Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Segala Puja dan puji syukur kita haturkan Kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang
telah memberikan kita berbagai macam nikmat terutama nikmat sehat dan sempat sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah tentang “ Konsep Dasar dan Konsep Asuhan Keperawatan
pada Pasien dengan Gastritis” ini dapat diselesaikan dengan apa adanya dan tepat pada
waktunya.

Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses pembelajaran dan dapat
menambah pengetahuan bagi para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak, atas bantuan,dukungan dan doanya. Makalah ini mungkin kurang
sempurna, untuk itu kami mengharap kritik dan saran dari Bapak/Ibu Dosen dan teman-teman
untuk penyempurnaan makalah ini.

Semoga makalah yang kami tulis ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi teman-
teman mahasiswa keperawatan dan semoga bisa menjadi bahan referensi untuk pembelajaran
kita bersama.

Penyusun
Daftar Isi

Kata Pengantar.................................................................................................................1

Daftar Isi..........................................................................................................................2

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang...........................................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah .....................................................................................................5

1.3 Tujuan........................................................................................................................5

1.4 Manfaat......................................................................................................................6

Bab II Pembahasan
A. KONSEP TEORI GASTRITIS

1. Anatomi dan Fisiologi ...................................................................................7

2. Definisi..........................................................................................................10

3. Etiologi..........................................................................................................12

4. Patofisiologi...................................................................................................13

5. Klasifikasi......................................................................................................14

6. Penatalaksanaan.............................................................................................17

7. Discharge Planning........................................................................................17
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GASTRITIS
1. Pengkajian......................................................................................................18
2. Diagnosa Keperawatan..................................................................................19
3. Perencanaan ..................................................................................................19
4. Implementasi..................................................................................................24

1
5. Evaluasi..........................................................................................................27

Bab III Penutup

3.1 Simpulan....................................................................................................................29

3.2 Saran..........................................................................................................................30

Daftar Pustaka.................................................................................................................. 31

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Gastritis atau yang lebih dikenal dengan sebutan maag, merupakan salah
satu penyakit yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat (Mustakim, 2009).Gastritis
bukanlah penyakit tunggal, tetapi beberapa kondisi yang mengacu pada peradangan
lambung (Herlan, 2001)
Keluhan Gastritis merupakan suatu keadaan yang sering dan banyak dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Tidak jarang kita jumpai penderita Gastritis kronis selama bertahun-
tahun pindah dari satu dokter ke dokter yang lain untuk mengobati keluhan Gastritis
tersebut. Berbagai obat-obatan penekan asam lambung sudah pernah diminum seperti
antasida maupun yang lain, namun keluhan selalu datang silih berganti. Keluhan yang
bekepanjangan dalam menyembuhkan Gastritis ini dapat menimbulkan gangguan psikologi
seseorang yaitu berupa stress. Stress ini bukan tidak mungkin justru menambah berat
Gastritis penderita yang sudah ada (Budiana, 2006).

Budiana (2006), mengatakan bahwa Gastritis ini terbesar di seluruh dunia dan bahkan
di perkirakan diderita lebih dari 1,7 milyar. Pada negara yang sedang berkembang infeksi
diperoleh pada usia dini dan pada negara maju sebagian besar dijumpai pada usia tua.
Menurut Maulidiyah dan Unum (2006), angka kejadian infeksi Gastritis Helicobacter
Pylory pada beberapa daerah di Indonesia menunjukan data yang cukup tinggi. di Kota
Surabaya angka kejadian Gastritis sebesar 31,2%, Denpasar 46%, sedangkan di Medan
angka kejadian infeksi cukup tinggi sebesar 96,1 %. Sedangkan menurut Herlan (2001),
bahwa adanya penemuan infeksi Helicobacter Pylory ini mungkin berdampak pada
tingginya kejadian Gastritis.

Faktor etiologi Gastritis lainnya adalah asupan alkohol berlebihan (20%), merokok
(5%), makanan berbumbu (15%), obat-obatan (18%) dan terapi radiasi (2%). Berdasarkan
data statistik yang ada di Puskesmas Kecamatan Kemayoran pada tahun 2009 sebanyak
(40,9%), dan pada tahun 2010 sebanyak (32,7%). Hal ini menunjukan bahwa terjadi
penurunan pada penderita penyakit gastritis pada setiap tahunnya, meskipun terjadi

3
penurunan tetapi masih perlu adanya penanganan dan perhatian khusus dalam perawatan
maupun pencegahan untuk mengatasi masalah keperawatan yang muncul pada penderita
gastritis.

Dari hasil penelitian para pakar, didapatkan jumlah penderita gastritis (90%) lebih
banyak wanita dibandingkan pria dan gastritis dapat menyerang sejak usia dewasa muda
hingga lanjut usia dan tidak mengetahui mengenai dampak buruk gastritis. Hal ini
disebabkan karena berbagai macam faktor diantaranya psikologis. Hal yang sering dijumpai
pada perubahan psikologis seseorang salah satunya yaitu stress dan karena hampir sebagian
besar wanita tidak bisa untuk mencari jalan keluar untuk setiap masalahnya, oleh karena itu
banyak para wanita terdiagnosis penyakit ini (Riyanto, 2008).
Penyebab tersebut, apabila tidak segera ditangani akan berdampak bagi penderita.
Dampak dari gastritis bisa mengalami komplikasi seperti perdarahan saluran cerna bagian
atas, hematemesis dan melena (anemia), ulkus peptikum, perforasi (Arief, 2000).
Berdasarkan masalah tersebut perawat melalui upaya promotif yaitu penyuluhan
kepada masyarakat dan keluarga dengan tujuan keluarga mampu mengenal masalah gastritis
dan dapat menanggulanginya. Upaya preventif yaitu menyarankann agar tidak makan yang
pedas dan asam . Upaya kuratif yaitu memberitahukan pada pasien untuk mengkonsumsi
obat-obat herbal,jika makin parah maka berikan obat-obatan yang digunakan dalam
mengatasi gastritis. Upaya rehabilitatif yaitu upaya masa pemulihan, perawat berperan
penting untuk menyarankan kepada keluarga atau masyarakat agar menjaga pola makan
yang lebih sehat dan menyarankan agar makan tepat waktu.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah konsep dasar teori gastritis?


2. Bagaimanakah konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien gastritis?

C. TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui konsep dasar teori gastritis.

4
2. Mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien gastritis.

D. MANFAAT PENULISAN

Makalah ini dibuat oleh mahasiswa dengan harapan dapat menjadi bahan bacaan untuk
mahasiswa lain dalam memahami konsep dasar penyakit gastritis yang meliputi pengertian,
penyebab, jalannya penyakit, klasifikasi sampai dengan penatalaksanaannya. Selain itu juga
untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pasien meliputi pengkajian, diagnosa,
perencanaan, tindakan, sampai dengan evaluasi tindakan. Semoga makalah ini dapat
menambah wawasan mahasiswa dalam melakukan asuhan keperawatan sehingga dapat
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada mastarakat.

5
A. KONSEP TEORI GASTRITIS

1. Anatomi dan Fisiologi


Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat di
bawah diafragma. Dalam keadaan kosong lambung menyerupai tabung berbentuk J,
dan bila penuh, akan terbentuk seperti buah pir raksasa. Kapasitas normal lambung
adalah 1 sampai 2 liter. Secara anatomi lambung terbagi atas fundus, korpus, dan
antrum pilorikum atau pylorus.
Sebelah kanan lambung atas lambung terdapat cekungan kurvatura minor dan
bagian kiri bawah lambung terdapat kurvatura mayor. Sfingter pada kedua ujung
lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan yang terjadi. Sfingter kardia atau
sfingter esofagus bawah, mengalirkan makanan masuk ke dalam lambung dan
mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus kembali. Daerah lambung tempat
pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama daerah kardia. Di saat sfingter
pilorikum terminal berelaksasi, makanan masuk ke dalam duodenum, dan ketika
berkontraksi sfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik isi usus ke dalam
lambung (Wilson, 2002).
Lambung terdiri dari 4 lapisan yaitu:
1. Tunika serosa / lapisan luar
Merupakan bagian dari peritoneum viseralis, dua lapisan peritoneum viseralis
menyatu pada kurvatura minor lambung dan duodenum dan terns memanjang ke
arah hate membentuk omentum minus. Omentum minor menunjang lambung
sepanjang kurvatura minor sampai ke hati, pada kurvatura mayor peritoneum terns
ke bawah membentuk omentum mayus yang menutupi usu dari depan seperti apron
besar.
2. Muskularis
Tersusun dari tiga lapisan, lapisan longitudinal bagian luar, lapisan sirkular
ditengah, dan lapisan oblik bagian dalam. Susunan serat-serat otot yang unik
memungkinkan herbage macam kontraksi yang diperlukan untuk memecahkan

6
makanan menjadi partikel-partikel yang kecil, mengaduk dan mencampur makanan
tersebut dengan cairan lambung dan mendorong ke arah duodenum.
3. Submukosa
Terdiri dari jaringan areoral yang menghubungkan lapisan mukosa dan lapisan
muskularis. Jaringan ini memungkinkan mukosa bergerak bersama gerakan
peristaltik. Lapisan ini juga mengandung pleksus saraf, pembuluh darah dan
saluran limfe.
4. Mukosa
Lapisan dalam lambung tersusun dari lipatan longitudinal yang disebut rugae.
Dengan adanya lipatan-lipatan ini lambung dapat berdistensi sewaktu diisi
makanan, pada mukosa ini terdapat kelenjar yaitu:
a. Kelenjar kardia terletak dekat lubang kardia yang mengekresi mukus.
b. Kelenjar fundus atau gastrik terletak pada fundus dan hampir seluruh korpus
lambung. Pada kelenjar fundus ini terdapat tiga jenis sel utama yaitu sel-sel
zimogenik atau chiefcells mensekresikan pepsinogen, sel parietal,
mensekresikan asam hidroklorida dan faktor instrinsik, sel mukus
mensekresikan mukus.
c. Kelenjar pilorus terletak pada daerah pilorus lambung yang menghasilkan
gastrin (Wilson, 2002)
Adapun fungsi lambung yaitu:
1. Fungsi motorik
a. Fungsi reservoir yaitu menyimpan makanan sampai makanan tersebut sedikit
demi sedikit dicernakan dan bergerak pada saluran cerna. Menyesuaikan
peningkatan volume tanpa menambah tekanan dengan relaksasi resektif otot
polos diperantarai saraf vagus dan dirangsang oleh gastrin.
b. Fungsi mencampur yaitu memecahkan makanan menjadi partikel-partikel
kecil dan mencampurnya dengan getah lambung melalui kontraksi otot yang
mengelilingi lambung.
c. Fungsi pengosongan lambung diatur oleh pembukaan spingter pilorus yang
dipengaruhi oleh viskositas, volume keasaman,aktivitas osmotik, keadaan
fisik serta oleh emosi, obat-obatan dan kerja.

7
2. Fungsi pencernaan dan sekresi
a. Pencernaan protei oleh pepsin dan HCL dimulai di lambung, pencernaan
karbohidrat dan lemak oleh amilase dan lipase dalam lambung kecil
peranannya.
b. Sintesis dan pelepasan gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan,
peregangan antrum, alkalinisasi antrum dan rangsangan vagus.
c. Sekresi faktor intrinsik memungkinkan absobsi vitamin B.12.
d. Sekresi mukus membentuk selubung yang mellindungi lambung serta
berfungsi sebagai pelumas sehingga makanan lebih mudah diangkut.
Pengaturan sekresi lambung dibagi menjadi:
1. Fase sefalik
Dimulai makanan masuk lambung yaitu sebagai akibat melihat, mencium
dan memikirkan atau mengecap makanan. Fase ini diperantarai seluruhnya
oleh syaraf vagus dan dihilangkan dengan vagotomi sinyal neotogenik yang
menyebabkan fase sefalik berasal dari korteks serebri atau pusat nafsu
makan.impuls aferen kemudian dihantar melalui syaraf vagus ke lambung.
Hasilnya kelenjar gastrik dirangsang mengeluarkan asam HCL, pepsinogen
dan menambah mukus.
2. Fase gastrik
Dimulai saat makanan mencapai antrum pilorus. Distensi yang terjadi pada
antrum menyebabkan terjadinya rangsangan mekanis dari reseptor-reseptor
pada dinding lambung. Impuls tersebut menuju medula melalui aferen vagus,
impuls ini merangsang pelepasan hormon gastrin an secara langsung juga
merangsang kelenjar-kelenjar lambung. Gastrin di lepas dari antrum
kemudian dibawa ke aliran darah menuju kelenjar lambung untuk
merangsang sekresi. Pelepasan gastrin juga dirangsang oleh PH alkali, garam
empedu di atrum. Gastrin adalah stimulus utama sekresi asam hidroklorida.
3. Fase intestinal
Dimulai oleh gerakan kismus dari lambung ke duodenum. Adanya protein
yang telah dicerna sebagian dalam duodenum merangsang pelepasan gastrin
usus suatu hormon yang menyebabkan lambung terus menerus mensekresi

8
cairan lambung, tetapi peranan usus halus sebagai penghambat sekresi
lambung jauh lebih besar (Wilson,2002)

2. Definisi
Gastritis adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang bersifat
akut, dengan kerusakan “Erosive” karena permukaan hanya pada bagian mukosa (Iin
Inaya, 2004).
Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung (Medicastore,2003). Gastritis
adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung
(Suyono,2001).
David Ovedorf(2002) mendefinisikan gastritis sebagai inflamasi mukosa gaster
akut atau kronik.
Pengertian yang lebih lengkap dari gastritis yaitu peradangan lokal atau
menyebar pada mukosa lambung yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa
dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain (Reeves, 2002).
Jadi gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut
atau kronik, diffus atau lokal. Menurut penelitian, sebagaian besar gastritis
disebabkan oleh infeksi bacterial mukosa lambung yang kronis. Selain itu beberapa
bahan yang sering dimakan dapat mennyebabkan rusaknya sawar mukosa pelindung
lambung.

3. Etiologi
Lapisan lambung menahan iritasi dan biasanya tahan terhadap asam yang kuat. Tetapi
lapisan lambung dapat mengalami iritasi dan peradangan karena beberapa penyebab:
a. Gastritis bakterialis biasanya merupakan akibat dari infeksi oleh Helicobacter
pylori ( bakteri yang tumbuh yang tumbuh di dalam sel penghasil lendir di lapisan
lambung). Tidak ada bakteri lainnya yang ada dalam keadaan normal tumbuh di
dalam lambung yang bersifat asam, tetapi jika lambung tidak menghasilkan asam,
berbagai bakteri bisa tumbuh di lambung. Bakteri ini bisa menyebabkan gastritis
menetep atau gastritis sementara.

9
b. Gastritis karena steress akut, merupaka n jenis gastritis yang paling berat, yang
disebabkan oleh penyakit berat atau trauma (cedera) yang terjadi secara tiba-tiba.
Cederanya sendiri mungkin tidak mengenai lambung seperti yang terjadi pada
luka bakar yang luas atau cedera yang menyebabkan perdarahan hebat.
c. Gastritis erosif kronis bisa merupakan akibat dari : bahan-bahan seperti obat-
obatan , terutama aspirin dan obat anti peradangan non steroid lainya, penyakit
Crohn, infeksi virus dan bakteri. Gastritis ini terjadi secara perlahan pada orang-
orang yang sehat, bisa disertai dengan perdarahan atau pembentukan ulkus
(borok, luka terbuka), paling sering terjadi pada alkoholik.
d. Gastritis karena virus atau jamur bisa terjai pada penderita penyakit menahun atau
penderita yang mengalamu gangguan sistem kekebalan.
e. Gastritis eosinofilik bisa terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap infeksi
cacing gelang . eosinofil (sel darah putih) terkumpul di dinding lambung.
f. Gastritis atrofik terjadi jika antibodi menyerang lapisan lambung, sehingga
lapisan lambung menjadi sangat tipis dan kehilangan sebagian atau seluruh selnya
yang menghasilkan asam dan enzim. Keadaan ini biasanya terjadi pada usia lanjut
gastritis ini juga cenderung terjadi pada orang-orang yang sebagian lambungnya
telah diangkat (mengalami pembedahan gastrektomi parsial). Gastritis atrofik bisa
menyebabkan anemia pernisiosa karena mempengaruhi penyerapan vittamin B12
dari makanan.
g. Penyakit Meniere merupakan jenis gastritis yang penyebabnya tidak diketahui.
Dinding lambung menjadi tebal, lipatanya melebar, kelenjarnya membesar dan
memiliki kista yang terisi cairan. Sekitar 10% penderita penyakit ini menderita
kanker lambung.
h. Gastritis sel plasma merupakan gastritis yang penyebabnya tidak diketahui. Sel
plasma (salah satu jenis sel darah putih) terkumpul di dalam dinding lambung dan
organ lainnya. Gastritis juga bisa terjadi jika seseorang menelan bahan korosif
atau menerima terapi penyinaran dengan dosis yang berlebihan.

10
4. Patofisiologi
Bahan-bahan makanan, minuman, obat maupun zat kimia yang masuk kedalam
lambung menyebabkan iritasi atau erosi pada mukosanya sehingga lambung
kehilangan barrier (pelindung). Selanjutnya terjadi peningkatan difusi balik ion
hidrogen. Gangguan difusi pada mukosa dan penngkatan sekresi asam lambung yang
meningkat / banyak. Asam lambung dan enzim-enzim pencernaan. Kemudian
menginvasi mukosa lambung dan terjadilah reaksi peradangan.

Demikian juga terjadi peradangan dilambung karena invasi langsung pada sel-
sel dinding lambung oleh bakteri dan terinfeksi. Peradangan ini termanifestasi seperti
perasaan perih di epigastrium, rasa panas / terbakar dan nyeri tekan.

Spasme lambung juga mengalami peningkatan diiringi gangguan pada spinkter


esophagus sehingga terjadi mual-mual sampai muntah. Bila iritasi / erosi pada
mukosa lambung sampai pada jaringan lambung dan mengenai pembuluh darah.
Sehingga kontinuitasnya terputus dapat mennimbulkan hematemesis maupun melena.

11
Sumber pohon masalah : Nurarif, Amin Huda. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan
diagnose Medis dan Nanda Nic-Noc. Jogjakarta : Mediaction

Obat-obatan (NISAD, H.Phylori Kafein


aspirin, sulfanomida
steroid, digitalis)
Melekat pada epitel Menurun produksi
lambung bikarbonat (HCO3-)
Membantu pembentukan
sawat mukosa lambung
Menghancurkan lapisan Menurunnya kemampuan
mukosa lambung protektif terhadap asam

Menurunnya barrier Menyebabkan difusi


lambung terhadap asam kembali asam lambung dan
dan pepsin pepsin Kekurangan Volume cairan

Perdarahan
Inflamasi Erosi mukosa lambung

Mukosa lambung
Nyeri epigastrum kehilangan integritas
Menurunnya tonus dan
jaringan
peristaltic lambung

Menurunnya sensori untuk


Refluk isi duodenum ke
makan
lambung

Anoreksia

Mual Dorongan ekspulsi isi


lambung ke mulut

Nyeri Akut Muntah


Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh
Kekurangan volume cairan

12
5. Klasifikasi
a. Gastritis Superfisialis Akut
1) Definisi
Adalah suatu peradangan permukaan lambung yang akut dengan
kerusakan-kerusakan erosi.
2) Etiologi
a) Obat analgetik-anti inflamasi terutama aspirin
b) Bahan kimia, misalnya lisol
c) Merokok
d) Alkohol
e) Stress fisis ( combustio, sepsis, trauma, gagal ginjal)
f) Refluks usus halus
g) Endotoksin bakteri
h) Makanan berbumbu (lada, cuka)
3) Manifestasi klinis
a) Keluhan dapat bervariasi, kadang tidak ada keluhan tertentu
sebelumnya dan sebagian besar hanya mengeluh nyeri epigastrium
yang tidak hebat
b) Kadang disertai dengan nausea dan vomitus
c) Anorexia
d) Gejala yang berat:
(1) Nyeri epigastrium hebat
(2) Perdarahan
(3) Vomitus
(4) Hematemesis
4) Pemeriksaan Diagnostik
a) Hispatologi biopsy
b) Analisis cairan lambung
c) Pemeriksaan darah. Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya
antibodi H.Pylori dalam darah. Hasil tes yang positif menunjukkan

13
bahwa pasien pernnah kontak dengan bakteri pasa suatu waktu dalam
hidupnya tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena
infeksi. Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa anemia, yang
terjadi akibat pendarahan lambung akibat gastritis.
d)  Pemeriksaan feces. Tes ini memeriksa apakah terdapat H.
pylori dalam feses atau tidak. Hasil yang positif dapat
mengindikasikan terjadinya infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan
terhadap adanya darah dalam feces. Hal ini menunjukkan adanya
pendarahan pada lambung.
e) Endoskopi saluran cerna bagian atas. Dengan tes ini dapat terlihat
adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang mungkin
tidak terlihat dari sinar-X. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan
sebuah selang kecil yang fleksibel (endoskop) melalui mulut dan
masuk ke dalam esophagus, lambung dan bagian atas usus kecil.
Tenggorokan akan terlebih dahulu dimati-rasakan (anestesi) sebelum
endoskop dimasukkan untuk memastikan pasien merasa nyaman
menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang terlihat
mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel (biopsy) dari
jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium
untuk diperiksa. Tes ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30
menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang ketika tes ini
selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang,
kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resiko akibat tes ini.
Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada
tenggorokan akibat menelan endoskop.
f) Ronsen saluran cerna bagian atas. Tes ini akan melihat adanya tanda-
tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya akan
diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dilakukan
ronsen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih
jelas ketika di ronsen.

14
5) Komplikasi
a) Perdarahan saluran cerna
b) Ulkus
c) Perforasi (jarang terjadi)
6) Penatalaksanaan
a) Gastritis superfisial akut biasanya mereda bila agen-agen penyebab
dapat dihilangkan
b) Penatalaksanaan medik yang diberikan:
(1) Obat anti mual/ muntah
(2) Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit IV jika masih
muntah
(3) Penghambat H2 (ranitidine)
(4) Antacid
b. Gastritis Atropik Kronik
1) Definisi
Suatu peradangan bagian permukaan lambung yang menahun. Gastritis ini
ditandai oleh artrofi progesif epitely
2) Etiologi
Belum diketahui
a) Namun penyakit ini sering terdapat pada orang tua, peminum alkohol
berlebih, merokok ( merupakan predisposisi gastritis atrofik)
b) Pada klien dengan anemia pernisiosa , patogenesis berkaitan dengan
mekanisme imunologik
c) Gastritis kronik merupakan predisposisi timbulnya tukak lambung dan
Ca
3) Manifestasi Klinis
a) Perasaan penuh pada abdomen
b) Anorexia, nausea
c) Distres epigastrik yang tidak nyata
d) Nyeri ulu hati, nyeri ulkus peptik

15
e) Keluhan-keluhan anemia

6. Penatalaksanaan

Faktor utama adalah dengan menghilangkan etiologinya, diet lambung, dengan


porsi kecil dan sering obat – obatan di tunjukan untuk mengatur sekresi asam lambung
berupa anragonis reseplar H, inhibitor pompa proton, antikelinergerik dan antosid juga
ditunjukan sebagai sitoprotektor, berupa sukrafat dan prostaglandin.

1. Untuk menetralisasi asam digunakan antasida ( mis. Alumunium hidroksida )


untuk menetralisasi alkali, digunakan jus lemon encer atau cuka encer.
2. Bila korosi luas, ernetik, lavase lebih dari karena bahaya perforasi tapi pendukung
mencakup inlubasi analgesic sedative, anasida serta inlravana endoskapi eptik
mungkin diperlukan, pembedahan darurat mungkin diperlukan untuk mengangkat
gangren atau jaringan forasi, gastrojejunastam atau reaksi lambung diperlukan untuk
abstruksipilorus.

7. Discharge Planning
a. Hindari minuman berakohol karena dapat mengiritasi lambung sehingga terjadi
inflamasi dan perdarahan
b. Hindari merokok karena dapat menggangu lapisan dinding lambung sehingga
pasien lebih mudah mengalami gastritis dan tukak/ulkus. Dan rokok dapat
meningkatkan asam lambung dan memperlambat penyembuhan tukak/ ulkus. Dan
rokok dapat meningkatkan asam lambung.
c. Atasi stress sebaik mungkin.
d. Makan makanan yang kaya akan buah dan sayur, namun hindari sayur dan buah
yang bersifat asam ( misal: jeruk, lemon, grapefruit, nanas dan tomato).
e. Jangan berbaring setelah makan untuk menghindari refluks (aliran balik) asam
lambung.’

16
f. Berolahraga secara teratur untuk membantu mempercepat aliran makanan melalui
usus
g. Bila perut mudah mengalami kembung (banyak gas) untuk sementara waktu
kurangi makananyang tinggi serat.
h. Makan dalam porsi sedang (tidak banyak) tetapi sering, berupa makanan lunak
dan rendah lemak. Makanlah secara perlahan dan rileks.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GASTRITIS

1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan
1) Gejala nyeri ulu hati
2) Tidak dapat makan
3) Mual/muntah
4) Kapan gejala dirasakan : sebelum/sedudah makan, setelah mencerna makanan
pedas atau mengiritasi lambung, atau setelah mencerna obat tertentu atau
alkohol?
5) Apakah gejala b.d ansietas, stress, alergi, makan atau minum terlalu banyak,
atau makan terlalu cepat?
6) Bagaimana gejala hilang?
7) Apakah ada riwayat penyakit lambung sebelumnya atau menjalani
pembedahan lambung?
8) Pola makan dan riwayat diet
9) Identifikasi lamanya gejala, kapan hilang atau berkurang, dengan metode apa
pasien mengatasi keluhan, efek gejala terhadap pasien
b. Pemeriksaan fisik
1) Nyeri tekan abdomen
2) Dehidrasi ( perubahan turgor kulit, membran mukosa kering).
3) Gangguan sistemik yang dapat diketahui menjadi penyebab gastritis.

17
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan masukan cairan tidak
cukup dan kehilangan cairan berlebih karena muntah.

b. Nyeri berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi.

c. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan


nutrient yang tidak akurat.

d. Cemas berhubungan dengan stress

e. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan diet dan proses penyakit.

3. Intervensi

No DX NOC NIC
1 Fluid balance (0601) Fluid managemen ( 4120 )

Setelah dilakukan tindakan Asuhan 1. Monitor berat badan / hari


keperawatan selama 3 x 24 jam di
2. Pertahankan intake dan output yang
harapkan cairan tubuh terpenuhi
akurat
dengan kriteria hasil :

3. Monitor status hidroksi ( membrane


- (060101) tekanan darah dalam
mukosa ) yang akurat.
waktu yang diharapkan

4. Monitor hasil laboratorium


- (060107) keseimbangan intake dan
berhubungan dengan retensi cairan
output dalam 24 jam
(peningkatan BUN, penurunan
- (060110) tidak ada acites hematokrit, dan peningkatan tingkat
asmalatitas urin.
- (060115) tidak ada kehausan
5. Monitor status hemodinamik
- (060116) hidrosil kulit
termasuk CUP, MAP, PAP

- (060120) pengeluaran urine dalam

18
batas normal 6. Monitor vital sign

Keterangan penilaian NOC 7. Monitor indikasi kelebihan cairan


(endema peningkatan JUP dan
1 = Sangat bermasalah
ansietas)

2 = Cukup bermasalah

3 = Bermasalah sedang

4 = Sedikit bermasalah

5 = Tidak bermasalah
2 Pain control ( 1605 ) Pain managemen (1400)

Setelah dilakukan tindakan Asuhan 1. Kaji secara komperhensif tentang

keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri

diharapkan nyeri pasien berkurang 2. Observasi isyarat – isyarat non

dengan kriteria hasil : verbal dari ketidaknyamanan

3. Gunakan komunikasi terapeutik


- (160501) mengenali faktor
agar pasien dapat mengespresikan
penyebab
nyeri
- (160502) mengenali lamanya obat
4. Kaji latar belakang budaya pasien

- (160503) menggunakan metode 5. Kaji pengalaman klien tentang


pencegahan nyeri

- (160504) menggunakan 6. Berikan informasi tentang nyeri


pencegahaan nonanalgetik
7. Anjurkan pasien untuk memonitor
- (160506) mencari bantuan tenaga nyeri sendiri
medis / kesehatan

- (160511) melaporkan nyeri yang

19
sudah terkontrol

Kriteria penilaian NOC

1 = Tidak dilakuakan sama sekali

2 = Jarang dilakukan

3 = Kadang dilakukan

4 = Sering dilakukan

5 = Selalu dilakukan
3 Nutritional status : Nutrien intakeNutrition managemen (1100)
(1009)
1. Kaji adanya alergi makanan

Setelah dilakukan tindakan Asuhan 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk

keperawatan selama 3 x 24 jam di menentukan jumlah kalori dan

harapkan kebutuhan nutrien nutrisi yang dibutuhkan pasien

tercukupi dengan kriteria hasil : 3. Anjurkan pasien untuk


meningkatkan intake Fe
- (100901) cairan intake
4. Anjurkan pasien untuk
- (100902) protein intake
meningkatkan protein dan vitamin

- (100903) fat intake C

5. Berikan Substansi gula


- (100904) carbohiydrat intake
6. Berikan makanan yang terpilih
- (100905) vitamin intake
(sudah dikonsultasikan dengan ahli
gizi)
- (100906) mineral intake

7. Ajarkan pasien bagaimana menbuat


- (100907) iron intake
catatan makanan harian

20
- (100908) calcium intake

Keterangan penilaian NOC

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan
4 ANXIETY Control (1402) ANXIETY Reduktion (5820)

Setelah dilakukan tindakan Asuhan 1. Tenangkan klien

keperawatan selama 3 x 24 jam di 2. Berusaha memahami klien

harapkan cemas dapat teratasi 3. Berikan informasi tentang diagnosa


prognasli dan tindakan
Dengan kriteria hasil
4. Kaji tingkat kecemasan dan reaksi
- (140201) monitor intensitas cemas
fisik pada tingkat kecemasan

- (140202) tanda berakhirnya cemas 5. Sediakan aktifitas untuk


menurunkan ketegangan
- (140204) informasi untuk
mengurangi kecemasan 6. Bantu klien untuk mengidentifikasi
situasi yang menciptakan cemas
- (140205) rencana koping untuk
mengurangi stress 7. Tentukan klien untuk mengambil
keputusan
- (140206)gunakan strategi koping

keterangan penilaian NOC

21
1 = Tidak pernah memperlihatkan

2 = Jarang memperlihatkan

3 = Kadang memperlihatkan

4 = Memperlihatkan

5 = Selalu memperlihatkan
5 Knowladge : Disease Proses (1803) Pain managemen ( 1400)

Setelah dilakukan tindakan Asuhan 1. Mengobservasi kesiapan klien

keperawatan selama 3 x 24 jam di 2. Menentukan tingkat pengetahuan

harapkan pasien dapat mengetahui klien sebelumnya

penatalaksanaan dan proses penyakit 3. Menjelaskan proses penyakit

Dengan kriteria hasil : 4. Jelaskan secara rasional tentang


pengelolaan terapi
- (180301) family anty with disease
name 5. Anjurkan pesien untuk mencegah
atau meminimalkan efek samping
- (180302) description of disease dari penyakitnya
proses
6. Kaji pengetahuan klien tentang diet
- (180303) description of cause or yang di anjurkan
contribusing factors
7. Jelaskan tujuan diet
- (180305) description of effects of
disease

- (180308) descriptioin of minimese


disease progression

Keterangan penilain

22
1 = Tidak pernah dilakukan

2 = Jarang dilakukan

3 = Kadang dilakukan

4 = Sering dilakukan

5 = Selalu dilakukan

4. Implementasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk


mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan
disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan
yang diharapkan.

Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang
spesifik. Tahap pelaksanaan perawatan merupakan tindakan pemberian asuhan
keperawatan yang dilakukan secara nyata untuk membantu klien mencapai tujuan
pada rencana tindakan yang telah dibuat. (Nursalam, 2001 ; 63, dikutip dari Lyer,
et.al, 1996)

Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah


intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, penguasaan
keterampilan inter personal, intelektual dan teknikal, intervensi harus dilakukan
dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologi
dilindungi dan dokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan. (Gaffar,
1999 ; 65)

Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping”. (Nursalam, 2001 ; 63).

23
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga tahapan yang harus dilalui yaitu persiapan,
perencanaan dan dokumentasi.

a. Fase persiapan, meliputi:

1) Review tindakan keperawatan

2) Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan

3) Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul

4) Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan

5) Persiapan lingkungan yang kondusif

6) Mengidentifikasi aspek hukum dan etik

b. Fase intervensi:

1) Independen: Tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau


perintah dokter atau tim kesehatan lain.

2) Interdependen: Tindakan perawat yang melakukan kerjasama dengan tim


kesehatan lain (gizi, dokter, laboratorium dll).

3) Dependen: Berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan dimana


tindakan medis dilaksanakan.

c. Fase dokumentasi

Merupakan suatu pencatatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah
dilaksanakan yang terdiri dari tiga tipe yaitu:

1) Sources Oriented Records (SOR)

2) Problem Oriented Records (POR)

3) Computer Assisted Records (CAR)

(Nursalam, 2001; 53, dikutip dari Griffith, 1986)

24
Adapun kriteria yang diharapkan pada implementasi penyakit Gastritis adalah:

a. Memberitahukan kepada pasien untuk melakukan persiapan puasa pada 6 jam


pertama.

b. Mengidentifikasi  dan membatasi makanan yang dapat menimbulkan ketidak


nyamanan.

c. Menganjurkan untuk makan sedikit tapi sering sesuai indikasi.

d. Penkes kepada pasien mengenai therafi yang diberikan dan indikasi dari
pemberian obat - obatan .

e. Menyarankan untuk istirahat sebelum makan.

f. Menyarankan tirah baring dan membatasi gerak selama fase akut.

g. Memberi penjelasan tentang pentingnya makanan sehingga tidak terjadi


keragu – raguan     terhadap makanan yang dapat menyebabkan eksaserbarsi
gejala

h. Memantau respon fisiologis untuk mengindari terjadi masalah.

i. Membuat catatan perilaku seperti gelisah, mudah marah danmmudah


tersinggung.

j. Menciptakan hubungan saling percaya dengan sering melakukan komunikasi


yang terafiutik.

k. Membantu pasien melakukan latihan nafas dalam.

5. Evaluasi

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang


menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat

25
untuk memonitor “kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa,
perencanaan, dan pelaksanaan tindakan. (Nursalam, 2001 ; 71, dikutip dari
Ignatavicius & Bayne, 1994).

Evaluasi sebagai sesuatu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematik


pada status kesehatan klien. (Nursalam, 2001 ; 71, dikutip dari Griffith dan
Christensen, 1986)

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien mencapai tujuan. Hal
ini bisa dilaksanakan dengan melaksanakan hubungan dengan klien berdasarkan
respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat dapat
mengambil keputusan :

a. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan


yang ditetapkan).

b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan


untuk mencapai tujuan).

c. Meneruskan rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu


yang lebih lama untuk mencapai tujuan).

(Nursalam, 2001 ; 71, dikutip dari Iyer et. al, 1996)

Ada 2 komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu :

a. Proses (Formatif)

Adalah evaluasi yang dilaksanakan segera setelah perencanaan keperawatan


dilaksanakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan.

b. Hasil (Sumatif)

Adalah evaluasi yang dapat dilihat pada perubahan perilaku atau status kesehatan
klien pada akhir tindakan perawatan klien.

(Nursalam, 2001 ; 74, dikutip dari Iyer et. al, 1996)          

26
Komponen evaluasi dapat dibagi menjadi 5 yaitu:

a. Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi.

b. Mengumpulkan data mengenai keadaan klien terbaru.

c. Menganalisa dan membandingkan data terhadap kriteria dan standar.

d. Merangkum hasil dan membuat kesimpulan.

e. Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan kesimpulan.

( Nursalam, 2001 ; 74, dikutip dari Pinnell & Meneses, 1986 )

Adapun kriteria yang diharapkan pada evaluasi penyakit Gastritis adalah:

a. Gangguan rasa nyeri berkurang.

b. Tidak terjadi iritasi berlanjut.

c. Kebutuhan nutrisi teratatasi.

d. Tidak terjadi penurunan berat badan.

e. Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya.

f. Klien mampu memecahkan masalah dengan menggunakan sumber yang efekrif.

BAB III

PENUTUP

3.1. Simpulan

27
Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut
atau kronik, diffus atau lokal. Menurut penelitian, sebagaian besar gastritis
disebabkan oleh infeksi bacterial mukosa lambung yang kronis. Selain itu beberapa
bahan yang sering dimakan dapat mennyebabkan rusaknya sawar mukosa pelindung
lambung.
Proses terjadinya gastritis berawal dari konsumsi makanan. Bahan-bahan
makanan, minuman, obat maupun zat kimia yang masuk kedalam lambung
menyebabkan iritasi atau erosi pada mukosanya sehingga lambung kehilangan barrier
(pelindung). Selanjutnya terjadi peningkatan difusi balik ion hidrogen. Gangguan
difusi pada mukosa dan penngkatan sekresi asam lambung yang meningkat / banyak.
Asam lambung dan enzim-enzim pencernaan. Kemudian menginvasi mukosa
lambung dan terjadilah reaksi peradangan. Demikian juga terjadi peradangan
dilambung karena invasi langsung pada sel-sel dinding lambung oleh bakteri dan
terinfeksi. Peradangan ini termanifestasi seperti perasaan perih di epigastrium, rasa
panas / terbakar dan nyeri tekan. Spasme lambung juga mengalami peningkatan
diiringi gangguan pada spinkter esophagus sehingga terjadi mual-mual sampai
muntah. Bila iritasi / erosi pada mukosa lambung sampai pada jaringan lambung dan
mengenai pembuluh darah. Sehingga kontinuitasnya terputus dapat mennimbulkan
hematemesis maupun melena.

Gastritis diklasifikasikan menjadi Gastritis Superfisialis Akut, yang


didefinisikan sebagai suatu peradangan permukaan lambung yang akut dengan
kerusakan-kerusakan erosi, dan yang kedua adalah gastritis atropik kronik, yaitu suatu
peradangan bagian permukaan lambung yang menahun. Gastritis ini ditandai oleh
artrofi progesif epitely.

3.2 Saran

Untuk menghindari dan mencegah gastritis ini diharapkan agar menjaga konsumsi
dan pola asupan nutrisinya sehingga mencegah adanya kerusakan jaringan lambung
dan infeksi bakteri pada lambung

28
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes M.E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC.

Hadi, Sujono. (1999). Gastroentrologi. Jakarta : Penerbit Alumni.

Inayah. Lin. (2004). Asuhan Keperawatan Pada Klien denagn gangguan sistem

Masjoer, Arif dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI

Nurarif, Amin Huda. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan diagnose Medis dan
Nanda Nic-Noc. Jogjakarta : Mediaction
Price, Sylvia A. Wilson, L. M. (1994). Patofisiologi Konsep Proses Penyakit, edisi 4, Alih
Bahasa Peter Anugrah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran  EGC.

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica
Ester, Yasmin asih. Jakarta : EGC.

Underwood, J. C. E. (1996). Patologi Umum dan Sitemik, edisi 2. Jakarta : EGC.

Wilkinson, Judith M.  (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC

http://www.indofarma.co.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=27&Itemid=125

https://nurhayatiakperrsijumj.files.wordpress.com/2013/11/makalah-gastritis.pdf

Saferi, wijaya. 2013.KMB 1. Yogyakarta : Nuha Medika

29