IFRS FOR SMEs
Diajukan untuk memenuhi tugas kuliah
“Seminar Akuntansi Keuangan”
Disusun oleh :
1. Nama : Anto Purwanto
NPM : 2016310207
2. Nama : Muhammad Raf’i
NPM : 2017310207
3. Nama :
NPM :
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
(STIE INDONESIA) BANJARMASIN
2019
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat
serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad
SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya,
baik itu berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas akhir dari mata kuliah Seminar Akuntansi
Keuangan berjudul IFRSs for SMEs.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi.
Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon
maaf yang sebesar-besarnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
Terima kasih.
Banjarmasin, Maret 2019
Penyusun
(ii)
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
………………………………………………………………………………….i
KATA PENGANTAR ………………………………………………………… ii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………1
A. Latar Belakang ……………………………………………………………...3
B. Rumusan Masalah …………………………………………………………..3
C. Tujuan Penulisan ……………………………………………………………3
D. Manfaat Penulisan ………………………………………………………….3
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………..4
A. Pengertian IFRS …………………………………………………………….4
B. Sejarah IFRS ……………………………………………………………….5
C. Kelebihan dan Kekurangan IFRS for SMEs ………………………………..8
BAB III PENUTUP …………………………………………………………………..9
A. Kesimpulan …………………………………………………………………9
B. Saran ………………………………………………………………………..9
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….10
(iii)
BAB. I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini perkembangan globalisasi sangat cepat dan tidak ada batasan waktu,
ruang, dan tempat antar suatu negara. Hal ini merupakan kesempatan bagi setiap
orang untuk dapat berinvestasi dan mengakses berbagai informasi di negera
manapun tanpa mengenal jarak, serta kesempatan ini juga digunakan oleh
perusahaan-perusahaan untuk berkembang semakin besar, maka dari itu setiap
perusahaan diberbagai negara dituntut untuk menyajikan laporan keuangan yang
dapat dijadikan sebagai alat pertimbangan dalam menilai kondisi suatu
perusahaan dan sebagai alat pengambil keputusan, namun terdapat kendala yang
dialami setiap negara dalam penyusunan laporan keuangan, yaitu perbedaan
standar akuntansi antar negara dalam penyusunan laporan keuangan. Standar
akuntansi yang diberlakukan pada setiap negara dapat berbeda tergantung pada
faktor-faktor lokal yang ada pada negara tersebut. Berbedanya aturan akuntansi
yang berlaku di banyak negara tersebut berimbas pada keterbandingan laporan
keuangan dan memunculan kebutuhan akan sebuah standar yang dapat diterima
oleh semua negara di dunia. IASB (International Accounting Standard Board)
sebagai badan akuntansi pembuat standard sector swasta yang independen
membuat dan menerbitkan suatu standard global dalam penyajian laporan
keuangan perusahaan publik, yaitu International Financial Reporting Standard
(IFRS).
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh
International Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi
Internasional (International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat
organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB),
Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC),
dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC) (Ankarath, dkk, 2012:7). Tujuan
dilakukannya konvergensi IFRS yaitu untuk meningkatkan transparansi dan
akuntabilitas dalam laporan keuangan serta dapat meningkatkan arus investasi
global melalui perbandingan laporan keuangan antar satu negara dengan
Negara lain. Saat ini, berdasarkan data dari International Accounting
Standard Board (IASB), terdapat 102 negara yang telah menerapkan IFRS dalam
pelaporan keuangan entitas dinegaranya dengan keharusan yang berbeda-beda.
Sebanyak 23 negara mengizinkan penggunaan IFRS secara sukarela, 75 negara
mewajibkan untuk perusahaan domestik secara keseluruhan, dan 4 negara
mewajibkan hanya untuk perusahaan domestik tertentu (Nurani,2011).
Standar akuntansi yang ada di Indonesia, yaitu Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) telah dikonvergensikan ke dalam
IFRS. Dalam kurun waktu 2008-2012 konvergensi dilakukan dengan cara
mengurangi perbedaan secara bertahap antara PSAK dan IFRS, sehingga pada
akhirnya pelaporan keuangan perusahaan publik akan menggunakan IFRS. Ketika
hal tersebut terjadi, Indonesia akan bergabung dengan 102 negara yang telah
memperbolehkan atau mengharuskan penggunaan IFRS untuk pelaporan
keuangan. Hal ini sejalan dengan kesepakatan antar negara-negara yang
bergabung dalam G-20 dimana Indonesia merupakan salah satu anggotanya yang
memiliki tujuan untuk menciptakan suatu standar akuntansi yang berkualitas yang
berlaku secara internasional. PSAK yang sebelumnya berkiblat pada Generally
Accepted Accounting Principles (GAAP), dalam konsep pengakuan dan
pengukuran atas item-item dalam pelaporan keuangan lebih menekankan prinsip
biaya historis sedangkan IFRS lebih menekankan pada prinsip fair value, suatu
prinsip yang sangat berbeda namun akan membawa dampak yang sangat
signifikan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk menulis
tentang “International Financial Reporting Standard (IFRS) of small and
medium-sized enterprises (SMEs)”.
2
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka identifikasi
masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pemahaman mahasiswa akuntansi
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banjarmasin terhadap perkembangan
standar akuntansi keuangan berbasis IFRS of SMEs.
D. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk melihat bagaimana pemahaman
mahasiswa akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banjarmasin
terhadap perkembangan standar akuntansi keuangan berbasis IFRS of SMEs.
D. Manfaat Penulisan
Penelitian yang akan dilaksanakan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
penulis maupun bagi pihak lain yang berkepentingan. Manfaat yang diharapkan
dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagi Praktisi
Untuk menambah pengetahuan bagaimana manfaat IFRS of SMEs secara
umum.
b. Bagi Pengembangan Keilmuan
Menambah pembendaharaan keilmuan di bidang akuntansi khususnya
mengenai International Financial Reporting Standards (IFRS).
3
BAB. II
PEMBAHASAN
A. Pengertian IFRS
IFRS for SMEs merupakan modifikasi dan penyederhanaan IFRS yang ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan perusahaan swasta, pengguna pelaporan keuangan dan
meringankan beban pelaporan keuangan pada perusahaan swasta melalui pendekatan
biaya-manfaat. IFRS for SMEs adalah akuntansi mandiri dan standar pelaporan
keuangan yang berlaku untuk laporan keuangan umum, dan pelaporan keuangan
lainnya, melalui entitas yang di dikenal sebagai entitas kecil dan menengah (SMEs).
IFRS for SMEs adalah standar yang digunakan digunakan oleh SMES, yang
merupakan entitas kecil yang mempublikasikan tujuan umum laporan keuangan untuk
pengguna eksternal dan tidak memiliki akuntabilitas publik. Setiap entitas memiliki
akuntabilitas publik di bawah IASB. IFRS for SMEs dipandang sebagai kerangka kerja
akuntansi untuk entitas yang bukan dari ukuran atau memiliki sumber daya besar. Di
Amerika Serikat, istilah "SMEs" akan mencakup banyak perusahaan swasta. Jenis-
jenis dan kebutuhan pengguna laporan keuangan SMEs sering berbeda dengan jenis
dan kebutuhan pengguna laporan keuangan perusahaan publik dan entitas lain yang
mungkin akan menggunakan full IFRS. IFRS dirancang untuk memenuhi kebutuhan
investor mengendalikan modal pada perusahaan-perusahaan di pasar modal publik.
Pengguna laporan keuangan SMEs (atau perusahaan swasta di AS) umumnya tidak
memiliki kebutuhan yang sama. Demikian sebaliknya, pengguna laporan keuangan
SMEs lebih berfokus pada arus kas jangka pendek, likuiditas, neraca kekuatan,
cakupan bunga dan solvabilitas. Dengan demikian, ada kebutuhan yang signifikan
untuk standar akuntansi dan pelaporan keuangan untuk SMEs yang akan memenuhi
kebutuhan pengguna laporan keuangan mereka ketika menyeimbangkan biaya dan
manfaat. IFRS for SMEs dirancang untuk memenuhi kebutuhan itu. Dengan penerbitan
IFRS for SMEs, banyak SMEs di seluruh dunia, termasuk perusahaan swasta di
Amerika Serikat, akan memiliki pilihan lebih untuk menggunakan kerangka akuntansi
berbasis IFRS untuk menyiapkan laporan keuangan mereka yang telah disederhanakan.
Beberapa perbedaan kunci berdasarkan IFRS for SMEs:
1. Pengungkapan disederhanakan di berbagai bidang termasuk dana pensiun dan
instrumen kuangan sewa.
2. Tidak menggunakan LIFO
3. Goodwill dan aktiva tak berwujud diamortisasi selama jangka waktu tidak lebih dari
sepuluh tahun.
4. Penyusutan berdasarkan pendekatan komponen.
5. Sebuah pendekatan yang disederhanakan perbedaan sementara untuk akuntansi
pajak penghasilan.
6. Jika kriteria tertentu terpenuhi diperbolehkan untuk pembalikan beban penurunan
nilai.
7. Akuntansi untuk aktiva keuangan dan kewajiban yang menggunakan biaya yang
lebih besar.
B. Sejarah IFRS
IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya untuk
memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap
kurangnya transparansi informasi keuangan.
Tujuan IFRS adalah :memastikan bahwa laporan keuangan interim perusahaan untuk
periode-periode yang dimasukan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung
informasi berkualitas tinggi yang : (1). transparansi bagi para pengguna dan dapat
dibandingkan sepanjang periode yangdisajikan. (2). menyediakan titik awal yang
memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS (3) dapat dihasilkan dengan
biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna
Manfaat dari adanya suatu standard global:
1. Pasar modal menjadi global dan modalinvestasi dapat bergerak di seluruh duniatanpa
hambatan berarti. Stadart pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang
digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi local
2. investor dapat membuat keputusan yang lebih baik
3. perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai
merger dan akuisisi
4. gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat disebarkan
dalam mengembangkan standard global yang berkualitas tertinggi.
Hamonisasi telah berjalan cepat dan efektif, terlihat bahwa sejumlah besar
perusahaan secara sukarela mengadopsi standar di pelaporan keuangan Internasional
(IFRS). Banyak Negara yang telah mengadopsi IFRS secara keseluruhan dan
menggunakan IFRS sebagai dasar standard nasional.
Hal ini dilakukan untuk menjawab permintaan investor institusional dan
pengguna laporan keuangan lainnya.Usaha-usaha standard internasional ini dilakukan
secara sukarela, saat standard internasional tidak berbeda dengan standard nasional,
maka tidak akan ada masalah, yang menjadi masalah, apabila standard internasional
berbeda dengan standard nasional. Bila hal ini terjadi, maka yang didahulukan adalah
standard nasional (rujukan pertama). Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard
internasional, namun seiring waktu, Standard internasional telah bergerak maju, dan
menekan Negara-negara yang kontra. Contoh : komisi pasar modal AS, SEC tidak
menerima IFRS sebagai dasar pelaporan keuangan yang diserahkan perusahaan-
perusahaan yang mencatatkan saham pada bursa efek AS, namun SEC berada dalam
tekanan yang makin meningkat untuk membuat pasar modal AS lebih dapat diakses oleh
para pembuat laporan non-AS. SEC telah menyatakan dukungan atas tujuan IASB untuk
mengembangkan standard akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan. Proses ini
biasa disebut dengan berbagai istilah seperti konvergensi, harmonisasi, adaptasi atau
adopsi, yang sebenarnya memiliki arti yang tidak sama.
Arti konvergensi yang diambil dari kata convergence adalah keadaan menuju satu titik
pertemuan; memusat (lihathttp://www.artikata.com/arti-336173-konvergensi.html
diakses 16/08/2011). Sehingga proses konvergensi PSAK ke IFRS dapat diartikan
sebagai PSAK akan dibawa ke satu titik pertemuan dengan IFRS. Ada 3 cara
melakukan proses konvergensi yaitu dengan :
1. Adaptasi : membuat standar akuntansi sendiri yang disesuaikan dengan IFRS
2. Adopsi : mengambil dan memakai langsung standard dari IFRS
3. Harmonisasi : membuat standar akuntansi sendiri yang tidak bertentangan dengan
IFRS
Jadi sebenarnya Indonesia mengambil cara ke-2 yaitu adopsi, namun dengan membuat
beberapa penyesuaian dengan kondisi di Indonesia.
Kemudian banyak pelaku bisnis dan penyusun laporan keuangan bertanya, sejak kapan
sebenarnya IFRS itu ada ? Siapa lembaga penyusun dan penerbit standarnya dan apa
sebenarnya bedanya dengan International Accounting Standards (IAS).
7
C. Kelebihan dan Kekurangan IFRS for SMEs
Kelebihan IFRS for SMEs :
1. Ringkas dan lengkap seperangkat dengan prinsip akuntansi yang disederhanakan
diatur menurut topiknya.
2. IFRS for SMEs lebih baik dalam memenuhi kebutuhan pengguna laporan keuangan.
Sebagian besar perusahaan yang memenuhi syarat untuk IFRS for SMEs fokus pada
arus kas jangka pendek, likuiditas dan solvabilitas.
Kelemahan IFRS for SMEs :
1. Pada saat ini di Amerika Serikat belum cukup dikenal. Sementara IFRS for SMEs
ini mirip dengan IFRS. Di antara investor, pelaku bisnis, kreditur, pendidik, dan
pengguna laporan keuangan, beberapa telah menghabiskan waktu yang diperlukan
untuk memahami perbedaan dari US GAAP dan dampak yang sesuai tidak siap
untuk mengadopsi, atau membuat keputusan bisnis yang penting dengan standar-
standar yang ada.
2. Kemungkinan kurangnya komparatif. Karena IFRS for SMEs seperti IFRS,
memberikan fleksibilitas yang lebih, aturan yang kurang spesifik dan lebih banyak
kesempatan untuk menerapkan penilaian profesional, ada kemungkinan bahwa jenis
transaksi yang sama dibuat oleh beberapa perusahaan yang berbeda dapat
dilaporkan dalam laporan keuangan. Jadi perbandingannya kurang baik.
8
BAB. III
PENUTUP
A. Kesimpulan
IFRS for SMEs adalah versi sederhana dari full IFRS. IASB juga telah
menerbitkan petunjuk pelaksanaan dan materi pelatihan untuk mengembangkan standar.
Ruang lingkup standar mencakup SMES yang mempublikasikan tujuan umum laporan
keuangan untuk pengguna eksternal, dan tidak memiliki akuntabilitas publik. IFRS for
SMEs ini tidak dimaksudkan untuk digunakan oleh organisasi-organisasi nirlaba atau
badan pemerintah. AICPA telah mengakui IASB sebagai badan standard akuntansi.
Anggota AICPA bisa melaporkan laporan keuangan dan disajikan dengan baik atau
penggunaan IFRS for SMEs diizinkan menurut undang-undang dan peraturan masing-
masing negara.
B. Saran
Standar ini berlaku apabila sebuah perusahaan menerapkan IFRS untuk pertamakalinya
melalui suatu pernyataan eksplisit tanpa syarat tentang kesesuaian dengan IFRS.
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan yang
pertamakalinya berdasarkan IFRS (termasuk laporan keuangan interim untuk periode
pelaporan tertentu ) menyediakan titik awal yang memadai dan transparan kepada para
pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang seluruh periode disajikan.
9
DAFTAR PUSTAKA
1. http://ardianjelek.blogspot.com/2011/05/pengertian-ifrs.html
2. http://stefanusariyanto.wordpress.com/2011/08/18/sejarah-international-
financial-reporting-standards-ifrs/
3. Ikatan Akuntan Indonesia, 2008
10