Anda di halaman 1dari 5

SINOPSIS “YOU DO’T KNOW JACK”

Dr. Jack yang membuka praktek eutanasia bagi pasien yang sudah
tidak kuat menahan sakit yang di deritanya. Jack melihat
ketidakadilan bagi pasien untuk menentukan dia mati atau tidak.
Bagi Jack, eutanasia adl jalan paling manusiawi bagi pasien untuk
lepas dari penderitaannya scr terhormat daripada menahan
penderitaannya sampai meninggal. Pada zaman itu, eutanasia di AS
masih dianggap tabu dan pelakunya masih dianngggap sbg
pembunuh. Dalam menjalankan prakteknya jack melakukan
pendekatan dan pertimbangan yg lebih mendalam. Sbg dr yang
berpengalaman, ia tahu siapa yg pantas untuk dapat pertolongannya.
Krn kegiatannya, ia kerap kali berhadapan dgn hukum, media dan
publik. Tetapi tak sedikit pula yang mendukungnya, termasuk
keluarga dan teman-temannya.
Dr. Jack sudah melakukan eutanasia sebanyak 130x. Dr jack hanya
menyediakan alat-alatmya, pasien sendiri yang mencabut jepitan gas
beracun. Karena awalnya dr jack maishtakut pada hukum. Akhir-
akhirnya dr coverkian meminta ke mahkamah agung untuk minta
diskusi besar-besaran tentnag eutanasia dilegalkan/tidak. Eutanasia
yng dimaksud adalah eutanaisa yang secara pasif. Diskusi tersebut
disiarkan di tv tv, hal tersebut menyebabkan pro dan kontra. Suatu
hari beliau menyuntukkan secara langsung untuk membuat pasien
mati, hal tersbeut membuat jack diseret ke pengadilan. Di
pengadilan dr koverkian tidak didampingi oleh pengacara hebatnya,
akhirnya beliau kalah di pengadilan.
Sebelum-sebelumnya, dr jack sudah berkali-kali masuk ke
pengadilan, tapi menang terus karena belum ada landasan hukum
juga yang mengatur tentang eutanasia. Beliau juga selalu membekali
diri dengan wawancara pasien atas kesediaannya untuk di eutanesia
dan merekamnya, itu yg jadi senjata beliau selalu menang. Suatu hari
beliau melakukan eutanasia scr aktif yg menyebabkan beliau kalah di
pengadilan. Sebelumnya2nye beliau meng-eutanasia pasien pake
potasium klorida, di akhir2 beliau menghemat zat tersbeut karena
jumlahnya yang terbatas.

A. Klarifikasi
1. Euthanasia : Kematian yang baik. Mati dalam
keadaan tenang atau senang, kematian yang mudah atau
tanpa rasa sakit
2. Potasium Klorida : Garam logam halida yang terdiri dari
kalium dan klorin tidak berbau dan memiliki penampilan
kristal berwarna putih atau tidak berwarna. Di beberapa
negara bagian AS diguankan utnuk menyebabkan henti
jantung, biasanya dengan cara suntikanyang mematikan.

B. Identifikasi masalah
1. Eutanasia memiliki benefit and harm bagi pasien, dokter,
keluarga dan masyarakat. Lebih banyak benefit atau
harmnya?
Benefit : Mengakhiri kesakitan seornag oasien terminal
illness  mengakhiri penderitaan.
Harm  Eutanaisa bertentangan dengan ajaran agama,
khawatir disalahgunakan ex: mempercepat kematian
padahal sebenanya maish bisa ditangani
2. Setiap manusia punya hak unutk menentukan nasibnya
sendiri, Tetapi ada ajaran agama, norma dan hukum yang
membatasi. Sebagai manusia juga tidak sepantasnya
menentukan waktu kematian, karena skematian tergantung
tuhan.
Setiap pasien memiliki hak masing-masing(autonomi) untuk
menentukan hidupnya sendri. Eutanasia bisa jadi pilhan bagi
pasien karena sesuai dengan hak untuk hidup yang
dimilikinya. Disisi lain, eutanasia berpotensi menimbulkan
kematian dengan mudah bagi orang-orang yang ingin bunuh
diri dengan dalih eutanasia. Sehingga eutanasia harus dikajji
lebih lanjut. Disisi lain juga eutanasia dinilai tidak etis oleh
masyarakat.
3. Didalam film, dokter jack menampilkan rekaman-rekaman
wawancara sebelum pasien meninggal. Di film tidak
diceritakan apakah dr jack sudah informed consent atau
belum untuk menayangkan.
Eutanasia adalah mati dengan tenang, tapi tidak ada mati
yang tidak sakit. Jadi tetap saja autanaisa = menyakiti.
4. Penentuan hidup dan mati sesuai batas manusia masih tidak
ada batas yang jelas.
5. Dr. Jack masih menolak orang-orang yang minta eutanasia
karena bukan merupkan penyakut terminal. Apakah
termasuk melanggar autonomi pasien?

C. Moral Reasoning
1. Melanggar benefit dan harm.
2. Autonomi yang bertentangan dengan norma dan ajaran
agama
3. Privasi dan Non Maleficent

D. Different Perspective
1. POV dr. Jack :
 dr. Jack merasa ingin membantu pasien yang merasa
kesakitan akibat terminal illness
 dr. Jack juga takut terhadap hukum makanya beliau
mempersiapkan berbagai hal
 dr. Jack mendengar mengenai praktek eutanasia dari
berbagai negara. Beliau melihat hal tersebut sebagai
peluang usaha
 bersadarkan pengalaman dr. Jack melihat ibunya yang
skait terminal tapi tidak bisa menyembuhkan  men-
trigger dr. Jack supaya melakukan eutanasia
2. POV pasien :
 Pasien ada harapan karena rasa sakitnya akan segera
berakhir
3. POV keluarga pasien :
 Sangat berterimakasih kepada dr. Jack karena
memfasilitasi pasien untuk mati secraa tenang dan
terhotmat. Pada saat mati juga pasien dan keluarga bis
aberkumpul. Serta merasa lega melihat pasien tidak
kesehatn lagi.
 Merasa sedih tapi tidak bisa membantu secara nyata,
hanya bisa mendoakan
4. POV Mayarakat :
 Masyarakat hanya melihat dari satu sisi: tidak tega dan
tidak sesuai norma yang ada dimasyarakat. Namun,
sebagaian masyarakat lain juga ada yang akan setuju
dengan prsktek ini asal tidak disalah guanakan.
 Masyarakat yang setuju karena merasa dapat
meringankan beban pasien dna masyarakat.
 Masyarakat yang kontra karena seakan-akan eutanasia
itu pembunuhan karena memasukkan zat kedalam
tubuh.
5. POV penegak hukum :
 Belum adanya hukum yang mengatur tentang
eutanasia, jadi kebanyakan dari mereka berfikir bahwa
etanasia melanggar norma di masyarakat.
E. Legal Aspect
1. Pasal 338 KUHP
2. KODEKI Bab 2 Pasal 9
3. Pasal 344 KUHP
4. UU no. 39 tahun 1999 tentang HAM

F. Problem Solving and Lesson Learned


a. Problem Solving :
 Membuat peraturan perundang-undangan tentnag
eutanasia, dibuat dari pertimbanagn berbagai
perwakilan baik dari dokter, ahli hukum, ahli agama,
ahli budaya dan perwakilan masyarakat
 Penggalakan paliative care untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien dengan penyakit terminal
b. Lesson Learned :
 Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, terlebih lagi
dengan kondisi peralatan medis yang minimal, jadi
hasil akhir setelah pengobatan diserahkan kembali
kepada tuhan
 Setiap manusia punya hak-nya masing-masing, namun
karena hidup berdampingan maka harus bisa saling
menghormati.
 Meskipun memiliki hak, namun pelaksanaannya juga
harus memperhatikan norma-norma di masyarakat