Anda di halaman 1dari 22

TUGAS PSIKOLOGI ABNORMAL

ANALISIS KASUS INDIVIDUAL


“FOBIA”

Fobia merupakan salah satu gangguan kecemasan (anxiety disorder) yang terdapat
dalam DSM IV-TR. Orang yang mengalami fobia akan cenderung mengalami
ketakutan dan penolakan terhadap objek atau situasi yang tidak mengandung
bahaya yang sesungguhnya (Psikologi Abnormal, 183). DSM IV-TR membagi
fobia ke dalam dua jenis, yaitu fobia spesifik dan fobia sosial.
Kriteria fobia menurut DSM IV-TR :
- Mengalami ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu
oleh objek atau situasi.
- Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
- Orang yang mengalami fobia menyadari bahwa ketakutannya tidak realistis
- Orang tersebut menghindari suatu objek atau situasi tertentu, atau mungkin dapat
dihadapi namun dengan kecemasan yang intens

ANALISIS KASUS
1. Gambaran Kasus

Profil singkat subyek :


Nama :X
Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 22 tahun
Gangguan abnormalitas : Fobia

Tadalah perempuan berusia 22 tahun dan memiliki ketakutan berlebihan


terhadap semua jenis kucing, sekali pun menurut orang lain kucing tersebut
lucu. Ketika kucing itu mulai mendekatinya, secara perlahan ia akan merasa
cemas dan mulai kesulitan untuk bernafas. Semakin kucing tersebut mendekat,
ia akan jadi panik kemudian berlari menjauhi kucing tersebut. Dan ketika kucing
tersebut mendekatinya diam-diam dan bergelayut padanya, ia akan langsung
berteriak dan berlari sejauh mungkin. Kemudian jantungnya akan berdebar
kencang, gemetar dan berkeringat dingin. Oleh karena itu ia berusaha untuk
sejauh mungkin dari kucing, bahkan ia mengatakan jika tidak akan pernah mau
bersentuhan dengan kucing sekalipun itu dibayar mahal.

2. Etiologi
Ketakuatan Tterhadap kucing berlangsung sejak kecil, dirinya sendiri tidak tahu
kapan pastinya ia takut terhadap kucing. Yang pasti ibunya Tjuga mengalami
fobia dan selalu berusaha utuk menghindari kucing. Suatu hari Tjuga pernah
melihat pamannya dicakar kucing pada bagian wajah dan menimbulkan luka,
yang semakin membuat Tmerasa takut sekaligus benci terhadap kucing.
Etiologi yang dijelaskan oleh Tsesuai dengan etiologi fobia berdasarkan teori
modeling dan behavioral. Menurut teori modeling, bahwa ketakutan juga dapat
dipelajari dengan meniru reaksi orang lain. Dalam membentuk perilakunya,
seorang anak akan lebih cenderung untuk meniru apa yang dilakukan oleh
orangtuanya. Termasuk Tyas, yang tanpa disadarinya saat kecil sebenarnya ia
meniru bagaimana ibunya merespon akan keberadaan kucing.
Sedangkan menurut teori behavioral yaitu melalui classical conditioning yang
mengatakan bahwa seorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus netral
(CS) jika stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara instrinsik
menyakitkan atau menakutkan (UCS). Dan CS disini adalah kucing, sedangkan
UCS-nya atau kondisi yang menyakitkan adalah kucing mencakar wajah
pamannya sehingga membuat pamannya menjadi kesakitan. Sehinnga
membuat Tjadi berpikiran negatif terhadap kucing.

3. Gejala yang tampak


Saya mengkategorikan kasus Tsebagai kasus fobia spesifik, karena
ketakutan Tyang berlebihan hanya muncul saat bertemu obyek tertentu, dalam
hal ini adalah kucing. Adanya objek yang menjadi stimulus fobia tersebut
membuat Tketakutan, sehingga seketika itu juga memicu munculnya beberapa
gejala, antara lain :
· Panik
· Merasa cemas
· Merasa sulit bernapas
· Jantung berdebar
· Berkeringat
· Gemetar
· Sangat ingin menghindar dari objek tersebut

4. Diagnosis multiaksial

Aksis 1 : F40.2 Fobia Khas (terisolasi)


Aksis 2 : Z03.2 Tidak ada diagnosis gangguan kepribadian
Aksis 3 : Tidak ada data
Aksis 4 : Tidak ada data
Aksis 5 : GAF = 75

5. Intervensi
Ketakutan Tterhadap kucing hingga saat ini relatif menetap karena persepsinya yang
negatif mengenai kucing. Karena itu, ada beberapa intervensi yang mungkin
dapat membantu subyek mengurangi fobia yang dialaminya.

ü Pendekatan Behavioral
Berdasarkan pendekatan ini, teknik modelling dan operant conditioning dirasa yang
cukup sesuai dengan kondisi subyek. Pada teknik modeling, subyek dapat
diperlihatkan cara orang lain menyikapi kucing yang mendekat padanya,
bagaimana sebaiknya memposisikan diri, dan bagaimana memperlakukan
kucing agar tidak marah (mencakar). Sedangkan pada operant conditioning,
subyek dapat didorong untuk dapat mendekati objek nyata yang ditakutinya, dan
diberi hadiah meskipun pendekatannya pada objek tersebut sangat minim.

ü Pendekatan kognitif
Dengan pendekatan ini, orang-orang di sekitar subjek dapat membantu subyek
(ibunya juga bila perlu) untuk mengabaikan rasa takutnya dengan cara
menghapuskan keyakinan irasional subyek yang berlebihan tentang kucing.
.

DAFTAR PUSTAKA

Davidson, G.C., Neale J.M., Kring A.M. (2006). Psikologi Abnormal (edisi ke-9).
Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada
American Psychiatric Assosiation. (2000). American Psychiatric Assosiation :
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Fourth Edition, Text
Revision.Washington, DC.
HIMPSI. (1993). Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III.

Pra Induksi + Tes Sugestibilitas


Tahap pra-induksi atau pre-induction merupakan tahap paling awal dan paling
penting dalam rangkaian proses hipnosis. Dalam tahapan ini, dilakukan
pembangunan rapport atau rapport building. Rapport dibangun dengan tujuan
untuk menciptakan kedekatan dan kepercayaan antara sang hipnotis dan suyet.
Tanpa kedekatan dan kepercayaan, suyet akan bersikap resisten dan takut
untuk dihipnosis. Rapport building sangat penting dilakukan oleh hipnoterapis
agar proses terapi dapat berlangsung dengan baik. Bagi stage hypnotist dengan
tujuan hiburan, proses rapport building dilewatkan agar tidak memakan waktu
lama.
Dalam tahap ini pula, dilakukan tes sugestibilitas (suggestibility test). Tes
sugestibilitas dilakukan untuk mengetahui tingkat sugestibilitas suyet agar sang
hipnotis dapat menentukan teknik induksi yang akan dilakukan, selain itu tes
sugestibilitas juga dapat membantu meningkatkan tingkat sugestibilitas suyet.
Jika suyet belum pernah dihipnosis sebelumnya, tes sugestibilitas sangat
penting untuk diberikan agar suyet dapat mengenali kondisi hipnosis.

Tes Sugestibilitas :
Prinsip Dasar
· Berandai-andai
· Bantu dengan Hitungan
· Mengulang-ulang

Test Jari Menempel.

Sugesti: Sekarang kita akan melakukan permainan berandai andai…


andaikan kedua jari telunjuk anda sudah berubah menjadi magnet sehingga
keduanya akan saling tarik menarik… dan semakin lama semakin kuat…
semakin lama semakin kuat tarikannya… sehingga nantinya kedua jari telunjuk
anda akan bertemu dan menempel dengan kuat… dan bukan saja kedua jari
telunjuk anda yang akan menempel dengan kuat… tapi jari jari yang lain akan
mulai terkunci dengan kuatnya dan semakin lama semakin kuat…
supaya anda bisa lebih bisa berkonsentrasi… saya akan membantu anda
dengan hitungan maju… dan dengan setiap hitungan… maka jari tangan akan
semakin terkunci dengan kuat dan semakin lama semakin kuat semakin lama
semakin kuat… satu dua tiga… jari tangan anda sudah terkunci dengan kuat… 4
5 6… makin kuat lagi… 7 8 9… lebih kuat lagi… 10 11 12 sekarang terkunci
lebih kuat lagi… 13 14 15 sekarang kedua tangan anda sudah terkunci dengan
sangat kuat sehingga sudah tidak bisa dilepaskan…
anda boleh mencoba untuk melepaskannya… tapi semakin keras anda
berusaha… maka kedua tangan anda akan terkunci semakin kuat lagi…
semakin anda tarik… maka akan terkunci semakin kuat lagi… sehingga mulai
saat ini… kedua tangan anda sudah terkunci dan menempel dengan sangat kuat
dan tidak bisa dilepaskan dengan cara apapun… semakin ditarik… maka akan
terkunci semakin kuat…
Tes: Sekarang coba dibuka… ga bisa dibuka kan…??? Karena semakin
ditarik… maka dia akan terkunci semakin kuat lagi…
Akhiri Tes: Sekarang… lepas… silahkan buka tangan anda dan lemaskan otot
otot tangan anda… (jika perlu dibantu…)

Test Balon & Batu.

Sugesti: Sekarang kita akan lakukan permaian berandai andai, silahkan posisikan
kedua tangan anda menghadap kedepan (sambil member contoh), sekarang
putar telapak tangan kanan anda sehingga menghadap kebawah dan tangan kiri
anda menghadap keatas…
Berandai andai pergelangan tangan anda diikat oleh seutas tali yang ujungnya
ada balon gas sehingga tangan kanan anda mulai terasa ringan dan mulai
tertarik keatas… supaya anda bisa lebih konsentrasi lagi… saya akan bantu
dengan hitungan… dan dengan setiap hitungan… tangan kanan anda akan
terasa semakin ringan dan akan terangkat semakin tinggi…
1 2 3… tangan kanan anda mulai bergerak dan mulai terangkat keatas… 4 5 6…
terangkat lebih tinggi lagi… 7 8 9 lebih tinggi lagi… 10 11 12 menjadi lebih
ringan dan terangkat lebih tinggi lagi… 13 14 15 16 17 18 19 20…
Sambil membiarkan tangan kanan terangkat semakin tinggi lagi… berandai
andailah ditelapak tangan kiri anda diletakkan sebuah batu yang sangat berat…
dan saking beratnya tangan kiri anda sudah mulai terasa capek dan mulai turun
kebawah… dan semakin lama akan terasa semakin berat dan semakin turun
kebawah…
Sekarang saya akan bantu dengan hitungan lagi… dan dengan setiap
hitungan… tangan kiri anda akan terasa semakin berat dan akan turun semakin
kebawah
1 2 3… tangan kiri anda mulai bergerak dan mulai turun kebawah… 4 5 6…
menjadi lebih berat lagi… 7 8 9 lebih berat lagi… 10 11 12 menjadi lebih berat
dan turun semakin kebawah lagi… 13 14 15 16 17 18 19 20…
Tes & Akhiri tes: Sekarang buka matanya… dan lihat posisi tangan anda
sendiri…

Test Tangan Terkunci.

Sugesti: Kita akan lakukan permainan berandai andai, andaikan kedua dari pori pori
kedua telapak tangan anda keluar lem yang sangat lengket… mungkin saja lem
paling lengket yang pernah anda jumpai… berandai andai lagi lem tersebut
mulai kering… mungkin saja bisa merasakan dinginnya ketika lem tersebut mulai
mengering… dan karena lem sudah mengering… maka kedua telapak tangan
anda mulai menempel dan terkunci… dan semakin lama akan terkunci semakin
kuat…
supaya anda bisa lebih bisa berkonsentrasi… saya akan membantu anda
dengan hitungan maju… dan dengan setiap hitungan… maka tangan akan
semakin terkunci dengan kuat dan semakin lama semakin kuat semakin lama
semakin kuat… satu dua tiga… tangan anda sudah terkunci dengan kuat… 4 5
6… makin kuat lagi… 7 8 9… lebih kuat lagi… 10 11 12 sekarang terkunci lebih
kuat lagi… 13 14 15 sekarang kedua tangan anda sudah terkunci dengan sangat
kuat sehingga sudah tidak bisa dilepaskan…
anda boleh mencoba untuk melepaskannya… tapi semakin keras anda
berusaha… maka kedua tangan anda akan terkunci semakin kuat lagi…
semakin anda tarik… maka akan terkunci semakin kuat lagi… sehingga mulai
saat ini… kedua tangan anda sudah terkunci dan menempel dengan sangat kuat
dan tidak bisa dilepaskan dengan cara apapun… semakin ditarik… maka akan
terkunci semakin kuat…
Tes: Sekarang coba dibuka… ga bisa dibuka kan…??? Karena semakin
ditarik… maka dia akan terkunci semakin kuat lagi…
Akhiri Tes: Sekarang… lepas… silahkan buka tangan anda dan lemaskan otot
otot tangan anda… (jika perlu dibantu…)

Test Mata Terkunci.


Sugesti: Silahkan tutup matanya… sekarang fokuskan perhatian anda pada otot
otot disekeliling kedua mata anda… lemaskan dan perintahakan kepada otot
otot tersebut untuk menjadi rileks dan malas… sehingga sekarang… atau
mungkin juga sesaat lagi… anda bisa merasakan bagaimana otot otot tersebut
mulai rileks dan bertambah berat… dan semakin lama semakin bertambah
berat… saking beratnya… kedua mata anda kini sudah terasa seperti lumpuh…
dan tidak bisa digerakkan… dan terasa seperti sudah terkunci dengan
rapatnya…
Tes: sekarang anda boleh mencoba coba untuk membukanya… tapi semakin
anda paksa untuk membuka… maka kedua mata anda akan menjadi semakin
berat dan terkunci semakin rapat lagi… sehingga mulai saat ini… kedua mata
anda sudah tidak bisa dibuka dengan cara apapun…
Akhiri Tes: OK… sekarang… pada hitungan 3 anda akan buka mata… bangun
dengan segar… 1… 2… 3… buka matanya dan bangun dengan segar…
Tahapan dalam Proses Hipnosis
Posted on 02/07/2012 | 5 Komentar

Dalam melakukan hipnosis, terdapat 7 tahapan, yaitu: (1) pra-induksi atau pre-
induction, (2) induksi atau induction, (3) pendalaman atau deepening, (4)
pengujian tingkat kedalaman atau depth level test, (5) sugesti, (6) terminasi, dan
(7) pasca-hipnosis atau post-hypnotic. Setelah tahap terakhir (tahap pasca-
hipnosis), suyet atau orang yang dihipnosis akan kembali ke kesadaran beta.

1. Pra-induksi

Tahap pra-induksi atau pre-induction merupakan tahap paling awal dan paling
penting dalam rangkaian proses hipnosis. Dalam tahapan ini, dilakukan
pembangunan rapport atau rapport building. Rapport dibangun dengan tujuan
untuk menciptakan kedekatan dan kepercayaan antara sang hipnotis dan suyet.
Tanpa kedekatan dan kepercayaan, suyet akan bersikap resisten dan takut
untuk dihipnosis. Rapport building sangat penting dilakukan oleh hipnoterapis
agar proses terapi dapat berlangsung dengan baik. Bagi stage hypnotist dengan
tujuan hiburan, proses rapport building dilewatkan agar tidak memakan waktu
lama.

Dalam tahap ini pula, dilakukan tes sugestivitas (suggestivity test). Tes sugestivitas
dilakukan untuk mengetahui tingkat sugestivitas suyet agar sang hipnotis dapat
menentukan teknik induksi yang akan dilakukan, selain itu tes sugestivitas juga
dapat membantu meningkatkan tingkat sugestivitas suyet. Jika suyet belum
pernah dihipnosis sebelumnya, tes sugestivitas sangat penting untuk diberikan
agar suyet dapat mengenali kondisi hipnosis.

Terdapat berbagai macam tes sugestivitas, di antaranya adalah rigid catalepsy, eyes
catalepsy, locking hand, dan lain-lain. Penjelasan mengenai tes-tes tersebut
akan dijelaskan di artikel berikutnya.

2. Induksi

Setelah melalui tahap pra-induksi, selanjutnya adalah tahapan induksi. Induksi


merupakan metode untuk membawa suyet ke dalam kondisi hipnosis. Induksi
terdiri dari berbagai macam teknik, seperti relaksasi progresif (progressive
relaxation), Dave Elman technique, shock induction, dan lain-lain. Penggunaan
teknik induksi yang tepat bergantung pada tingkat sugestivitas suyet. Maka itu,
proses pra-induksi merupakan proses penting yang akan menentukan teknik
induksi yang akan diberikan. Untuk suyet dengan tingkat sugestivitas tinggi,
extended progressive relaxation merupakan teknik induksi yang tepat. Teknik
Dave Elman dan simple extended progressive relaxation cocok untuk suyet
dengan tingkat sugestivitas moderat. Untuk hipnosis panggung yang
membutuhkan induksi dengan cepat dan singkat, teknik shock induction
biasanya dilakukan. Tetapi shock induction hanya dapat dilakukan kepada suyet
dengan tingkat sugestivitas rendah. Untuk penjelasan teknik-teknik tersebut
akan dituliskan di dalam artikel berikutnya.

3. Deepening

Pendalaman atau deepening dilakukan ketika suyet sudah terinduksi dan memasuki
kondisi hipnosis. Deepening dilakukan untuk membawa suyet ke dalam kondisi
hipnosis yang lebih dalam lagi. Deepening dilakukan secara imajinatif dalam
kondisi hipnosis. Beberapa teknik deepening yang dapat dilakukan adalah
dengan menghitung angka (biasanya dari 1 sampai 5), menuruni tangga,
menuruni lift, membawa ke tempat yang damai/menyenangkan, dan sebagainya.

4. Depth level test

Depth level test atau pengujian tingkat kedalaman dilakukan untuk mengetahui
tingkat kedalaman suyet setelah diberikan induksi dan deepening. Beberapa
sugesti hanya dapat diberikan dalam tingkat kedalaman tertentu sehingga depth
level test diperlukan dalam proses hipnosis. Untuk membantu melakukan depth
level test, biasanya dilakukan ideo-motor response, yaitu pemberian respon
ya/tidak oleh suyet diganti dengan gerakan motorik. Ideo-motor response
digunakan agar tidak mengganggu kondisi hipnosis suyet, karena dengan
berbicara, suyet memiliki kemungkinan untuk kembali ke kesadaran yang lebih
atas.

Script yang digunakan untuk memasang ideo-motor response adalah:

”Gerakan jari telunjuk di tangan kiri anda untuk jawaban tidak dan gerakan jari
telunjuk di tangan kanan anda untuk jawaban ya.”

Atau

”Sekarang, bayangkan kata YA yang sangat besar kemudian, gerakan bagian tubuh
yang mewakili kata YA (amati responnya). Kemudian, banyangkan kata TIDAK
yang sangat besar lalu, gerakan bagian tubuh yang mewakili kata TIDAK (amati
responnya). Bagus sekali, respon inilah yang akan menggantikan jawaban
ya/tidak dari anda.”

Catatan: karena berada dalam kondisi hipnosis, gerakan fisik dari suyet akan sangat
halus sehingga hipnotis/hipnoterapis harus mengamati dengan baik.

Untuk mengetahui depth level dari suyet, contoh script yang dapat digunakan adalah
(setelah memasang ideo-motor response):

”Apakah anda sudah benar-benar berada di tempat tersebut?”


”Dari 0-100, 0 adalah kondisi tertidur lelap sedangkan 100 adalah kesadaran penuh,
apakah anda sudah berada di bawah 50?”

5. Sugesti

Dalam tahap ini, sugesti diberikan. Sugesti yang digunakan disesuaikan dengan
tujuan hipnosis. Entah untuk tujuan hiburan, motivasi, atau terapi. Tersedia
berbagai macam script untuk sugesti yang dapat ditemui di berbagai buku-buku
hipnosis maupun situs internet. Bahkan, di toko buku juga tersedia buku yang
memuat kumpulan script.

Pada prinsipnya, sugesti dilakukan dengan kalimat present tense (masa kini)
sehingga kata ”akan” perlu dihindari dan gunakan kata ”saat ini”. Selain itu,
penggunaan kata negatif seperti kata ”tidak” harus diminimalkan. Sentuhan
pribadi dan emosional juga harus disertakan agar sugesti dapat masuk dengan
baik. Perlu diperhatikan bahwa sugesti dapat ditolak oleh suyet jika
bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh suyet, sehingga kemungkinan
terjadinya penyalahgunaan hipnosis sangat kecil (untuk lebih jelasnya baca 7
mitos tentang hipnosis).

6. Terminasi

Terminasi berarti mengakhiri proses hipnosis. Setelah sugesti diberikan dan proses
hipnosis dirasa akan diakhiri, maka terminasi dapat dilakukan. Umumnya, dalam
terminasi diberikan sugesti positif seperti bangun dengan tubuh yang sehat dan
sebagainya. Script yang dapat digunakan untuk melakukan terminasi adalah
sebagai berikut:

”Baiklah, mari kita kembali berhitung dari satu sampai lima. Ketika hitungan sudah
sampai di angka lima, anda bisa kembali membuka mata dengan perasaan yang
sangat segar dan sehat. Mari kita hitung sekarang. Satu… anda mulai kembali
naik ke kesadaran perlahan-lahan. Dua… anda mulai mampu menggerakan jari-
jari tangan dan kaki anda kembali. Tiga… anda sudah siap untuk membuka
mata. Empat… anda membuka mata perlahan-lahan. Dan lima… kini anda
membuka mata anda dan bangun dalam kondisi yang luar biasa sehat, luar
biasa segar.”

7. Post-hypnotic

Tahapan terakhir dari proses hipnosis yang berada setelah terminasi. Beberapa saat
setelah suyet membuka matanya, sebenarnya ia masih berada dalam kondisi
trance dan akan segera kembali ke kesadaran beta. Keadaan ini dapat
dimanfaatkan untuk memberikan sugesti positif kepada suyet. Biasanya, hipnotis
akan menanyakan, ”Bagaimana rasanya?”. Kemudian suyet akan menjawab,
”Enak, rileks, segar banget.”
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa


takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek Fobia,
hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu
keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh
ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan
takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu
keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.
Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan
emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang
tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali
orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara otomatis akan merasa
cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling mudah dan cepat adalah
dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada keadaan fiksasi. Kecemasan
yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi
negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi).
Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek fobia
lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola”
respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya.
Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin
tidak produktif. Fobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses
lainnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Fobia
Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena.
Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya.
Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti.
Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman
sekitarnya. Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang
pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara
seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat
dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti
kucing atau tikus. Sementara dibayangan mental seorang pengidap fobia subjek
tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan
ataupun menakutkan.
Phobia merupakan suatu mekanisme pelarian diri dari konflik-konflik bathiniah dari
jiwa seseorang. Mungkin ada sekitar 80 atau bahkan 100 macam phobia yang
dikenal orang sekarang. Phobia- phobia itu menyebabkan timbulnya ketakutan
yang absurd dan tak masuk akal. Biasanya phobia-phobia tersebut berhubungan
dengan pengalaman-pengalaman yang terpendam, yang ditekan dalam-dalam
dan dilupakan.
Fobia berasal dari istilah Yunani ‘phobos’ yang berarti lari (fight), takut dan panik
(panic-fear), takut hebat (terror). Istilah ini memang dipakai sejak zaman
hippocrates. Jaspers (1923) berpendapat bahwa fobia adalah rasa takut yang
sangat dan tidak dapat diatasi terhadap suatu keadaan dan tugas yang biasa.
Ross (1937) mengatakan fobia sebagai rasa takut yang khas yang disadari oleh
penderita sebagai suatu hal yang tidak masuk akal, tetapi tidak dapat
mengatasinya. Dan Errera (1962) menyatakan sebagai rasa takut yang selalu
ada terhadap suatu benda atau pendapat yang dalam keadaan biasa tidak
menimbulkan rasa takut.
Begitu banyak pendapat tentang fobia, dapat disimpulkan bahwa fobia adalah suatu
bentuk rasa takut yang :
1. Tidak sesuai dengan keadaan lingkungan.
2. Tidak dapat diterangkan atau dijelaskan.
3. Yang khas, yang tidak masuk akal.
4. Tidak dapat diatasi walaupun disadari penderita.
5. Rasa takut secara umum timbul sebagai interaksi dari 3 faktor berikut ini:
6. Secara biologik ditentukan sejak lahir.
7. Bergantung pada proses maturasi.
8. Rasa takut yang berasal dari pembelajaran seseorang dan lingkungan sosial.
9. Rasa takut yang spesifik dapat disebabkan antara lain:
10. pengaruh filogenetik
11. pengaruh keturunan
12. kepribadian
13. pengaruh budaya dan daerah (adat istiadat)
14. trauma dan tekanan
Suatu trauma yang mendadak sering disertai fobia dari benda yang ada
hubungannya dengan peristiwa itu. Trauma dapat berupa psikologis atau fisik.
Fobia juga mulai setelah adanya tekanan yang umum dalam kehidupan. Sekali
fobia telah terjangkit, maka dapat menjalar ke pancaindera lainnya.

B. Penggolongan rasa takut dan fobia menurut L.Marks ( 1969) :


1. Rasa takut yang biasa ( normal fears )
a. Ketakutan anak; takut ditinggal orang tua, suara keras, orang asing, ataupun
hewan.
b. Kketakutan orang dewasa; tempat tinggi, tempat gelap, menghadapi ujian dan
cukup diatasi dengan penjelasan yang singkat.
2. Rasa takut yang tidak biasa ( abnormal fears / fobia )
a. Fobia terhadap rangsang dari luar antara lain :
1) Agora fobia (fobia paling banyak dialami dan tersulit untuk diatasi dokter)
Membutuhkan perawatan rumah sakit apabila terlalu hebat rasa takutnya sehingga
membuat penderita tidak dapat melakukan apapun. Fobia ini sering terjadi pada
wanita, biasanya setelah pubertas ( 15-35 tahun ), biasanya ditandai dengan
ketakutan untuk pergi sendiri atau tempat ramai (mal).
2) Fobia social
Takut pada aktivitas sosial karena takut akan terjadinya rasa canggung dan cemas
pada waktu makan dan minum depan orang lain, berbicara di depan umum
maupun dalam bergaul dengan lawan jenis, menggunakan fasilitas umum. Rasa
takut ini berlainan dengan rasa takut pada orang banyak seperti agoraphobia
dimana takut mengenai sejumlah orang bukan individu yang memperhatikannya
seperti fobia sosial. Fobia ini sering dialami oleh remaja baik remaja perempuan
dan laki-laki.. Fobia sosial biasanya disertai harga diri yang rendah dan takut
untuk dikritik.
3) Fobia hewan (penderita kebanyakan wanita).
4) Fobia khusus (petir, guntur dll).
b. Fobia terhadap rangsangan dari dalam :
1) Fobia terhadap penyakit: rasa takut terhadap penyakit khusus ( kanker, stroke,
dll).
2) Fobia obsesif: rasa takut terhadap perasaan sendiri yang disadari oleh
penderita namun ia tidak dapat mengatasainya (khawatir menyakiti perasaan
orang lain, mengeluarkan kata-kata kotor, berbohong, dll).

C. Adakah Solusi bagi penderita Fobia?


Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi fobia, segala tindakan yang ada
dilakukan untuk menghilangkan ketakutan, antara lain :
1. Psikoterapi (perorangan maupun berkelompok). Tujuan: memberikan dukungan
agar ia dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas dan takutnya.
2. Psikoanalisa. Tujuan: penderita dapat menggali penyebabnya akan tetapi hal ini
membutuhkan waktu yang panjang.
3. Desensitisasi: mendekatkan benda atau keadaan yang menakutkan pada
penderita mulai dari yang ringan hingga yang paling.
4. Pembanjiran. (kebalikan dengan desensitisasi), dimulai dari yang paling
menakutkan hingga yang paling ringan.
5. Terapi Kimiawi: memberikan obat anti cemas (Benzodiazepin) atau penenang
ringan tetapi harus sesuai dengan indikasi atau resep dokter.
6. Terapi Relaksasi dan HYPNOSIS atau yang lebih dikenal dengan nama
Hypnotherapy. Terapi ini memperkerjakan alam bawah sadar dan
mengistirahatkan jiwa sadar.
7. Teknik Persuasi. (Servo Power = pemrograman prestasi, motivasi berkarier;
Servo Therapy pemrograman terapi individual; dan Servo Mediator = mediadi
konflik). Teknik ini biasa menggunakan kata atau sugesti positif.

D. Istilah – istilah Fobia


1. afrophobia – ketakutan akan orang Afrika atau budaya Afrika.
2. caucasophobia – ketakutan akan orang dari ras kaukasus.
3. hydrophobia – ketakutan akan air.
4. photophobia – ketakutan akan cahaya.
5. antlophobia – takut akan banjir.
6. cenophobia – takut akan ruangan yang kosong.
7. hyperphobia – takut akan ketinggian.
8. bibliophobia – takut pada buku.
9. dendrophobia – takut pada pohon.
10. ecclesophobia – takut pada gereja.
11. felinophobia – takut akan kucing.
12. genuphobia – takut akan lutut.
13. japanophobia – ketakutan akan orang jepang.
14. lyghopobia – ketakutan akan kegelapan.
15. necrophobia – takut akan kematian.
16. panophobia – takut akan segalanya.
17. rhanidaphobia – takut pada katak.
18. schlionophobia – takut pada sekolah.
19. uranophobia – ketakutan akan surga.
20. venustraphobia – takut pada perempuan yang cantik.
21. xanthophobia – ketakutan pada warna kuning.

E. Sembuhkan Fobia Dalam Waktu Cepat


Dibanding metode psikoterapi yang lain, hipnoterapi merupakan metode yang paling
cepat dalam menyembuhkan fobia. Untuk sebagian besar kasus fobia yang kami
tangani, fobia bukanlah masalah yang sulit diatasi dengan hipnoterapi. Sebagian
besar fobia bisa disembuhkan dalam waktu satu jam saja. Kesembuhan tersebut
pun bertahan lama atau permanen.
Fobia adalah rasa takut yang berlebihan dan tidak wajar terhadap suatu benda,
situasi, atau kejadian tertentu, yang ditandai dengan keinginan untuk selalu
menghindari sesuatu yang ditakuti itu. Perbedaan fobia dengan rasa takut biasa
adalah sesuatu yang ditakuti oleh penderita fobia biasanya bukanlah obyek yang
menakutkan bagi sebagian besar orang normal.
Apabila penderita fobia secara tidak sengaja atau terpaksa bersinggungan dengan
obyek yang ditakuti, maka akan terjadi reaksi panik, cemas, gemetar, nafas
pendek dan cepat, jantung berdebar, keringat dingin, ingin muntah, kepala
pusing, badan lemas, tidak mampu bergerak, atau bahkan sampai pingsan.
Pada kasus fobia yang lebih parah, gejala kecemasan yang sangat hebat selalu
menyertai penderita. Penderita akan terus-menerus merasa takut walaupun
disekitarnya tidak ada obyek yang ditakutinya. Perasaan cemas bisa muncul
hanya dengan membayangkan atau mengingat obyek yang ditakuti.
Sebagian besar penderita fobia menyembunyikan ketakutannya, atau tidak berterus
terang kepada orang lain soal rasa takutnya yang tak wajar karena takut
dianggap gila atau sakit jiwa oleh orang lain. Sebenarnya fobia bukanlah
gangguan mental yang serius, orang yang menderita fobia tetap bisa beraktivitas
normal dengan cara menghindari sumber rasa takutnya.
Fobia terjadi karena pikiran bawah sadar kita salah memberi arti terhadap peristiwa
traumatis yang menyebabkan fobia. Jadi tidak perlu malu atau merasa rendah
diri apabila Anda menderita fobia. Mungkin Anda tidak tahu apa yang
menyebabkan fobia Anda. Dengan hipnoterapi, Anda bisa mengetahui penyebab
sekaligus menyembuhkan fobia dengan mudah dan cepat.
Dengan hipnoterapi, Anda akan dibimbing untuk menemukan penyebab fobianya,
kemudian dilakukan pembelajaran ulang atas peristiwa penyebab fobia tersebut.
Dengan pemahaman yang baru mengenai peristiwa traumatis tersebut, maka
fobia akan sembuh seketika dan tidak kambuh dalam waktu yang sangat lama
atau bahkan selamanya.
Banyak penderita fobia yang enggan pergi ke para ahli untuk mengikuti terapi
karena takut harus bersinggungan dengan obyek yang ditakuti. Namun Anda
perlu tahu bahwa dalam hipnoterapi Anda tidak akan diminta berhadapan
dengan obyek yang Anda takuti kalau Anda masih merasa takut. Anda tidak
akan "dipaksa" untuk melawan rasa takut.
Ada ratusan, bahkan mungkin ratusan jenis fobia dengan nama-nama latin yang
berbeda dan sulit diingat. Namun bagi kami, mengetahui nama fobia bukanlah
hal yang penting. Kami sering menyembuhkan fobia tanpa mengetahui nama
fobia tersebut. Kami tidak tertarik untuk menamai masalah. Kami hanya tertarik
untuk menghilangkan masalah itu secepat mungkin.
Apapun jenis fobia yang diderita, fobia selalu punya pola-pola tertentu. Dengan kata
lain, meskipun tampak dalam bentuk yang berbeda-beda semua fobia adalah
sama, dan cara terapinya pun hampir sama. Dengan teknik terapi yang kami
tekuni, kami bisa membantu menyembuhkan apapun fobia atau ketakutan Anda.

BAB III
WAWANCARA DAN OBSERVASI
(FELINOPHOBIA)
A. SEKILAS TENTANG FELINOPHOBIA
Felinophobia, juga dikenal sebagai Ailurophobia, Elurophobia, Galeophobia, dan
Gatophobia. Felinophobia adalah reaksi tak wajar dan rasa takut berlebihan
terhadap kucing, seringkali dengan diikutin beberapa alasan pembenaran dari
subjectnya. Bagi orang dewasa, sebagian dapat menyadari ketidakwajaran ini.
Sayangnya mereka masih cenderung memikirkan saat - saat terjebak dan harus
berhadapan dengan kucing. Selanjutnya mengalami kegelisahan yang hebat.
Felinophobia seringkali menyebabkan timbulnya sesak nafas, pusing-pusing di
kepala, keringat berlebihan, rasa muak, mulut kering, gemetar, jantung
berdebar, gagap dan gugup, hingga sampai tahap kehilangan kontrol.
Banyak orang mengembangkan phobia-phobia terhadap banyak hal lainnya, seperti
kegelapan, situasi sosial, laba-laba hingga darah.Dalam banyak referensi
disebutkan bahwasanya pengobatan tercepat dapat dilakukan dengan metode
hypnotherapy.

B. WAWANCARA
1. Identitas :
a. Nama : UL (Inisial)
b. Kelamin : Perempuan
c. Umur : 24 Tahun
d. Pekerjaan : Mahasiswi
2. Hasil Wawancara (Rekaman Terlampir Berupa Compact Disk/Cd) :
a. Pewawancara : Selamat Pagi Kak?
Yang diwawancarai : Pagi..!!!
b. Pewawancara : Bisa saya bertanya sebentar?
Yang diwawancarai : Iya, silahkan dek, kenapa??
c. Pewawancara : Anda tau tidak apa itu Fobia?
Yang diwawancarai : Tau sedikit, tapi Cuma gambaran secara umum
saja.
d. Pewawancara : Baiklah, saya akan jelaskan sedikit tentang
fobia, fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan terhadap suatu hal atau
fenomena maksudnya ketakutan yang tidak beralasan, apakah anda
mempunyai gangguan tersebut??
Yang diwawancarai : Oh.. Iya, saya sangat takut dengan kucing.
e. Pewawancara : Ok.. saya ingin bertanya sedikit tentang fobia
yang anda alami?? Kenapa anda takut pada kucing??
Yang diwawancarai : Saya takut mungkin karena trauma masa kecil,
saya pernah injak ekornya kemudian saya digigitnya, sejak itu saya sangat
takut pada kucing.
f. Pewawancara : Kalau terhadap kucing yang cantik atau bersih,
apakah anda juga takut??
Yang diwawancarai : Pokoknya terhadap semua kucing saya takut..!!!
g. Pewawancara : Sejak kapan anda takut??
Yang diwawancarai : Sejak Kelas Satu SMP..!! sejak itu saya takut
terhadap kucing sampai sekarang.
h. Pewawancara : Bagaimana jika ada seekor kucing yang datang
didekat anda?
Yang diwawancarai : Pokok saya berusaha mungkin untuk
menghindar dan menjauhinya.
i. Pewawancara : Kira-kira dari jarak berapa anda melihat kucing
kemudian anda menghindar?
Yang diwawancarai : Asalkan saya melihat kucing saya langsung
menghindar, walaupun sejauh bagaimana.
j. Pewawancara : Ada tidak keinginan untuk menghilangkan
gangguan tersebut?
Yang diwawancarai : Yang pastinya ada, tapi saya merasa sangat sulit
untuk di hilangkan.
k. Pewawancara : Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada
saya!!!
Yang diwawancarai : Sama-sama.

C. OBSERVASI
Hasil Observasi terhadap yang diwawancarai :
1. Menggunakan baju warna ungu
2. Matanya agak bulat
3. Alisnya tebal
4. Hidungnya mancung
5. Bibirnya tipis
6. Kulitnya sawo matang
7. Dagunya runcing
8. Rambutnya hitam, lurus, panjangnya sebahu
9. Mengankan jepitan rambut
10. Mengenakan celana pendek dengan motif bunga
11. Tingginya kurang lebih 156 cm
12. Pada saat awal observasi objek matanya sering melirik kekanan dan kekiri.
13. Pada saat di Tanya tentang fobianya terhadap kucing bahunya terangkat
sedikit, kedua lengan tangan merapat kedepan dada, jari tangannya
menggenggam, mata mengecil, bibirnya tebuka dan bergetar, antara gigi
atas dan bawah terlihat merapat, kemudian berbicara dan menjelaskan
gangguan yang dialaminya, pada saat itu kemudian dijidadnya terlihat
basah karena keringat.
14. Terkadang objek menggaruk kepalanya.
15. Pada saat ditanyakan “Ada tidak keinginan untuk menghilangkan
gangguan tersebut” bibirnya tertutup rapat, matanya mengecil dan jidatnya
mengkerut.