100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
751 tayangan11 halaman

Bahan Restorasi Estetik Gigi Terbaru

Dokumen tersebut membahas tentang bahan-bahan restorasi estetik langsung yang digunakan dalam kedokteran gigi. Secara garis besar dibahas tentang empat jenis bahan restorasi utama yaitu komposit, compomer, glass ionomer, dan hybrid ionomer. Jenis-jenis tersebut dibedah lebih lanjut mengenai komposisi, reaksi pengerasan, sifat, klasifikasi, kegunaan, dan teknik manipulasi yang sesuai. Dok

Diunggah oleh

IlhamArmadaSandhie
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
751 tayangan11 halaman

Bahan Restorasi Estetik Gigi Terbaru

Dokumen tersebut membahas tentang bahan-bahan restorasi estetik langsung yang digunakan dalam kedokteran gigi. Secara garis besar dibahas tentang empat jenis bahan restorasi utama yaitu komposit, compomer, glass ionomer, dan hybrid ionomer. Jenis-jenis tersebut dibedah lebih lanjut mengenai komposisi, reaksi pengerasan, sifat, klasifikasi, kegunaan, dan teknik manipulasi yang sesuai. Dok

Diunggah oleh

IlhamArmadaSandhie
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Restorasi estetik di bidang kedokteran gigi mengalami perkembangan yang


sangat pesat. Hal ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) kedokteran gigi terutama perkembangan bahan-bahan restorasi. Pada
awalnya bahan yang digunakan untuk restorasi estetik dibidang kedokteran gigi
adalah silikat namun penggunaanya terbatas pada gigi anterior, kavitas kecil dan
hanya memenuhi estetik secara terbatas. Pada tahun 1955 Blounocore
memperkenalkan etsa asam email dan dikombinasikan dengan komposit resin,
penemuan ini telah membuka cakrawala baru dibidang kedokteran gigi.

Dengan berkembangnya restorasi estetik memungkinkan perawatan


kecantikan gigi semakin mudah dilakukan dalam waktu singkat, terutama
penggunaan direct esthetic restorative material. Hal ini sejalan dengan semakin
meningkatnya minat masyarakat tehadap penampilan yang lebih baik dari gigi-
giginya. Untuk itu sebagai klinis diharapkan mengetaui karakteristik dan manipulasi
bahan-bahan restorasi esthetic secara benar sehingga pemilihan dan penggunaanya
tepat.

1.2 Topik Bahasan

1. Bahan Komposit.

2. Compomer.

3. Glass ionomer.

4. Hybrid ionomer

1.3 Tujuan akhir pembelajaran

Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan bahan-bahan restorasi direct


esthetic yang dipakai di bidang kedokteran gigi.

Learning Issues

1. Pengertian bahan restorasi direct esthtetic


a. Macam-macam bahan restorasi direct esthetic.
b. Komposisi, reaksi setting, sifat, klasifikasi, kegunaan, dan manipulasi
bahan direct esthetic.
2. Persyaratan bahan restorasi direct esthetic.

1
BAB II
PEMBAHASAN

PETA KONSEP

TINDAKAN ; DIRECT ESTHETIC

BAHAN RESTORASI DIRECT ESTHETIC

DEFINISI MACAM SYARAT

KOMPOSITE GIC COMPOMER HYBRID IONOMER

KLSIFIKASI KEGUNAAN KOMPOSISI SIFAT REAKSI SETTING MANIPULASI

PEMILIHAN BAHAN YANG TEPAT

2
1. Pengertian bahan restorasi direct esthetic

Adalah bahan – bahan restorasi yang memiliki estetika seperti jaringan gigi asli
dan dapat langsung diaplikasikan pada kavitas preparasi dalam bentuk pasta.

PEMILIHAN BAHAN

Bahan restorasi yang dipilih adalah bahan yang cocok digunakan untuk karies klas

- Karies klas 3 : Karies bagian mesial atau distal tetapi tidak sampai
menembus lingual.
- Karies klas 5 : Karies pada bagian servikal.
Bahan – bahan restorasi tersebut yaitu :
a. All-purpose composite
b. Microfilled composite
c. Nanofilled composite
d. Compomer
e. Hybrid ionomer
f. Glass ionomer

PERSYARATAN BAHAN RESTORASI DIRECT ESTHETIC YANG BAIK

1. Pertimbangan biologis :
- Tidak mengiritasi pulpa dan gingival
- Toksisitas sistemik rendah
- Bersifat kariostatis
2. Tidak larut atau erosi dalam saliva/dalam cairan yang biasa dimasukkan ke
dalam mulut. Juga penting agar jangan mengabsorbsi air terlalu banyak.
3. Sifat-sifat mekanis :
- Harus kuat menerima beban pengunyahan dan modulus elastisitas
- Kekuatannya sebaiknya sama dengan kekuatan enamel dan dentin.
- Tidak mudah abrasi oleh pasta gigi dan konstitusi makanan. Abrasi karena
pemakaian dapat terjadi terutama pada restorasi gigi belakang.
4. Sifat-sifat termis :
- Koefisien ekspansi termis sebaiknya sama dengan koefisien
ekspansi termis enamel dan dentin.
- Mempunyai diffusivitas termis yang rendah
5. Mempunyai sifat estetik yang baik , terutama untuk tambalan gigi anterior.
Restorasi hendaknya dapat menyamai gigi asli dalam hal warna,
translusensi,dan indeks refraksi. Tidak terjadi staining / perubahan warna
dalam jangka cukup lama.
6. Terjadi adhesi antara bahan tambal dengan enamel dan dentin.
7. Perubahan dimensi selama setting hendaknya sangat kecil.
8. Bahan hendaknya mudah dipoles dan permukaan licin yang diperoleh sebagai
hasil pemolesan hendaknya dapat dipertahankan.
9. Bahan tambal hendaknya cukup radiopaque sehingga memungkinkan
dilakukannya :
- Deteksi adanya sekunder karies
- Identifikasi adanya overhanging pada suatu restorasi
3
- Deteksi adanya tambalan kavitet yang tidak penuh disebabkan oleh
karena udara yang terperangkap.
10. Pertimbangan rheology :
Bahan tambal sebaiknya mempunyai waktu kerja yang cukup dan selama
itu sedikit / tidak terjadi perubahan viskositas kemudian disertai
dengan waktu pengerasan yang cepat.

2. Macam- macam bahan


Macam-macam bahan yang sesuai dengan topik pembahasan antara lain.
- Bahan Komposit
- Compomer
- Glass ionomer
- Hybrid ionomer

3. Komposisi, reaksi setting, sifat, klasifikasi, kegunaan, dan manipulasi bahan direct
esthetic.
A. RESIN KOMPOSIT
a) Komposisi
 Resin Matriks (Bahan dasar)
o Dimetacrylate :
 Bisphenol A-glycidyl methacrylate (Bis-GMA).
 Urethane dimethacrylate.
 Trycthylone glycol dimetacrylate
o Inorganic Filler (bahan Pengisi)
 Quartz, lithium aluminium silicate, barium, strontium, zinc.
 Filler yang mengandung barium, strontium, zinc biasanya
digunakan untuk restorasi gigi posterior.
o Coupling Agents (Bahan Pengikat)
 Berfungsi ntuk membentuk ikatan yang baik antara resin matriks
dengan bahan pengisi.
 Vynil Silane  paling banyak digunakan.
b) Reaksi Setting
 Light Curing System
o Komposite terpolimerisasi dengan terpapar sinar biru.
o Sinar tersebut diabsorbsi oleh diketon yang terdapat di antara
amin organic, yang memulai reaksi polimerasi atau setting.
o Waktu paparan : 20-40 detik.
 Self Curing System
o Polimerisasi terjadi dengan inisiator peroxide organic dan
accelelator amin organic.
o Antara inisiator dan accelelator harus dipisah sebelum restorasi
ditempatkan.
c) Kegunaan
 Restorasi untuk seluruh cavitas gigi (anterior-posterior)
 Restorasi gigi yang mengalami perubahan warna.
 Menutup diastem.
 Restorasi post endodontik.
 Meletakkan alat ortodontik.
 Pit dan fissure sealant.
 Pembuatan bridge anterior.
4
 Direct Veneer.
 Periodontal spunting.
 Memperbaiki posisi gigi.
 Sebagai lining.
 Temporary restoration.
d) Sifat – Sifat Komposit
a. Penyusutan saat terjadi polimerisasi rendah
b. Absorbsi air rendah
c. Koefisien ekspansi thermal mirip dengan struktur gigi
d. Tahan retak
e. Tahan sobek
f. Mengikat kuat pada enamel dan dentin
g. Memiliki warna sesuai dengan struktur gigi
h. Manipulasinya mudah
i. Finishing dan polishing mudah
e) KLASIFIKASI
1. Berdasarkan ukuran bahan pengisi / filler
 Makrofilled
 Mikrofilled
 Hybrid
2. Berdasarkan perbandingan banyaknya volume matriks resin dan filler
 Nonflowable
 Flowable
3. Berdasarkan ukuran dan komposisi bahan pengisi
 Resin komposit tradisional
 Resin komposit hybrid large partikel
 Resin komposit hybrid midfiller
 Resin komposit hybrid minifiller
 Resin komposit homogenous mikrofilled
 Resin komposit heterogenous mikrofilled
 Resin komposit packable hybrid
 Resin komposit flowable hybrid
 Resin komposit nanofilled

f) Manipulasi
1. Etching & Bonding
Dengan mengunakan bonding agent, enamel dan dentin pada kavitas
preparasi dietsa dengan asam selama 30 detik, yang mengandung 10 –
15 % atau 34 – 37% cairan asam asetat. Asam tersebut kemudian
dibasuh dengan aliran udara.
2. Single paste composite
Keuntungan menggunakan composite adalah mudah dalam peletakan
paste komposit, menurunkan infeksi dan proteksi pasta dari paparan
sinar lingkungan sekitar
3. Two paste composite
Pasta inisiator peroxide / catalis dan pasta akselerator amin dicampur
dengan mixing tip khusus dan dapat langsung diaplikasikan pada
preparasi menggunakan intraoral tip. Setelah bercampur, working time
self cured composite selama 1 s/d 1 ½ menit. Campuran tersebut akan
mengeras, dan dibiarkan sampai setting kira – kira 4 - 5 menit mulai dari

5
awal pencampuran. Tersedia juga auto mixed cartdtriges yang
mengandung akselerator kimia dan aktivator sinar sehingga polimerisasi
dapat di inisiais oleh sinar dan dilanjutkan dengan mekanisme self cured
4. Proteksi pulpa
Sebelum komposit diletakkan pada kavitas, pulpa harus dilindungi
menggunakan liner ( Ca (OH)2) / GI, hybrid ionomer, compomer base.
5. Penumpatan
Peletakkan komposit pada kavitas preparasi dengan berbagai cara :
a. Diletakkan menggunakan instrumen plastik / instrumen dengan
disposable elastomeric tips, yang tidak melekat pada komposit.
b. Diletakan dalam tip plastik jarum suntik, kemudian diinjeksikan pada
kavitas preparasi
c. Menggunakan plastic agar tidak ada kontaminasi yang dapat
menyebabkan perubahan warna.

6. Finishing dan polishing


a. Untuk mengurangi, menggunakan : diamond, carbide finishing burst,
finishing disk, strips alumina
b. Untuk finishing akhir : abrasif impregnated rubber rollary intrumen,
disk / rubber cup dengan berbagai paste polishing
c. Finishing ditunjukkan dengan area basah dan pelicin water – soluble
d. Finishing akhir dari komposit light cured dimulai segera setelah light
cured

B. COMPOMER
Kompomer adalah perubahan composite dari grup polyacid dan digunakan
untuk restorasi pada area low stress, meskipun produk modern ( Dytract AP,
Dentsply Caulk, Millford, DE ) disarankan oleh pengusaha pabrik untuk
restorasi kelas I dam II pada dewasa (lihat table 4-1). Kompomer disarankan
untuk pasien dengan resiko karies medium
a) Komposisi dan reaksi
Kompomer mengandung perubahan monomer dari grup polyacid dengan
melepaskan floride silicat glasses dan diformulasi tanpa air. Beberapa
kompomer memiliki perubahan monomer yang memberi tambahan
melepaskan floride. Salah satu produk umum, persentase filter-volume dari
42% - 67%, dan rata – rata ukuran filler partikel dari 0,8 – 5,0 mm.
Kompomer dibungkus seperti fomulasi single paste di compules dan suntik.
Pada mulanya setting terjadi dari polimerasi Light-cured, tapi reaksi acid-
base juga terjadi seperti componer yg menyerap air setelah peletakan dan
kontak dengan saliva. Pengambilan air juga penting untuk transfer floride.
b) Properties
Kompomer melepaskan floride dari mekanisme sama dengan glass dan
hybrid ionomers. Seperti hasil jumlah lower dari glass ionomer terdapat di
kompomer, Jumlah dari pelepasan floride dan durasi lebih rendah dari glass
dan hybrid ionomers. Juga, kompomer tidak mengisi kembali dari
perawatan floride atau Menyikat dengan dentifrices floride sebanayk glass
hybrid ionomer.
c) Manipulasi
 Kompomer diformulasikan sebagai pasta tunggal yang dikemas dalam
unit-dosis compules.
 Membutuhkan bonding agen untuk pengikat atau perlekatan pada
struktur gigi.
6
d) Kegunaan
 Untuk restorasi pada area yang bertekanan rendah.
 Dapat digunakan untuk restorasi kelas I dan kelas II.
 Untuk kelas II dapat menggunakan teknik sandwich.
 Untuk pasien yang memiliki resiko medium / menengah berkembangnya
karies.
 Untuk penumpatan pada lesi servical.
 Bentuk restorasi kelas III dan kelas V pada gigi sulung.
 Untuk meningkatkan kualitas pemeliharaan dan pelepasan fluoride
dibanding dengan bahan resin composite.

C. GLASS INONOMER
a) Kegunaan:
 Lesi pada cervical
 Restorasi kelas V pada dewasa yang estetiknya kurang baik dari pada
tipe lainnya.
 Pasien dengan resiko tinggi karies

b) Sifat:
 Fisik
 Kelarutan oleh asam rendah
 Adhesinya kurang baik
 Melekat dengan baik di enamel dan dentin

 Biologis
 Biokompatibel
 Anti karies dan selalu melepas fluor

 Kimia
 Mudah bereaksi sehingga mudah di modifikasi

c) Klasifikasi:
 Tipe 1  untuk Bahan perekat
 Tipe 2  untuk Restorasi
 Tipe 3  untuk Basis
 Tipe 9  untuk Restorasi pada anak-anak
d) Komposisi:
 Powder
 Dihasilkan dengan cara pembauran quartz dan alumina dalam suatu
flux fluorite/cryolite/aluminium fosfat pada suhu 1000 – 1300°C
 Kaca silikat ini hanya dapat bereaksi dengan asam keras seperti
asam fosfor
 SiO2 29%
 Al2O3 16,6 %
 CaF2 34,3 %
 Na3AlF6 5,0 %
 AiF3 5,3 %
 AlPO4 9,8 %

 Liquid
 Larutan polyacrylic acid / itaconic acid copolymer dalam air
7
 Tartaric acid  accelerator
 Formula aslinya terdiri dari larutan asam akrilik / copolymer asam
itaconic dalam 45-50% air (appendix III, no.21) distabilisasi dengan
5% asam tartar untuk mencegah pengentalan dan pembentukan gel
sewaktu penyimpanan.

e) Manipulasi:
 Pada pencampuran bubuk / cairan 1,3 : 1 sampai 1,35 : 1
 Pencampuran harus cepat, digunakan paper pad / glass slab dan spatula
plastic, mixing time antara 30 – 60 detik
 Encapsulated product  mechanical mixer  10 detik
 Gigi di isolasi agar tidak lembab
 Diperlukan surface conditioner untuk membersihkan permukaan dentin
 Proteksi pulpa dengan semen calcium hydroxide, bila ketebalan < 0,5
mm
 Semen harus cepat diaplikasikan karena working time setelah mixing
adalah 2 menit pada suhu kamar. Working time dapat diperpanjang
dengan menggunakan colg glass slab (3°C)  tetapi menyebabkan
compressive strength menurun  tidak dianjurkan
 Semen ini sensitive terhadap kelembaban dengan menggunakan varnish
(bentuk liquid agak kental)
 Setelah mengeras diulas lagi dengan varnish (digunakan karena pori –
pori nya lebar, berfungsi sebagai penghambat saliva, sari – sari makanan
yang masuk dapat menembus
 Finishing dapat dilakukan setelah 24 jam.

f) Reaksi Setting:
 Pada pencampuran bubuk dan cairan  partikel gelas mengurai
melepaskan ion Ca2+, Al3+, F-.
 Ion – ion tersebut cross link dengan polyanions  salt gel matrix
 Glass ionomer melekat secara kimia dengan enamel / dentin selama
proses pengerasan
 Mekanisme perlekatan  ionic interaction dengan calcium dan atau ion
phosphate dari permukaan enamel / dentin
 Perlekatan lebih efektif pada permukaan gigi yang bersih  acidic
conditioner (cleansing agents) dan larutan ferric chloride
 Cleansing agents menghilangkan smear layer pada dentin
 Ion Fe3+ mengendap  meningkatkan ionic interaction antara semen dan
dentin

D. HYBRID IONOMER
a) Komposisi dan reaksi setting
Komposisi bubuk hybrid ionomer mirip dengan glass ionomer.cairannya
mengandung monomers,polyacid,dan air. Setting hybrid dengan acid base
dan bereaksi dengan light cured serta self cured resin polimerosasi.
Penempatan di dentin sebagai bonding agent (pengikat) sebelum
memasukan hybrid ionomer yang di kontraindikasikan karena hybrid
ionomers dapat menurunkan pengeluaran fluoride <.

b) Kegunaan

8
Hybrid ionomer/ resin modifikasi glass ionomer digunaan untuk restorasi
low-stress-bearing area dan direkomendasikan untuk pasien dengan resiko
tiinggi karies. Restorasi ini lebih mempunyai estetika yang lebih bagus dari
pada glass ionomer karena kandungan resinnya,
c) Sifat Hybrid ionomer:
- Hybrid ionomer melekat pada struktur gigi tanpa menggunakan agen
dentin bonding
- Hybrid ionomer lebih banyak melepaskan fluoride daripada compomer
dan composite
- Namun jika dibandingkan dengan glass ionomer, Hybrid ionomer lebih
sedikit melepaskan fluoride.
- Hybrid ionomer akan kembali mengisi ketika diperluas pada perawatan
fluoride/obat kumur fluoride

d) Manipulasi Hybrid ionomer:


- Hybrid ionomer terdiri atas bubuk dan cairan
- Manipulasinya sama dengan glass ionomer
- Tidak seperti restorasi glass ionomer, Hybrid ionomer setting lebih cepat
ketika light cured dan dapat lebih cepat selesai

9
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

 Pada gigi incisive menggunakan komposit karena komposit tidak melepaskan


floride, fluoride berguna untuk melindungi gigi agar tidak mudah karies
sedangkan gigi Incisive merupakan gigi dengan low caries (jarang terkena
karies). Sedangkan untuk gigi premolar sering terkena karies.

 Pada gigi premolar menggunakan GIC karena :


a. Pada composite Menggunakan etcha  Etcha memliki sifat
mengiritasi ginggiva pada pengapliksian caries kelas V.
b. Tidak membutuhkan kekuatan yang besar.

 Pada gigi Incisive (bagian mesiolabial)  Termasuk karies kelas III ( bagian
mesial / distal tapi tidak menembus lingual)  Menggunakan Komposit, dilihat
dari sifat komposit :
 Memiliki warna yang sesuai dengan struktur gigi
 Koefisien ekspansi thermal mirip dengan struktur gigi

 Pada gigi Premolar (bagian bukocervikal)  Termasuk karies kelas V (bagian


cervikal) Menggunakan GIC, dilihat dari sifat GIC :
 Pada penelitian klinis menunjukkan perlekatan di daerah cervikal lebih
baik daripada komposit
 Estetiknya bagus
 Thermal diffusivity rendah

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Dental Materials Properties and Manipulation, Powers, John ; Wataha, John,


Ninth Edition, Mosby 2008
2. Powers, John ; Craig’s Restorative Dental Material, Twenth Edition, Mosby Inc,
2006.
3. O ‘Brien, William ; Dental Material and Their Selection, Third Edition,
Quintessence Books, 2002.
4. Anusavice, Phillips, Ilmu Ajar Bahan Kedokteran Gigi, Edisi 10, EGC,Jakarta,
2004
5. E.C. Combe, Sari Dental Material, Cetakan 1, Balai Pustaka, 1992.
6. Arifin, Dudi, Indikasi dan cara Aplikasi berbagai tipe resin composite yang
beredar di pasaran, Jurnal Kedokteran Gigi, Volume 18, Edisi khusus, UNPAD
Press, 2006.

11

Anda mungkin juga menyukai