BAB 1.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian
integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan
pelayanan paripurna (komperehensif), penyembuhan penyakit (kuratif dan
pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga
merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medis.
Rumah sakit terdiri dari beberapa unit pelayanan, salah satu diantaranya adalah
unit pelayanan instalasi Rekam Medis. Rekam medis merupakan unit yang
bertugas menyelenggarakan pelayanan medis dan melakukan pemantauan setiap
unit pada pelayanan di rumah sakit.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang
rekam medis dijelaskan bahwa rekam medis adalah berkas yang diberisikan
catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pngobatan, tindakan
dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.
Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat
pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiannya. UU RI
No 29 tahun 2004 tentang praktik Kedokteran Pasal 47 “Dokumen rekam medis
sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 merupakan milik dokter, dokter gigi,
atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik
pasien. Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disimpan dan
dijaga kerahasian nya oleh dokter atau dokter gigi dan petugas sarana
pelayanan kesehatan.”
Menurut Savitri, 2011 Sistem penomoran adalah tata cara penulisan
nomor yang diberikan kepada pasien yang datang berobat sebagai bagian dari
identitas pribadi pasien yang bersangkutan. Sistem penomoran dibagi menjadi 3
sistem, yaitu pemberian nomorcara seri/serial numbering system (SNS),
pemberian nomor cara unit/unit numbering system (UNS) dan pemberian nomor
cara seri unit/serial unit numbering system (SUNS).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 14 januari
2019 di Rumah Sakit Umum Anna Medika Madura, peneliti mendapati
terjadinya penduplikasian nomor rekam medis pada dokumen rekam medis
pasien rawat jalan. Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas rekam medis di
Rumah Sakit Umum Anna Medika Madura, petugas mengatakan bahwa
penduplikasian nomor rekam medis terjadi dikarenakan berkas rekam medis
tidak ditemukan saat dibutuhkan, kemudian petugas membuatkan nomor baru,
sehingga ketika pasien mendaftar ditemukan nomor ganda. Jika hal tersebut
dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, dapat berakibat pada petugas ketika
mencari dokumen rekam medis.
Dijelaskan yang dijumpai peneliti saat observasi
1. Format numbering nya seperti apa (sns/uns/suns)
2. Duplikasi (dijelaskan duplikasinya seperti apa. Berapa
banyak dalam 1 kali observasi. )
3. Berdasarkan sistem penooran yang ada di RS, pebeliti
menemukan adanya ketidak sesuaian antara aturan
penomoran rekam medis dan praktek penomoran rekam
medis.
4. Berdasarkan observasi peneliti ditemukan masalah lain
yang timbul akibat duplikasi berupa
A.
B.
c.
Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti ingin menganalisis lebih
dalam lagi faktor-faktor penyebab duplikasi nomor rekam medis pada pasien
rawat jalan di Rumah Sakit Umum Anna Medika Madura dengan menggunakan
analisis 5M yaitu sumber daya manusia (Man), dana (Money), bahan atau
fasilitas (Matherial), peralatan (Machine) dan metode (Method).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Apa saja faktor penyebab duplikasi nomor rekam medis di
Rumah Sakit Umum Anna Medika Madura”
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui analisa faktor duplikasi nomor rekam medis rawat inap
berdasarkan metode fishbone di Rumah Sakit Umum Anna Medika Madura.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui faktor penyebab duplikasi nomor rekam medis ditinjau dari
aspek “Man”
b. Mengetahui faktor penyebab duplikasi nomor rekam medis ditinjau dari
aspek “Money”
c. Mengetahui faktor penyebab duplikasi nomor rekam medis ditinjau dari
aspek “Method”
d. Mengetahui faktor penyebab duplikasi nomor rekam medis ditinjau dari
aspek “Material”
e. Mengetahui faktor penyebab duplikasi nomor rekam medis ditinjau dari
aspek “Machine”
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi rumah sakit
umum dalam merancang dan membuat kebijakan mengenai penomoran berkas
rekam medis, agar tidak terjadi penomoran duplikasi atau ganda.
1.4.2 Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan dan penyusunan
karya tulis ilmiah dan mampu mengembangkan penelitian selanjutnya yang
lebih mendalam terkait tentang duplikasi penomoran ganda.
1.4.3 Bagi Instalasi Pendidikan Akademi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan
yang berarti bagi yang akan datang sehingga meningkatkan kualitas proses
belajar mengajar.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
2.1.2 Faktor – Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Duplikasi Penomoran Berkas
Rekam Medis Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan Tahun
2016 ( Ali Sabela Hasibuan, 2016)
Penomoran nomor rekam medik yang baik merupakan salah satu kunci
keberhasilan atau kebaikan manajemen rekam medis dari suatu pelayanan
kesehatan, tentunya jika didukung dengan sistem yang baik.Sumber daya
manusia yang bermutu dan prosedur atau tata kerja yang baik serta sarana atau
fasilitas yang memadai. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apa saja faktor
penyebab terjadinya penduplikasian nomor rekam medis di Rumah Sakit
Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan Tahun 2016.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan metode
penelitian pendekatan kuantitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah
rancangan cross-sectional. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah observasi .Populasi sebanyak 7200 berkas rekam medis dan sampel
sebanyak 720 berkas rekam medis.Sebagai responden adalah berkas rekam
medis. Dari hasil penelitian diperoleh nahwa nomor rekam medis yang terjadi
duplikasi sebanyak ( 1,45%) dan nomor rekam medis yang tidak terduplikasi
sebanyak( 98,63%).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
dengan adanya sistem komputerisasi di rumah sakit umum imelda pekerja
Indonesia medan akan menjadi baik apabila petugas benar-benar
memperhatikan kinerjanya sehingga tidak akan menimbulkan kekeliruan dalam
penomoranrekam medis supaya pelayanan lebih maksimal.
2.1.3 Analisis Faktor _ Faktor Penyebab Duplikasi Nomor Rekam Medis Di Rumah
Saklt Daerah Balung Jember Periode 2012 (Faiqotul Hikmah, 2012)
Berdasarkan survei pendahuluan terdapat 32 berkas rekam medis pasien
rawat inap yang terduplikasi pada bulan Januari 2012 sampai Juli 2012. Hal ini
mengakibatkan informasi medis tidak berkesinambungan dan menunjukan mutu
rekam medis yang kurang baik. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk
meneliti lebih dalam faktor-faktor penyebab duplikasi nomor rekam medis di
tempat penerimaan pasien rawat inap rumah sakit daerah Balung Jember.
Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya
duplikasi nomor rekam medis pasien rawat inap di rumah sakit daerah Balung
Jember dengan menerapkan metode fishbone.
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sampel
pada penelitian ini yaitu 1 kepala rekam medis dan 3 petugas penerimaan pasien
rawat inap dengan instrument pedoman wawancara dan observasi. Teknik
penyajian data dalam penelitian ini yaitu textltlar dan menggunakan teknik
analisis kualitatif' Rumah sakit daerah Balung Jember sudah ada standard
operating Proceclttre (SOP) penemoran rekam medis. Berdasarkan penelitian
petugas pendaftaian berjumlah 3 orang dan dibagi dalam 3 sift, duplikasi nomor
rekam medis disebabkan oleh beberapa faktor yaitu terdapat pada faktor man
meliputi: (jenis kelamin, pendidikan, beban kerja), methods (pemahaman
standar operasional prosedur), material (kelengkapan sarana prasarana).
2.2 State Of The Art
Berdasarkan kedua referensi penelitian sebelumnya karya tuls ilmiah
diatas, maka tugas akhir yang berjudul “ Analisa faktor duplikasi nomor
rekam medis rawat inap berdasarkan metode fishbone di rumah sakit umum
anna meika Madura”mempunyai persamaan dan perbedaan yang ditunjukkan
pada table 2.1
Materi Ali Sabela Hasibuan Faiqotul Hikmah Safarin Nisa’I
Qonitin
Judul Faktor – Faktor Yang Analisis Faktor _ Analisa Faktor
Menyebabkan Faktor Penyebab Duplikasi Nomor
Terjadinya Duplikasi Duplikasi Nomor Rekam Medis
Penomoran Berkas Rekam Medis Di Rawat Jalan
Rekam Medis Rumah Rumah Saklt Berdasarkan
Sakit Umum Imelda Daerah Balung Metode fishbone
Pekerja Indonesia Jember
Medan
Tahun 2016 2012 2019
Objek Petugas pendaftaran
pasien rawat jalan
pada tahun 2016
Metode Deskriptif dengan Deskriptif Deskriptif
metode penelitian kualitatif kualitatif
pendekatan kuantitatif.
2.3 Rekam Medis
2.3.1 Pengertian Rekam Medis
Menurut PERMENKES No.269/MENKES/PER/III/2008 rekam medis
adalah berkas berisikan catatan dan dokumen antara lain identitas pasien, hasil
pemeriksaan, pengobatan yang telah di berikan, serta tindakan dan pelayanan
lain yang telah di berikan kepada pasien, catatan merupakan tulisan – tulisan
yang dibuat oleh dokter atau dokter gigi mengenai tindakan – tindakan yang
telah di lakukan kepada pasien dalam rangka pelayanan kesehatan.
Undang – undang republik indonesia No. 44 tahun 2009 Rumah sakit
adalah institusi pelayanan kesehatan dengan karakteristik tersendiri yang
dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan
teknologi dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu
meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkaunoleh masyarakat
agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi –tingginya.
Menurut Rustiyanto 2009, rekam medis adalah siapa, apa, dimana dan
bagaimana perawatan pasien selama di rumah sakit, untuk melengkapi rekam
medis harus memiliki data yang cukup tertulis dalam rangkaian kegiatan guna
menghasilkan suatu diagnosa, jaminan, pengobatan dan hasil akhir.
Bentuk rekam medis dalam berupa manual yaitu tertulis lengkap dan
jelas dan dalam bentuk elektronik sesuai ketentuan, rekam medis terdiri
catatan-catatan data pasien yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan.
Catatan-catatan data tersebut sangat penting untuk pelayanan kesehatan.
Catatan tersebut sangat penting untuk pelayanan bagi pasien karena dengan
data yang lengkap dapat memberikan informasi dalam menentukan informasi
dalam menentukan keputusan baiknpengobatan, penanganan, tindakan medis,
dan lainnya. Dokter dan dokter gigi diwajibkan membuat rekam medis sesuai
aturan yang berlaku.
2.3.2 Kegunaan rekam medis
Kegunaan rekam medis secara umum antara lain sebagai berikut :
1. Sebagai alat komunikasi antara dokter dengan tenaga ahlinya yang ikut
ambil bagian di dalam memberikan pelayanan pengobatan, perawatan kepada
pasien.
2. Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus
diberikan kepada seorang pasien.
3. Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan, pengembangan
penyakit, dan pengobatan selama paien berkunjung/ dirumah sakit.
4. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun
dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
5. Menyediakan data – data khususnya yang sangat berguna untuk
penelitian dan pendidikan.
6. Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan
medik pasien terhadap program pelayan serta kualitas pelayanan.
7. Sebagai bahan yang berguna untuk menganalisa, penelitian dan
evaluasi
8. Menjadi sumber ingatan yang harus di dokumentasikan, serta sebagai
bahan pertanggung jawaban dan laporan.
2.3.3 Sistem penomoran
Sistem penomoran rekam medis adalah cara dalam pemberian nomor
rekam medis. Sistem penomoran rekam medis berdasarkan internasional
federation of healt records organizations diantaranya adalah :
a. Sistem penomoran seri (Serial Numbering System)
Dengan sistem ini penderita mendapat nomor baru setiap kunjungan ke
rumah sakit, jika ia berkunjung lima kali maka ia akan mendapatkan lima
nomor yang berbeda.
b. Sistem penomoran unit(Unit Numbering System)
Sistem ini memberikan satu nomor rekam medis baik pada pasien
berobat jalan maupun rawat inap. Pada saat seorang penderita berkunjung
pertama kali ke rumah sakit apakah sebagai pasien rawat jalan atau rawat inap
kepadanya diberikan satu nomor(admitting number) yang akan dipakai
selamanya untuk kunjungan seterusnya. Sehingga rekam medis penderita
tersebut hanya tersimpan di dalam berkas di bawah satu nomor.
c. Sistem Penomoran Seri-Unit(serial seri unit numbering system)
Sistem penomoran ini merupakan sistematis antara sistem seri dan
sistem unit. Setiap pasien yang berkunjung di rumah sakit kepadanya di
berikan satu nomor baru, tetapi rekam medisnya yang terdahulu digabungkan
dan disimpan dibawah nomor yang paling baru,satu rumah sakit biasa
membuat satu bank nomor, nomor-nomor disusun dalam satu buku induk atau
buku register yang mana diberikan padaa satu orang yang khusus menangani
distribusi nomor.
2.3.4 Metode Fishbone
Metode diagram Fishbone ditemukan oleh Ishikawa. Metode ini dipakai
untuk membantu dan memampukan setiap orang ataupun organisasi dalam
mengidentifikasi faktor penyebab masalah dan menyelesaikan masalah
dengan tuntas sampai ke akarnya demi perbaikan kinerja dan mutu.
Untuk mengidentifikasi penyebab permasalahan di atas dan melihat
faktor-faktor yang berpengaruh dan mempunyai akibat pada faktor utama
pelayanan kesehatan tersebut, maka diusulkan penggunaan metode fishbone
(Labola, 2017).
1. Konsep Fishbone
Fishbone Diagrams adalah konsep analisis sebab akibat untuk
mendeskripsikan suatu permasalahan dan penyebabnya dalam sebuah
kerangka tulang ikan. Menurut, Watson (2004) mendefinisikan diagram
Fishbone sebagai alat yang menggambarkan sebuah cara yang sistematis
dalam memandang akibat dan penyebab yang berkontribusi dalam berbagai
dampak tersebut.
2. Metode
Metode yang digunakan dalam analisis tulang ikan (fishbone analysis)
yakni mencari akar masalah. Akar permasalahan dirumuskan dalam analisis
5M yaitu:
1) Man (Sumber Daya Manusia). Segala hal permasalahan yang terkait
dengan sumber daya manusia dilihat dari aspek : kuranngnya ketelitian petugas
pendaftaran, kurangnya petugas filling, kelelahan, , dll
2) Machine (Mesin, peralatan, Infrastruktur). Segala masalah yang terkait
dengan aspek peralatan, mesin maupun physical tools lainnya. Misalnya :
perawatan mesin-mesin, fasilitas pendukung mesin, ketidaklengkapan
mesin/peralatan, pengkalibrasian mesin/tools yang tidak standar, daya tahan
mesin yang lemah, kesulitan dalam penggunaan mesin, mesin tidak user-
operability, dst.
3) Methods (Metode dan prosedur kerja). Segala hal masalah terkait
dengan metode dan prosedur kerja. Misalnya prosedur kerja tidak ada, prosedur
kerja tidak jelas, metode sulit dipahami, metode tidak standar, metode tidak
cocok, metode yang bertentangan dengan metode lainnya dll.
4) Materials (material bahan baku utama, bahan baku penolong).
Berkaitan dengan ketersediaan bahan baku utama atau bahan baku penolong
yang terkait dengan akar masalah, dengan melihat aspek: kualitas bahan baku
tidak sesuai standar, bahan baku tidak lengkap, kuantitas bahanbaku tidak
seragam, ukuran dan spesifikasi tidak standar dst.
5) Money (uang dan finansial). Berkaitan dengan aspek keuangan dan
finansial yang belum mendukung dan mantap. Misalnya : ketidaktersediaan
anggaran.
2.4 Kerangka Konsep
Kerangka konsep pada dasarnya adalah hkerangka hubungan antara
konsep – konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian–penelitian
yang akan dilakukan.
Kerangka konsep dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
faktor-faktor penyebab terjadinya duplikasi penomoran rekm medis pada pasien
rawat jalan di Rumah Sakit Umum Anna Medika Madura 2019.
Kerangka konsep di bagi jadi beberapa bagan
Bagan ke 1 : Objek yang di teliti (Duplikasi No RM)
Bagan ke 2 : metode (fish bone -di tuliskan satu satu)
Bagan ke 3 : tujuan (untuk …..)
Faktor – faktor penyebab terjadinya duplikasi
penomoran berkas rekam medis yaitu :
Ketepatan pemberian penomoran
1. Kurangnya petugas di filling
berkas rekam medis
2. Kurangnya ketelitian petugas pendaftaran
saat mendaftarkan pasien