Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

ASMA

Oleh :

NI LUH PUTU ERNA PRAMESTYANDANI


P07120215022
DIV KEPERAWATAN TINGKAT IIA
SEMESTER III

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2017
I. LATAR BELAKANG
Salah satu penyakit yang sering dijumpai pada anak-anak yaitu
penyakit asma. Kejadian asma meningkat di hampir seluruh dunia, baik
Negara maju maupun Negara berkembang termasuk Indonesia.
Peningkatan ini diduga berhubungan dengan meningkatnya industri
sehingga tingkat polusi cukup tinggi. Walaupun berdasarkan pengalaman
klinis dan berbagai penelitian asma merupakan penyakit yang sering
ditemukan pada anak, tetapi gambaran klinis asma pada anak sangat
bervariasi, bahkan berat-ringannya serangan dan sering-jarangnya
serangan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Akibatnya kelainan ini
kadang kala tidak terdiagnosis atau salah diagnosis sehingga menyebabkan
pengobatan tidak adekuat.

Penyakit asma merupakan kelainan yang sangat sering ditemukan


dan diperkirakan 4–5% populasi penduduk di Amerika Serikat terjangkit
oleh penyakit ini. Asma bronkial terjadi pada segala usia tetapi terutama
dijumpai pada usia dini. Sekitar separuh kasus timbul sebelum usia 10
tahun dan sepertiga kasus lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun. Pada usia
kanak-kanak terdapat predisposisi laki-laki : perempuan = 2 : 1 yang
kemudian menjadi sama pada usia 30 tahun.

Asma merupakan gangguan inflamasi kronis di jalan napas. Dasar


penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus dan obstruksi jalan napas.
Gejala asma adalah gangguan pernapasan (sesak), batuk produktif
terutama pada malam hari atau menjelang pagi, dan dada terasa tertekan.
Gejala tersebut memburuk pada malam hari, adanya alergen (seperti debu,
asap rokok) atau saat sedang menderita sakit seperti demam. Gejala hilang
dengan atau tanpa pengobatan. Didefinisikan sebagai asma jika pernah
mengalami gejala sesak napas yang terjadi pada salah satu atau lebih
kondisi: terpapar udara dingin dan/atau debu dan/atau asap rokok dan/atau
stres dan/atau flu atau infeksi dan/atau kelelahan dan/atau alergi obat
dan/atau alergi makanan dengan disertai salah satu atau lebih gejala:
mengi dan/atau sesak napas berkurang atau menghilang dengan
pengobatan dan/atau sesak napas berkurang atau menghilang tanpa
pengobatan dan/atau sesak napas lebih berat dirasakan pada malam hari
atau menjelang pagi dan jika pertama kali merasakan sesak napas saat
berumur <40 tahun (usia serangan terbanyak). (Riskesdas, 2013).

II. TUJUAN
A. Tujuan instruksional umum ( TIU )
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, pasien dan keluarga
pasien mengetahui tentang penyakit penyakit asma dan
penatalaksanaanya.

B. Tujuan instruksional khusus ( TIK )


Setelah dilakukan penyuluhan selama 1 x 30 menit, diharapkan sasaran
penyuluhan dapat mengetahui tentang:

a. Pengertian Asma
b. Penyebab Asma
c. Tanda dan gejala Asma
d. Pencegahan Asma
e. Penganan Asma

III.MATERI PENYULUHAN
a. Pengertian Asma
b. Penyebab Asma
c. Tanda dan gejala Asma
d. Pencegahan Asma
e. Penanganan Asma

IV. KEGIATAN

No. Tahap waktu Kegiatan penyuluh Kegiatan peserta


1 Pembukaan 5 menit a. Memberikan salam - Menjawab salam
b. Perkenalan - Mendengarkan
c. Menjelaskan tujuan
dan
dari pertemuan
memperhatikan
d. Kontrak waktu
e. Apersepsi
2 Penyampaian 15 a. Menjelaskan materi: - Mendengarkan
- Pengertian asma
materi menit dan
- Penyebab asma
- Tanda dan gejala memperhatikan
asma penjelasan
- Pencegahan asma
- Penaganan asma

3 Sesi tanya 10 a. Memberikan - Mengemukakan


jawab menit kesempatan kepada pertanyaan
peserta untuk
bertanya
4 Penutup 5 menit a. Mengucapkan terima - Menjawab salam
kasih kepada peserta penyuluh
b. Memberikan salam
penutup

V. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Demonstrasi
VI. MEDIA
1. Lefleat

2. Sound system

VII. ALAT DAN BAHAN

1. Leaflet

VIII. SUMBER:

Anonim. 2009. Pencegahan Asma. http://penyakitasma.com/pencegahan-


asma-2/. Diakses pada 22 Februari 2017.
Anonim. 2010. Tentang Penyakit Asma.
erepo.unud.ac.id/9914/3/2c2f339d7f93e3f0a2ac74277d42a0ba.pdf.
(Online) diakses pada 22 Februari 2017.
Esther, Chang. 2009. Patofisiologi Aplikasi pada Praktik Keperawatan.
Jakarta : EGC
Depkes R.I (2009) Pedoman pengendalian penyakit asma
Huda, Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis NANDA NIC-NOC. Yogyakarta : MediaAction.
PDPI ( Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ). 2004. Asma dan Pedoman
Pentalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

IX. PESERTA
Klien dan keluarga yang menderita penyakit asma dan seluruh peserta
yang mempunya keluarga yang menderita penyakit asma

X. WAKTU
Hari : Jumat
Tanggal : 17 Maret 2017
Jam : 10.00 WITA

XI. TEMPAT :
Di ruang apel RSUD KLungkung
Setting Tempat :

A
Penyuluh Peserta
A

XII. RENCANA EVALUASI


A. Struktur :
1. Persiapan media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya
lengkap dan siap digunakan. Media yang digunakan dalam bentuk
leaflet. Kurun waktu dalam persiapan media 2 hari.
2. Persiapan materi
Materi yang akan diberikan dalam penyuluhan sudah
disiapkan. Kurun waktu dalam persiapan materi 2 hari
B. Proses penyuluhan :
1. Kegiatan penyuluhan yang akan diberikan diharapkan berjalan
lancar dan sasaran memahami tentang penyuluhan yang diberikan.
Sasaran diharapkan mampu mengerti dan memahami penyuluhan
dan 50% bisa menjawab
2. Dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara
penyuluh dan sasaran yang akan diharapkan penyuluhan
3. Diharapkan dalam proses penyuluhan terdapat 5 orang atau lebih
peserta.
4. Peserta diharapkan memperhatikan materi yang diberikan
C. Hasil penyuluhan :
a. Sasaran paham seluruh materi yang diberikan
b. Sasaran paham dan bisa mempraktekkannya di rumah mengenai
cara mencegah meningkatnya penyakit asma
c. Sasaran dapat menjelaskan ulang tentang pengertian asma,
penyebab asma, tanda dan gejala asma, pencegahan asma, dan
penanganan asma.
Lampiran I
LAMPIRAN MATERI
1. Pengertian Asma
Menurut Sylvia A.price (dalam NANDA NIC NOC, 2015:65)
Asma adalah keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan
peradangan; penyempitan ini bersifat berulang namun reversible, dan
diantar episode penyempitan bronkus tersebut terdapat keadaan ventilasi
yang lebih normal.
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada percabangan
trakeobronkial yang membuat pasien mengalami episode gejala mengi,
sesak napas, batuk, dan dada terasa terhimpit. (Cahng, 2009)
2. Penyebab Asma
Terdapat tiga proses yang menyebabkan pasien mengalami asma yaitu
sensitisasi, inflamasi dan serangan asma. Ketiga proses ini dipengaruhi
oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan.
a Sensitisasi, yaitu individu dengan risiko genetik (alergik/atopi,
hipereaktivitas bronkus, jenis kelamin dan ras) dan lingkungan (alergen,
sensitisasi lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara, infeksi
pernapasan (virus), diet, status sosioekonomi dan besarnya keluarga)
apabila terpajan dengan pemicu (inducer/sensitisizer) maka akan
menimbulkan sensitisasi pada dirinya. Faktor pemicu tersebut adalah
alergen dalam ruangan: tungau, debu rumah, binatang berbulu (anjing,
kucing, tikus), jamur, ragi dan pajanan asap rokok.

b Inflamasi, yaitu individu yang telah mengalami sensitisasi, belum tentu


menjadi asma. Apabila telah terpajan dengan pemacu akan terjadi
proses inflamasi pada saluran napas. Proses inflamasi yang berlangsung
lama atau proses inflamasinya berat secara klinis berhubungan dengan
hipereaktivitas. Faktor pemacu tersebut adalah rinovirus, ozon.
c Serangan asma, yaitu setelah mengalami inflamasi maka bila individu
terpajan oleh pencetus (trigger) maka akan terjadi serangan asma
(Depkes RI, 2009).

3. Tanda dan
Gejala Asma
Gejala asma bersifat episodik, berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa berat
di dada. Gejala biasanya timbul atau memburuk terutama malam atau dini
hari (PDPI, 2003). Setelah pasien asma terpajan alergen penyebab maka akan
timbul dispnea, pasien merasa seperti tercekik dan harus berdiri atau duduk
dan berusaha mengerahkan tenaga lebih kuat untuk bernapas.
Manifestasi Klinik pada pasien asthma adalah batuk, dyspne, dari
wheezing. Dan pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada pada
penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis,
sedangkan waktu serangan tampak penderita bernafas cepat, dalam, gelisah,
duduk dengan tangan menyanggah ke depan serta tampak otot-otot bantu
pernafasan bekerja dengan keras.
4. Pencegahan
Asma
a. Pencegahan terhadap asma dapat dilakukan dengan cara merawat dan
menjaga diri sebaik mungkin, terutama menghindari faktor pencetus
seperti : lelah fisik, polusi udara, debu, gangguan emosional, dan lain-
lain.
b. Asma bisa diatasi dengan meminum teh rempah agar badan terasa hangat
. Hal ini bertujuan untuk mencegah serangan asma sebelum atau
menjelang pagi saat udara mulai dingin. Jangan melakukan aktivtias atau
olahraga berat yang dapat memicu munculnya serangan sesak napas.
Olahraga ringan tetapi teratur agar meningkatkan kesegaran fisik, serta
membuat otot jantung dan paru menjadi lebih kuat.
c. Hindari debu, asap rokok, udang, telur, kepiting dan terasi yang biasanya
sebagai pemicu timbulnya penyakit asma. Untuk menghindari emosi
yang tidak terkontrol, stres atau depresi, jangan memikirkan hal-hal yang
terlalu berat karena akan dapat memicu serangan asma.
d. Konsumsilah sayur dan buah, seta hindari makanan dan minuman
mengandung zat pewarna, zat pengawet, dan gula sintesis.

5. Penanganan Asma
a. Kompres dengan air panas
1) Bahan
- Botol kosong yang tahan panas misalnya botol sirup lengkap
dengan tutupnya.
- Air mendidih secukupnya
- Karet gelang dan plastik pembungkus secukupnya
- Kain pembungkus secukupnya
2) Pemakaian
- Penuhi botol dengan air mendidih kemudian tutup rapat- rapat
- Bungkuslah mulut botol yang telah ditutup dengan lembarah plastik
lalu ikat dengan karet.
- Bungkuslah botol yang berisi air panas tersebut seluruhnya dengan
kain pembungkus beberapa lapis
- Ukur temperatur panas botol tidak lebih tinggi dari temperatur
badan manusia agar terasa nyaman dan tidak terlalu panas
- Penggunaan botol panas yang telah dilapisi kain tersebut untuk
menghangatkan badan penderita, terutama pada bagian dada dan
punggungnya
- Bila panas botol mulai berkurang kain pembungkusnya bisa dibuka
lapis demi selapis hingga tinggal botol telanjang
- Menurut pengalaman biasanya botol yang isinya 650 cc dapat
dipakai untuk menghangatkan tubuh penderita antara 7- 10 jam
b. Penghirupan uap air
1. Peralatan dan air
- Botol kosong yang tahan panas misalnya botol bekas sirup
- Kertas karton kurang lebih 30 cm
- Karet gelang
- Kain pembungkus
- Baskom kecil
- Sendok teh
- Corong kecil
- Balsem atau sejenisnya
- Air mendidih secukupnya
a. Pemakaian
- Tuangkan air mendidih sebanyak volume botol yang tersedia
kemudian ambil balsem seujung sendok teh atau secukupnya dan
campurkan kedalam air mendidih lalu aduk sampai larut
- Masukkan air kedalam botol dengan mengguanakan corong
- Gulung kertas karton sebesar ujung botol lalu masukkan ujung botol
ke dalam gulungan kertas kurang lebih 10 cm lalu ikat dengan karet
gelang
- Bungkus botol dengan kain pembungkus
- Isaplah uap air yang keluar dari ujung kertas sampai terasa hangat.

Lampiran 2
EVALUASI

A. Pertanyaan
1. Apa pengertian asma ?
2. Apa penyebab asma ?
3. Apasajakah tanda dan gejala asma ?
4. Bagaimana pencegahan asma ?
5. Bagaimana penanganan asma ?
B. Kunci Jawaban
1. Pengertian asma
Menurut Sylvia A.price (dalam NANDA NIC NOC, 2015:65)
Asma adalah keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan
peradangan; penyempitan ini bersifat berulang namun reversible, dan
diantar episode penyempitan bronkus tersebut terdapat keadaan ventilasi
yang lebih normal.
2. Penyebab asma
Terdapat tiga proses yang menyebabkan pasien mengalami asma yaitu :
a. Sensitisasi
b. Inflamasi
c. Serangan
asma
3. Tanda dan gejala asma
Gejala asma bersifat episodik, berupa batuk, sesak napas, mengi,
rasa berat di dada. Gejala biasanya timbul atau memburuk terutama malam
atau dini hari (PDPI, 2003).
Manifestasi Klinik pada pasien asthma adalah batuk, dyspne, dari
wheezing. Dan pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada
pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis,
sedangkan waktu serangan tampak penderita bernafas cepat, dalam,
gelisah, duduk dengan tangan menyanggah ke depan serta tampak otot-
otot bantu pernafasan bekerja dengan keras.
4. Pencegahan asma
a. Pencegahan terhadap asma dapat dilakukan dengan cara merawat dan
menjaga diri sebaik mungkin, terutama menghindari faktor pencetus
b. Asma bisa diatasi dengan meminum teh rempah agar badan terasa
hangat
c. Hindari debu, asap rokok, udang, telur, kepiting dan terasi yang
biasanya sebagai pemicu timbulnya penyakit asma
d. Konsumsilah sayur dan buah, seta hindari makanan dan minuman
mengandung zat pewarna, zat pengawet, dan gula sintesis.
5. Penanganan asma
a. Kompres dengan air panas
b. Penghirupan uap air