tidak. Selama ini sebagai nelayan saya baru dapat
tangkapan satu kali bantuan. Jaring. Itupun tidak bisa dipakai.
Terpegantung kita punya rezeki. Ada kalanya satu
minggu keluar. Ada kalanya satu hari keluar, satu hari Alasannya
bisa dapat. Kalau dapat ikan kita jemur, kalau yang Alat tangkap kami ni tujuh pis. Sementara bantuan
ikan segar seperti Kakap kita bawa ke Labuan Bajo . itu hanya satu pis setengah. Kan tidak ada
Tidak terlalu repot kita” gunanya.Keinginan kami itu kan bukan begitu.
Namanya kalau bantuan itu, kalau kasih bantuan itu
jangan lagi supaya kita repot, mau cari tambahan
untuk apa segala macam.
“Saya tetap mengatakan, dan sekali lagi saya tetap mengatakan, kalau memang Taman Nasional tidak
memikirkan dengan masyarakat yang ada dalam kawasan Taman Nasional, saya tidak segan-segan untuk
semua tempat wisata yang berpotensi, kami akan blok, karena itu milik kami.” pernyataan Baco ini bukan tanpa
alasan, lantaran melihat fakta bahwa masyarakat setempat tidak mendapat manfaat apa-apa dari gegap
gempita pariwisata. Selain karena alasan-alasan tersebut, masyarakat bahkan diasingkan dalam proses
pembangunan yang sudah sedang digiatkan. Berikut petikan wawancara lengkap Venan Haryanto dan
kameramen Frangky Makin dengan Baco salah satu warga Kampung Rinca, desa Pasir Panjang.

Boleh perkenalkan diri Anda berharap agar boat-boat pengantar tamu atau yang jemput
saya adalah salah satu warga Pulau Rinca yang ada dalam tamu dari Labuan Bajo itu berhentinya di Kampung Rinca,
kawasan TNK, dengan total penduduk kurang lebih 1100 supaya boat-boat yang JT-nya kecil dapat bagian
jiwa. Hampir 99% dari warga di sini adalah nelayan. Desa mengantarkan tamu ke Loh Buaya. Sekaligus kami berharap,
Pasir Panjang masuk dalam Kawasan Taman Nasional. Tapi, kapal-kapal tamu yang ada kamar atau apa jangan
Taman Nasional kami akui dapat memberi dampak positip menginapkan tamu di kapal. Atau jangan ada hotel yang
pada negara yang seharusnya kepada masyarakatnya juga. terapung.

Ya, memang seharusnya demikian Berhadapan dengan situasi seperti ini, apa yang warga
Tetapi kenyataannya masyarakat desa Pasir Panjang belum lakukan
merasakan manfaat dari Taman Nasional yang ada. Saya tetap mengatakan, dan sekali lagi saya tetap
mengatakan, kalau memang Taman Nasional tidak memikirkan
Bisa disebutkan Contohnya dengan masyarakat yang ada dalam kawasan Taman Nasional,
Karena semua potensi-potensi yang ada di Desa Pasir Panjang, saya tidak segan-segan untuk semua tempat wisata yang
contohnya Pulau Kalong, Gua Kalong, Batu Balok, Selat Molo, berpotensi, kami akan blok, karena itu milik kami. Karena yang
pantai-pantai rekreasi tempat wisata itu hanya memberi mendapat keuntungan adalah masyarakat Labuan Bajo,
dampak postip bagi masyarakat di luar Desa Pasir Panjang. masyarakat Lombok atau masyarakat yang ada di luar
Sedangkan masyarakat yang ada di desa Pasir Panjang hanya kawasan Taman Nasional atau di luar kampung Rinca.
jadi penonton.

Apakah ada contoh yang lain


Sekarang, boat yang ngantar tamu langsung dari Labuan Bajo
ke Loh Buaya. Padahal itu sangat merugikan kami. Kami
Terkait sampah, seperti apa
Berkaitan dengan sampah. Masyarakat Kampung Rinca
dijadikan sebagai pemulung. Dimanfaatkan oleh Taman
Nasional atau pihak-pihak lain untuk jadi pemulung
hanya untuk mendapatkan uang. Karena kalau sampah
itu, masyarakat dilibatkan secara langsung, maka saya
yakin sampah itu dengan sendirinya akan hilang.

Karena masyarakat itu bertanggung jawab sendiri atas


sampah. Bukan menjadikan pemerintah di sini,
masyarakat di sini dijadikan pemulung untuk pilih-pilih
sampah di setiap rumah tangga.

Bagiamana suara Anda sampai ke Pemerintah


Koordinasi itu memang kami akui, karena level
koordinasi antara desa, kecamatan dengan Taman
Nasional itu terputus. Kami tahu karena Taman
Nasional itu vertikal. Tidak ada kewenangan bupati,
camat atau desa untuk mengintervensi mereka.

Solusi menurut Anda, sebagai harapan


Tetapi paling tidak bupati punya hak juga untuk
memberikan solusi kepada mereka agar duduk bersama
agar bagaimana baiknya masyarakat yang ada dalam
kawasan. Agar tidak terjadi konflik antara masyarakat
dan Balai Taman Nasional Komodo.
Ada banyak potensi wisata yang dapat Kalong dan Batu Balok itu juga sebenarnya asset besar untuk
dikembangkan dari, oleh dan untuk Warga Desa Pasir Paanjang, ketika itu tamu datang, manfaatkan
masyarakat kecil untuk mengambil bagian di dalamnya.
Kampung Rinca, tetapi ragam potensi itu tidak
dimaksimalkan untuk kesejahteraan Rakyat. Pengembangan Ekonomi Klreatifnya seperti apa
Tetapi faktanya tidak berdampak signifikan. Selain itu banyak kreatif, tetapi yang dilakukan bahkan oleh
Balai Taman Nasional juga pernah memberikan penerapan
Bahkan rekomendasi inisiatif warga Kampung buat patung apa, dari Yayasan Komodo Kita Juga, tetapi
Rinca yang disampaikan ke Kementerian pun semuanya hanya berakhir pada sebatas itu saja. Untuk paket
tidak terealisasi. Berikut petikan wawancara jualannya yang ngambil siapa, seperti pengelolaan madu.
Ketika masyarakat ambil madu, tapi hasil penjualannya nggak
lengkap Vera Bahali dan fotografer Frangky ada. Yang pasarannya yang nggak ada. Ini juga yang perlu
Making dengan Muhamad Aruk, salah satu kita verivikasi kembali, untuk mengatur kembali, untuk menata
tokoh pemuda Kampung Rinca. kembali.

Keberadaan Loh Buaya itu sendiri (sebagai pintu


Silahkan memperkenalkan diri Anda secara singkat gerbang Rinca) seperti apa untuk warga Kampung
Nama saya Muhamad Aruk. Saya ini muda, tokoh masyarakat, Rinca
saya bisa lipat semua. Loh Buaya itu Cuma pendapatannya itu Cuma perorangan.
Yang mana hanya orang yang berada di sana aja. Contoh,
Potensi apa saja yang bisa dikembangkan oleh warga natural guide, anak Rinca itu banyak sih, yang bisa berbahasa
Kampung Rinca Inggris, tapi tidak bisa masuk ke dalam system.
Sangat banyak.
Apa masalahnya
Karena terlalu banyak aturan yang mereka lakukan. Harus
Seperti apa misalnya
melalui uji coba dulu, tes, terus di sana kan keterbatasan juga.
Ada Gua Kalong, Batu Balok. Itukan pengembangan untuk
Lebih banyak orang luar. Sebenarnya, seharusnya Taman
pariwisata, yang bisa dipemberdayaan masyarakat.
Nasional merekrut masyarakat yang ada dalam kawasan,
tetapi itu hanya berapa porsen saja. Boleh dikatakan hanya
Ada yang lain
lebih dari sepuluh aja masyarakat yang dimanfaatkan yang di
Terus, yang di selat Molo itu. Itu juga salah satu asset yang
Loh Buaya. Banyak yang dari luar.
paling besar. Itukan bisa lihat air terjun, sunset, dan selat
molo seperti apa perkembangannya dan masyarakat bisa
Harapannya seperti apa
mendapatkan juga, ketika ada tamu datang mereka bisa antar.
Harapan kami, masyarakat lokal yang harus lebih diutamakan
Artinya pemberdayaan masyarakat itu cukup besar.
oleh Balai Taman Nasional Komodo untuk masalah di Loh
Sejauh ini seperti apa Buayanya, natural guide.
Sekarang ini kita sudah mengajukan semua proposalnya,
tetapi realisasi dari kementerian belum ada. Artinya
pengembangan untuk pariwisata yang sudah kita ajukan,
seperti jalan lintas Kerora, jalan ini kan tiga kilo. Terus ke Gua
Tidak ada harapan perubahan yang dapat diperoleh dari pembangunan pariwisata yang sudah sedang
berlangsung bagi warga kampung Rinca. Ada upaya yang sudah diinisiasi pemerintah melalui Balai Taman
Nasional Komodo, tetapi tidak berjangka panjang. Ahmad Saleh, warga sekaligus sepuh agama Kampung Rinca
mengakui perihal itu. Bahkan menurutnya, banyak usaha warga yang tidak berhasil lantaran tidak ada yang
membelinya. Berikut adalah penuturan lengkap Imam Masjid ini kepada Venan Haryanto, Vera Bahali dan
kameraman Frangky Making.

Seperti apa manfaat langsung yang didapat pariwisata Terkait kunjungan wisatawan ke kampung Rinca
warga kampung Rinca dengan pariwisata bagaimana
Kalau saya mau bicara tentang pariwisata, taman nasional ya, Relasi antara masyarakat dengan wisatawan belum
saya rasa tentang keuntungan ada ya, tapi di pihak-pihak yang menyentuh, belum terealisasi betul, belum masksimal. Karena
besar yang ada dalam kawasan tama nasional ini ya. Setelah baru satu kali dua kali datang. Nanti kalau terus-terus datang,
dikelola taman nasional oleh balai, masyallah ya, kayu-kayu di maka homestay akan berfungsi. Tapi belum ada realisasi.
jalan-jala itu sudah tumbuh besar. Ini kelebihannya. Lalu
hewan-hewan yang misalnya rusa, kerbau nah ini utuh. Dulu pernah ada janji katanya mau ada datang berapa puluh,
berapa ratus mau datang itu, sehingga keburu kita buat rumah
Selain itu, apa ada dampak lainnya di bawah ini, sehingga ada berapa biji rumah dipersiapkan,
Hanya sekarang persoalannya tidak menyentuh kepada tapi kelihatannya sampai hari ini belum ada yang nginap.
masyarakat. Karena dulunya kalau saya sebagai pekerja di Kalau datang turis, kunjungan-kunjungan turis ke sini, bisa
desa, nah ini pernah ada janji mengatakan bahwa setiap di dapat kelebihan-kelebihan untuk masyarakat. Sekrang
Loh Buaya itu ada prosentase untuk masyarakat desa. Semua misalnya, pekerja patung yang ada di bawah itu, macam Haji
anggaran itu ada prosentasenya untuk desa. Kalau saya tidak Saka ya, itu tetap saja ada, tapi tidak pernah ada yang laku
salah prosentasenya itu 5%. Tapi saya tanya ke pemerintah ya, karena belum banyak orang yang datang.
desa hari ini katanya tidak pernah ada. Entah dijalankan
kemana, ini walahuallam juga ya, itu bukan tugas kita, hanya Karena banyak perjanjian ya, sekarang orang anyam-
kita melihat begitu. anyaman, pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan
keuntungan, seperti tenun tetapi hari ini, kelihatannya kosong
Apakah tidak ada bantuan sampai sejauh ini saja. Tidak ada yang jadi. Tidak ada yang produktif. Dan
Persoalan Misalnya sekarang dengan zamannya pak Jokowi ini, hasilnya juga tidak ada.
presiden Jokowi, ini rumah mulai tersentuh masyarakatnya.
Rumahnya yang tidak layak diperbaiki. Tapi satu permintaan Harapan Bapak seperti apa
kita di dalam kawasan taman nasional ini, orang yang tidak Harapan kami dengan adanya taman nasional, masyarakat
punya rumah sampai hari ini tidak dibantu ya. Orang yang ada bisa hidup sejahtera. Itu saja.
rumahnya yang tidak layak dibantu, orang yang tidak punya
rumah tidak dibantu. Ini menjadi lucu ya. Jadi tidak sehat,
satu rumah dua kepala keluarga. Itu yang kita pikirkan
bersama, termasuk datangnya ini saya terbuka ya kiranya bisa
menyentuhlah. Semua anggaran
Kalau kita melihat pengunjung-pengunjung ke taman nasional,
itu ada prosentasenya
masyallah, dari turis-turis yang datang ya, nah kalau saya
rasa, kalau mau buat rumah merakyat saja, saya rasa tidak
untuk desa. 5%. Tapi, (sampai
terlalu sulit apalagi dengan anggaran begitu banyak ya. hari ini), tidak pernah ada.
Sebagai sepuh agama, apa harapannya
Permintaan saya ya, karena saya orang masjid ya, sampai
hari ini taman nasional tidak pernah bantu kita punya
mesjid ini.

Sampai hari ini ya. Selama saya imam berapa puluh tahun,
tigah puluh tahun, tidak pernah ada uluran tangan ini untuk
mesjid, tidak ada.

Masjid ini, dibangun murni swadaya ummat


Itu mesjid yang kami bangun itu pak, itu swadaya
masyarakat. Tapi barangkali padahal ada anggaran-
anggaran yang bisa, walaupun tidak banyaklah ya, nah
untuk masyrakat.

Nah itu saya spontan saja ya. Karena saya sendiri orang
yang dekat dengan taman nasional, orang yang selalu Sampai hari ini ya.
berikan saran ya, tentang kebaikan, tentang apa saja,
karena saya imam mesjid, arahan-arahan ke tempat yang
Selama saya imam
jangan sampai merusakkan taman nasional ini, itu sudah berapa puluh tahun,
ada. Tetapi saya juga belum tersentuh. Bukan hanya saya,
masyarakat yang lain juga. tigah puluh tahun,
Ke depannya, bagaimana melihat Kampung Rinca
tidak pernah ada
Sampai kapan pun masyarakat akan tetap seperti ini saja. uluran tangan ini
Karena masyarakat mendatangkan keuntungan karena
usaha sendiri. Tapi kalau berharap dengan mendatangkan untuk mesjid,
keuntungan dari taman nasional ini untuk mensejahterakan
masyarakat, saya rasa tidak ada. tidak ada.
PENGANTAR
Mereka tidak lagi menggan-
Tulisan “Welcome to Eco Village Komodo” dan “Selamat
Datang di Kampoeng Wisata Pulau Komodo” menyambut
tungkan hidupnya pada mata
setiap orang saat tiba di Pulau Komodo, Kabupaten Mang-
garai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
pencaharian awal mereka, yaitu
bertani, berburuh dan
Pelayaran ke tempat itu ditempuh dalam waktu kurang lebih
4 jam dari Labuan Bajo, ibukota Mabar. melaut, tetapi pada pariwisata
yang konon secara teoritik
Sarana transportasi umumnya dengan kapal ojek, sebutan
masyarakat setempat untuk kapal berukuran kecil, dengan digolongkan sebagai sektor post-
kapasitas penumpang di bawah 10 orang.
ekstraktif yang lebih berkelan
Pelayaran tidak saja menyenangkan dengan suguhan
pesona pulau-pulau, tetapi juga menegangkan ketika
jutan dalam banyak aspek.
melintasi area Batu Tiga yang arus lautnya sangat deras.
Kampung Komodo pun kemudian dideklarasikan sebagai
desa atau kampung yang berbasis ekoturisme.
Beberapa dekade belakangan, Pulau Komodo menjadi
begitu masyur, berkat anugerah istimewa sebagai habitat
kadal raksasa komodo (Varanus komodoensis) . Pertanyaannya: sejauh mana ekoturisme membawa dampak
positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat?
Kemasyuran pulau ini pun meledak, menyusul ditetapkan
nya ora, sebutan masyarakat setempat untuk reptil raksasa Ulasan ini, yang dirangkai dari pengalaman perjumpaan
tersebut, sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. langsung dengan realitas masyarakat di Pulau Komodo
selama dua hari, pada satu sisi memperlihatan peluang
yang menjanjikan melalui pengembangan desa berbasis
Pulau Komodo bersama penghuni aslinya yang sudah
ekoturisme. Namun, pada sisi yang lain juga terungkap
beratus-ratus tahun hidup dengan budaya dan mata pen-
berbagai krisis yang mereka alami.
caharian sebagai petani, berburuh dan nelayan pun menjadi
destinasi pariwisata yang mendunia, yang saban hari
dikunjungi para turis, baik domestik maupun mancanegara.

Berkembangnya pariwisata di kawasan ini bermula dari


terbentuknya Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) pada
tahun 1980an. Bersamaan dengan itu, penduduk Pulau
Komodo memasuki babak baru yaitu hidup sebagai
masyarakat pariwisata.
PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN Aktivitas nelayan ini lantas berkembang pesat pada era
1980an-1990an, di mana tercatat sekitar 200 kapal ikan/
Hingga sekarang, di kalangan masyarakat Komodo bagang yang setiap hari selalu mengitari pelabuhan tradi-
beredar beberapa versi cerita terkait asal-usul Komodo. sional Kampung Komodo.

Setidaknya, cerita-cerita tersebut dihubungkan oleh satu Seiring dengan aturan zonasi yang baru dari pihak TNK
benang merah bahwa Komodo merupakan saudara kembar pada akhir 1990an dan awal 2000an, area tangkapan ikan
dari penduduk asli Pulau Komodo. Status sebagai saudara masyarakat sudah semakin sempit.
kembar ini terkonfirmasi melalui kisah-kisah yang
menggambarkan kedekatan hubungan warga dengan Tercatat hingga saat ini, hanya tersisa 3 kapal bagang yang
binatang tersebut. masih aktif menangkap ikan. Imbasnya, harga ikan di Pulau
Komodo saat ini lebih mahal ketimbang Labuan Bajo.
Dahulu kala, ketika warga masih menggantungkan hidup
pada aktivitas berburuh, bagian dalam dari hewan buruhan Bahkan, kebutuhan akan lauk warga sebagiannya telah
sudah menjadi jatah tetap santapan Komodo. tergantikan oleh mie dan telur yang dijual di kios-kios yang
letaknya hampir berdesak-desakan.
Sedemikian harmonisnya hubungan mereka, dilukiskan
bahwa ketika warga baru saja berhasil menangkap hewan Warga Komodo kini telah memasuki tahap baru dalam
buruhan, segerombolan Komodo datang menghampir, kehidupannya yaitu sebagai masyarakat pariwisata. Sekilas,
karena mereka sudah tahu mereka pasti mendapat jatah. kehidupan mereka pun tidak jauh-jauh amat dari kata
sejahtera.
Di samping berburuh, penduduk Pulau Komodo juga
menggantungkan hidup pada aktivitas bertani. Di daerah Rumah tembok dan kayu berjejer, gang-gang kampung
Loh Liang, tempat penangkaran Komodo, masih terdapat telah dirabatisasi, infrastruktur dasar seperti air minum,
jejak-jejak kebun warga. Puskesmas, SD dan SMP sudah cukup untuk membenarkan
tesis itu. Tidak hanya itu, perederan uang pun sudah
Bahkan, sebagian dari generasi sekarang masih berupaya semakin tinggi. Mobilitas orang Komodo menuju Labuan
membangun negosiasi dengan pihak TNK untuk mendapat- Bajo juga sudah sangat tinggi. Edi, seorang kapten kapal
kan hak milik atas tanah. yang berasal dari daerah tetangga, Bima, Nusa Tenggara
Barat bahkan bersaksi bahwa di Pulau Komodo sekarang ini
tidak sulit mendapatkan uang.
Setelah sekian lama berburuh dan bertani, penduduk
Komodo pelan-pelan mencari peruntungan di laut dengan
menjadi nelayan. Pekerjaan ini sangat dicintai oleh Sebagai kapten kapal saja, sehari ia rata-rata mendapatkan
masyarakat Komodo, karena lebih mendatangkan manfaat keuntungan bersih sekitar Rp 3.000.000. Pendapatannya
dari segi ekonomi. sekarang jauh berbeda bak langit dan bumi ketika
sebelumnya ia menjadi seorang pelayan toko di kota
Labuan Bajo dengan hanya mendapat Rp 700.000
Bersama warga dari beberapa pulau lain seperti Papagarang per bulan.
dan Rinca, warga Komodo tercatat sebagai pemasok ikan
bagi masyarakat kota Labuan Bajo, bahkan Manggarai
umumnya.
PELUANG DAN TANTANGAN pengerjaannya dilakukan secara berkelompok, mulai dari
tahap produksi hingga pemasaran. Persis ini yang belum
Kisah sukses sebagian kecil orang di tengah kemajuan pari- terbangun dengan baik di Komodo”.
wisata, faktanya, juga muncul beiringan dengan sejumlah
soal krusial. Di bawah payung ekoturisme, menjadi pengraj- Pada kenyataannya, sejauh ini, dari 50 pengrajin patung di
in patung dan penjual souvenir merupakan mata pencahari- Pulau Komodo, 30 di antaranya terdaftar sebagai pengrajin
an baru masyarakat Pulau Komodo. Sejauh ini, penduduk di Kementrian Ekonomi Kreatif yang kemudian terbagi da-
Pulau Komodo yang tercatat sebagai pengrajin patung ber- lam 3 kelompok.
jumlah sekitar 50 orang, sedangkan sebagai penjual souve-
nir berjumlah kira-kira 150 orang. Menjawab pertanyaan terkait apa peran kelompok-
kelompok tersebut, menurut Saeh, belum berfungsi dengan
Para pengrajin patung rata-rata membangun usahanya baik dalam memfasilitasi usaha para pengrajin patung. Ini
langsung di Kampung Komodo. Biasanya mereka me- terbukti dari proses pengerjaan patung yang masih dil-
manfaatkan area sempit di sekitar rumah atau juga di akukan sendiri-sendiri.
bawah kolong rumah. Sedangkan penjual souvenir sebagian
besarnya terkonsentrasi di Loh Liang dengan lokasi jual Sedemikian individualnya proses pengerjaan ini, demikian
yang sudah disiapkan oleh pihak TNK. Ada pula beberapa Saeh, dalam kelompok yang sama setiap anggota berlomba-
orang penjual souvenir yang lebih memilih untuk membuka lomba membuat proposal untuk bantuan. Pernah terjadi ada
usaha langsung di Kampung Komodo. 7 orang dengan stempel kelompok yang sama pada pro-
posal permohonan bantuan dana.
Pada prosesnya patung yang dibuat oleh para pengrajin
dibeli oleh para penjual souvenir dengan kisaran harga Rp Sama halnya dengan para pengrajin patung, para penjual
15.000 hingga Rp 250.000, yang sangat tergantung pada souvenir pun memberi komentar dan pendapat terkait
ukuran patung. Biasanya, para penjual souvenir bermitra prospek ekonomi dan hambatan dalam menekuni profesi
dengan 2 hingga 3 pengrajin. Patung yang telah dibeli dari sebagai penjual souvenir. Pada kenyataannya, profesi se-
para pengrajin, oleh para penjual souvenir selanjutnya di- bagai penjual souvenir tampak lebih menjanjikan ketimbang
permak lagi, sehingga semakin menyerupai Komodo. pengrajin patung. Karena itu, merasa tidak puas dengan
Patung-patung ini awalnya diperhalus dengan pendapatan yang diperoleh, sebagian pengrajin patung juga
menggunakan kertas pasir, selanjutnya dibuatkan sisik-sisik memilih untuk menjadi penjual souvenir.
di sekujur tubuh patung.

Lantas, ketika ditanyakan mengapa tidak sekalian menjadi


Tahap ini biasanya dikerjakan dalam waktu yang agak lama, penjual souvenir, Yusuf yang adalah seorang pengrajin
sebab membutuhkan ketelitian yang tinggi. Setelah kedua patung berpendapat bahwa profesi tersebut membutuhkan
tahap ini, patung tersebut dicat, dikeringkan lalu siap untuk modal yang cukup. Sebab yang dijual bukan hanya patung
dijual kepada para turis dengan kisaran harga yang men- Komodo, tetapi juga souvenir-souvenir lain seperti baju ber-
capai 6 hingga 7 kali lipat. tuliskan Komodo dan pernak-pernik lain seperti kalung-
kalung yang didatangkan dari daerah lain seperti Bali dan
Di balik rutinitas dan keasyikan mereka menekuni profesi Jawa. “Yang jelas ini membutuhkan modal yang tidak sedi-
baru tersebut, tedapat satu dua kisah menarik. Ketika kit”, aku Yusuf.
ditanya terkait prospek ekonomi dari pekerjaan tersebut,
jawaban mereka pun sangat bervariasi. Dahlan, seorang Di samping peluang ekonomi yang cukup menjanjikan,
pengrajin patung yang sebelumnya menjadi nelayan menjadi penjual souvenir di Loh Liang juga tidak sepe-
mengatakan bahwa pekerjaan tersebut lebih berprospek nuhnya bebas dari hambatan.
secara ekonomi.

Kasim, seorang penjual souvenir mengaku hambatan utama


Selain karena pekerjaannya tidak terlalu menghabiskan mereka adalah semakin terbatasnya lahan penjualan seiring
waktu dan tenaga yang banyak, produk-produk yang dengan semakin bertambahnya jumlah penjual. Kasim
dihasilkan pun sudah pasti laku terjual di pasar. Namun, se- melanjutkan, sejauh ini belum ada tanggapan dari pihak
bagai pengrajin patung, Dahlan merasa bahwa yang lebih TNK terkait proposal penambahan area penjualan. Di
banyak mendapatkan keuntungan adalah para penjual sou- samping itu, ia sangat berharap agar usaha ini sungguh
venir. Sebab merekalah yang langsung berinteraksi dengan menjadi sandaran ekonomi masyarakat Komodo. Menurut-
pasar. Sehingga, patung yang harga dasar dari pengrajin nya harapan akan keberlanjutan ekonomi dari bisnis souve-
berkisar di antara Rp 25.000 hingga Rp 300.000 bisa men- nir akan terus terjaga jika itu menjadi profesi eksklusif, ka-
jadi Rp 800.000 hingga lebih dari Rp 1.000.000 di tangan takanlah semacam hak paten masyarakat Pulau Komodo.
para turis.

Terkait hal ini Kasim bercerita jika baru-baru ini para pen-
Saeh, seorang pengrajin patung generasi kedua yang telah grajin patung dan pengusaha souvenir dibuat heboh ketika
menekuni pekerjaan tersebut sejak tahun 1997, menga- di tengah-tengah jejeran patung Komodo, tiba-tiba terdapat
takan bahwa sebenarnya prospek ekonomi dari pengrajin patung Komodo yang terbuat dari fiber.
patung ini akan berlipat-lipat ganda jika saja proses
pengerjaan tersebut berlangsung dalam komunitas atau
semacam asosiasi dengan sebuah sistem yang tertata “Ini tentu membahayakan kami sebagai pengrajin dan juga
dengan jelas. pengusaha souvenir di Pulau ini”, terang Kasim. Karena itu,
ia sangat berharap agar asosiasi pengrajin patung dan
penjual souvenir harus sungguh menjalankan fungsinya un-
Membandingkan pengalamannya dengan daerah lain, Saeh tuk melindungi para anggota.
bertutur “saya sudah banyak kali ikut pelatihan pembuatan
patung di Jawa dan Bali. Kemampuan dan keterampilan
mereka tidak jauh berbeda dengan masyarakat di sini. Han-
ya yang menjadi kelebihan mereka adalah sistem
BUKAN HANYA ORA katanya.

Berjalan keliling Kampung Komodo, sekilas muncul rasa Isnan, pengelola home stay di Kampung Komodo menga-
bingung. Pasalnya, tulisan yang terpampang pada dua takan, akhir-akhir ini terjadi trend menurunnya para tamu
gapura kampung terkesan tidak cukup tergambarkan oleh yang menginap di home stay milik warga . Para tamu lebih
suasana kampung tersebut. memilih untuk beristirahat malam di kapal. Menurutnya, hal
ini bisa saja terjadi karena kurangnya daya pikat dari Kam-
Hanya beberapa home stay dan toko souvenir yang sedikit pung Komodo itu sendiri, yang membuat para tamu khu-
memberi bukti akan denyut nadi pariwisata. Lalu, apakah susnya orang bule tidak bisa lama-lama berada di sana.
tidak ada pesona wisata lain selain ora?
Di tengah tidak tergalinya potensi-potensi kebudayaan ini
Jangan-jangan ada kekayaan budaya dan harta karun se- sebagai modal penting dalam pengembangan ekoturisme,
jarah lain yang bisa dikapitalisasi untuk menjadi bagian dari sebagian masyarakat Komodo yang lain mencoba perun-
pengembangan ekoturisme masyarakat Pulau Komodo? tungan dengan bergabung dalam asosiasi natural guide.

Dugaan ini pun terkonfirmasi oleh kenyataan. Sebagai Sejauh ini, tercatat sekitar 20 orang natural guide yang oleh
misal, masyarakat Komodo mempunyai kekayaan budaya pihak TNK ditugaskan untuk memandu para tamu di Loh
seni tari yaitu tarian Arugela yang mengisahkan kelahiran Liang.
Komodo. Mereka juga mempunyai tarian Kolo Kamba dan
pencak silat. Selain itu, orang Komodo juga mempunyai Namun, menurut warga setempat, para natural guide ini
peninggalan sejarah yaitu situs kampung lama yang sejauh kadang harus bersaing dengan guide-guide profesional dan
ini belum dipromosi sebagai bagian dari paket wisata. tidak jarang mereka pun sering terpinggirkan dalam kompe-
Bahkan, hingga beberapa versi cerita terkait asal-usul Ko- tisi ini.
modo bisa dijadikan sebagai sajian wisata yang menarik un-
tuk para wisatawan. Di samping natural guide, beberapa warga Komodo juga be-
rusaha mendulang rupiah dengan jalan bernegosiasi dengan
Terkait hal ini, orang Komodo sendiri kerap mempertan- pihak TNK untuk terlibat dalam pengelolaan pantai merah
yakan legitimasi beberapa event besar yang berlabel Komo- (pink beach), salah satu destinasi pariwisata di Pulau Komo-
do seperti Sail Komodo dan Festival Komodo tahunan yang do yang akhir-akhir ini ramai dikunjungi para turis. Mereka
hingga sekarang ini tidak pernah memanggungkan ke- tergabung dalam asosiasi yang diberi nama Askom.
budayaan asli Komodo.
Bentuk keterlibatan mereka adalah menyiapkan kapal-kapal
Musalim, seorang tokoh masyarakat Komodo bertutur kecil untuk mengantar para tamu dari kapal trip menuju ar-
“jangan-jangan ketika menyebut Komodo, orang hanya ber- ea pantai. Karena itu, kapal trip tidak diperkenankan untuk
pikir sekitar Komodo-nya saja dan pada saat yang sama masuk ke area pantai merah. Para tamu wajib membayar
secara adat budaya kami dianggap sebagai bagian dari Flo- Rp 15.000 hingga Rp 20.000.
res daratan, sehingga tidak pernah ada pikiran kalau kami
sebagai orang Komodo ini punya adat dan budaya yang Terkait keberadaan kelompok ini berkembang desas-desus
khas yang sangat berbeda dengan orang Flores daratan.” di tengah masyarakat Komodo. Sebagian masyarakat mem-
pertanyakan legalitas dari kelompok ini, sebab sejauh ini
Sejauh ini, menurut warga setempat hanya ada satu tour disinyalir bahwa kelompok ini belum mendapatkan izin
guide yang secara konsisten mempromosikan kekayaan bu- resmi dari pihak TNK. Karena itu, jangan sampai ada tud-
daya seperti tarian Arugela kepada para tamu. ingan pungutan liar dalam kawasan TNK.

Ketika ditanya sejauh mana kontak yang terjadi antara Sebagian lagi mempertanyakan transparansi dan inklusivitas
masyarakat Komodo dengan para tamu/turis di Kampung dari kelompok ini. Sebab, dari awal telah disepakati bahwa
Komodo, kata Supar, seorang pengrajin patung “paling sebagian pendapatan dari kelompok ini akan diserahkan
mereka datang lihat-lihat kami punya kerja.” kepada desa. Namun, dalam kenyataannya sejauh ini tidak
ada laporan terkait hal itu.
“Kadang ada bule yang langsung beli patung kasar yang su-
dah kami buat. Selebihnya mereka hanya jalan-jalan keliling
kampung, lalu kembali berangkat ke tempat wisata lain,”
“SEBATAS BISIK-BISIK DI ANTARA KAMI”

Kepada siapakah masyarakat Komodo harus mengala-


matkan keluhan mereka? Bupati, TNK, DPR?

Musalim, seorang tokoh masyarakat, menyampaikan


kekesalannya terkait kebijakan pergantian zonasi di TNK
yang selama ini sering tidak disosialisasikan terlebih dahulu
kepada masyarakat setempat.

“Kami sangat kaget, sebab tiba-tiba pihak TNK melarang


menangkap ikan di area tertentu, karena sudah (daerah itu)
masuk dalam kawasan konservasi TNK. Bahkan untuk
menebang kayu dan membakar rumput pun kami tiba-tiba
dilarang. Pertanyaan saya adalah, mana sesungguhnya
yang benar, desa dalam kawasan atau kawasan dalam de-
sa”, tutur Musalim.

Aspirasi ini akhirnya mentok, menurut Musalim, ketika pihak


Pemda selalu berdalih pada alasan bahwa segala sesuatu
terkait taman nasional sepenuhnya menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat.

“Kami bisa apa, kalau Pemda jawab seperti itu”, lanjut Mu-
salim.

Salah satu bukti kebingungan masyarakat Komodo terkait


bagaimana harus membangun koordinasi dengan pihak TNK
dan Pemda terjadi ketika baru-baru ini sekolah SMA yang
berlokasi di Kampung Komodo ditutup. Kasus ini, yang ter-
jadi karena ketidakjelasan koordinasi antara pihak Pemda
dan TNK, mengorbankan anak-anak sekolah. Beruntung
masih ada salah satu sekolah di Sape, NTB yang bersedia
menampung anak-anak ini.

Lebih lanjut, ketika ditanyakan terkait bagaimana peran


DPR dalam menyuarakan aspirasi mereka, masyarakat Pu-
lau Komodo kerap menyebut sosok Mateus Hamsi, yang ko-
non selama menjabat sebagai anggota DPR, secara konsis-
ten memperjuangkan kepentingan orang-orang Komo-
do. Situasi itu hampir tidak pernah mereka alami lagi
sekarang ini.

Sebenarnya jumlah pemilih aktif yang mencapai 1.200-an


orang, sudah cukup bagi masyarakat Kampung Komodo un-
tuk dapat mengirimkan salah satu wakil di DPR.

Namun sejauh ini, menurut masyarakat setempat, hal itu


sulit terwujud sebab masyarakat Komodo sendiri sudah ter-
sandera politik kepentingan yang kemudian mengabaikan
aspirasi politik mereka sendiri.

Dalam pemilu legislatif 2014, masyarakat Komodo men-


gusung salah seorang calon. Namun, ia gagal karena hanya
mendulang 300 suara.