Anda di halaman 1dari 15

PEMERIKSAAN FISIK IBU HAMIL

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi terkait pemeriksaan fisik ibu hamil, Anda diharapkan
mampu mendemonstrasikan pemeriksaan fisik pada ibu hamil dengan benar serta
mendapatkan data yang tepat dan akurat.

POKOK – POKOK MATERI


Untuk mencapai tujuan pembelajaran, pokok – pokok materi yang harus mahasiswa
pelajari adalah sebagai berikut.

1. Anatomi fisiologi system reproduksi wanita.


2. Adaptasi fisiologis dan psikologis kehamilan.
3. Asuhan keperawatan ibu hamil trimester I, II, dan III.
4. Prosedur – prosedur khusus pada perawatan antenatal, seperti pemeriksaan fisik
ibu hamil dan edukasi antenatal.
5. Pendokumentasian dan pencatatan data hasil pemeriksaan fisik.

URAIAN MATERI
Pemeriksaan fisik pada ibu hamil sama seperti pemeriksaan pada ibu lainnya yang
prosedurnya meliputi pengkajian, pembuatan diagnosis, perencanaan, implementasi,
dan evaluasi.

Pengkajian
Pemeriksaan fisik pada kehamilan dilakukan melalui pemeriksaan pandang
(inspeksi), pemeriksaan raba (palpasi), pemeriksaan dengar (auskultasi), dan
pemeriksaan ketuk (perkusi). Pemeriksaan dilakukan dari ujung rambut sampai
ujung kaki, yang dalam pelaksanaannya dilakukan secara sistematis atau berurutan.
Pemeriksaan fisik pada ibu hamil dengan tepat dan benar sesuai dengan pedoman
yang meliputi pemeriksaan fisik mulai dari kepala sampai kaki (head to toe),
pemeriksaan Leopold I sampak IV, pemeriksaan DJJ, perhitungan usia kehamilan,
dan penghitungan taksiran partus persalinan.

Lingkup Diagnosis Keperawatan Pada Ibu Hamil


1. Perubahan nutrisi kurang atau lebih dari kebutuhan tubuh.
2. Gangguan rasa nyaman.
3. Resiko injuri (ibu dan bayi).
4. Resiko infeksi.
5. Resiko gangguan perfusi jaringan.
6. Potensial progresif kesehatan ibu dan fetus.
7. Potensial tumbuh kembang fetus cukup progresif dan normal.
8. Potensial dikembangkan peran menjadi orang tua.
9. Resiko perunbahan konsep diri.
10. Resiko konflik peran.

Tindakan Pemeriksaan Pada Ibu Hamil


Untuk mendapatkan data tentang perkembangan janin dan adaptasi fisiologis ibu
terhadap kemahmilan, perawat dapat melakukan pengkajian melalui pemeriksaan
fisikpada ibu hamil dengan metode inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Adapun alat yang diperlukan adalah sebagai berikut.

1. Timbangan badan
2. Pengukur tekanan darah (tensi meter / sphygmomanometer).
3. Stetoskop.
4. Thermometer.
5. Tisu pada tempatnya.
6. Bengkok / tempat sampah.
7. Pen light.
8. Meteran / pita.
Digunakan untuk mengukur lingkar lengan atas (LILA) dan tinggi fundus uteri
(TFU).
9. Laennec / Doppler Electrik.
10. Alat untuk mngukur lingkar panggul.
11. Hummer untuk memeriksa reflex.
12. Sarung tangan.
13. Kapas kering di tempatnya.
14. Air desinfeksi tingkat tinggi (DTT) pada kom-nya.
15. Pengalas.
16. Bengkok.
17. Alat – alat untuk pengendalian infeksi (PI), seperti cairan klorin 0,5% pada 2
baskom, 2 buah waslap, tempat sampah medis dan non medis.

Penatalaksanaan Prosedur
Setelah Anda menyelesaikan persiapan alat, marilah kita pelajari prosedur tindakan
pemeriksaan fisik ibu hamil. Adapun prosedur tindakan pemeriksaan fisik ibu hamil
adalah sebagai berikut.
1. Siapkan alat – alat yang diperlukan untuk pemeriksaan fisik dan ruangan dengan
pencahayaan cukup.
2. Mencuci tangan dengan teknik yang benar.
3. Memberi tahu ibu tentang tujuan dan langkah prosedur.
4. Perhatikan tAnda – tAnda tubuh yang sehat.
Pemeriksaan pAndang dimulai sejak bertemu dengan ibu. Perhatikan bagaimana
sikap tubuh, keadaan punggung, dan cara berjalannya. Apakah cenderung
membungkuk, terdapat lordosis, kifosis, scoliosis, atau pincang dan sebagainya.
Lihat dan nilai kekuatan ibu ketika berjalan, apakah ia tampak nyaman dan kuat
atau apakah ibu tampak lemah.
5. Inspaksi muka ibu apakah ada kloasma gravidarum, pucat pada wajah dan
pembengkakan pada wajah (bila terdapat pucat pada wajah periksalah
konjungtiva dan kuku, pucat menAndakan bahwa ibu menderita anemia,
sehingga memerlukan tindakan lebih lanjut. Jelaskan pada ibu bahwa dirinya
sedang diperiksa untuk mengetahui apakah ia kurang darah atau tidak.
Informasikan bahwa bila ibu tidak kurang darah ia akan lebih kuat selama
kehamilan dan persalinan. Jelaskan pula bahwa tablet tambah darah mampu
mencegah kurang darah. Bila terdapat bengkak pada wajah, periksalah adanya
bengkak pada kaki dan tangan. Daerah lain yang dapat diperiksa adalah kelopak
mata. Namun, apabila kelopak mata sudah odema, biasanya pre-eklamsia sudah
lebih berat).
6. Meminta ibu mengganti baju dengan baju pemeriksaan.
7. Menganjurkan ibu buang air kecil terlebih dahulu.
8. Melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan.
Timbanglah berat badan ibu pada setiap pemeriksaan kehamilan. Bila tidak
terdapat, perhatikan apakah ibu bertambah berat badannya. Berat badan ibu
biasanya naik sekitar 9 – 12 kg selama kehamilan. Kenaikan berat badan ini
sebagian besr diperoleh terutama pada trimester kedua dan ketiga kehamilan.
Kenaikan berat badan menunjukkan bahwa ibu mendapat cukup makanan. Berat
badan ibu naik secara normal menunjukkan bayinya tumbuh dengan baik. Bila
kenaikan berat badan ibu kurang dari 5 kg pada kehamilan 28 minggu
menAndakan adanya ketidaknormalan, maka ibu perlu dirujuk.
Tinggi dan berat badan hanya diukur pada kunjungan pertama. Bila tidak
tersedia alat ukur tinggi badan maka bagian dari dinding dapat ditAndai dengan
ukuran sentimenter. Pada ibu yang kurang tinggi perlu diperhatikan
kemungkinan mempunyai panggul yang sempit, sehingga nantinya dapat
menyulitkan persalinan. Bila tinggi badan kurang dari 145 atau tampak pendek
dibandingkan dengan rata – rata ibu, maka persalinan perlu diwaspadai.

Rumusan kenaikan berat badan ibu selama kehamilan adalah sebagai berikut.
a. 10 minggu : minimal 400 gr.
b. 20 minggu : minimal 4000 gr.
c. 30 minggu : minimal 8000 gr.
d. Mulai usia kehamilan trimester ke – 2 (13 minggu) naik 500 gr per minggu.
9. Ukur lingkar lengan atas ibu dengan alat ukur yang khusus.
10. Lakukan pengukuran tanda – tanda vital ibu yang meliputi tekanan darah,
frekuensi nadi, pernafasan, dan suhu. Pastikan bahwa ibu sudah beristirahat
selama 30 menit setelah kedatangan atau sebelum dilakukannya pemeriksaan
tanda – tanda vital. Hal ini bertujuan agar hasil yang didapatkan sesuai dengan
kondisi ibu yang sebenarnya.

Gambar 4.1 Pemeriksaan Tekanan Darah pada Ibu Hamil


(Nakita, 2001)

Tekanan darah pada ibu hamil biasanya tetap normal, kecuali bila ada kelainan.
Bila tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih, maka mintalah ibu
berbaring ke sebelah kiri dan mintalah ibu bersantai sampai terkantuk. Bila
tekanan arah tetap tinggi, maka hal ini menunjukkan ibu menderita pre-
eklampsia dan harus segera dirujuk, serta perlu diperiksa kehamilannya lebih
lanjut (tekanan darah diperiksa setiap minggu). Ibu dipantau secara ketat dan
anjurkan ibu merencanakan persalinan di rumah sakit.
11. Lakukan pengukuran lingkar panggul dengan jangkar panggul. Pemeriksaan
panggul pada ibu hamil terutama primigravida perlu dilakukan untuk menilai
keadaan dan bentuk panggul apakah terdapat kelainan atau keadaan yang dapat
menimbulkan penyulit persalinan. Ada empat cara dalam melakukan
pemeriksaan panggul yaitu sebagai berikut.
a. Pemeriksaan pandang (inspeksi) dilihat apakah terdapat dugaan kesempitan
panggul atau kelainan panggul, misalnya ibu sangat pendek, berjalan
pincang, terdapat kelainan, seperti kifosis atau lordosis, belah ketupat
michaelis tidak simetris.
b. Pemeriksaan raba, ibu dapat diduga mempunyai kelainan atau kesempitan
panggul bial. Pada pemeriksaan raba didapatkan kelaianan letak pada
primigravida kehamilan aterm.
c. Melakukan perasat Osborn positif dengan melakukan pengukuran panggul
luar.
Alat untuk mengukur luar panggul yang paling sering digunakan adalah
jangka panggul dari Martin. Ukuran – ukuran panggul yang sering
digunakan untuk menilai keadaan panggul adalah sebagai berikut.
 Distansia spinarum, yaitu jarak antara spina iliaka anerior superior
kanan dan kiri berukuran normal 23 – 26 cm.
 Distansia kristarum, yaitu jarak antara krista iliaka terjauh kanan dan
kiri dengan ukuran sekitar 26 – 29 cm. bila selisih antara distansia
kristarum dan distansia spinarum kurang dari 16 cm, kemungkinan
besar adanya kesempitan panggul.
12. Pemeriksaan dari ujung rambut kaki sampai ke ujung kaki.
Pemeriksaan fisik pada kehamilan dilakukan melalui pemeriksaan inspeksi,
palpasi, auskultasi, dan perkusi. Pemeriksaan dilakukan dari ujung rambut
sampai ujung kaki, yang dalam pelaksanaannya dilakukan secara sistematis atau
berurutan.
Pada saat melakukan pemeriksaan daerah dada dan perut, pemeriksaan inspeksi,
palpasi, dan auskultasi dilakukan secara berurutan dan bersamaan sehingga tidak
adanya kesan mebuka tutup baju yang dapat membuat ibu malu. Berikut ini akan
diuraikan pemeriksaan obstetric terhadap ibu hamil mulai dari kepala sampai
kaki.
a. Lihatlah wajah atau muka ibu.
Adalah kloasma gravidarum, pucat pada wajah atau pembengkakan pada
wajah. Pucat pada wajah, konjungtiva dan kuku menAndakan bahwa ibu
menderita anemia, sehingga memerlukan tindakan lebih lanjut. Jelaskan
pada ibu bahwa dirinya sedang diperiksa untuk mengetahui apakah ia
kurang darah atau tidak. Informasikan bahwa bila ibu tidak kurang darah ia
akan lebih kuat selama kehamilan dan persalinan. Jelaskan pula bahwa
tablet tambah darah mampu mencegah kurang darah.
Bila terdapat bengkak pada wajah, periksalah adanya bengkak pada kaki
dan tangan. Sedikit bengkak pada mata kaki dapat terjadi pada kehamilan
normal, namun bengkak pada tangan atau wajah menAndakan adanya pre-
eklampsia. Perhatikan wajah ibu apakah bengkak dan tanyakan ibu apakah
ia sulut melepaskan cincin atau gelang yang dipakainya. Mata kaki yang
bengkak dan cincin yang menimbulkan cekungan yang tak cepat hilang bila
ditekan. Maka ibu harus dirujuk ke dokter, dipantau ketat kehamilannya dan
tekanan darahnya, serta rencanakan persalinannya di rumah sakit.
b. Periksa dasar kulit kepala dan rambut ibu hamil (tekstur, warna, kerontokan,
dan lesi). Memeriksa keadaan muka ibu hamil (odema, kuning atau memar,
hiperpigmentasi / kloasma gravidarum).
c. Inspeksi sclera dan konjugtiva ibu hamil (menyuruh ibu melihat ke atas saat
dua jari pemeriksaan menarik kelopak mata ke arah bawah).
d. Periksa lubang hidung ibu hamil menggunakan speculum hidung (lihat
apakah ada septum deviasi, polip, perdarahan, dan secret).
e. Periksa kondisi sinus dengan perkusi ringan di daerah sinus, menggunakan
jari (sambil menanyakan ke ibu apakah terasa sakit dan lihat permukaan
kulit muka di bagian sinus apakah kemerahan).
f. Periksa liang telinga ibu dengan menggunakan senter (lihat kebersihan dan
adanya serumen) lakukan pemeriksaan ketajaman pendengaran dengan tes
berbisik.
g. Periksa rongga mulut, lidah, gigi, dan bib ibu hamil. Perhatikan adanya
tampak bibir pucat, bibir kering pecah – pecah, stomatitis, gingivitis, gigi
yang tanggal, gigi yang berlubang, serta karies gigi. Selain diperiksa
pemeriksa juga perlu mencium adanya bau mulut yang menyengat.
h. Periksa kelenjar getah bening di depan dan dibelakang telinga. Bawah
rahang, leher, dan bahu (apakah teraba pembedaran).
i. Periksa kelenjar tiroid dengan 3 jari kedua tangan pada kedua sisi trakea
sambil berdiri di belakang ibu. Anjurkan ibu menelan dan rasakan benjolan
yang teraba saat ibu menelan.
j. Dengarkan bunyi jantung dan nafas ibu dengan menggunakan stetoskop
binokuler.
k. Periksa payudara ibu (ukuran simetris, putting menonjol / masuk, retraksi
massa, nodul aksila, hiperpigmentasi areola, dan kebersihan). Lihat dan raba
payudara, pada kunjungan pertama lakukan pemeriksaan payudara terhadap
kemungkinan adanya benjolan yang tidak normal. Lihatlah payudara apakah
payudara simetris atau tidak, puting susu menojol atau datar bahkan masuk.
Putting susu yang mendatar atau masuk akan menggangu proses menyusui
nantinya. Lalu perhatikan apakah ASI sudah keluar atau belum. Lihatlah
kebersihan areola mamae, adakah hiperpigmentasi areola.
l. Periksa kolostrum dengan menekan areola mamae sambil memegang
putting mamae dengan jari telunjuk dan ibu jari kemudian memencetnya
(dengan tangan menggunakan sarung tangan).

Gambar 4.2 Pengeluaran ASI

m. Letakkan tangan ibu ke arah kepala kemudian kelenjar di daerah aksila


kanan dan lanjutkan dengan aksila kiri dengan teknik yang sama untuk
mengetahui pembesaran kelenjar getah bening.
n. Memasang pakaian atas dan membuka pakaian daerah perut.
o. Lakukan inspeksi dan palpasi pada dinding abdomen. Perhatikan apakah
perut ibu simetris atau tidak, raba adanya pergerakan janin, apakah terjadi
hiperpigmentasi pada abdomen / linea nigra atau tidak, dan apakah terdapat
luka bekas operasi, varises, jaringan parut atau tidak.
Tujuan pemeriksaan abdomen adalah untuk menentukan letak dan
presentasi janin, turunnya bagian janin yang terbawah, tinggi fundus uteri,
dan denyut jantung janin. Sebelum memulai pemeriksaan abdomen, penting
untuk melakukan pemeriksaan Leopold.
13. Melakukan pemeriksaan Leopold I untuk menentukan bagian janin yang ada
difundus.
a. Pemeriksa berdiri di sebelah kanan ibu, menghadap ke arah kepala ibu.
b. Kedua telapak tangan pemeriksa diletakkan pada puncak fundus uteri.
c. Rasakan bagian janin yang berada pada bagian fundus (bokong atau kepala
atau kosong).

Gambar 4.3 Pemeriksaan Leopold I


(widjanarko, Bambang, 2009)

Hasilnya adalah jika kepala janin yang berada di fundus, maka palpasi akan
teraba bagain bulat, keras, dan dapat digerakkan (ballottement). Jika bokong
yang terletak di fundus, maka pemeriksa akan meraba suatu bentuk yang
tidak spesifik, lebih besar, dan lebih lunak dari kepala, tidak dapat
digerakkan, serta fundus terasa penuh. Pada letak lintang, palpasi di daerah
fundus akan terasa kosong.

d. Tentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan.


Gambar 4.4 Pengukuran Tinggi Fundus Uteri
(Widjanarko, Bambang, (2009)

Perkirakan tinggi fundus teri berdasarkan usia kehamilan:


 20 minggu : ± 20 cm.
 24 minggu : ± 28 cm.
 32 minggu : ± 32 cm.
 36 minggu : ± 34 – 36 cm.

Gambar 4.5 Perkiraan Tinggi Fundus Uteri Berdasarkan Usia Kehamilan


(Firdaus, Nadya (2009))

e. Jelaskan pada ibu bahwa perutnya akan semakin membesar karena


pertumbuhan janin. Pada kunjungan pertama, tinggi fundus dicocokkan
dengan perhitungan usia kehamilan, Dalam hal ini hanya dapat diperkirakan
dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Bila HPHT tidak diketahui, maka
usia kehamilan hanya dapat diperkirakan berdasarkan tingginya fundus
uteri. Pada setiap kunjungan, tinggi fundus uteri perlu diperiksa untuk
melihat pertumbuhan janin normal, terlalu kecil atau terlalu besar.

14. Melakukan pemeriksaan Leopold II.


a. Kedua telapak tangan diletakkan pada kedua sisi perut, dan lakukan tekanan
yang lembut tetapi cukup dalam untuk meraba dari kedua sisi.
b. Pemeriksa berdiri di sebalah kanan ibu, menghadap kepala ibu.
c. Kedua telapak tangan pemeriksa bergeser turun ke bawah sampai di
samping kiri dan kanan umbilikus.
d. Secara perlahan geser jari – jari dari satu sisi ke sisi yang lain untuk
menentukan pada sisi mana teratak punggung, lengan, dan kaki.
e. Tentukan bagian punggung janin untuk menentukan lokasi auskultasi
denyut jantung janin nantinya.
f. Hasilnya adalah bagian bokong janin akan teraba sebagai satu benda yang
keras pada beberapa bagian lunak dengan bentuk teratur, sedangkan bila
teraba bagian – bagian kecil yang tidak teratur dan mempunyai banyak
tonjolan serta dapat bergerak dan menendang, maka bagian tersebut adalah
kaki, lengan atau lutut. Bila punggung janin tidak teraba di kesua sisi
mungkin punggung janin berada pada sisi yang sama dengan punggung ibu
(posterior) atau dapat pula janin berada pada posisi dengan punggung teraba
di salah satu sisi.

Gambar 4.6 Pemeriksaan Leopold II


(Widjanarko, Bambang, (2009)

15. Melakukan pemeriksaan Leopold III. Untuk menentukannya bagian janin yang
berada pada bagian terbawah. Cara melakukannya adalah sebagai berikut.
a. Lutut ibu dalam posisi fleksi.
b. Pemeriksaan ini dilakukan dengan hati – hati oleh karena dapat
menyebabkan perasaan tidak nyaman bagi ibu. Coba untuk menilai bagian
janin apa yang berada di sana.
c. Bagian terbawah janin tercekap di antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan.
d. Tentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan apakah bagan
tersebut sudah mengalami engagement atau belum.
e. Hasilnya adalah apabila bagan janin dapat digerakkan ke arah krakal ibu,
maka bagian terbawah dari janin belum Melalui pintu atas panggul (PAP).
Bila kepala yang berada di bagian terbawah, coba untuk menggerakkan
kepala. Bila kepala tidak dapat digerakkan lagi, maka kepala sudah engaged
dan bila tidak dapat diraba adanya kepala atau bokong, maka letak janin
adalah melintang.
Gambar 4.7 Pemeriksaan Leopold III
(Firdaus, Nadya (2009)

16. Melakukan pemeriksaan Leopold IV untuk menentukan presentasi dan


engangement (sampai berada jauh derajat desensus janin dan mengetahui
seberapa bagian kepala janin masuk ke pintu atas panggul). Cara
melakukannya adalah sebagai berikut.
a. Pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu. Kedua lutut ibu masih dalam
posisi fleksi.
b. Letakkan kedua telapak tangan pada bagian bawah abdomen dan coba
untuk menekan ke arah pintu atas panggul.
c. Hasil yang didapat pada dasarnya sama dengan pemeriksaan Leopold III,
menilai bagian janin terbawah yang berada di dalam panggul dan menilai
seberapa jauh bagian tersebut masuk melalui pintu atas panggul.

Gambar 4.8 Pemeriksaan Leopold IV


(Firdaus, Nadya (2009)

17. Pemeriksaan denyut jantung janin.


Denyut jantung janin menunjukkan status kesehatan dan posisi janin terhadap
ibu. Dengarkan denyut jantung janin (DJJ) sejak kehamilan 20 minggu. Jantung
janin biasanya berdenyut 120 – 160 kali per menit. Tanyakan kepada ibu apakah
janin sering bergerak, katakan kepada ibu bahwa DJJ telah dapat didengar.
Mintalah ibu untuk segera memberitahu petugas bila janinnya berhenti bergerak.
Bila sampai usia kehamilan 28 munggu denyut jantung janin tidak dapat
didengar atau denyutnya lebih dari 160 atau kurang dari 120 kali per menit atau
janinnya berkurang gerakkannya atau tidak bergerak, maka ibu perlu segera
dirujuk.
Mendengarkan denyut jantung janin bisa dilakukan dengan menggunakan dopler
elektrik. Perletakan dopler ini disesuaikan dengan letak punggung bayi, apakah
punggung kiri (puki) atau punggung kanan (puka). Cara melakukannya adalah
sebagai berikut.
a. Auskultasi denyut jantung janin dengan menggunakan stetoskop de Lee.
b. Detak jantung janin terdengar paling keras di daerah punggung janin.
c. Detak jantung janin dihitung selama 5 detik dilakukan sebanyak 3 kali
secara berurutan dan berselang 5 detik.
d. Hasil periksaan detak jantung janin 10 – 12 – 10 berarti frekuensi detak
jantung janin 32 x 4 = 128 kali permenit.
e. Mendengarkan denyut jantung janin normal 120 – 160 kali per menit.
18. Pemeriksaan punggung di bagan ginjal. Tepuk punggung di bagian ginjal
dengan sisi tangan yang dikepalkan. Bila ibu merasa nyeri, mungkin terdapat
gangguan pada ginjal atau salurannya.
19. Merapikan pakaian atas dan membuka pakaian bawah ibu untuk melihat varises
pada ekstremitas bawah kanan dan kiri. Lihat dan raba bagian belakang betis
dan paha, catat adanya tonjolan kebiruan dari pembuluh darah.
20. Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah untuk memeriksa adanya odema.
Tempat yang paling mudah untuk pemeriksaan adalah di daerah pretebia dan
mata kaki. Dilakukan dengan cara menekan jari selama beberapa detik. Apabila
terjadi cekung yang tidak lekas pulih kembali berarti odema positif. Odema
positif pada tungkai kaki dapat menandakan adanya pare-eklampsia. Bila
terdapat bengkak di wajah, periksalah adanya bengkak pada tangan dan kaki.
Sedikit bengkak pada mata dapat terjadi pada kehamilan normal, namun
bengkak pada tangan dan atau wajah pertAnda pre-eklampsia. Perhatikan wajah
ibu apakah bengkak dan tanyakan pada ibu apakah ia sulit melepaskan cincin
yang dipakainya. Apabila mata kaki bengkak dan meninggalkan cekungan yang
tak cepat hilang bila ditekan, bila ya maka ibu harus segera dirujuk ke dokter,
pantau ketat kehamilan serta tekanan darahnya, serta direncanakan persalinan di
rumah sakit.
21. Melakukan pemeriksaan reflex lutut (patella) dengan menggunakan hummer.
Mintalah ibu duduk dengan tungkainya tergantung bebas dan jelaskan apa yang
akan dilakukan. Rabalah tendon di bawah lutut / patella. Dengan menggunakan
hummer, ketuklah tendon pada lutut bagan depan. Tungkai bawah akan bergerak
sedikit ketika tendon diketuk. Bila reflex lutut negatif kemungkinan ibu
mengurangi kekurangan vitamin B1. Bila gerakannya berlebihan dan cepat,
maka hal ini merupakan Anda pre-eklampsia.
22. Mengatur posisi dorsal recumbent / M shape pada ibu hamil, memasang
pengalas di bawah bokong ibu, kemudian perawat memakai sarung tangan untuk
melakukan vulva higiene. Vulva higiene dilakukan dengan kapas kering yang
dibasahi oleh cairan DTT. Lakukan inspeksi terhadap genitalia eksternal ibu
yang meliputi:
a. Varises;
b. Perdarahan;
c. Luka;
d. Cairan yang keluar;
e. Pengeluaran dari uretra dan skene;
f. Kelenjar bartolini, periksa apakah ada cairan yang keluar atau ditemukan
massa (bengkak).

Selain genitalia luar, periksa juga kondisi genitalia intern ibu yang
meliputi:

a. Serviks (lihat apakah ada cairan yang keluar, luka / lesi, kelunakan, posisi,
mobilitas tertutup atau terbuka);
b. Vagina (cairan yang keluar, luka, dan lesi);
c. Ukuran adneksa, bentuk, posisi, nyeri, kelunakan, massa (pada trimester
pertama);
d. Uterus (ukuran, bentuk, mobilitas, kelunakan, serta adanya massa di
trimester pertama).
23. Melakukan teknik PI setelah melakukan pemeriksaan fisik ibu dengan
mendesinfeksi pengalas yang digunakan.
24. Menerapkan komunikasi terapeutik selama pemeriksaan.
25. Memperhatikan keadaan ibu hamil selama pemeriksaan.
26. Mencatat hasil pemeriksaan fisik ibu hamil.

Evaluasi
Untuk mengetahui apakah tindakan mahasiswa telah sesuai dengan prosedur, Anda
diharuskan melakukan evaluasi dengan memastikan bahwa pemeriksaan fisik pada
ibu hamil dapat menghasilkan data yang diperlukan.

Dokumentasi
Setelah selesai melakukan prosedur, mahasiswa diwajibkan mendokumentasikan
segala data yang berkaiatan dengan pemeriksaan fisik yang Anda lakukan pada ibu
hamil mulai dari kepala sampai ke kaki, tuliskan nama perawat dan disahkan dengan
tangan Anda.
CHEK LIST
PEMERIKSAAN FISIK IBU HAMIL
Nama Mahasiswa :
Tingkat :
Hari / Tanggal :

No. Aspek / Komponen yang Dinilai Nilai

1 2 3 4

1. Menyesuaikan dan mempersiapkan alat.

2. Menjelaskan dan menyampaikan tindakan yang


akan dilakukan, mencakup tujuan, dan hasil
tindakan.

3. Melakukan penimbangan berat badan serta


pengukuran tinggi badan, LILA, dan panggul ibu.

4. Mengukur tanda – tanda vital ibu.

5. Menginspeksi dasar kulit kepala dan rambut ibu.

6. Melihat keadaan muka ibu hamil.

7. Memeriksa mata dan melihat konjungtiva ibu


hamil.

8. Memeriksa lubang hidung dan sinus ibu hamil


(gunakan Ben Light bila perlu)

9. Memeriksa liang telinga ibu hamil gunakan Ben


Light bila perlu)

10. Memeriksa keadaan rongga mulut dan telinga ibu


hamil.

11. Meraba kelenjar getah bening pada leher ibu


hamil.

12. Meraba kelenjar tiroid ibu hamil sambil


menganjurkan untuk menelan.

13. Membuka pakaian atas ibu dan mendengarkan


bunyi jantungnya dengan menggunakan stetoskop
binokuler.

14. Mendengarkan bunyi paru ibu dengan stetoskop


binokuler.

15. Memperhatikan dan meraba bentuk payudara ibu


hamil.

16. Mengobservasi pengeluaran ASI dengan menekan


areola mama sambil memegang puting mama
dengan jari telunjuk dan ibu jari kemudian
memencetnya (gunakan sarung tangan bila perlu).

17. Meraba kelenjar di daerah aksi kiri dan kanan ibu


hamil untuk memeriksa adanya pembesaran
kelenjar.

18. Memasang pakaian atas dan membuka pakaian


daerah perut serta memperhatikan daerah
abdomen ibu.

19. Melakukan pemeriksaan Leopold I.

20. Mengukur tinggi fundus ibu hamil dengan


menggunakan meteran pita.

21. Melakukan pemeriksaan Leopold II.

22. Melakukan pemeriksaan Leopold III.

23. Melakukan pemeriksaan Leopold IV.

24. Mendengarkan denyut jantung janin


menggunakan stetoskop laennec / dopler elektrik.

25. Melakukan pemeriksaan perkusi ginjal.

26. Membuka pakaian bawah dan memeriksa ada


tidaknya varises pada ekstremitas bawah ibu.

27. Melihat dan memalpasi tekan odema pada


ekstremitas bawah kanan dan kiri ibu hamil.

28. Melakukan pemeriksaan reflex patella dengan


menggunakan hummer.

29. Meminta ibu membuka pakaian dalam.

30. Mengatur posisi dorsal recumbent / M shape pada


ibu hamil dengan memasang pengalas.

31. Melakukan vulva higiene menggunakan kapas


kering dibasahi cairan DTT dengan tangan
menggunakan sarung tangan.
32. Melihat keadaan genitalia eksterna dan interna.

33. Menerapkan komunikasi terapeutik selama


melakukan pemeriksaan pada ibu hamil.

34. Memperhatikan respons ibu selama pemeriksaan.

35. Mencata hasil pemeriksaan fisik ibu hamil.

Pembimbing

_______________________
NIP
Evaluasi Pembimbing

____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
______________________________________________________________

Anda mungkin juga menyukai