Anda di halaman 1dari 9

a.

Money
1. Sumber pembiayaan Rumah Sakit
Rumah sakit Dustira TK II Cimahi merupakan Rumah Sakit Angkatan Darat
dibawah pimpinan Kementrian Pertahanan, Kementrian Keuangan, Kementrian
Kesehatan, dan juga dibawah pimpinan Pemerintah. Sumber dana RS Dustira TK II
Cimahi didapatkan dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) melalui sistem
pengajuan RBA (Rencana Bisnis Anggaran). Setelah RBA keluar dituangkan kedalam
anggaran diberikan akun dan MAP sebagai data akuntansi laporan keuangan. Adapun
sumber dana atau pembiayaan Rumah Sakit didapatkan juga dari Kementrian
Pertahanan yang mengajukan lagi ke PUSKESAD (Pusat Kesehatan Angkatan Darat).
Rancangan Anggaran Belanja Rumah Sakit yang meliputi :
a. Operasional (kegiatan pelayanan)
b. Manajemen (pembayaran pegawai, listrik, air, telepon, dan lain-lain)
c. Pengembangan (sarana, prasarana dan sumber daya manusia)
Untuk pendanaan bahan habis pakai (bahan untuk kebutuhan sehari-hari)
memakai dana yang diambilkan dari pemasukan rumah sakit, dan juga melalui bagian
pengadaan barang rumah sakit. Dari ruangan rawat inap, Kepala ruangan yang
mengajukan ke pihak instalasi rawat inap lalu dari instalasi rawat inap diajukan ke
pihak manajemen rumah sakit, dari pihak manajemen dipilah terlebih dahulu setelah
itu lalu pihak manajemen mengajukan ke bendahara rumah sakit. Kepala ruangan
terlibat dalam penyusunan anggaran untuk pengajuan kebutuhan bahan habis pakai
tersebut.
Selain itu, jika ada kebutuhan penunjang yang lebih besar, seperti pengajuan
kebutuhan untuk mesin-mesin diagnostik seperti CT Scan, dan yang lainnya, dari
pihak penunjang melaporkan langsung ke pihak manajemen dan bendahara, lalu pihak
manajemen yang akan melaporkan ke pihak Kementrian Keuangan untuk ditindak
lanjuti lebih lanjut, lalu dari Kementrian Keuangan melakukan pengajuan lagi ke
Pemerintah dan juga ke Kementrian pertahanan. Untuk biaya operasional, tidak ada
biaya operasional yang dibebankan ke pihak Rumah Sakit untuk pengajuan kebutuhan
tersebut.
2. Sumber gaji pegawai
Sumber dana gaji pegawai golongan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di RS Dustira
TK II Cimahi berasal dari pemerintah, sedangkan sumber dana gaji pegawai Non-PNS
berasal dari rumah sakit itu sendiri yang diatur sesuai dalam Permenkes No.
147/PMK.05/2013 tentang BLU (Badan Layanan Umum). Gaji tersebut diberikan oleh
Rumah Sakit sesuai dengan Standar Penggajian Rumah Sakit yang didalamnya
memperhatikan tentang lama bekerja pegawai, dan juga berdasarkan pendidikan
pegawai. Adapun sistem remunerasi diberikan kepada pegawai golongan PNS yang
diberikan setiap awal bulan dengan tanggal yang tidak bisa ditentukan, pembagian
remunerasi diberikan kepada pegawai PNS berdasarkan golongan dan pangkat pegawai
PNS tersebut.
Selain remunerasi, pegawai golongan PNS juga mendapatkan jasa insentif
pelayanan yang diberikan setiap bulan dengan tanggal yang tidak bisa ditentukan. Jasa
pelayanan insentif didapatkan dari hasil pengklaiman BPJS sesuai dengan jumlah
pasien yang tersedia, kemudian dikelola oleh Rumah Sakit dan dari Rumah Sakit
diberikan lagi ke setiap ruangan sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh ruangan
tersebut baik itu tindakan medis, non medis, maupun alat-alat kesehatan dan inventaris
ruangan yang menunjang tindakan tersebut.
Untuk pegawai non-PNS diberikan jasa insentif pelayanan yang diberikan setiap
bulan, dengan jumlah insentif yang didapatkan oleh pegawai sesuai dengan tindakan
yang sudah dilakukan. Selain itu pegawai PNS beserta BLU Non-PNS tetap
mendapatkan bonus saat hari raya Idul Fitri atau pihak Rumah Sakit menyebutnya
dengan THR (Tunjangan Hari Raya).
Adapun jaminan kesehatan karyawan bagi tenaga PNS dan non PNS yaitu
diberikan jaminan kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS
kesehatan dan ketenagakerjaan).
BPJS kesehatan merupakan badan hukum publik yang bertanggung jawab
langsung kepada Presiden dan memiliki tugas untuk menyelenggarakan jaminan
Kesehatan Nasional bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama untuk Pegawai Negeri
Sipil, penerima pensiun PNS dan TNI/POLRI, veteran, perintis kemerdekaan beserta
keluarganya dan badan usaha lainnya ataupun rakyat biasa.
3. Sumber pembiayaan pasien
Sumber pembiayaan pasien di Rumah Sakit Dustira TK II Cimahi berasal dari
sumber pembiayaan pasien umum dan pembiayaan pasien peserta jaminan kesehatan
nasional (JKN). Begitu pula sumber pendapatan Rumah Sakit Dustira TK II Cimahi
berasal dari pembayaran pasien umum dan pasien peserta jaminan kesehatan nasional
(JKN).
Ruang Cikuray 1 merupakan ruang rawat inap yang di khususkan untuk pasien
dinas seperti anggota TNI, dan juga PNS angkatan darat beserta keluarganya yang
memiliki jaminan kesehatan nasional ataupun BPJS (kesehatan dan ketenagakerjaan).
Adapun pembiayaan pasien dan pendapatan di Ruang Cikuray 1 hanya berasal dari
pembayaran pasien peserta jaminan kesehatan nasional (JKN).
a. Pasien Umum
Pembayaran yang dilakukan sepenuhnya oleh pasien
b. Pasien Peserta jaminan kesehatan nasional (JKN)
Setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di
Indonesia, yang telah membayar iuran, meliputi :
1) Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Non PBI), terdiri dari :
a) Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya
b) Pegawai Negeri Sipil;
c) Anggota TNI;
d) Anggota Polri;
e) Pejabat Negara;
f) Pegawai Pemerintah non Pegawai Negeri;
g) Pegawai Swasta; dan
h) Pekerja yang tidak termasuk huruf a sd f yang menerima upah. Termasuk
WNA yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan.
2) Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya
a) Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri; dan
b) Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima Upah. Termasuk
WNA yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan.
3) Bukan pekerja dan anggota keluarganya
a) Investor;
b) Pemberi Kerja;
c) Penerima Pensiun, terdiri dari :
- Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun;
- Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun;
- Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun;
- Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun yang
mendapat hak pensiun
- Penerima pensiun lain dan Veteran
- Perintis Kemerdekaan
- Janda, duda, atau anak yatim piatu dari Veteran atau Perintis
Kemerdekaan; dan
- Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sd e yang mampu
membayar iuran.
4. Tata Cara Pembayaran dan Penagihan
Pasien BPJS datang kemudian dilakukan pemeriksaan, setelah itu muncul
diagnosa dan dicoding lalu direkap menggunakan Formulir Pengajuan Klem (FPK),
pembayaran dilakukan dengan melengkapi persyaratan BPJS seperti resume medis dan
melampirkan hasil lab dan rontgen jika ada. Pasien BPJS tidak dikenakan biaya apapun,
untuk persyaratan masuk RS ada 2 pintu :
1) Melalui UGD (Khusus untuk kegawatdaruratan)
2) Melalui poliklinik, adapun alurnya yaitu :
a) Membawa rujukan dari PPK 1
b) Rujukan dibawa ke pendaftaran BPJS untuk dibuatkan SEP rawat jalan
c) Setelah di periksa dan dinyatakan dirawat oleh Dokter, SEP dirubah menjadi SEP
rawat inap
d) Booking ruangan jika kosong bisa langsung masuk, dan jika penuh bisa dititipkan
terlebih dahulu di ruangan lain.
5. Sistem anggaran ruangan (Botton up)
1) Botton up
Button Up adalah perencanaan yang dibuat berdasarkan kebutuhan, keinginan dan
permasalahan yang dihadapi oleh bawahan bersama-sama dengan atasan
menetapkan kebijakan atau pengambilan keputusan dan atasan juga berfungsi
sebagai fasilitator. Sedangkan dalam pengertian dibidang pemerintahan, button up
atau perencanaan bawah adalah perencanaan yang disusun berdasarkan kebutuhan
mereka sendiri dan pemerintah hanya sebagai fasilitator.
Dari bawah ke atas (botton-up), pendekatan ini merupakan upaya melibatkan
semua pihak sejak awal, sehingga setiap keputusan yang diambil dalam perencanaan
adalah keputusan mereka bersama, dan mendorong keterlibatan dan komitmen
sepenuhnya untuk melaksanakannya. Kelemahannya memerlukan banyak waktu dan
tenaga untuk perencanaa, diperlukan pengembangan budaya perusahaan yang
sesuai.
1) Kelebihan botton up
a) Peran masyarakat dapat optimal dalam mmberikan masukan atau ide-ide
kepada pemerintah dalam melanjankan suatu program
b) Tujuan yang diinginkan akan berjalan sesuai dengan keinginan
c) Atasan tidak perlu bekerja secara optimal karena ada peran yang lebih banyak
d) masyarakat akanlebih kreatif dalam mengeluarkan ide-ide yang akan
digunakan dalam penyusunan anggaran
2) Kelemahan botton up
a) Atasan tidak begitu berharga karena perannya tidak begitu benar
b) Hasil dari suatu program tersebut belum tentu baik karena adanya perbedaan
tingkat pendidikan dan bisa dikatakan cukup rendah bila dibandingkan
pegawai pemerintahan
c) Hubungan masyarakat dengan pemerintah tidak akan lebih baik karena
adanya silih faham atau munculnya ide-ide yang berbeda dan akan
menyebabkan kerancuan bahkan salah faham antara masyarakat dengan taan
dikarenakan kurng jelasnya masing-masing tugas dan pemerintah dan juga
masyarakat.
Hasil Kajian
Dari hasil konfirmasi pada tanggal 19 Februari 2019 didapatkan hasil menurut kepala
ruangan dan CI (Clinical Instruktur) bahwa ruang Cikuray 1 menggunakan sistem anggaran
botton up, dimana kebutuhan di ruangan Cikuray 1 diperoleh melalui pengadaan ke pihak
Rumah Sakit (selaku atasan) oleh kepala ruangan (selaku bawahan). Perencanaan mulai dari
kebutuhan alat-alat medis, inventaris ruangan, maupun kebutuhan lain diruangan harus
dilakukan melalui perencanaan terlebih dahulu sebelum akhirnya diajukan ke Rumah Sakit
lalu akan diproses melalui bagian pengadaan. Tidak ada biaya operasional tersendiri yang
diberikan Rumah Sakit kepada setiap ruangan. Untuk pembiayaan seluruh kebutuhan di
ruangan diperoleh dari anggaran BLU Rumah Sakit, kementrian dan juga dari pemerintah.
Selama proses pengadaan diketahui tidak ada kendala saat mengajukan permintaan dari
ruangan, untuk jangka waktu pengadaan barang biasanya sesuai dengan jenis dan kebutuhan
barang tersebut.
Analisa SWOT Money

Analisa SWOT Bobot Rating Bobot x


Rating
M4 (MONEY)
Kekuatan (S)
1. Selain gaji pokok, Pegawai 0,3 4 0,12
RS Dustira TK II Cimahi
juga mendapatkan upah
remunerasi dan jasa insentif
2. Pegawai memiliki jaminan 0,2 3 0,6
BPJS
3. Pengajuan kebutuhan 0,2 3 0,6
ruangan oleh karu S-W
4. Adanya tunjangan hari raya 0,3 4 0,12 (1,44-1)
= 0,44

Total 1 1,44
5.
Kelemahan (W)
1. Tidak ada tabungan pesiunan 1 1 1

Total 1 1
Peluang (O)
1. Adanya program BPJS yang 1 4 4
dapat diikuti oleh semua
masyarakat, sehingga faskes
digunakan secara optimal dan O-T
akan mempengaruhi (4-0)
pendapatan rumah sakit =4
Total 1 4

Ancaman (T) - - -

Total
E. Prioritas Masalah

Berdasarkan hasil analisa SWOT yang sudah dilakukan, didapatkan prioritas masalah

manajemen unit secara umum dari Ruang Cikuray 1 RS Dustira :

Tabel 3.2. Prioritas Masalah Manajemen Unit Secara Umum Dari Ruang Cikuray 1
RS Dustira

Skoring Analisa SWOT


No Masalah Jumlah
IFAS EFAS

1.

2.

3.

4. M4 : Money 0,44 4 4,44

5.

Berdasarkan tabel di atas, didapatkan hasil masalah yang paling menonjol dari ruang rawat

inap Cikuray 1 RS Dustira adalah pada M3, sedangkan menurut prioritasnya, masalah

manajemen dalam Keperawatan di Cikuray 1 RS Dustira adalah sebagai berikut:

1.

2.

3.

4. M4 Money : 4,44

1.
2.

3.

4. M4: Money

Dari hasil analisa SWOT, ditemukan bahwa matriks space M4 (Money) berada pada

Kuadran I (Strategi Agresif) yang artinya dalam pelaksanaan manajemen strategi, ruang rawat inap

Cikuray 1 RS Dustira dapat menggunakan strategi SO (Kekuatan – Peluang), yaitu dengan cara

memanfaatkan kekuatan internal untuk menarik keuntungan dari peluang di lingkungan eksternal.

Kekuatan utama yang dimiiki Ruang Dahlia adalah Selain gaji pokok, pegawai RS Dustira juga

mendapat upah remunisasi dan gaji yang didapatkan oleh pegawai sudah sebanding dengan kerja

perawat ruang Cikuray 1