Anda di halaman 1dari 31

Fisika Dasar 1

Dinamika Gerak

KELAS 1B / Kelompok 5
NAMA :
Ni Kadek Ratna Pratiwi (1313021026)
Ketut Asta Agus Putra (1313021032)

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena
hanya atas berkat dan rahmat-Nya-lah sehingga makalah yang penulis susun
dengan judul “Dinamika Gerak” ini dapat terselesaikan.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dalam menyelesaikan
makalah ini, baik itu berupa dukungan moril maupun nonmoril.
Penulis menyadari betul bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karenanya, tegur sapa berupa kritik maupun saran dari berbagai
kalangan yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan guna
penyempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi para pembaca yang budiman.

Singaraja, 6 September 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN............................................................................
1.1 Latar Belakang.................................................................................
1.2 Rumusan Masalah............................................................................
1.3 Tujuan...............................................................................................
1.4 Manfaat............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..............................................................................
2.1 Konsep Gaya Sebagai Penyebab Gerak...........................................
2.2 Massa dan Berat...............................................................................
2.3 Hukum Newton tentang Gerak.........................................................
2.4 Sistematika Penggunaan Hukum Newton........................................
2.5 Penerapan Hukum Newton..............................................................
2.6 Gaya Gesekan...................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan..........................................................................................
3.2 Saran.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada kehidupan sehari-hari, banyak kita jumpai kejadian-kejadian yang
berkaitan dengan konsep fisika khususnya tentang dinamika atau proses gerak
yang meninjau penyebab geraknya. Sebut saja seseorang yang sedang
berusaha untuk memindahkan lemari atau benda lainnya dari suatu tempat ke
tempat lain. Untuk memindahkan benda tersebut, orang itu harus melakukan
suatu tarikan atau dorongan sehingga benda tersebut bergerak. Suatu benda
atau partikel sekalipun akan dapat bergerak atau berubah posisi dari posisi
satu ke posisi lainnya apabila terdapat suatu gaya yang bekerja pada benda
atau partikel tersebut.
Kejadian lain yang sering juga kita jumpai adalah tentang massa dan
berat. Orang kebanyakan tidak mengerti tentang apa yang dimaksud dengan
massa dan apa yang dimaksud dengan berat. Keduanya sering disamakan
pengertiannya dan penggunannya. Seperti ibu-ibu yang sering menganggap
bahwa berat beras adalah sekian kilogram. Padahal secara fisika pernyataan
dari ibu-ibu tersebut tidak sesuai karena pada satu sisi yang disebutkan adalah
tentang besaran berat sedangkan pada sisi yang lain merupakan satuan dari
massa.
Kejadian-kejadian yang kita alami pada kehidupan sehari-hari juga tidak
jauh terlepas dari penggunaan hukum-hukum Newton tentang gerak yang
melandasi perhitungan-perhitungan fisis baik secara kualitatif maupun secara
kuantitatif dari suatu kejadian. Hukum-hukum Newton tersebut menjadi dasar
sebuah kejadian untuk dirumuskan secara fisika yang mana penggunaan
konsep tersebut dapat digunakan untuk menghitung atau mempelajari gerak
suatu benda yang ditinjau berdasarkan atas penyebab geraknya.
Konsep fisika tentang hukum Newton bisa dilihat dalam kejadian-
kejadian fisis dari sebuah benda yang berada dalam kondisi statis ataupun
dinamis. Adapun kondisi statis tersebut adalah ketika sebuah benda tetap
berada pada posisinya atau dengan kata lain benda tersebut tidak mengalami
perubahan posisi. Sedangkan benda berada dalam kondisi dinamis adalah
ketika benda tersebut sudah mengalami perubahan posisi dari kondisi awal ke
kondisi akhir.
Kadangkala benda-benda yang bergerak akan mengalami perubahan
kelajuan ataupun perubahan percepatan oleh suatu gaya yang disebut dengan
gaya gesekan. Gaya gesekan ini akan ditemukan dalam setiap kondisi benda
yang bergerak diatas lintasan yang nilai koefisien gesekannya tidak sama
dengan nol atau dapat dikatakan bahwa benda tersebut masih bergerak dalam
lintasan yang memiliki tingkat kekasaran permukaan tertentu. Gaya gesek ini
juga ditemui dalam mengkaji gerak benda yang berada pada lintasan datar
maupun lintasan yang berupa bidang miring. Adapun untuk kedua kondisi
tersebut masih dapat dijumpai dalam berbagai kasus kondisi gerak.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merumuskan beberapa
masalah, yaitu :
1.2.1 Bagaimanakah konsep gaya sebagai penyebab gerak?
1.2.2 Bagaimanakah konsep massa dan berat ?
1.2.3 Bagaimanakah konsep Hukum Newton tentang gerak?
1.2.4 Bagaimanakah sistematika penggunaan Hukum Newton pada
penggunaan diagram benda bebas?
1.2.5 Bagaimanakah penerapan Hukum Newton dalam kasus statik dan
dinamik?
1.2.6 Bagaimana konsep tentang gaya gesek dalam bidang datar dan bidang
miring dengan berbagai kasus?

1.3 Tujuan
Mengacu pada rumusan masalah, maka tujuan dari penyusunan makalah
ini yaitu :
1.3.1 Mengetahui konsep gaya sebagai penyebab gerak.
1.3.2 Mengetahui konsep massa dan berat.
1.3.3 Mengetahui konsep Hukum Newton tentang gerak.
1.3.4 Mengetahui sistematika penggunaan Hukum Newton dalam
penggunaan diagram benda bebas.
1.3.5 Mengetahui penerapan Hukum Newton pada kasus statik dan dinamik.
1.3.6 Mengetahui gaya gesek dalam bidang datar dan bidang miring dengan
berbagai kasus.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang ingin diperoleh dari penyusunan makalah ini
adalah :
1.4.1 Bagi Penulis
Manfaat yang penulis dapatkan dari penyusunan makalah ini adalah
memberikan pengalaman dalam mengkaji materi-materi yang terkait
dengan dinamika gerak khususnya tentang konsep gaya, massa dan
berat, penerapan hukum Newton, serta tentang konsep gaya gesekan.
1.4.2 Bagi Pembaca
Manfaat yang bisa pembaca dapatkan adalah memberikan informasi
tentang konsep fisika terkait dengan konsep gaya, massa dan berat,
penerapan hukum Newton, serta tentang konsep gaya gesekan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Gaya Sebagai Penyebab Gerak


2.1.1 Pengertian Gaya
Gaya dalam intuisi manusia digambarkan sebagai sebuah tarikan atau
dorongan terhadap sebuah benda. Hal ini sering kita amati dalam
kejadian sehari-hari misalnya ketika ada seseorang yang berusaha
untuk memindahkan suatu benda katakan saja sebuah mobil yang
mogok dengan memberikan sebuah dorongan. Ketika orang tersebut
memberikan dorongan pada mobil yang mogok tadi, dapat diartikan
bahwa orang tersebut telah memberikan gaya kepada mobil. Namun
dalam konsep fisika, pengertian gaya tidak sebatas sebagai tarikan
atau dorongan. Gaya lebih lanjut dinyatakan sebagai sebuah besaran
yang akan memberikan perubahan kecepatan selang waktu tertentu
pada sebuah benda yang memiliki massa tertentu yang tidak sama
dengan nol. Artinya bahwa suatu benda yang memiliki massa tidak
sama dengan nol akan mengalami perubahan kecepatan selang waktu
tertentu atau dikatakan mengalami percepatan apabila kepada benda
tersebut dikerjakan gaya. Namun dalam kondisi tertentu, tidak semua
gaya akan memberikan percepatan. Sebagai contoh, kita bisa saja
mendorong benda-benda yang massanya besar seperti mobil dengan
sekuat tenaga, akan tetapi mobil tersebut tetap dalam posisinya atau
tidak bergerak.

2.1.2 Ciri-ciri Gaya


Gaya termasuk kedalam besaran vektor yaitu besaran yang memiliki
besar dan arah. Artinya bahwa dalam mendefinisikan sebuah gaya,
kita harus mengetahui besar gaya itu dan mengetahui arah gaya
tersebut bekerja. Sebagai contoh sebuah balok ditarik dengan sebuah
gaya sebesar F dengan arah θ terhadap horisontal seperti ditunjukkan
oleh Gambar 2.1.2.a. Dalam kasus ini, kita bisa mengamati bahwa
selain memiliki nilai, sebuah gaya juga harus dinyatakan beserta
dengan arahnya supaya kita bisa menentukan perhitungan terkait
dengan arah gerak dari gaya tersebut.

( Gambar 2.1.2.a Sebuah balok yang ditarik dengan gaya F pada


sudut θ dari horisontal )
Berdasarkan ilustrasi diatas yang menyatakan bahwa gaya adalah
termasuk besaran vektor, maka perhitungan-perhitungan terkait gaya
juga harus dilakukan dengan perhitungan-perhitungan vektor.

2.1.3 Alat Ukur Gaya


Seperti yang diperlihatkan pada gambar 2.1.2.a, alat ukur yang
digunakan untuk mengukur besar atau kekuatan dari gaya adalah
neraca pegas. Dalam pengamatan, biasanya neraca pegas tersebut
digunakan untuk menimbang berat sebuah benda atau dengan kata lain
mengukur besarnya gaya berat yang dihasilkan dari konsep gaya
gravitasi yang bekerja pada benda tersebut.

2.1.4 Satuan Gaya


Satuan gaya dalam Sistem Internasional adalah newton atau sering
ditulis dengan satuan N. Satu newton didefinisikan sebagai besarnya
gaya yang diperlukan untuk menimbulkan percepatan sebesar 1 m/s 2
pada benda yang bermassa 1 kg. Selain dinyatakan dengan satuan
newton atau N, dalam sistem CGS (Centimeter-Gram-Second) gaya
juga sering ditulis dengan satuan dyne yang mana konversi satuan dari
newton ke dyne memenuhi 1 N = 105 dyne.

2.1.5 Macam-macam Gaya


Adapun macam-macam gaya yang sering diamati diantaranya :
a. Gaya Berat
Gaya berat dengan lambang W didefinisikan sebagai gaya
gravitasi bumi yang bekerja pada suatu benda. Gaya berat selalu
mengarah ke pusat bumi dimanapun posisi benda ditinjau baik itu
berada pada bidang horisontal, vertikal, ataupun ketika benda
berada dalam bidang miring.
b. Gaya Normal
Gaya normal didefinisikan sebagai gaya yang bekerja pada bidang
sentuh antara dua permukaan yang bersentuhan secara langsung.
Arah gaya normal selalu tegak lurus bidang sentuh.
c. Gaya Tegangan Tali
Gaya tegangan tali adalah gaya yang bekerja pada ujung-ujung
tali jika tali tersebut mendapatkan gaya. Gaya tegangan tali akan
sama pada setiap bagian tali yang merupakan satu kesatuan.
d. Gaya Gesek
Gaya gesek adalah gaya yang muncul jika permukaan dua benda
bersentuhan langsung secara fisik. Arah gesekan searah dengan
permukaan bidang sentuh dan berlawanan dengan arah
kecenderungan gerak.

2.1.6 Hubungan Antara Gaya dengan Gerak Benda


Seperti yang telah dijelaskan pada sub bagian pengertian gaya, bahwa
gaya akan memberikan perubahan kecepatan sebuah benda. Hal ini
menjelaskan bahwa jika sebuah benda mendapat gaya tertentu maka
kemungkinan benda tersebut akan mengalami perubahan posisi atau
bergerak. Lebih lanjut tentang materi ini akan dibahas pada sub bab
terkait dengan hukum Newton.
2.2 Konsep Massa dan Berat
2.2.1 Massa
Massa merupakan ukuran inersia atau kelembaman suatu benda.
Pengertian dari inersia atau kelembaman itu sendiri didefinisikan
sebagai kemampuan mempertahankan keadaan suatu gerak. Artinya
bahwa semakin besar massa benda, semakin sulit merubah keadaan
geraknya baik itu menggerakkannya dari keadaan diam, atau
menghentikannya ketika sedang bergerak serta merubah gerakannya
keluar dari lintasannya yang lurus. Kita dapat mengatakan bahwa
semakin besar massa benda, semakin besar hambatan benda tersebut
untuk dipercepat.
Isaac Newton (1642-1727) menggunakan istilah massa sebagai
sinonim dari jumlah zat. Akan tetapi pengertian ini kurang tepat
karena konsep jumlah zat belum terdefinisikan dengan baik.
Satuan Sistem Internasional untuk massa adalah Kilogram (kg).
Lambang massa adalah m, yang merupakan inisial dari kata mass.
Lambang ini merupakan ketetapan yang dibuat untuk penyeragaman.
Massa merupakan besaran skalar, sehingga massa hanya memiliki
nilai saja, tidak tergantung pada arah.

2.2.2 Berat
Berat sebuah benda menyatakan gaya gravitasi yang dilakukan
oleh bumi kepada benda tersebut. Berat memiliki vektor berat yang
selalu berarah tegak lurus pada permukaan bumi menuju ke pusat
bumi. Dengan demikian vektor berat suatu benda di Bumi selalu
digambarkan tegak lurus ke bawah dimana pun posisi benda
diletakkan.

2.2.3 Perbedaan Massa dan Berat


Massa dan berat dapat dibedakan seperti dibawah ini:
a. Massa benda merupakan besaran skalar sedangkan berat benda
merupakan besaran vektor
b. Massa benda selalu sama dimanapun benda itu diletakkan, tetapi
berat benda tergantung pada gaya gravitasi yang bekerja pada
benda tersebut yang artinya bahwa berat suatu benda tergantung
dimana benda tersebut berada.
Sebagai contohnya adalah ketika kita membawa sebuah benda ke
bulan. Benda itu akan mempunyai berat lebih kecil jika dibandingkan
dengan beratnya di bumi yaitu kira-kira seperenam dari beratnya di
bumi. Hal ini terjadi karena percepatan gravitasi di bulan lebih lemah
dibandingkan dengan di bumi dengan kondisi massa benda yang tetap
sama.

2.2.4 Hubungan Persamaan antara Massa dan Berat


Perhitungan tentang berat suatu benda mengacu pada perkalian
antara massa yang dimiliki benda tersebut dengan besar percepatan
gravitasi yang bekerja pada benda.
Secara matematis, persamaan berat benda dapat dituliskan :
......... persamaan 2.2.4.a
Berat merupakan besaran vektor karena dihasilkan dari perkalian
antara massa yang merupakan besaran skalar dengan percepatan
gravitasi yang merupakan besaran vektor. Oleh karena besaran vektor,
maka berat selain dinyatakan dengan nilai, juga harus dinyatakan
arahnya. Arah gaya dari berat ini selalu menuju ke pusat gravitasi. Jika
berat sebuah benda ditinjau di bumi, maka arah gaya beratnya menuju
ke pusat bumi. Demikian pula jika berat suatu benda diukur di planet
lain.

2.2.5 Contoh Soal Terkait Massa dan Berat


Seorang fisikawan ingin menjelajah angkasa dengan mengunjungi
bulan. Massa fisikawan tersebut ketika diukur di bumi adalah 80 kg.
Berapakah berat fisikawan tersebut ketika ditimbang di bulan jika
percepatan gravitasi bulan adalah seperenam percepatan gravitasi
bumi? ( Percepatan gravitasi bumi = 9,8 m/s2 )
Penyelesaian soal :
Massa fisikawan di bumi : kg
Percepatan gravitasi bumi : m/s2
Berat fisikawan di bumi :

Gravitasi di bulan :

Berat fisikawan di bulan :


=

=
= 130,66 N

2.3 Konsep Hukum Newton Tentang Gerak


2.3.1 Hukum I Newton
Seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles (384-322 SM) menyatakan
bahwa diperlukan sebuah gaya yang kontinu agar benda tetap bergerak
pada bidang horisontal. Sebagai contoh agar buku bisa terus bergerak
diatas meja maka kita mesti memberikan gaya pada buku tersebut
secara terus-menerus. Menurut Aristoteles, keadaan alami dari sebuah
benda adalah diam. Oleh karena itu perlu ada gaya untuk menjaga
agar benda tetap bergerak. Ia juga mengatakan bahwa laju benda
sebanding dengan besar gaya, artinya bahwa semakin besar gaya yang
diberikan pada suatu benda maka kelajuan benda tersebut semakin
besar.

(Gambar 2.3.1.a Aristoteles)


Sekitar 2000 tahun kemudian, seorang berkebangsaan Italia yang
bernama Galileo Galilei (1564-1642), mencoba melakukan
eksperimen untuk membuktikan kesalahan-kesalahan dalam
memandang hakikat benda diam, seperti yang terungkap di atas. Dia
mencoba menggerakkan suatu benda pada permukaan yang licin.
Telah diamati bahwa makin licin permukaan bidang di mana benda
bergerak, maka benda itu cenderung bergerak lebih lama tanpa
mengalami perubahan gerak. Akhirnya disimpulkan bahwa jika
permukaan licin sempurna, atau gesekan antara bidang horizontal
dengan permukaan benda dihilangkan sama sekali, maka benda
cenderung bergerak lurus beraturan, dan hal ini kemudian dikenal
sebagai prinsip Galileo. Dengan perkataan lain, Galileo menyatakan
bahwa untuk mengubah kecepatan suatu benda diperlukan gaya luar.
(Gambar 2.3.1.b Galileo)
Hal yang dikemukakan oleh Galileo ini kemudian dikembangkan oleh
seorang fisikawan yang berkebangsaan Inggris bernama Isaac Newton
(1642-1727) dengan pernyataannya :

Dalam kerangka inersial, setiap benda akan tetap dalam keadaan diam
atau bergerak lurus beraturan jika resultan gaya yang bekerja
padanya adalah nol.
Pada dasarnya benda memiliki sifat inert (lembam atau malas) artinya
bila tidak ada gangguan dari luar maka benda cenderung
mempertahankan keadaan gerak ini. Benda yang diam akan cenderung
diam dan benda yang bergerak akan bergerak dengan kecepatan tetap.

(Gambar 2.3.1.c Isaac Newton)


Secara matematis pernyataan Newton ini dapat ditulis :
......... persamaan 2.3.1.a

Kecenderungan suatu benda untuk tetap bergerak atau


mempertahankan keadaan diam dinamakan inersia. Oleh karena itu,
hukum I Newton dikenal juga dengan julukan Hukum Inersia atau
Hukum Kelembaman. Sifat lembam ini dapat kita amati, misalnya
ketika berada di dalam mobil. Apabila mobil bergerak maju secara
tiba-tiba, maka tubuh kita akan terdorong ke belakang. Hal yang sama
juga terjadi ketika mobil tiba-tiba direm, tubuh kita akan
sempoyongan ke depan. Hal ini diakibatkan karena tubuh kita
memiliki kecenderungan untuk tetap diam jika kita diam dan juga
memiliki kecenderungan untuk terus bergerak jika kita telah bergerak.
Hukum Pertama Newton telah dibuktikan oleh para astronout pada
saat berada di luar angkasa. Ketika seorang astronout mendorong
sebuah pensil (pensil mengambang karena tidak ada gaya gravitasi),
pensil tersebut bergerak lurus dengan laju tetap dan baru berhenti
setelah menabrak dinding pesawat luar angkasa. Hal ini disebabkan
karena di luar angkasa tidak ada udara, sehingga tidak ada gaya gesek
yang menghambat gerak pensil tersebut.
2.3.2 Hukum II Newton
Hukum kedua Newton ini menjelaskan tentang hubungan antara gaya
dan percepatan yang dialami sebuah benda. Newton mengatakan
bahwa jika pada sebuah benda diberikan gaya, maka benda yang diam
akan bergerak, demikian juga benda yang sedang bergerak bertambah
kelajuannya. Sedangkan apabila arah gaya berlawanan dengan arah
gerak benda, maka gaya tersebut akan mengurangi laju gerak benda.
Apabila arah gaya total berbeda dengan arah gerak benda maka arah
kecepatan benda tersebut berubah dan mungkin besarnya juga
berubah. Karena perubahan kecepatan merupakan percepatan, maka
kita dapat menyimpulkan bahwa gaya total yang bekerja pada benda
menyebabkan benda tersebut mengalami percepatan. Arah percepatan
tersebut sama dengan arah gaya total. Jika besar gaya total tetap, maka
besar percepatan yang dialami benda juga tetap atau tidak berubah.
 Hubungan antara percepatan dan resultan gaya
Hubungan antara percepatan dan resultan ini dapat diamati ketika
kita mencoba memberikan tarikan atau dorongan pada balok es
diatas es lain sehingga dapat kita asumsikan bahwa permukaan
kedua benda yang bersentuhan tersebut licin sempurna. Ketika
kita mendorong atau menarik balok es tersebut maka satu-satunya
gaya yang
bekerja adalah
gaya yang kita berikan. Akan didapati kondisi bahwa jika semula
kita memberikan gaya sebesar F menghasilkan percepatan sebesar
a, maka ketika kita mengubah besar gaya misal sebesar 2F maka
akan didapi pula perceptan yang dialami balok es menjadi dua
kali semula. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa
percepatan yang dialami sebuah benda berbanding lurus dengan
resultan gaya yang bekerja

(Gambar 2.3.2.a Es balok yang didorong)

 Hubungan antara percepatan dan massa benda


Seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa massa adalah
tingkat inersia suatu benda. Sedangkan ukuran kemampuan benda
mempertahankan keadaan diam atau keadaan gerakannya adalah
kelembaman. Ini sama saja artinya bahwa percepatan benda
dipengaruhi oleh kelembamannya. Sedangkan kuantitas
kelembaman benda diukur oleh massanya. Dengan demikian
percepatan berhubungan dengan massa. Untuk menentukan
hubungan percepatan dengan massa benda, gaya dorong harus
dijaga tetap. Misalkan balok es seperti kasus sebelumnya
didorong dengan gaya tetap sebesar F. Dengan massa sebesar m
akan dihasilkan percepatan sebesar a. Jika massa balok es tersebut
dinaikkan menjadi 2m, maka percepatan yang terjadi adalah
setengah dari percepatan semula. Dengan ilustrasi seperti itu
maka dapat disimpulkan bahwa percepatan berbanding terbalik
dengan massa benda.
Kedua hubungan yang diperoleh dari hasil eksperimen tersebut
jika digabungkan akan diperoleh persamaan Hukum II Newton
yaitu :
percepatan yang ditimbulkan oleh gaya yang bekerja pada
sebuah benda besarnya berbanding lurus dengan gaya tersebut,
searah dengan gaya tersebut, dan berbanding terbalik dengan
massanya.
Secara matematis persamaan Hukum II Newton ini dapat ditulis :
......... persamaan 2.3.2.a

Contoh kasus yang berkaitan dengan Hukum II Newton :


Sebuah kendaraan yang memiliki massa 500 kg bergerak dipercepat
oleh mesinnya dari keadaan diam sampai kelajuan 10 m/s dalam
waktu 10 s. Jika gesekan jalan dan hambatan angin diabaikan,
tentukan gaya mesin yang menghasilkan percepatan ini?
Penyelesaian :
Percepatan kendaraan adalah :
a = (vt - vo) / ∆t
a = (10 - 0) / 10
a = 1 m/s2
Gaya yang dihasilkan mesin kendaraan adalah :
F = m a
∑F = (500) (1) = 500 N

2.3.3 Hukum III Newton


Hukum III Newton membahas tentang gaya aksi-reaksi yang bekerja.
Artinya bahwa ketika sebuah benda memberikan gaya kepada benda
lain maka benda kedua tersebut membalas dengan memberikan gaya
kepada benda pertama, di mana gaya yang diberikan sama besar tetapi
berlawanan arah. Jadi gaya yang bekerja pada sebuah benda
merupakan hasil interaksi dengan benda lain.
Inti dari Hukum III Newton ini dinyatakan sebagai berikut :
Setiap gaya mekanik selalu muncul berpasangan, yang satu disebut
aksi dan yang lain disebut reaksi, sedemikian sehingga aksi = 
reaksi

Faksi =  Freaksi ...........persamaan 2.3.3.a

2.4 Sistematika Penggunaan Hukum Newton dalam Penggunaan Diagram


Benda Bebas
Kasus-kasus fisika yang terkait dengan konsep hukum newton harus
diselesaikan dengan memahami dahulu penggambaran diagram benda
bebasnya. Penggambaran diagram benda bebas ialah menggambar semua
gaya yang berpengaruh pada benda. Salah satu urutan cara atau teknik
menggunakan hukum newton adalah sebagai berikut :
1. Menggambarkan sketsa kondisi kasusnya
2. Menganalisis kondisi tiap benda atau satu persatu dengan menggambar
diagram benda bebas dari benda tersebut. Tidak diperbolehkan untuk
menggambarkan gaya yang diberikan benda tersebut pada benda lain.
Gambar anak panah untuk setiap vektor gaya dengan cukup akurat hal
arah dan besar, beri tabel pada tiap gaya termasuk gaya-gaya yang harus
dicari. Jika ada beberapa benda yang terlibat, gambarlah diagram benda
bebas untuk setiap benda secara terpisah, dengan menunjukkan semua
gaya yang bekerja pada benda itu.
3. Menguraikan vektor ke vektor komponen. Hukum kedua Newton
melibatkan vektor, sehingga penguraian vektor menjadi komponen-
komponen vektor sangat penting. Seringkali komponen-komponen vektor
diuraikan ke arah sumbu X dan Y untuk memudahkan pengerjaan
kasusunya.
4. Jika komponen-komponen vektor telah diuraikan ke sumbu X dan Y
dengan baik, maka selanjutnya diperlukan analisis untuk kedua sumbu
tersebut. Untuk sumbu X maka analisisnya digunakan persamaan :
∑Fx = max ...........persamaan 2.4.4.a
dan hal yang sama berlaku untuk sumbu Y dengan persamaan :
∑Fx = may...........persamaan 2.4.4.b
5. Menyelesaikan persamaan untuk kedua sumbu
Contoh menggambar diagram benda bebas :

N F cos θ
F
θ y

F sin θ
x

fges
W
Keterangan :
Pada kasus diatas, kondisi benda tersebut adalah ditarik dengan gaya sebesar
F yang membentuk sudut  terhadap bidang vertikal. Karena gaya awal yang
diberikan pada benda membentuk sudut dengan sumbu x dan y, maka uraikan
terlebih dahulu gaya F menjadi komponen-komponennya, yaitu Fsin dan
Fcos. Setelah itu tentukan gaya yang berpengaruh lain, yaitu gaya berat W
yang arahnya adalah searah dengan sumbu y kebawah, gaya gesek yaitu fges
yang berarah ke sumbu x ke kiri. Gaya gesek digambar tidak dipusat benda
melainkan di daerah kontak benda dengan bidang agar memperlihatkan
konsep dari gaya gesek.
Setelah semua komponen gaya digambar dalam bentuk diagram benda bebas,
maka selanjutnya diperlukan analisis untuk masing-masing komponen yang
menghasilkan persamaan-persamaan dinamikanya.

2.5 Penerapan Hukum Newton Pada Kasus Statik dan Dinamik


2.5.1 Kasus Statik
Contoh soal :
Letakkan sebuah benda massa m di atas bidang miring dengan sudut
kemiringan  terhadap horizontal, seperti tampak pada Gambar 2.5.1.
a) Tinjau benda dalam keadaan diam. Apakah ada gaya-gaya yang
bekerja? Mengapa? Jika ada gaya-gaya yang bekerja, sebutkan
gaya tersebut!
b) Tentukan gaya normalnya dan T (tegang tali) pada benda!

Gambar 2.5.1 Kondisi


balok statis pada
bidang miring dengan
sudut kemiringan θ

Pembahasan :
a) Ada, karena benda tersebut pada dasarnya memiliki gaya, baik dari
benda tersebut dan sistem. Gaya yang bekerja pada benda tersebut
adalah gaya berat (W) dan gaya normal (N), sementara dari sistem
bekerja gaya tegang tali. Karena benda berada pada bidang miring
maka kerangka acuan sumbu x dan sumbu y mengacu pada sudut
yang dibentuk pada bidang miring tersebut.
b) Besarnya gaya yang bekerja pada benda tersebut adalah :

Sehingga pada sumbu y : ,


begitu juga pada sumbu x :
Pada sumbu y gaya – gaya yang bekerja adalah gaya normal (N)
dan gaya uraian dari berat terhadap sumbu y (W cos θ), maka
dalam menentukan besarnya gaya normal dapat dilakukan melalui
cara berikut:
∑F = 0
N - Wcos θ = 0
N = Wcos θ
Sementara pada sumbu x gaya – gaya yang bekerja adalah uraian
gaya berat terhadap sumbu x (W sin α), gaya gesek f dan gaya
tegangan tali T. Karena masih dalam kondisi statis maka gaya
gesek yang bekerja adalah gaya gesek statis. Sehingga dalam
menentukan besarnya tegangan tali,
∑F = 0
W sin θ – T – f = 0
T = W sin θ – f

2.5.2 Kasus Dinamis


Contoh soal :
Perhatikan Gambar 2.5.2, Balok A dan B masing – masing memiliki
massa mA, mB , dan benda berada pada bidang licin. (g = 10 m/s2)
a) Apakah balok A dan B bergerak? Mengapa? Jika bergerak ke mana
arahnya?
b) Berapa besarnya percepatan dan tegangan tali T dan T’ ketika itu?

A T
T’

Pembahasan : B
TT

a) Karena gaya gesekan yang bekerja pada sistem ini sama dengan
nol, maka sistem ini bergerak. Balok A bergerak karena gaya
tegang tali, sementara balok B bergerak akibat adanya gaya
berat. Sehingga balok A bergerak ke arah kanan dan balok B
akan bergerak ke arah bawah.
b) Tinjau Balok A

........ (1)

Tinjau Balok B

........ (2)
Substitusikan persamaan (1) ke (2) untuk mencari percepatan
balok

..... (3)

Substitusikan percepataan (3) ke persamaan (1) untuk mencari gaya


tegang tali pada balok A

Sementara gaya tegang tali pada balok B

2.6 Gaya Gesek Dalam Bidang Datar dan Bidang Miring dengan Berbagai
Kasus
2.6.1 Benda yang diletakan pada bidang datar dan ditarik dengan gaya
konstan
Permukaan bidang datar sangat licin (gesekan nol)

Pada gambar a, benda di tarik ke kanan dengan konstan F yang sejajar


horisontal, sedangkan pada gambar b, benda ditarik ke kanan dengan
gaya konstan F yang membentuk sudut terhadap horisontal.
Analisis :

Karena permukaan bidang datar sangat licin, maka kita mengkaitkan


gaya gesekan nol. Dalam kenyataannya gaya gesek tidak pernah
bernilai nol. Ini hanya model ideal. Selain gaya tarik F yang arahnya
ke kanan, pada benda juga bekerja gaya berat (W) dan gaya normal
(N). Pasangan gaya berat W dan gaya normal N bukan pasangan gaya
aksi-reaksi. Disebut gaya normal karena arah gaya tersebut tegak lurus
bidang di mana benda berada. Besar gaya normal sama dengan gaya
berat (N = W). Karena gaya normal (N) dan gaya berat (W) memiliki
nilai yang sama dan arahnya berlawanan maka kedua gaya tersebut
saling meniadakan. Pada gambar a, benda bergerak karena adanya
gaya tarik (F), sedangkan pada gambar b, benda bergerak karena
komponen gaya tarik pada arah horisontal (Fx).
Gambar a
Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y (vertikal) adalah :


Gambar b
Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y (vertikal) adalah :

Permukaan bidang datar kasar (ada gaya gesekan)


Pada kondisi ini kita tinjau benda yang diletakan pada bidang datar
yang kasar. Selain seperti yang telah diuraikan di atas, pada benda
juga bekerja gaya gesekan (Fg).
Analisis :
Gambar a
Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y (vertikal) adalah :

Gambar b
Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y (vertikal) adalah :


Gaya gesekan yang bekerja pada dua permukaan benda yang
bersentuhan, ketika benda tersebut belum bergerak disebut gaya gesek
statis. Gaya gesek statis yang maksimum sama dengan gaya terkecil
yang dibutuhkan agar benda mulai bergerak. Ketika benda telah
bergerak, gaya gesekan antara dua permukaan biasanya berkurang
sehingga diperlukan gaya yang lebih kecil agar benda bergerak dengan
laju tetap. Ketika benda telah bergerak, gaya gesekan masih bekerja
pada permukaan benda yang bersentuhan tersebut. Gaya gesekan yang
bekerja ketika benda bergerak disebut gaya gesekan kinetis. Ketika
sebuah benda bergerak pada permukaan benda lain, gaya gesekan
bekerja berlawanan arah terhadap kecepatan benda.

2.6.2 Benda yang diletakan pada bidang miring

Permukaan bidang miring sangat licin (gesekan nol)

Terdapat tiga kondisi yang berbeda, sebagaimana ditunjukkan pada


gambar di atas. Pada gambar a, benda meluncur pada bidang miring
yang licin (gaya gesekan = 0) tanpa ada gaya tarik. Jadi benda
bergerak akibat adanya komponen gaya berat yang sejajar bidang
miring (w sin θ). Pada gambar b, benda meluncur pada bidang miring
yang licin (gaya gesekan = 0) akibat adanya gaya tarik (F) dan
komponen gaya berat yang sejajar bidang miring (w sin θ). Pada
gambar c, benda bergerak akibat adanya komponen gaya tarik yang
sejajar permukaan bidang miring (F cos θ) dan komponen gaya berat
yang sejajar bidang miring (w sin θ).

Pada gambar a, Benda bergerak akibat adanya komponen gaya berat


yang sejajar permukaan bidang miring.
Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y (vertikal) adalah :

Pada gambar b, benda bergerak akibat adanya gaya tarik F dan


komponen gaya berat (w sin θ ) yang sejajar permukaan bidang
miring.

Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :


Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y adalah :

Pada gambar c, benda bergerak akibat adanya komponen gaya tarik F


yang sejajar permukaan bidang miring (F cos θ) dan komponen gaya
berat yang sejajar permukaan bidang miring (w sin θ).

Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y adalah :

Permukaan bidang miring kasar (ada gaya gesekan)


Pertama, benda bergerak pada bidang miring akibat adanya komponen
gaya berat yang sejajar permukaan bidang miring, sebagaimana
tampak pada gambar di bawah. Karena permukaan bidang miring
kasar, maka terdapat gaya gesekan yang arahnya berlawanan dengan
arah gerakan benda.

Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y adalah :

Kedua, benda bergerak pada bidang miring akibat adanya gaya tarik
(F) dan komponen gaya berat yang
sejajar permukaan bidang
miring (w sin θ ), sebagaimana tampak
pada gambar di bawah. Karena permukaan
bidang miring kasar, maka
terdapat gaya gesekan (fg) yang arahnya berlawanan dengan arah
gerakan benda.

Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y adalah :

Ketiga, benda bergerak akibat adanya komponen gaya tarik yang


sejajar permukaan bidang miring (F cos θ) dan komponen gaya berat
yang sejajar bidang miring (w sin θ). Karena permukaan bidang
miring kasar, maka terdapat gaya gesekan (fg) yang arahnya
berlawanan dengan arah gerakan benda.

Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y adalah :


BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
 Gaya ialah suatu tarikan atau dorongan yang dapat menimbulkan
perubahan gerak, maka gaya digolongkan sebagai vektor.
 Massa benda selalu sama dimanapun benda itu diletakkan. Tetapi, berat
benda tergantung pada gaya gravitasi, maka berat suatu benda tergantung
pada dimana benda itu berada. Hubungan antara berat dan massa dapat
dinyatakan , w = m.g
 Hukum I Newton:
Dalam kerangka inersial, setiap benda akan tetap dalam keadaan diam atau
bergerak lurus beraturan jika resultan gaya yang bekerja padanya adalah
nol. Secara matematis :
 Hukum II Newton:
Percepatan yang ditimbulkan oleh gaya yang bekerja pada sebuah benda
besarnya berbanding lurus dengan gaya tersebut, searah dengan gaya

tersebut, dan berbanding terbalik dengan massanya. Secara matematis :

 Hukum III Newton:


Setiap gaya mekanik selalu muncul berpasangan, yang satu disebut aksi
dan yang lain disebut reaksi, sedemikian sehingga Faksi =  Freaksi
 Penggambaran diagram benda bebas adalah menggambar semua gaya
yang berpengaruh pada benda untuk memudahkan perhitungan.
 Konsep hukum Newton dapat diterapkan dalam kasus-kasus mekanika
sederhana (dinamika gerak) baik dalam kondisi statis atau dinamis.
 Gaya gesek adalah gaya yang timbul jika ada dua benda atau lebih saling
digesekan atau bersinggungan dengan salah satu atau kedua permukaan
benda kasar. Gaya gesek statis adalah gaya gesek yang dimiliki oleh benda
jika benda tesebut diberi gaya dorong atau gaya tarik namum belum dapat
bergerak. Sedangkan gaya gesek kinetis adalah gaya gesek yang
dikerjakan permukaan lintasan pada benda sewaktu benda bergerak.
 Gaya gesek dapat terjadi pada berbagai kasus, baik itu terjadi pada
dibidang datar atau pun di bidang miring yang permukaannya kasar.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Mahasiswa sehendaknya lebih mendalami konsep terkait dengan
mekanika klasik seperti dinamika gerak sederhana.
2. Hendaknya para mahasiswa banyak berlatih dalam menyelesaikan
masalah-masalah yang berkaitan dengan teori dinamika gerak.
DAFTAR PUSTAKA
Giancoli, D.C. 1998. Fisika Jilid 1. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga
Halliday-Resnick. 1998. Fisika Jilid 1. Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
http://cobaberbagi.wordpress.com/category/fisika-sehari-hari.html