Anda di halaman 1dari 40

BAHAN AJAR

WHOLE OF GOVERNMENT
(WOG)

Oleh :
TIM WOG

PELATIHAN DASAR CPNS BAGI GOL II/III

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA


MANUSIA DAERAH (BPSDMD) PROV JATENG
TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan sebuah


frame dan cara pandang seluruh elemen bangsa dalam memahami
kesatuan dan persatuan bangsa di segala aspek, termasuk aspek
pemerintahan. Cara pandang ini diperlukan karena tidak terlepas dari
karakteristik keberagaman Indonesia yang ada.
Keberagaman Indonesia dalam konteks suku bangsa, agama, nilai
dan keyakinan menjadi khazanah kebhinnekaan yang mempunyai dua sisi
mata pedang yang berbeda satu sama lain. Sebagai sebuah bentuk kekayaan,
maka kondisi majemuk bangsa merupakan sebuah realitas yang bisa
menghadirkan potensi-potensi pendorong adanya pertumbuhan dan
kerjasama. Namun di sisi lain, keberagaman juga menjadi ancaman ketika
primordialisme dan ego sektor menguat dan saling ‘mengalahkan’.
Pun di tubuh pemerintahan, keberagaman juga menjadi warna
sektor yang relatif berbeda satu sama lain. Perbedaan antar sektor secara
alami mendorong adanya perbedaan visi dan orientasi masing-masing
sektor yang pada akhirnya mendorong adanya kompetisi atau persaingan
antar sektor yang menajam. Satu sektor memandang sektor lain tidak lebih
penting dari seeektornya sendiri, demikian pula sebaliknya.
Mentalitas sempit yang lebih mementingkan sektornya masing-
masing ini bisa terus menguat manakala perekat antar sektor melemah atau
tidak ada. ASN sebagai aparatur penyelenggara negara sudah seharusnya
menjadi motor penggerak persatuan dan kesatuan serta menjadi contoh
bagi warga bangsa dalam mencapainya, bukan sebaliknya menjadi contoh
buruk dalam mendorong disintegrasi bangsa dan fragmentasi sektor.
Di luar itu, beberapa hal terkait penyelenggaraan pemerintahan
pun masih menjadi pertanyaan mendasar, seperti mengapa satu isu atau
masalah dapat diatasi oleh kebijakan atau institusi tertentu, akan tapi isu
atau masalah lain memerlukan upaya lebih dari sekedar jawaban
kebijakan atau penanganan institusi.
Bahan ajar ini dimaksudkan untuk memberikan fondasi dan nilai
fundamental kepada ASN mengenai pentingnya merumuskan tujuan
bersama, menyiapkan upaya-upaya bersama (kolaborasi lintas sektor) dalam
mencapai tujuan umum serta menciptakan perekat kebangsaan yang kuat.

B. Deskripsi Singkat

Mata Pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan


tentang sistem pengelolaan pemerintahan yang terintegrasi dalam
penyelenggaraan pemberian pelayanan melalui pembelajaran konsep whole
of government (WoG), Penerapan WoG, dan Best practice penerapan WoG
dalam pemberian pelayanan yang terintegrasi.
2
Dalam ilustrasi berikut menjelaskan bagaimana strategi
penanaman pemahaman mengenai WoG dalam bahan ajar ini sebagai berikut:

WoG dalam bahan ajar ini dipahami dalam konteks ruang lingkup nasional,
kelompok, komunitas, dan sektor kebijakan, juga dalam konteks
instrumen, serta bagaimana penataan institusionalnya.

C. Hasil Belajar
Setelah mengikuti mata Pelatihan ini, peserta diharapkan mampu
mengaktualisasikan konsep, penerapan WoG, dan Best practice penerapan
WoG dalam pemberian pelayanan yang terintegrasi.

D. Indikator Hasil Belajar


Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan
dapat:
1. Menjelaskan
konsepWoG
2. Menjelaskan penerapan WoG dalam pemberian pelayanan yang
terintegrasi
3. Menganalisis best practice penerapan WoG dalam pemberian
pelayanan yang terintegrasi

E. Materi Pokok:
1. Kons
epWoG
2. Penerapan WoG dalam pemberian pelayanan yang
terintegrasi
3. Best practice penerapan WoG dalam pemberian pelayanan yang
3
terintegrasi

F. Waktu
Alokasi waktu: 2 sesi ( 6JP ).

4
BAB II
KONSEP WOG

Setelah mengikuti bab ini, peserta diharapkan memiliki wawasan, perspektif


dan pemahaman terkait pengertian WoG secara utuh

A. Mengenal Whole-of-Government

Whole-of-Government atau disingkat WoG adalah sebuah


pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya
kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup
koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan
kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. Oleh karenanya
WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan yang
melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang
relevan.
Pendekatan WoG ini sudah dikenal dan lama berkembang terutama
di negara-negara Anglo-Saxon seperti Inggris, Australia dan Selandia Baru.
Di Inggris, misalnya, ide WoG dalam mengintegrasikan sektor-sektor ke
dalam satu cara pandang dan sistem sudah dimulai sejak pemerintahan
Partai Buruhnya Tony Blair pada tahun 1990-an dengan gerakan
modernisasi program pemerintahan, dikenal dengan istilah ‘joined-up
government’ (Bissessar, 2009; Christensen & L\a egreid, 2006). DI
Australia, WoG dimotori ole Australian Public Service (APS) dalam
laporannya berjudul Connecting Government: Whole of Government
Responses to Australia's Priority Challenges pada tahun 2015. Namun
demikian WoG bukanlah sesuatu yang baru di Australia. Fokus
pendekatan pada kebijakan, pembangunan dan pemberian layanan publik.
Sementara di Selandia Baru WoG juga dikembangkan melalui antara lain
integrasi akunting pemerintahan, pengadaan baang dan jasa, ICT, serta
sektor- sektor lainnya.
Pendekatan WoG di beberapa negara ini dipandang sebagai bagian
dari respon terhadap ilusi paradigma New Public Management (NPM) yang
banyak menekankan aspek efisiensi dan cenderung mendorong ego
sektoral dibandingkan perspektif integrasi sektor.
Pada dasarnya pendekatan WoG mencoba menjawab pertanyaan
klasik mengenai koordinasi yang sulit terjadi di antara sektor atau
kelembagaan sebagai akibat dari adanya fragmentasi sektor maupun
eskalasi regulasi di tingkat sektor. Sehingga WoG sering kali dipandang
sebagai perspektif baru dalam menerapkan dan memahami koordinasi antar
sektor.

1. Pengertian WoG
Definisi WoG yang dinyatakan dalam laporan APSC sebagai:
“[it] denotes public service agencies working across portfolio
boundaries to achieve a shared goal and an integrated government
response to particular issues. Approaches can be formal and
informal. They can focus on policy development, program
1
management and service delivery” (Shergold & others, 2004).
Dalam pengertian ini WoG dipandang menunjukkan atau
menjelaskan bagaimana instansi pelayanan publik bekerja lintas batas
atau lintas sektor guna mencapai tujuan bersama dan sebagai respon
terpadu pemerintah terhadap isu- isu tertentu. Untuk kasus Australia
berfokus pada tiga hal yaitu pengembangan kebijakan, manajemen
program dan pemeberian layanan.
Dari definisi ini diketahui bahwa WoG merupakan pendekatan
yang menekankan aspek kebersamaan dan menghilangkan sekat-sekat
sektoral yang selama ini terbangun dalam model NPM. Bentuk
pendekatannya bisa dilakukan dalam pelembagaan formal atau
pendekatan informal.
Definisi lain yang juga mempunyai kesamaan fitur dari United
States Institute of Peace (USIP) menjelaskannya sebagai berikut:
“An approach that integrates the collaborative efforts of the
departments and agencies of a government to achieve unity of effort
toward a shared goal. Also known as interagency approach. The terms
unity of effort and unity of purpose are sometimes used to describe
cooperation among all actors, government and otherwise” (“Whole-of-
government approach | Glossary of Terms for Conflict Management and
Peacebuilding,” n.d.).
Dalam pengertian USIP, WoG ditekankan pada pengintegrasian
upaya-upaya kementerian atau lembaga pemerintah dalam mencapai
tujuan-tujuan bersama. WoG juga dipandang sebagai bentuk kerjasama
antar seluruh aktor, pemerintah dan sebaliknya.
Pengertian dari USIP ini menunjukkan bahwa WoG tidak hanya
merupakan pendekatan yang mencoba mengurangi sekat-sekat sektor,
tetapi juga penekanan pada kerjasama guna mencapai tujuan-tujuan
bersama.
Dari dua pengertian di atas, dapat diketahui bahwa karakteristik
pendekatan WoG dapat dirumuskan dalam prinsip-prinsip kolaborasi,
kebersamaan, kesatuan, tujuan bersama, dan mencakup keseluruhan
aktor dari seluruh sektor dalam pemerintahan.
Dalam banyak literatur lainnya, WoG juga sering disamakan
atau minimal disandingkan dengan konsep policy integration, policy
coherence, cross-cutting policy-making, joined-up government,
concerned decision making, policy coordination atau cross government.
WoG memiliki kemiripan karakteristik dengan konsep-konsep tersebut,
terutama karakteristik integrasi institusi atau penyatuan pelembagaan
baik secara formal maupun informal dalam satu wadah. Ciri lainnya
adalah kolaborasi yang terjadi antar sektor dalam menangani isu
tertentu. Namun demikian terdapat pula perbedaannya, dan yang paling
nampak adalah bahwa WoG menekankan adanya penyatuan
keseluruhan (whole) elemen pemerintahan, sementara konsep-konsep
tadi lebih banyak menekankan pada pencapaian tujuan, proses integrasi
institusi, proses kebijakan dan lainnya, sehingga penyatuan yang terjadi
hanya berlaku pada sektor-sektor tertentu saja yang dipandang relevan.

2.
2
3. Mengapa WoG?

Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan mengapa WoG


menjadi penting dan tumbuh sebagai pendekatan yang mendapatkan
perhatian dari pemerintah. Pertama, adalah adanya faktor-faktor
eksternal seperti dorongan publik dalam mewujudkan integrasi
kebijakan, program pembangunan dan pelayanan agar tercipta
penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik. Selain itu
perkembangan teknologi informasi, situasi dan dinamika kebijakan
yang lebih kompleks juga mendorong pentingnya WoG dalam
menyatukan institusi pemerintah sebagai penyelenggara kebijakan dan
layanan publik.
Kedua, terkait faktor-faktor internal dengan adanya fenomena
ketimpangan kapasitas sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa
kompetisi antar sektor dalam pembangunan. Satu sektor bisa menjadi
sangat superior terhadap sektor lain, atau masing-masing sektor
tumbuh namun tidak berjalan beriringan, melainkan justru
kontraproduktif atau ‘saling membunuh’. Masing-masing sektor
menganggap bahwa sektornya lebih penting dari yang lainnya. Sebuah
contoh misalnya, sektor lingkungan hidup memandang bahwa
pelestarian alam, terutama hutan, merupakan prioritas dalam
pembangunan, sehingga perlu mendapatkan prioritas dukungan
kebijakan dan keuangan yang lebih. Sementara di sisi lain sektor
pertambangan memandang bahwa pembangunan memerlukan modal
besar, dan hanya tambanglah yang bisa menyediakan. Kedua sektor
sangat penting, tetapi nampak ada perbedaan tajam atau bahkan
saling bertabrakan dalam perumusan tujuan masing-masing. Sektor
pendidikan dengan sektor investasi, misalnya, bisa berpotensi untuk
berseberangan dalam kepentingan jangka pendek dan panjang. Sektor
pendidikan misalnya lebih berorientasi pada penyiapan sumber daya
manusia jangka panjang melalui investasi pendidikan. Hasil dari
pembangunan di sektor pendidikan tidak akan bisa diraakan dalam
jangka waktu pendek, karena membutuhkan waktu yang cukup lama
untuk memtik hasilnya. Sementara sektor yang ingin menggerakkan
penanaman modal justru memandang bahwa investasi harus segera
menghasilkan dalam jengka pendek, karena investasi lebih melihat
nilai ekonomis dan keuntungan dalam jangka pendek dari sebuah
kegiatan.
Perbedaan-perbedaan orientasi sektor dalam pembangunan bisa
menyebabkan tumbuhnya ego sektoral (mentalitas silo) yang mendorong
perilaku dan nilai individu maupun kelompok yang menyempit pada
kepentingan sektornya. Dalam konteks kesatuan pembangunan dan
negara, hal ini jelas merugikan, karena penguatan sektoral tanpa
adanya nila-nilai kesatuan hanya akan menyebabkan persaingan
sektor yang kontra produktif terhadap tujuan- tujuan yang lebih besar
atau yang berskala nasional. Menguat dan tumbuhnya sektor dalam
perspektifnya masing-masing, diikuti dengan adanya pelembagaan dan
ketentuan peraturan perundangan sektoral yang relatif mengabaikan
tujuan bersama atau nasional dengan lebih mementingkan
kepentingan sektoralnya. Regulasi terkait sektor menguat dan menajam
di masing-masing sektor, bahan di tingkat UU pun, sebagai payung
3
hukum, banyak terjadi benturan-benturan kepentingan tadi.
Ketiga, khususnya dalam konteks Indonesia, keberagaman
latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, serta bentuk latar belakang
lainnya mendrong adanya potensi disintegrasi bangsa. Pemerintah
sebagai institusi formal berkewajiban untuk mendorong tumbuhnya
nilai-nilai perekat kebangsaan yang akan menjamin bersatunya elemen-
elemen kebangsaan ini dalam satu frame NKRI.
Dalam hal ini WoG menjadi penting, karena diperlukan sebuah
upaya untuk memahami pentingnya kebersamaan dari seluruh sektor
guna mencapai tujuan bersama. Sikap, perilaku, dan nilai yang
berorientasi sektor harus dicairkan dan dibangun dalam fondasi
kebangsaaan yang lebih mendasar, yang mendorong adanya
semangat persatuan dan kesatuan.

4. Bagaimana WoG dilakukan?

Pendekatan WoG dapat beroperasi dalam tataran


kelembagaan nasional maupun daerah. Penataan kelembagaan
menjadi sebuah keharusan ketika pendekatan ini diperkenalkan.
Namun penataan ini tidak serta merta merubah kelembagaan, atau
sebaliknya. Sehingga pendekatan WoG dapat dilihat dan dibedakan
berdasarkan perbedaan kategori hubungan antara kelembagaan yang
terlibat. Dalam Perry 6 (2004) menjelaskan mengenai perbedaan
kategori hubungan kelembagaan dalam sebuah kontinuum sebagai
berikut:

Kategori Hubungan
Tipe Keterangan
Koordinasi Penyertaan Pengembangan strategi dengan
mempertimbangkan dampak
Dialog Pertkaran informasi
Joint planning Perencanaan bersama, kerjasama
Integrasi Joint working sementara
Kolaborasi sementara
Joint venture Perencanaan jangka panjang, kerjasama
pada pekerjaan besar yang menjadi urusan
utama salah satu peserta kerjasama
Satelit Entitas yang terpisah, dimilihi bersama,
dibentuk sebagai mekanisme integratif
Kedekatan dan Aliansi strategis Perencanaan jangka panjang, kerjasama
pelibatan pada isu besar yang menjadi urusan utama
salah satu peserta kerjasama
Union Unifikasi resmi, identitas masing-masing
masih nampak
Merger Penggabungan ke dalam struktur baru
(Sumber: diadaptasi dari (6, 2004)
Berdasarkan kategorisai di atas, maka WoG dapat dipraktekkan dalam
kontinum koordinasi-merger, di mana pelaksanaan WoG dilakukan
mulai dari sebatas koordinasi tanpa ada dampak perubahan institusi
4
atau kelembagaan sampai dengan proses merger atau penyatuan
beberapa lembaga menjadi satu unit organisasi baru. Perbedaan
masing-masing kategori terletak dari posisi masing- masing kelembagaan
yang terlibat atau dilibatkan dalam WoG. Untuk kategori koordinasi,
maka kelembagaan yang terlibat dalam pendekatan WoG tidak
mengalami perubahan struktur organisasi. Sedangkan dalam kategori
integrasi, kelembagaan yang terlibat mulai cair, dan terdapat
penyamaan perencanaan jangka panjang serta kerjasama. Adapun
dalam kategori kedekatan dan pelibatan, kelembagaan menyatukan diri
dalam wadah yang relatif lebih permanen.

Box 1. Permainan Tujuan Bersama


a. Persiapan:
1) Siapkan bola karet (atau bisa juga kertas yang dibuat menjadi bola
kecil), dengan 2 (dua) warna, biru dan merah misalnya. Masing-masing
bola karet tersebut jumlahnya sebanyak jumlah peserta dalam kelas
diklat. Setiap peserta diberikan satu bola karet biru dan satu bola karet
merah.
2) Siapkan juga satu keranjang kecil atau tempat sampah (yang bersih).
3) Ruangan kelas disetting dengan meja yang melingkar, sehingga
seluruh peserta dapat saling melihat satu sama lain. Instruktur atau
fasilitator berada di tengah. Tempatkan keranjang kecil di tengah- tengah
lingkaran.
b. Permainan:
1) Instruksikan kepada seluruh peserta untuk melemparkan bola karet
warna biru ke arah yang mereka suka, ke sesama peserta atau sudut
ruangan. Terserah mereka. Boleh disisipkan perintah lucu misalnya
sebagai contoh “lemparkan bola karet biru ke orang yang paling anda
suka, atau yang paling anda benci”. Lakukan dengan aba-aba dari
fasilitator, sehingga pelemparan dilakukan secara bersamaan. Setelah
selesai, ruang kelas akan terlihat berantakan. Biarkan saja.
2) Lanjutkan dengan instruksi kedua yaitu menyuruh seluruh peserta
untuk mencoba melemparkan bola karet merah dan memasukkannya ke
dalam keranjang kecil yang berada di tengah-tengah lingkaran. Lakukan
dengan aba-aba dari fasilitator, sehingga pelemparan dilakukan secara
bersamaan.
3) Rapikan lagi kelas yang sudah berantakan secara bersama-sama.

5. Diskusi
Setelah melakukan permainan di atas, ajaklah peseta untuk
mendiskusikan apa yang sudah mereka alami.
a. Tanyakan kepada peserta mengenai pemahaman mereka mengenai
kegiatan pertama (pelemparan bola biru) dengan kegiatan kedua
(pelemparan bola merah). Adakah perbedaan prinsip diantara keduanya.
b. Diskusikan poin-poin pelajaran apa saja yang bisa diambil dari
permainan tujuan bersama ini?

5
BAB III
PENERAPAN WOG DALAM PELAYANAN
YANG TERINTEGRASI

Setelah mengikuti bab ini, peserta diharapkan memiliki kemampuan


dalam memahami dan menerapkan perspektif WoG dalam
pelayanan terintegrasi

A. Pendahuluan

Pelayanan publik dilaksanakan pemerintah dalam bentuk


penyediaan barang dan atau jasa sesuai kebutuhan masyarakat
berdasarkan aturan-aturan hukum perundang-undangan yang berlaku.
Dalam hubungan ini salah satu fungsi penting dan utama instansi
pemerintah adalah sebagai perangkat pemberi pelayanan. Sayangnya
pelayanan publik di Indonesia masih belum memenuhi level atau
kualitas yang diharapkan oleh masyarakat umum. Terutama untuk
menghadapi tantangan seperti perkembangan kebutuhan masyarakat
yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat. Survei
integritas yang dilakukan Komis Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun
2009 yang menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik Indonesia
baru mencapai skor 6,64 dari skala 10 untuk instansi pusat. Sedangkan
pada tahun 2008 skor untuk unit pelayanan publik di daerah sebesar 6,69.
Skor integritas menunjukkan karakteristik kualitas dalam pelayanan
publik, seperti: ada tidaknya suap, ada tidaknya Standard Operating
Procedures (SOP), kesesuaian proses pelayanan dengan SOP yang
ada, keterbukaan informasi, keadilan dan kecepatan dalam pemberian
pelayanan, dan kemudahan masyarakat melakukan pengaduan.
Selain itu, penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan oleh
seluruh instansi pemerintah sesuai dengan sektornya masing-masing.
Setiap sektor mengembangkan kebijakannya guna mendukung
pelaksanaan tugas dan fungsinya. Dalam prakteknya, pemerintah di
tingkat pusat maupun sektor banyak menerbitkan aturan yang satu sama
lain belum tentu selaras. Dalam periode 2000 hingga 2015, misalnya,
pemerintah telah menerbitkan 12.471 regulasi atau kebijakan. Dari total
jumlah tersebut, regulasi yang paling banyak diterbitkan adalah dalam
bentuk peraturan setingkat menteri, yakni 8.311 peraturan menteri.
Peraturan Pemerintah menempati urutan kedua terbanyak dengan
jumlah sebanyak 2.446 regulasi. Sedangkan yang paling sedikit adalah
berbentuk peraturan pengganti undang-undang (Perpu) sebanyak 49
kebijakan.
Berdasarkan masing-masing sektor, kebijakan terkait
perdagangan terdapat sebanyak 276, sementara sektor perindustrian
sebanyak 411, standarisasi dan pengendalian mutu sebanyak 516
kebijakan, tata kelola birokrasi dan pelayanan publik sebanyak 136
kebijakan, tata cara penanaman modal sebanyak 92 kebijakan, dan jenis
pajak sebanyak 1061 kebijakan. Seluruh kebijakan ini tersebar dalam
bentuk peraturan baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah.
B. Praktek WoG
Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik
dari sisi penataan institusi formal maupun informal. Cara-cara ini
pernah dipraktekkan oleh beberapa negara, termasuk Indonesia dalam
level-level tertentu.
1. Penguatan koordinasi antar lembaga
Penguatan koordinasi dapat dilakukan jika jumlah lembaga-lembaga
yang dikoordinasikan masih terjangkau dan manageable. Dalam
prakteknya, span of control atau rentang kendali yang rasional akan
sangat terbatas. Salah satu alternatifnya adalah mengurangi jumlah
lembaga yang ada sampai mendekati jumlah yang ideal untuk sebuah
koordinasi. Dengan jumlah lembaga yang rasional, maka koordinasi
dapat dilakukan lebih mudah.
2. Membentuk lembaga koordinasi khusus
Pembentukan lembaga terpisah dan permanen yang bertugas dalam
mengkoordinasikan sektor atau kementerian adalah salah satu cara
melakukan WoG. Lembaga koordinasi ini biasanya diberikan status
kelembagaan setingkat lebih tinggi, atau setidaknya setara dengan
kelembagaan yang dikoordinasikannya.
3. Membentuk gugus tugas
Gugus tugas merupakan bentuk pelembagaan koordinasi yang
dilakukan di luar struktur formal, yang sidatnya tidak permanen.
Pembentukan gugus tugas biasanya menjadi salah satu cara agar
sumber daya yang terlibat dalam koordinasi tersebut dicabut
sementara dari lingkungan formalnya untuk berkonsentrasi dalam
proses koordinasi tadi.
4. Koalisi sosial
Koalisi sosial ini merupakan bentuk informal dari penyatuan koordinasi
antar sektor atau lembaga, tanpa perlu membentuk pelembagaan
khsus dalam koordinasi ini. Di Australia dalam masa pemerintahan
Howard melakukan hal ini dengan mendorong inisiatif koalisi sosial
antar aktor pemerintah, bisnis dan kelompok masyarakat. Koalisi sosial
ini mendorong adanya penyamaan nilai dan persepsi tentang suatu
hal, sehingga pada akhirnya akan terjadi koordinasi alamiah.

Box 2 Kasus di Indonesia


Di Indonesia dikenal beberapa jenis lembaga yang dibentuk guna
mengkoordinasikan sektor atau kemenerian dan lembaga. Dalam
struktur kabinet, lembaga setingkat menteri dibentuk Kementerian
Koordinator, yang bertugas mengkoordinasi kementerian-kementerian
dan lembaga yang relevan dengan bidangnya. Beberapa sektor juga
dibentuk forum atau lembaga inter-departemen yang bertugas
mengkoordinasikan program atau kegiatan tertentu yang beririsan dari
beberapa sektor. Beberapa bentuk gugus tugas juga dibentuk untuk
menangani isu-isu tertentu.
Di tingkat masyarakat, forum-forum komunikasi warga dan kemitraan
dengan pemerintah daerah juga dibangun untuk membahas
perencanaan pembangunan dan bagaimana masyarakat dapat
memahami isu-isu pembangunan.
Dorong peserta untuk mendiskusikan contoh penerapan WoG ini
secara kelembagaan dalam konteks Indonesia.

C. Tantangan dalam Praktek WoG


Tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan WoG di tataran praktek
antara lain adalah:
1. Kapasitas SDM dan institusi
Kapasitas SDM dan institusi-institusi yang terlibat dalam WoG tidaklah
sama. Perbedaan kapasitas ini bisa menjadi kendala serius ketika
pendekatan WoG, misalnya, mendorong terjadinya merger atau
akuisisi kelembagaan, di mana terjadi penggabungan SDM dengan
kualifikasi yang berbeda.
2. Nilai dan budaya organisasi
Seperti halnya kapasitas SDM dan institusi, nilai dan budaya
organisasi pun menjadi kendala manakala terjadi upaya kolaborasi
sampai dengan penyatuan kelembagaan
3. Kepemimpinan
Kepemimpinan menjadi salah satu kunci penting dalam pelaksanaan
WoG. Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang
mampu mengakomodasi perubahan nilai dan budaya organisasi serta
meramu SDM yang tersedia guna mencapai tujuan yang diharapkan.
D. Praktek WoG dalam Pelayanan Publik
Praktek WoG dalam pelayanan publik dlakukan dengan menyatukan
seluruh sektor yang terkait dengan pelayanan publik. Jenis pelayanan
publik yang dikenal yang dapat didekati oleh pendekatan WoG adalah:
1. Pelayanan yang bersifat adminisitratif, yaitu pelayanan publik
yang menghasilkan berbagai produk dokumen resmi yang
dibutuhkan warga masyarakat. Dokumen yang dihasilkan bisa
meliputi KTP, status kewarganegaraan, status usaha, surat
kepemilikan, atau penguasaan atas barang, termasuk dokumen-
dokumen resmi seperti SIUP, ijin trayek, ijin usaha, akta, kartu
tanda penduduk, sertifikat tanah, dan lain sebagainya. Praktek WoG
dalam jenis pelayanan administrasi dapat dilihat dalam praktek- praktek
penyatuan penyelenggaraan izin dalam satu pintu seperti PTSP atau
kantor SAMSAT.
2. Pelayanan jasa, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai
bentuk jasa yang dibutuhkan warga masyarakat, seperti pendidikan,
kesehatan, ketenagakerjaan, perhubungan, dan lainnya.
3. Pelayanan barang, yaitu pelayanan yang menghasilkan jenis
barang yang dibutuhkan warga massyarakat, seperti misalnya jalan,
perumahan, jaringan telepon, listrik, air bersih, dan seterusnya.
4. Pelayanan regulatif, yaitu pelayanan melalui penegakan
hukuman dan peraturan perundang-undangan, maupun kebijakan
publik yang mengatur sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Adapun berdasarkan pola pelayanan publik, juga dapat dibedakan
dalam 5 (lima) macam pola pelayanan. Pertama, Pola Pelayanan Teknis
Fungsional, yaitu suatu pola pelayanan publik yang diberikan oleh suatu
instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas, fungsi dan
kewenangannya. Pada pola pertama ini pelayanan yang dilakukan
adalah pelayanan sektoral, yang bisa jadi sifatnya hanya relevan
dengan sektor itu, atau menyangkut pelayanan di sektor lain. WoG dapat
dilakukan manakala pola pelayanan publik ini mempunyai karakter yang
sama atau memiliki keterkaitan antar satu sektor dengan yang lainnya.
Kedua, adalah Pola Pelayanan Satu Atap yaitu pola pelayanan
yang dilakukan secara terpadu pada satu instansi pemerintah yang
bersangkutan sesuai kewenangan masing-masing. Pola ini memudahkan
masyarakat penguna izin untuk mengurus permohonan izinnya,
walaupun belum mengurangi jumlah rantai birokrasi izinnya.
Ketiga, adalah Pola Pelayanan Satu Pintu yang merupakan pola
pelayanan masyarakat yang diberikan secara tunggal oleh suatu unit kerja
pemerintah berdasarkan pelimpahan wewenang dari unit kerja
pemerintah terkait lainnya yang bersangkutan. Ini adalah salah satu
bentuk kelembagaan WoG yang lebih utuh, di mana pelayanan publik
disatukan dalam satu unit pelayanan saja, dan rantai izin sudah
dipangkas menjadi satu saja.
Keempat, adalah Pola Pelayanan Terpusat, yaitu pola pelayanan
masyarakat yang dilakukan oleh suatu instansi pemerintah yang bertindak
selaku koordinator terhadap pelayanan instansi pemerintah lainnya yang
terkait dengan bidang pelayanan masyarakat yang bersangkutan. Pola ini
mirip dengan pelayanan satu atap dan pelayanan satu pintu.
Perbedaannya tergantung pada sejauhmana kewenangan koordinasi yang
diberikan kepada koordinator.
Dan kelima adalah Pola Pelayanan Elektronik yaitu pola
pelayanan yang paling maju dengan menggunakan teknologi informasi
dan komunikasi yang merupakan otomasi dan otomatisasi pemberian
layanan yang bersifat elekronik atau on-line sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan keinginan dan kapasitas masyarakat
pengguna.

Box 3 PTSP
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) merupakan kecenderungan
kelembagaan pelayanan publik yang didorong dan digagas baik oleh
pemerintah pusat maupun di tingkat daerah, termasuk Badan
Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas,
dan Administrator Kawasan Ekonomi Khusus.
Di tingkat pusat, koordinasi pelayanan penanaman modal, sebagai contoh,
yang selama ini dilakukan oleh 19 kementerian dan lembaga terkait 1249
perizinan bidang usaha dan dikelompokkan dalam 134 kelompok
perizinan disatu pintukan di BKPM. Penyatuan perizinan ini
mempermudah investor maupun pemohon izin lainnya untuk tidak lagi
berkeliling ke seluruh kementerian dan atau lembaga untuk memproses
izin yang diperlukan, melainkan cukup datang ke BKPM saja.
Di tingkat daerah, pemerintah propinsi dan kabupaten/kota jga membentk
PTSP yang serupa, sesuai dengan tingkat kewenangannya di masing-
masing level. Badan PTSP DKI, misalnya, menyatukan ratusan jenis
pelayanan publik dari yang sifatnya perizinan usaha sampai pelayanan
dokumen kependudukan.

E. Diskusi
Diskusikan pola-pola pelayanan yang ada degan pendekatan WoG
yang bisa dilakukan pada pola-pola tersebut.
1. Diskusikan dengan peserta contoh penerapan WoG dalam
jenis pelayanan publik lainnya.
2. Bandingkan penerapan WoG pada masing-masing pola 1
sampai dengan 5.
Apa kelebihan dan kekurangan untuk masing-masing pola.
BAB IV
BEST PRACTICES PENERAPAN WOG

Setelah mengikuti bab ini, peserta diharapkan dapat mengambil pelajaran


dari beberapa contoh praktek-praktek terbaik WoG dari beberapa negara
yang dibahas

A. Prasyarat Best Practices


Dalam memanfaatkan pendekatan WoG ini, terdapat beberapa prasyarat
agar pendekatan ini dapat diterapkan. APSC (Shergold & others, 2004)
merumuskan prasyarat untuk penerapan WoG yang baik yaitu antara lain:
1. Budaya dan Filosopi.
Mengabungkan dan adaptasi nilai-nlai WoG ke dalam budaya yang
dianut sebelumnya merupakan keharusan agar tidak terjadi ‘culture
shock’ dalam dinamika organisasi. Berbagi informasi serta manajemen
pengetahuan kerjasama juga menjadi prasyarat dalam penerapan WoG,
dan tentunya kerjasama dan hubungan yang efektif top-down dan
bottom up dalam membentuk filosopi organisasi atau koordinasi yang baik
2. Cara Kerja yang Baru
Hal ini terkait bagaimana penyelenggaraan kepemimpinan yang berbagi
antara satu sektor dengan sektor lainnya. WoG juga mensyaratkan
adanya keahlian atau expertise yang melekat pada SDM yang terlibat di
dalamnya. Atau tidak kaku, mengikuti perubahan yang mungkin
terjadiProse yang dilakukan oleh tim WoG juga seyogyanya fleksibel,
serta adanya sumber daya yang kooperatif.
3. Akuntabilitas dan insentif
Outcome dan pelaporan yang dibagi antar sektor, fleksibilitas serta
bagaimana reward dan pengakuan menjadi bagian dari manajemen
horizontal.
4. Cara baru Pengembangan Kebijakan, Mendesain Program dan
Pelayanan Collegate approach, yaitu melalui pendekatan kolegial di
mana masing- masing sektor mempunyai kesetaraan dalam pengambilan
keputusan/kebijakan. Selain itu juga fokus pada outcome dari proses WoG
ini, serta melaksanakan proses-proses konsultasi dan pelibatan warga
masyarakat di dalamnya.
B. Best Pactices

Beberapa negara telah memiliki pengalaman dalam penerapan


pendekatan WoG yang berhasil dengan cukup baik. Inggris, adalah salah
satu pionir dalam memperkenalkan joined-up government yang berhasil
memodernisasi proses-proses penyelenggaraan pemerintahan. Salah satu
produk WoG yang dilakukan adalah WGA atau Whole- of-Government
Accounts. WGA ini merupakan salah satu bentuk WoG yang
dikembangkan oleh HM Treasury yang mengkonsolidasikan lebih dari 5500
akun instansi di sektor publik guna mendorong transparansi dan
akuntabilitas menyeluruh. Dalam hal ini WGA memberikan kemudahan bagi
publik atau pemangku kepentingan tertentu dalam mengakses laporan-
laporan keuangan dan memahami posisi keuangan secara makro.
Australia
Selandia
Baru
Singapura

Perbandingan Best Practices WoG di Beberapa Negara


No Negara Praktek WoG Keterangan
1 Inggris WoG Accounts Integrasi sistem laporan
keuangan
5.500 organisasi publik
2 Australia
3 Selandia Baru
4 Singapura

C. E-government
Di luar perbandingan best practices antar negara di atas, PBB dalam laporan
E- government survey tahun 2012 (United Nations, 2012) meyakini bahwa
kapasitas e-government sebuah negara dapat mendukung penerapan WoG.
Survey yang dilakukan menunjukkan persebaran tingkat adaptasi negara-
negara dalam menerapkan e-government, dengan kategori beberapa di
antaranya ketersediaan CIO atau Chief Information Officer di setiap negara,
interoperabilitas sektor publik, integrasi pelayanan online, dan prosentase
portal nasional yang terhubung dengan website kementerian dan lembaga,
serta bagaimana integrasi
upaya institusional terhadap lingkungan. Masing-masing indikator telah
memiliki daftar negara atau wilayah regional yang unggul, di antaranya sebgai
berikut:
1. Ketersediaan CIO di negara-negara Asia, Eropa dan Amerika relatif
berimbang, sedangkan negara-negara Afrika dan Oseania tergolong
tertinggal.
2. Interoperabilitas sektor publik merupakan indikator sejaumana
terdapat kapasitas pertukaran informasi antar sektor, termasuk
penggunaan ID card yang dapat dikenali semua sistem. Beberapa
negara yang terdepan dalam indikator ini adalah Jepang, Belgia, Austria,
Denmark, Singapura, termasuk beberapa negara berkembang seperti
Kazakhstan, Ukraina, Bangladesh dan India.
3. Integrasi pelayanan online. Survey ini menunjukkan bahwa selama
kurun waktu 8 tahun terdapat peningkatan signifikan dalam integrasi
pelayanan online dari 63 negara di 2004 menjadi 135 negara di 2012.
4. Prosentase portal nasional yang terhubung dengan website
kementerian dan lembaga. Dalam hal ini Amerika Serikat memimpin
sebagai negara dengan prosentasi tertinggi portal terhubung dengan
website instansi pemerintah.
Dari agregasi skor keseluruhan indikator e-government, laporan ini
menghasilkan resume negara-negara sebagai top performer dalam WoG, di
mana dari 41 negara yang di survey, Korea Selatan dan Singapura
termasuk negara-negara yang menempati peringkat tertinggi. Indonesia
dalam hal ini tergolong negara dengan peringkat rendah, dengan peringkat
di bawah Argentina dan Slovakia, dan tepat di atas Filipina.

D. Diskusi
1. Apa best practice WoG yang dapat diidentifikasi dari Indonesia
2. Bagaimana E-government dapat mendukung WoG
BAB V
PRAKTEK MANAJEMEN PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA

Setelah mengikuti bab ini, peserta diharapkan dapat memahami


dan mempraktekkan manajemen pelayanan dengan pendekatan
WoG
A. Pengertian

Negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk


untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan
publik yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Bahwa membangun kepercayaan masyarakat atas
pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara pelayanan publik
merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring dengan harapan dan
tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan
pelayanan publik.
Saat ini, dasar hukum utama praktek penyelenggaraan pelayanan
publik di Indonesiaadalah UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
yang mulai berlaku sejak tanggal 18 Juli 2009. Pegawai ASN yang
merupakan unsur aparatur Negara berfungsi sebagai pelaksana
kebijakan publik; pelayan publik; dan perekat dan pemersatu bangsa.
Dalam kesempatan ini terkait dengan pelayanan public terlebih dahulu akan
diberikan beberapa pengertian tentang pelayanan publik, yaitu:
1. Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang- undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas
barang, jasa, dan / atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik.
2. Penyelenggara pelayanan publik (Penyelenggara) adalah setiap
institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang
dibentuk berdasarkan undangundang untuk kegiatan pelayanan publik,
dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan
pelayanan publik.
3. Organisasi penyelenggara pelayanan publik (Organisasi
Penyelenggara) adalah satuan kerja penyelenggara pelayanan publik
yang berada di lingkungan institusi penyelenggara negara, korporasi,
lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang
untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang
dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik.
4. Pelaksana pelayanan publik (Pelaksana) adalah pejabat, pegawai,
petugas, dan setiap orang yang bekerja di dalam organisasi
penyelenggara yang bertugas melaksanakan tindakan atau
serangkaian tindakan pelayanan publik.
5. Masyarakat adalah seluruh pihak, baik warga negara maupun
penduduk sebagai orangperseorangan, kelompok, maupun badan hokum
yang berkedudukan sebagai penerima manfaat pelayanan publik, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
6. Standar pelayanan adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas
14
pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada
masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah,
terjangkau, dan terukur.
7. Maklumat pelayanan adalah pernyataan tertulis yang berisi
keseluruhan rincian kewajiban dan janji yang terdapat dalam standar
pelayanan.

B. Asas
Penyelenggaraan pelayanan publik berasaskan :
1. kepentingan umum
Pemberian pelayanan tidak boleh mengutamakan kepentingan pribadi
dan/'atau golongan.
2. kepastian hukum
Jaminan terwujudnya hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan
pelayanan.
3. kesamaan hak
Pemberian pelayanan tidak membedakan suku, ras, agama, golongan,
gender, dan status ekonomi.
4. keseimbangan hak dan kewajiban
Pemenuhanhak harus sebanding dengan kewajiban yang
harus dilaksanakan, baik oleh pemberi maupun penerima pelayanan.
5. Keprofesionalan
Pelaksana pelayanan harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan
bidang tugas.
6. Partisipatif
Peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan
dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat.
7. persarnaan perlakuan/ tidak diskriminatif
Setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan yang adil.
8. Keterbukaan
Setiap penerima pelayanan dapat dengan mudah mengakses dan
memperoleh informasi mengenai pelayanan yang diinginkan.
9. Akuntabilitas
Proses penyelenggaraan pelayanan harus dapat dipertanggung-jawabkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
10. fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan.
Pemberian kemudahan terhadap kelompok rentan sehingga tercipta
keadilan dalam pelayanan.
11. ketepatan waktu
Penyelesaian setiap jenis pelayanan dilakukan tepat waktu sesuai dengan
standar pelayanan.
12. kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.
Setiap jenis pelayanan dilakukan secara cepat, mudah, dan terjangkau.
15
C. Prinsip- prinsip Pelayanan Publik
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagun Aparatur Negara Nomor 63
Tahun 2003, Prinsip-prinsip dalam pelayanan public adalah :
1. Kesederhanaan
Prosedur pelayanan public tidak berbelit-belit, mudah dipahami, dan mudah
dilaksanakan.
2. Kejelasan
a. Persyaratan teknis dan administrative pelayanan public;
b. Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab
dalam memberikan pelayanan public;
c. Rincian biaya pelayanan public dan tata cara pembayaran.
3. Kepastian waktu
Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang
telah ditentukan.
4. Akurasi
Produk pelayanan public diterima dengan benar, tepat dan sah.
5. Keamanan
Proses dan produk pelayanan public memberikan rasa aman dan kepastian
hokum.
6. Tanggungjawab
Pimpinan penyelenggara pelayanan public atau pejabat yang ditunjuk
bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian
keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan public.
7. Kelengkapan sarana dan prosarana
Tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan pendukung
lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi
telekomunikasi an informatika (telematika).
8. Kemudahan akses
Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, miah dijangkau
oleh masyarakat, dan dapat menfaatkan tekonologi telekomunikasi dan
informatika.
9. Kedisiplinan, Kesopanan dan Keramahan,
ramah, serta memberikan pelayanan dengan ikhlas.
Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun
10.Kenyamanan
Lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang tunggu yang
nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi
dengan fasilitas pendukung pelayanan, seperti parker, toilet tempat ibadah
dan lain-lain.

Berdasarkan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 13 Tahun 2009 tentang


Pedoman Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dengan Partisipasi
Masyarakat, ada beberapa hal penting berikut ini merupakan prasyarat penting
dalam rangka mewujudkan pelayanan publik yang semakin baik, yaitu :
1. Komitmen pimpinan
16
Upaya yang secara teknik dapat dilakukan oleh aparatur pelaksana secara
faktual selalu memerlukan dukungan dari para pengambil keputusan (para
pimpinan) baik di daerah maupun di lingkungan pemerintah pusat.
Komitmen dimaksudkan adalah keinginan yang kuat dan konsisten untuk
melakukan perbaikan menerus. Komitmen ini diikuti oleh kebijakan,
keputusan yang senada dalam kaitan dengan pengalokasian dan
pendayagunaan sumberdaya dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan
publik.
2. Perubahan pola pikir (mindset) terhadap fungsi pelayanan
Perubahan pola pikir adalah awal dari seluruh usaha perbaikan dan
mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk keseluruhan proses
peningkatan pelayanan publik. Jika tidak ada pemahaman baru tentang
pentingnya dan manfaat peningkatan pelayanan publik bagi individu dan
organisasi aparatur maka tindakan nyata ke arah itu tidak akan pernah
terwujud.
3. Partisipasi masyarakat pengguna pelayanan
Peningkatan kualitas pelayanan publik sulit diwujudkan bila partisipasi
masyarakat pengguna pelayanan masih rendah. Aspek partisipasi
masyarakat pengguna pelayanan yang terpenting adalah aspirasi mereka
atas ragam, kualitas dan biaya penyelanggaraan pelayanan. Jika tidak
demikian, sangat mungkin penyelenggara dan pelaksana pelayanan publik
akan menyelenggarakan dan melaksanakan pelayanan yang menghasilkan
sesuatu yang justeru tidak dibutuhkan dan atau tidak diinginkan oleh para
pengguna pelayanan.
4. Kepercayaan
Kunci sukses untuk memperbaiki pelayanan publik adalah adanya saling
percaya (trust) antara penanggungjawab, penyelenggara dan pelaksana
pelayanan publik dengan masyarakat penggunanya. Saling percaya akan
menghasilkan komunikasi dan interaksi yang positif dan lebih bermakna
dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pelayanan itu sendiri.
5. Kesadaran penyelenggara dan pelaksana pelayanan publik
Kesadaran sangat berkaitan dengan tingkat responsifitas dan akuntabilitas
penyelenggaraan dan pelaksanaan pelayanan publik. Banyak kasus
menunjukkan kelambanan organisasi penyelenggara dan pelaksana
pelayanan publik untuk menemukan pintu masuk perbaikan kualitas
pelayanan disebabkan karena lemahnya kesadaran organisasi atas kualitas
pelayanan publik yang dikelolanya. Tidak sadar masalah akan
mengakibatkan tumpulnya kepekaan terhadap aspirasi pengguna
pelayanan serta matinya kemauan untuk membuat perubahan yang
bermakna perbaikan.
6. Keterbukaan
Kendala utama yang dihadapi dalam usaha untuk meningkatkan kualitas
pelayanan adalah sifat keterbukaan yang belum dimiliki baik oleh penyedia
layanan maupun oleh penerima layanan. Keterbukaan dalam hal ini adalah
kesediaan untuk menerima pengaduan atau keluhan dan sekaligus
kesiapan untuk melakukan tindakan nyata perbaikan. Keterbukaan juga
dapat diartikan sebagai kemauan untuk berkomunikasi dengan pihak lain
secara efektif. Aspek terpenting dari keterbukaan adalah kejujuran atas
17
fakta yang ada.
7. Ketersediaan anggaran
Hal yang dianggap sebagai strategi kunci keberhasilan peningkatan kualitas
pelayanan publik adalah ketersediaan anggaran. Anggaran perbaikan
pelayanan publik haruslah merupakan bagian integral dari keseluruhan
anggaran satuan kerja yang bertanggungjawab untuk itu. Dengan kata lain,
peningkatan kualitas pelayanan secara menerus adalah bagian inheren
keseluruhan tugas penyelenggaraan dan pelaksanaan pelayanan publik.
8. Tumbuhnya rasa memiliki
Di sisi masyarakat pengguna pelayanan, perlu ditumbuhkan keyakinan
bahwa kontribusi mereka dibutuhkan, aspirasi mereka akan diperhatikan.
Hal ini untuk menumbuhkan motivasi keterlibatan. Harus juga diyakini
bersama bahwa satusatunya tujuan (motivasi) untuk menyampaikan
pengaduan (keluhan) adalah untuk melakukan perbaikan pelayanan, tidak
ada maksud atau motivasi lain.
9. Survei atau apapun yang meminta partisipasi masyarakat
pengguna pelayanan harus diikuti dengan tindakan nyata perbaikan.
Survei pengaduan mungkin terasa berat secara psikologis bagi para
pelaksana pelayanan publik,tetapi hal ini, jika dilakukan secara berani,
justeru menjadi titik awal untuk menunjukkan ada perubahan dan untuk
meraih kepercayaan. Oleh sebab itu, penyedia pelayanan sebaiknya
berpartisipasi aktif dan memikul tanggung jawab utama dalam keseluruhan
proses pelaksanaan. Survei hanyalah alat bantu untuk mengetahui status
awal kinerja dan kualitas pelayanan. Jika status awal tersebuttidak
pernah diperbaiki dan melakukan survey lagi; secara pasti cepat atau
lambat akan mencapai titik apatisme di kalangan pelaksana terutama di
kalangan pengguna pelayanan.
10.Kejujuran
Kejujuran merupakan faktor penting dalam upaya peningkatan kualitas
pelayanan publik. Kejujuran atas masalah yang ada akan membimbing ke
arah solusi yang tepat. Sebaliknya upaya menutup-nutupi masalah yang
sesungguhnya ada melalui mekanisme defensif akan menyesatkan semua
pihak dari solusi dan tindakan perbaikan yang tepat.
10. Realistis dan cepat
Upaya nyata perbaikan sebaiknya dilakukan agar dapat memberi kesan
nyata yang cepat dan mudah dirasakan dan diamati perubahan dan
manfaatnya oleh masyarakat pengguna pelayanan. Harus dipercayai
bahwa masyarakat selalu memiliki kesadaran dan toleransi yang cukup
terhadap batas kemampuan penyelenggara dan pelaksana pelayanan
publik. Tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan secara serentak.
Tindakan nyata, meskipun nampaknya sederhana, jauh lebih dinilai dan
lebih bernilai daripada tindakan besar yang baru dapat dijanjikan dan belum
tentu dapat diwujudkan.
D. Umpan-balik dan hubungan masyarakat (Humas)
Adalah suatu keharusan sesegera mungkin memberi balikan (umpan-balik)
atas setiap hal yang diterima apalagi diminta dari masyarakat. Jika
masyarakat diminta untuk memberi pendapat (memberi suara) dengan
menjadikan mereka sebagai responden, maka jangan pernah menunggu
18
terlalu lama untuk memberitahukan hasil survei kepada mereka sebagai
balikan. Itulah sebabnya mengapa sering kali survei ilmiah dengan metode
ilmiah memberikan hasil yang tidak terlalu mudah untuk diolah hingga
menjadi balikan yang tidak dapat dimengerti oleh para responden.
E. Tingkatkan keberanian dan kebiasaan menerima pengaduan (keluhan)
Umumnya tidak ada seorangpun yang merasa senang dengan pengaduan
(keluhan) terhadap dirinya. Setiap orang harus mulai belajar untuk
memahami bahwa kritikan, keluhan (pengaduan secara umum) lebih
jujur dari pada pujian atau sanjungan. Hal ini disebabkan karena pujian
diberikan seseorang untuk kepentingan orang lain. Jika tidak, maka pujian
itu sudah pasti mengandung ketidak-jujuran.
Sebaliknya hampir dapat dipastikan bahwa jika seseorang menyampaikan
kritikan,keluhan atau pengaduan, itu dilakukan untuk kepentingannya diri
sendiri. Setiap orang umumnya lebih jujur atas kepentingan dirinya sendiri.
Itulah sebabnya mengapa pengaduan atau keluhan dan kritikan, sekalipun
terasa pedas atau pahit, secara umum lebih jujurdan lebih faktual daripada
pujian atau sanjungan yang manis.
F. Pengalaman keberhasilan dalam menggunakan metode
Sekalipun kecil, keberhasilan di awal akan selalu lebih motivatif daripada
kegagalan.ltulah sebabnya mengapa melakukan hal kecil, sederhana tetapi
menghasilkan perubahan yang nyata, menjadi sangat penting untuk
menumbuhkan keberanian untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dan
lebih rumit. Jangan memulai sesuatu dari hal-hal yang rumit dengan risiko
gagal yang takterprediksi, karena kegagalan cenderung mengakibatkan
demotivasi.

G. Networking Dalam Intergovernmental Management


Di Indonesia, amanat penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan
kemasyarakatan tertuang dalam alenia 4 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
yakni: ”untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial”.
Amanat Undang-undang Dasar ini kemudian dipertegas lagi dalam Undang-
Undang Pemerintahan Daerah Nomor 32 Tahun 2004 yang mengamanatkan
kerjasama antar daerah dalam rangka efisensi dan sinergi dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Pasal 195 Undang-undang tersebut berbunyi: Dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, daerah dapat mengadakan kerjasama
dengan daerah lain yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektivitas
pelayanan publik, sinergi dan saling menguntungkan.
Sementara itu, Pasal 196 dari undang-undang tersebut berbunyi:
1. Pelaksanaan urusan pemerintahan yang mengakibatkan dampak lintas
daerah dikelola bersama oleh daerah terkait
2. Untuk menciptakan efisiensi, daerah wajib mengelola pelayanan publik
secara bersama dengan daerah sekitarnya untuk kepentingan masyarakat.
Sementara itu sejumlah kebijakan pemerintah lainnya turut memperkuat
semangat kerjasama antar daerah mengikuti ke dua amanat besar dalam
perundangan di atas.

19
Dalam perjalanannya, keterkaitan implementasi kerjasama daerah sangat
dipengaruhi oleh pengaturan pada sistem administrasi pengelolaan keuangan
daerah (Permendagri Nomor 13 tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah beserta Permendagri No 59 Tahun 2007) yang kurang
memberikan keleluasaan dalam penyelenggaraan kerjasama antar daerah melalui
mekanisme kelembagaan permanen yang biasa dikenal dengan “Regional
Manajemen”. Meskipun telah terbit regulasi baru terkait tatacara kerjasama antar
daerah (Permendagri Nomor 22 Tahun 2009) beserta tatacara pembinaan dan
pengawasan kerjasama antar daerah (Permendagri nomor 23 Tahun 2009),
kegalauan sejumlah daerah untuk merintis kerjasama antar daerah semakin
menjadijadi dengan kurangnya acuan yang dapat dipergunakan sebagai pedoman
penggerak langkah pada tingkat provincial.
Diperlukan peran dan fungsi provinsi yang lebih kuat dalam menciptakan
networking dan menggerakkan kerjasama antar daerah yang sebenarnya telah
mendapatkan best practices nya di Provinsi Jawa Tengah dengan beberapa pola
manajemen yang dikembangkan Subosukawonosraten, Barlingmascakeb, dan
Sampan. Banyak manajemen kerjasama regional terjebak pada formalism, yakni
banyak regulasi dan banyak kesepakatan dibuat, tetapi tidak ada program
bersama yang dilaksanakan.
Fenomena stagnasi kerjasama ini mewarnai pelaksanaan kerjasama regional
di berbagai tempat. Kenapa fenomena kemandekan manajemen regional ini
mendominasi kondisi kerjasama antar daerah yangberdekatan di Indonesia, dan
pola networking apa yang dapat dijadikan alternative pengembangan kerjasama
antar daerah, menjadi fokus tulisan ini.

Prinsip Intergovernmental Networking yang Terabaikan dalam Kerjasama


Antar Daerah
Pendekatan wilayah dianggap sebagai pelengkap penting dalam
penyelenggaraan pembangunan disamping pendekatan pembangunan daerah
Dalam penyelenggaraan pembangunan wilayah-khususnya kerjasama antar
daerah yang berdekatan-inilah berbagai kondisi, baik praktical maupun teoritical
terjadi. Dalam domain praktis tercatat menguatnya kebijakan desentralisasi,
sedangkan pada domain teoritis antara lain terjadi pergeseran paradigma dalam
penyelenggaraan pemerintahan. Dalam literature kerjasama antar daerah
(intergovernmental management) juga terjadi pergeseran semangat dari yang
sekedar co-operation ke arah semangat collaboration. Secara umum
pergeseranpergeseran tersebut terjadi dari pendekatan sentralistis ke
desentralistis.
Beberapa runutan kajian yang membahas proses regionalisasi dan
kerjasama antar daerah, tercatat antara lain Goggin, Weichhart. Sementara
beberapa pakar public management study belakangan memberikan kajian yang
memperkuat konsep-konsep intergovernmental management. Goggin (1992)
menjelaskan pada The Communications Model of Intergovernmental Policy
Implementation sejumlah faktor yang mendukung (inducement factors) dan
menghambat (constraint factors) dalam kerjasama regional pada berbagai level
pemerintahan, sementara Weichhart (2002) lebih tegas mengemukakan sejumlah
faktor yang berperan dalam proses regionalisasi dan kerjasama antar daerah
antara lain:tekanan global, keterbatasan kemampuan dan potensi serta ego lokal.
Pertanyaan yang sering menggelitik banyak pihak ketika mencermati format
20
yang tepat bagi lembaga kerjasama antar daerah adalah:“apakah perlu menyusun
bentuk organisasi yang berbeda ketika kita membentuk lembaga atau organisasi
yang dibangun dari banyak kewenangan otonom (dua atau lebih pemerintah
daerah)?” Organisasi pengelola kerjasama yang melibatkan hubungan antara
beberapa pemerintah daerah yang bersifat otonom tentu saja memiliki karakter
yang berbeda dengan organisasi dalam satu payung pemerintah daerah.
Pengaturan bersama tentu berbeda dengan pengaturan sendiri. Pengaturan
sendiri seperti kebanyakan desain organisasi resional menggunakan pendekatan
dominansi kewenangan sentral yang berasal dari kewenangan pucuk (dalam halo
ini kewenangan pimpinan daerah). Organisasi rasional dikembangkan dengan
pendekatan weberian type bureaucracy dengan prinsipprinsip yang tegas dan
cenderung kaku.
Kerjasama antar daerah merupakan aksi bersama (collective action) yang
terjadi dalam proses unik. Keunikan kerjasama antar daerah ini terlihat dari antara
lain, pola hubungan yang terjalin dilandasi oleh relasi horisontal, bukan hirarkhial.
Konsekuensi dari pola hubungan ini akan berimplikasi pada pendekatan yang
semestinya dipahami bersama oleh aktor yang terlibat. Kesalahan pemahaman
dan pemberlakuan model organisasi konvensional berakibat fatal pada
manajemen kerjasama antar daerah, yakni jebakan birokratisme dalam kerjasama
antar daerah. Pendekatan konvensional memandang organisasi dengan
pendekatan birokrasi Weberian (intra organization), sedangkan kerjasama antar
daerah bersifat intergovermental networking lebih tepat didekati dengan konsep
inter organization.
Topik intergovernmental management mengemuka pada literature dan tulisan
para pakar public management mulai pertengahan abad 20 (O, Toole, 2004;
McGuire, 2006). Secara khusus ada 2 fenomena teoritis, yakni pertama,
pentingnya pergeseran pendekatan organisasi kerjasama antar daerah dari
konsep intra organization ke arah interorganization. Kedua, pendekatan kerjasama
antar daerah yang karena struktur hubungannya yang merupakan “relasi
horisontal” dari bersifat voluntary ke arah semangat kolaborasi yang lebih punya
kekuatan dalam collective action. Kajian tentang regionalisasi dan kerjasama
antar daerah, khususnya kerjasama antar daerah yang berdekatan di Indonesia
belum banyak mendapat perhatian, sehingga diharapkan kajian ini mengisi
kekurangan kajian Management and Intergovernmental di Indonesia.

Semangat Kolaborasi dalam Kerjasama Regional


Dalam bahasa Indonesia, istilah kerjasama dan kolaborasi masih digunakan
secara bergantian, dan belum ada upaya untuk menunjukkan perbedaan dan
kedalaman makna dari istilah tersebut. Secara umum lebih dikenal istilah
kerjasama dari pada kolaborasi, dan tidak ada pemahaman yang lebih mendalam
tentang paradigma apa yang seharusnya dianut.
Kerjasama antar pemerintah daerah (intergovernmental cooperation),
didefinisikan sebagai “anarrangement between two or more governments for
accomplishing common goals, providing a service or solving a mutual problem”
(Patterson, 2008). Dalam definisi ini tersirat adanya kepentingan bersama yang
mendorong dua atau lebih pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan
bersama atau memecahkan masalah secara bersama-sama. Atau dengan kata
lain, pengaturan ini bersifat pengaturan bersama (joint), yang tentu saja berbeda
karakteristiknya dibandingkan dengan pengaturan sendiri (internal daerah). Sifat
21
kerja sama sering ditafsirkan sebagai sukarela, tetapi bukan berarti semaunya,
karena kerjasama memiliki tujuan dan target tertentu yang harus dicapai oleh
pihak-pihak yang bekerja sama. Karenanya, aspek-aspek yang dikerjasamakan
dituangkan dalam program resmi dengan manfaat yang dinikmati bersama, serta
biaya dan risikonya ditanggung bersama. Sementara itu, kerjasama dalam kamus
besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan Nasional kerjasama
dimaknai sebagai kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang atau
lembaga untuk mencapai tujuan bersama (2001;544). Jadi dalam kerjasama ada
unsur kegiatan, beberapa pihak dan pencapaian tujuan.
Kolaborasi dapat dirunut pemahamannya dari Ann Marie Thomson (2006)
dalam tulisannya yang berjudul ”Collaboration Processes:Inside the Black Box”.
Dijelaskan bahwa ada sebuah konsep yang mirip dengan kerjasama tetapi
memiliki makna yang lebih dalam, yakni kolaborasi. Koo-perasi, koordinasi dan
kolaborasi berbeda dalam hal tingkat kedalaman interaksi, integrasi, komitmen dan
kompleksitasnya. Sebuah kerjasama (cooperation) yang menggabungkan 2 sifat,
yakni saling memberi atau bertukar sumberdaya dan sifat saling menguntungkan
akan mengarah pada sebuah proses kolaborasi. Definisi ini menunjukkan adanya
tindakan kolektif dalam tingkatan yang lebih tinggi dalam kolaborasi daripada
kooperasi dan koordinasi. Kolaborasi merupakan proses kolektif dalam
pembentukan sebuah kesatuan yang didasari oleh hubungan saling
menguntungkan (mutualisme) dan adanya kesamaan tujuan dari organisasi atau
individu-individu yang memiliki sifat otonom. Mereka saling berinteraksi melalui
negosiasi baik bersifat formal maupun informal dalam suatu aturan yang disepakati
bersama dan rasa saling percaya. Walaupun hasil atau tujuan akhir dari sebuah
proses kolaborasi tersebut mungkin bersifat pribadi, tetapi tetap memiliki hasil atau
keuntungan lain yang bersifat kelompok.
Walaupun kooperasi dan koordinasi dapat dilihat dalam awal sebuah proses
kolaborasi, kolaborasi merupakan perwujudan dari proses integrasi antar individu
dalam jangka waktu panjang melalui kelompok-kelompok yang melihat aspek-
aspek berbeda dari suatu permasalahan. Kolaborasi mengeksplorasi
perbedaanperbedaan diantara mereka secara konstruktif. Mereka mencari solusi
yang mungkin dan mengimplentasikannya secara bersama-sama. Kolaborasi
berarti pihak-pihak yang otonom berinteraksi melalui negosiasi baik secara formal
maupun informal. Mereka bersama menyusun struktur dan aturan pengelolaan
hubungan antar mereka. Mereka merencanakan tindakan atau keputusan untuk
mengatasi isu-isu yang membawa mereka bersama-sama. Mekanisme tersebut
merupakan interaksi yang menyangkut sharing atas norma dan manfaat yang
saling menguntungkan. Pengertian di atas merupakan definisi kolaborasi yang
dikembangkan Thomson dari Wood dan Gray (1991).
Di masa mendatang, perbedaan makna dan paradigma ini seharusnya
diakomodasikan tidak hanya dalam tulisan ilmiah tetapi juga dalam naskah
peraturan hukum karena secara konseptual kerjasama dalam arti “collaboration”
jauh lebih efektif dibandingkan dengan “cooperation”, dan harus diarahkan dan
dimanfaatkan untuk kepentingan bersama yang lebih besar.
Ada dua pola hubungan antar pemerintah daerah, yakni intergovernemental
relation dan intergovernmental management yang keduanya mengedepankan
karakter networking. Intergovernmental relations merupakan sebuah pola
oraganisasi antar daerah yang hanya memungkinkan koordinasi dalam aspek
umum di seluruh wilayah kerjasama, sedangkan Intergovernmental Management

22
merupakan sebuah pola organisasi antar daerah yang memberikan kemungkinan
penyelenggaraan manajemen yang terkendali penuh dengan sektor kerjasama
yang jelas (mis:pengelolaan transportasi umum di Washington State). Net-working
merupakan format kelembagaan jejaring yang terdiri dari beberapa unit organisasi
yang menjalin hubungan dengan pola yang relatif flexible. Dalam format
networking,beberapa jenis intergovernmental networks, sesuai urutan derajat
networks-nya dikemukakan oleh Robert Agranoff (2003), mulai dari (i).information
networks, yakni jenis jaringan kerjasama yang paling ringan derajatnya. Pada jenis
ini beberapa daerah kabupaten/ kota dapat membuat sebuah forum yang berfungsi
sebagai pertukaran kebijakan dan program, teknologi dan solusi atas masalah-
masalah bersama (ii) developmental networks, yakni kaitan antar daerah terlibat
lebih kuat, karena selain pertukaran informasi juga dibarengi dengan pendidikan
dan pelayanan yang secara langsung dapat meningkatkan kapasitas informasi
daerah untuk mengatasi masalah di daerah masingmasing, (iii) outreach networks
adanya penyusunan program dan strategi untuk masingmasing daerah yang
diadopsi dan dilaksanakan oleh daerah lain (biasanya melalui fasilitasi organisasi
partner) serta (iv) action networks:yang merupakan bentuk inter-governmental
networks yang paling solid. Dalam bentuk ini daerah-daerah yang menjadi anggota
secara bersama-sama menyusun program aksi bersama sesuai proporsi dan
kemampuan masing-masing.
Selain pendekatan manajemen dalam pengelolaan kerjasama antar daerah,
terjadi transisi pendekatan dalam melihat lembaga kerjasama antar daerah.
Lembaga kerjasama dalam pengeloaan program dan kegiatan untuk mencapai
tujuan kerjasama seringkali masih terpengaruhi oleh paradigma klasik. Cara
pandang yang melihat lembaga kerjasama antar daerah dalam kerangka intra
organization, dengan pola weberian type bureaucarcy. Cara pandang ini tercermin
dari 10 prinsip birokrasi Weberian seperti yang dikemukakan oleh Martin Albrow
(2004). Ciri menonjol dari birokrasi Weberian ini adalah hirarkhial yakni pola
hubungan yang terstruktur antara beberapa level/ tingkatan. Penerapan prinsip-
prinsip Weberian seperti span of controll, rasionalitas, impersonal ini cenderung
inward looking atau dengan parameter intra organization. Cara pandang terhadap
lembaga kerjasama antar daerah ini menjadi kurang tepat karena sifat yang
terbentuk dari kerjasama antar daerah (intergovernmental management), adalah
relasi horisontal yang lebih mengedepankan networking/inter organization.
Karakter kerjasama antar daerah dengan relasi horisontal yang berbasis
intergovernmental network pada tingkatan daerah sangat berbeda karakter dengan
organisasi yang berbasis dan berpola organisasi rasional. Pola organisasi rasional
menekankan pola hubungan hierarkhis yang melihat organisasi kerjasama sebagai
unit yang koheren dengan tujuan yang jelas, prosesnya terstruktur dari atas,
keputusan organisasi didominasi kewenangan yang terpusat. (Arie Ruhyanto
dalam Pratikno, 2007; 50). Kerjasama antar daerah yang berpola networking
didasarkan pada inter-relasi yang dilakukan oleh daerah yang bersifat bebas dan
mandiri dalam berhubungan dengan daerah lain. Dalam pola networking tidak ada
struktur kewenangan sentral. Semua tujuan dihasilkan dari kesepakatan dari
semua anggota yang tergabung dalam forum kerjasama antar daerah sebagai
perwujudan aksi bersama (collective action) (Klijn dalam Kickert, dan
kawankawan, 1999). Perbedaan karakter organisasi ini sering rancu dalam
pelaksanaan kerjasama antar daerah di Indonesia yang memiliki sejarah birokrasi
sentralistis cukup lama.
Pendapat tentang bekerjanya beberapa faktor dalam regionalisasi dan
23
kerjasama regional dapat dirunut dari proses regionalisasi dan model komunikasi
antar daerah. Dari runutan waktu dapat disebutkan beberapa pioner dalam
pembahasan regionalisasi dan kerjasama antar daerah, antara lain, Goggin
(1990), Weicchart (2002); O 'Toole (2004);Thomson (2006); Rendell serta
Yablonsky (2006) dan Bryson, Crosby dan Stone dalam Keban (2009), (2006). Bila
Goggin belum mengidentifikasikan wujud dari faktor-faktor pendukung dan
penghambat kerjasama antar daerah yang bekerja pada beberapa level
pemerintahan, Weicchart (2002) telah secara tegas menyebut antara lain:tekanan
global, tekanan keter-batasan kemampuan dan potensi serta tekanan ego lokal.
Elaborasi lanjut diberikan oleh O 'Toole (2004) yang menekankan pentingnya
keselarasan antara stabilitas struktur organisasi dan manajerial. Pada periode
waktu selanjutnya secara mengejutkan Thomson memberikan pemahaman
konsep yang lebih dalam dari kerjasama antar daerah dengan mengenalkan
semangat kolaborasi beserta dimensi-dimensi yang mendukungnya. Ada 5 dimensi
kolaborasi antar daerah yakni pemerintahan, admininistrasi, otonomi, mutualisme
dan reciprocitas. Sementara itu Rendell serta Yablonsky; Bryson, Crosby dan
Stone, memberikan pengkayaan pada mekanisme kerjasama antar daerah dengan
memberikan saran tentang tahapan membangun kerjasama dan unusr-unsur yang
harus diperhatikan dalam kerjasama antar daerah.
Dari penelusuran praktek kerjasama antar daerah di beberapa Negara dapat
ditemukan bentuk kerjasama dan pola kelembagaannya. Bentuk dan metode
kerjasama antar daerah meliputi (1) intergovernmental service contract; (2) joint
service agreement, dan (3) intergovernmental service transfer (Henry, 1995). Jenis
kerjasama yang pertama dilakukan bila suatu daerah membayar daerah yang lain
untuk melaksanakan jenis pelayanan tertentu seperti penjara, pembuangan
sampah, kontrol hewan atau ternak, penaksiran pajak. Jenis kerjasama yang
kedua biasanya dilakukan untuk menjalankan fungsi perencanaan, anggaran dan
pemberian pelayanan tertentu kepada masyarakat daerah yang terlibat, misalnya
dalam pengaturan perpustakaan wilayah, komunikasi antar polisi dan pemadam
kebakaran, kontrol kebakaran, pembuangan sampah. Dan jenis kerjasama ketiga
merupakan transfer permanen suatu tanggung jawab dari satu daerah ke daerah
lain seperti bidang pekerjaan umum, prasarana dan sarana, kesehatan dan
kesejahteraan, pemerintahan dan keuangan publik.
Pengalaman kerjasama antar daerah yang diberlakukan di:SALGA di Afrika
Selatan, Sound Transit di Washington, LAA di Korsel, LCP di Philipina dan Cor di
Uni Eropa memberikan beberapa kesimpulan antara lain:paradigma
penyelenggaraan pemerintahan nasional sangat berpengaruh pada karakter
kerjasama antar daerah. Hanya pada negara dengan praktek demokrasi yang
baik, kepentingan lokal dapat diperjuangkan pada asosiasi kerjasama antar daerah
yang bersifat regional, dan kemudian dapat dicatat juga bahwa kerjasama antar
daerah memerlukan payung hukum yang kuat mulai dari tingkat nasional sampai
ke level daerah serta kejelasan aturan kelembagaan Sangat diperlukan dalam
kesinambungan kegiatan kerjasama.
Saat ini di negara-negara maju mencanangkan kerjasama dalam konteks
kolaborasi bidang perencanaan dan manajemen emergensi, bahkan menjadi
fundasi penting dalam menangani bencana alam dan krisis lingkungan. Kolaborasi
bahkan menjadi model alternatif untuk menggantikan model birokrasi klasik yang
bersifat top down karena merupakan model yang mengandalkan jejaring yang
fleksibel dan dinamis (Waugh & Streib, 2006). Fungsi kolaborasi menjadi lebih

24
diandalkan dari pada fungsi atau upaya melakukan adaptasi dalam menghadapi
berbagai perubahan (Jenkins, 2006). Pelajaran yang diperoleh dari praktek
kerjasama antar daerah di berbagai negara tersebut adalah adanya beberapa
format lembaga kerjasama yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan
kerjasama regional antara lain;
a. Ada dua (dua) format lembaga kerjasama, yakni:IGR dan IGM. Konsep IGR
yang memungkinkan koordinasi dalam aspek umum di seluruh wilayah
kerjasama (tidak disebutkan secara spesifik di Amerika, dan di Afrika Selatan),
sedangkan IGM memberikan kemungkinan penyelenggaraan manajemen yang
terkendali penuh dengan sektor kerjasama yang jelas (mis:pengelolaan
transportasi umum di Washington State).
b. Arah pengembangan peran lembaga kerjasama berpolar dalam dua arah,
yakni:sebagai interest group dari kepentingan regional terhadap pemerintah
pusat (seperti Philipina) atau sebagai kepanjangan pemerintah pemerintah
pusat dan sebagai pengendali kepentingan pusat di level regional (seperti di
Korea Selatan).
c. Ada kecenderungan menguatnya semangat kolaborasi dalam literatur dan
praktek kerjasama antar daerah
Sebagian besar kerjasama di Indonesia terkotak-kotak dalam kerjasama
ekonomi atau pelayanan publik. Mengingat kebutuhan kerjasama sudah
merambah pada pelayanan publik dan ekonomi, ke depan sebaiknya cakupan
kerjasama tidak sebatas pada salah satu bidang seperti yang selama ini terjadi,
tetapi mencakup 2 bidang utama, yakni kerjasama ekonomi dan pelayanan publik.
Perlunya konsistensi dan dukungan kebijakan yang tegas mulai dari tigkat
nasional, provinsial sampai ke tingkat pelaksanaan kerjasama regional, dengan
skenario yang tegas.
Cara pandang klasik (intra organisasi) pada organisasi lembaga kerjasama
antar daerah tidak relevan lagi dengan karakter lembaga kerjasama yang
mengkolaborasikan daerah-daerah otonom ke dalam hubungan kerjasama antar
daerah (intergovernmental organization). Birokrasi Weberian (Albrow, 2005) yang
memiliki pola hubungan strukturalishierarkhis (kewenangan terpusat, span of
controll ketat, impersonal dan sebagainya) menjadi kurang sesuai dengan karakter
networking yang flexible dalam semangat kolaborasi (Robert Agranoff, 2003 dan
Klijn dalam Koppenjam, 1999).
Ada 4 (empat) bentuk networking dari Robert Agranoff yang dapat dipilih
ketika dua atau lebih daerah kabupaten/ kota akan mengadakan kerjasama. Ke
empat bentuk networking tersebut adalah:
1. information networks:beberapa daerah dapat membuat sebuah forum
tetapi hanya berfungsi sebagai pertukaran kebijakan, program, teknologi dan
solusi atas masalah-masalah bersama.
2. developmental networks: antar kabupaten/kota memiliki kaitan lebih
kuat, karena selain pertukaran informasi juga dibarengi dengan pendidikan dan
pelayanan yang secara langsung dapat meningkatkan kapasitas informasi
daerah dalam mengatasi masalah di daerah masing-masing.
3. outreach networks: kabupaten/ kota yang tergabung dalam networking
menyusun program dan strategi untuk masing-masing daerahnya yang
diadopsi dan dilaksanakan oleh daerah lain (biasanya melalui fasilitasi
organisasi partner),
25
4. action networks:daerah-daerah yang menjadi anggota secara bersama-
sama menyusun program aksi bersama, dilaksanakan bersama atau oleh
pelaksana lembaga kerjasama.
Selain 4 (empat) bentuk networking yang dapat dipilih oleh daerah yang
merintis kerjasama antar daerah secara umum, bagi daerah yang berdekatan
dapat juga mempertimbangkan 2 (dua) bentuk kelembagaan kerjasama yang lebih
serius (diambil dari pengalaman praktek di beberapa negara), yakni:
intergovernmental relation (IGR) atau intergovernmental management (IGM) yang
dibarengi dengan pengembangan semangat kolaborasi.

26
Suplemen 1

Sragen Raih “Promoting Whole of Government Approaches in the


Information Age"

SRAGEN – Pada tahun 2015 Pemerintah Kabupaten Sragen mendapatkan Anugerah


Penghargaan yang patut menjadi kebanggaan bagi seluruh warga Sragen.

Pada tanggal 7 Mei 2015, tim penilai UNPSA merilis pengumuman resmi yang menyatakan
bahwa “Integrated Service Unit on Poverty Relief (ISUPR, nama internasional dari UPTPK)
dari Indonesia telah meraih juara kedua Regional Asia Pasifik kategori “Promoting Whole of
Government Approaches in the Information Age” dalam kompetisi UNPSA 2015. Disebutkan
pula bahwa institusi UPTPK telah memukau para dewan juri dan mampu menunjukkan
kualitas pelayanan publik yang sangat baik.

UNPSA ( United Nation Public Service Award ) adalah sebuah penghargaan dibidang
pelayanan publik tingkat dunia. Terpilihnya Indonesia sebagai salah satu nominator UNSPA
dapat dijadikan indikator pelayanan publik dan reformasi birokrasi yang lebih baik di tanah
air. Ajang Penghargaan UNSPA sudah dilaksanakan sejak tahun 2003. Keiukut sertaan
UPTPK dalam kompetisi UNSPA 2015 adalah yang pertama kalinya dan langsung meraih
sebagai Juara Kedua.

Prestasi ini patut menjadi kebanggaan, karena baru kali ini Pemerintah Kabupaten Sragen
meraih penghargaan tingkat dunia. Berikut perjalanan dan perjuangan UPTPK Kab. Sragen
dalam usaha meraih prestasi ini. Pada Tahun 2014, UPTPK masuk dalam 33 besar nominator
pemenang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK). Dari TOP 33 ini diikutsertakan
oleh KEMENPAN dalam ajang penghargaan United Nations Public Service Awards (UNPSA)
2015. Dari seleksi di tahap pertama tersebut, lolos 14 kabupaten/ kota, termasuk UPTPK
Kabupaten Sragen dan berhak ikut dalam penilaian tahap II.

Ada empatkategori yang dilombakan dalam UNPSA 2015, yaitu: (1) Improving the Delivery
of PublicServices ( PerbaikanPemberianPelayananKepadaMasyarakat). (2) Fostering
Participation in Policy Making Decisions through Innovative Mechanisms (Memperkuat
Partisipasi Dalam Pembuatan Kebijakan. (3) Promoting Whole of Government Approaches in
the Information Age (Mendorong Pemerintahan Berbasis Pendekatan Kolaboratif dalam Era
informasi). (4) Promoting Gender Responsive Delivery of Public Services ( Mendorong

27
Responsif Gender dalam Pemberian Pelayanan kepada Masyarakat).

Inovasi yang dilakukanoleh UPTPK Sragen masuk masuk dalam kelompok / kategori 3 yaitu
Promoting Whole of Government Approaches in the Information Age (Mendorong
Pemerintahan Berbasis Pendekatan Kolaboratif dalam Era informasi)

Dari 14 nominator perwakilan Indonesia di atas, padatanggal 26 Maret 2015 diseleksi lagi
hingga terpilihlah TOP 5 UNPSA 2015 yang masuk ketahap III. Kelima nominator tersebut
adalah : 1.Kabupaten Aceh Singkil, 2. Kabupaten Pinrang, 3. Kabupaten Sragen, 4.Kabupaten
Sumenep, 5.Kabupaten Kulon Progo.

Akhirnya padatanggal 7 Mei 2015, tim penilai UNPSA pun merilis pengumuman resmi yang
menyatakan bahwa “Integrated Service Unit on Poverty Relief (ISUPR, nama
internasionaldari UPTPK) dari Indonesia telah meraih juara kedua kategori “Promoting Whole
of Government Approaches in the Information Age” dalam kompetisi UNPSA 2015.
Disebutkan pula bahwa institusi UPTPK telah memukau para dewan juri dan mampu
menunjukkan kualitas pelayanan publik yang sangatbaik. Penerimaan penghargaan akan
dilaksanakan padatanggal 23 s/d 26 Juni 2015 di Medellin, Republik Colombia. (N.Hart –
Humas

28
Suplemen 2

Dari Semiloka "Denpasar Smart City", Pendekatan Whole of Government


Wujudkan Sasaran Pembangunan

Denpasar menuju Smart City atau Kota Cerdas tak terlepas dari integrasi program antar
Perangkat Daerah Pemkot Denpasar dengan melepaskan egoisme sektoral. Integrasi program
mampu meningkatkan inovasi dan kreatifitas dalam Smart Government sehingga nantinya
dapat menyelesaikan permasalahan kota. Masalah mendasar yakni pendidikan, kesehatan, dan
permasalahan sosial menjadi prioritas Pemkot Denpasar dalam inovasi program menuju
Smart City, dengan integrasi program bersama Perangkat Daerah Pemkot Denpasar.
Pendekatan Whole of Government (Seluruh Perangkat Daerah) menjadi pengungkit program
Pemkot Denpasar menjadikan Denpasar sebagai "Truly Smart City". Hal tersebut menjadi
pembahasan mendalam dalam pertemuan Semiloka Denpasar Smart City yang berlangsung
selama tiga hari dari 12-14 Agustus di Bali Handara Resort, Desa Pancasari Buleleng dengan
melibatkan pembicara Deputi Inovasi Administrasi Negara (LAN) Dr. Tri Widodo W. Utomo.
Semiloka ini dihadiri langsung Walikota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra Ketua
DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede bersama anggota dan Sekda Kota Denpasar A.AN
Rai Iswara

Lebih lanjut Tri Widodo mengatakan Denpasar memiliki keunikan tersendiri dengan
pendekatan budaya yang dilakukan Pemkot Denpasar dalam pelaksanaan pelayanan kepada
masyarakat. Pendekatan dengan Whole of Government (WOG) melalui seluruh Aparatur
Perangkat Daerah mampu melakukan keterikatan dan integrasi program dalam merespon
semua permasalahan perkotaan. Sehingga dari integrasi program Pemkot Denpasar saat ini
yang telah melakukan respon cepat permasalahan kota dapat terus dikuatkan dengan
pragmentasi kebijakan, pragmentasi kelembagaan yang dapat terus dilakukan peningkatan
komunikasi dan koordinasi. "Jadi antar SKPD dengan komando Walikota dan Wakil Walikota
untuk saling memahami dan tidak mempertahankan egoisme sektoral masing-masing,"
ujarnya. Koordinasi menjadi hal penting dengan publik sektor yang memiliki keterikatan
hubungan satu sama lain dan dapat dilakukan dengan derajat koordinasi sebagai kebutuhan.
Dengan inovasi Denpasar yang telah berjalan baik memberikan pelayanan yang cerdas
kepada masyarakat dengan Smart City. Identifikasi permasalahan kedepan dapat terus
dilakukan Perangkat Daerah, seperti integrasi layanan kesehatan Posyandu di banjar-banjar
sebagai model WOG yang telah dilakukan Pemkot Denpasar dapat terus dikembangkan

29
dengan peningkatan pelayanan meliputi kesehatan, perpajakan, pertanian, UKM dan Ekonomi
Kreatif, dan kependudukan.

Sementara Walikota Rai Mantra mengatakan koordinasi dan komunikasi menjadi kunci
bersama dalam mempercepat penyelesaian masalah yang ada. Penyelesaian permasalahan kota
dapat dilakukan secara holistik dengan pendekatan WOG melakukan identifikasi, solusi dan
penyelesaian masalah. Smart City menjadi sebuah kemampuan bersama dalam mendalami dan
memecahkan permasalahan kota serta diharapkan dapat menghasilkan road map Smart City
dengan implementasi langsung dalam program pembangunan. Hal ini juga sebagai salah satu
sasaran yang ingin dicapai dalam rangka pelaksanaan visi dan misi yang ditetapkan dalam
dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Denpasar Semesta
Berencana.

30
Indikator Pengukuran UN EGovernment Survey 2017

United Nations E-Government Survey 2017 segera melakukan aktivitas penilaian terhadap
192 negara anggota PBB. Tema kali ini adalah : "E-Government For Sustainable
Development" atau "E-Government untuk Pembangunan yang Berkesinambungan". Sejak
tahun 2001 survei yang diselenggarakan setiap dua tahun ini selalu mengacu kepada penilaian
kuantitatif indeks gabungan yang terdiri dari; (i) e-information dan e-services, (ii) infrastruktur
telekomunikasi, dan (iii) ketersediaan modal sumber daya manusia, dan dengan tambahan
pengukuran pada kapabilitas dan kapasitas pemerintah dalam mendorong partisipasi publik
atau e-participation untuk proses pembuatan kebijakan publik. Apakah survei 2017 masih
menggunakan indikator yang sama?

Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menyajikan penilaian komparatif terhadap pembangunan


e-Government global, menjalankan sebuah survei yang menilai berbagai strategi, perangkat
dan best practices eGov yang dikembangkan dan dipraktekan oleh negara-negara pioner, dan
menggunakan serangkaian kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ditelurkan para ahli strategis
global dan para praktisi dalam mendayagunakan e-Government agar memberikan pelayanan
yang lebih baik kepada masyarakat. Sehingga PBB juga dapat memberikan saran kepada
semua negara untuk maju melakukan inovasi yang lebih besar, melakukan konsolidasi
strategi-strategi e-Government dan membua kebijakan-kebijakan berdasarkan bukti yang akan
memfasilitasi adopsi teknologi-teknologi baru dan dapat merespon secara efektif berbagai
kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.Dalam beberapa tahun belakangan ini, semakin
banyak yang mengakui survei yang diselenggarakan oleh PBB sehingga pesan yang
disampaikan melalui survei e-Gosvernment dapat diterima diseluruh dunia. Data yang
31
dihasilkan survei eGovernment PBB kini digunakan secara luas dan dikutip banyak organisasi
riset terkemuka, termasuk oleh WORLD BANK, Organization for Economic Co-operation
and Development (OECD), Economist Intelligence Unit (EIU), European Union (EU), World
Economic Forum dan International TelecommunicationUnion(ITU). Dalam konteks ini,
United Nations e-Government Survey akan berfokus pada peran e-Government dalam
pembangunan yang berkesinambungan, yang akan mencakup promosi kesetaraan sosial,
pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Berdasarkan berbagai temuan dan tren di survei-survei terdahulu, maka untuk UN e-
Government Survey 2017 akan melakukan penilaian pada area-area dibawah berikut ini:

1. Semakin Pentingnya pendekatan Whole-of-government dan pelayanan online yang


terintegrasi. Untuk menjamin keberlangsungan layanan-layanan online dalam jangka panjang
seiring dengan meningkatnya penggunaan dan modernisasi, ada sebuah perubahan global
menuju integrasi dan penciptaan "one stop shops" dan portal-portal nasional, yang disertai
dengan berbagai solusi terintegrasi seperti "single sign on" dan manajemen identitas. Berbagai
insiatif ini pada gilirannya akan memberikan penghematan biaya dalam jumlah besar dan
efisiensi pada berbagai operasional "back end" pemerintah sekaligus membuat berbagai
layanan publik menjadi lebih efektif dan nyaman. Apa yang penting BUKAN berapa banyak
website yang dimiliki pemerintah, tetapi berapa banyak masyarakat dapat mengakses dengan
mudah berbagai layanan publik online yang relevan bagi masyarakat, tanpa ada keharusan
bagi masyarakat untuk memahami organisasi pemerintah.

2. Penggunaan e-Government untuk meyediakan informasi dan layanan-layanan kepada


masyarakat terkait berbagai isu lingkungan hidup. Pada 2017 mendatang akan berlangsung
Rio+20 - sebuah konferensi PBB bertajuk Pembangunan yang Berkesinambungan- yang akan
mengaklamasikan isu-isu terkait lingkungan hidup dan pembangunan yang berkesinambungan
sebagai komunitas dunia akan melanjutkan perjalanannya menuju target Millennium
Development Goals pada 2017 mendatang. Hal ini sejalan dengan fokus khusus UN E-
Government Survey 2017 yang akan melakukan asesmen pada kontribusi e-Government
terhadap kelanggengan lingkungan hidup. Fokusnya pada pembangunan sebuah pemahaman
peran e-Government dalam meyediakan informasi dan layanan-layanan untuk
mempromosikan kesadaran dan advokasi manajemen sumber daya lingkungan hidup dan
perubahan cuaca, terutama keterkaitannya dengan pelayanan-pelayanan terkait ke masyarakat.
Sebagai contoh, masyarakat yang mencari berbagai informasi penting ke pemerintah dan
layanan-layanan kala terjadi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, angin topan, banjir,
32
dan gunung meletus.
3.Layanan-layanan online efektif yang mencakup kelompok-kelompok masyarakat yang
paling rawan. Untuk mendukung kesetaraan partisipasi pembangunan sosial ekonomi, ada
sebuah kebutuhan untuk menggaransi agar layanan-layanan e-Government juga diberdayakan
untuk menjawab berbagai kebutuhan dan menyelesaikan masalah masyarakat yang mengalami
keterbatasan fisik dan kelompok masyarakat yang lemah. UN E-Government Survey 2017
akan memperhatikan berbagai isu aksesibilitas sehingga kelompok-kelompok masyarakat
yang lemah tidak hanya tercakup didalam pengaksesan layanan-layanan online publik tetapi
juga aktif sebagai mitra yang juga berinteraksi dengan pemerintah.

4. E-infrastructure dan peningkatan perannya dalam menjembatani kesenjangan digital.


Menjembatani kesenjangan digital untuk mencapai pembangunan yang berkesinambungan
tetap menjadi prioritas puncak bagi PBB. UN e-Government Survey 2017 akan mengakses
bagaimana teknologi-teknologi terbaru seperti broadband menjadi pengungkit layanan-
kayanan online yang lebih baik dan memitimigasi dampak buruk kesenjangan digital.

.
5 Semakin meningkatnya penekanan pada penggunaan layanan dan kepuasan masyarakat.
Bahkan dengan menggunakan layanan online yang terhebat sekalipun, ketersebaran adopsi
dan penggunaan e-Government tak dapat dijamin. UN e-Government Survey 2017 oleh karena
itu akan berfokus lebih lekat pada bagaimana pemerintah berbagi informasi pada layanan
penggunaan dan umpan balik yang diberikan oleh masyarakat terkait layanan-layanan online
dan berbahai inisiatif e-participation, demikian juga dengan bagaimana kesadaran masyarakat
terhadap keberadaan e-services yang disediakan oleh pemerintah semakin meningkat.

.
6 Penyelenggaraan layanan publik multi kanal. Dalam bidang pembangunan sosio
ekonomiberkesinambungan, UN e-Government Surveys 2012 akan menilai berbagai
pendekatan e-Government dan pembangunan melalui penggunaan saluran pelayanan publik
multi kanal, terutama keteraksesan layanan-layanan mobile; ketersediaan konektivitas gratis
melalui kios-kios publik dan berbagai fasilitas lainnya; dan bagaimana pendekatan-pendekatan
ini akan membantu kemajuan efisiensi ekonomi dan efektifitas dalam pemberian layanan
pemerintah, termasuk layanan-layanan jaringan sosial. yang terutama, sebuah fokus khusus
akan menegaskan meningkatnya kebutuhan ketersediaan layanan-layanan berbasis teks dan
web mobile, seiring dengan semakin meningkatnya penetrasi perangkat-perangkat mobile di
negera-negara berkembang. (Division for Public Administration &Development
Management / United Nations Department of Economic and Social Affairs Tel: 1-212-963-
33
2764 or Email: unpan@un.org)

34
DAFTAR PUSTAKA

Agranoff, Robert. 2003. ”A New Look at the Value-Adding Functions of


Intergovernmental Networks”, Paper presented for Sevent National Public
Management Research Conference. Georgetown University. October 9-11,
2003.
Albrow, Martin. 2005. Birokrasi. Jakarta:Tiara Wacana.
6, P. (2004). Joined-Up Government in the Western World in Comparative
Perspective: A Preliminary Literature Review and Exploration. Journal of
Public Administration Research and Theory: J-PART, 103–138.
Bissessar, A. M. (2009). Rethinking the Reform Question. Cambridge Scholars
Publishing. Retrieved from https://www.google.com/books?
hl=en&lr=&id=BvUYBwAAQBAJ&oi=fnd&pg=
PR5&dq=WoG+vs+NPM&ots=ePL47IFvVW&sig=30BB8RTclIqTz7-
SZtS299W78aE
Christensen, T., & L\a egreid, P. (2006). The whole-of-government
approach– regulation, performance, and public-sector reform.
Retrieved from http://bora.uib.no/handle/1956/1893
Goggin, L., Malcolm, Ann O'M Bowman, James P. Lester. & L. J. O'Toole, Jr. 1990.
Implementation Theory and Practice Toward a Third Generation, Foresman
and Company, Weichhart P., 2002, Globalization Die Globalisierung und ihre
Auswirkungen auf die Regionen. In:H. DACHS und R.FLOIMAIR, Hrsg.,
Salzburger Jahrbuch fur Politik 2001. Salzburg (Schritenreihe des
landespresseburos, Glenview, Illionis London, England. Sunder-
plublikationen, Nr. 180)
Hardi Warsono, 2009. Networking Dalam Intergovernmental Management. Jurnal
Ilmu Administrasi Dan Kebijakan Publik “Dialogue”, JIAKP, Vol. 6, No. 1,
Januari 2009:78-91
Henry, N. 1995. Public Administration and Public Affairs. Sixth Edition. Englewood
Cliffs. N.J.:Prentice –Hall.
Jenkins, W.O. 2006. “Collaboration over Adaptation”. Public Administration Review,
66, 3 (May/June), pp. 319 – 321.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001. Edisi Ketiga, Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional. Jakarta:Balai Pustaka.
Klijn, Erik-Hans. & Joop F.M. Koppenjan. 1999. Managing complex Networks
Strategies for The Public Sector. London.
Keban, Yeremias T. 2009. “Naskah Akademik Kerjasama Antar Daerah”.
Yogyakarta:Fisipol UGM.
Lihat Mc Guire (2006:Kajian disertasi ini masuk dalam domain Public Management
and Intergovernmental (sesuai klasifikasi Michael McGuire seorang associate
professor dalam public and environmental affairs di Universitas Indiana
Bloomington).
Patterson, D.A. 2008. Intergovernmental Cooperation Albany. New York State:
Department of State Division of Local Government Services.

35
Pratikno (Ed). 2007. Kerjasama Antar Daerah:Kompleksitas dan Tawaran Format
Kelembagaan. Yogyakarta:Jogja Global Media.
Rendell, E.G. & Yablonsky D. 2006. Intergovernmental Cooperation, Handbook.
Harisburg, Pensylvania:Department of Community and Economic
Development.
Shergold, P., & others. (2004). Connecting government: Whole of government
responses to Australia’s priority challenges.[Launching speech made on
20 April 2004.]. Canberra Bulletin of Public Administration, (112), 11.
Thomson, Ann Marie. & James L. Perry. 2006. “Collabotration Processes:Inside the
Black Box”, paper presented on Public Administration Review; Dec 2006; 66,
Academic Research Library pg.20.
United Nations. (2012). United Nations E-government Survey 2012: E-government
for the People. UN.
Waugh Jr, W.L. & G.Streib. 2006. “Collaboration and Leadership for Effective
Emergency Management”. Public Administration Review, 66 (December), pp.
131-140
Weichhart P. 2002. Globalization Die Globalisierung und ihre Auswirkungen auf die
Regionen. In:H. DACHS und R.FLOIMAIR, Hrsg., Salzburger Jahrbuch fur
Politik 2001. Salzburg (Schritenreihe des landspresseburos, Glenview, Illionis
London, England Sunderplublikationen, Nr. 180)
Whole-of-government approach | Glossary of Terms for Conflict Management and
Peacebuilding. (n.d.). Retrieved November 3, 2016, from
http://glossary.usip.org/resource/whole-government-approach
Wood, Donna. & Barbara Gray. 1991. “Toward a Comprehensive Theory of
Collaboration”. Journal of Applied Behavioral Science 27 (2):139-62

36