Anda di halaman 1dari 54

REFERAT

DUH TUBUH

Disusun oleh:
Windi Datu Aprillia - 406172037
Kevin Jonathan - 406172069
Mario Gisepha D. - 406182027

Pembimbing:
dr. Novia Yudhitiara, Sp. KK
dr. Gina Triana Sutedja, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN


KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI
PERIODE 20 MEI – 30 JUNI 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
LEMBAR PENGESAHAN

Diajukan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik dan melengkapi salah satu
syarat menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di bagian Ilmu Bedah Rumah Sakit
Umum Daerah CIAWI periode 1 Juni – 4 Agustus 2019.

Penyusun : Windi Datu Aprillia - 406172037

Kevin Jonathan - 406172069

Mario Gisepha D. - 406182027

Fakultas : Kedokteran

Universitas : Universitas Tarumanagara

Bidang Pendidikan : Ilmu Kulit dan Kelamin

Periode Kepaniteraan Klinik : 1 Juni – 4 Agustus 2019

Judul : Duh Tubuh

Pembimbing : dr. Novia Yudhitara, Sp.KK

Telah diperiksa dan disahkan tanggal : 18 Juli 2019

Pembimbing

dr. Novia Yudhitara, Sp.KK


LEMBAR PENGESAHAN

Diajukan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik dan melengkapi salah satu
syarat menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di bagian Ilmu Bedah Rumah Sakit
Umum Daerah CIAWI periode 1 Juni – 4 Agustus 2019.

Penyusun : Windi Datu Aprillia - 406172037

Kevin Jonathan - 406172069

Mario Gisepha D. - 406182027

Fakultas : Kedokteran

Universitas : Universitas Tarumanagara

Bidang Pendidikan : Ilmu Kulit dan Kelamin

Periode Kepaniteraan Klinik : 1 Juni – 4 Agustus 2019

Judul : Duh Tubuh

Pembimbing : dr. Gina Triana Sutedja, Sp.KK

Telah diperiksa dan disahkan tanggal : 18 Juli 2019

Pembimbing

dr. Gina Triana Sutedja, Sp.KK


BAB I

LATAR BELAKANG

Duh tubuh adalah suatu gejala dimana keluarnya cairan atau sekret dari uretra
maupun vagina, baik cairan serosa ataupun mukosa dan tidak berupa darah
ataupun urin. Duh bisa bersifat fisologis ataupun patologis. Sangat penting dalam
membedakan duh tubuh fisiologis atau patologis, dengan melakukan anamnesis, berbagai
kriteria klinik, laboratorium dan mikrobiologi karena menentukan keberhasilan
pengelolaan duh tubuh.

Penyebab duh tubuh patologis dikaitkan dengan adanya infeksi pada genital, dan sebagian
besar infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual atau disebut sexually transmitted
infection (STD). Selain itu IMS dapat ditularkan juga dari ibu kepada janin dalam
kandungan atau saat kelahiran, melalui produk darah atau transfer jaringan yang telah
tercemar, kadang-kadang dapat ditularkan melalui alat kesehatan. Selama dekade terakhir
insiden STD cepat meningkat di berbagai negara di seluruh dunia.

Kegagalan mendiagnosis dan mengobati IMS berdampak pada komplikasi dan sekuele
yang ditimbulkan, seperti penyakit radang panggul, infertilitas, nyeri panggul kronik,
infeksi neonatal. Infeksi ini juga memfasilitasi transmisi HIV. Pada negara-negara sosio-
ekonomi rendah, proporsi yang signifikan terjadi pada pasien wanita. Lebih dari 50%
pasien tidak merasakan gejala dan tidak memeriksakan diri. Diagnosis dini dan pengobatan
yang optimal diahrapkan dapat membatasi penyebaran dan mengurangi angka morbiditas
dan mortalitas.

Keluhan duh tubuh vagina abnormal biasanya disebabkan oleh radang vagina, tetapi dapat
pula akibat radang serviks yang mukopurulen. Trikomoniasis, kandidiasis dan vaginosis
bakterial merupakan keadaan yang paling sering menimbulkan infeksi vagina sedangkan
N.gonorrhoeae dan C.trachomatis sering menyebabkan radang serviks. Sedangkan pasien
laki-laki yang datang dengan keluhan duh tubuh uretra dan atau nyeri pada saat kencing
agar diperiksa terlebih dulu ada tidaknya duh tubuh.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

VAGINOSIS BAKTERIALIS

EPIDEMIOLOGI

Vaginosis bakterialis adalah infeksi vagina yang paling sering pada wanita Usia
refroduktif, aktif seksual, termasuk lesbian. Diperkirakan sekitar 16% wanita hamil di
Amerika Serikat terinfeksi vaginosis bakterialis. Tingkat insiden sulit ditentukan karena
tingginya prevalensi infeksi infeksi tanpa gejala dan kurangnya metode penyaringan.

DEFINISI

Vaginosis bakterialis merupakan sindrom klinis, yang disebabkan oleh bertambah


banyaknya organisme komensal dalam vagina (Gardnerella vaginalis, Prevotella,
Mobiluncus spp) serta berkurangnya organisme laktobasilus terutama Lactobacillus yang
menghasilkan hidrogen peroksida.

PATOGENESIS

Vaginosis bakterialis timbul akibat perubahan ekosistem mikrobiologis vagina, sehingga


bakteri normal vagina sangat berkurang. Lactobacillus vagina akan menghambat G.
Vaginalis, Mobiluncus, dan batang anaerob Gram negatif. Beberapa galur Lactobacillus
dapat menghasilkan hidrogen peroksidase (H2O2). Zat amin yang dihasilkan oleh
mikrooganisme mungkin melalui kerja dekarboksilase mikroba berperan dalam bau amis
abnormal yang timbul bila duh vagina ditetesi dengan larutan kalium hidroksida (KOH)
10%.

MANIFESTASI KLINIS

Sebanyak 50-75% perempuan yang menderita vaginosis bekterialis tidak menunjukkan


keluhan atau gejala (asimtomatik). Bila ada keluhan yang timbul, dapat berupa :

- Duh tubuh vagina abnormal yang berbau amis


- Gatal (jarang terjadi)
- Disuria atau dispareunia

Pada pemeriksaan klinis menunjukkan duh tubuh vagian yang abu-abu homogen,
viskositas rendah atau normal, barbau amis, melekat di dinding vagina. Tidak ditemukan
tanda peradangan.
DIAGNOSIS

Untuk menegakkan diagnosis vaginosis bakterialis dapat digunakan kriteria


Amstel, berdasarkan 3 dari 4 temuan berikut :
1. Duh tubuh vagian berwarna putih keabu-abuan, homogen
2. Timbul bau amis pada duh vagian yang ditetesi dengan larutan KOH 10%
(tes amin postif)
3. pH duh vagian lebih dari 4,5
4. terdapat clue-cells pada duh vagina yang tampak pada pemeriksaan sediaan
basah dengan Nacl fisiologis

TATALAKSANA
Manfaat pengobatan vaginosis bakterialis adalah :
1. Meringankan gejala dan tanda infeksi vagina
2. mengurangi risiko komplikasi infeksi setelah berbagai prosedur ginekologi
(Biopsi endometrium, histerektomi, histerosalpingografi, penempatan IUD,
operasi caesar, uterus kuret, dan aborsi)
3. Pada wanita hamil, pengobatan mengurangi risiko infeksi partpartum,
komplikasi serta risiko persalinan prematur
KOMPLIKASI
Pada wanita hamil yang menderita vaginosis bakterialis dapat meningkatkan resiko
persalinan prematur.
TRIKOMONIASIS

EPIDEMIOLOGI
Trichomonas vaginalis menyebabkan kondisi yang disebut trikomoniasis, yang
mempengaruhi sekitar 2-3 juta wanita setiap tahun di Amerika Serikat. Di seluruh
dunia, sudah diperkirakan mempengaruhi lebih dari 180 juta wanita. Sulit
memperkirakan jumlah pria yang terinfeksi karena sebagian besar infeksi pada pria
tidak menunjukkan gejala. Namun, 30% -40% pria yang terpapar memiliki
organisme yang terdeteksi di saluran genitourinari bawah.

DEFINISI
Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital bagian bawah pada perempuan
maupun laki-laki, dapat bersifat akut atau kronik, disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis dan penularannya melalui kontak seksual.

ETIOLOGI
Trichomonas vaginalis merupakan protozoa berbentuk filiformis/ovoid, berukuran
15-18 mikron, mempunyai 4 flagel dan bergerak seperti gelombang. Parasit ini
berkembangbiak dengan belah pasang memanjang dan dapat hidup dalam suasana
pH 5-7,5. Pada suhu 50 C akan mati dalam beberapa menit, tetapi pada suhu 0 C
dapat bertahan samapi 5 hari.

PATOGENESIS
Trikomoniasis adalah PMS yang disebabkan oleh parasit protozoa yang
menginfeksi epitel mukosa, menyebabkan microulserasi. Pada wanita, dapat
diisolasi dari vagina, uretra, serviks, Bartholin dan kelenjar skene dan kandung
kemih. Pada pria, mungkin ditemukan di daerah genital eksternal, uretra anterior,
epididimis, prostat, dan air mani. Masa inkubasi sebelum infeksi gejala biasanya
antara 4 dan 28 hari.
MANIFESTASI KLINIS
Wanita yang terinfeksi dapat mengeluh terdapat sekret vagina yang berbau tidak
enak (malador), sekret berwarna kuning kehijauan, vulva gatal, bengkak dan
kemerahan, dispareunia, rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah, disuria. Pada
pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya perdarahan yang disebut “colpitis
macularis” atau “ strawberry servix “ (tanda spesifik trikomoniasis). Pada pria
biasanya asimtomatik atau dapat timbul gejala seperti keluar cairan dari urethra,
disuria atau sering buang air kecil.

DIAGNOSIS
Pada pemeriksaan pH vagina biasanya akan meningkat lebih dari 4,5 baik pada
trikomoniasis maupun bakterial vaginosis. Oleh karena itu hal ini membuat jadi
tidak spesifik. Tes yang paling sensitif adalah kultur bakteri anaerob yang biasanya
akan positif dalaam waktu 48 jam. Dapat juga dilakukan pemeriksan
imunokromatografi (OSOM trichomonas rapid test) yang membutuhkan waktu 10
menit atau tes uji probe asam nukleat (VP II) yang membutuhkan waktu sekitar 45
menit. Dapat juga dilakukan pemeriksaan PCR (Amplicor dan APTIMA).untuk
mendiagnosis pada pria spesimen pemeriksaan kultur dapat diambil dari uretra, urin
pancaran pertama dan cairan semen.

TATALAKSANA
 Medikamentosa :
- Metronidazol : 2 gram single dose PO atau
- Tinidazol : 2 gram single dose

Pilihan alterrnatif yang dapat digunakan : Metronidazol 500 mg 2x perhari selama 7


hari

 Non medikamentosa :
- Bila memungkinkan periksa dan lakukan pengobatan pada pasangan
tetapnya
- Anjurkan abstinensia sampai infeksi dinyatakan sembuh, bila tidak
memungkinkan anjurkan penggunaan kondom
- Kunjungan ulang untuk follow-up di hari ke 7
- Lakukan konseling mengenai penyakit infeksi, komplikasi yang dapat
terjadi
-
DIAGNOSIS BANDING

- Bacterial Vaginosis
- Balantidiasis
- Candidiasis
- Cervicitis
SIFILIS

EPIDEMIOLOGI

Insiden sifilis di Amerika serikat mulai meningkat pada akhir tahun 2000 dan peningkatan
ini berlanjut secara nasional pada tahun 2009. Insiden sifilis makin makin meningkat di AS
dan negara lain terutama di kalangan pria yang berhubungan seks sesama jenis kelamin.
Dari semua kasus sifilis primer dan sekunder yang dilaporkan ke CDC selama tahun 2009,
2% terjadi pada pria yang melakukan hubungan seks sesama jenis kelamin, 30-74%
koinfeksi dengan HIV. Dibandingkan dengan orang yang belum pernah terkena sifilis,
orang dengan riwayat sifilis beresiko lebih tinggi untuk terkena sifilis ulang. Pada 2009,
44.828 kasus sifilis secara keseluruhan dilaporkan ke CDC, terjadi penurunan 3% dari
2008.27 termasuk 13.997 kasus primer dan sekunder (4,6 per 100.000 penduduk) serta
13.066 kasus laten dini dan 17.338 kasus laten lanjut dan lanjut. Sepuluh dari 13 negara
bagian dengan kasus sifilis primer dan sekunder lebih besar dari rata-rata nasional (4,6 /
100.000 populasi) berada di Selatan, yang menyumbang 53% dari primer dan sekunder
secara nasional pada tahun 2009. Tiga negara lainnya adalah New York, California, dan
Illinois. Di colombia sebanyak 163 kasus yang dilaporkan pada tahun 2009, 27,5 % lebih
tinggi dari negara bagian mana pun. Dari beberapa negara yang bertanggung jawab,
sebanyak 50% dari sifilis primer dan sekunder yang dilaporkan pada tahun 2009, Los
Angeles memiliki jumlah tertinggi

kasus (768) dan Jefferson County, Texas, memiliki yang tertinggi (65,0 / 100.000
populasi). Insiden sifilis primer dan sekunder secara nasional tertinggi di Indonesia
pada orang yang berusia 20–29 tahun. Insiden sifilis pada kalangan non hispanic pada
tahun 2009, 8-20 kali kejadian sifilis lebih tinggi pada perempuan dan laki-laki yang
berkulit hitam.

DEFINISI

Sifilis ialah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum, sangat kronik dan
bersifat sistemik. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat
menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin.

ETIOLOGI

Treponema pallidum adalah subspesies pallidum. Dimana manusia adalah host


alaminya.Bentuknya sebagai spiral, dengan panjangnya berkisar 5-16um dan berdiameter
sekitar 0,2 hingga 0,3um. Bakteri ini dikelilingi oleh membran sitoplasma membran, yang
tertutup oleh longgar. Di antara membran itu terletak lapisan tipis peptidoglikan, yang
menyediakan struktural stabilitas dan endoflagella. Secara mikroskopis bakteri tersebut
tidak bisa dibedakan dengan Troponema patogen lainnya.

PATOGENESIS
Bakteri memiliki kemampuan metabolisme yang sangat terbatas, membuatnya bergantung
pada hostnya. Troponema pallidum membelah sangat lambat yaitu sekitar 30-50 jam secara
in vitro. Setelah inokulasi, T. pallidum menempel pada sel inang , termasuk epitel,fibroblast,
dan endotel sel, kemudian mengikat fibronektin, laminin, atau komponen lain dari serum
inang, membran sel, dan matriks ekstraseluler. Dengan cepat akan menyebar ke dalam aliran
darah dalam beberapa menit setelah inokulasi dan dapat melewati beberapa barier dalam
tubuh seperti plasenta dan sawar darah otak. Troponema pallidum menghasilkan respon
imun yang sangat cepat yang dimediasi oleh membran lipoprotein segera setelah
infeksi.infeksi pada semua tahap menyebabkan infiltrasi oleh limfosit, makrofag, dan sel
plasma. CD4 + sel T mendominasi dan sel T CD8 + mendominasi pada lesi sekunder sifilis.
Respon imun humoral dimulai dengan produksi antibodi IgM sekitar 2 minggu setelah
paparan, diikuti 2 minggu sesudahnya oleh antibodi IgG. IgM dan IgG terus diproduksi
selama infeksi dan dapat menyebabkan pembentukan kompleks imun. Titer antibodi
memuncak selama bakteri diseminasi, pada sifilis sekunder. Beberapa antibodi bereaksi
silang dengan spesies treponema lainnya, dan beberapa spesifik untuk subspesies T.
Pallidum.

KLASIFIKASI

Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan akusita (didapat). Sifilis kongenital dibagi
menjadi dini (sebelum 2 tahun), lanjut (sesudah 2 tahun) dan stigmata. Sifilis akuisita dapat
dibagi menurut 2 cara, secara klinis dan epidemiologik. Menurut secara klinis dibagi
menjadi tiga stadium : stadium I, stadium II, dan stadium III. Secara epidemiologik menurut
WHO dibagi menjadi:

1. Stadium dini menular (dalam satu satuh sejak terinfeksi) terdiri atas
stadium I,II, stadium rekuren, dan stadium laten dini
2. Stadium lanjut tak menular (setelah satu tahun sejak infeksi) terdiri atas
stadium laten lanjut dan S III.

Bentuk lain ialah sifilis kardiovaskuler dan neurosifilis. Ada yang memasukkannya ke
dalam S III atau S IV.
SIFILIS PRIMER
Sifilis primer adalah tahap sifilis yang ditandai dengan terdapat satu atau lebih lesi dengan
pemeriksaan laboratorium dari jaringan atau serum yang konsisten sifilis. Di lokasi
inokulasi, sebuah lesi berkembang setelah masa inkubasi yang berkisar 10 hingga 90 hari
(rata-rata 3 minggu). Kelainan kulit dimulai sebagai makula merah kehitaman yang
berevolusi menjadi papul dan kemudian menjadi ulkus. Ulkus tersebut berbentuk bulat ke
oval. lesi yang khas, juga disebut “Hunterian chancre” atau “ulcus durum” (hard ulcers)
dengan diameter berkisar beberapa milimeter hingga 2 cm dan berbatas tegas dan teratur.
Yang khas ialah ulkus tersebut indolen dan teraba indurasi karena itu disebut ulkus durum.
Lokasi genital yang tersering pada pria yaitu glans, sulkus koronarius dan foreskin
sedangkan pada wanita biasanya didaerah labia mayor dan minor, serviks,uretra.
Edema indurativum adalah pembengkakan labial unilateral dengan konsistensi seperti karet
dan permukaan utuh, dan dalam.
Selain itu juga lesi dapat ditimbul di ektragenital. Oral seks, 14% di indentifikasi sebagai
penyebab sifilis akusita dari kasus secara keseluruhan. Anal seks dapat menyebabkan
perkembangan lesi muncul di perianal atau anus yang akan sulit teridentifikasi pada
pemeriksaan fisik. Adanya kontak oral, genital dan area anal atau gigitan (ex : pada puting
susu) dapat menyebabkan infeksi. Lesi akan sembuh dalam waktu 3-6 minggu tanpa
pengobtan dan 1-2 minggu dengan pengobatan. Jaringan parut dan koinfeksi dengan virus
herpes simplex atau Haemophilus ducreyi jarang terjadi. Relapsnya sifilis primer disebut
“monorecidive sifilis atau chancer redux “ akibat sifilis yang tidak diobati atau pengobatan
yang tidak adekuat. Pada 60% -70% kasus sifilis primer, tidak menimbulkan rasa sakit.
Namun dapat timbul limfadenopati regional yang muncul 7-10 hari setelah lesi muncul,
terutama ketika lokasi lesi di genital. Limfadenopati bersifat unilateral, lebih banyak
terjadi pada awal perjalanan penyakit, dengan bilateral pada tahap lanjut.
SIFILIS SEKUNDER
Sifilis sekunder adalah tahap sifilis yang ditandai dengan lesi mukokutan terlokalisir atau
difus, sering disertai limfadenopati menyeluruh, di buktikan dengan pemeriksaan
laboratorium dari jaringan atau serum yang konsisten dengan sifilis. Lesi yang masih ada.
Lesi sifilis sekunder, secara klasik disebut "Syphilids" atau, ketika mempengaruhi kulit
disebut "syphiloderms" biasanya akan erupsi dalam 3-12 minggu setelah lesi muncul
(hingga 6 bulan setelah paparan). Sekitar 25% kasus, lesi sifilis sekunder berkembang dari
lesi awal.

Ruam juga dapat timbul pada siflis sekunder, meskipun jenis ruam spesifik bervariasi.
Makula eritematosa (roseola syphilitica) atau makulopapula umumnya timbul secara
simetris pada badan dan ekstremitas. Sekitar 40% -70% kasus, timbul dengan papular,
papulosquamous, atau lichenoid (jarang terjadi). Lesi papulosquamos bersisik putih disebut
“Biette’s collarette”. Biasanya wajah terhindar dari lesi sifilis meskipun lesi dapat
menyerupai dermatitis seboroik disekitar garis rambut atau yang disebut “Crown of Venus
or corona veneris” dapat membentuk pola seperti makhkota. Lesi biasanya tidak disertai
rasa gatal.
Lesi dibagian plantar dapat keliru dengan kalus (clavi syphilitici). Lesi di plantar juga dapat
meluas ke bagian lateral dan posterior kaki.

Manifestasi dermatologis lainnya yaitu alopesia nonscar yang tidak merata yang disebut
“moth-eaten” atau yang lebih jarang yaitu alopesia difus. Kehilangan sepertiga alis dapat
terjadi . dapat juga ditemukan papul atau plak annular disekitar mulut dan hidung yang
disebut “nickels and dimes”. Papul dan plak kadang-kadang dapat berbentuk annular atau
papulosquamosa yang dapat ditemukan pada penis dan skrotum.
Setiap area intertriginosa pada tubuh yang lembab dapat timbul kondiloma lata termasuk
area ketiak, sela jari kaki, lipatan bawah payudara atau panniculus perut. Tanpa
pengobatan sifilis sekunder akan hilang dalam waktu 4-12 minggu. Skar jarang timbul
meskipun terjadi perubahan pigmen ( “leukoderma colli syphiliticum” atau jika ada pada
leher disebut “necklace of Venus”).

SIFILIS LATEN
Sifilis tahap sekunder yang tidak ada gejala klinis dan kelainan, tetapi infeksi masih ada
dan aktif. Tes serologik darah positif, sedangkan tes likuor serebrospinalis negatif. Tes
yang dianjurkan ialah VDRL dan TPHA.

SIFILIS TERSIER

Lesi pertama umumnya terlihat antara tiga sampai sepuluh tahun setelah sifilis primer.
Kelainan yang khas adaalah guma yakni infiltrat sirkumskrip, kronis, biasanya melunak dan
destruktif. Besar guma bervariasi mulai dari lentikuler sampai sebesar telur ayam. Kulit
diatasnya mula-mula tidak menunjukkan tanda-tanda radang akut dan dapat digerakkan.
Setelah beberapa bulan mulai melunak, biasanya di mulai dari tengah, tanda-tanda radang
mulai tampak, kulit menjadi eritematosa dan livid serta melekat terhadap guma tersebut.
Kemudian terjadi perforasi dan keluarlah cairan seropurulen, kadang-kadang sanguinolen.
Pada beberapa kasus disertai jaringan nekrotik.

Tempat perforasi akan meluas menjadi ulkus, bentuknya lonjong/bulat, dindingnya curam,
seolah-olah kulit tersebut terdorong ke luar. Beberapa ulkus berkonfluensi sehingga
membentuk pinggir yang polisiklik. Jika telah menjadi ulkus, maka infiltrat yang terdapat
dibwahnya yang semula sebagai tonjolan menjadi datar. Tanpa pengobatan guma tersebut
akan bertahan beberapa bulan hingga beberapa tahun, baisany guma soliter tetapi dapat pula
multipel, umumnya asimetrik. Gejala umum biasanya tidak terdapat, tetapi jika guma
multipel dan perlunakannya cepat dapat disertai demam.

Selain guma kelainan yang lain pada sifilis tersier ialah nodus. Mula-mula dikutan kemudain
ke epidermis, pertumbuhannnya lambat yakni beberapa minggu/bulan dan umumnya
meninggalkan sikatriks yang hipotrofi. Nodus tersebut dalam perkembanganya mirip guma,
mengalami nekrosis dietngah dan membentuk ulkus.dapat pula tana nekrosis dan menjadi
sklerotik. Perbedaannya dengan guma, nodus lebih superfisial dan lebih kecil (miliar hingga
lentikuler), lebih banyak, mempunyai kecenderungan untuk bergerombol atau berkonfluensi,
selain itu tersebar (diseminata). Warnanya merah kecoklatan. Nodus-nodus yang
berkonfluensi dapat tumbuh terus secara serpiginosa. Bagian yang belum sembuh dapat
tertutup skuama seperti lilid disebut psoriasiformis.
DIAGNOSIS BANDING
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Treponema pallidum
Cara pemeriksaan adalah dengan mengambil serum dari lesi kulit dan dilihat
bentuk dan pergerakkannya dengan mikroskop lapangan gelap. Pemeriksaan
dilakukan 3 hari berturut-turut. Jika hasil pada hari pertama dan kedua negatif.
Sementara itu lesi dikompres dengan larutan garam faal. Bila negatif bukan selalu
berarti diagnosisnya bukan sifilis, mungkin kumannya terlalu sedikit. Treponema
tampak berwarna putih pada latar belakang gelap. Pergerakannya memutar
terhadap sumbunya.
2. Tes Serologik Sifilis
Tes serologik sifilis dibagi menjadi 2 berdasarkan antigen yang dipakai :
A. Tes nontreponemal
Pada tes ini digunakan antigen tidak spesifik yaitu kardiolipin yang dikombinasikan
dengan lesitin dan kolesterol, karena itu lesi ini dapat memberi reaksi biologik semu.
Antibodinya disebut reagin yang terbentuk setelah infeksi dengan troponema
palllidum, tetapi zat tersebut terdapat pula pada berbagai penyakit lain dan selama
kehamilan. Contoh tes nontroponemal :
- Tes fiksasi komplemen : Wasserman, kolmer
- Tes flokulasi : VDRL, Kahn, RPR, ART, dan RST

Diantara tes-tes tersebut yang dianjurkan ialah VDRL dan RPR secara kuantitatif,
karena secara teknis lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan tes fiksasi komplemen.
Tes RPR dilakukan dengan antigen VDRL, kelebihan RPR ialah flokulasi dapat dilihat
secraa makroskopik, lebih sederhana, serta dapat dibaca setelah sepuluh menit
sehingga dapat dipakai untuk screening.
3. Tes Treponemal
Tes ini bersifat spesifik karena antigennya ialah treponema atau ekstraknya dan
dapat digolongkan menjadi 4 kelompok :
- Tes imobilisasi : TPI
- Tes fiksasi komplemen : RPCF
- Tes imunofluoresen : FTA-Abs
- Tes hemoglutisasi : TPHA, 19S IgM SPHA, HATTS, MHA-TP

TPI merupakan tes yang paling spesifik tetapi mempunyai kekurangan yaitu mahal,
teknis sulit, membutuhkan waktu banyak. Selain itu juga reaksinya lambat, baru positif
pada akhir stadium primer. TPHA merupakan tes treponemal yang dianjurkan karena
teknis dan pembacaan hasilnya mudah, cukup spesifik dan sensitif. Kekurangannya
tidak dapat dipakai untuk menilai hasil terapi karena tetap reaktif dalam waktu yang
lama.

TATALAKSANA

Pada pengobatan jangan dilupakan agar mitra seksualnya juag diobati, dan selama
belum sembuh penderita dilarang bersenggama. Pada sifilis laten pengobatan bermaksud
mencegah proses lebih lanjut.
KONDILOMA AKUMINATUM

EPIDEMIOLOGI

Penyakit ini termasuk kelompok infeksi menular seksual (IMS), karena 98% penularaan
melalui hubungan seksual. Sisanya dapat ditularkan melalui barang (fomites) yang tercemar
partikel HPV. Frekuensinya pada laki-laki dan perempuan sama. Tersebar kosmopolit dan
transmisi melalui kontak kulit langsung.

DEFINISI

Kondiloma akuminata (bila banyak disebut sebagai kondiloma akuminata) atau kutil kelamin
(venereal warts) ialah lesi berbentuk papilomatosis, dengan permukaan verukosa, disebabkan
oleh Human papilomavirus (HPV) tipe tertentu (terutama tipe 6 dan 11), terdapat di daearah
kelamin dan atau anus.

ETIOLOGI

Penyebab kondiloma akuminata adaalh HPV yaitu virus DNA yang tergolong dalam
keluarga papovavirus,sampai saat ini telah dikenal sekitar 100 genotipe HPv. Namun tidak
seluruhnya menyebabkan kondiloma akuminatum, tersering atau 70-100% oleh tipe 6 dan
11.

MANIFESTASI KLINIS

Penyakit ini terutama terdapat di daerah lipatan yang lembab, misalnya di daerah genitalia
eksterna. Pada laki-laki tempat predileksinya di perineum, sekitar anus, sulkus koronarius,
glans penis, di dalam meatus uretra, korpus, dan pangkal penis. Pada perempuan di daerah
vulva dan sekitarnya, introitus vagina, kadang-kadang pada porsio uteri. Dengan semakin
banyak kejadian anogenital, semakin banyak pula ditemukan kondiloma akuminatum di
daerah anus dan sekitarnya. Kondisi lembab, misalnya pada perempuan dengan flour albus
atau pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, lesi kondiloma akuminata lebih cepat membesar
dan bertambah banyak. Selain itu, kondisi imunitas yang menurun, misalnya pada pasien
yang terinfeksi HIV atau mengalami transplantasi organ tubuh, juga akan menambah cepat
pertumbuhan.
Kondiloma akuminatum seringkali tidak menimbulkan keluhan, namun dapat disertai rasa
gatal. Bila terdapat infeksi sekunder, dapat menimbulkan rasa nyeri, bau kurang enak, dan
mudah berdarah.
Bentuk klinis yang paling sering dietmukan berupa lesi seperti kembang kol, berwarna
seperti daging atau sama dengan mukosa. Ukuran lesi berkisar dari beberapa milimeter
sampai sentimeter. Tiap kutil dapat bergabung menjadi massa yang besar. Bentuk lain
berupa lesi keratotik, dengan permukaan kasar dan tebal, biasanya ditemukan di atas
permukaan yang kering, misalnya batang penis. Lesi timbul sebagai papul atau plak
verukosa atau keratotik, soliter atau multiple.
DIAGNOSIS

Kondiloma akuminatum terutama didiagnosis secraa klinis karena bentuknya yang khas.
Pada keadaan yang meragukan dapat dilakukan tes asam asetat. Lesi dan kulit atau
mukosa sekitarnya dibungkus dengan kain kasa yang telah dibasahi dengan larutan asam
asetat 5% selama 3-5 menit. Setelah kain kasa dibuka, seluruh area yang dibungks tadi,
diperiksa dengan kaca pembesar (pembesaran 4-8 kali). Hasil yang positif disebut sebagai
positif acetowhite. Lesi HPV seringkali menunjukkan pola kapilar (punctuated capilary
pattern) yang berbatas tegas.

DIAGNOSIS BANDING

- Veruka vulgaris
- Karsinoma sel skuamosa
- Karsinoma verukosa
- Kondiloma lata
- Benign penile pearly papules

TATALAKSANA
1. Kemoterapi
- Tinktura podofilin 25%
Apliksai dilakukan oleh dokter, tidak boleh dilakukan pasien sendiri.
Kulit disekitarnya dilindungi dengan vaselin agar tidak terjadi iritasi, dan
dicuci setelah 4-6 jam. Jika belum ada penyembuhan dapat diulangi
setelah 3 hari.
- Asam triklorasetat (TCA 80-90%)
Dilakukan setiap minggu, pemberiannya harus hati-hati karena dapat
menimbulkan iritasi hingga ulkus yang dalam.
- 5-fluorourasil
Konsentrasiny antara 1-5% dalam krim, dipakai terutama pada lesi di
meatus uretra. Pemebriannnya setiap hari oleh pasien sendirisamapi lesi
hilang.
2. Elektrokauterisasi
3. Interferon
Dapat diberikan dalam bentuk suntikan (IM atau intralesi) dan topikal. Interferon
alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU IM 3x seminggu selama 6 minggu. Interferon
beta diberikan dengan dosis 2x106 unit IM selama 10 hari berturut-turut.
KANDIDIASIS VAGINALIS

DEFINISI
Kandidiasis vaginalis adalah infeksi pada vagina dikarenakan pertumbuhan yang
tidak terkendali dari Candida sp. terutama Candida albicans kandidiasis sendiri merupakan
penyebab keputihan (vaginal discharge) yang paling sering sebesar 40% dan cairan yang
keluar biasanya kental, putih seperti susu, bau dan disertai rasa gatal yang hebat pada
kemaluan.

EPIDEMIOLOGI
Penelitian Departement of Microbiology, Lead City University, Nigeria pada tahun
2012 yang dilakukan pada 200 orang pengunjung Association for Reproductive Family and
Health (AFRH) menyatakan infeksi Candida albicans merupakan infeksi tertinggi dengan
persentase 27%.9 Prevalensi kandidiasis vaginalis pada pekerja seks komersial dari hasil
penelitian dari Badan Gerakan Nasional Penanggulangan HIV/AIDS pada tahun 2005 yang
dilakukan di 10 kota di Indonesia, menunjukkan hasil yaitu Jayapura (33%), Medan (27%),
Palembang (23%), Bitung (21%), Surabaya (18%), Bandung (12%), Jakarta Barat (9%)
dan untuk Provinsi Kepulauan Riau yaitu Kota Tanjung Pinang sebesar 12%.

ETIOLOGI
Sebagian besar kandidiasis vaginalis disebabkan oleh jamur Candida albicans,
sebagian kecil lainnya disebabkan oleh Candida glabrata, Saccharomycescerevisiae,
Trichosporon spp, Torulopsis glabrata serta spesies Candida lain yaitu Candida tropicalis,
Candida stellatoidea, Candida pseudotropicalis, dan Candida krusei. Umumnya menyerang
orang-orang yang imunnya lemah. Candida merupakan organisme yang biasa berada
dalam vagina. Perubahan lingkungan tertentu menyebabkan candida berkembang pesat
melebihi normal danmenyebabkan gangguan. Jamur ini secara normal hidup di dalam kulit
atau usus. Darisini jamur bisa menyebar ke alat kelamin.Candida biasanya tidak ditularkan
melaluihubungan seksual. Kandidiasis vaginalis lebih sering terjadi terutama karena
meningkatnya pemakaian antibiotik, pil KB dan obat-obat lainnya yang
menyebabkan perubahan suasana vagina sehingga memungkinkan pertumbuhan Candida.
Kandidiasis vaginalis lebih sering ditemukan pada wanita hamil atau wanita dalam siklus
menstruasi dan pada penderita kencing manis. Selain itu, pemakaian obat (misalnya
kortikosteroid atau kemoterapi untuk kanker) dan penyakit yang menekan sistem
kekebalan (misalnya AIDS ) juga mempermudah terjadinya penyakit ini.2,4
Candida tampak sebagai ragi lonjong, bertunas,gram positif,berukuran 2-3 x4-6
um,dan sel sel tunas bertunas yang memanjang menyerupai hifa (pseudohifa).Candida
albicans adalah jamur sel tunggal, berbentuk bulat sampai oval.Jumlahnya sekitar 80
spesies dan 17 diantaranya ditemukan pada manusia. Dari semua spesies yang ditemukan
pada manusia, Candida albicans yang paling pathogen. Candida albicans memperbanyak
diri dengan membentuk blastospora (budding cell ). Blastospora akan saling bersambung
dan bertambah panjang sehingga membentuk pseudohifa. Bentuk pseudohifa lebih virulen
dan invasif daripada spora.Hal itu dikarenakan pseudohifa berukuran lebih besar sehingga
lebih sulit difagositosisoleh makrofag. Selain itu, pseudohifa mempunyai titik-titik
blastokonidia multipel padasatu filamennya sehingga jumlah elemen infeksius yang ada
lebih besar.2,4

PATOGENESIS
Patogenesis kandidiasis vulvovaginitis dimulai dari adanya faktor predisposisi

memudahkan pseudohifa candida menempel pada sel epitel mukosa dan membentuk

kolonisasi. Kemudian candida akan mengeluarkan zat keratolitik (fosfolipase) yang

menghidrolisis fosfolopid membran sel epitel, sehingga mempermudah invasi jamur

kejaringan (Gispen, 2007).


Dalam jaringan candida akan mengeluarkan faktor kemotaktik neutrofil yang akan

menimbulkan raksi radang akut yang akan bermanifestasi sebagai daerah hiperemi atau

eritema pada mukosa vulva dan vagina. Zat keratolitik yang dikeluarkan candida akan

terus merusak epitel mukosa sehingga timbul ulkus-ulkus dangkal yang bertambah berat

dengan garukan sehingga timbul erosi. Sisa jaringan nekrotik, sel-sel epitel dan jamur akan

membentuk gumpalan bewarna putih diatas daerah yang eritema yang disebut flour albus

(Gispen, 2007).

MANIFESTASI KLINIS
Kandidiasis vaginalis ditandai dengan:
 Rasa gatal dan rasa panas pada vulva dan vagina.
 Keputihan (berwarna putih seperti susu, cairan tebal dan plak warna putih yang
melekat di vulva, vagina, dan serviks). Dijumpai gumpalan seperti keju pada
dinding vagina.
 Disuria
 Dispareunia
 20-50 % penderita Kandidiasis vulvovaginal tidak menunjukkan gejala apapun
(asimptomatis).

PEMERIKSAAN FISIK
- Biasanya di temukan pembengkakan pada vulva vagina
- Di temukan Kemerahan pada vulva dan vagina
- Adanya bercak cairan kental

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Pemeriksaan KOH 10 %.dan akan di temukan
o blastospora bentuk lonjong
o sel tunas
o pseudohifa, seperti sosis panjang bersambung
 Biakan: semua bahan yang diambil pada sekter vagian di biakkan pada agar
sabouraud pada suhu kamar dan suhu 37 derajat celcius maka akan
ditemukan
o Koloni koloni khas dengan adanya sel sel dan pseudomiselium bertunas.

DIAGNOSIS BANDING
Ada beberapa diagnosis banding pada candidiasis vaginalis yaitu vaginosis
bakterialis,dan trikomoniasis seperti yang dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 1 diagnosis banding kandidiasis vaginalis
Kriteria kandidiasis Vaginosis trikomoniasis
diagnostik Normal vaginalis bakterialis
Keluhan Tidak ada Gatal ,rasa Bau tidak Sekret kuning-
terbakar,sekret,dis sedap,gatal,sek hijau,bau,gatal
uria ret
Sekret Putih,jernih, Putih seperti keju Encer,putih Berbusa kuning-
flokulen abu abu hijau
pH vagina 3,8-4,2 < 4,5 > 4,5 > 4,5
bau amina tidak ada tidak ada busuk seperti bau busuk atau
ikan bau seperti ikan
Sediaan Sel epitel Pseudohifa,yeast Clue sel,whiif Trikomonad,whi
basah ,lactobacilu buds,leukosit + positif,sedikit ff mungkin
s,sedikit leukosit +,leukosit +
leukosit

PENATALAKSANAAN
Pengobatan candidiasis vaginalis atau vulvivaginalis memberikan respons yang
lebih baik tergadap golongan azol dari pada terhadap preparat supositoria
nistatin.pengobatan sistemik terhadap vulvovaginitis candida dengan menggunakan
ketokonazol atau flukonazol lebih mudah dilakukan dari pada pengobatan topikal .namun
untuk kondisi tertentu mungkin diperlukan pengobatan topikal.berikut terdapat berbagai
pilihan pengobatan untuk kandidiasis vaginalis
1. Pengobatan antifungal topikal
 Mikonazol/ kotrimazol 200 mg intravaginal/ hari, 3 hari
 Klotrimazol 500 mg intravaginal dosis tunggal
 Nistatin 100,000 IU intravaginal/ hr è 14 hari
2. Pengobatan antifungal sistemik
Pengobatan candidiasis vaginalis secara sistemik sebaiknya dikhususkan
pada mereka yang telah mendapat terapi topikal sebelumnya dan tidak berhasil,
atau pada kasus-kasus khusus seperti kandidiasis vaginalis yang berat, atau
rekuren pada trimester kedua kehamilan.
 Ketokonazol 200 mg peroral,2 kali sehari untuk 5 hari
 Itrakonazol 200 mg per oral,2 kali sehari , hanya satu hari
 Flukonazol 150 mg per-oral dosis tunggal
 Flukonazol 150 mg / minggu untuk 12 minggu pada kasus rekuren

PROGNOSIS
Prognosis candidiasis vaginalis umumnya baik, bergantung pada berat atau
ringannya faktor predisposisi.

GONORE
DEFINISI
Gonore adalah suatu penyakit menular seksual yang bersifat akut dan
disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae suatu kuman gram negatif berbentuk
seperti biji kopi dan letaknya dapat intra maupun ekstraseluler. Gonore merupakan
penyakit kelamin yang pada permulaan keluar nanah dari OUE ( Orifisium Uretra
Eksternum ) sesudah melakukan hubungan kelamin.

EPIDEMIOLOGI
Gonore telah menyebar ke seluruh dunia. Di Amerika Serikat, tingkat
kejadiannya meningkat secara recap dari tahun 1955 hingga akhir 1970 dengan 400
hingga 500 kasus per 100 ribu populasi. Berikutnya berhubungan dengan epidemi
AIDS dan perkembangan penerapan seks yang aman, insiden telah menurun
mendekati 100 kasus tiap 100 ribu populasi. Di Indonesia, infeksi gonore
menempati urutan yang tertinggi dari semua jenis PMS. Beberapa penelitian di
Surabaya, Jakarta, dan Bandung terhadap WPS menunjukkan bahwa prevalensi
gonore berkisar antara 7,4%–50%. Penyebaran infeksi ini secara global didukung
oleh kebiasaan manusia berpindah tempat yang turut meningkatkan faktor resisten.

ETIOLOGI
Gonore adalah Penyakit Menular Seksual (PMS) yang disebabkan oleh
bakteri Neisseria gonorrhoeae, bakteri diplokokkus gram negatif yang menjadikan
manusia sebagai perantaranya. Neisseria gonorrhoeae ditemukan oleh Albert
Neisser pada tahun 1879. N. gonorrhoeae adalah diplokokus berbentuk biji kopi,
bakteri yang tidak dapat bergerak, tidak memiliki spora, jenis diplokokus gram
negatif dengan ukuran 0,8 – 1,6 mikro, bersifat tahan asam. Bakteri gonokokus
tidak tahan terhadap kelembaban, yang cenderung mempengaruhi transmisi
seksual. Bakteri ini bersifat tahan terhadap oksigen tetapi biasanya memerlukan 2-
10% CO2 dalam pertumbuhannya di atmosfer. Bakteri ini membutuhkan zat besi
untuk tumbuh dan mendapatkannya melalui transferin, laktoferin dan hemoglobin.
Organisme ini tidak dapat hidup pada daerah kering dan suhu rendah, tumbuh
optimal pada suhu 35-37°C dan pH 7,2-7,6 untuk pertumbuhan yang optimal.
Kultur dari bakteri N. gonorrhoeae dilaporkan pertama kali oleh Leistikow
dan Loffler pada tahun 1882 dan dikembangkan pada tahun 1964 oleh Thayer dan
Martin yang menemukan tempat biakan selektif pada media agar khusus. Media
Thayer-Martin merupakan media yang selektif untuk mengisolasi gonokok.
Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positif-Gram,
kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-Gram dan nistatin untuk
menekan pertumbuhan jamur.
Pada sediaan langsung dengan gram bersifat tahan asam. Pada sediaan
langsung dengan pewarnaan gram bersifat gram negative, terlihat diluar dan dalam
leukosit, kuman ini tidak tahan lama diudara bebas, cepat mati dalam keadaan
kering, dan tidak tahan zat desinfektan.
Secara morfologik gonokokus terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang
mempunyai pili dan bersifat virulen, serta 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan
bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menyebabkan
reaksi radang. Organisme ini menyerang membran mukosa, khususnya epitel
kolumnar yang terdapat pada uretra, servik uteri, rectum, dan konjungtiva.

PATOFISIOLOGI
Gonokokus melekat pada sel mukosa host (pili dan protein Opa memainkan
peran utama) dan dalam waktu 24-48 jam, menembus pada sel-sel ke dalam ruang
subepitel jaringan uretra. Endotoksin pada sel bakteri menyebabkan inflamasi.
Respons host khas ditandai oleh invasi dengan neutrofil, diikuti oleh peluruhan
epitel, pembentukan micro abses submukosa, dan debit pus (berwarna kuning)
dipancarkan ke dalam saluran kencing dan sperma dan ke luar dari urethra.
Akumulasi dari pus dalam uretra membuat nyeri saat berkemih. Endotoksin juga
menyebabkan nyeri inflamasi. Simptom biasanya lebih ringan pada wanita. Jika
tidak diobati, makrofag dan infiltrasi limfosit menggantikan neutrofil. Adanya
infeksi yang tidak diobati pada wanita dapat menyebar ke tuba fallopi dan jaringan
abdominal dan menyebabkan PID (pelvic inflammatory disease). Infertil dapat
disebabkan PID pada wanita dan gangguan vas deferens pada pria.
Adanya kelahiran dari ibu yang terinfeksi gonore menyebabkan anak
mengalami infeksi pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan (ophthalmia
nenoatorum). Ini dapat dicegah dengan 1% AgNO3 atau penisilin pada mata bayi
baru lahir.

MANIFESTASI KLINIS
Masa inkubasi gonore sangat singkat pada pria umumnya bervariasi antara
2-7 hari (rata-rata 5 hari) kadang lebih lama karena pengobatan diri sendiri tapi
dengan dosis yang tidak cukup, atau gejala sangat samar sehingga tidak
diperhatikan. Pada wanita masa inkubasi sulit ditentukan karena pada umumnya
asimptomatis.
Tempat masuknya kuman pada pria di uretra menimbulkan uretritis, yang
paling sering adalah uretritis anterior akut dan dapat menjalar sehingga terjadi
komplikasi. Komplikasi bisa berupa komplikasi lokal yaitu tinositis, paraurettritis,
littritis, dan cowperitis; komplikasi ascenden yaitu prostatitis, vesikulitis,
vasdeferentitis/funikulitis, epididimitis, trigonis dan komplikasi diseminata.
Keluhan subyektif dapat berupa rasa panas dan gatal di bagian distal uretra
disekitar orifisium uretra eksterna, disuria, keluar duh tubuh dari ujung urethra
yang kadang disertai darah, perasaan nyeri saat ereksi. Pada pemeriksaan tampak
orifisium urethra eksternum eritem, edema, dan ektropion. Tampak duh tubuh
mukopurulen dan dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal
unilateral atau bilateral.
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit gonore pada wanita biasanya
terjadi infeksi pada uretra dan mulut rahim. Hal ini dapat menyebabkan rasa sakit
pada waktu kencing dan keluarnya cairan dari vagina, walaupun kebanyakan
wanita (cukup banyak pria) tidak memperlihatkan gejala yang khas pada infeksi
dini. Infeksi tanpa gejala semacam itu, mungkin merupakan suatu sebab bagi
penyebaran penyakit ini.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sediaan langsung dengan pewarnaan gram akan ditemukan diplokokus gram
negatif, intraseluler dan ekstraseluler, leukosit polimorfonuklear.
2. Kultur untuk identifikasi perlu atau tidaknya dilakukan pembiakan kultur.
Menggunakan media transport dan media pertumbuhan.
3. Tes definitif, tes oksidasi (semua golongan Neisseria akan bereaksi positif), tes
fermentasi (kuman gonokokus hanya meragikan glukosa).
4. Tes beta laktamase, hasil tes positif ditunjukkan dengan perubahan warna
kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim beta laktamase.
5. Tes Thomson dengan menampung urin pagi dalam dua gelas. Tes ini
digunakan untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung.

PENATALAKSANAAN
1. Non-medikamentosa
a. Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan tentang:
1) Bahaya penyakit menular seksual (PMS) dan komplikasinya
2) Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
3) Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks
tetapnya
4) Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom
jika tidak dapat dihindarkan
5) Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa dating
b. Pengobatan pada pasangan seksual tetapnya.
2. Medikamentosa
a. Walaupun semua gonokokus sebelumnya sangat sensitif terhadap penicilin,
banyak ‘strain’ yang sekarang relatif resisten. Terapi penicillin, amoksisilin,
dan tetrasiklin masih tetap merupakan pengobatan pilihan
b. Untuk sebagian besar infeksi, penicillin G dalam aqua 4,8 unit ditambah 1
gr probonesid per-oral sebelum penyuntikan penicillin merupakan
pengobatan yang memadai
c. Spectinomycin berguna untuk penderita yang alergi penisilin, penyakit
gonokokus yang resisten dan penderita yang juga tersangka menderita sifilis
karena obat ini tidak menutupi gejala sifilis . Dosis: 2 gr IM untuk pria dan
4 gr untuk wanita
d. Kanamisin baik untuk penderita yang alergi penisilin, gagal dengan
pengobatan penisilin dan tersangka sifilis. Dosis : 2 gr IM
3. Tindak lanjut
Kontrol dilakukan pada hari ke-7 untuk diperiksa klinis maupun laboratoris.
Kriteria kesembuhan penderita urethritis gonore dinyatakan sembuh bila:
setelah 7 hari sesudah pengobatan tanpa hubungan seksual penderita secara
klinis maupun laboratorium dinyatakan baik. Bila dalam waktu kurang dari 7
hari, disertai hubungan seksual dan ternyata dalam pemeriksaan klinis dan
laboratoris masih positif, penderita dinyatakan reinfeksi. Sedangkan bila diluar
kriteria tersebut diatas dianggap relaps.

KOMPLIKASI
1. Pada pria:
a. Uretritis
Uretritis yang paling sering dijumpai adalah uretritis anterior akut,
dan dapat menjalar ke proksimal, selanjutnya mengakibatkan komplikasi
lokal, ascenden, dan diseminata.
b. Tysonitis
Kelenjar tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi
biasanya terjasdi pada penderita denga preputium yang sangat panjang dan
kebersihan yang kurang baik. Diagnosa dibuat berdasarkan ditemukannya
butir pus atau pembengkakan pada daerah frenulum yang nyeri tekan. Bila
duktus tertutup akan timbul abses dan merupakan sumber infeksi laten.
c. Parauretritis
Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau
hipspadia. Infgeksi pada pus ditandai dengan butir pus pada kedua muara
parauretra.
d. Littritis
Tidak ada gejala khusus, hanya pada urin ditemukan benang-benang
atau butir-butir. Bila salah satu saluran tersumbat, bisa terjadi abses
folikular. Didiagnosis dengan uretroskopi.
e. Cowperitis
Bila hanya duktus yang terkena biasanya tanpa gejala. Kalau infeksi
terjadi pada kelenjar cowperdapat terjadi abses. Keluhan berupa nyeri dan
adanya benjolan pada daerah perinium disertai rasa penuh dan penas, nyeri
pada waktu defekasi dan disuria. Jika tidak diobati abses akan pecah
melalui kulit perineum, uretra, atau rektum, dan mengakibatkan proktitis.
f. Prostatitis
Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah
perineum dan suprapubis, melese, demam, nyeri kencing sampai hematuri,
spasme otot uretra sehingga terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit buang
airbesar dan obstipasi.
Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan
konsistensi kenyal, nyeri tekan dan didapatkan fluktuasi bila telah terjadi
abses. Jika tidak diobati abses akan pecah masuk ke uretra posterior atau
ke arah rektum mengakibatkan proktitis.
Bila proktitis menjadi kronis, gejalanya ringan dan intermiten, tetapi
kadang-kadang menetap. Terasda tidak enak pada perineum bagian dalam
dan rasa tidak enak bila duduk terlalu lama. Pada pemeriksaan prostat
terasa kenyal berbentuk nodus, dan sedikit nyeri pada penekanan.
Pemeriksaan dengan pengurutan prostat biasanya sulit menemukan kuman
diplokokus atau gonokokus.
g. Vesikulitis
Vesikulitis biasanya radang akut yang mengenai vesikula seminalis
dan duktus ejakulatorius, dapat timbul menyertai prostatitis akut atau
epididimis akut. Gejala subyektif menyerupai prostatitis akut, berupa
demam, polakisuria, hematuria terminal, nyeri pada waktu ereksi atau
ejakulasi dan spasme mengandung darah.
Pada pemeriksaan melalui rektum dapat diraba vesikula seminalis
seminali yang bengkak dan mengeras seperti sosis memanjang di atas
prostat. Ada kalanya sulit menentukan batas kelenjar prostat yang
membesar.
h. Vas deferentitis dan funikulitis
Gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah
pada sisi yang sama.
i. Epididimitis
Epididimitis akut biasanya unilateral dan setiap epididimitis biasanya disertai
deferentitis. Keadaan yang mempermudah timbulnya epididimitis ini adalah trauma
pada uretra posterior yang disebabkan oleh salah penanganan atau kelalain
penderita sendiri. Faktor yang mempengruhi keadaan ini antara lain irigasi yg
terlalu sering dilakukan, cairan irigator terlalu panas, atau terlalu pekat,
instrumentasi yg terlalu kasar, pengurutan prostat yang berlebihan, dan aktifitas
seksual jasmani yang berlebihan.
Epididimitis dan tali spematika membengkak dan terasa panas, juga testis,
sehingga menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila
mengenai kedua epididimis dapat mengkibatkan sterilisasi.
j. Trigonitis
Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum
vesika urinaria. Trigonitis menimbulkan gejala poliuria, disuria terminal,
dan hematuri.
2. Pada wanita
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dengan pria.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan
wanita. Hal ini disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin
pria dan wanita. Pada wanita, baik penyakitnya akut maupun kronik, gejala
subyektif jarang ditemuka dan hampir tidak pernah didapati kelainan obyektif.
Pada umumnya wanita datang kalau sudah ada komplikasi. Sebagian penderita
ditemukan pada waktu pemeriksaan antenatal atau pemeriksaan keluarga
berencana.
Pada mulanya hanya servik uteri yang terkena infeksi. Duh tubuh yang
mukopurulen dan mengandung banyak gonokokus mengalir keluar dan
menyerang uretra, duktus parauretra, kelenjar bartholin, rektum, dan dapat juga
naik ke atas sampai pada daerah kandung telur.
a. Uretritis
Gejala utama ialah disuria kadang-kadang poliuria. Pada pemeriksaan
orifiisum uretra eksternum tampak merah, edematosa, dan ada sekret
mukopurulen.
b. Parauretritis/skenitis
Kelenjar parauretra dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi.
c. Servisitis
Dapat asimptomatis, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada
punggung bawah. Pada pemeriksaan servik tampak merah dengan erosi dan
sekret mukopurulen. Sekret tubuh akan terlihat lebih banyak, bila terjadi
servisitis akut atau disertai vaginitis. Yang disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis.
d. Barthonilitis
Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan
nyeritekan. Kelenjar bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila
penderita berjalan dan penderita sukar duduk. Bila saluran kelenjar
tersumbatdapat timbul abses dan dapat pecah menjadi mukosa atau kulit.
Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren atau kista.
e. Salpingitis
Peradangan dapat bersifat akut, subakut atau kronis. Ada
beberapa faktor predisposisi yaitu:
1) Masa puerperium (nifas)
2) Dilatasi setelah kuratese
3) Pemakaian IUD, tindakan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).
Cara infeksi langsung dari servik melalui tuba fallopi sampai pada
daerah salping dan ovarium. Sehingga dapat menimbulkan penyakit radang
panggul (PRP). Infeksi PRP ini dapat menimbulkan kehamilan ektopik dan
sterilitas. Kira-kira 10% wanita dengan gonore akan berakhir dengan PRP.
Gejalanya terasa nyeri pada daerah abdomen bawah, discharge tubuh
vagina, disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.

3. Infeksi non-genital
Selain mengenai alat-alat genital, gonore juga dapat menyebabkan infeksi non-
genital yang akan diuraikan berikut ini:
a. Proktitis
Proktitis pada pria dan wanita umunya asimptomatis. Pada wanita
dapat terjadi karena kontaminasi dari vagina dan kadang-kadang karena
genitoanal seperti pada pria. Keluhan pada wanita biasanya lebih ringan
daripada pria, terasa seperti terbakar pada daerah anus dan pada
pemeriksaan tampak mukosa eritewmatosa, edematosa, dan tertutup mukosa
purulen.
b. Orofaringitis
Cara infeksi melalui kontak secara orogenital. Faringitis dan
tonsilitis gonorea lebih sering daripada gingivitis, stomatitis atau laringitis.
Keluhan sering bersifat asimptomatik. Bila ada keluhan sukar dibedakan
dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan kuman lain. Pada pemeriksaan
daerah orofaring tampak eksudat mukopurulenyang ringan atau sedang.
c. Konjungtivitis
Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahirdari ibu yang
menderita servisitis gonore. Pada orang dewasa infeksi terjadi karena
penularanpada konjungtiva melalui tangan atau alat-alat. Keluhan berupa
fotofobi, konjungtiva bengkak, dan merah dan keluar eksudat mukopurulen.
Bila tidak diobati dapat berakibat terjadinya ulkus kornea, panoftalmitis,
sampai timbul kebutaan.
d. Gonore diseminata
Kira-kira 1% kasus gonore akan berlanjut menjadi gonore
disseminata. Penyakit ini banyak ddapat pada penderita dengan gonore
asimptomatik sebelunya, terutama pada wanita. Gejala yang timbul dapat
berupa: artritis (terutama mono artritis), miokarditis, endokarditis,
perikarditis, meningitis, dermatitis.

DIAGNOSIS BANDING
1. Uretritis Non Gonore/UNG
Bukan disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhea. Keluhan keluarnya
cairan mukopurlen/ nanah dari lubang kelamin, yang jumlah sekretnya tidak
terlalu banyak, cairan tersebut lebih encer dari pada uretritis gonore, serta
eritema ringan tanpa disertai udem pada orifisium uretra eksterna. Masa
inkubasi UNG sekitar 1-2 minggu setelah kontak, yang berbeda dengan uretritis
Gonore yang masa inkubasinya lebih cepat yaitu 2-5 hari.
2. Trikhomoniasis
Merupakan infeksi saluran urogenital, bersifat akut/kronis, penyebab
Trichomonas vaginalis, persamaan dengan GO sama-sama menimbulkan
peradangan saluran urogenital, masa inkubasi 4hr-3 mgg. Mengeluarkan sekret
vagina yg berbeda yaitu bersifat seropurulen, berbau amis, warna kekuningan,
dan berbusa. Pada laki-laki dengan infeksi akut terdapat disuria, poliuri, duh
tubuh uretra mukopurulen, kadang pd urin ada benang-benang halus.
3. Chlamidia Trachomatis
Penularan bisa secara seksual, dan bawaan/kongenital, bisa
menyebabkan infeksi umum saluran kemih (uretritis, servisitis, salpingitis, serta
trachom) tapi gejala ini tidak senyata gonore, masa inkubasi 7-21 hr.

PENCEGAHAN
Karena gonore ini sangat menular namun seringkali tidak menampakkan
gejala gejala khusus, seseorang yang pernah melakukan hubungan seks dengan
lebih dari satu pasangan sebaiknya memeriksakan dirinya dengan teratur.
Penggunaan kondom dan difragma dapat mencegah penularan. Selain itu perlu
terus waspada, karena sekali seseorang terinfeksi, tidak berarti selanjutnya ia
menjadi kebal atau imun. Banyak orang terserang gonore ini lebih dari sekali.
Pencegahan jauh lebih baik dan lebih mudah dibandingkan dengan
pengobatan. Perlu di tinjau kembali perilaku seksual sekarang, dan segera
meninggalkan perilaku yang beresiko dan tidak bertanggung jawab. Jika sudah
terlanjur terinfeksi, segeralah memeriksakan diri ke dokter.

PROGNOSIS
Pengobatan secara dini dan tepat memberi prognosis yang lebih, yakni masa
penyakit berlangsung lebih singkat dan rekurens lebih jarang. Biakan setelah
pengobatan perlu dilakukan untuk memeriksa kesembuhan.
Pada pria, gonore yang tidak diobati akan menghilang setelah beberapa
minggu, walaupun sedikit lendir mukoid dan uretra mungkin masih keluar selama
berbulan-bulan. Striktur uretra sering terjadi, terutama setelah serangan berulang-
ulang kambuh atau yang tidak diobati.
Wanita yang tidak diobati mungkin tetap merupakan carrier selama
berbulan-bulan dan menimbulkan infeksi gonokok ekstragenital. Angka kegagalan
pengobatan tetap tinggi kira-kira 3%-8% walaupun pengobatan sesuai dengan yang
diigariskan. Insiden reinfeksi tinggi.
URETRITIS NON SPESIFIK

DEFINISI

Infeksi Genital non spesifik (IGNS) adalah penyakit menular seksual berupa peradangan di

uretra, rektum, atau serviks yang disebabkan oleh kuman nonspesifik.. Pada pria sering

disebut sebagai uretritis non spesifik (UNS) oleh karena terutama mengenai uretra. Yang
dimaksud dengan kuman spesifik adalah kuman yang dengan fasilitas laboratorium
biasa/sederhana dapat diketemukan seketika, misalnya gonokok, Candida albicans,
Trichomonas vaginalis, dan Gardnerella vaginalis.

EPIDEMIOLOGI

Di beberapa negeri ternyata insidens IGNS merupakan PMS yang paling tinggi dan angka
perbandingan dengan uretritis gonore kira-kira 2:1. UNS banyak ditemukan pada orang
dengan keadaan social ekonomi lebih tinggi, usia lebih tua, dan aktivitas seksual yang
tinggi. Juga ternyata pria lebih banyak daripada wanita dan golongan heteroseksual lebih
banyak daripada golongan homoseksual.

ETIOLOGI

Penyebab paling sering ialah Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, dan

Mycoplasma hominis. Selain itu ada juga dugaan bahwa penyebab dari UNS adalah alergi
dan bakteri

PATOGENESIS
- Chlamydia trachomatis

Telah terbukti bahwa lebih 50% daripada semua kasus UNS disebabkan oleh kuman ini.
Chlamydia trachomatis merupakan parasit intraobligat, menyerupai bakteri negatif-gram.
Dalam perkembangannya Chlamydia trachomatis mengalami 2 fase:

o Fase I: disebut fase noninfeksiosa, terjadi keadaan laten yang dapat ditemukan pada
genitalia maupun konjungtiva. Pada saat ini kuman sifatnya intraselular dan berada di
dalam vakuol yang letaknya melekat pada inti sel hospes, disebut badan inklusi.

o Fase II: fase penularan, bila vakuol pecah kuman keluar dalam bentuk badan elementer
yang dapat menimbulkan infeksi pada sel hospes yang baru.
- Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma hominis

Ureaplasma urealyticum merupakan 25% penyebab UNS dan sering bersamaan dengan
Chlamydia trachomatis. Dahulu dikenal dengan nama T-strain mycoplasma. Mycoplasma
hominis juga sering bersama-sama dengan Ureaplasma urealyticum.

Mycoplasma hominis sebagai penyebab UNS masih diragukan karena kuman ini bersifat
komensal yang dapat menjadi pathogen dalam kondisi-kondisi tertentu. Ureaplasma
urealyticum merupakan mikroorganisme paling kecil, negatif-Gram, dan sangat pleomorfik
karena tidak mempunyai dinding sel yang kaku.

- Alergi

Ada dugaan bahwa UNS disebabkan oleh reaksi alergi terhadap komponen sekret alat
urogenital pasangan seksualnya. Alasan ini dikemukakan karena pada pemeriksaan sekret
UNS tersebut ternyata steril dan pemberian antihistamin dan kortikosteroid mengurangi
gejala penyakit.

- Bakteri

Mikroorganisme penyebab UNS ini adalah Staphylococcus dan difteroid. Sesungguhnya


bakteri ini dapat tumbuh komensal dan menyebabkan uretritis hanya pada beberapa kasus.

MANIFESTASI KLINIS

Pria

Gejala baru timbul biasanya setelah 1-3 minggu kontak seksual dan umumnya tidak seberat
gonore. Gejalanya berupa disuria ringan, perasaan tidak enak di uretra, sering kencing, dan
kelurarnya duh tubuh seropurulen. Dibandingkan dengan gonore, perjalanan penyakit lebih
lama karena masa inkubasi yang lebih lama dan ada kecenderungan kambuh kembali.

Wanita

Infeksi lebih sering terjadi di serviks dibandingkan dengan di vagina, kelenjar Bartholin,
atau uretra sendiri. Sama seperti pada gonore, umumnya wanita tidak menunjukkan gejala.
Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina, disuria ringan, sering kencing,
nyeri di daerah pelvis, dan disparenia.

KOMPLIKASI

Hampir sama dengan gonore. Pada pria dapat terjadi prostatitis, vesikulitis, epididimitis,
dan striktur uretra. Pada wanita dapat terjadi bartolinitis, prokitis, salpingitis, dan sistitis.
Peritonitis dan hepatitis juga pernah dilaporkan.
DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Pada


pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu harus disingkirkan kuman-kuman spesifik yakni
gonokok, Trichomonas vaginalis, Candida albicans, dan Gardnerella vaginalis.

Untuk laboratorium dengan fasilitas terbatas, kriteria diagnostik berdasarkan jumlah sel
leukosit PMN pada sediaan hapus duh tubuh dengan pewarnaan gram, yakni jumlah sel
PMN lebih dari 5 per lapangan penglihatan besar dan tidak ditemukan kuman gonokok,
Trichomonas vaginalis, dan Candida albicans. Kriteria secara makroskopis ialah dapat
dilihat adanya benang-benang dalam urin.

TATALAKSANA

Secara umum, manajemen obat yang paling efektif adalah golongan tetrasiklin dan
eritromisin. Di samping itu dapat juga digunakan gabungan sulfa-trimetoprim, spiramisin
dan kuinolon2. Beberapa dosis obat yang dapat digunakan sebagai pada tabel berikut.

Medikamentosa

Medikasi Dosis

4 x 500mg sehari selama 1 minggu atau4 x


Tetrasiklin HCl 250mg sehari selama 2 minggu

Oksitertrasiklin 4 x 250mg sehari selama 2 minggu

Doksisiklin 2 x 100mg sehari selama 1 minggu

4 x 500mg sehari selama 1 minggu atau4 x


250mg sehari selama 2 minggu

(untuk penderita tidak tahan tetrasiklin, hamil,


Eritromisin atau < 12 tahun)

Sulfa-trimetoprim 2 x 2 tablet sehari selama 1 minggu

Azitromisin 1 gram dosis tunggal

Spiramisin 4 x 500mg sehari selama 1 minggu

Ofloksasin 2 x 200 mg sehari selama 10 hari


Pasien dengan infeksi klamidia harus dimonitor selama 2 minggu. Pemberian informasi
kepada pasangan, pencegahan hubungan seksual sementara serta penyelesaian terapi
dengan benar harus dicek. Dalam hal ini pasangan maupun semua orang yang memiliki
kontak seksual langsung dengan penderita harus diidentifikasi dan diberikan saran untuk
mendapatkan terapi serupa.

Pengobatan untuk infeksi mycoplasma genital, sama dengan pengobatan pada chlamydia.
Fluorokuinolon dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk M.
Hominis dan Ureaplasma sp. pada kondisi resistensi terhadap antibiotik lain.

PROGNOSIS

Tanpa pengobatan penyakit lambat laun berkurang dan akhirnya sembuh sendiri (50-70%
dalam waktu kurang lebih 3 bulan). Setelah pengobatan, kira-kira 10% penderita akan
mengalami eksaserbasi/rekurens.
ULKUS MOLE

DEFINISI

Ulkus mole atau sering disebut chancroid ialah penyakit ulkus genitak akut,
setempat, dapat beinokulasi sendiri, disebabkan oleh Haemophilus ducreyi, dengan
gejala klinis khas berupa ulkus di tempat masuk kuman dan seringkali disertai
supurasi kelenjar getah bening regional.

EPIDEMIOLOGI

Penyakit ini lebih sering dijumpai pada laki-laki daripada wanita. Di beberapa
negara, perbandingan kejadian pada laki-laki dan perempuan berkisar antara 3:1.
Perempuan dapat menjadi pembawa penyakit yang asimptomatik, karena ulkus
berlokasi di vagina atau serviks dan tidak nyeri. Kelompok populasi yang lebih
sering terkena ulkus mole ialah para penjaja seks, dan orang dengan kebersihan
pribadi yang kurang.

PATOGENESIS

Penyebab ulkus mole berupa basil Gram negatif, tidak berkapsul, anaerob
fakultatif. Kuman ini merupakan patogen bagi manusia dan menginfeksi kulit
genitalia dan sekitarnya, permukaan mukosa, serta kelenjar getah bening regional.
Penyakit ini menular terutama melalui hubungan seksual dengan seseorang yang
telah terinfeksi. Organisme masuk ke kulit dan/atau membran mukosa melalui
abrasi mikro yang terjadi saat hubungan seksual. Lekosit (PMN) dan makrofag
segera mengitari bakteri dalam pustul mikro, namun tidak mampu menyingkirkan
organisme tersebut.

MANIFESTASI KLINIS

Diawali dengan papul inflamasi yang cepat berkembang menjadi ulkus nyeri dalam
1-2 hari. Tidak dijumpai gejala sistemik. Ulkus multiple, dangkal, tidak terdapat
indurasi, sangat nyeri. Bagian tepi bergaung, rapuh, tidak rata, kulit atau mukosa
sekeliling ulkus eritematosa. Dasar ulkus dilapisi oleh eksudat nekrotik kuning
keabu-abuan dan mudah berdarah jika lapisan tersebut diangkat. Ulkus dapat
menyebar ke perineum, anus, skrotum, tungkai atas, atau abdomen bagaian bawah
sebagai akibat inokulasi sendiri. Ulkus mole dpaat terjadi di dalam uretra dan
menimbulkan keluhan dan gejala seperti pada uretritis non gonore.

Ulkus pada laki-laki berlokasi di preputium, frenulum, dan sulkus koronarius,


sedangkan pada pasien perempuan terdapat di introitus, vestibulum dan labia
minor. Pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, sebagian infeksi akan mengenai
preputium atau jaringan yang diliputinya. Keluhan pada perempuan seringkali tidak
berhubungan dengan ulkus, misalnya disuria, nyeri saat defekasi, dispareunia atau
duh vagina. Ulkus tidak senyeri pada laki-laki. Ulkus multiple kadang-kadang
membentuk kissing lesions, yaitu lesi yang timbul pada permukaan yang saling
berhadapan. Beberapa varian ulkus mole, meliputi :

 Dwarf chancroid
 Giant chancroid
 Follicular chancroid
 Transient chancroid
 Phagedenic chancroid
 Serpigenous chancroid
 Papular chancroid
 Mixed chancroid
KOMPLIKASI

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Isolasi Haemophilus ducreyi dari lesi atau aspirasi kelenjar getah bening. Tes PCR
memberikan hasil yang cepat, spesifik, dan sensitivitas yang lebih baik dibandingkan
dnegan kultur.pemeriksaan langsung bahan ulkus, yang diambil dari dasar ulkus yang
bergaung, dengan pewarnaan Gram menunjukkan basil kecil Gram negatif yang berderet
berpasangan seperti rel kereta api atau sekumpulan ikan yang berbaris.
DIAGNOSIS

temuan Haemophilus ducreyi pada kultur atau PCR merupakan diagnosis definitif. Dalam
ketiadaan konfirmasi mikrobiologis, diagnosis berdasarkan temuan klinis, epidemiologis,
serta telah menyingkirkan kemungkinan herpes dan sifilis.

DIAGNOSIS BANDING

TATALAKSANA

PROGNOSIS

Bila terapi berhasil, keluhan akan menghilang dalam waktu 3 hari, dan ulkus akan
membaik dalam waktu 1-2 minggu pengobatan. Ulkus yang besar memerlukan waktu lebih
dari 2 minggu. Penyembuhan limfadenitis yang berfluktuasi dapat lebih lama lagi, kadang-
kadang perlu dilakukan aspirasi dengan jarum atau insisi berulang. Prognsis baik dengan
pengobatan antibiotik. Pada beberapa kasus dapat timbul jaringan parut meskipun terapi
berhasil baik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K. 2012.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine ed VIII. McGraw-Hill Companies.
United States.

2. Wolff, K., Johnson, R. A., Suurmond, D., & Fitzpatrick, T. B. (2005). Fitzpatrick's
color atlas and synopsis of clinical dermatology. New York: McGraw-Hill Medical
Pub. Division
3. Menaldi SLSW. 2016. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin ed 7. Jakarta: Fakultas
Kedokteran UI.

4. Babin deepa dkk.clinico- mycological profil of vaginal candidiasis in tertiary care


hospital in Kerala., International Journal Of Reserch in
5. STD Curriculum for clinical Educators.CDC. Vaginitis Modul., Department of
Health and Human Service –USA;Juli ;2013
6. Kuswadji.2010, Kandidiasis didalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi ke
enam, Jakarta: Fakultas kedokteran Universitas Indonesia; hal 106-109
7. Ramali L.M., Werdani S. 2001. Kandidiasis Kutan dan Mukokutan. Dalam:
Dermatomikosis Superficialis. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin
Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. p:
55-65
8. Pedoman Nasional Penangananan Infeksi Menular Seksual.Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. 2015.
9. CDC - DPDx - Trichomoniasis [Internet]. 2019 [cited 2019 Jul 17]. Available
from: https://www.cdc.gov/dpdx/trichomoniasis/index.html
10. Girerd PH. Bacterial vaginosis. [Internet]. Medscape. 2018. [cited 2019 jul
17]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/254342-overview#a1
11. Smith DS. Trichomoniasis. [Internet]. Medscape. 2018. [cited 2019 Jul
17]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/230617-overview