0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan9 halaman

Email:: Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

Jurnal ini membahas pengalaman verbal abuse yang dialami anak usia sekolah oleh keluarga di Kota Semarang. Penelitian kualitatif ini melibatkan 3 anak dan menunjukkan bahwa anak-anak mengalami bentakan, teguran, dan ucapan tidak pantas dari orang tua yang berdampak pada perkembangan psikologis mereka. Tingkat kekerasan terhadap anak di Kota Semarang meningkat setiap tahunnya.

Diunggah oleh

Dina Rista
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan9 halaman

Email:: Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

Jurnal ini membahas pengalaman verbal abuse yang dialami anak usia sekolah oleh keluarga di Kota Semarang. Penelitian kualitatif ini melibatkan 3 anak dan menunjukkan bahwa anak-anak mengalami bentakan, teguran, dan ucapan tidak pantas dari orang tua yang berdampak pada perkembangan psikologis mereka. Tingkat kekerasan terhadap anak di Kota Semarang meningkat setiap tahunnya.

Diunggah oleh

Dina Rista
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.

1 Maret 2017

PENGALAMAN VERBAL ABUSE OLEH KELUARGA


PADA ANAK USIA SEKOLAH DI KOTA SEMARANG

Iin Armiyanti1), Khusnul Aini2), Rista Apriana 3)


1,2,3
Progam Studi Ners STIKES Widya Husada Semarang

Jl. Subali Raya No.12 KrapyakSemarang, Telp 024-7612988-7612944


Email: Iinarmiyanti95@gmail.com, 1khusnul.aini@gmail.com, Rista_apriana@yahoo.com

ABSTRACT
Verbal abuse are all forms of speech acts that have the character of insulting,
snarling, cursing and scare by issuing inappropriate words. This research uses
qualitative method with phenomenology approach and involves 3 paticipant. This
study shows the experience of life experienced by school-age children are verbal
abuse in the form of snapped, scolded and issued inappropriate words that should
not be spoken by parents. Verbal abuse experience by families in school-aged
children. Verbal absue done by parents affects the child’s psychological
development. Parents should be more careful in attitude and when
communicating. Because children as imitators of parents, then it is better choose
which one is appropriate to say and show to the child.
Keywords: Experience, family, school-aged, verbal abuse.

ABSTRAK
Kekerasan kata-kata adalah semua bentuk tindakan ucapan yang mempunyai sifat
menghina, membentak, memaki, dan menakuti dengan mengeluarkan kata-kata
yang tidak pantas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi dan melibatkan 3 partisipan. Hasil Penelitian ini
menunjukan adanya pengalaman hidup yang dialami anak usia sekolah yaitu
kekerasan verbal yang berupa dibentak, dimarahi, dan mengeluarkan kata-kata
yang tidak pantas yang seharusnya tidak diucapkan oleh orang tua. Pengalaman
verbal abuse yang didapatkan keluarga pada anak usia sekolah. Verbal abuse
yang dilakukan oleh orang tua berdampak pada perkembangan psikologis anak.
Diharapkan penelitian ini dapat dilakukan kembali dengan lebih mendalami
pengalaman hidup seseorang lebihh dalam lagi agar penelitian ini bisa lebih baik
lagi.
Kata Kunci: Anak usia sekolah, keluarga, pengalaman, verbal abuse.

12
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

PENDAHULUAN menerima sebanyak 622 laporan


Anak usia sekolah 6-12 tahun kasus kekerasan terhadap anak sejak
merupakan masa-masa pembentukan Januari hingga April 2014 dalam
jati diri seorang anak. Pada masa- kekerasan fisik, kekerasan psikis dan
masa ini anak rentan bersikap keras kekerasan seksual. Kekerasan
kepala, egois, melawan dan emosional sebanyak 12 kasus.
memberontak dari peraturan- Menurut penelitian, di
peraturan yang diberikan orang tua Indonesia sendiri masih sedikit data
dengan tujuan memperoleh yang bisa menjelaskan mengenai
kebebasan serta rasa ingin tahu. Oleh angka kejadian kekerasan verbal
karena itu banyak orang tua yang karena orang tua sebagai pelaku
merasa anaknya sangat sulit diatur tidak menyadari bahwa orang tua
dan secara tidak sadar melakukan pernah melakukan kekerasan verbal
tindakan kekerasan kepada anaknya kepada anak serta orang tua kurang
baik secara fisik maupun verbal. mengetahui dampak yang diperoleh
Orang tua tidak banyak mengetahui anak dalam jangka panjang (Eunike
bahwa anak juga mempunyai hak & Kusnadi, 2009). Tercatat 51%
dan kewajiban sesuai yang tercantum anak mengalami kekerasan
dalam Undang-Undang Perlindungan dikeluarga sementara itu 28,6% anak
Anak No. 23 Tahun 2002 pasal 4 mengalami kekerasan di lingkungan
sampai dengan pasal 19. Kekerasan sekolah dan 20,4% anak pernah
pada anak meliputi berbagai macam mengalami kekerasan di lingkungan
bentuk tingkah laku dari tindakan masyarakat (Data KPAI, 2014).
ancaman fisik secara langsung oleh Data di Kota Semarang
orangtua atau orang dewasa. menurut Pusat Pelayanan Terpadu
Kekerasan pada anak Seruni (PPT) tingkat kekerasan
biasanya terjadi dalam keluarga dan terhadap anak di kota Semarang di
dilakukan oleh orang tua selama laporkan setiap tahunnya mengalami
proses pengasuhan. Hal ini peningkatan. Di tahun 2012 angka
disebabkan orang tua sebagai pelaku kekerasan anak di kota Semarang
tidak menyadari bahwa orangtua mencapai 48 kasus, tahun 2013 naik
pernah melakukan kekerasan menjadi 53 kasus, pada tahun 2014
terhadap anak. Kekerasan pada anak angka kekerasan anak masih
meliputi empat macam yaitu meningkat mencapai 55 kasus dan di
kekeraan fisik, seksual, neglect tahun 2015 meingkat lagi menjadi 75
(pengabaian) dan verbal atau kasus yang sebagian besar anak usia
emosional (WHO, 2006). 6-12 tahun masih berada di bangku
Berdasarkan catatan KPAI Sekolah Dasar (Suara Merdeka,
angka kekerasan pada anak 2015).
menunjukan angka kenaikan. Pada Berdasarkan data di atas
tahun 2011 tercatat ada 261 kasus kekerasan pada anak yang seringkali
kekerasan anak. Dan KPAI mencatat tidak disadari oleh orang tua yaitu
dalam 4 tahun terakhir kasus kekerasan verbal. Kekerasan verbal
kekerasan terhadap anak tertinggi adalah penganiayaan emosi maupun
pada tahun 2013 dengan jumlah perlakuan menyakiti emosional anak
kasus sebanyak 1.615. KPAI secara terus menerus sehingga

13
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

menyebabkan pengaruh buruk dan SD Negeri 02 Ngaliyan Semarang”.


terus menerus pada perkembangan Tujuan penelitian ini adalah untuk
emosional anak, yang meliputi mengetahui pengalaman verbal
penggunaan bahasa yang abuse anak usia sekolah.
mengandung arti bahwa anak tidak
berharga atau tidak disayang, tidak METODE PENELITIAN
cakap, dan semua yang Jenis penelitian yang
menggambarkan harapan orang tua digunakan dalam penelitian ini
yang tidak sesuai dengan usia anak adalah penelitian kualititatif.
dan perkembangan anak, sampai Penelitian kualitatif adalah prosedur
kepada pengabaian dan penelantaran penelitian yang menghasilkan data
kebutuhan-kebutuhan dasar anak deskriptif berupa kata-kata tertulis
(M.Ihsan, 2013). atau lisan dari orang-orang dan
Kekerasan verbal terhadap perilaku yang dapat diamati (Boglan
anak akan menumbuhkan sakit hati dan Taylor dalam Meleong, 2007).
hingga membuat anak berpikir Sedangkan rancangan penelitian
seperti yang kerap diucapkan oleh yang digunakan adalah pendekatan
orang tuanya. Jika orangtua berkata fenomenologi.
anak bodoh atau jelek, maka anak Pendekatam fenomenologi
akan menganggap dirinya demikian. dipilih karena penelitian ini
Anak akan meniru perilaku dari bertujuan memahami subjek dalam
orang yang lebih dewasa, jika dunia pengalamannya. Penelitian
mereka terpapar dengan perilaku fenomenologi menggambarkan
atau ucapan yang kasar maka anak makna pengalaman subjek akan
akan melakukan hal yang sama fenomena yang sedang di teliti
kepada orang lain, dan hal itu akan (Saryono, 2013).
selalu diingat (Choirunnisa, 2008). Teknik yang digunakan untuk
Hasil wawancara di SD menentukan sampel pada populasi
Negeri 02 Ngaliyan Semarang tersebut adalah purposive sampling,
terhadap anak usia Sekolah Dasar, 3 yaitu teknik penentuan sampel
orang anak memiliki orang tua yang dengan pertimbangan tertentu sesuai
galak dan sering membentak. yang dikehendaki peneliti. Kriteria
Biasanya hal tersebut didapatkan sampel yang digunakan adalah anak
anak saat mereka melakukan usia sekolah (6-11 tahun) Sampel
kesalahan, susah untuk diatur, pada penelitian ini adalah 3 orang
rendahnya motivasi belajar dan lupa karena sudah mencapai saturasi data.
waktu ketika mereka bermain. Pada penelitian ini, peneliti
Perilaku si anak yang susah diatur mengumpulkan data dengan cara
sering membuat orang tua secara melakukan interview langsung
tidak sadar melakukan kekerasan dengan partisipan dan menggunakan
verbal yang terkadang disertai teknik pengumpulan data berupa
kekerasan fisik. Berdasarkan wawancara mendalam (in-depth
fenomena yang ditemukan, peneliti interview). Informasi yang
tertarik melakukan penelitian dengan disampaikan oleh partisipan dibuat
judul “Pengalaman verbal abuse oleh menjadi transkrip wawancara lalu
keluarga pada anak usia sekolah di mencari kata kunci dari transkrip

14
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

tersebut. Kata kunci yang didapat mengatakan karena hal sepele. Hal
dikumpulkan kemudian di- ini sesuai dengan pendapat partisipan
kategorikan untuk membentuk tema. yaitu “ya karna tidak belajar dan
Tema yang dihasilkan kemudian bertengkar (P1)”, ya mungkin
disajikan dalam bentuk narasi yang waktunya belajar aku lupa (P2)”,
didukung oleh data hasil dari “kenapa sih mamah marah terus
penelitian berupa penuturan dari padahal gara-gara masalah sepele
partisipan. Informasi yang telah (P3)”
didapat kemudian di Uji Validitas
dengan menggunakan Triangulasi Tema 3 Respon anak usia sekolah
dan perpanjang pengamatan. saat mendapatkan verbal abuse
Pengujian validitas ini dilakukan Dari ketiga partisipan mengatakan
dengan cara kembali lagi ke hal yang sama yaitu respon
partisipan dengan menayakan hal emosional partisipan sedih. Hal ini
yang sama dan partisipan sesuai dengan jawaban partisipan
mengulangi kembali dengan jawaban yaitu “ya sedih kak (P1)”, “ya
yang sama dari wawancara sedihnya tu kenapa sering dimarahi
sebelumnya. sama mamah (P2)”, “ya sedih (P3)”.
Namun untuk jawaban respon
perilaku 2 partisipan mengatakan hal
HASIL PENELITIAN
sama yaitu menangis dan 1 partisipan
mengatakan mendengarkan. Hal ini
Partisipan dalam penelitian
sesuai dengan pendapat partisipan
ini berjumlah 3 murid yang sedang
yaitu “mendengarkan kak (P1)”, “ya
duduk di bangku kelas 5 SD dan
terus nangis sendiri kalo pas
berusia (6-11 tahun) di SD Negeri 02
dimarahi mamah ya nangis takut
Ngaliyan Semarang. Partisipan 1
(P2)”, “nangis kak (P3)”.
yaitu An.Y berjenis kelamin laki-
laki, partisipan 2 An. S berjenis
kelamin perempuan, partisipan 3 An. Tema 4 cara/bentuk verbal abuse
Dari ketiga partisipan dua lainnya
N berjenis kelamin perempuan.
mengatakan mendapatkan perlakuan
Peneliti telah mengidentifikasi yang
intimidasi berupa dibentak hal ini
terdiri dari 5 tema, 12 kategori dan
sesuai dengan pendapat partisipan
29 kata kunci.
yaitu “bentaknya agak keras
mungkin ada kata-kata yang bikin
Tema 1 Pelaku verbal abuse
Dari ketiga partisipan semuanya kepikiran gitu (P2), “ya kadang kalo
mengatakan pelaku verbal abuse pas marah sukanya bentak (P3)”.
yaitu ibu. “ibu (P1)”, “mamah, ayah Untuk kategori merendahkan anak
pernah sih marah tai gak tiap hari tiga dari 2 partisipan mengatakan hal
(P2), “kadang paling galak mamah yang sama yaitu mencela anak yaitu
(P3)”. “kamu kok nakal to (P1), “kamu tu
gimana to jahilin adkmu terus, kamu
kok nakal to (P3)”.
Tema 2 Penyebab verbal abuse
Dari ketiga partisipan 2 partisipan
mengatakan karena tidak belajar dan Tema 5 akibat/dampak verbal
bertengkar namun 1 partisipan abuse

15
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

Dari ketiga partisipan mengatakan sering diperoleh dari keluarga dan


mempunyai kategori perilaku malas dilakukan oleh orang tua selama
belajar dan agresif. Hal ini sesuai proses pengasuhan. Selama proses
dengan pendapat partisipan yaitu tersebut tidak sedikit orang tua yang
“bertengkar sama temen gara-gara tanpa sadar telah melakukan hal-hal
bercanda ejek-ejekan (P1)”, “ya negatif pada anak yang terlihat dalam
waktunya belajar aku lupa (P2), “ya bentuk kekerasan verbal (Fatabura,
paling mainan tablet jadi males 2009).
belajar (P3)”. Kategori selanjutnya yang
digunakan dalam mengidentifikasi
PEMBAHASAN pelaku verbal abuse yaitu frekuensi
Berdasarkan hasil wawancara mendapatkan verbal abuse.
dengan semua partisipan bahwa Berdasarkan hasil wawancara dengan
menurut anak usia sekolah pelaku partisipan bahwa mereka mengalami
dari verbal abuse sendiri yaitu ibu. verbal abuse dua partisipan
Kejadian tindak kekerasan verbal mengatakan setiap minggunya
oleh ibu dengan emosi matang dapat mendapatkan verbal abuse, selain itu
disebabkan oleh adanya mekanisme 1 partisipan mengatakan hampir
koping maladaptif yang digunakan setiap hari mengalami verbal abuse.
ibu dalam menghadapi masalah. Sesuai dengan teori (KBBI, 2005),
Mekanisme koping tersebut berupa pengalaman diartikan sebagai
mekanisme koping represi, yaitu sebagai sesuatu yang pernah dialami
penekanan emosi yang tidak sadar (dijalani, dirasai, ditanggung). Saat
terhadap pikiran, impuls yang seseorang mendapatkan pengalaman
menyakitkan atau bertentangan yang maka akan mengalami sebuah
terjadi di masa lalu. peristiwa, perasaan, emosi,
Pengalaman tersebut terekam penderitaan, pengetahuan dan
kuat dalam ingatan ibu, sehingga kemampuan untuk menjalankan
ketika hal yang sama dengan masa sesuatu yang muncul atau terjadi di
lalunya terjadi, ibu akan melakukan kehidupan dan dapat menjadikan
tindakan atau respon seperti perubahan perilaku dari seseorang.
pengalaman yang dialaminya yaitu Jika anak mengalami verbal abuse
mengungkapkan emosi dengan secara terus menerus atau dalam
ekspresi verbal. Adapun ekspresi frekuensi yang cukup lama dan
verbal yang diungkapkan ibu ketika dilakukan oleh orang tua hanya akan
marah dapat dilakukan secara membuat anak mengulangi perilaku
spontan dengan mengeluarkan kata- yang sama kepada teman-teman
kata yang tidak baik seperti mereka dan anak-anaknya nanti.
membentak, memarahi, menghardik, Dengan kata lain banyaknya anak
memaki, dan merendahkan anak yang tidak segan mengucapkan kata-
(Indah, 2014). kata kasar kepada orang tua mereka
Hal ini diperkuat oleh Hude sendiri dikarenakan mempelajari itu
(2006) yang menyatakan bahwa dari orang tua mereka.
emosi lebih mudah diungkapkan Berdasarkan hasil wawancara
dengan ekspresi verbal. Kekerasan dengan partisipan ditemukan
verbal yang terjadi pada anak lebih penyebab verbal abuse meliputi

16
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

tidak disiplin dan menyalahkan si wawancara dengan partisipan


anak. Kategori pertama yaitu faktor didapatkan hasil untuk kategori yaitu
anak yang digunakan untuk respon emosional partisipan
mengidentifikasi penyebab saat cenderung mengatakan bahwa saat
mengalami verbal abuse yaitu 2 terjadinya verbal abuse merasakan
partisipan mengatakan tidak disiplin respon emosional sedih. Hal ini
seperti tidak belajar dan sering sesuai dengan penelitian yang
bertengkar, waktu belajar lupa kalau dilakukan oleh Arsih (2010)
waktunya makan malah baca. menunjukkan bahwa pengalaman
Kategori kedua yaitu faktor orang tua ketika mendapatkan perlakuan
yang digunakan untuk kekerasan atau kata-kata verbal
mengidentifikasi penyebab saat abuse, perasaan ketika mendapatkan
mengalami verbal abuse yaitu 1 perlakuan tersebut yaitu bagi anak
partisipan mengatakan bahwa orang usia sekolah adalah perasaan sedih,
tua menyalahkan si anak seperti dendam dan ingin membalas.
partisipan mengatakan kenapa Kategori kedua yaitu respon
mamah marah terus ke aku padahal perilaku 3 partisipan mengatakan
gara-gara hal sepele. ketika mengalami verbal abuse yaitu
Hal ini sesuai dengan 2 partisipan mengatakan respon
penelitian Munawati (2011) yakni perilaku yang tidak disadari yaitu
kekerasan verbal yang terjadi pada menangis. Namun penelitian (Sri,
anak juga dikarenakan karakter yang 2012) menjelaskan bahwa respon
dimiliki orang tua sesuai dengan anak saat mendapatkan verbal abuse
teori yang dikemukakan penelitian yaitu menghiraukan orang yang
terdahulu yang disusun oleh melakukan verbal abuse dan ingin
Munawati bahwa semua tindakan membantah.
kepada anak, direkam dalam alam Cara/bentuk verbal abuse
bawah sadar mereka dan dibawa kategori pertama yang digunakan
sampai masa dewasa. Anak yang untuk mengidentifikasi cara/bentuk
mendapatkan perilaku kejam dari verbal abuse adalah intimidasi yang
orang tuanya menjadi agresif dan meliputi membentak dan memarahi.
setelah menjadi orang tua akan Seperti dari hasil wawancara dengan
memiliki karakter sama dengan yang partisipan yaitu tiga partisipan
orang tua didikan. Verbal Abuse mengatakan saat mengalami verbal
dapat terjadi setiap harinya di rumah, abuse oleh keluarga pada anak usia
rumah yang seharusnya tempat sekolah dengan cara/bentuk
teraman dan tempat berlindung bagi membentak dan dimarahi. Kategori
anak-anak tidak lagi menjadi tempat kedua yang digunakan untuk
yang nyaman. mengidentifikasi cara/bentuk verbal
Respon saat mendapatkan abuse yaitu merendahkan anak. Hal
verbal abuse. Berdasarkan hasil yang sama juga diungkapkan
wawancara dengan partisipan Hidayat (2007) verbal abuse ini juga
ditemukan bahwa verbal abuse dapat seringkali ditandai dengan kecaman
memberikan respon emosional dan kata-kata yang merendahkan anak,
respon perilaku saat kejadian verbal atau tidak mengakui sebagai anak.
abuse berlangsung. Dari hasil Akibat yang lebih parah lagi,

17
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

keadaan ini dapat berlanjut dengan jangka panjang yang terjadi dari
melalaikan anak, mengisolasikan kekerasan verbal pada anak adalah
anak dari lingkungannya/hubungan menimbulkan rantai kekerasan pada
sosialnya, atau menyalahkan anak keluarga. Hasil tersebut sesuai
secara terus menerus yang meliputi dengan hasil penelitian terkait yang
membuat perbedaan negatif pada sudah dilakukan oleh Munawati,
anak dan mencela anak. yaitu akibat lain dalam jangka
Akibat/dampak verbal abuse panjang yaitu anak yang
Berdasarkan hasil wawancara dengan mendapatkan kekerasan verbal dapat
partisipan ditemukan akibat/dampak melakukan hal yang sama kelak
verbal abuse meliputi gangguan kemudian hari terhadap anak-
emosi, pemalu, agresif, malas anaknya saat mereka menjadi orang
belajar. Hal ini sesuai dengan teori tua. Hal ini terjadi karena esensinya
(Lestari, 2006) yang menyebutkan anak-anak merupakan peniru ulung
bahwa akibat dari verbal abuse yaitu (Munawati, 2011).
anak menjadi agresif seperti
komunikasi yang negative KESIMPULAN DAN SARAN
mempengaruhi perkembangan otak Kesimpulan
anak, anak akan selalu dalam Hasil penenelitian yang telah
keadaan terancam dan menjadi sulit dilakukan dilihat dari tujuan
berfikir panjang sehingga sikap yang penelitian tersebut yaitu untuk
timbul hanya berdasarkan insting mengetahui Pengalaman verbal
tanpa pertimbangn terlebih dahulu. abuse oleh keluarga pada anak usia
Akibatnya anak berperilaku agresif. sekolah di SD Negeri 02 Ngaliyan
Verbal Abuse biasanya tidak Semarang, diperoleh suatu
berdampak secara fisik kepada anak, kesimpulan bahwa pengalaman
tetapi dapat merusak anak beberapa verbal abuse oleh keluarga pada
tahun ke depan. Verbal Abuse yang anak usia sekolah seringkali
dilakukan orang tua menimbulkan dilakukan oleh orang terdekat
luka lebih dalam pada kehidupan dan khususnya ibu. Pengalaman anak
perasaan anak melebihi perkosaan. usia sekolah ketika mendapatkan
Menurut Soetjiningsih (2002), kekerasan kata-kata (verbal abuse)
dampak-dampak psikologis akibat adalah mengatai bodoh, nakal,
kekerasan verbal pada anak mencaci maki, marah-marah,
diantaranya adalah anak menjadi membentak si anak dan ucapan yang
tidak peka dengan perasaan orang kasar. Kekerasan kata-kata (verbal
lain. abuse) ini dilakukan oleh orang tua,
Selain itu, verbal abuse juga teman bahkan guru.
dapat berdampak pada anak menjadi Frekuensi dan lamanya anak
agresif, gangguan emosi, usia sekolah saat mengalami
perkembangan sosial terganggu, perlakuan verbal abuse rata-rata
Kepribadian sociopath atau mengatakan sudah mengalami sejak
antisocial personality disorder, dan lama dan kapan pastinya kejadian
menciptakan lingkaran setan dalam tersebut berawal. Namun ada pula
keluarga. Hal yang sama juga yang mengatakan bahwa pernah
diungkapkan pada penelitian dampak mengalami verbal abuse saat kelas 3

18
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

SD. Berbagai macam respon anak dari segala bentuk kekerasan baik di
usia sekolah ketika mendapatkan rumah, di sekolah maupun
verbal abuse adalah ketiga anak lingkungan. Serta memberikan
tersebut merasakan sedih, menangis contoh berbicara yang baik tanpa
dan merasa takut. Dampak dari kekerasan verbal.
kekerasan verbal abuse yang dialami
oleh anak usia sekolah dalam Bagi penelitian selanjutnya terkait
kehidupan sehari-hari adalah dampak permasalahan anak usia sekolah
jangka panjang, anak menjadi agresif dengan pengalaman kekerasan kata-
atau mudah bertengkar dengan kata (verbal abuse) adalah sesuatu
teman, anak menjadi tidak percaya yang menarik dan kompleks
diri dan malas belajar. diharapkan dalam penelitian
selanjutnya dapat menggali
Saran pengalaman hidup seseorang lebih
Bagi masyarakat dan orang dalam lagi dengan metode kualitatif
tua diharapkan mampu menambah dengan pendekatan fenomenologi
pengetahuan parenting, serta orang sehingga dapat dinilai dengan lebih
tua mampu menghindari kata-kata baik lagi. Bagi Perawat diharapkan
kasar dan dapat memilah-milih mampu bekerja sama dengan
komunikasi kata-kata yang baik pada lingkungan maupun masyarakat luas
anak. Hal ini dilakukan sehingga khusunya bagi orang tua serta
tidak terjadi kekerasan kata-kata memberi informasi dan pengetahuan
(verbal abuse) pada anak-anak yang tahapan perkembangan anak, pola
nantinya akan berdampak buruk bagi pengasuhan dan komunikasi yang
anak. baik terhadap anak. Sehingga tidak
Bagi Institusi Pendidikan memicu adanya kekerasan verbal
diharapkan hasil peneitian ini dapat oleh keluarga.
dijadikan sebagai referensi dan
informasi tambahan mengenai teori DAFTAR PUSTAKA
verbal abuse yang seringkali terjadi Arsih, F.Y. 2010 “Study
namun tidak disadari oleh orang tua. Fenomenologis kekerasan
Selanjutnya bagi guru dapat kata-kata (verbal abuse)
memberikan pemahaman kepada pada Remaja”. Skripsi.
guru maupun orang tua bahwa Semarang. Universitas
pengalaman mendapatkan kekerasan Diponegoro.
kata-kata (verbal abuse) saat masih Choirunnisa. 2008. Dampak
kecil akan mempengaruhi kekerasan verbal pada anak.
perilakunya saat menjadi orang tua, Diambil dari okezone online.
sehingga di-harapkan orang tua atau Diaskes dari
guru mampu memilih kata-kata yang http://m.okezone.com
tepat saat berkomunikasi dengan Dawis, H. 2006. Emosi-Penjelajahan
anak agar verbal absue kelak tidak Religio-Psikologis tentang
terulang kembali pada generasi Emosi Manusia dalam Al
selanjutnya. Guru bekerjasama Qur’an . Jakarta: Erlangga.
dengan orang tua dalam proses Fataruba, P.N, Purwatiningsih, S &
pendidikan anak dan menjaga anak Wardani, Y. (2009).

19
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 12, No.1 Maret 2017

Hubungan pola asuh Munawati. (2011). Hubungan Verbal


dengan kejadian kekerasan Abuse dengan Perkembangan
terhadap anak usia sekolah Kognitif pada Anak Usia
(6-18 tahun) di kelurahan Prasekolah di RW 04
Dufa- Dufa kecamatan Kelurahan Rangkapan Jaya
Ternate Utara. Baru Depok Tahun 2011.
Skripsi. Jakarta. Universitas
Hidayat, A.Z. 2007. Metode Pembangunan “Veteran”.
Penelitian Kesehatan dan Saryono. 2013. Metodologi
Teknik Analisis Data. Penelitian Kualitatif dan
Jakarta. Salemba Medika. Kuantitatif dalam Bidang
Utami, I. (2014). Hubungan Kesehatan. Yogyakarta:
Kematangan Emosi Ibu Nuha Medika.
dengan Kekerasan Fisik dan Kupartiningsih, S. (2012). Hubungan
Kekerasan Verbal pada anak antara verbal abuse orang tua
Usia Sekolah di SD N 11 dengan perilku agresif pada
Indramayu. Universitas remaja agreisf di SMP 129
Sriwijaya. Jakarta. Skripsi. Universitas
Ihsan. 2013. Perlindungan Anak dari Negri Islam Syarif
Tindak kekerasan. Jurnal In Hidaatullah.
google scholar.com [serial Tim Penyusun Kamus Bahasa
online] 19 Desember 2016. Indonesia Pusat. 2008.
Lembaga Mitra KPAI. 2014. In Kamus Besar Bahasa
google.com [serial online] Indonesia. Jakarta:
URL:http:/www.kpai.go,id. Departemen Pendidikan
Diakses 02 Januari 2017. Nasional Balai Pusaka
Meleong, L. 2007. Metodologi WHO. 2006. Kekerasan Pada Anak.
Penelitian Kualitatif, Edisi Bandung: Penerbit Nuansa.
Revisi. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

20

Anda mungkin juga menyukai