Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS FARMASI

1. Buatlah 5 soal mengenai perhitungan beserta jawaban tentang mol, Molaritas,


Normalitas dan Pengenceran
2. Buatlah soal dan jawaban perhitungan mengenai titrasi asidimetri dan alkalimetri (5)
3. Ringkas lah mengenai titrasi redoks dan argentometri (2 halaman)

JAWAB
1. A. Perhitungan tentang mol
Soal No. 1
Hitunglah massa dari 0,3 mol H2SO4! (Ar H = 1; S = 32; O = 16)
Pembahasan:
Diketahui : n H2SO4 = 0,3 mol
Mr H2SO4 = Ar H + Ar S + Ar O
= (2 x 1) + (1 x 32) + (4 x 16)
= 98

Ditanyakan : massa H2SO4 ….?


Jawaban :
n = massa/Mr
massa = n x Mr
massa = 0,3 x 98 = 29,4 gram

Soal No. 2
Hitunglah massa dari 0,2 mol Al!
Pembahasan:
Diketahui : n Al = 0,2 mol
Ar Al = 27 Mr=27

Ditanyakan: massa Al ….?


Jawaban:
n = massa/Ar
massa = n x Ar
massa = 0,2 x 27 = 5,4 gram.

Soal No. 3
Berapa volume dari 2 mol gas O2 dalam keadaan standar?
Pembahasan:
Diketahui : n O2 = 2 mol
Volume 1 mol zat (zat apapun itu) = 22,4L

Ditanyakan : V O2 …?
Jawaban :
n = V/22,4
V = n x 22,4
V = 2 x 22,4
= 44,8 L
Soal 4
Tentukan jumlah mol senyawa NaCl 106 gram jika diketahui Ar Na = 23 dan Ar Cl = 35 !

Pembahasan
Diketahui : massa NaCl = 106 gram
Ar Na= 23, ArCl=35
Maka Mr NaCl = Ar Na +Ar Cl
= 23 + 35
=58
Ditanya : mol NaCl....?
Jawaban ;
n= massa / Mr
= 106/58
=1,8 mol

Soal 5
Tentukan massa dari 0,1 mol CO(NH2)2 , jika diketahui Ar C = 12 , Ar O =16 , dan Ar N
= 14 dan Ar H = 1

Pembahasan
Diketahui : mol CO(NH2)2 = 0,1mol
Ar C= 12, ArO=16, Ar N=14, Ar H=1
Maka Mr CO(NH2)2 = Ar C+ Ar O+ ArN + Ar H
= (1x12)+(1X16)+(2x14)+(4x1)
= 60

Ditanya : massa CO(NH2)2....?


Jawaban ;
n= massa / Mr
massa= nxMr
massa= 0,1 x 60
massa= 6 gram

B. Perhitungan Molaritas
Soal 1
Sebanyak 98 gr H2SO4 dilarutkan dalam 500 mL larutan, massa jenis larutan 1,1 gr/mL.
Hitunglah, molaritas H2SO4 yang terlarutan dalam larutan tersebut.

Pembahasan:
Diketahui : massa H2SO4 = 98 gr
Ar H = 1; S = 32; O = 16
Jadi, Mr H2SO4 = Ar H + Ar S + Ar O
= (2 x 1) + (1 x 32) + (4 x 16)
= 98

V larutan = 500 mL =0,5 L

Ditanyakan: M H2SO4 ….?


Jawaban:
M= massa/BMxV
M= 98/98x0,5
M= 2 M

Soal 2
Diketahui NaOH ( Mr = 40 g/mol ) sebanyak 10 gram dilarutkan kedalam air sehingga
volumenya menjadi 200 mL. Hitunglah kemolaran larutan NaOH tersebut ?

Pembahasan
Diketahui : Mr NaOH =40
Massa NaOH= 10 gram
Volume NaOH= 200 ml 0,2 L

Ditanya Molaritas NaOH ....?


Jawaban
M=massa/BmxV
M=10/40x0,2
M=1,25 M

Soal No. 3
Sebanyak 6 gram NaOH (Mr = 40) dilarutkan dalam air sehingga volumenya menjadi 150
mL, hitunglah konsentrasi larutan NaOH tersebut?

Pembahasan:
Diketahui: massa NaOH = 6 gr
Mr NaOH = 40
V = 150 mL = 0,15 L

Ditanyakan: M NaOH….?
Jawaban:
M = massa/BmxV
M = 6 / 40x0,15
=1M

Soal 4
Hitunglah massa NaOH (Ar Na = 23, O = 16, dan H = 1) yang harus dilarutkan untuk
membuat 100 mL larutan NaOH 0,1 M!

Pembahasan
Diketahui : VNaOh=100ml = 0,1L
Ar Na=23, O=16, H=1)
Maka MR=BM=Ar Na+ Ar O + ArH
= 23 + 16 + 1
= 40

Kadar NaOH = 0,1M

Ditanya : massa NaOh ......?


Jawab:
M = massa/BMxV
massa= MxBMxV

massa NaOH = M × V × Mr (NaOH)


massa NaOH = 0,1 mol/L × 0,1 L × 40 gram/mol
massa NaOH = 0,4 gram
Jadi, massa NaOH yang harus dilarutkan adalah sebanyak 0,4 gram.

Soal 5
120 gram NaCl (Mr = 58.5gr/mol) dilarutkan dengan aquadest hingga volume 400 ml.
Berapa M NaCl?

Pembahasan
Diketahui : massa NaCl= 120gram
V = 400ml = 0,4L
Mr NaCl = Bm NaCl = 58,5 gr/mol
Ditanya Molaritas NaCl ....?
Jawab
M = massa/BmxV
M = 120/58,5x0,4
M = 5,1 mol/L
= 5,1M

C. Perhitungan Normalitas
Soal 1
Jika 0,5 liter larutan NaOH dibuat dengan melarutkan 5 gram NaOH (Mr = 40) dalam
air.Hitunglah Normalitas larutan tersebut ?

Pembahasan
Diketahui : V NaOH= 0,5 L
Massa NaOH=5 gr
BM=MRNaOH= 40 ==== BE= BM/valensi = 40/1 = 40

Ditanya Normalitas NaOH .....?


Jawab
N=massa/BExV
N=5/40x0,5
N=0,25N

Soal 2
Berapa gr larutan 0,25 N asam sulfat (Mr = 98) dalam 5 liter larutan ?

Pembahasan
Diketahui : Normalitas H2SO4= 0,25N
Mr = BM H2SO4 = 98 BE= BM/valensi = 98/2 =49
V H2SO4 =5L

Ditanya massa H2SO4 .....?


Jawab
N=massa/BexV
massa = NxBExV
massa = 0,25 x 49 x5
massa = 61,25 gram

Soal 3
Diketahui 98 gr H2SO4 dilarutkan dalam 500 ml larutan, berat jenis larutan 1,1 gr/ml (Mr
=98). Hitunglah Bobot Ekivalennya dan Normalitas larutan tersebut

Pembahasan
Diketahui : massa H2SO4 = 98 gram
Volume H2SO4= 500ml = 0,5 L
Mr H2SO4 = 98 valensi H2SO4=2

Ditanya : 1. Bobot Ekivalen ...?


2. Normalitas Larutan H2SO4 ...?
Jawab
1. Bobot Ekivalen

BE=Mr/valensi
BE=98/2
BE=49

Jadi Bobot Ekivalen H2SO4= 49

2. Normalitas Larutan H2SO4


N=massa/BExV
N=98/49x0,5
N= 4 N

Soal 4
Sebanyak 5 gram NaOH dilarutkan dalam 20mL air sehingga didapatkan larutan natrium
hidroksida. Tentukan normalitas dari natrium hidroksida tersebut!

Pembahasan
Diketahui : berat NaOH= 5 gram
Volume NaOH= 20ml = 0,02L
Mr NaOH= 40 BE= Mr / valensi = 40/1 = 40

Ditanya Normalitas NaOH ...?


Jawab
Normalitas = berat/BexV
Normalitas= 5/40x0,02
Normalitas= 6,25N

Soal 5
Tentukan normalitas dari 0.248 mol asam sulfat yang dilarutkan dalam 250 mL larutan
Pembahasan
Diketahui : mol H2SO4 = 0,248mol
V H2SO4 = 250ml = 0,25ml
Mr H2SO4 =98
BE= Mr/valensi
= 98/2
= 49

Ditanya : Normalitas H2SO4 ...?


Jawab
mol= berat/Mr
berat=molxMr
berat=0,248x98
berat=24,304gram

Normalitas = berat/BexV
Normalitas = 24,304/49x0,25
Normalitas = 1,984N

D. Perhitungan Pengenceran
Soal 1
Berapakah Volume dari larutan H2SO4 2 M yang dibutuhkan untuk membuat larutan 200
mL H2SO4 0,5 M?

Pembahasan
Diketahui M H2SO4(1) = 2M
V H2SO4(2) = 200ml
M H2SO4(2) = 0,5M

Ditanya VH2SO4(1)....?
Jawab:
M1 V1 = M2 V2
2 . V1 = 0,5 . 200
V1 = 50 mL

Soal 2
Lakukan pengenceran larutan HCL yang ada 500ml dengan konsentrasi 1 N menjadi
konsentrasi 0,1 N

Pembahasan
Diketahui N HCL (1) = 1N
V HCL(1) = 500ml = 0,5L
N HCL(2) = 0,1N

Ditanya V HCL(1)....?
Jawab:
N1 V1 = N2 V2
1 . 500 = N2 . 0,1
V2= 1 . 0,5 / 0,1
V2= 5 L

Soal 3
Tentukan molaritas larutan yang terjadi, jika 25 ml larutan CH3COOH 7,5 M ditambah
dengan 100 ml air aquades!

Pembahasan
Pembahasan
Diketahui M CH3COOH(1) = 7,5M
V CH3COOH(1)= 25ml = 0,025L
V CH3COOH(2)= 100ml = 0,1L

Ditanya M CH3COOH(2).....?
Jawab:
M1 V1 = M2 V2
7,5 . 0,025 = M2 . 0,1
M2 = 7,5 . 0,025 / 0,1
M2 = 1,875M

Soal 4
KMnO4 0,1 N diencerkan menjadi 0,01 N sebanyak 100 ml

Pembahasan
Diketahui : N KMnO4 (1) = 0,1 N
N KMnO4(2) = 0,01 N
V KMnO4(2) = 100 ml = 0,1L

Dit : V KMnO4 (1) .....?


Jawab :

V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 0,1 = 100 . 0,01
V1 = 10 ml

Soal 5
H2SO4 3M dalam larutan 50ml diencerkan dengan aquadest 100 ml berapa Molaritas
larutan yang terbentuk setelah dilakukan pengenceran

Pembahasan
Diketahui M H2SO4(1) = 3M
V H2SO4(1) = 50ml = 0,05L
V H2SO4(2) = 100ml= 0,1L

Ditanya M H2SO4(2)....?
Jawab:
M1 V1 = M2 V2
2 . 0,05 = M2 . 0,1
M2 = 2 . 0,05 / 0,1
M2 =1M

3. TITRASI REDOKS
A. PENGERTIAN TITRASI REDOKS
Titrasi redoks itu melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titrant dan
analit.Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau
senyawa yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang
industri misalnya penentuan sulfite dalam minuman anggur dengan menggunakan
iodine, atau penentuan kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat.
Beberapa contoh yang lain adalah penentuan asam oksalat dengan menggunakan
permanganate, penentuan besi(II) dengan serium(IV), dan sebagainya.
Karena melibatkan reaksi redoks maka pengetahuan tentang penyetaraan reaksi
redoks memegang peran penting, selain itu pengetahuan tentang perhitungan sel
volta, sifat oksidator dan reduktor juga sangat berperan. Dengan pengetahuan yang
cukup baik mengenai semua itu maka perhitungan stoikiometri titrasi redoks menjadi
jauh lebih mudah.
Titik akhir titrasi dalam titrasi redoks dapat dilakukan dengan mebuat kurva titrasi
antara potensial larutan dengan volume titrant, atau dapat juga menggunakan
indicator. Dengan memandang tingkat kemudahan dan efisiensi maka titrasi redoks
dengan indicator sering kali yang banyak dipilih. Beberapa titrasi redoks
menggunakan warna titrant sebagai indicator contohnya penentuan oksalat dengan
permanganate, atau penentuan alkohol dengan kalium dikromat.
Beberapa titrasi redoks menggunakan amilum sebagai indicator, khususnya titrasi
redoks yang melibatkan iodine. Indikator yang lain yang bersifat reduktor/oksidator
lemah juga sering dipakai untuk titrasi redoks jika kedua indicator diatas tidak dapat
diaplikasikan, misalnya ferroin, metilen, blue, dan nitroferoin.

Contoh titrasi redoks yang terkenal adalah iodimetri, iodometri, permanganometri


menggunakan titrant kalium permanganat untuk penentuan Fe2+ dan oksalat, Kalium
dikromat dipakai untuk titran penentuan Besi(II) dan Cu(I) dalam CuCl. Bromat dipakai
sebagai titrant untuk penentuan fenol, dan iodida (sebagai I2 yang dititrasi dengan tiosulfat),
dan Cerium(IV) yang bisa dipakai untuk titrant titrasi redoks penentuan ferosianida dan
nitrit.
Titrasi redoks merupakan jenis titrasi yang paling banyak jenisnya, diantaranya :
 Permanganometri
 Cerimetri
 Iodimetri, iodometri, iodatometri
 Bromometri, bromatometri
 Nitrimetri
B. MACAM-MACAM TITRASI REDOKS

Dikenal berbagai macam titrasi redoks yaitu permanganometri, dikromatrometri,


serimetri, iodo-iodimetri dan bromatometri. Permanganometri adalah titrasi redoks yang
menggunakan KMnO4 (oksidator kuat) sebagai titran. Dalam permanganometri tidak
dipeerlukan indikator , karena titran bertindak sebagai indikator (auto indikator). Kalium
permanganat bukan larutan baku primer, maka larutan KMnO4 harus distandarisasi, antara
lain dengan arsen(III) oksida (As2O3) dan Natrium oksalat (Na2C2O4). Permanganometri
dapat digunakan untuk penentuan kadar besi, kalsium dan hidrogen peroksida. Pada
penentuan besi, pada bijih besi mula-mula dilarutkan dalam asam klorida, kemudian semua
besi direduksi menjadi Fe2+, baru dititrasi secara permanganometri. Sedangkan pada
penetapan kalsium, mula-mula .kalsium diendapkan sebagai kalsium oksalat kemudian
endapan dilarutkan dan oksalatnya dititrasi dengan permanganat. Dikromatometri adalah
titrasi redoks yang menggunakan senyawa dikromat sebagai oksidator. Senyawa dikromat
merupakan oksidator kuat, tetapi lebih lemah dari permanganat. Kalium dikromat
merupakan standar primer. Penggunaan utama dikromatometri adalah untuk penentuan
besi(II) dalam asam klorida. Titrasi dengan iodium ada dua macam yaitu iodimetri (secara
langsung), dan iodometri (cara tidak langsung). Dalam iodimetri iodin digunakan sebagai
oksidator, sedangkan dalam iodometri ion iodida digunakan sebagai reduktor. Baik dalam
iodometri ataupun iodimetri penentuan titik akhir titrasi didasarkan adanya I2 yang bebas.
Dalam iodometri digunakan larutan tiosulfat untuk mentitrasi iodium yang dibebaskan.
Larutan natrium tiosulfat merupakan standar sekunder dan dapat distandarisasi dengan
kalium dikromat atau kalium iodidat. Dalam suatu titrasi, bila larutan titran dibuat dari zat
yang kemurniannya tidak pasti, perlu dilakukan pembakuan. Untuk pembakuan tersebut
digunakan zat baku yang disebut larutan baku primer, yaitu larutan yang konsentrasinya
dapat diketahui dengan cara penimbangan zat secara seksama yang digunakan untuk
standarisasi suatu larutan karena zatnya relatif stabil. Selain itu, pembakuan juga bisa
dilakukan dengan menggunakan larutan baku sekunder, yaitu larutan yang konsentrasinya
dapat diketahui dengan cara dibakukan oleh larutan baku primer, karena sifatnya yang labil,
mudah terurai, dan higroskopis (Khopkar, 1990).

Syarat-syarat larutan baku primer yaitu :


 • Mudah diperoleh dalam bentuk murni
 • Mudah dikeringkan
 • Stabil
 • Memiliki massa molar yang besar
 • Reaksi dengan zat yang dibakukan harus stoikiometri sehingga dicapai dasr
perhitungan ( Day & Underwood , 2002 ).
Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium
tiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sabagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. larutan tidak
boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi
dengan standar primer, larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama.
Tembaga murni dapat digunakan sebagi standar primer untuk natrium tiosulfat ( Day &
Underwood, 2002 )
Reaksi redoks secara luas digunakan dalam analisa titrimetri baik untuk zat anorganik
maupun organik.
Reaksi redoks dapat diikuti dengan perubahan potensial, sehingga reaksi redoks dapat
menggunakan perubahan potensial untuk mengamati titik akhir satu titrasi. Selain itu cara
sederhana juga dapat dilakukan dengan menggunakan indikator.
Berdasarkan jenis oksidator atau reduktor yang dipergunakan dalam titrasi redoks, maka
dikenal beberapa jenis titrimetri redoks seperti iodometri, iodimetri danm permanganometri.
1. Iodimetri dan Iodometri
 Teknik ini dikembangkan berdasarkan reaksi redoks dari senyawa iodine dengan
natrium tiosulfat. Oksidasi dari senyawa iodine ditunjukkan oleh reaksi dibawah ini :
 I2 + 2 e → 2 I- Eo = + 0,535 volt
 Sifat khas iodine cukup menarik berwarna biru didalam larutan amilosa dan
berwarna merah pada larutan amilopektin. Dengan dasar reaksi diatas reaksi redoks
dapat diikuti dengan menggunaka indikator amilosa atau amilopektin.
 Analisa dengan menggunakan iodine secara langsung disebut dengan titrasi
iodimetri. Namun titrasi juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan larutan
iodida, dimana larutan tersebut diubah menjadi iodine, dan selanjutnya dilakukan
titrasi dengan natrium tiosulfat, titrasi tidak iodine secara tidak langsung disebut
dengan iodometri. Dalam titrasi ini digunakan indikator amilosa, amilopektin,
indikator carbon tetraklorida juga digunakan yang berwarna ungu jika mengandung
iodin
2. Permengantometri
 Permanganometri merupakan titrasi redoks menggunakan larutan standar Kalium
permanganat. Reaksi redoks ini dapat berlangsung dalam suasana asam maupun
dalam suasana basa. Dalam suasana asam, kalium permanganat akan tereduksi
menjadi Mn2+ dengan persamaan reaksi :
 MnO4- + 8 H+ + 5 e → Mn2+ + 4 H2O
 Berdasarkan jumlah ellektron yang ditangkap perubahan bilangan oksidasinya, maka
berat ekivalen Dengan demikian berat ekivalennya seperlima dari berat molekulnya
atau 31,606.
 Dalam reaksi redoks ini, suasana terjadi karena penambahan asam sulfat, dan asam
sulfat cukup baik karena tidak bereaksi dengan permanganat.
 Larutan permanganat berwarna ungu, jika titrasi dilakukan untuk larutan yang tidak
berwarna, indikator tidak diperlukan. Namun jika larutan permangant yang kita
pergunakan encer, maka penambahanindikator dapat dilakukan. Beberapa indikator
yang dapat dipergunakan seperti feroin, asam N-fenil antranilat.
Analisa dengan cara titrasi redoks telah banyak dimanfaatkan, seperti dalam analisis vitamin
C (asam askorbat). Dalam analisis ini teknik iodimetri dipergunakan. Pertama-tama, sampel
ditimbang seberat 400 mg kemudian dilarutkan kedalam air yang sudah terbebas dari gas
carbondioksida (CO2), selanjutnya larutan ini diasamkan dengan penambahan asam sulfat
encer sebanyak 10 mL. Titrasi dengan iodine, untuk mengetahui titik akhir titrasi gunakan
larutan kanji atau amilosa.

C. PRINSIP TITRASI REDOKS

Reaksi oksidasi reduksi atau reaksi redoks adalah reaksi yang melibatkan
penangkapan dan pelepasan elektron. Dalam setiap reaksi redoks, jumlah elektron yang
dilepaskan oleh reduktor harus sama dengan jumlah elektron yang ditangkap oleh oksidator.
Ada dua cara untuk menyetarakan persamaan reaksi redoks yaitu metode bilangan oksidasi
dan metode setengah reaksi (metode ion elektron). Hubungan reaksi redoks dan perubahan
energi adalah sebagai berikut: Reaksi redoks melibatkan perpindahan elektron; Arus listrik
adalah perpindahan elektron; Reaksi redoks dapat menghasilkan arus listrik, contoh: sel
galvani; Arus listrik dapat menghasilkan reaksi redoks, contoh sel elektrolisis. Sel galvani
dan sel elektrolisis adalah sel elektrokimia. Persamaan elektrokimia yang berguna dalam
perhitungan potensial sel adalah persamaan Nernst. Reaksi redoks dapat digunakan dalam
analisis volumetri bila memenuhi syarat. Titrasi redoks adalah titrasi suatu larutan standar
oksidator dengan suatu reduktor atau sebaliknya, dasarnya adalah reaksi oksidasi-reduksi
antara analit dengan titran.

D.Kurva Titrasi Redoks

Sebelum kita belajar untuk menggambar kurva titrasi redoks maka kita harus
mempelajari terlebih dahulu bagaimana mencari konstanta kesetimbangan reaksi redoks.
Konstanta tersebut dapat dipakai untuk mencari konsentrasi spesies yang terlibat dalam
reaksi redoks pada saat titik equivalent terjadi. Potensial sel akan benilai “nol” pada saat
kesetimbangan tercapai atau dengan kata lain penjumlahan potensial setengah reaksi
reduksi dan setengah reaksi oksidasi akan sama dengan “nol”, dengan demikian persamaan
Nernst untuk keduanya dapat disamakan.

Persamaan Nernst untuk reaksi aOks + ne -> bRed dapat dinyatakan sebagai berikut:
E = Eo – 2.3026RT/nF log [red]b/[Oks]a
Pada 25 C nilai 2.3026RT/F adalah 0.05916/n sehingga persamaan diatas dapat ditulis lagi
menjadi:
E = Eo – 0.05916/n log [red]b/[Oks]a

Pada saat reaksi redoks mencapai kesetimbangan maka nila Ered akan sama dengan
nilai Eoks. Sedangkan hubungan antara energi bebas dengan konstanta kesetimbangannya
adalah sebagai berikut
?Go = -RT ln K atau ?Go=-nFEo
-RT ln K = -nFE
Eo = RT/nF ln K
Secara umum potensial larutan pada titik ekuivalen dapat dicari dengan persamaan berikut :
E = (n1Eo1 + n2Eo2) / n1+n2

Dengan syarat reaksi tidak melibatkan ion poliatomik seperti CrO42- dan tidak
melibatkan ion hydrogen. Indeks 1 untuk setengah reaksi oksidasi dan 2 untuk setengah
reaksi reduksi. Kurva titrasi dibuat dengan mengeplotkan potensial larutan terhadap volume
larutan titrant yang ditambahkan (modifikasi alat dapat dilihat pada gambar) dimana 1
merupakan elektroda untuk mengukur potensial atau dapat berupa pH meter, dan 2
merupakan alat untuk tempat titrant. Setelah titrant ditambahkan maka larutan diaduk dengan
stir magnetic agar reaksi berjalan merata dan cepat. Berikut kurva titrasi antara larutan
Besi(II)amonium sulfat dengan 0.02 M kalium permanganat (analit dibuat dari 95 mL
Besi(II)amonium sulfat kira-kira 0.02 M ditambah dengan 5 mL asam sulfat pekat

B. Titrasi Argentometri

Pengertian Titrasi Argentometri


Argentometri merupakan istilah yang diturunkan dari bahasa latin yaitu Argentum yang
artinya perak. Titrasi Argentometri sering kali disebut sebagai Titrasi Pengendapan. Jadi
argentometri itu merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menentukan kadar zat
dalam suatu larutan yang dilakukan dengan tritasi berdasarkan pembentukan endapan dengan
ion Ag. Lalu apa itu titrasi argenometri? Titrasi argentometri adalah teknik khusus yang
digunakan untuk menetapkan perak dan senyawa halida. Penetapan kadar zat analit didasari
oleh pembentukan endapan.

Atau definisi titrasi argentometri yaitu penetapan kadar zat yang didasari atas adanya reaksi
pembentukan endapan dari komponen zat uji dengan titran larutan titer perak nitrat. Atau
yang dimaksud titrasi argentometri ialah titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari
garam yang tidak gampang larut antara titran dengan analit.
Kembali ke Menu Pembahasan ↑

Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan dalam Titrasi Pengendapan

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kelarutan dalam titrasi pengendapan/ titrasi
argentometri.

 Temperatur, kelarutan akan bertambah jika temperatur mengalami kenaikan.


 Efek ion sejenis, kelarutan endapan dalam air berkurang apabila larutan itu
mengandung satu dari ion-ion yang menyusun endapan.
 Sifat pelaut, garam anorganik lebih larut di dalam air, berkurangnya kelarutan di
dalam organik bisa dipakai sebagai dasar dalam pemisahan dua zat.
 Pengaruh pH, larutan garam dari asam lemah itu bergantung dari pH larutannya.
 Efek ion-ion lain, endapan dapat bertambah kelarutannya jika dalam larutan ada
garam yang beda dengan endapan.
 Pengaruh kompleks. Kelarutan dari garam yang sedikit larut adalah fungsi konsentrasi
zat lain yang membentuk kompleks dengan kation garam tersebut.
 Pengaruh hidrolisis, apabila garam dari asam lemah dilarutkan ke dalam air, maka
dapat menghasilkan (H), kation dari spesies garam akan mengalami hidrolisis
sehingga kelarutannya bertambah.

Kembali ke Menu Pembahasan ↑

Macam macam Metode Titrasi Argentometri

Terdapat macam macam metode titrasi argentometri yang dikembangkan, yaitu metode Mohr,
Volhard, dan FAjans.

1. Titrasi Argentometri Metode Mohr

Metode mohr pada titrasi argentometri yaitu metode yang terbatas untuk lartutan dengan nilai
pH sekitar 6 hingga 10. Perak oksida akan meengndap dalam larutan yang lebih basa.

Kegunaan dari metode Mohr adalah sebagai penetapan kadar Bromida atau Klorida. Prinsip
penetapannya larutan bromida atau klorida dalam keadaan netral atau agak alkalis diitrasi
dengan larutan perak nitrat dengan indikator kromat. Jika ion bromida atau klorida sudah
habis diendapkan oleh ion perak, maka ion kromat akan bereaksi dengan ion perak
membentuk endapan perak kromat yang warnanya coklat meerah sebagai titik akhir titrasi.
Larutan standarnya ialah larutan perak nitrat dengan indikator larutan kalium kromat.
Kembali ke Menu Pembahasan ↑
2. Titrasi Argentometri Metode Volhard

Metode volhard adalah metode yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1874 oleh
Jacobus Volhard, yang merupakan seorang ahli kimia dari Jerman. Metode volhard pada
titrasi argentometri larutan standar AgNO3 berlebih ditambahkan ke dalam larutan yang
didalamnya terkandung ion halogen (contohnya Cl-). Kelebihan dari ion Ag+ dalam keadaan
asam dititrasi dengan standar garam tiosianat (NH4SCN atau KSCN) menggunakan indikator
larutan Fe3+. Hingga titik ekivalen, terjadi sebuah reaksi antara titran dan Ag+ membentuk
sebuah endapan putih. Jika titran kelebihan maka dapat menyebabkan reaksi dengan indikator
membentuk senyawa kompleks tiosianato ferrat (III) yang warnanya merah.
Kembali ke Menu Pembahasan ↑

3. Titrasi Argentometri Metode Fajans

Metode fajans dalam argentometri sama halnya dengan pada metode Mohr, perbedaannya
hanya pada jenis indikator yang dipakai. Indikator yang dipakai dalam metode fajans yaitu
indikator adsorpsi seperti fluonescein atau cosine menurut macam anion yang diendapkan
oleh Ag+. Titrannya yaitu AgNO3 sampai suspensi violet menjadi merah. pH tergantung dari
macam anion dan indikator yang digunakan. Indikator adsorpsi yaitu zat yang bisa diserap
oleh permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Pengendapan tersebut bisa
diatur supaya terjadi di titik ekuivalen antara lain dengan cara menentukan macam indikator
yang digunakan dan PH. Sebelum titik ekuivalen dapat tercapai, ion Cl- ada dalam lapisan
primer dan sesudah tercapai ekuivalen maka akan kelebihan sedikit AgNO3 yang
menyebabkan ion Cl- digantikan Ag+ sehingga ion Cl- berada dalam lapisan sekunder.
Kembali ke Menu Pembahasan ↑

Cara Penetapan Titik Akhir dalam Reaksi Pengendapan (Argentometri)

Terdapat 3 macam cara penetapan titik akhir dalam reaksi pengendapan, diantaranya yaitu
sebagai berikut:

1. Pembentukan Suatu Endapan Berwarna

Bisa diilustrasikan dengan mohr untuk penetapan bromide dan klorida. Dalam titrasi sebuah
larutan netral dari ion klorida dengan larutan perak nitrat, sedikit ditambahkan larutan kalium
kromat sebagai indikator. Di titik akhir, ion kromat bergantung dengan ion perak untuk
membentuk perak kromat merah yang hanya sedikit bisa larut. Hendaknya titrasi ini
dilakukan ketika suasana netral atau sedikit basa, yaitu dalam jangkauan pH 6,59.

2. Pembentukan Sebuah Senyawa yang Berwarna dan Bisa Larut

Contoh dari cara ini yaitu pada metode volhard untuk tritasi perak dengan terdapatnya asam
nitrit bebas dengan larutan kalium atau ammonium tiosianat standar. Indikatornya yaitu
larutan besi (III) amonium sulfat. Dengan penambahan larutan tiosianat maka dapat
menghasilkan mula-mula endapan perak klorida. Kelebihan dari tiosianat yaitu meskipun
sedikit dapat menghasilkan pewarnaan coklat kemerahan, hal itu dikarenakan terbentuknya
sebuah ion kompleks.

Cara ini bisa diterapkan untuk menetapkan klorida, bromide dan iodide dalam larutan asam.
Larutan perak nitrat standar berlebih ditambahkan dan kelebihannya dititrasi balik dengan
larutan tiosianat.

3. Penggunaan Indikator Adsorpsi

Aksi dari indikator adsorpsi yaitu disebabkan sebuah fakta kalau pada titik ekuivalen,
indikator itu diadsorpsi oleh endapan. Ketika proses adsorpsi terjadi sebuah perubahan dalam
indikator yang menyebabkan suau zat dengan warna yang tidak sama, maka disebutlah
indikator adsorpsi. Zat-zat yang dipakai yaitu zat-zat warna asam, seperti warna deret
flouresein misalnya flouresein en eosin yang dipakai sebagai garam natriumnya.

Untuk tritasi klorida dapat digunakan flouresein. Sebuah larutan perak klorida dititrasi
dengan larutan perak nitrat, maka perak klorida yang akan mengendap mengadsorpsi ion-ion
klorida. Ion flouresein akan membentuk sebuah kompleks dari perak yang warnanya merah
jambu.
Kembali ke Menu Pembahasan ↑

Perbedaan Metode Mohr Volhard dan Fajans Pada Argentometri

Berikut ini adalah beberapa perbedaan metode dalam titrasi argentometri antara Metode
Mohr, Volhard dan Fajan:

Dari ketiga metode tersebut yang paling stabil yaitu metode voland. Tetapi metode ini
memakai asam sianida (HCN) yang sifatnya toxik.
Kembali ke Menu Pembahasan ↑