Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIK KLINIK KEBIDANAN

(PEMBELAJARAN PRAKTEK KLINIK


DAN ADMINSTRASI PWS KIA)

Disusun sebagai syarat untuk memenuhi mata kuliah Praktek Klinik Kebidanan V

Oleh :
Resty Nur Pratiwi Lestari (173112540120094)
Ivanda Eka Damayanti (173112540120163)
Gita Ayu Lestari (173112540120171)
Restu Itsna Ainun (173112540120172)
Siti Liani (173112540120229)
Gita Ayu Melinda (173112540120312)

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI D-IV KEBIDANAN
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Perubahan kurikulum pendidikan yang lebih berorientasi pada

kompetensi tentu memberikan implikasi pada berbagi perubahan termasuk

dalam persiapan tenaga pembiming klinik dalam memberikan bimbingan agar

mencapai kompetensi yang diingikan. Pada kondisi ini maka peran seorang

Clinical Instructur (CI) sangat penting dalam setiap tahapan praktikum

mahasiswa sejak ditatanan laboratorium sampai pada tatanan klinik/lapangan

nyata (Correy, 2010).

Salah satu cara untuk mengembangkan mutu pembelajaran klinik

adalah dengan menerapkan metode preseptorship dan mentorship yang baik.

Pengalaman praktek yang maksimal selama di lapangan praktek akan dapat

mengintegrasikan semua pengetahuan, keterampilan dan sikap mahasiswa

yang akan menjadi bekal bagi mahasiswa setelah selesai dari institusi

pendidikan.

Preseptorsip adalah suatu metode pengajaran dimana seorang praktisi

yang memiliki pengalaman di bidangnya yang mampu memberikan dukungan

kepada mahasiswa dalam memahami perannya dan hubungan kesejawatan.

Preseptorsip bersifat formal, disampaikan secara perseorangan dan individu

dalam waktu yang sudah ditentukan sebelumnya antara bidan yang

berpengalaman (preseptor) dengan bidan baru (preseptee) yang didesain untuk

membantu bidan baru untuk menyesuaikan diri dengan baik dan menjalankan
tugas yang baru sebagai seorang bidan. Menurut CAN (2004) program

preseptorsip dalam pembelajaran bertujuan untuk membentuk peran dan

tanggung jawab mahasiswa untuk menjadi bidan yang profesional dan

berpengetahuan tinggi, dengan menunjukan sebuah pencapaian berupa

memberikan asuhan yang aman, menunjukan akuntabilitas kerja, dapat

dipercaya, menunjukan kemampuan dalam mengorganisasi asuhan kepada

pasien dan mampu berkomunikasi dengan baik terhadap pasien dan staf

lainnya .

Mentorsip adalah suatu metode dimana seorang pembimbing klinik

yang lebih terampil atau berpengalaman membimbing 1 orang mahasiswa

semester akhir atau karyawan baru dalam mengintegrasikan semua ilmu, sikap

dan keterampilan kebidanan/keperawatan termasuk memahami peran

bidan/perawat secara komprehensif. Pembimbing klinik yang berpengalaman

disebut mentor, sementara individu yang dibimbing adalah mentee.

Coaching (bimbingan) adalah suatu proses pembelajaran yang

memberikan kesempatan seluas luasnya kepada peserta baik perorangan atau

kelompok untuk memecahkan permasalahannya sendiri dan didampingi oleh

fasilitator. Bimbingan melibatkan peserta dan fasilitator dalam dialog satu

lawan satu dan mengikuti suatu proses yang tersusun, diarahkan pada

tanggung jawab memelihara kemajuan dan kinerja yang baik serta hubungan

kerja positif antara fasilitator dan peserta.

Pengelolaan sumberdaya manusia di bidang kesehatan dikatakan baik

apabila pimpinan dan manajemen memiliki kemampuan dalam melakukan

pengawasan dan bimbingan serta memberikan perhatian secara penuh


terhadap apa yang ditugaskan dan apa yang menjadi tanggung jawab

bawahannya, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki atas hasil kerja yang

telah dilakukan dengan cara yang lebih profesional.

Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) telah dilaksanakan di Indonesia

sejak tahun 1985. Pada saat itu pimpinan puskesmas maupun pemegang

program di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota belum mempunyai alat pantau

yang dapat memberikan data yang cepat sehingga pimpinan dapat

memberikan respon atau tindakan yang cepat dalam wilayah kerjanya. PWS

dimulai dengan program Imunisasi yang dalam perjalanannya, berkembang

menjadi PWS-PWS lain seperti PWS-Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA)

dan PWS Gizi.

Pelaksanaan PWS imunisasi berhasil baik, dibuktikan dengan

tercapainya Universal Child Immunization (UCI) di Indonesia pada tahun

1990. Dengan dicapainya cakupan program imunisasi, terjadi penurunan AKB

yang signifikan. Namun pelaksanaan PWS dengan indikator Kesehatan Ibu

dan Anak (KIA) tidak secara cepat dapat menurunkan Angka Kematian Ibu

(AKI) secara bermakna walaupun cakupan pelayanan KIA meningkat, karena

adanya faktor-faktor lain sebagai penyebab kematian ibu (ekonomi,

pendidikan, sosial budaya, dsb). Dengan demikian maka PWS KIA perlu

dikembangkan dengan memperbaiki mutu data, analisis dan penelusuran data.

Selama melaksanakan praktek klinik mahasiswa diberikan kesempatan

untuk menerapkan serta mengembangankan pengetahuan dan keterampilanya

yang telah di dapat selama perkuliahan dan laboratorium kedalam pelayanan

yang nyata di Rumah Bersalin dan Puskesmas yang berkaitan dengan


preceptorship dalam asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi

baru lahir, KB, serta pengisian dan menganalisis administrasi PWS KIA.

B. Tujuan penulisan

1. Tujuan umum

Diharapkan mahasiswa mampu menjadi preceptor/mentor dan coach

(pembimbing klink) asuhan kebidanan pada antenatal care, ibu bersalin,

nifas, bayi baru lahir,dan KB serta melakukan pengisian dan menganalisis

administrasi PWS KIA.

2. Tujuan khusus

a. Sebagai preseptor

Dapat belajar dan melakuakan reflaksi-prespektif yang luas,

mengembangkan pandangan baru tentang masalah dan mengetahui

lebih baik dalam memberikan kontribusi positif untuk pengembangan

individu dan organisasi.

b. Sebagai coaching

Meningkatkan kinerja individu dan organisasi, keseimbangan dan

lebih baik untuk kerja dalam kehidupan serta dapat motivasi diri,

pemahaman untuk kerja, tepat dalam pengambilan keputusan, dan

peningkatan pelaksanaan menejemen kebidanan.

c. PWS KIA

Memantau pelayanan KIA secara individu melalui kohort,

menemukan sasaran indvidu dan wilayah pioritas yang akan ditagani

secara intensif berdasarkan besarnya kesenjangan dan menilai


kesenjangan pencapaian cakupan indikator KIA terhadap target yang

ditetapkan dan melakukan analisa PWS KIA.

C. Manfaat penulisan

1. Bagi Lahan Praktik

Menyediakan standar yang tinggi dari lahan praktik dan pelayanan di

semua sektor, membuat asuhan prioritas, memperlakukan penggunaan jasa

sebagai individu, menghormati martabat mereka, dan bekerja dengan

praktisi media lain untuk melindungi dan mempromosikan kesejahteraan

dan kesehatan mereka, keluarga mereka, dan masyarakat yang lebih kuat.

2. Bagi Intansi pendidikan

Meningkatkan kualitas praktik profesi kebidanan dan lebih menghemat

biaya dari pada orientasi secara manual. Program ini juga memberikan

keuntungan kepada semua komponen yang terdapat didalamnya.

3. Bagi Mahasiswa

Mahasiswa dapat meningkatkan sosialisai dan performa yang lebih baik,

melakukan asuhan kebidanan terkini, peningkatan kualitas pelayanan,

mendorongan pengembangan profesional dan dapat melakukan pengisian

dan menganalisis PWS KIA.