Laporan Tetap Fistek
Laporan Tetap Fistek
ACARA I
PENGARUH KONDISI DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP
SUSUT BERAT
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Buah, sayuran dan serealia masih dapat hidup setelah dipanen. Proses
fisiologi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan penyimpanan dan lamanya
penyimpanan.
Produk holtikultura merupakan produk yang mudah rusak (perisable),
sehingga butuh penanganan khusus pada tahapan pasca panen. Penanganan pasca
panen buah dan sayuran di Indonesia masih belum mendapat perhatian yang
cukup. Hal ini terlihat dari kerusakan-kerusakan pasca panen sebesar 25 % - 28
%. Agar produk holtikultura terutama buah-buahan dan sayuran dapat sampai ke
tangan konsumen dalam kondisi baik perlu penanganan pasca panen yang benar
dan sesuai. Bila pasca panen dilakukan dengan baik, kerusakan-kerusakan yang
timbul dapat diperkecil bahkan dihindari, sehingga kerugian di tingkat konsumen
dapat ditekan.
Penyimpanan pada kondisi tertentu akan menyebabkan perbedaan tekstur
buah dan sayuran. Dimana pada buah dan sayuran yang disimpan pada suhu
dingin akan menghambat proses respirasi dan mencegah kerusakan akibat
aktivitas mikroorganisme. Adanya kerusakan fisik seperti goresan pada buah dan
sayuran akan menyebabkan susutnya berat bahan karena air dalam bahan akan
keluar atau menguap. Oleh sebab itu perlu dilakukan peraktikum tentang
pengaruh kondisi dan lama penyimpanan terhadap susut berat bahan agar para
petani bisa menyimpan hasil panen.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan diadakannya praktikum ini adalah untuk mempelajari
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap susut berat komoditi hasil pertanian.
2
TINJAUAN PUSTAKA
METODOLOGI PRAKTIKUM
b. Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini ialah buah apel,
kentang, gabah dan beras.
Prosedur Kerja
a. Susut Berat Apel dan Kentang
Disimpan selama 7 hari dan ditimbang berat akhir lalu dihitung susut berat
bahan dengan menggunakan rumus
4
Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan terhadap susut berat apel dan kentang
Bahan Kondisi Berat Awal Berat Akhir Susut Berat
Penyimpanan (gr) (gr) (gr)
tanpa luka, T kamar 69,31 56,64 12,67
tanpa luka, T dingin 60,62 57,51 3,11
Apel
luka,T kamar 63,43 60,47 2,99
luka,T dingin 68,74 66,47 2,27
tanpa luka, T kamar 94,74 94,51 0,23
tanpa luka, T dingin 100,51 100,40 0,11
Kentang
luka,T kamar 82,96 78,76 4,2
luka, T dingin 90,45 88,75 1,7
Hasil Perhitungan
Perhitungan Susut Berat :
(Berat awal - Berat akhir)
Susut Berat = x100%
100
1. Susut Berat
Apel
(69,31-56,64)
Tanpa luka, Suhu kamar = x100%
100
= 12,67%
(60,62-57,51)
Tanpa luka, Suhu dingin = x100%
100
= 3,11%
(63,46-60,47)
Luka, Suhu kamar = x100%
100
= 2,99%
(68,74-66,47)
Luka, Suhu dingin = x100%
100
= 2,27%
Kentang
(94,74-94,51)
Tanpa luka, Suhu kamar = x100%
100
= 0,23%
(100,51-100,40)
Tanpa luka, Suhu dingin = x100%
100
= 0,11%
(82,96-78,76)
Luka, Suhu kamar = x100%
100
= 4,2%
(90,45-88,75)
Luka, Suhu dingin = x100%
100
= 1,7%
Gabah
6
a. Hari ke-3
(10 – 10,05)
Terbuka = x100%
100
= 0,05 %
(10 – 9,95)
Tertutup = x100%
100
= 0,05%
b. Hari ke-7
(10 – 6,21)
Terbuka = x100%
100
= 3,79 %
(10 – 6,08)
Tertutup = x100%
100
= 3,92 %
Beras
a. Hari ke-3
(10 – 10,12)
Terbuka = x100%
100
= 0,12 %
(10 – 10,12)
Tertutup = x100%
100
= 0,12 %
b. Hari ke-7
(10 – 6,29)
Terbuka = x100%
100
= 3,71 %
(10 – 6,22)
Tertutup = x100%
100
= 3,78 %
2. Kadar air
7
b. Hari ke-3
(27,3038- 27,1400)
Terbuka = x100%
27,3038
= 0,599 %
(28,1682- 27,9997)
Tertutup = x100%
28,1682
= 0,598 %
c. Hari ke-7
(27,3038- 27,2159)
Terbuka = x100%
27,3038
= 0,322 %
(28,1682- 27,2309)
Terbuka = x100%
28,1682
= 0,341 %
Beras
a. Hari ke-0
(27,9069 - 27,7965)
Terbuka = x100%
27,9069
= 0,395 %
8
(27,9315 - 27,8658)
Tertutup = x100%
27,9315
= 0,235 %
b. Hari ke 3
(27,9069 - 27,6862)
Terbuka = x100%
27,9069
= 0,791 %
(27,9315 - 27,7232)
Tertutup = x100%
27,9315
= 0,745 %
c. Hari ke 7
(27,9069 - 27,8425)
Terbuka = x100%
27,9069
= 0,231 %
(27,9315 - 27,8055)
Tertutup = x100%
27,9315
= 0,451 %
9
PEMBAHASAN
Apel dan kentang tergolong dalam buah dan sayur klimakterik, dimana
pada suhu optimumnya akan terjadi laju respirasi yang sangat tinggi sehingga
proses pematangan dan kerusakan akan cepat terjadi. Namun, buah apel dan
kentang walaupun termasuk golongan klimakterik, laju respirasinya terbilang
rendah, karena memiliki sifat dormain. Berbeda dengan buah non klimakterik
yang tidak melakukan respirasi, melainkan mengalami penurunan produksi CO2.
Apel yang mengalami kerusakan mekanis seperti luka akan mempercepat
terjadinya penyusutan berat bahan. Hal ini dikarenakan jaringan kulit pada bahan
sudah tidak berfungsi dengan baik, atau sifat semipermeabel jaringan sudah tidak
selektif lagi, sehingga air dalam bahan dengan mudah keluar atau teruapkan.
Proses transpirasi ini akan berjalan cepat apabila dalam keadaan optimumnya
(Hartono, 2010).
Buah, sayuran dan bagian-bagian lain dari tanaman adalah kumpulan dari
jaringan, sementara jaringan terbentuk dari sekumpulan sel-sel sejenis. Jaringan
dibedakan berdasarkan fungsinya yaitu jaringan kulit, jaringan pembuluh dan
jaringan dasar. Jaringan ini akan terus melakukan respirasi meskipun buah atau
sayur telah dipanen. Jaringan kulit merupakan bagian terluar dari tanaman yang
fungsi utamanya sebagai pelindung. Sifat utama dari jaringan kulit dapat
melakukan regulasi pertukaran gas, pengeluaran air, kepekaan terhadap
lingkungan secara fisik, kimiawi dan biologis, selain mengalami perubahan warna
dan teksturnya (kusumo, 2010).
Bahan hasil pertanian merupakan bahan yang cepat rusak. Banyak cara
yang ditempuh untuk menghambat kerusakan bahan tersebut salah satunya adalah
pendinginan. Pendinginan merupakan cara fisik untuk membuat dan
mempertahankan suhu pada suatu tempat lebih rendah daripada suhu lingkungan.
Suhu yang rendah dapat mengurangi kecepatan respirasi, menghambat reaksi
kimia, aktifitas enzim dan menghambat pertumbuhan mikrobia yang dapat
merusak bahan. Cara penyimpanan dengan pendinginan adalah memberikan suhu
rendah yaitu -2˚C sampai -10˚C dalam ruang penyimpanan. Di dalam
10
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Faktor yang mempengaruhi susut berat bahan yaitu suhu penyimpanan dan
lamanya penyimpanan.
2. Pada penyimpanan suhu dingin susut berat bahan lebih rendah dibandingkan
pada suhu kamar.
3. Kerusakan mekanis menyebabkan peningkatan susut berat.
4. Rata-rata susut berat buah apel yang dilukai pada suhu dingin sebesar 2,27%
dan pada suhu kamaer sebesar 2,99%.
5. Rata-rata susut berat kentang yang dilukai pada suhu dingin sebesar 1,7% dan
suhu kamar sebesar 4,2%.
6. Kadar air gabah yang disimpan ditempat terbuka lebih rendah dibandingkan
dengan kadar air pada beras.
7. Susut berat beras pada tempat terbuka lebih tinggi dibandingkan dengan
gabah.
8. Gabah memiliki lapisan pelindung pada permukaannya sehingga proses
respirasi berlajan lambat.
12
ACARA II
SIFAT FISIK, KIMIA DAN KECEPATAN RESPIRASI BEBERAPA
KOMODITI HASIL PERTANIAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan produk yang berasal dari
tumbuhan yang digunkan pada berbagai tingkat perkembangan. Ada dua cara
penentuan pemanenan buah dan sayur yaitu cara subyektif dan obyektif. Cara
subyektif penentuan pemanenan dengan analisis kimiawi, pengukuran laju
respirasi dan ukuran dari buah dan sayuran tersebut. Buah-buahan dan sayur-
sayuran sebagai hasil pertanian masih melakukan kegiatan respirasi dan kegiatan
metabolisme lain setelah dipanen. Buah menurut pola respirasinya dapat dibagi
menjadi dua yaitu buah klimaterik dan nonklimaterik.
Komoditi hasil panen memiliki sifat fisik dan kimia yang khas. Dari segi
fisik, setiap komoditi memiliki bentuk, ukuran dan warna yang berbeda yang
mencirikan produk tersebut. Dari segi kimia, kandungan gizi dalam komoditi pun
berbeda-beda. Komoditi pertanian setelah panen masih melakukan metabolisme
walaupun kecepatan metabolisme tersebut lebih rendah dibanding dengan
komoditi sebelum panen. Metabolisme ini berupa respirasi. Respirasi yang terjadi
terus-menerus dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pada bahan baik
perubahan fisik maupun kimia.
Komposisi kimia tanaman mempunyai hubungan yang erat dengan indeks
kualitas dan stabilitasnya, Hasil tanaman tersusun atas senyawa kimia yang
komposisinya bervariasi. Setiap individu buah-buahan, sayur-sayuran atau biji-
bijian, tersusun dari jaringan yang hidup dan aktif melakukan metabolisme
sehingga selalu mengalami perubahan tergantung pada pertumbuhan sebelum di
panen, tingkat kemasakan saat panen, fungsi fisiologis, faktor genetis, serta
keadaan lingkungan. Berdasarkan pola laju respirasinya, buah-buahan dapat
diklasifikasikan menjadi 2 yaitu buah klimaterik dan buah non-klimatrik. Buah
klimaterik menunjukkan peningkatan yang besar dalam laju produksi CO2 dan
13
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan diadakannya praktikum ini adalah untuk mempelajari
pengaruh faktor intrinsik komoditi hasil pertanian terhadap sifat fisis, kimia dan
laju respirasinya.
14
TINJAUAN PUSTAKA
Buah, sayuran dan bagian-bagian lain dari tanaman adalah kumpulan dari
jaringan, sementara jaringan terbentuk dari sekumpulan sel-sel sejenis. Jaringan
dibedakan berdasarkan fungsinya yaitu jaringan kulit, jaringan pembuluh dan
jaringan dasar. Jaringan ini akan terus melakukan respirasi meskipun buah atau
sayur telah dipanen. Jaringan kulit merupakan bagian terluar dari tanaman yang
fungsi utamanya sebagai pelindung. Sifat utama dari jaringan kulit dapat
melakukan regulasi pertukaran gas, pengeluaran air, kepekaan terhadap
lingkungan secara fisik, kimiawi dan biologis, selain mengalami perubahan warna
dan teksturnya (Ashari, 2010).
Buah dan sayur merupakan jenis pangan yng mudah rusak karena
kandungan airnya yang cukup tinggi sehingga memungkinkan mikroba dan
bakteri lain tumbuh didalamnya dan hal ini bisa menurunkan mutu pangan.
Penurunan tersebut disebabkan karena buah dan sayur setelah dipetik masih
melakukan proses metabolisme dan aktifitas respirasi. Jaringan pada buah dan
sayur setelah dipetik aktif melakukan respirasi yang bertujuan untuk
mempertahankan hidupnya dengan cara merombak pati menjadi gula. Pada proses
tersebut, dihasilkan sir secara terus menerus sehingga mengakibatkan kelayuan
saat penyimpanan karena praktis tidak ada suplai air lagi (Zulkarnaen, 2009).
Berbagai tingkat kematangan buah dan sayuran, sifat fisik dan kimia
bahan tersebut berbeda-beda. Uji sifat fisik biasanya dilakukan terhadap
kekerasan, warna, rasa, dan bau bahan tersebut. Sedangkan uji kimia dapat
dilakukan terhadap PH, total asam, dan kadar gula (Solube Solida) (Khatir, 2006).
Sifat fisik bahan hasil pertanian merupakan faktor yang sangat penting
dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan merancang suatu
alat khusus untuk suatu produk hasil pertanian atau analisa prilaku produk dan
cara penanganannya. Karakteristik sifat fisik pertanian adalah bentuk, ukuran, luas
permukaan, warna, penampakkan, berat, porositas, densitas dan kadar air. Bentuk
dan ukuran sangat penting dalam perhitungan energi untuk pendinginan dan
pengeringan, rancangan pengecilan ukuran, masalah distribusi dan penyimpanan
15
bahan, seperti elektoistatistik, pantulan cahaya dalam evaluasi warna, dan dalam
pengembangan alat grading dan sortasi (Suharto, 2010).
Respirasi adalah proses pemecahan komponen organik menjadi produk
yang lebih sederhana dan energi. Aktifitas ini ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan energi sel agar tetap hidup. Berdasarkan pola respirasi dan produksi
etilen selama pendewasaan dan pematangan produk nabati dibedakan menjadi
klimakterik dan non klimakterik. Komoditi dengan laju respirasi tinggi
menunjukan kecenderungan lebih mudah rusak (Muchtadi, 2009).
Berdasarkan aktivitas respirasi, sifat hasil tanaman diklasifikasikan
menjadi yang bersifat klimatrik dan non-klimatrik. Hasil tanaman yang bersifat
klimatrik akan menurun aktivitas respirasinya pada saat menjelang masak,
sedangkan hasil tanaman non-klimaterik yaitu aktivitas respirasi naik dan
selanjutnya menurun setelah kelewat matang (Kartasapoetra, 2009).
Pola klimakterik mempunyai puncak respirasi yang khas dimana terjadinya
peningkatan produksi CO2 dan penurunan O2. Beberapa jam sebelum dimulainya
repirasi klimakterik, produksi etilen akan mengalami peningkatan dari 0,005
ml/kg jam saat fase preklimakterik meningkat menjadi 3 ml/kg jam. Peningkatan
etilen mencapai puncaknya saat proses respirasi meningkat dengan cepat (Espino,
2008).
16
METODOLOGI PENELITIAN
b. Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tomat
mentah, tomat matang, jeruk mentah, jeruk matang, bayam, larutan KOH 2N,
larutan HCI 0,1 N, dan reagen benedict.
Prosedur Kerja
a. Pengamatan Sifat Fisik dan Kimia
Tomat, jeruk, bayam
Disaring bahan
Hasil Perhitungan
1. Total asam dan vitamin C
a. Jeruk mentah
5 0,1 4
Total asam = 100
15
= 13,33
6 0,88 4
Vitamin C = 100
15
= 140,8
b. Jeruk mateng
1 0,1 4
Total asam = 100
15
= 2,67
4 0,88 4
Vitamin C = 100
15
= 93,87
c. Tomat mateng
4,1 0,1 4
Total asam = 100
15
= 10,94
1,75 0,88 4
Vitamin C = 100
15
= 41,07
1. Kecepatan Respirasi
a. Jeruk muda
44
CO2 = (24,55 24,15) 0,1
72,42
21
= 0,025
b. Jeruk mateng
44
CO2 = (24,55 24,05) 0,1
79,21
= 0,028
c. Tomat mateng
44
CO2 = (24,55 23,6) 0,1
101,73
= 0,041
d. Tomat mentah
44
CO2 = (24,55 24,2) 0,1
55,70
= 0,028
e. Bayam layu
44
CO2 = (24,55 23,9) 0,1
97,65
= 0,0293
f. Bayam segar
44
CO2 = (24,55 24,0) 0,1
81,80
= 0,0295
22
PEMBAHASAN
sayuran tersusun dari jaringan yang hidup dan aktif melakukan metabolisme
sehingga mengalami perubahan tergantung pada pertumbuhan sebelum panen,
tingkat kemasakan saat panen, faktor genetik dan keadaan lingkungan. Setiap
komoditi memiliki karaktristik tersendiri baik secara fisik maupun kimia.
Karaktristik fisik komoditi dapat mencakup ukuran, bentuk, struktur, sifat-sifat
optik, warna dan kenampakan. Sedangkan karaktristik kimia berupa kandungan
zat yang ada dalam bahan, Proses metabolisme utama yang terjadi pada buah dan
sayuran yang dipanen atau hasil tanaman yang hidup adalah respirasi. Respirasi
merupakan pemecahan oksidatif terhadap bahan komplek yang biasanya ada
dalam sel, seperti karbohidrat diubah menjadi molekul yang lebih sederhana
seperti CO2 dan air. Laju respirasi buah dan sayuran merupakan petunjuk aktivitas
metabolisme jaringan dan sangat berguna sebagai petunjuk lama penyimpanan
buah dan sayuran tersebut. Jika laju respirasi bahan diukur (O2 yang dikonsumsi
dan CO2 yang dikeluarkan) selama perkembangan, pematangan, pemasakan maka
pola respirasi tertentu akan diperoleh.
Pada praktikum ini dilakukan pengamatan sifat fisik, kimia dan laju
respirasi pada komoditi hasil pertanian. Sifat fisik yang dapat diamati adalah
tekstur, bau, rasa dan warna. Seperti yang diketahui bahwa buah yang masih muda
memiliki warna hijau karena mengandung khlorofil.
Karakteristik kimia pada buah dan sayuran yang diamati pada praktikum
ini adalah tingkat CO2 Hasil Respirasi, tingkat keasaman bahan atau pH dan kadar
vitamin C. Tingkat keasaman (pH) untuk tomat mentah, tomat matang, jeruk
mentah, dan jeruk matang berturut-turut 18,67% ; 21,33% ; 10,13% ; dan 35,47%
dan jeruk matang yang memiliki kadar asam paling tinggi yaitu 35,47%. Pada
tingkat CO2 Hasil Respirasi untuk tomat mentah, tomat matang, bayam segar,
bayam layu, mangga mentah,dan mangga matang adalah 0,03 ml/g/jam, 0,07
ml/g/jam, 0,22 ml/g/jam, 0,03 ml/g/jam, 0.143 ml/g/jam 0.124 ml/g/jam.
Sedangkan pada jeruk mentah, jeruk matang nilainya sama yaitu sebesar 0,02
ml/g/jam, Nilai tingkat CO2 Hasil Respirasi yang paling tinggi terdapat pada
mangga matang yaitu sebesar 0.124 ml/g/jam.
24
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1. Adanya perbedaan warna pada buah yang matang dan mentah terjadi karena
pada buah matang terjadi degradasi klorofil sehingga warna hijau hilang dan
berubah menjadi merah atau kuning.
2. Perbedaan tekstur pada buah yang matang dan mentah terjadi karena pada
buah yang matang terjadi degradasi hemiselulosa dan pektin. Pektin yang
tidak dapat larut (protopektin) mengalami penurunan jumlah dan berubah
menjadi pektin yang larut dalam air.
3. Kadar vitamin C paling besar terdapat pada jeruk.
4. Semakin tua buah, maka kadar vitamin C makin berkurang dan jika buah tidak
segar lagi maka vitamin C yang ada teroksidasi oleh panas.
5. Penentuan gula reduksi dapat diperhatikan dengan ada tidaknya endapat yang
terbentuk setelah dipanaskan.
26
ACARA III
MEMPELAJARI SIFAT-SIFAT BUAH DAN SAYUR SELAMA CHILLING
DAN FREEZING
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Buah-buahan dan sayuran merupakan komoditas hortikultura yang bersifat
mudah rusak apabila setelah dipanen dibiarkan begitu saja tanpa adanya
penanganan atau pengawasan mutu lebih lanjut yang berakibat terhadap terjadinya
kerusakan dan penurunan mutu buah. Mutu atau kualitas yang disukai konsumen
pada umumnya adalah bahan yang baik kualitas cita rasanya.
Sebelum sampai ditangan konsumen, komoditi hasil pertanian biasanya
disimpan dan diangkut menggunakan kendaraan. Selama selang waktu ini
komoditi hasil pertanian dapat mengalami kerusakan mekanis maupun kimia.
Banyak cara yang ditempuh untuk menghambat kerusakan bahan tersebut salah
satunya adalah dengan pendinginan dan pembekuan. Pendinginan dan pembekuan
merupakan cara untuk membuat dan mempertahankan suhu ruang penyimpanan
lebih rendah daripada suhu lingkungan.
Kondisi lingkungan yang terkontrol dapat mempertahankan kualitas,
tekstur dan kenampakan yang ada pada buah dan sayur. Dengan begitu, nilai
ekonomi bahan akan tetap tinggi dan menarik minat kosumen yang membelinya.
Pendinginan dan pembekuan biasanya dilakukan untuk bahan hasil pertanian yang
memiliki nilai jual tinggi seperti apel, pisang, wortel dan lain-lain. Oleh karena
itu, perlu dilakukan praktikum tentang mempelajari sifat-sifat buah dan sayur
selama chilling dan freezing.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari dan
mengetahui sifat-sifat nuah dan sayur selama proses chilling dan freezing.
27
TINAJUN PUSTAKA
Mutu simpan buah sangat erat kaitannya dengan proses respirasi dan
transpirasi selama penanganan dan penyimpanan di mana akan menyebabkan
susut pasca panen seperti susut fisik yang diukur dengan berat; susut kualitas
karena perubahan ujud (kenampakan), cita rasa, warna atau tekstur yang
menyebabkan bahan pangan kurang disukai konsumen; susut nilai gizi yang
berpengaruh terhadap kualitas buah. Mutu simpan buah akan lebih bertahan lama
jika laju respirasi rendahdan transpirasi dapat dicegah dengan meningkatkan
kelembaban relatif, menurunkan suhu udara. Pada umumnya komoditas yang
mempunyai umur simpan pendek mempunyai laju respirasi tinggi atau peka
terhadap suhu rendah (Abu Bakar 2004 dalam Tranggono dan Sutardi, 1990).
Kelembaban ruang adalah salah satu penyebab kehilangan air setelah
panen. Kehilangan air berarti kehilangan berat dan penampakan. Kehilangan air
tidak dapat dihindarkan, namun dapat ditoleransi. Tanda-tanda kehilangan air
bervariasi pada produk yang berbeda, dan tanda-tanda kerusakan baru tampak saat
jumlah kehilangan air berbeda-beda pula. Umumnya, tanda-tanda kerusakan jelas
terlihat bila kehilangan air antara 3-8% dari beratnya (Nyoman, 2013).
Faktor utama yang mengakibatkan terjadinya penurunan mutu atau
kerusakan pada produk pangan, yaitu massa oksigen, uap air, cahaya,
mikroorganisme, kompresi atau bantingan, dan bahan kimia toksik atau off flavor.
Faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan terjadinya penurunan mutu lebih
lanjut, seperti oksidasi lipida, kerusakan vitamin, kerusakan protein, perubahan
bau, reaksi pencoklatan, perubahan unsur organoleptik, dan kemungkinan
terbentuknya racun (Herawati, 2008 dalam Gnanasekharan 1993).
Mutu produk pangan akan mengalami perubahan (penurunan) selama
proses penyimpanan. Umur simpan produk pangan dapat diperpanjang apabila
diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi masa simpan produk. Upaya
memperpanjang masa simpan dapat dilakukan dengan be-berapa cara, yaitu
meningkatkan nilai mutu dan memperlambat laju penurunan mutu (Herawati,
2008).
28
METODELOGI PRAKTIKUM
Prosedur Kerja
Ditimbang masing-masing bahan (pisang, apel,
wortel, mentimun) sebagai berat awal
Diamati kenampakannya
HasilPengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan hari ke-0
Komoditi Kondisi Berat awal (gr) Kenampakan Tekstur
suhu
Pisang Ruang 141,11 Hijau, Hitam 1,5
Dingin 146,7 Hijau, Hitam 1,78
Beku 118,72 Hijau Muda 3,0
Apel Ruang 100,31 Kuning kehijauan 1,5
Dingin 92,70 Kuning 1,78
Beku 96,71 Hijau kekuningan 2,5
Wortel Ruang 107,45 Orange 0,5
Dingin 103,39 Orange 1,5
Beku 160,35 Orange 1,5
Mentimun Ruang 249,51 Hijau, Kuning 1,75
Dingin 265,98 Hijau 2,2
Beku 263,09 Hijau 1,6
HasilPerhitungan
Rumus :
berat awal-berat akhir
Susut Berat = × 100%
100
Penyelesaian
- Pisang
T- ruang
Hari ke-3
141,11-126,88
Susut berat = × 100%
100
= 14,23 %
Hari ke-7
141,11-95,15
Susut berat = × 100%
100
= 45,96 %
T- dingin
Hari ke-3
146,87-137,46
Susut berat = × 100%
100
= 9,41%
33
Hari ke-7
146,87-138,81
Susut berat = × 100%
100
= 8,06
T- beku
Hari ke-3
118,72-115,54
Susut berat = × 100%
100
=3,18 %
Hari ke-7
118,72-115,11
Susut berat = × 100%
100
= 3,61 %
- Apel
T- ruang
Hari ke-3
100,31-98,84
Susut berat = × 100%
100
= 1,47 %
Hari ke-7
100,31-95,36
Susut berat = × 100%
100
= 4,95 %
T- dingin
Hari ke-3
92,70-92,28
Susut berat = × 100%
100
= 0,42 %
Hari ke-7
92,70-91,65
Susut berat = × 100%
100
= 1,05
34
T- beku
Hari ke-3
96,71-97,07
Susut berat = × 100%
100
= -0,96%
Hari ke-7
96,71-97,63
Susut berat = × 100%
100
= -0,92%
- Wortel
T- ruang
Hari ke-3
107,45-93,42
Susut berat = × 100%
100
= 14,03%
Hari ke-7
107,45-82,40
Susut berat = × 100%
100
= 25,05%
T- dingin
Hari ke-3
103,39-80,83
Susut berat = × 100%
100
= 22,56%
Hari ke-7
103,39-63,67
Susut berat = × 100%
100
= 39,72 %
T- beku
Hari ke-3
160,35-149,88
Susut berat = × 100%
100
35
= 10,47%
Hari ke-7
160,35-149,89
Susut berat = × 100%
100
= 10,46%
- Mentimun
T- ruang
Hari ke-3
249,51-241,05
Susut berat = × 100%
100
= 8,46%
Hari ke-7
249,51-232,15
Susut berat = × 100%
100
= 17,36%
T-dingin
Hari ke-3
265,98-260,17
Susut berat = × 100%
100
= 5,81%
Hari ke-7
265,98-253,34
Susut berat = × 100%
100
= 12,64 %
T- beku
Hari ke-3
263,09-261,43
Susut berat = × 100%
100
= 1,66%
Hari ke-7
263,09-261,43
Susut berat = × 100%
100
36
= 1,66%
37
PEMBAHASAN
Kerusakan fisik pada bahan yang disimpan pada suhu rendah karena tidak
semua metabolisme berjalan dengan baik pada suhu tersebut melainkan ada
beberapa rangkaian metabolisme yang terganggu. Buah pisang dan lainnya sangat
peka terhadap kerusakan karena pendinginan (chilling injury). Kerusakan ini
disebabkan oleh penyimpanan buah oleh suhu dingin tetapi di bawah suhu
pembekuan. Sedangkan bahan yang rusak karena disimpan pada suhu beku
disebut freezing injury. Masing-masing buah memiliki tingkat kepekaan yang
berbeda-beda tergantung pada jenis buah, tingkat kemasakan dan kematangan dari
setiap buah. Buah yang belum matang dan buah yang baru memasuki periode
matang lebih peka terhadap suhu rendah dibanding dengan buah yang sudah
matang.
Kondisi bahan yang digunakan pada praktikum ini termasuk bahan yang
sudah matang. Kerusakan yang terjadi pada buah yang disimpan pada suhu dingin
pada praktikum ini memiliki gejala-gejala seperti adanya pencoklatan pada
kulit,warna buah yang udah mulai berubah setelah seminggu,bau buah yang mulai
membusuk dan daging buah yang mulai rusak ini terjadi karena aktifitas dari
beberapa enzim seperti polyphenol oksidase yang dikeluarkan dari vakuola pada
saat chilling injury terjadi. Selain itu gejalanya juga seperti buah menjadi berair,
kehilangan air dari bahan menyebabkan bahan menjadi layu dan berkerut. Gejala
chilling injury berbeda untuk masing-masing bahan. Untuk mengurangi kerusakan
pada bahan yang sensitif terhadap chilling injury perlu dilakukan precooling
(pendinginan pendahuluan).
40
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, perhitungan dan pembahasan maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Semua sampel pada penyimpanan suhu ruang, dingin maupun beku
menga,lami perubahan berat, kenampakan, dan tekstur.
2. Penyimpanan suhu ruang mengakibatkan perubahan dan kerusakn paling besar
dari ketiga perlakuan.
3. Kekerasan tekstur dari semua bahan mengalami penurunan selama
penyimpanan kecuali apel tetap berkisar diangka 1,5.
4. Pisang pada penyimpanan suhu ruang dingin dan beku mengalami kerusakan,
melunak daan berwarna coklat kehitaman.
5. Tidak semua bahan dapat disimpan pada suhu rendah untuk memperpanjang
masa simpan.
41
ACARA IV
PENGARUH KMnO4, CaCl2, CaC2 DAN ETILEN DALAM PROSES
PEMATANGAN BUAH
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bahan hasil pertanian setelah panen masih melakukan metabolisme berupa
respirasi dan transpirasi. Akibat dari kedua proses tersebut bahan mengalami
kerusakan fisiologis. Kerusakan tersebut dapat dihambat dengan menghambat laju
respirasi. Penghambat laju respirasi dengan membatasi bahan kontak dengan O2.
Bila respirasi terus berlanjut maka bahan menjadi keriput. Proses metabolisme
terutama resiprasi memerlukan O2 dari luar dan akan terjadi perubahan-
perubahan pada bahan. Senyawa-senyawa kompleks akan dipecah menjadi
senyawa-senyawa lebih sederhana. Untuk menghamabat perubahan-perubahan
tersebut dapat dilakukan dengan pengaturan kondisi penyimpanan dan pelapisan
lilin.
Salah satu teknologi atau cara yang dapat digunakan untuk memperlambat
laju pematagan dan pembusukan buah adalah dengan penambahan larutan KMnO4
sebagai absorben senyawa etilen. Pendinginan dan kedap udara udara juga
merupakan upaya untuk mempertahankan laju produksi etilen dari buah.
Gas etilen dapat memacu proses respirasi pada buah dan dapat
mempercepat proses pematangan buah, sehingga untuk dapat memperpanjang
masa simpan buah tersebut, gas etilen di lingkungan sekitarnya perlu dikurangi.
Kerusakan akan terjadi pada hasil pertanian selama penyimpanan apabila terdapat
oksigen, terutama apabila proses anaerobik masih berjalan. Pada umumnya
kerusakan tersebut merupakan perubahan bau dan rasa. Tiap-tiap hasil pertanian
mempunyai ketahanan sendiri-sendiri terhadap oksigen.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara-cara
mempertahankan kesegaran buah selama penyimpanan dengan prinsip ” Control
Atmosphere Storage (CAS)”.
42
TINJAUAN PUSTAKA
Etilen adalah senyawa yang berperan dalam pematangan buah. Bila tidak
ada senyawa tersebut maka tidak terjadi pematangan buah. Tanda pertama
pematangan buah adalah hilangnya warna hijau pada buah. Hilangnya warna hijau
pada buah ini karena adanya degradasi klorofil struktur. Senyawa dasar yang
bertanggung jawab terhadap degradasi adalah keluarnya asam-asam organik
akibat bocornya vakuola sehingga mengubah pH senyawa oksidasi dan enzim
klorofilase. Dengan demikian sangatlah penting untuk untuk mengetahui laju
pematangan buah yang akan disimpan sehingga proses penyimpanan akan lebih
efektf. Indikator utama adalah laju produksi etilen dan CO2 dari buah yang akan
disimpan (Hulme, 2001).
Etilen mempunyai beberapa macam pengaruh pada tanaman khususnya
buah dan sayur antara lain menyebabkan terjadinya chlorosis, merangsang proses
penuaan daun, meningkatkan permeabilitas membran sel yang erat kaitannya
dengan proses infeksi oleh mikroorganisme serta menstimulasi proses pematangan
(Basuki, 2002).
Prinsip penyimpanan dengan atmosphere terkontrol yakni dengan
mengusahakan kondisi penyimpanan dengan mengatur kadar O2 dan CO2. Secara
umum oksigen dan CO2 dalam rung penympanan diatur pada kadar tertentu yang
relatif rendah. Untuk mengusahakan kondisi tersebut biasanya membutuhkan
biaya yang mahal. Karena itu, biasanya kondisi tersebut dicapai secara alami yang
dikenal dengan “Self Control Atmosphere (SCA)” dimana oksigen dalam ruang
penyimpanan dikurangi melalui respirasi oleh produk pertanain, sedangkan untuk
mencegah CO2 injury maka CO2 diserap dengan menggunakan Ca(OH)2 atau
KOH (Anonim, 2002).
KMnO4 merupakan senyawa yang memiliki oksigen dan juga memiliki
ikatan valensi yang berfungsi sebagai pengikat unsur disampingnya dan
merupakan salah satu fungsionalnya yang berperan dalam menghambat
pematangan buah. Kalium permanganat bersifat oksidator kuat, karena daya
oksidasinya kuat maka KMnO4 dapat mengoksidasi etilen. Seperti diketahui
43
METODOLOGI PRAKTIKUM
Prosedur Kerja
a. Pengaruh KMnO4 dan KOH dalam proses pematangan buah
Diamati perubahan berat, tekstur dan kenampakan pada hari ke-3 dan ke-7
45
HASIL PENGAMATAN
Hasil Pengamatan
Tabel 1 Pengaruh KMnO4 dan CaC2 dalam Proses Pematangan Buah Mangga
Kena
Teks
Komo Kondisi mpak
Jenis Kondisi tur
diti plastik an
Suhu
0 3 7 0 3 7
Hijau
Hijau
kekuningan, Hijau ke-
Dingin 3 2,5 3,2 kekuninga
bintuk kuningan
n
coklat
Terbuka
Kuning
Hijau kehijauan,
Kamar 2,5 2,5 2,5 Hijau layu
kekuningan bintik
KMn Mang
hitam
O4 ga
Hijau
Hijau, Hijau,
segar,
Dingin 3 2 3 bintik bintik
bercak
coklat coklat
tertutup hitam
Hijau layu Hijau,
Kamar 2,5 2,5 2,5 Hijau segar kekuninga bercak
n coklat
Hijau
Hijau
kekuniang Hijau ke-
Dingin 2,75 2,25 1,5 kekuningan,
an, bercak kuningan
Terbuk mulus
hitam
a
Hijau
Hijau, Hijau
Kamar 3 2 1,5 kekuningan,
CaC Mang layu kecoklatan
halus
l2 ga
Hijau
Hijau Hijau
Dingin 2,75 2,5 1,5 kekuninga
kekuningan segar
n
tertutup
Hijau
Hijau Hijau ke-
Kamar 2,75 2,25 1,5 kekuninga
kekuningan kuningan
n layu
Hijau Hijau
Hiijau
Dingin 2,5 2 3,5 kekuningan, kekuninga
Terbuk segar
mulus n
a
Hijau Hijau,
Kamar 2,5 2,25 2,5 Hijau muda
Kont Mang pucat, layu busuk
rol ga Hijau muda, Hijau Hijau
Dingin 2,5 1,5 3,5
mulus segar segar
tertutup Hijau muda, Hijau
Hijau,
Kamar 2,5 2 3 bercak kekuninga
busuk
hitam n
47
Tabel 2 Pengaruh KMnO4 dan CaCl2 dalam Proses Pematangan Buah Pisang
Kondisi Kondisi Tekstur Kenampakan
Jenis Komoditi
plastik Suhu 0 3 7 0 3 7
Hijau, Hijau
Hijau
Dingin 2 0,5 1 bercak kekuningan,
segar
coklat bercak coklat
Terbuka
Hitam busuk,
Hijau Colat
Kamar 2 0,5 0 berjamur dan
segar kekuningan
berair
KMnO4 Pisang Hijau
Hijau Hijau agak
Dingin 2 2 1,5 kekuniangan,
segar kecoklatan
bercak coklat
tertutup Hijau Kuning
Hijau kekuningan, kehijauan,
Kamar 1,5 2,5 0,5
segar bercak berair dan
coklat berjamur
Hijau, Hijau
Hijau
Dingin 2 1 1,5 bercak kekuningan,
segar
coklat bercak hitam
Terbuka Kuning
Hitam busuk,
Hijau kehijauan,
Kamar 2 1 0 berair dan
segar bercak
berjamur
coklat
CaCl2 Pisang
Hijau, Hijau
Hijau
Dingin 2,25 1,5 1,5 bercak kekuningan,
segar
coklat bercak hitam
tertutup Hijau Kuning
Hijau kekuningan, kehijauan,
Kamar 2 1 0,5
segar bercak berair dan
coklat berjamur
Hijau
Hijau Hijau kekuningan,
Dingin 2 1,5 0,5
segar kekuningan berair dan
berjamur
Terbuka
Hijau
Hijau Hijau kekuningan,
Kamar 1,5 1 0
segar kekuningan berair dan
Kontrol Pisang berjamur
Hijau, Hijau
Hijau
Dingin 2 1,5 1,5 bercak kekuningan,
segar
coklat berair
tertutup Hijau
Hijau,
Hijau kekuningan,
Kamar 2 1 0 bercak
segar berair dan
coklat
berjamur
48
PEMBAHASAN
pada kondisi tertutup tekstur yang paling tinggi pada hari ke-0 dan 3, pada suhu
dingin,sedangkan pada suhu kamar tekstur yang paling tinggi pada hari ke-3.
Warna kulit buah pisang cokelat kehitaman,berair dan ada juga yang ditumbuhi
jamur. Hal ini terjadi akibat produksi etilen sangat cepat dan bekerja secara
maksimal. Sedangkan pada kondisi terbuka tekstur buah yang paling tinggi pada
hari ke-0, pada suhu dingin, Sedangkan tekstur buah yang paling tinggi pada hari
ke-0, pada suhu kamar. Sedangkan buah pisang yang di campuri dengan caCI2,
tekstur buah yang paling tinggi pada hari ke-0, pada suhu dingin pada suhu
tertutup, Sedangkan tekstur yang paling tinggi pada hari ke-0 pada suhu kamar.
Sedangkan tekstur yang tinggi pada hari ke-0 pada suhu kamar,pada suhu kamar
dan dingin.
Pada buah mangga yang campur dengan KmnO4 dalam kantong pelastik.
Kondisi sebagian besar buah yang disimpan selama 7 (tujuh) hari memiliki
kenampakan seperti warna kulit mangga hijau kekuningan,kecoklatan,bintik
kehitaman. Hal ini terjadi akibat produksi etilen sangat cepat dan bekerja secara
maksimal. Sedangkan pada buah mangga yang disimpan pada tempat yang
dingin,kondisi buah mangga terbaik dijumpai pada kondisi dingin dengan pada
plastik tertutup. Dengan kondisi penyimpanan dingin dan pengemasan tertutup
maka laju respirasi terhambat dan proses pematangan buah mangga dapat
ditunda,tekstur buah mangga yang paling besar pada hari ke-7 pada kondisi
plastik terbuka,pada suhu dingin, Sedangkan pada kondisi tertutup tekstur yang
paling tinggi pada hari ke-0 dan 7 pada suhu dingin.Sedangkan kondisi buah
mangga yang disimpan pada suhu kamar,buah mangga mengalami warna hijau
kekuningan,layu.Sedangkan tekstur buah dari hari ke-0 dan 7 sama tidak ada
penurunan dan peningkatan. Sedangkan pada buah mangga yang di campuri
dengan caCl2 dalam kantong pelastik. Kondisi buah masih segar pada hari ke 0,
sedangkan pada hari ke 3 dan 7 warna buah hijau ke kuningan,layu,bercak coklat,
Sedangkan tekstur buah pada kondisi terbuka,pada buah mangga tekstur buah
yang paling tinggi pada hari ke-0 dan 3 pada suhu dingin,sedangkan pada suhu
kamar tekstur yang paling tinggi pada hari ke- 0. Sedangkan pada kondisi
51
tertutup,tekstur buah yang paling tinggi pada hari ke-7 pada suhu
dinggin,Sedangkan tekstur yang paling tinggi pada hari ke-0, pada suhu kamar.
CaCl2 dapat memperpanjang umur simpan buah. Selain itu CaCl2 dapat
menghambat kelunakan buah. Pengaruh hambatan CaCl2 terhadap pematangan
buah dapat terjadi melalui pengaruhnya terhadap laju respirasi dan produksi etilen
(C2H4) buah. Laju respirasi pada buah selama penyimpanan menunjukkan pola
respirasi klimakterik, menunjukkan bahwa proses pematangan buah sedang
berlansung. Dengan penambahan CaCl2 laju respirasi ditekan. CaCl yang masuk
dalam buah akan mengikat enzim lipoksigenase yaitu enzim yang bekerja untuk
menghasilkan O2 aktif yang diperlukan dalam sintesa etilen. Adanya hambatan
terhadap produksi etilen akan berakibat pada penundaan kematangan buah.
Penambahan KmnO4 berfungsi mengoksidasi etilen menjadi CO2 dan H2O.
Jenis bahan yang digunakan tergantung pada tujuan,mengandung permanganat
sangat baik digunakan dalam kantung polietilen tertutup. Untuk membuang etilen
dari ruang simpan maka bahan penyerap harus disebarkan dalam jumlah tertentu
atau udara didorong melewati penyerap tersebut. Keuntungan menggunakan
KMnO4 adalah KMnO4 bersifat tidak bereaksi dengan bahan, tidak meguap dan
dapat dipisahkan dari bahan sehingga dari bahan sehingga tidak menyebabkan
kerusakan kimia. Sedangkan penggunaan NaOH bertjuan untuk menyerap CO2
sehingga mencegah CO2 injury akibat penumpukan CO2 pada ruang simpan.
52
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Untuk dapat mempertahankan buah dapat dilakukan dengan penambahan
KMnO4, CaCl2 dan CaC2.
2. Pisang yang disimpan pada suhu kamar lebih cepat mengalami pematangan
daripada pisang yang disimpan pada suhu dingin.
3. Penambahan KMnO4 berfungsi mengoksidasi etilen menjadi CO2 dan H2O
sehingga dapat mempertahankan kesegaran buah.
4. CaCl2 dapat menghambat laju respirasi dan memperpanjang umur simpan
buah.
5. Penundaan pematangan buah dapat dilakukan dengan CAS (Control
Atmosphere Storage) dengan mengatur kadar O2 dan CO2 dalam ruang
penyimpanan.
Saran
Adapun saran untuk praktikum kali ini yaitu praktikan selanjutnya harus
memperhatikan cara penggunaan penetrometer dengan baik dan benar, agar pada
penentuan tekstur buah mendapatkan hasil yang akurat.
53
54
ACARA V
PENGARUH ANTI MIKROBA TERHADAP PENYIMPANAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Buah dan sayur sangat digemari orang karena memiliki nilai gizi yang
cukup tinggi. Zat nutrisi yang terdapat pada daging buah dan sayuran berupa
karbohidrat, vitamin, protein, lemak dan mineral. Buah dan sayuran banyak
ditanam di Indonesia dengan produksi yang cukup tinggi, namun demikian
produksi tersebut umumnya dikonsumsi dan dipasarkan di sekitar daerah
pertanamannya saja sehingga sering kali pada waktu panen buah tersedia dalam
jumlah berlebihan sehingga harganya menjadi turun. Disamping itu buah dan
sayur tidak tahan disimpan dan mudah mengalami pembusukan. Hal ini
disebabkan kedua komoditi tersebut yang telah dipanen merupakan struktur hidup
yang masih melakukan respirasi dan transpirasi. Aktivitas respirasi dan transpirasi
ini menggunakan dan merombak zat-zat nutrisi yang ada pada buah,sehingga
dalam jangka waktu tertentu akibat penggunaan dan perombakan zat nutrisi
tersebut, buah dan sayur mengalami kemunduran mutu dan kerusakan fisiologis.
Untuk meningkatkan nilai ekonomis maka masa simpan dan kesegarannya
harus dipertahankan. Kesegaran buah dalam bentuk aslinya sangat diperlukan
karena umumnya konsumen lebih suka makan buah yang asli dan segar, serta
dapat dipasarkan ke luar daerah pertanamannya atau untuk diekspor. Salah satu
cara untuk memperpanjang masa simpan dan mempertahankan kesegaran buah
pisang adalah dengan pelapisan lilin pada permukaaan buah yang disertai dengan
bakterisida dan fungisida.
Produk Hortikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang telah
dipanen masih merupakan benda hidup. Benda hidup disini dalam pengertian
masih mengalami proses-proses yang menunjukkan kehidupanya yaitu proses
metablisme. Karena masih terjadi proses metabolisme tersebut maka produk buah-
buahan dan sayur-sayuran yang telah dipanen akan mengalami perubahan-
perubahan yang akan menyebabkan terjadinya perubahan komposisi kimiawinya
55
serta mutu dari produk tersebut. Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal
seperti terjadinya respirasi yang berhubungan dengan pengambilan unsur oksigen
dan pengeluaran karbon dioksida (respirasi), serta penguapan uap air dari dalam
produk tersebut yang dikenal sebagai transpirasi.
Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian zat
pengawet terhadap penyimpanan hasil pertanian.
56
TINJAUAN PUSTAKA
dalam air dapat langsung digunakan tanpa harus mengeringkan buah terlebih
dahulu. Emulsi lilin hendkanya menggunakan air suling atau aquades, tidak boleh
menggunakan air sadah karena garam-garam yang terkandung dalam air sadah
akan merusak emulsi lilin. Bahan pengemulsi yang biasa digunakan adalah
trietanolamina (TEA) dan asam oleat (Anonim, 2010).
Buah hasil penen kemungkinan besar diawetkan terlebih dahulu sebelum
dikirim ke negara tujuan biasanya dilapisi dengan parafin. Lapisan lilin
menghambat penguapan saat proses pembusukan berlangsung. Lapisan lilin
biasanya ditemui pada buah impor seperti jeruk, apel, pear, dan mangga. Pelilinan
juga memiliki tujuan estetika (Sobier, 2007).
58
METODOLOGI PRAKTIKUM
b. Bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah pisang,
apel, wortel, kentangng, fungisida Acrobat 50 WP bahan aktif Dimetomorf 50%,
dan bakterisida Puanmur 50 SP bahan aktif Asam Khloro Bromo Iso Sianurik
(CBIA) 50%.
Prosedur Kerja
HASIL PENGAMATAN
PEMBAHASAN
Secara umum mutu buah ditentukan oleh beberapa persyaratan mutu yaitu
ukuran, warna, bentuk, kondisi, tekstur, cita rasa (flavor) dan nilai nutrisi. Mutu
buah yang baik diperoleh bila pemungutan hasilnya dilakukan padatingkat
kemasak-an yang tepat. Buah yang belum masak, bila dipungut akan menghasilkan
mutu yang rendah dan proses pematangan yang tidak teratur.(Santosa, 2011).
Kerusakan tersebut dapat diperlambat dengan menghambat proses
respirasi.Proses respirasi dapat dihambat dengan membatasi buah tersebut untuk
kontak dengan oksigen.Salah satu cara untuk mempertahankan mutu dan
kesegaran produk hortikultura adalah dengan melapisi buah dengan lilin.Pelapisan
lilin dengan kepekatan dan ketebalan yang sesuai dapat menghindarkankeadaan
aerobik pada buah dan memberikan perlindungan yang diperlukanterhadap luka
dan goresan pada permukaan buah (Pantastico, 2010).
Pelapisan kulit buah dengan emulsi lilin yang dikenal dengan istilah
edible film adalah lapisan tipis yang menyatu dengan bahan pangan, layak dima-
kan dan dapatdiuraikan oleh mikroorga-nisme. Edible film dibentuk sebagai
pelapis padapermukaan bahan makanan atau bagian bahan yang berbeda aktivitas airnya.
Edible film berfungsi untuk menghambat absorbsi atau transfer uap air dan
gasseperti CO2 dan O2, memperbaiki struktur mekanika bahan pangan dan
sebagaibahan tambahan pangan yang memberi efek antioksi dan, antimikrobia dan flavor
(Rachmawati, 2010).
Antimikroba adalah senyawa biologis atau kimia yang dapat mengganggu
pertumbuhan dan aktivitas mikroba, khususnya mikroba perusak dan pembusuk
makanan. Zat antimikroba dapat bersifat bakterisidal (membunuh bakteri),
bakteristatik (menghambat pertumbuhan bakteri), fungisidal (membunuh kapang),
fungistatik (menghambat pertumbuhan kapang), ataupun germisidal (menghambat
germinasi spora bakteri) (Ardiansyah, 2007).
Mekanisme Kerja Penghambatan Senyawa Antimikroba berada pada
keefektifan penghambatan yang merupakan salah satu kriteria pemilihan suatu
senyawa antimikroba untuk diaplikasikan sebagai bahan pengawet bahan pangan,
61
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat ditarik beberap[ak
kesimpulan antara lain :
1. Apel yang diberikan perlakuan pelilinan dengan antimikriba menghasilkan
kenampakan yang keras dan warna hijau.
2. Kenampakan wortel dan kentang dengan perlakuan dengan antimikroba baik
pelilinan dan tanpa pelilinan menghasilkan komoditas yang buruk bahkan
tidak layak dikonsumsi.
3. Pelilinan hanya cocok diberikan pada buah-buahan dan kurang cocok
diterapkan pada sayur-sayuran.
4. Dengan konsentrasi lilin yang semakin tinggi menutupi permukaan buah maka
kehilangan air akibat transpirasi dapat dicegah sehingga persentase susut
bobot kecil.