Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ginjal merupakan bagian tubuh yang memiliki fungsi vital bagi tubuh
kita, merupakan organ ekskresi yang berbentuk mirip kacang yang berfungsi
menyaring urea dari darah dan membuangnya bersama air dalam bentuk urin.
Penyakit gagal ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan dan pembuangan elektrolit tubuh, tidak mampu
menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh, seperti sodium, kalium
dalam darah atau tidak mampu dalam memproduksi urin (1). Fungsi ginjal
secara umum antara lain yaitu sebagai ultrafiltrasi yaitu proses ginjal dalam
menghasilkan urine, keseimbangan elektrolit, pemeliharaan keseimbangan
asam basa, eritropoiesis yaitu fungsi ginjal dalam produksi eritrosit, regulasi
kalsium dan fosfor atau mengatur kalsium serum dan fosfor, regulasi tekanan
darah, eksresi sisa metabolik dan toksin (2).
Keadaan kedua ginjal yang gagal menjalankan fungsinya dengan baik
disebut dengan GGK atau Gagal Ginjal Kronik(3). GGK merupakan suatu
penurunan fungsi jaringan ginjal secara progresif sehingga masa ginjal yang
masih ada tidak mampu lagi mempertahankan lingkungan internal tubuh.
Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 mengemukakan
bahwa angka kejadian GGK di seluruh dunia mencapai 10% dari populasi,
sementara itu pasien GGK yang menjalani hemodialisis diperkirakan
mencapai 1,5 juta orang di seluruh dunia. Angka kejadiannya diperkirakan
meningkat 8% setiap tahunnya. GGK menempati penyakit kronis dengan
angka kematian tertinggi ke-20 di dunia. Data Indonesia Renal Registry (IRR)
pada tahun 2015 mengemukakan bahwa di Indonesia, jumlah pasien GGK
yang mendaftar ke Instalasi hemodialisis terus meningkat 10% setiap
tahunnya. Prevalensi GGK diperkirakan mencapai 400 per 1 juta penduduk
dan prevalesi pasien GGK yang menjalani hemodialisis mencapai 15.424
pada 2015 (4). Berdasarkan data IRR pada tahun 2015 tersebut dapat
diketahui bahwa sampai dengan tahun 2015, sebanyak 15.424 orang
penduduk Indonesia mengalami ketergantungan pada hemodialisa (4).
Hasil survei yang dilakukan oleh Pernefri tahun 2012 (5) menyatakan
bahwa sebanyak 83% pasien gagal ginjal berada dalam tahap terminal. Pada
tahap ini telah terjadi penurunan fungsi ginjal sehingga keseimbangan cairan,
elektrolit dan asam basa didalam darah terganggu . Gagal ginjal dapat
disebabkan oleh bermacam-macam penyakit (6). Menurut Pernefri (5),
penyebab penyakit ginjal kronik pada pasien hemodialisis baru antara lain
glomerulopati primer 14%, nefropati diabetika 27%, nefropati lupus 1%,
penyakit ginjal hipertensi 34%, ginjal polikistik 1%, nefropati asam urat 2%,

1
nefropati obstruksi 8%, pielonefritis kronik 6%, lain-lain 6% dan tidak
diketahui 1%.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates merupakan rumah sakit tipe
B pendidikan yang telah menjalankan unit hemodialsis mulai dari tahun 2010
dengan kapasitas 8 mesin hemodialysis dengan 3 shift pagi, siang, malam
dengan lama Hemodialisa 4 jam. Total pasien rutin di unit hemodialisis sejak
tahun 2015 sebanyak 80 orang. Seluruh pasien hemodialisis menggunakan
asuransi kesehatan berupa BPJS.
Di Indonesia penatalaksanaan pada pasien gagal ginjal yang paling sering
dilakukan adalah terapi pengganti. Terapi pengganti yang sering digunakan
adalah hemodialisis, sebanyak 78% dibanding terapi pengganti lainnya (5).
Terapi hemodialisis adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti
untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolism atau racun tertentu dari peredaran
darah manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen, urea, kreatinin, asam
urat, dan zat-zat lain melalui membran semi permeabel sebagai pemisah darah
dan cairan dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi proses difusi, osmosis
dan ultrafiltrasi (7). Pasien gagal ginjal menjalani proses hemodialisa 1-3 kali
seminggu dan setiap kalinya memerlukan waktu 2-5 jam, kegiatan ini akan
berlangsung terus 3-4 jam per kali terapi. Kegiatan ini akan berlangsung terus
menerus sepanjang hidupnya (8).
Terapi hemodialisis akan mencegah kematian meski demikian terapi ini
tidak dapat menyembuhkan atau memulihkan penyakit dan tidak mampu
mengimbangi hilangnya aktivitas metabolik atau endokrin yang dilakukan
ginjal. Hemodialisis dapat dilakukan sementara waktu jika kerusakan fungsi
ginjal yang terjadi bersifat sementara pada pasien dengan gagal ginjal akut.
Menurut Setiawan & Faradila (9) hemodialisis akan dilakukan seumur hidup
ketika fungsi ginjal mengalami kerusakan yang bersifat permanen, yang
terjadi pada pasien gagal ginjal kronik.
Seorang pasien gagal ginjal membutuhkan terapi hemodialisa namun
pasien harus menjaga keteraturannya dalam melakukan hemodialisa.
Kebanyakan pasien menganggap bahwa dengan hemodialisa maka fungsi
ginjal mereka akan kembali normal. Utami (10) mengatakan bahwa
hemodialisa merupakan pengobatan untuk mengganti sebagian faal ginjal
pada keadaan gagal ginjal sehingga dapat memperpanjang kelangsungan
hidup dan memperbaiki kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronis.
Sedangkan Budiyanto (11) menyatakan ginjal yang mengalami gangguan
maka keseimbangan elektrolit dan cairan akan terganggu, sehingga pasien
dianjurkan untuk melakukan pembatasan asupan makan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pembatasan asupan makanan merupakan hal yang penting
untuk dilakukan oleh pasien gagal ginjal kronis untuk tetap menjaga kondisi
tubuhnya. Almatsier (12) menyatakan beberapa makanan yang tidak
dianjurkan untuk pasien gagal ginjal kronis yaitu kacang-kacangan beserta
hasil olahannya, kelapa, santan, minyak kelapa, margarine mentega biasa dan

2
lemak hewani, sayuran dan buah-buahan tinggi kalium. Diet pada pasien
gagal ginjal kronis dengan terapi hemodialisis sangat penting mengingat
adanya efek uremia. Apabila ginjal yang rusak tidak mampu
mengekskresikan produk akhir metabolisme, substansi yang bersifat asam ini
akan menumpuk dalam serum pasien dan bekerja sebagai racun atau toksin
dalam tubuh penderita. Semakin banyak toksin yang menumpuk akan lebih
berat gejala yang muncul. Penumpukan cairan juga dapat terjadi yang
mengakibatkan gagal jantung kongestif serta edema paru sehingga dapat
berujung pada kematian. Karna hal-hal tersebut sangatlah penting pasien
patuh pada dietnya. Agar kebutuhan pasien tetap tercukupi dan dapat
beraktivitas secara normal (8). Diet yang bersifat membatasi akan merubah
gaya hidup dan dirasakan pasien sebagai gangguan, serta diet yang dianjurkan
tersebut tidak disukai oleh kebanyakan pasien. Pasien merasa “dihukum” bila
menuruti keinginan untuk makan dan minum. Karena bila pasien menuruti
keinginannya maka akan terjadi seperti asites, hipertensi, edema, kram dan
lain-lain. Hal ini membuat pasien merasa sangat kesakitan dan tidak bisa
melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, pasien menjadi tergantung
kepada keluarganya (8).
Dukungan keluarga merupakan suatu bentuk dorongan dan selalu
memberikan bantuan bila pasien membutuhkan (13). Dukungan keluarga
menurut House dan Kahn dalam Friedman (14), terdapat empat tipe
dukungan keluarga yaitu dukungan instrumental (sumber pertolongan yang
praktis dan konkrit), dukungan informasional (keluarga sebagi kolektor dan
penyebar informasi yang baik dan dapat dipercaya), dukungan penilaian
(keluarga sebagai pembimbing, penengah dalam memecahkan masalah,
sebagai sumber dan validator identitas dalam keluarga), dan dukungan
emosional (keluarga sebagai tempat berlindung yang aman dan damai untuk
beristirahat dan pemulihan serta dapat membantu dalam menguasai terhadap
emosi).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Yulinda (15) tentang hubungan
antara dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan pasien gagal ginjal kronis
dalam melakukan diet di Rumah Sakit Telogorejo Semarang menyatakan
bahwa lebih dari separuh (67,7%) responden tidak patuh dan (32,4%)
responden yang patuh dalam menjalalani diet dan didapatkan dukungan
keluarga kurang baik (70,6%) responden sedangkan dukungan keluarga yang
baik (29,4%) responden. Penelitian lain dilakukan oleh Nurul (16)
menunjukkan bahwa kategori patuh (43,8%) dan sebanyak (56,2%)
responden termasuk kategori tidak patuh dan didapatkan dukungan keluarga
tidak baik (54,8%) responden dan (55,2%) responden termasuk kategori ada
dukungan keluarga.
Berdasarkan survey awal yang telah peneliti lakukan pada tanggal 4-5
Maret 2018 dengan melakukan wawancara kepada 10 orang pasien yang
menderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa didapatkan 6 dari

3
10 orang pasien yang tidak patuh terhadap pembatasan asupan cairan dan 7
dari 10 orang pasien yang setiap terapi selalu sendiri tidak ada keluarga yang
menemaninya.
B. Rumusan Masalah
“Apakah ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan
asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik di unit hemodialisa RSUD
Wates Kulon Progo. ?”.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan
keluarga dengan kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialisis di RSUD Wates
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik responden ( usia, jenis kelamin, pendidikan
dan pekerjaan)
b. Mengetahui dukungan keluarga pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialisis
c. Mengetahui kepatuhan pembatasan asupan cairan pasien gagal ginjal
kronik yang menjalani hemodialisis.
d. Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan
pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu keperawatan
medika bedah terutama perawat yang memberikan asuhan keperawatan
pada pasin gagal ginjal kronik.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Pasien dan Keluarga
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap pasien yang
menjalani hemodialisis sehingga peneliti dapat memberikan
pendidikan kesehatan dan motivasi kepada pasien hemodialisis
sehingga patuh dalam menjalani dietnya dengan dukungan keluarga.
b. Bagi tenaga kesehatan

4
Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan khususnya perawat
Instalasi hemodialisa RSUD Wates Kulon Progo tentang dukungan
keluarga dengan kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal kronik.
c. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai sumber data dan informasi yang digunakan bagi
pengembangan penelitian berikutnya dalam ruang lingkup yang
sama.
d. Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
kepustakaan dalam mengembangkan kurikulum khususnya dalam
memberikan asuhan keperawatan pada masalah dukungan keluarga,
sehingga peserta didik mampu memberikan pendidikan kesehatan
pada pasien dengan masalah dukungan keluarga dengan kepatuhan
diet pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa.
E. Keaslian Penelitian
Sejauh pengetahuan penulis belum ada penelitian yang serupa tentang
Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan
pada pasien gagal ginjal kronik di unit hemodialisa RSUD Wates Kulon
Progo. Tetapi pernah di lakukan suatu penelitian :
Tabel. 1.1 Keaslian Penelitian
No Judul karya ilmiah & Jenis Hasil Persamaan &
Penulis Penelitian perbedaan
1 Surono. Hubungan Deskriptif Tidak terdapat Persamaannya yaitu
dukungan keluarga korelatif hubungan antara pada lokasi dan
dengan kecemasan dukungan metode penelitiannya
pasien gagal ginjal keluarga dengan yang menggunakan
kronik selama menjalani tingkat kecemasan deskriptik analitik
proses hemodialisa di pada pasien gagal Variabel bebas sama:
instalasi dialisa RSUD ginjal kronik dukungan keluarga.
Wates Kulon Progo? (17) selama menjalani Perbedaanya yaitu
proses waktu dan subjeknya,
hemodialisa di variabel terikat:
Instalasi kecemasan ><
hemodialisis kepatuhan pembatasan
RSUD Wates asupan cairan
dengan nilai chi
hitung 0,213 >

5
0,05

No Judul karya ilmiah & Jenis Hasil Persamaan &


Penulis Penelitian perbedaan
2 Umayah Eti. Hubungan Observasion ada hubungan Persamaannya yaitu
Tingkat Pendidikan al dengan antara tingkat pada variabel terikat:
Pengetahuan dan pendekatan pendidikan, kepatuhan pembatasan
Dukungan Keluarga cross pengetahuan dan asupan cairan.
dengan Kepatuhan dalam sectional dukungan Perbedaannya yaitu
Pembatasan Asupan keluarga denga lokasi, waktu dan
Cairan pada pasien Gagal kepatuhan dalam subjeknya, variabel
Ginjal Kronik (GGK) pembatasan bebas: tingkat
yang menjalani asupan cairan pendidikan,
Hemodialisa (HD) Rawat pada pengetahuan dan
Jalan di RSUD pasien gagal dukungan keluarga><
Kabupaten Sukoharjo ginjal kronik dukungan keluarga
(18) (GGK) yang
menjalani
hemodialisa (HD)
rawat jalan di
RSUD Kabupaten
Sukoharjo
3 Kimberly Smith, MD, et, Semi Intervensi untuk Persamaanya yaitu
al. Patient Perspectives structure meningkatkan pada variabelnya yang
on Fluid Management in focus group kepatuhan meneliti tentang

6
Chronic Hemodialysis pembatasan pembatasan asupan
(19) asupan cairan cairan pasien gagal
pada pasien gagal ginjal kronik dengan
ginjal kronik hemodialisa.
dengan Perbedaanya yaitu pada
hemodialisa metode yang
harus digunakan..
menargetkan Perbedaanya juga
masalah motivasi, terdapat pada lokasi,
menilai dan waktu, dan subjek
meningkatkan penelitian.
pengetahuan
pasien,
menambah
dukungan sosial
4 Trinurnaningsih, dkk. Deskriptif Kepatuhan Persamaannya yaitu
Keterkaitan antara analitik terhadap pola diet tempat.
kepatuhan pola diet yang seimbang Perbedaannya yaitu
seimbang dengan hasil dapat menurunkan waktu, subjek, variabel
klinis pada penderita resiko terjadinya bebas dan terikat
CKD stage V di unit kondisi klinis
Hemodialisa RSUD yang mengancam
Wates (20)

Sementara itu penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah


tentang dukungan keluarga yang berhubungan dengan kepatuhan
pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik tingkat
kecemasan pasien GGK yang menjalani hemodialisis. Jenis penelitian yang
akan dilakukan adalah penelitian yang bersifat deskriptif korelational yaitu
menjelaskan hubungan antar variabel. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode survey, dengan metode nonprobability sampling.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. KONSEP TEORI CKD ( CHRONIC KIDNEY DISEASE )
A. Pengertian
Adapun pengertian gagal ginjal menurut PERNEFRI (5) yaitu:
1. Gagal ginjal akut (GGA) adalah penurunan fungsi ginjal yang terjadi
mendadak pada ginjal yang sebelumnya dalam keadaan normal dan
pada beberapa kasus perlu dilakukan terapi dialisis. .
2. Gagal ginjal kronik (GGK) yang mulai perlu dialisis adalah penyakit
ginjal kronik yang mengalami penurunan fungsi ginjal dengan LFG
< 15 ml/menit. Pada keadaan ini fungsi ginjal sudah sangat menurun
sehingga terjadi akumulasi toksin dalam tubuh yang disebut sebagai
uremia. Pada keadaan ini dibutuhkan terapi pengganti ginjal untuk
mengambil alih fungsi ginjal dalam mengeliminasi toksin tubuh
sehingga tidak terjadi gejala yang lebih berat.
Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan
fungsi ginjal lanjut secara bertahap. Kegagalan ginjal kronis terjadi bila
ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan internal yang
konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada
kebanyakan individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit
yang menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun.
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD)
merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible
dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme
dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi
urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). Gagal ginjal kronik
merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan
lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun.
B. Etiologi

Penyebab GGK termasuk glomerulonefritis, infeksi kronis,


penyakit vaskuler (nefrosklerosis), proses obstruksi (kalkuli), penyakit
kolagen (luris sutemik), agen nefrotik (amino glikosida), penyakit
endokrin (diabetes).
Penyebab GGK, dibagi menjadi delapan kelas, antara lain:

8
 Infeksi misalnya pielonefritis kronik

 Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis

 Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna,


nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis

 Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus


sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif

 Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal


polikistik,asidosis tubulus ginjal

 Penyakit metabolik misalnya


DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis

 Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik, nefropati


timbal Nefritis esensial

a. Obat – obatan : Analgetik, Sulfonamid, penisilin,


furosemid,tiazid, fenindion difenilhidantoin.

b. Metabolisme Kalsium : Hiperparatiroidisme, sindrom milk


alkali,sarkoidosis, neoplasma dan myeloma.

c. Asam urat : nefropati asam urat, kelainan hematologi

d. Penimbunan Oksalat : heriditer, obat anestesi ( metoksifuran ),


etilin glikol

e. Logam berat : timah hitam,cadmium,tembaga,uranium

 Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli


neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah:
hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher
kandung kemih dan uretra.

9
C. Patofisiologi

Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk


glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak
(hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan
memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi
walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif
ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron
rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada
yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan
haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak
oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya
gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala
khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% -
90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin
clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu.
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang
normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi
uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak
timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak
gejala uremia membaik setelah dialisis.
1. Toksin uremia dan penurunan GFR

Pada GGK dan gagal ginjal tahap akhir ( GGT/ Gagal Ginjal
Terminal ) akan mengalami penurunan GFR, sehingga produk
akhir metabolism protein yang normalnya diekskresikan ke dalam
urine tertimbun dalam darah . Akibatnya terjadi uremia yang
dapat menimbulkan keluhan – keluhan : haus, poliuria, mual –
mual, anoreksia, stomatitis dan colitis. Penurunan ini juga akan
menyebabkan kenaikan kadar kreatinin serum. Kreatinin serum ini
merupakan indicator yang paling sensitif dari fungsi ginjal karena
substansi ini diproduksi secara konstan oleh tubuh .

2. Retensi cairan dan Natrium

Pada gagal ginjal tahap akhir, ginjal tidak mampu untuk


mengkonsentrasikan atau mengencerkan urine secara normal,
sehingga tidak terjadi respon yang sesuai terhadap perubahan
masukan cairan dan elektrolite sehari – hari .Klien sering
menahan natrium dan cairan, yang menyyebabkan terjadinya
resiko udema, gagal jantung kongestif dan hiprtensi. Pada
beberapa klien GGK dan GGT dengan jumlah nefron makin

10
berkurang, fleksibilitas untuk ekskresi air juga akan berkurang,
sehingga dengan mudah terjadi keracunan air ( water over load ).
Keadaan tersebut baik renal maupun eksternal dapat
menyebabkan hiponatremi.

Hipertensi juga dapat terjadi akibat aktivasi aksis renin-


angiotensi dan kerjasama keduannya meningkatkan sekresi
aldosteron .Klien kadang – kadang mempunyai kecenderungan
untuk kehilanhan garam dan mencetuskan adanya hipotensi dan
hipovolemia. Episoda muntah dan diare akan menyebabkan
devisit air dan natrium, yang semakin memperburuk status
uremia.

3. Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat

Abnormalitas utama yang lain pada GGK dan GGT adalah


gangguan metabolism kalsium dan fosfat. Kadar serum kalsium
dan fosfat tubuh memiliki hubungan timbal balik, jika yang satu
meningkat yang satu turun. Dengan adanya penurunan GFR,
terjadi peningkatan kadar fosfat serum dan penurunan kadar
kalsium serum. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan
sekresi parathormon, dari kelenjar paratiroid. Namun demikian,
pada gagal ginjal, tubuh tidak merespon secara normal terhadap
peningkatan sekresi parathormon, akibatnya kalsium di tulang
menurun, menyebabkan perubahan pada tulang dan penyakit
tulang atau osteodistrofi ginjal. Selain itu, metabolic aktif vitamin
D ( 1,25 – dihidrokolekalsiferol ) yang secara normal dibuat
diginjal menurun seiring dengan kegagalan ginjal.
4. Ketidakseimbangan Kalium

Keseimbangan kalium masih dapat dipertahankan normal


pada sebagian besar klien GGK,akibat peningkatan sekresi kalium
melalui tubulus ginjal.Hiperkalemia pada klien GGK dapat
disebabkan beberapa faktor berikut :
a. Diuretika

Golongan potassium sparring diuretics seperti spironolakton


dan triamterene menyebabkan penurunan sekresi kalium
melalui tubulus ginjal.
b. Pemasukan kalium

Pemasukan kalium melalui makanan yang merupakan sumber


kalium seperti: buah-buahan,sayuran dan protein nabati.

11
Pemasukan melalui obat-obatan dan tranfusi darah ( whole
blood ).
c. Eksaserbasi akut dari penyakit dasarnya-Underliving renal
disease

d. Asidosis

Pada keadaan asidosis akut,ion kalium dapat terseret dari


ruangan intrasel ke ekstrasel,sehingga konsentrasi ion kalium
meningkat ( hiperkalemia ).Setiap penurunan atau kenaikan
pH darah 0,1 unit dapat menaikkan atau menurunkan kadar
kalium serum 0,6 mEq per liter.Asidosis mendadak sering
terjadi selama tranfusi darah,infeksi berat terutama bila
disertai septicemia,kerusakan jaringan yang luas.
e. Hiporeninemia dan hipoaldosteronemia

Hiperkalemia dapat juga ditemui pada klien GGK walaupun


masih ringan,misalnya pada nefropati diabetika.Mekanisme
hiperkalemia ini diduga mempunyai hubungan dengan
hiporeninemia dan hipoaldosteronemia.Hiporeninemia ini
diduga mempunyai hubungan dengan nefropati saraf
autonom yang biasanya sering ditemukan pada diabetes
mellitus.
5. Ketidakseimbangan Asam Basa
Pada keadaan normal ekskresi ion H+ melalui ginjal berkisar
antara 60-70 mEq per hari untuk merpertahankan dan mencegah
tubuh menjadi asam.Pada GGK dan GGT dapat terjadi ekskresi
ion H+ sehingga dapat menyebabkan asidosis sistemik dengan
penurunan pH plasma dan darah.
Patogenesis asidosis pada GGK dan GGT :
a. Penurunan ekskresi ammonia karena kehilangan sejumlah
nefron
b. Penurunan ekskresi titrable acid terutama fosfat,karena
pamasukan dan absorbsi melalui usus berkurang.
c. Kehilangan sejumlah bikarbonat melalui urine ( bicarbonate
wasting )

Pada sebagian besar klien GGK,asidosis metabolic ini sifatnya


ringan,dengan penurunan pH darah < 7,35.Asidosis ringan ini mudah
dikoreksi dengan pemberian natrium bikarbonat atau sitrat,takaran 20-

12
30 mEq per hari.Pernafasan kusmaul merupakan gambaran klinis dari
asidosis sistemik berat.
Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi lima stadium
yaitu:
Table 1.2 lima Stadium
Stadium Diskripsi LFG ( ml/mnt/1.73 m2 )
1 Kerusakan ginjal, LFG N / ≥ 90
2 Kerusakan ginjal, LFG 60-89
ringan
3 LFG sedang 30-59
4 LFG berat 15-29
5 Gagal Ginjal < 15 atau dialisa

D. Manifestasi Klinis

1. Manifestasi klinik antara lain

a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental,


berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi

b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah,


nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau
tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada
tapi mungkin juga sangat parah.

Manifestasi klinik menurut Suyono (21) adalah sebagai berikut:

1) Kelainan Hemopoeisis

Mekanisme anemia pada GGK dan GGT sangat komplek,beberapa


hipotesis antara lain :

a. Retensi toksin uremia atau dialyzable substances


Retensi toksin uremia menyebabkan hemolisis sel
eritrosit,ulserasi mukosa cerna,dan gangguan pembekuan.Masa
hidup eritrosit memendek,bilirubin serum meningkat atau
normal,uji comb’s negatife dan jumlah retikulosit normal.Purpura
mungkin disebabkan penurunan jumlah trombosit (

13
trombositopenia ) dengan jumlah < 50 ribu atau gangguan faal
trombosit dengan jumlah trombosit normal.Ulserasi mukosa
saluran kemih sering menyebabkan anemia defisiensi
besi.Anemia defisiensi besi dapat pula disebabkan karena nafsu
makan berkurang.
b. Defisiensi hormone eritropoeitin
Anemia normokromik normositik sering dijumpai pada klien
GGK dan GGT,terutama disebabkan ketidakmampuan sumsum
tulang bereaksi terhadap proses hemolisis atau
perdarahan.Depresi sumsum tulang ini disebabkan defisiensi
hormon eritropoeitin.Ginjal merupakan sumber pembentukan
erytropoetic stimulating factor ( ESF ).

2) Kelainan Saluran Cerna

a. Mual,Muntah dan Hicthcup ( cegukan )

Mual dan muntah merupakan keluhan utama dari ssebagian klien


GGK terutama pada stadium terminal.Patogenesis mual dan
muntah belum jelas,diduga mempunyai hubungan dengan
dekompensasi oleh flora usus sehingga terbentuk amonia
(NH3).Amonia inilah yang menyebabkan iritasi atau rangsangan
mukosa lambung dan usus halus.Keluhan saluran cerna ini akan
segera mereda atau hilang setelah pembatasan diet
protein,antibiotika dan dialisis. Hicthcup sering mengganggu
klien,penyebabnya jarang diketahui dan sulit diatasi.

b. Stomatitis Uremia
Stomatitis uremia ditandai dengan mukosa kering,disertai lesi
ulserasi luas,dinamakan bright-red stomatitis. Stomatitis ini
disebabkan sekresi cairan saliva yang banyak mengandung ure
dan kurang menjaga kebersihan mulut.
c. Pankreatitis
Pankreatitis sering dijumpai pada klien GGK dan diduga
mempunyai hubungan dengan gangguan ekskresi enzim amylase.
3) Kelainan Mata

a. Visus hilang

14
Visus hilang ( uremia amourosis ) hanya dijumpai pada sebagian
kecil klien GGK.Gangguan visus cepat hilang setelah beberapa
hari mendapat pengobatan GGK yang adekuat,misal hemodialisis.
b. Kelainan Syaraf Mata

Kelainan syaraf mata dapat menimbulkan gejala nistagmus,miosis


dan pupil asimetris.
c. Kelainan Retina ( retinopati )

Kelainan retina mungkin disebabkan hipertensi maupun anemia


yang sering dijumpai pada klien GGK.
d. Keratopati

Keratopati mungkin dijumpai pada beberapa klien GGK akibat


penyulit hiperparatiroidisme skunder dan tersier.

e. Red Eye Sindrome

Gejala ini bisa terjadi karena penimbunan deposit garam kalsium


pada konjunctiva akibat iritasi dan hipervaskularisasi.

4) Kelainan Kulit

a. Gatal

Gatal sering mengganggu klien,patogenesisnya masih belum


jelas dan diduga berhubungan dengan hiperparatiroidisme
skunder.
Pada klien yang sudah menjalani dialisis rutin,gatal
kemungkinan disebabkan karena :
 Toksin uremia yang kurang terdialisis

 Peningkatan Ca phosphor ( deposit Kristal kalsium fosfat pada


kulit ).

 Alergi terhadap bahan-bahan yang dipakai pada saat proses


hemodialisis ( misal : heparin,bahan sterilan ).

b. Kering dan bersisik

15
Kulit kering dan bersisik ini kemungkinan disebabkan ureum
yang tinggi,yang menyebabkan terjadinya penimbunan Kristal
urea dibawah permukaan kulit yang disebut urea frost.
c. Easy Bruising

Easy bruising atau kulit mudah memar ini diduga mempunyai


hubungan dengan gangguan faal trombosit dan kenaikan
permiabilitas kapiler-kapiler pembuluh darah.
5) Kelainan Selaput Serosa

Kelainan selaput serosa seperti pleuritis dan perikarditis sering


dijumpai pada klien GGK terutama stadium tahap akhir.Kelainan
selaput serosa merupakan salah satu indikasi mutlak untuk segera
dilakukan hemodialisis. Selaput serosa menebal,hipervaskularisasi,
disertai infiltrasi sel-sel plasma dan histiosit. Cairan rongga pleura
maupun perikard biasanya berdarah (hemoragi) dengan jumlah
trombosit < 10 ribu mm3. Perikarditis iini sering dijumpai pada klien
yang menjalani hemodialisis.

6) Kelainan Neuropsikiatri

a. Kelainan psikiatri

Beberapa kelainan mental ringan seperti emosi labil, dilusi,


imsomnia, depresi, kelainan mental berat seperti :
konfusi,dilusi,dan tidak jarang dengan gejala pssikosis.Kelainan
mental ringan atau berat ini sering dijumpai pada klien dengan
atau tanpa hemodialisis,tergantung dari dasar kepribadiannya.

b. Kelainan Neurologi

 Kejang otot

Kejang otot umumnya ditemukan pada klien dengan GGK


yang sudah lanjut dan dapat sampai koma.Konvulsi atau
kejang ini dapat disebabkan karena :
- Hiponatremi,yang menyebabkan sembab pada jaringan otak
- Ensefalopati hipertensif
- Tetani hipokalsemia
- Keadaan azotemia

16
 Neuropati perifer

Neuropati perifer ini merupakan gangguan metabolic


dengan gejala permulaan berupa syndrome restless leg yaitu :
creeping, itchcing, crowling, mengenai ekstrimitas bawah
terutama bagian distal. Gejala neuropati ini memburuk pada
sore hari dan mereda atau menghilang setelah kaki digerakkan
atau berjalan.Gejala neuropati perifer ini sering bersamaan
dengan gangguan sensoris seperti rasa terbakar,hiperestesi,dan
parestesi.Gejala ini akan hilang dengan dialisi.
 Disequilibrium syndrome

Disequilibrium syndrome adalah sekumpulan gejala


sistemik dan neurologic yang dapat terjadi selama atau segera
setelah dialisis selesai.Manifestasi awalnya adalah :
mual,muntah,kelelahan dan sakit kepala.Gejala yang lebih
berat bias sampai kejang dan pingsan.Patogenesis gejala ini
masih belum jelas.
7) Kelainan Sistem Kardiopulmonal

a) Gagal Jantung Kongestif ( GJK )

Patogenesis GJK pada GGK sangat komplek. Beberapa faktor


seperti : anemia, hipertensi, aterosklerosis, penyebaran kalsifikasi
mengenai system vaskuler, sering dijumpai pada klien GGK
terutama pada stadium terminal, dapat menyebabkan gagal faal
jantung.Gejala jantung yang berhubungan dengan anemia
dinamakan high output heart failure.Pada umumnya GJK yang
terdapat pada gagal ginjal sangat resisten terhadap obat
konvensional dan dinamakan gejala jantung refrakter.
b) Hipertensi

Patogenesis hipertensi ginjal (renal hypertension) sangat


komplek,banyak hal ikut berperan,antara lain :

 Keseimbangan natrium
 Aktifitas sistem renin angiotensin aldosteron ( RAA )
 Penurunan zat dipresor dari medula ginjal (misal prostaglandin
E1)
 Aktivasi system syaraf simpatis

17
 Faktor hemodinamik lainnya seperti cardiac output dan
hipokalsemia

Keseimbangan natrium memegang peranan penting dalam


genesis hipertensi ginjal.Hipertensi ini umumnya ringan atau
sedang,dan mempunyai respon yang baik terhadap pengobatan
konservatif yaitu pembatasan garam natrium dan cairan,diuretika
yang kuat,dan pengeluaran cairan dengan dialisis.
Retensi Na+ dan sekresi renin menyebabkan kenaikan volume
plasma (VP), dan volume cairan ekstra selular (VCES). Ekspansi VP
akan mempertinggi tekanan pengisian jantung (cardiac filling
pressure) dan cardiac output (COP). Kenaikan COP akan
mempertinggi tonus arteriol dan pengecilan diameter arteriol
sehingga tekanan perifir (resistensi) meningkat. Kenaikan tonus
vaskuler arteriol akan menimbulkan aktivasi mekanisme umpan
balik (feed – back mecanisme) sehingga terjadi penurunan COP
sampai mendekati batas normal, kenaikan tekanan darah arteriol
(hipertensi) masih dipertahankan.
Pada klien dengan azotemia, mekanisme buffer dari sinus
karotikus tidak berfungsi untuk mengatur tekanan darah karena
adanya perubahan mengenai volume dan tonis pembuluh darah
arteriol.
c) Kalsifikasi pembuluh darah perifer

Kalsifikasi difus yang mengenai pembuluh darah sering


ditemukan pada klien GGT terutama yang menjalani hemodialisis.
Kalsifikasi yang berat dapat menyebabkan gangren ekstrimitas.
Kalsifikasi mengenai pembuluh darah ini mungkin mempunyai
hubungan dengan hipertensi atau gangguan metabolism protein.
d) Perikarditis

Perikarditis merupakan penyulit yang sering dijumpai pada


GGT.Mekanisme tidak diketahui,diduga mempunyai hubungan
dengan retensi toksin uremia yang bersifat dialyzable,artinya dapat
hilang dengan dialisis.Perikarditis uremia ditandai dengan eksudatif
fibrinosis yang dinamakan bread atau butter
perikardium.Penyembuhan perikarditis tidak akan menimbulkan
gejala sisa.Perikarditis dengan hemoragis dan tamponade jantung
juga sering ditemui.

18
e) Paru Uremia ( Uremic Lung )

Gambaran radiologi paru uremia sangat khas yang dinamakan


butterfly atau batwing distribution.Mekanisme masih belum
jelas,diduga mempunyai hubungan dengan kenaikan permiabilitas
kapiler paru akibat toksin uremia.Paru uremia merupakan indikasi
mutlak segara dilakukan dialisis
E. Pemeriksaan Penunjang

Untuk menentukan diagnosa pada CKD dapat dilakukan cara sebagai


berikut:
1. Pemeriksaan laboratorium

Menentukan derajat kegawatan CKD, menentukan gangguan sistem


dan membantu menetapkan etiologi.
2. Pemeriksaan USG

Untuk mencari apakah ada batuan, atau massa tumor, juga untuk
mengetahui beberapa pembesaran ginjal.
3. Pemeriksaan EKG

Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda


perikarditis, aritmia dan gangguan elektrolit
F. Pencegahan

Obstruksi dan infeksi saluran kemih dan penyakit hipertensi sangat


lumrah dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang membawa
kerusakan dan kegagalan ginjal. Penurunan kejadian yang sangat
mencolok adalah berkat peningkatan perhatian terhadap peningkatan
kesehatan. Pemeriksaan tahunan termasuk tekanan darah dan
pemeriksaan urinalisis.
Pemeriksaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu
yang menjadi insufisiensi sampai menjadi kegagalan ginjal. Menurut
Barbara C Long (22), perawatan ditujukan kepada pengobatan masalah
medis dengan sempurna dan mengawasi status kesehatan orang pada
waktu mengalami stress (infeksi, kehamilan).
G. Penatalaksanaan

1. Dialisis (cuci darah)

19
2. Obat-obatan: antihipertensi, suplemen besi, agen pengikat fosfat,
suplemen kalsium, furosemid (membantu berkemih)

3. Diit rendah protein dan tinggi karbohidrat

4. Transfusi darah

5. Transplantasi ginjal

II. KONSEP DASAR TINDAKAN HEMODIALISA


A. Pengertian
Dialisis adalah proses difusi partikel larut dari satu kompartemen
ke kompartemen lain melewati membran semipermeabel. Hemodialisa
adalah lintasan darah melalui selang diluar tubuh ke ginjal buatan,
dimana dilakukan pembuangan kelebihan zat terlarut dan cairan.
Frekuensi hemodialisa bervariasi dari 2 – 3 x/minggu. Darah yang
mengandung produk sisa seperti urea dan kreatinin mengalir kedalam
ginjal buatan (dialiser), tempat akan bertemu dengan dialisat yang tidak
mengandung urea dan kreatinin. Aliran berulang darah melalui dialiser
pada rentang kecepatan 200 – 400 ml/jam, lebih dari 2 – 4 jam,
diharapkan dapat mengurangi kadar produk sisa ini menjadi keadaan
yang lebih normal.
B. Tujuan Hemodialisa
1. Membuang produk sisa metabolisme protein seperti urea, kreatinin
dan asam urat.

2. Membuang kelebihan air dengan mengetahui tekanan banding antara


darah dan bagian cairan, biasanya terdiri atas tekanan positif dan
negatif (penghisap) dalam kompartemen dialisat.

3. Mempertahankan atau mengembalikan sistem buffer tubuh.

4. Mempertahankan atau mengembalikan kadar elektrolit tubuh.

C. Indikasi
1. Gagal ginjal akut

20
2. Gagal ginjal kronik, bila laju filtrasi gromelurus kurang dari 5
ml/menit
3. Kalium serum lebih dari 6 mEq/l
4. Ureum lebih dari 200 mg/dl
5. PH darah kurang dari 7,1
6. Anuria berkepanjangan, lebih dari 5 hari
7. Intoksikasi obat dan zat kimia
8. Sindrom Hepatorenal
D. Bentuk/ gambaran peralatan yang digunakan
Pada hemodialisis,mesin memompa darah dari klien ke dalam
dialiser,dan dari sisi lain cairan dialisat dialirkan ke dalam dialiser.Di
dalam dialiser inilah proses dialisis terjadi.Darah yang sudah di dialisis
atau sudah bersih,dipompa kembalil ke dalam tubuh.Untuk terjadinya
proses tersebut,ada 3 hal penting yang saling terkait,yaitu :
1. Sirkuit darah

Sirkuit ini merupakan sirkuit di luar tubuh (ekstrakorporeal),yang


berhubungan langsung dengan sirkuit darah klien.Terdiri dari 2
bagian besar,yaitu :

a. Arterial Blood Line (ABL)/Inlet, Yakni saluran sebelum ginjal


buatan, diberi tanda warna merah

b. Venous Blood Line (VBL)/Outlet, Yakni saluran sesudah ginjal


buatan,diberi tanda warna biru

Untuk mencegah terjadinya pembekuan darah dalam saluran


ekstrakorporeal,diperlukan heparin sebagai antikoagulan.
Pemberiannya sesuai dengan masa pembekuan darah klien. Dapat
diberikan secara intermittent atau continous. Pembekuan darah yang
normal,dapat diberikan 25 iu- 50 iu / kg BB pada dosis awal dan
1000 iu untuk dosis pemeliharaan,yang diberikan tiap jam.Pada klien
yang cenderung atau sedang mengalami perdarahan pemberiannya
dapat dikurangi.
Sebagai sarana hubungan sirkulasi atau untuk masuk dan
keluarnya darah dari dan ke tubuh klien dalam sirkuit ini,disiapkan
sarana hubungan sirkulasi (Akses Vaskuler) yang dapat digolongkan
menjadi :

21
 Temporer (sementara)
Percutaneous (subclavia, femoralis, vena jugularis), AV Shunt
Scribner
 Permanen (tetap)
AV Fistula (cimino), AV Graf

2. Ginjal buatan atau dialiser

Ginjal buatan ini merupakan suatu alat yang terdiri dari 2


kompartemen,yaitu kompartemen darah dan kompartemen dialisat.
Kedua kompartemen ini dipisahkan oleh membrane semipermiabel.
Membran ini merupakan selaput yang sangat tipis dan mempunyai
pori-pori kecil, sehingga dapat dilalui oleh partikel-partikel kecil.

3. Sirkuit dialisat

Sirkuit dialisat adalah sirkulasi dialisat dari mesin ke


dialiser,kembali ke mesin dan dibuang lewat pembuangan. Dialisat
adalah cairan yang dipakai pada hemodialisa yang terdiri dari
campuran air dan elektrolit dengan konsentrasi tertentu menyerupai
serum normal. Elektrolit terdapat dalam dialisat konsentrasi
pekat.Pencampuran air dan dialisat pekat,terjadi secara otomatis di
dalam mesin hemodialisis dengan rasio 34 bagian air dan 1 bagian
dialisat pekat/diasol. Air sebagai pelarut,jenisnya dapat dari PAM
atau sumber air,dengan syarat bebas elektrolit dan mikroorganisme.
Maka sebelum dipakai,air harus di olah dulu yang disebut WATER
TREATMENT.
Jenis dialisat pekat/diasol ada 2,yaitu asetat dan
bicarbonate,dengan komposisi sebagai berikut :
Table 1.4 jenis jenis dialysis pekat/diasol
Komponen dialisat Asetat Bicarbonat
Sodium (Na) 135-145 135-145
Potasium/Kalium(K) 0-4 2,5-3,5
Calsium (Ca) 2,5-3,5 2,5-3,5
Magnesium (Mg) 0,5-3,5 0,5-1,0
Chlorida (Cl) 100-119 100-124
Asetat 35-38 2-4
Bicarbonat 0 30-38
Dektrose 11 11
PCO2 0,5 40-100
PH Variasi 7,1-7,3

22
Prinsip kerja proses HD adalah terjadinya perpindahan zat-zat terlarut
dalam darah ke dalam cairan dialisat atau sebaliknya. Proses yang
menyebabkan perpindahan tersebut adalah :
1. Diffusi

Subtansi/ zat-zat bergerak dari daerah dengan konsentrasi


tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah. Ada perbedaan
konsentrasi antara darah dan dialisat,sehingga dapat mengeluarkan
zat-zat yang di inginkan dan menahan zat-zat yang di butuhkan
tubuh agar tidak hilang.
Proses ini dipengaruhi oleh :
 Luas permukaan membrane

 Kecepatan aliran darah dan dialisat

 Perbedaan konsentrasi

 Permiabilitas membrane

2. Ultrafiltrasi

Yaitu proses perpindahan zat dan pelarutnya karena perbedaan


tekanan hidrostatik. Proses ini dipengaruhi oleh : Trans Membran
Pressure (TMP), Luas permukaan membrane, Permiabilitas
membrane
E. Prosedur
1. Persiapan
a. Persiapan Pasien:
1) Surat dari dokter nefrologi untuk tindakan hemodialisa
(instruksi dokter)
2) Identitas pasien dan surat persetujuan tindakan hemodialisa
3) Riwayat penyakit yang pernah diderita (penyakit lain dan
alergi)
4) Keadaan umum pasien
5) Keadaan psikososial

23
6) Keadaan fisik (ukur tanda-tanda vital, berat badan, warna kulit,
mata, ekstremitas edema +/-)
7) Data laboratorium: hb, ureum, kreatinin, HbSAg
8) Pastikan bahwa pasien benar-benar telah siap untuk dilakukan
hemodialisa
b. Persiapan Mesin:

a) Listrik
b) Air yang sudah diubah dengan cara:
 Filtrasi
 Softening
 Deionisasi
 Reverse osmosis
c) Sistim sirkulasi dialisat:
 Sistim proporsioning
 asetat/bikarbonat
d) Sirkulasi darah:
 dialyzer/hollow fiber
 priming

c. Persiapan Alat:

a) Dialyzer
b) AV blood line
c) AV fistula
d) NaCl 0,9%
e) Infus set
f) Spuit (1cc,3cc,10cc)
g) Heparin
h) Lidocain

24
i) Kassa steril
j) Duk
k) Sarung tangan
l) Mangkok kecil
m) Desinfektan (alkohol/betadine)
n) Klem
o) Matcan
p) Timbangan
q) Tensimeter
r) Termometer
s) Plester
t) Perlak kecil
b. Langkah-langkah:

1. Setting dan Priming

a) Mesin dihidupkan
b) Lakukan setting dengan cara:
1) Keluarkan dialyzer dan AV blood line dari bungkusnya, juga
slang infus set dan NaCl-nya (perhatikan sterilitasnya)
2) Dengan teknik aseptik hubungkan ujung AV blood line pada
dialyzer
3) Pasang alat tersebut pada mesin sesuai dengan tempatnya
4) Hubungkan NaCl melalui infus set bebas dari udara dengan
mengisinya terlebih dahulu
5) Tempatkan ujung V blood line dalam penampung, hindarkan
kontaminasi dengan penampung dan jangan terendam dengan
air yang keluar
6) Lakukan priming dengan posisi dialyzer biru (outlet) di atas
dan merah (inlet) di bawah, caranya:
(1) Alirkan NaCl ke dalam sirkulasi dengan kecepatan
100cc/menit

25
(2) Udara dikeluarkan dari sirkulasi
(3) Setelah semua sirkulasi terisi dan bebas dari udara,
Pompa dimatikan, klem kedua ujung AV blood line
(4) Hubungkan ujung A blood line dan V blood line dengann
memakai konektor konektor dan klem dibuka kembali
(5) Sambungkan cairan dialisat dengan dialyzer dengan
Posisi outlet d bawah dan inlet di atas
(6) Lakukan sirkulasi 5-10 menit dengan QB 100 cc/menit
(7) Masukkan heparin 1500  dalam sirkulasi

b. Punksi Akses Vaskuler

1) Tentukan tempat punksi atau periksa tempat shunt


2) Alasi dengan perlak kecil dan atur posisi
3) Bawa alat-alat dekat dengan tempat tidur pasien (alat-alat steril
dimasukkan ke dalam bak steril)
4) Cuci tangan, bak steril dibuka kemudian memakai hand-scoon
5) Beritahu pasien bila akan dilakukan punksi
6) Pasang duk steril, sebelumnya desinfeksi daerah yang akan
dipunksi dengan betadine dan alkohol
7) Ambil fistula dan punksi outlet terlebih dahulu, bila perlu
lakukan anaesthesi lokal, kemudian desinfeksi
8) Ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium
9) Bolus heparin yang sudah diencerkan dengan NaCl 0,9%
(dosis awal)
10) Selanjutnya punksi inlet dengan cara yang sama kemudian
difiksasi

c. Memulai Hemodialisa

Sebelum dilakukan punksi dan memulai hemodialisis, ukur tanda-


tanda vital dan berat badan pre hemodialisa.

26
1) Setelah selesai punksi, sirkulasi dihentikan, pompa dimatikan,
ujung AV blood line diklem
2) Sambungan AV blood line dilepas, kemudian A blood line
dihubungkan dengan punksi outlet. Ujung V blood line
ditempatkan ke matcan
3) Buka semua klem dan putar pompa perlahan-lahan sampai
kurang lebih 100 cc/menit untuk mengalirkan darah,
mengawasi apakah ada penyulit
4) Biarkan darah memasuki sirkulasi sampai pada bubble trap V
blood line, kemudian pompa dimatikan dan V blood line
diklem
5) Ujung V blood line desinfeksi kemudian dihubungkan dengan
punksi inlet, klem dibuka (pastikan sambungan bebas dari
udara)
6) Putar pompa dengan QB 100 cc/menit kemudian naikkan
perlahan-lahan antara 150-200 cc/menit
7) Fiksasi AV blood line agar tidak mengganggu pergerakan
8) Hidupkan heparin pump sesuai dengan lamanya hemodialisa
9) Buka klem slang monitor AV pressure
10) Hidupkan detektor kebocoran udara
11) Ukur tekanan darah, nadi dan pernafasan
12) Cek mesin dan sirkulasi dialisat
13) Cek posisi dialyzer (merah di atas, biru di bawah)
14) Observasi kesadaran dan keluhan pasien
15) Programkan hemodialisa
16) Isi formulir hemodialisa
17) Rapikan peralatan

e. Penatalaksanaan Selama Hemodialisa

Memprogram Dan Memonitor Mesin Hemodialisa :

1) Lamanya hemodialisa

27
2) QB (kecepatan aliran darah) = 100-250 cc/menit
3) QD (kecepatan aliran dialisat) = 400-600 cc/menit
4) Temperatur dialisat 37-40 C
5) TMP dan UFR
6) Heparinisasi
7) Pemeriksaan (laboratorium, ECG, dll)
8) Pemberian obat-obatan, transfusi dll
9) Monitoring tekanan

i. fistula pressure
ii. arterial pressure
iii. venous pressure
iv. dialisat pressure

10) Detektor (udara, blood leak detector)


11) Heparinisasi:

a) Dosis heparin
Dosis awal= 50-100 /kgBB
- diberikan pada waktu punksi
- untuk priming= 1500  diberikan pada waktu sirkulasi
AV blood line, Dosis maintenance= 500-2000 /jam,
Diberikan pada waktu hemodialisa berlangsung.
Cara pemberian dosis maintenance
- kontinyu: diberikan secara terus-menerus dengan
bantuan pompa dari awal hemodialisis sampai dengan 1
jam sebelum hemodialisa berakhir
- intermitten: diberikan 1 jam setelah hemodialisa
berlangsung dan pemberian selanjutnya dimasukkan
tiap selang waktu 1 jam. Untuk 1 jam terakhir tidak
diberikan
- minimal heparin: heparin dosis awal kurang lebih 2000
, selanjutnya diberikan kalau perlu

28
b) Observasi Pasien

(a) Tanda-tanda vital (T, N, S, R, kesadaran)


(b) Fisik
(c) Perdarahan
(d) Sarana hubungan sirkulasi
(e) Posisi dan aktifitas
(f) Keluhan dan komplikasi hemodialisa

f. Mengakhiri Hemodialisa

1. Persiapan Alat
a) Tensimeter
b) Kassa, betadine, alcohol
c) Band aid
d) Verband gulung
e) Plester
f) Ember tempat pembuangan
g) Alat penekan
2. Pelaksanaan
a) Lima menit sebelum hemodialisis berakhir QB diturunkan,
TMP dinolkan
b) Ukur tekanan darah dan nadi
c) QB dinolkan, ujung arteri line dan fistula punksi diklem
kemudian sambungan dilepas
d) Fistula dihubungkan dengan spuit, darah didorong masuk
memakai udara
e) Ujung arteri line dihubungkan dengan NaCl 0,9%, klem
dibuka dan QB diputar 100 cc/menit untuk mendorong
darah dalam blood line masuk ke dalam tubuh
f) Pompa dimatikan, ujung venous line dan fistula diklem,
sambungan dilepas

29
g) Pasien diukur tekanan darahnya dan diobservasi
h) Apabila hasil bagus, jarum punksi dicabut, bekas punksi
ditekan dengan kassa betadine  10 menit
i) Apabila darah sudah tidak keluar, tutup dengan band aid
j) Pasang balutan dengan verband, gulung sebagai penekan
(jangan terlalu kencang)
k) Timbang berat badan
l) Isi formulir hemodialisa
m) Rapikan tempat tidur dan alat-alat
n) Perawat cuci tangan
o) Mesin dibersihkan dan didesinfektan
p) Setelah proses pembersihan selesai, mesin dimatikan,
lepaskan steker mesin dari stop kontak dan tutup kran air.
q) Bersihkan ruangan hemodialisa
(sumber : Protap Hemodialisa RSUD Wates No:04/449.1/193,Tahun
2012)
F. Komplikasi
1. Ketidakseimbangan Cairan
a. Hipervolemia. Temuan berikut ini mengisyaratkan adanya
kelebihan cairan seperti tekanan darah naik, peningkatan nadi,
dan frekuensi pernafasan, peningkatan tekanan vena sentral,
dispnea, batuk, edema, penambahan BB berlebih sejak dialysis
terakhir

b. Hipovolemia. Petunjuk terhadap hipovolemia meliputi penurunan


TD, peningkatan frekuensi nadi, pernafasan, turgor kulit buruk,
mulut kering, tekanan vena sentral menurun, dan penurunan
haluaran urine. Riwayat kehilangan banyak cairan melalui
lambung yang menimbulkan kehilangan BB yang nantinya
mengarah ke diagnosa keperawatan kekurangan cairan.

30
c. Ultra filtrasi. Gejala ultrafiltarasi berlebihan adalah mirip syok
dengan gejala hipotensi, mual muntah, berkeringat, pusing dan
pingsan.

d. Rangkaian ultrafiltrasi (Diafiltrasi). Ultrafiltrasi cepat untuk


tujuan menghilangkan atau mencegah hipertensi, gagal jantung
kongestif, edema paru dan komplikasi lain yang berhubungan
dengan kelebihan cairan seringkali dibatasi oleh toleransi pasien
untuk memanipulasi volume intravaskular.

e. Hipotensi. Hipotensi selama dialysis dapat disebabkan oleh


hipovolemia, ultrafiltrasi berlebihan, kehilangan darah ke dalam
dialiser, inkompatibilitas membran pendialisa, dan terapi obat
antihipertensi

f. Hipertensi Penyebab hipertensi yang paling sering adalah


kelebihan cairan, sindrom disequilibrium, respon renin terhadap
ultrafiltrasi, dan ansites.

g. Sindrome disequilibrium dialisis. Dimanifestasikan oleh


sekelompok gejala yang diduga disfungsiserebral dengan rentang
dari mual muntah, sakit kepala, hipertensi sampai agitasi,
kedutan, kekacauan mental, dan kejang.

2. Ketidakseimbangan Elektrolit
Elektrolit merupakan perhatian utama dalam dialisis, yang
normalnya dikoreksi selama prosedur adalah natrium, kalium,
bikarbonat, kalisum, fosfor, dan magnesium.
3. Infeksi
Pasien uremik mengalami penurunan resisten terhadap infeksi,
yang diperkirakan karena penurunan respon imunologik. Infeksi
paru merupakan penyebab utama kematian pada pasein uremik.
4.Perdarahan dan Heparinisasi

31
Perdarahan selama dialysis mungkin karena konsidi medik yang
mendasari seperti ulkus atau gastritis atau mungkin akibat
antikoagulasi berlebihan. Heparin adalah obat pilihan karena
pemberiannya sederhana, meningkatkan masa pembekuan dengan
cepat, dimonitor dengan mudah dan mungkin berlawanan dengan
protamin.

III. KONSEP DASAR NUTRISI PADA PENDERITA CKD


Penaatalaksanaan nutrisi pada penderita Penyakit Ginjal Kronis
(PGK) yang belum memerlukan dialisis merupakan bagian dari
pengelolaan konservatif penderita PGK. Tujuan penatalaksanaan nutrisi
pada penderita pra-dialisis adalah mencegah timbunan nitrogen,
mempertahankan status gizi yang optimal untuk mencegah terjadinya
malnutrisi, menghambat progresifitas kemunduran faal ginjal serta
mengurangi gejala uremi dan gangguan metabolisme. Status nutrisi
merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan pada saat penderita
membutuhkan inisiasi dialisis karena merupakan prediktor untuk hasil
akhir yang bisa dicapai dan adanya malnutrisi protein-energi merupakan
faktor risiko mortalitas. Tergantung pada petanda nutrisi yang digunakan
dan populasi yang diteliti, diperkirakan 50%-70% penderita dialisis
menunjukkan tanda dan gejala malnutrisi. Dibutuhkan kerjasama antara
dokter, perawat dan ahli gizi dalam edukasi perubahan pola diit antara
masa sebelum dan sesudah menjalani dialisis, penatalaksanaan kebutuhan
nutrisi serta mengatasi faktor-faktor yang ikut berperan dalam terjadinya
malnutrisi
A. Malnutrisi pada penderita CKD
Malnutrisi protein-energi atau protein-energy malnutrition (PEM)
adalah kondisi berkurangnya protein tubuh dengan atau tanpa
berkurangnya lemak, atau suatu kondisi terbatasnya kapasitas
fungsional yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara asupan dan
kebutuhan nutrient, yang pada akhirnya menyebabkan berbagai
gangguan metabolik, penurunan fungsi jaringan, dan hilangnya massa
tubuh. Dengan demikian, PEM yang terjadi pada pasien PGK yang
menjalani dialisis seharusnya dapat diperbaiki dengan memenuhi
kebutuhan nutrisinya.
Pada dasarnya malnutrisi disebabkan oleh asupan nutrisi yang
kurang, kehilangan nutrient meningkat, dan atau katabolisme protein
yang meningkat. Dalam keadaan normal, inflamasi adalah suatu respon
yang bersifat protektif. Ini merupakan mekanisme pertahanan penting
pada injury akut, dan biasanya akan berkurang ketika terjadi perbaikan.

32
Akan tetapi inflamasi menjadi berbahaya bila terjadi kronis. Bukti-bukti
menunjukkan bahwa pada pasien dialisis yang malnutrisi didapatkan
peningkatan petanda inflamasi dan sitokin-sitokin pro-inflamasi seperti
CRP dan IL-6. Adanya inflamasi dikaitkan dengan anoreksia yang
terjadi pada pasien dialisis. Inflamasi kronis juga bisa meningkatkan
kecepatan penurunan protein otot skeletal ataupun yang ada dijaringan
lain, mengurangi otot dan lemak, menyebabkan hipoalbumin dan
hiperkatabolisme dimana kesemuanya tadi akan menyebabkan kidney
disease wasting (KDW). Adanya status nutrisi yang buruk akan
menyebabkan penderita malaise dan fatigue, rehabilitasi jelek,
penyembuhan luka terganggu, kepekaan terhadap infeksi meningkat dan
angka rawat tinggal dan mortalitas juga meningkat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya PEM:
a. Asupan nutrisi kurang

- Restriksi diit berlebihan


- Pengosongan lambung lambat dan diare
- Komorbid medis lainnya
- Kejadian sakit dan rawat inap yang berulang
- Asupan makanan lebih menurun pada hari-hari dialysis
- Obat-obat yang menyebabkan dispepsia (pengikat fosfat,
preparat besi)
– Dialisis tidak adekwat
– Depresi
– Perubahan sensasi rasa

b. Kehilangan nutrient meningkat, Kehilangan darah melalui saluran


cerna, Kehilangan nitrogen intradialytic

B. PENETAPAN STATUS NUTRISI


Menetapkan dan memonitor status nutrisi protein-energi pasien
dialisis merupakan kegiatan penting dengan tujuan untuk mencegah,
mendiagnosis serta mengobati PEM. Status nutrisi protein-energi pada
dasarnya menggambarkan status kwantitatif dan kwalitatif protein, baik
komponen visceral (non otot) maupun somatik (otot), serta status
keseimbangan energi. Sampai dengan sekarang secara definitif belum
ada cara tunggal yang bisa dianggap sebagai standar emas untuk

33
menilai status nutrisi maupun menilai respon intervensi nutrisi. Dewasa
ini didapatkan banyak cara untuk menetapkan status nutrisi, sehingga
disesuaikan dengan sarana yang ada, bisa dilakukan sebanyak mungkin
cara yang bisa membantu menetapkan status nutrisi pasien dialisis.
Metode dan cara untuk menetapkan adanya PEM pada pasien yang
menjalani dialisis, secara klasik dibagi menjadi 4 kategori, yaitu:
penilaian terhadap selera makan dan asupan makanan (assessment of
appetite and dietary intake), penilaian berdasarkan pemeriksaan
biokimiawi dan laboratorium (biochemical and laboratory assessment),
pengukuran komposisi tubuh (body composition measures), dan sistim
skoring nutrisi (nutritional scoring system).
C. PENATALAKSANAAN NUTRISI
Nutrisi mempunyai peranan yang penting pada seluruh stadium
PGK. Hipertensi, obesitas, hiperlipidemia dan kontrol gula yang buruk
akan berpengaruh terhadap progresifitas PGK. Disisi lain, kondisi
uremik dan pembatasan diit yang berlebihan (terutama protein) tanpa
disertai jumlah energi yang cukup pada masa pra-dialisis ikut berperan
pada terjadinya PEM saat dialisis berkesinambungan. PEM sendiri
dilaporkan memburuk progresif sejalan dengan penurunan fungsi ginjal.
Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa status nutrisi yang buruk pada
saat penderita mulai memerlukan dialisis merupakan prediktor kuat
peningkatan mortalitas pada masa dialisis.
Tujuan pengaturan nutrisi pada pasien hemodialisis berkesinambungan:
1. Mencapai dan memelihara status nutrisi yang baik
2. Mencegah atau menunda berkembangnya penyakit kardiovaskuler,
serebrovaskuler dan periferal vaskuler
3. Mencegah atau mengobati hiperparatiroidisme serta osteodistrofi .
4. Mencegah atau memperbaiki toksisitas uremi dan berbagai kelainan
metabolik yang berpengaruh terhadap nutrisi, yang terjadi pada gagal
ginjal dan tidak dapat diperbaiki dengan HD yang adekwat.
Untuk bisa memenuhi aturan diit tertentu merupakan tantangan
berat bagi pasien dan keluarganya, karena dibutuhkan perubahan yang
bermakna bukan saja dari kebiasaan diitnya tapi juga pola perilakunya.
Seringkali mereka harus membatasi atau mengurangi beberapa
makanan kesukaannya untuk menghindari terjadinya hiperkalemia dan
hiperfosfatemia. Akan tetapi juga harus diingat bahwa pasien dialisis
seringkali terlalu sedikit mengkonsumsi nutrien yang seharusnya
dibutuhkan. Karena itu dibutuhkan edukasi yang baik mengenai

34
perubahan pola diit antara sebelum dan sesudah menjalani hemodialisis
berkesinambungan serta tujuan penatalaksanaan nutrisi pada penderita
maupun keluarganya.
Asupan protein yang direkomendasikan oleh The National Kidney
Foundation/Kidney Disease Outcome Quality Initiative (NKF-K/DOQI)
untuk pasien hemodialisis berkesinambungan adalah 1,2g/kgBB/hr,
dimana 50% dari nilai tersebut harus dengan nilai biologi tinggi untuk
menjamin kebutuhan asam amino esensial. Kalori yang dianjurkan
adalah 35 kcal/kgBB/hr untuk umur 60 tahun. Kebutuhan Fe sangat
bervariasi sesuai dengan pemberian erythropoetin. Karena vitamin yang
larut dalam air ikut keluar dari tubuh saat proses HD, maka diperlukan
tambahan. Semua pasien HD membutuhkan tambahan asam Folat dan
vitamin B. Asam Folat 1 mg/hr merupakan pengobatan rutin, sedangkan
bila sampai 10 mg/hr maka dengan tujuan untuk menurunkan kadar
homosistein plasma.
Pemberian asam askorbat dibatasi tidak lebih dari 100 mg/hr oleh
karena dosis tinggi dapat menyebabkan akumulasi oksalat. Vitamin A,
D,E dan K merupakan vitamin yang larut dalam lemak. Pada pasien
dialisis tidak terlalu dibutuhkan tambahan vitamin yang larut dalam
lemak karena tidak banyak hilang saat hemodialisis maupun peritoneal
dialisis. Konsentrasi vitamin A serum pasien HD biasanya meningkat,
dan pasien PGK stadium lanjut mudah mengalami toksisitas vitamin A.
Hipervitaminosis A pada pasien dialisis bisa menyebabkan anemia serta
gangguan metabolisme lipid dan kalsium. Pemberian rutin vitamin D
pada pasien HD akan meningkatkan absorbsi Ca, mencegah atau
mengobati hiperparathiroidisme serta memperbaiki metabolisme tulang.
Namun demikian dosis kalsitriol ditentukan dengan hati-hati dan
harus dilakukan monitor rutin untuk menghindari terjadinya
hiperkalsemia dan hiperfosfatemia. Vitamin E 300 atau 800 IU/hr bisa
diberikan untuk menurunkan kondisi stres oksidatif dan mencegah
penyakit kardiovaskuler, tapi masih kontroversi. Kadar vitamin K
pasien HD biasanya normal sehingga tambahan vitamin K secara rutin
tidak direkomendasikan.Tetapi pada penggunaan antibiotika dapat
terjadi penekanan produksi vitamin K oleh bakteri usus sehingga
mungkin dibutuhkan tambahan vitamin K.
D. Terapi Nutrisi Pada Dialisis
Kebutuhan protein pada pasien yang menjalani dialisis regular
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berhubungan dengan proses
dialisis itu sendiri seperti tipe dari membran dialiser ( biocompatible

35
atau incompatible ) dan dialisis yang di reuse. Rata-rata kehilangan
asam amino pada satu sesi HD adalah 7,2 gram bila menggunakan
membrane selulosa tradisional; 6,1 gram bila menggunakan membran
lowflux polymethylmethacrylate dan 8,0 gram bila menggunakan
membran polysulfone high-flux. Pada pasien yang menjalani CAPD
terjadi kehilangan protein 5 – 12 gram perhari. Faktor lain yang
menentukan dalam kebutuhan protein adalah peubahan dalam
metabolisme asam amino dan absorpsi di usus, kondisi asidosis
metabolik yang sering terjadi pada pasien dialisis juga menyebabkan
katabolisme pada otot. Faktor-faktor tersebut menyebabkan tingginya
kebutuhan protein pada pasien dialisis, sehingga direkomendasikan
intake protein pada pasien dialisis adalah 1,2-1,3 g per kilogram berat
badan perhari.

36
Pada pasien hemodialisis regular jumlah urin menurun, kadang-
kadang tanpa produksi urine. Pada pasien seperti ini perlu restriksi
cairan yang ketat. Anjuran asupan cairan harian didasarkan jumlah urin
yang dihasilkan selama 24 jam dan peningkatan berat badan selama
periode dialisis. Pertimbangan lainnya yang perlu diperhatikan adalah
banyaknya retensi cairan badan; kandungan natrium pada diet; adanya
gagal jantung kongestif. Pasien dengan penyakit ginjal cenderung
mangalami penyakit jantung, sehingga perlu menjalani diet rendah
lemak.
Pasien yang menjalani dialisis memerlukan suplemen vitamin. Diet
saja umumnya dapat memenuhi kebituhan vitamin yang larut dalam air
(A, D, E, dan K). Pemberian suplemen vitamin D tergantung kadar
kalsium, fosfor dan hormon paratiroid (10) Asupan vitamin larut dalam
air (B dan C), biasanya kurang cukup, selain karena restriksi bahan
makanan yang banyak mengandung vitamin ini, juga hilang selama
terapi dialisis. Semua pasien dengan dialisis hendaknya diberikan
suplemen vitan B dan C. Pemantauan kadar besi perlu dilakukan setiap.
Suplemen besi diberikan untuk mencegah anemia defisiensi besi dan
memulai terapi hormon eritropoietin. Bila terjadi kekurangan besi,
terapi besi dapat diberikan secara intravena selama sesi dialisis.12
Pasien yang menjalani CAPD membutuhkan protein dan kalium yang
lebih tinggi lagi karena banyak protein maupun K hilang melalui cairan
peritoneal dialisis yang terbuang. Pasien dengan dialisis peritoneal
kurang memerlukan restriksi air, natrium dan kalium, karena terapi
dialisis dilakukan setiap hari dan asupan komponen makanan ini
disesuaikan secara individual.3
Kondisi pasien yang menjalani dialisis biasanya memiliki nafsu
makan yang menurun sehingga lebih menyulitkan lagi penatalaksanaan
nutrisi pada pasien dialisis. Pada kondisi seperti ini diperlukan terapi
nutrisi saat dialisis yaitu intradialytic nutrition support. Pada pasien
dengan HD regular, asam amino, karbohidrat dan fat dapat diinfuskan

37
langsung ke venous chamber dari sirkuit HD. Terapi ini kita kenal
dengan intradialytic parenteral nutrition (IDPN). Formula yang
diberikan sedikit mengandung glukosa dan tidak mengandung asam
lemak. Pada pasien yang menggunakan CAPD, dialisat yang
mengandung dekstrose ditambahkan dengan asam amino. Terapi ini
kita kenal dengan intraperitoneal nutrition (IPN). Apakah IDPN atau
IPN bisa mengatasi masalah nutrisisi secara keseluruhan masih
memerlukan penelitian lebih lanjut. Terapi IPN dan IDPN sebagai
intervensi terhadap malnutrisi dan hipoalbuminemia dipertimbangkan
bila terdapat kondisi protein malnutrition dan atau calori malnutrition.3
E. Assessment Status Nutrisi pada PGK
Penilaian status nutrisi pada pasien PGK tidak dapat menggunakan
satu parameter saja, tetapi meliputi beberapa parameter seperti klinis,
riwayat medis, pemeriksaan fisik, riwayat psikososial, riwayat diet/
food recall, pemeriksaan biokimia ( albumin, transferin, potasium,
glukosa, kalsium, fosfat, kolesterol), antropometri, subjective global
assessment (SGA), dan malnutrition inflammation score (MIS).
Pemantauan status nutrisi (kalori dan protein) perlu dilakukan setiap 6
bulan pada semua pasien yang menjalani dialisis, baik CAPD maupun
hemodialisis.
F. RANGKUMAN
Tergantung pada petanda nutrisi yang digunakan dan populasi yang
diteliti, diperkirakan 50%-70% penderita dialisis menunjukkan tanda
dan gejala malnutrisi. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa status
nutrisi yang buruk pada saat penderita mulai memerlukan dialisis
merupakan prediktor kuat peningkatan mortalitas pada masa dialisis.
Tujuan dari penatalaksanaan nutrisi pada pasien dialisis pada dasarnya
adalah untuk meningkatkan dan memelihara status nutrisi yang baik
dengan tetap memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit serta tanpa
memperburuk gejala uremik. Penderita dialisis dengan asupan protein
yang kurang akan meningkatkan risiko terjadinya malnutrisi dan
mempunyai angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi, dengan
demikian membutuhkan perhatian, edukasi dan bimbingan secara
periodik-berkesinambungan dari dokter, perawat serta ahli gizi yang
merawat.
1. Discharte Planning
a. Mematuhi pembatasan cairan

38
b. Mematuhi diet gagal ginjal dengan HD
c. Menjaga kepatenan akses vascular
d. Meminum obat teratur
e. Mengontrol kadar Hb secara rutin

39
IV. KONSEP DUKUNGAN KELUARGA
A. Definisi Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan
terhadap anggota keluarganya yang memandang bahwa orang yang
bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan
jika diperlukan. Dalam bukunya yang berjudul “Konsep dan Proses
Keperawatan Keluarga” mendefinisikan keluarga adalah bagian dari
masyarakat yang peranannya sangat penting untuk membentuk
kebudayaan yang sehat. Keluarga merupakan faktor eksternal yang
memiliki hubungan paling kuat dengan pasien. Keberadaan keluarga
mampu memberikan motivasi yang sangat bermakna pada pasien
disaat pasien memiliki berbagai permasalahan perubahan pola
kehidupan yang demikian rumit dan menjenuhkan dengan semua
program kesehatan. Pada hakekatnya keluarga diharapkan mampu
berfungsi untuk mewujudkan proses pengembangan timbal balik rasa
cinta dan kasih sayang antara anggota keluarga, antar kerabat, serta
antar generasi yang merupakan dasar keluarga yang harmonis.
B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Keluarga
Menurut Setiadi (24), faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan
keluarga adalah:
1. Faktor Internal
a) Tahap perkembangan
Artinya dukungan ditentukan faktor usia dalam hal ini adalah
pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap
rentang usiamemiliki pemahaman dan respon yang berbeda-
beda terhadap perubahan kesehatan.
b) Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan
Keyakinan seseorang terhadap adanya dukungan terbentuk
oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan, latar
belakang pendidikan dan pengalaman masa lalu untuk
memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit
dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk
menjaga kesehatan dirinya.
c) Faktor Emosi
Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap
adanya dukungan dan cara melaksanakannya. Seseorang yang
mengalami respon stress dalam setiap perubahan hidupnya
cenderung berespon terhadap berbagai tanda sakit, mungkin

40
dilakukan dengan cara menghawatirkan bahwa penyakit tersebut
dapat mengancam hidupnya.
d) Spiritual
Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang
menjalani kehidupannnya, mencakup nilai dan keyakinan yang
dilaksanakan, hubungan dengan keluarga atau teman dan
kemampuan mencari harapan dan arti dalam hidupnya.
2. Faktor Eksternal
a) Praktek Keluarga
Dukungan keluarga biasanya mempengaruhi penderita dalam
melaksanakan kesehatannya, misalnya klien juga kemungkinan
besar akan melakukan tindakan pencegahan jika keluarganya
melakukan hal yang sama, misalnya anak selalu diajak orang
tuanya untuk melakuakan pemeriksaan kesehatan rutin, maka
ketika punya anak dia akan melakukan hal yang sama.
b) Faktor Sosial Ekonomi
Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan resiko
terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang bereaksi
terhadap penyakitnya. Variabel psikososial mencakup stabilitas
perkawinan, gaya hidup dan lingkungan kerja seseorang
biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan dari kelompok
sosialnya. Hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan
cara pelaksanaanya. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang
ia akan lebih cepat tanggap terhadap gejala penyakit yang
dirasakannya. Sehingga ia akan segera mencari pertolongan
ketika merasa ada gangguan pada kesehatannya.
c) Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan nilai dan
kebiasaan individu dalam memberikan dukungan termasuk cara
pelaksanaan kesehatan pribadi.
C. Komponen Dukungan Keluarga
Komponen-komponen dukungan keluarga terdiri dari:
1) Dukungan Emosional
Pada dukungan emosional keluarga sebagai sebuah tempat
yang aman nyaman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta
membantu penguasaan terhadap emosi. Setiap orang pasti
membutuhkan bantuan afeksi dari orang lain, dukungan ini
berupa dukungan simpatik dansemangat, perhatian, empati, cinta,

41
kepercayaan dan penghargaan. Dengan demikian seseorang yang
menghadapi persoalan merasa dirinya tidak menanggung beban
sendiri tetapi masih ada orang lain yang memperhatikan, mau
mendengar segala keluhannya, bersimpati dan empati terhadap
persoalan yang dihadapinya bahkan mau membantu memecahkan
masalah yang dihadapinya dan individu merasa berharga. Gagal
ginjal kronik dapat menimbulkan gangguan psikologis bagi
penderitanya. Hal ini disebabkan karena gagal ginjal kronik tidak
dapat disembuhkan. Kondisi ini dapat mempengaruhi seseorang
dalam mengendalikan emosi. Maka dukungan keluarga sangat
penting yang akan mendorong pasien untuk dapat mengendalikan
emosi dan waspada terhadap hal yang mungkin terjadi.
2) Dukungan Instrumental
Dukungan instrumental yaitu keluarga sebagai sumber
pertolongan praktis dan konkrit. Bantuan instrumental bertujuan
untuk mempermudah seseorang dalam melakukan aktifitasnya
berkaitan dengan persoalan yang dihadapinya atau menolong
secara langsung kesulitan yang dihadapinya. Misalnya dengan
menyediakan peralatan lengkap dan memadai bagi penderita,
menyediakan obat-obat yang dibutuhkan. Dukungan ini meliputi
penyediaan dukungan jasmaniah seperti pelayanan, bantuan
finansial dan material berupa bantuan nyata (instrumental support
material support), suatu kondisi dimana benda atau jasa akan
membantu memecahkan masalah praktis, termasuk di dalamnya
bantuan langsung, seperti saat seseorang memberi atau
meminjamkan uang, membantu pekerjaan sehari-hari,
menyampaikan pesan, menyediakan transportasi, menjaga dan
merawat saat sakit ataupun mengalami depresi yang dapat
membantu memecahkan masalah. Dukungan nyata paling efektif
bila dihargai oleh individu dan mengurangi depresi individu. Pada
dukungan nyata keluarga sebagai sumber untuk mencapai tujuan
praktis dan tujuan nyata. Dengan adanya dukungan instrumental
yang cukup pada pasien gagal ginjal kronik dalam menjalani
hemodialisa diharapkan kondisi pasien dapat terjaga dan
terkontrol sehingga dapat meningkatkan kesehatannya.
3) Dukungan Informasional
Pada dukungan informasional keluarga berfungsi sebagai
sebuah kolektor dan disseminator (penyebar informasi). Bantuan
informasi yang disediakan agar dapat digunakan seseorang dalam
menanggulangi persoalan-persoalan yang dihadapi, meliputi
pemberian nasehat, pengarahan, ide-ide atau informasi lainnya

42
yang dibutuhkan pasien gagal ginjal kronik dalam menjalani
hemodialisa. Jenis dukungan ini meliputi jaringan komunikasi dan
tanggung jawab bersama, termasuk di dalamnya memberikan
solusi dari masalah, memberikan nasehat, pengarahan, saran, atau
umpan balik tentang apa yang dilakukan oleh seseorang. Keluarga
dapat menyediakan informasi dengan menyarankan tentang
dokter, terapi yang baik bagi dirinya, dan tindakan spesifik bagi
individu untuk melawan stressor.Pada dukungan informasi ini
keluarga sebagai penghimpun informasi. Berdasarkan hal tersebut
pasien gagal ginjal kronik dalam menjalani hemodialisa sangat
membutuhkan dukungan dari orang lain dalam arti keluarga
berupa dukungan informasi. Dukungan informasi yang
dibutuhkan dapat berupa pemberian informasi tentang
hemodialisa
4) Dukungan Penghargaan
Dukungan ini merupakan suatu bentuk penghargaan yang
diberikanseseorang kepada pihak lain berdasarkan kondisi
sebenarnya dari penderita. Penilaian ini bisa positif dan negatif
yang mana pengaruhnya sangat berarti bagi seseorang. Pada
dukungan penghargaan keluarga bertindak sebagai sebuah umpan
balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan
sebagai sumber dan validator identitas keluarga. Dukungan ini
juga merupakan dukungan yang terjadi bila ada ekspresi penilaian
yang positif terhadap individu.Individu mempunyai seseorang
yang dapat diajak bicara tentang masalah mereka, terjadi melalui
ekspresi pengaharapan positif individu kepada individu lain,
penyemangat, persetujuan terhadap ide-ide atau perasaan
seseorang dan perbandingan positif seseorang dengan orang lain,
misalnya orang yang kurang mampu.
Dukungan keluarga dapat membantu meningkatkan strategi
koping individu dengan strategi-strategi alternatif berdasarkan
pengalaman yang berfokus pada aspek-aspek yang positif. Pada
dukungan penghargaan ini pasien gagal ginjal kronik mempunyai
seseorang yang dapat diajak bicara tentang masalah mereka,
terjadi melalui ekspresi penghargaan positif individu kepada
individu lain, penyemangat, persetujuan terhadap ide-ide atau
perasaan seseorang dan perbandingan positif seseorang dengan
orang lain. Dukungan keluarga dapat membantu meningkatkan
strategi koping individu dengan strategi-strategi alternatif
berdasarkan pengalaman yang berfokus pada aspek-aspek yang
positif. Dapat dikatakan bahwa adanya dukungan penghargaan

43
pada pasien gagal ginjal kronik dalam menjalani hemodialisa
berupa penghargaan, dapat meningkatkan status psikososial,
semangat, motivasi sehingga diharapkan dapat membentuk
perilaku yang sehat pada pasien dengan meningkatkan status
kesehatannya.
D. Sumber Dukungan Keluarga
Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan sosial yang
dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau
diadakan untuk keluarga (anggota keluarga memandang bahwa orang
yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan
bantuan jika diperlukan). Dukungan sosial keluarga dapat berupa
dukungan sosial kelurga internal, seperti dukungan dari suami atau
istri serta dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial
keluarga eksternal.
E. Peran Dukungan Keluarga Terhadap Pasien Hemodialisa
Dukungan keluarga terhadap pasien adalah sikap keluarga
terhadap anggota keluarga yang sakit yang ditunjukkan melalui
interaksi dan reaksi keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit.
Dukungan keluarga merupakan sebuah proses yang terjadi sepanjang
kehidupan dimana sifat dan jenis dukungan keluarga berbeda-beda
dalam berbagai tahap siklus kehidupan. Namun demikian, dalam
semua tahap siklus kehidupan dukungan keluarga membuat keluarga
mampu berfungsi untuk meningkatkan kesehatan dan adaptasi
keluarga.
Klien hemodialisa menghadapi perubahan yang signifikan karena
mereka harus beradaptasi terhadap terapi hemodialisa, komplikasi-
komplikasi yang terjadi, perubahan peran di dalam keluarga,
perubahan gaya hidup, yang harus mereka lakukan terkait dengan
penyakit gagal ginjal kronik dan terapi hemodialisa. Keadaan ini tidak
hanya dihadapi oleh klien saja, tetapi juga oleh anggota keluarga yang
lain. Keluarga cenderung terlibat dalam pembuatan keputusan atau
proses terapeutik dalam setiap tahap sehat dan sakit para anggota
keluarga yang sakit. Proses ini menjadikan seorang pasien
mendapatkan pelayanan kesehatan meliputi serangkaiaan keputusan
dan peristiwa yang terlibat dalam interaksi antara sejumlah orang,
termasuk keluarga, teman-teman dan para profesional yang
menyediakan jasa pelayanan kesehatan. Dukungan keluarga sebagai
bagian dari dukungan sosial dalam memberikan dukungan ataupun
pertolongan dan bantuan pada anggota keluarga yang memerlukan
terapi hemodialisa sangat diperlukan. Orang bisa memiliki hubungan

44
yang mendalam dan sering berinteraksi, namun dukungan yang
diperlukan hanya benar-benar bisa dirasakan bila ada keterlibatan dan
perhatian yang mendalam.
F. Faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Keluarga
Menurut Setiawati, S.(25) ada bukti kuat dari hasil penelitian
yang menyatakan bahwa keluarga besar dan keluarga kecil secara
kualitatif menggambarkan pengalaman-pengalaman perkembangan.
Anak-anak yang berasal dari keluarga kecil menerima lebih banyak
perhatian daripada anak-anak dari keluarga yang besar. Selain itu,
dukungan yang diberikan orangtua (khususnya ibu) juga dipengaruhi
oleh usia. Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga
lainnya adalah kelas sosial ekonomi orangtua. Kelas sosial ekonomi
disini meliputi tingkat pendapatan atau pekerjaan orang tua dan
tingkat pendidikan. Dalam keluarga kelas menengah, suatu hubungan
yang lebih demokratis dan adil mungkin ada, sementara dalam
keluarga kelas bawah, hubungan yang ada lebih otoritas atau otokrasi .

45
46
BAB III
METODE INTERVENSI
A. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
Mini riset ini dilakukan pada tanggal 09-13 April 2018 di Unit
Hemodialisa RSUD Wates Kulon Progo.
B. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung oleh peneliti baik
melalui kegiatan wawancara dengan pasien di unit hemodialisa yang
dianggap mampu memberikan informasi yang relevan di lapangan
ataupun melalui kegiatan pengamatan langsung oleh peneliti.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung
dari objek penelitian. Data sekunder dapat diperoleh berdasarkan
dokumen catatan status pasien, hasil pemeriksaan lab,atau catatan
rekam medik lainnya.
3. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan mencari acuan teori berdasarkan
literatur ilmiah atau dari buku-buku sebagai dasar dalam menganalisa
hasil penelitian.
C. LANGKAH-LANGKAH RISET
1. Menentukan subjek penelitian
a. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek
atau subyek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang
diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil
kesimpulannya. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien yang
dilakukan tindakan hemodilisa di ruang hemodialisa RSUD Weates
Kulon Progo di bulan April dengan jumlah rata-rata pasien
tindakan hemodialisis setiap minggu sebanyak 77 pasien.
b. Sampel Penelitian

47
Subjek penelitian ini adalah pasien dengan diagnosa medis
CKD stage V yang menjalani terapi hemodialisa rutin di unit
Hemodialisa RSUD Wates Kulon Progo pada tanggal 09-13 April
2018. Jumlah subjek dalam mini riset ini adalah 30 orang.
Penentuan jumlah subjek penelitian menggunakan metode
nonprobability sampling dimana metode ini tidak memberikan
kesempatan yang sama pada semua anggota populasi untuk
menjadi sampel penelitian. Teknik yang dipilih adalah accidental
sampling yaitu sampel ditentukan berdasarkan kebetulan atau
sampel seadanya. (Sugiyono, 2008).
Kriteria inklusi yaitu kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi
oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel.
Sedangkan kriteria eksklusi yaitu ciri-ciri anggota populasi yang
tidak dapat diambil sebagai sampel (Notoadmojo, 2010).
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :
a. Semua pasien hemodialisa yang bersedia menjadi responden.
b. Pasien yang dilakukan tindakan hemodialisa di ruang
hemodialisa RSUD Wates Kulon Progo.
c. Usia ≥ 18 tahun
d. Pendidikan minimal SD
e. Pasien yang didampingi oleh keluarga selama proses
hemodialisa.
Kriteria eksklusi
a. Tidak bisa membaca dan menulis
b. Pasien hemodialisis yang menjalani rawat inap
2. Melakukan wawancara/anamnesa dengan kuesioner
Wawancara adalah kegiatan pengumpulan data berdasarkan
percakapan antara peneliti dengan subjek penelitian dan berlangsung
antara narasumber dan responden yang bersedia. Penelitian ini
menggunakan kuesioner data demografi, kuesioner dukungan keluarga,

48
dan kuesioner kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal
ginjal kronik.
D. CARA MENGEVALUASI
1. Teknik evaluasi
Teknik evaluasi sesuai dengan tujuan penelitian adalah melihat
hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan dalam
pembatasan asupan cairan pasien CKD yang menjalani terapi
hemodialisis di Unit Hemodialisis RSUD Wates Kulon Progo.
Instrumen dalam penelitian ini menggunakan 3 kuesioner meliputi
data demografi, kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner
kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien CKD. Kuesioner
data demografi mencakup pertanyaan nama (inisial), jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan (bekerja/tidak bekerja).
Kuesioner dukungan keluarga menggunakan kuesior yang sudah
ada yaitu kuesioner yang digunakan oleh Surono (2017) dalam skripsi
yang berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kecemasan
Pasien Gagal Ginjal Kronik Selama Menjalani Proses Hemodialisa Di
Instalasi Hemodialisa RSUD Wates Kulon Progo”. Jumlah pertanyaan
sebanyak 20 item dengan menggunakan skala Likert dengan empat
kategori jawaban yaitu : tidak pernah, jarang, sering, selalu. Skor dari
jawaban tersebut adalah 1=tidak pernah, 2= jarang, 3=sering,
4=selalu. Kuesioner tersebut telah diuji validitas dengan hasil nilai
korelasi berkisar 0.520-0,899 dengan tingkat kemaknaan p value 0.01
yang berarti kuesioner tersebut valid. Kuesioner tersebut juga telah
diuji reliabilitas dengan nilai Cronbach Alpha keseluruhan item adalah
0,77 sehingga kuesioner tersebut reliable untuk digunakan. Untuk
memudahkan dalam menyusun instrument,maka diperlukan kisi-kisi
sebagai berikut :
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Kuesioner Dukungan Keluarga
No Pertanyaan Nomor Soal Jumlah

49
1. Dukungan instrumental 1,2,3,4 4
2. Dukungan informasional 5,6,7,8 4
3. Dukungan emosional 9,10,11,12 4
4. Dukungan penghargaaan 13,14,15,16 4
5. Dukungan harga diri 17,18,19,20 4

Total pertanyaan 20
Hasil dari kuesioner tersebut dikelompokkan menjadi baik apabila
hasil skoring (61-80), cukup apabila hasil skoring (41-60), dan kurang
apabila hasil skoring (20-40).
Kuesioner yang ketiga yaitu kuesioner untuk mengukur kepatuhan
pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yaitu
menggunakan kueosiner yang disusun oleh Tatu Hirmawaty (2014)
dalam skripsi “Pengaruh Metode Pendidikan Kesehatan Individual
Terhadap Kepatuhan dalam Pembatasan Asupan Cairan pada Pasien
Gagal Ginjal Kronik di RSUD Tarakan Jakarta” dengan jumlah
pertanyaan sebanyak 20 pertanyaan dimana kuesioner tersebut telah
diuji validitas dimana hasil nilai r produk moment diatas 0.541
dengan nilai Alpha 0.05 yang artinya semua pertanyaan sudah valid
dan telah diuji reliabitiasnya dengan hasil nilai Alpha Cronbach’s
sebesar 0.933 yang menunjukkan bahwa kuesioner tersebut sangat
reliabel. Kuesioner tersebut menggunakan skala guttman yaitu hanya
ada jawaban “ya / tidak”. Nilai 1 untuk jawaban “ya” dan nilai 0 untuk
jawaban “tidak” pada pertanyaan yang favorable, nilai 1 untuk
jawaban “tidak” dan nilai 0 untuk jawaban “ya” pada pertanyaan
unfavorable. Untuk memudahkan dalam menyusun instrument, maka
diperlukan kisi-kisi sebagai berikut :

50
Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Kepatuhan Pembatasam Asupan Cairan
No Pertanyaan Nomor Soal Jumlah
1. Menkonsumsi asupan cairan 1,2,3,4,5 5
2. Mengontrol keseimbangan cairan 6,7,15 3
3. Perubahan yang terjadi pada berat 8,9 2
badan
4. Makanan yang mengandung 10,11,12,13,14 5
banyak cairan
5. Akibat kelebihan cairan 17,19 2
6. Faktor lingkungan dengan 18,20,16 3
pembatasan asupan cairan.
Total Pertanyaan 20
Hasil dari kuesioner tersebut kemudian dikelompokkan menjadi
patuh dan tidak patuh. Patuh apabila hasil skoring ≥ nilai mean
(14,53) dan tidak patuh apabila hasil skoring ≤ nilai mean (14,53).
2. Metode analisa data
Analisa data bertujuan untuk memperoleh gambaran dari hasil
penelitian yang telah dirumuskan dalam tujuan penelitian,
membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan, dan memperoleh
kesimpulan dan makna secara umum dari penelitian (Notoadmojo,
2010).
Analisa data penelitian dalam penelitian ini meliputi dua cara,
yaitu:
a. Analisa univariat
Analisa univariat bertujuan untuk menganalisa variabel yang ada
dalam penelitian, dengan cara mendeskripsikan dan menghitung
distribusi frekuensi karakteristik responden meliputi umur, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan dan variabel penelitian. Peneliti akan
mengolah data tersebut menjadi bentuk proporsi dan presentase.
Hasilnya akan disajikan dalam bentuk tabel.
Rumus yang digunakan yaitu :

Keterangan :

51
P : presentase
F: frekuensi yang teramati
N: jumlah responden penelitian.
b. Analisa data bivariat
Analisa data ini adalah analisa data yang digunakan untuk dua
variabel yang dalam hasil kesimpulan sementara diduga ada
hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Perhitungan
analisis tersebut menggunakan uji Chi-square untuk menguji
hubungan atau pengaruh signifikan pada variabel penelitan. Uji Chi-
square dipilih berdasarkan pada skala data yang digunakan oleh tiap
variabel yaitu berupa data nominal dan data ordinal. Data nominal
pada variabel pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal
kronik, sedangkan data ordinal didapatkan pada variabel dukungan
keluarga. Rumus Chi-Square yang digunakan adalah :

Keterangan :
𝑥 2 = Chi-Square
𝑜 = observasi (frekuensi teramati di sel baris dan kolom)
𝐸 = frekuensi (frekuensi harapan dari baris dan kolom)

52
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN
1. Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil analisa data diperoleh hasil karakteristik responden
pasien gagal ginjal kronik pada Unit Hemodialisa RSUD Wates Tahun
2018 periode April 2018 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1 Distribusi Responden Bersadarkan Jenis Kelamin, Usia, Pendidikan
dan Pekerjaan
Variabel Frekuensi (n) Persentase (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki 13 43,3
Perempuan 17 56,7
Usia
26-35 tahun (Dewasa Awal) 7 23,3
36-45 tahun (Dewasa Akhir) 5 16,7
46-55 tahun (Lansia Awal) 9 30
56-65 tahun (Lansia Akhir) 6 20
>65 tahun (Manula) 3 10
Pendidikan
SD 9 30
SMP 5 16,7
SMA 13 43,3
D3/S1 2 6,7
S2 1 3,3
Pekerjaan
Tidak Bekerja 23 76,7
Bekerja 7 23,3
Berdasarkan tabel 4.1 diatas didapatkan data bahwa sebagian besar responden
berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 56,7%. Usia responden hampir
setengahnya berusia diantara 46-55 tahun yaitu sebanyak 30% dan ada yang
berusia manula (>65 tahun) yaitu sebanyak 10%. Empat puluh tiga persen
responden memiliki tingkat pendidikan SMA dan sebagian besar responden tidak
bekerja yaitu sebanyak 76,7%.
2. Analisis Univariat
a. Dukungan Keluarga

53
Berikut ini merupakan hasil analisa data dukungan keluarga pada
pasien gagal ginjal kronik pada Unit Hemodialisa RSUD Wates Tahun
2018 periode April 2018 :
Tabel 4.2 Distribusi Responden Bersadarkan Dukungan Keluarga
Variabel Dukungan Frekuensi (n) Persentase (%)
Keluarga
Baik 29 96,7
Cukup 1 3,3
Kurang 0 0
Total 30 100
Berdasarkan tabel 4.2 diatas didapatkan data bahwa 96,7% responden
memiliki dukungan keluarga yang baik, 3,3 % responden memiliki cukup
dukungan keluarga dan tidak ada yang kurang dukungan keluarga.
b. Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan
Berikut ini merupakan hasil analisa data kepatuhan pembatasan asupan
cairan pada pasien gagal ginjal kronik pada Unit Hemodialisa RSUD Wates
Tahun 2018 periode April 2018 :
Tabel 4.3 Distribusi Responden Bersadarkan Kepatuhan Pembatasan Asupan
Cairan
Variabel Kepatuhan Frekuensi (n) Persentase (%)
Patuh 17 56,7
Tidak Patuh 13 43,3
Total 30 100
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan data bahwa sebagian besar
responden patuh terhadap pembatasan asupan cairan yaitu sebanyak 56,7%
sedangkan yang tidak patuh sebanyak 43,3%.
3. Analisis Bivariat
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan
Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Unit Hemodialisa RSUD Wates
Berdasarkan analisa data diperoleh hasil hubungan dukungan keluarga
dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik di
unit hemodialisa RSUD Wates periode April 2018 adalah sebagai berikut :

54
Tabel 4.4 Kepatuhan Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga
Dukungan Kepatuhan Total ƥ
Keluarga Patuh Tidak Patuh
n % n % n % 1,000
Baik 16 55,2 13 44,8 29 100
Cukup 1 100 0 0 1 100
Total 17 56,7 13 43,3 30 100
Berdasarkan tabel 4.4 diatas didapatkan data bahwa sebagian besar
responden patuh terhadap pembatasan asupan cairan dengan dukungan
keluarga yang baik yaitu sebanyak 55,2%, sedangkan responden yang memiliki
dukungan keluarga baik namun tidak patuh terhadap pembatasan asupan cairan
yaitu sebanyak 44,8%.
Hasil analisa data yang didapatkan dari Uji Fisher Exact didapatkan hasil ƥ
value sebesar 1,000 yang berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan.
B. PEMBAHASAN dan KETERKAITAN DENGAN JURNAL
1. Dukungan Keluarga
Pada tabel 4.2 didapatkan data bahwa hampir seluruh responden memiliki
dukungan keluarga yang baik yaitu sebanyak 96,7%. Hal ini menunjukkan
bahwa responden tersebut mendapatkan perhatian dan kepedulian yang tinggi
dari keluarganya. Keluarga sebagai orang terdekat pasien yang selalu siap
memberikan dukungan moril maupun materi yang dapat berupa informasi,
perhatian, bantuan nyata dan pujian bagi klien sehingga beban dalam
menjalani perawatan berkurang. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan
oleh Smet & Wardani (2014) dalam Fidyawati & Susanti (2017) bahwa
keluarga memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kesehatan anggota
keluarganya serta berperan penting dalam memahami kondisi pasien baik
secara fisik, psikis, sosial dan spiritual. Selain itu Akhmadi (2009)
mengungkapkan bahwa dengan dukungan yang baik akan memberikan
mekanisme koping yang positif bagi klien.
Hal ini senada dengan pernyataan Clarkson & Robinson (2010) dalam
jurnalnya “Life on Dialysis : A Lived Experience” yang menyebutkan bahwa

55
sumber koping positif pada pasien gagal ginjal berasal dari Tuhan, dukungan
keluarga, teman dan kelompok pendukung lainnya.
2. Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan
Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan data bahwa sebagian besar responden
patuh terhadap pembatasan asupan cairan yaitu sebanyak 56,7% sedangkan
yang tidak patuh sebanyak 43,3%. Hal ini menandakan bahwa hampir separuh
responden tidak mematuhi anjuran untuk pembatasan asupan cairan.
Smeltzer & Bare (2002) mengatakan pasien dengan gagal ginjal kronik
yang tidak mematuhi pembatasan cairan akan mengalami penumpukan cairan
sehingga menyebabkan edema paru dan hipertropi pada ventrikel kiri.
Penumpukan cairan dalam tubuh menyebabkan fungsi kerja jantung dan paru-
paru berat yang berakibat pada respon fisik pasien menjadi cepat lelah dan
sesak, aktivitas fisik juga mengalami gangguan baik pada saat beraktifivitas
ringan maupun sedang. Pembatasan asupan cairan akan mengubah gaya hidup
dan dirasakan pasien sebagai gangguan serta diet yang dianjurkan tersebut
tidak disukai oleh kebanyakan penderita sehingga sering mengabaikan dietnya
(Riyanto, 2011).
Hal ini senada isi jurnal “Lived Experiences of Patients on Hemodialysis :
A Meta-Syntesis” (2012) yang mengungkapkan bahwa pasien dengan
hemodialisa seumur hidupnya mempunyai banyak problematika diantaranya
merasa terbelenggu dalam hidup, mempunyai masalah mental dan emosional,
mengandalkan mesin hemodialisa seumur hidupnya, dan harus berdamai
dengan masalah yang ada.
Jurnal tersebut mengungkapkan bahwa kebanyakan responden merasa
hidupnya terbelenggu dikarenakan banyaknya batasan-batasan yang harus
dijalani mulai dari batasan asupan makanan dan cairan serta batasan dalam
aktivitas fisik dimana responden akan mudah lelah dalam beraktivitas. Bahkan
ada responden yang mengeluhkan seperti tidak bisa melakukan aktivitas
apapun.
Faktor psikologis merupakan penghalang utama terbanyak pada kepatuhan
pasien terhadap pembatasan asupan cairan pada penderita gagal ginjal kronik

56
dan sebagian besar kurangnya motivasi. Pernyataan ini merupakan hasil dari
penelitian yang dilakukan oleh Smith K et all (2010) dalam jurnal “Patient
Perspertives on Fluid Managenement in Chronic Hemodialysis”.
Namun demikian, batasan dalam asupan cairan adalah hal yang utama
untuk dapat mempertahankan kualitas hidup klien.
3. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Pembatasan Asupan
Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik
Berdasarkan hasil analisa data dengan Uji Fisher Exact, pada tabel 4.4
diketahui bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan
keluarga dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal
kronik di Unit Hemodialisa RSUD Wates tahun 2018 dengan ƥ value sebesar
1,000. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Umayah
(2016) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga
dengan kepatuhan pambatasan asupan cairan pasien gagal ginjal kronik
dengan ƥ value sebesar 0.047 dan nilai r sebesar 0,0360.
Namun jika melihat persentase responden yang patuh dengan dukungan
keluarga yang baik lebih besar dari pada responden yang tidak patuh yaitu
sebesar 55,2%, peneliti berasumsi bahwa dukungan keluarga tetap merupakan
faktor yang penting terhadap kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien
gagal ginjal kronik. Hal ini senada dengan penelitian Fidyawati dan Susanti
(2017) yang mengatakan bahwa 76,2% responden patuh dengan diet yang
dianjurkan dengan dukungan keluarga yang baik.
Pernyataan tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Shahgholian N & Yousefi H (2015) dalam jurnal “Supporting
Hemodyalysis patients A Phenomenological Study” yang menyatakan bahwa
terdapat 4 dukungan utama pada pasien gagal ginjal kronik yaitu dukungan
psikologis, pendamping, dukungan sosial, dan dukungan spiritual. Dukungan
psikologis terdiri dari 2 bagian yaitu dukungan dari tenaga kesehatan dan yang
kedua merupakan dukungan dari keluarga dan kerabat. Pendamping dalam hal
ini merupakan adanya seseorang yang mendampingi dalam transportasi,
menyediakan dan menggunakan obat-obatan serta mendampingi dalam

57
kegiatan sehari-hari. Dukungan sosial diantaranya memahami kondisi pasien,
berkomunikasi, memberikan bantuan yang dibutuhkan dan adanya keterikatan.
Sedangkan dukungan spiritual yaitu perjuangan dan percaya kepada Tuhan
sehingga pasien harus tetap berdoa dan berupaya.

58
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
1. Karakteristik responden pasien gagal ginjal kronik pada Unit Hemodialisa
RSUD Wates Tahun 2018 periode April 2018 adalah sebagian besar
responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 56,7%. Usia
responden hampir setengahnya berusia diantara 46-55 tahun yaitu
sebanyak 30% dan yang berusia manula (>65 tahun) yaitu sebanyak 10%.
Empat puluh tiga persen responden memiliki tingkat pendidikan SMA dan
sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 76,7%.
2. Dukungan keluarga pada pasien gagal ginjal kronik pada Unit
Hemodialisa RSUD Wates Tahun 2018 periode April 2018 yaitu 96,7%
responden memiliki dukungan keluarga yang baik, 3,3 % responden
memiliki cukup dukungan keluarga dan tidak ada yang kurang dukungan
keluarga.
3. Persentase kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal
kronik pada Unit Hemodialisa RSUD Wates Tahun 2018 periode April
2018 adalah sebagian besar responden patuh terhadap pembatasan asupan
cairan yaitu sebanyak 56,7% sedangkan yang tidak patuh sebanyak 43,3%.
4. Berdasarkan analisa data yang didapatkan dari Uji Fisher Exact diketahui
bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga
dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan dengan hasil ƥ value sebesar
1,000.
B. SARAN
1. Bagi Pasien dan Keluarga
Keluarga tetap mempertahankan dukungan yang baik kepada pasien
sehingga pasien tetap mampu semangat dan taat menjalani terapi
hemodialisa serta mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk pasien
hendaknya tetap patuh terhadap aturan dalam pembatasan asupan cairan
serta diet yang baik bagi penderita gagal ginjal kronik.

59
2. Bagi Perawat di Unit Hemodialisa RSUD Wates
Hendaknya bisa mengkaji lebih dalam tentang penyebab ketidakpatuhan
pasien terhadap pembatasan asupan cairan sehigga bisa menemukan solusi
yang terbaik untuk pasien dan meminimalisir perburukan kondisi pasien.
3. Bagi RSUD Wates
Memaksimalkan unit PKRS dan konselor gizi untuk mengedukasi pasien
dan keluarga tentang pentingnya mematuhi asupan pembatasan cairan dan
diet yang baik bagi penderita gagal ginjal kronik sehingga pasien mampu
memaksimalkan perawatan yang sedang dijalaninya.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu sumber
informasi untuk menambah wawasan khususnya bagi mahasiswa yang
sedang menjalani praktik di unit hemodialisa.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini mengenai hal-hal lain yang
mempengaruhi kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal
ginjal dari segi pendidikan, pengetahuan, sikap, tindakan, lama menjalani
hemodialisa, dan usia.

60
DAFTAR PUSTAKA

Cahyaningsih, N. 2009. Hemodialisis. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press

Dharmeizar. 2012. Epidemiologi dan Penatalaksanaan Penyakit Ginjal Kronik.


Naskah Lengkap Simposium Nasional Peningkatan Pelayanan Penyakit
Ginjal Kronik Msa Kini dan Indonesian renal Registry Joglosemar 2012.
Pernefri Wilayah Yogyakarta

Lestariningsih. 2012. Pelayanan Hemodialisis dan Perkembangan di Indonesia.


Naskah Lengkap Simposium Nasional Peningkatan Pelayanan Penyakit
Ginjal Kronik Msa Kini dan Indonesian renal Registry Joglosemar 2012.
Pernefri Wilayah Yogyakarta

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:


812/MENKES/PER/VII/2010 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Dialisis
Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pernefri, 2003. Konsensus Dialisis. Jakarta: Perhimpunan Nefrologi Indonesia

Pernefri, AsDI dan fresenius Kabi, 2011. Sehqt dengan penyakit ginjal kronik.
Jakrta : Perhimpunan Nefrologi Indonesia

Pernefri, 2012. Simposium Nasional Peningkatan Pelayanan Penyakit Ginjal


Kronik Masa Kini dan Indonesian Renal Registry Joglosemar 2012.
Yogyakarta: Pernefri Wilayah Yogyakarta
Pernefri, 2012. Workshop dan Simposium Nasional Peningkatan Pelayanan
Hemodialisis, Penyakit Ginjal dan Aplikasi Indonesian Renal Registry
Joglosemar 2012. Yogyakarta: Pernefri Wilayah Yogyakarta
Protap Tindakan Hemodialisis, 2012. RSUD Wates
Standar Asuhan Keperawatan Hemodialisis, 2011. RSUD Wates
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung : Penerbit Alfabeta
Afsar, B., Elsurer, R., 2012. The relationship between sleep quality and daytime
sleepiness and various anthropometric parameters in stable patients undergoing
hemodialysis. Journal of Renal Nutrition (September) (epub ahead of print)
Anna, L. K. 2013. Pasien Cuci Darah Terus Meningkat. http://health.kompas.com. 18
November 2014 (17:48).
Ayoub, A. M. A. 2012. Quality of Life Among Dialysis Patients in United Arab Emirates.
Thesis. Victoria University Wellington.

61
http://researcharchive.vuw.ac.nz/xmlui/bitstream/handle/10063/2214/thesis.p
df?sequence=2
Chang, S. Y and Yang, T. C. 2011. Sleep Quality and Assosiation Factors in
Hemodialysis Patients. Acta Nephrologica 25(3):97-104.

62