Anda di halaman 1dari 10

TELAAH JURNAL

I. DESKRIPSI UMUM
No. Item
1. Judul jurnal
Efektifitas terapi senam stroke terhadap perbaikan kemampuan fungsional pasien
paska stroke
2. Penulis Jurnal
a. Neri Basmara
b. Reni Prima Guaty
c. Ema Julita
3. Nama Jurnal / dipublikasikan oleh

[PDF] stikesmuh-pkj.ac.id

http://www.journal.stikesmuh-pkj.ac.id/journal/index.php/jik/article/view/26
4. Penelaah/review jurnal
Kelompok: 2
a. Abdul Ibrahim
b. Dady Werandana
c. Eka Sawitri
d. Hariyana
e. Khairiyah
f. Marliani Dwi Astuti
g. Nur Laila Sari
h. Nur Putri Amalia
i. Ramadani
j. Rossa Fatmala
k. Sulaiman
l. Vina Alviolita
m. Yesi Alpiani
5. Sistematika penulisan
IMRAD ( Introduction, Methode, Result, Analyze, Discussion )
6. Referensi daftar pustaka
Buku : 7 Buku antara tahun 2005 – 2012 ( referensi bukan 5 tahun
terakhir )
Website : 3 website ( tahun 2012 )

II. DESKRIPSI CONTENT:


No Komponen Jurnal Item question to help “ Telaah Jurnal “
1 Pendahuluan 1. Apa masalah penelitian
Penyakit kusta
2. Seberapa besar masalah tersebut?
Di Indonesia penderita kusta pada tahun
2012 sebanyak 23.169 dan jumlah kecacatan
tingkat dua diantara penderita baru
sebanyak 2.025 orang atau 10.11%
3. Dampak masalah jika tidak di atasi?
Jika dibandingkan tahun 2011 terjadi
peningkatan dimana jumlah penderita
kusta mencapai 20.023 kasus
4. Bagaimana kesenjangan yang terjadi?
Bandingkan antara masalah yang
ada/kenyataan dengan harapan/target?
Tidak ada kesenjanngan dalam penelitian.
Penelitian yang di lakukan sesuai dengan
harapan / target. Upaya pencegahan
kerusakan kulit penderita kusta dengan
minyak zaitun meningkat darin 53,35
menjadi 93.3%
5. Berdasarkan masalah penelitian, apa tujuan
dan hipotesis yang ditetapkan oleh peneliti
Tujuannya untuk mengurangi penderita
kusta di Puskesmas Buaran Pekalongan
dengn menggunakan minyak zaitun yang
dilakukan di rumah dengan melakukan
perawatan diri dengan rajin
2 Methode
1. Desain 1. Desain penelitian apa yang digunakan?
penelitian
Untuk desain eksperimen:
a. Apakah menggunakan kelompok kontrol untuk
menentukan efektifitas suatu intervensi?
Iya, karena untuk membandingkan antara
kelompok control dan eksperimen untuk
mencapai suatu intervensi
b. Apakah peneliti melakukan random alokasi
(randomisasi)?
Uiya, penelitian ini menggunakan
perbandingan untuk mengetahui manfaat
dari minyak zaitun.
c. Jika peneliti melakukan randomisasi,
bagaimana prosedurnya, apakah dilakukan
randomisasi sederhana, blok, stratifikasi?
Siapa yang melakukan randomisasi?
Iya, yang pertama melakukan eksperimen
kepada penderita kusta sesudah di lakukan
intervensi pemberian minyak zaitun dan
keadaan kulit penderita kusta sesudah
dilakukan intervensi pemberian minyak
zaitun randomisasi sederhana peneliti
d. Jika ternyata pada data dasar (base line)
terdapat perbedaan karakteristik/variable
perancu pada kedua kelompok, apakah peneliti
melakukan pengendalian pada uji statistic
dengan stratifikasi atau uji multivariate?
Dilakukan multivariate apabila adanya
penambbahan dan pengurangan variable
e. Apakah peneliti melakukan masking atau
penyamaran dalam memberikan perlakuan
pada responden (responden tidak menyadari
apakah sedang mendapatkan intervensi yang
diuji cobakan?
Peneliti tidak menggunakan masking atau
penyamaran karena penelitian yang
dilakukan 15 responden selama 30 hari yang
menderita kusta di Wilayah Kerja
Puskesmas Buaran Kabupaten Pekalongan
sebelum dilakukan intervensi dengan
pemberian minyak zaitun didapatkan
jumlah responden yang tidak mengalami
kerusakan kulit ada 8 responden ( 53,3%)
dan yang mengalami kerusakan kulit ada 7
responden (46,7%)
f. Untuk menjamin kualitas pengukuran, apakah
peneliti melakukan blinding saat mengukur
outcome? Blinding merupakan upaya agar
sampel atau peneliti tidak mengetahui kedalam
kelompok mana sampel dimasukkan (
eksperiment atau control ). Hal ini
menunjukkan upaya peneliti meningkatkan
validitas informasi
Desain penelitian ini menggunakan quasy
eksperimental dengan menggunakan
rancangan penelitian pre test dan ponst test.
Teknik pengambilan sampel menggunakan
teknik purposive.
2. Populasi dan 1. Siapa populasi target dan populasi
sampel terjangkau?
Populasi target dan terjangkau adalah
semua penderita kusta yang ada di
wilayah kerja Puskesmas Buaran
Kabupaten Pekalongan sebanyak 36
penderita
2. Siapa sampel penelitian? Apa kriteria
inklusi dan eksklusi sampel?
Sampel yang digunakan adalah seluruh
pasien kusta di Puskesmas Buaran yang
tidak mengalami cacat tingkat dua yang
berjumlah 35 responden. Kriteria
inklusi dan eksklusi adalah pasien yang
tercatat di Puskesmas yang menderita
kusta yang tidak mengalami cacat
tingkat dua.
3. Bagaimana metode sampling yang
digunakan untuk memilih sampel dari
populasi target?
Metode sampling yang digunakan
adalah Quasy Eksperimental dengan
menggunakan rancangan penelitian pre
test dan post test. Pengukuran
kerusakan kulit dilakukan awal
perlakuan pada akhir perlakuan
4. Berapa jumlah sampel yang digunakan
dalam penelitian? Metode atau rumus apa
yang digunakan untuk menentukan jumlah
sampel?
35 responden
3. Pengukuran 1. Variable apa saja yang diukur dalam
atau penelitian?
pengumpulan Variable yang diukur dalam penelitian
data yaitu pre test dan post test design
2. Metode apa yang digunakan untuk
mengumpulkan data?
Peneliti menggunakan metode Quasy
Eksperimental pada jurnalnya
3. Alat ukur apa yang digunakan untuk
mengumpulkan data?
Alat ukur yang digunakan peneliti yaitu
lembar check list observasi sebelum dan
sesudah menggunakan minyak zaitun
1. 4. Bagaimana validitas dan rehabilitas alat
ukur/instrument yang digunakan? Apakah
peneliti menguji validitas dan rehabilitas alat
ukur? Jika dilakukan apa metode yang
digunakan untuk menguji validitas dan
rehabilitas alat ukur dan bagaimana hassilnya?
Instrument yang digunakan kuisioner di
dalam jurnal peneliti tidak ada
mencantumkan hasil validitas dan
rehabilitas dari alat yang digunakan,
peneliti hanya mencantumkan hasil dari
perubahan data yaitu
5. Siapa yang melakukan pengukuran atau
pengumpulan data? Apakah dilakukan
pelatihan khusus untuk observer atau yang
melakukan pengukuran?
4. Analisis data 1. Uji statistic apa yang digunakan untuk menguji
hipotesis atau menganalisis data?
Uji statistic tidak ada
2. Untuk penelitian eksperimen apakah peneliti
menggunakan metode intention to treat atau on
treatment analysis?
Penelitian experiment peneliti
menggunakan metode on treatmen analysis
karena dari 35 responden masih ada 15
responden yang mengikuti penelitian
selama 30 hari
a. Intention to treat adalah menganalisis
semua sampel yang megikuti penelitian,
baik yang drop out, loss follow up atau
berhenti sebelum penelitian selesai.
Sampel yang drop out dianggap hasil
intervensi yang gagal.
b. On treatment analysis hanya menganalisis
sampel yang mengikuti penelitian sampai
selesai saja, sedangkan sampel drop out
diannggap tidak mengikuti penelitian dan
tidak diikutkan dalam analisis
3. Program atau software statistic apa yang
digunakan peneliti untuk menganalisis data?
Tidak menggunakan software statistic
3 Hasil penelitian
1. Alur 1. Bagaimana alur (flow) penelitian yang
penelitian dan menggambarkan responden yang mengikuti
data base line penelitian sampai selesai, drop out dan loss
follow up?
Pada jurnal penelitian tersebut, peneliti
mengambil 35 responden dengan
mengambil sampel 15 responden yang akan
diteliti selama 30 hari pada tahun 2012.
Seluruh responden (sampel) mengikuti
penelitian sampai akhir.
2. Bagaimana karakteristik responden dan
baseline data?
Pada penelitian digunakan sampel sebanyak
15 responden dengan karakteristik
 8 orang yang tidak mengalami
kerusakan kulit ( pre test )
 7 orang yang mengalami kerusakan
kulit ( post test )
 Menggunakan responden yang tidak
mengalami cacat tingkat dua
 Base line data yang digunakan
adalah independent sampel T-test

3. Pada penelitian eksperiment apakah variable


perancu (counfounding variable) dalam data
base line tersebar seimbang pada setiap
kelompok? Jika tidak seimbang apa dilakukan
peneliti untuk membuat penelitian bebas dari
pengaruh variable perancu?
Pada penelitian tidak terdapat variable
perancu, karena hasil penelitian
menunjukkan adanya peningkatan
perbaikan keadaan kulit penderita dari
53.3% menjadi 93.3%
2. Hasil 1. Apa hasil utama dari penelitian? Jika peneliti
penelitian melakukan uji hipotesis, apakah hipotesis
penelitian terbukti atau tidak terbukti (
bermakna atau tidak secara statistic )? Apakah
hasil penelitian juga bermakna secara klinis?
a. Hasil penelitian
1) Keadaan kulit penderita kusta
sebelum dilakukan intervensi
pemberian minyak zaitun yang
tidak mengalami kerusakan kulit
sebanyak 8 responden (53,3%) dan
yang mengalami kerusakan kulit
sebanyak 7 responden (46,7%)
2) Keadaan kulitpenderita sesudah
dilakukan intervensi pemberian
minyak zaitun yangtidak
mengalami kerusakan kulit
sebanyak 14 responden (93,3%) dan
yang masih mengalami kerusakan
kulit sebanyak 1 responden (6,7%)
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penderita kusta yang
melakukan intervensi dengan
menggunakan minyak zaitun efektif
untuk mengurangi kerusakan kulit.
b. Penelitian melakukan uji hipotesis
Uji hipotesis peneliti terbukti bahwa
efektifitas minyak zaitun mampu
mengurangi kerusakan kulit dilihat dari
banyaknya responden yang mengalami
kerusakan kulit berkurang ketika
menggunakan minyak zaitun.
c. Penelitian mencantumkan manfaat vit
yang terdapat pada minyak zaitun dan
memberikan saran upaya pencegahan
yang tercantum dalam jurnal peneliti.
d. Peneliti sudah menjelaskan
semuamanfaat minyak zaitun dan
vitamin yang terkandung dalam minyak
zaitun.
2. Untuk penelitian eksperimen dengan variable
dependen kategorik apakah peneliti
menjelaskan tentang nilai kepentingan klinis
dari hasilmpenelitian sepertinumber need to
treat (NTT), relative risk reduction (RRR) atau
absolute risk reduction (ARR)
a. Peneliti menjelaskan atau Relative Risk
( RR ) yaitu perbandingan antara
sebelum dan sesudah dilakukan
pemberian minyak zaitun.
b. Peneliti menjelaskan jumlah pasien yang
akan diberi pengobatan
4 Diskusi (discuss) 1. Bagaimana interpretasi peneliti terhadap hasil
penelitian? Apakah peneliti membuat
interpretasi yang rasional dan ilmiah tentang
hal-hal yang ditemukan dalam penelitian
berdasarkan teori terkini? Catatan: meskipun
hasil penelitian tidak sesuai dengan hipotesis,
namun suatu penelitian tetap berkualitas jika
peneliti mampu menjelaskan rasional secara
ilmiah mengapa hipotesisnya tidak terbukti.
 Penyakit ini lebih banyak timbul pada pria
dibandingkan wanita, dan juga
diperkirakan bahwa faktor keturunan
turut berperan. Dari semua penduduk di
suatu daerah kusta 5-10% telah terinfeksi
Mycobacterium Leprae. Hal ini dapat
ditentukan dengan dipstick, suatu batang
kecil dengan kapas yang dimasukkan
kedalam liang hidung dan diperiksa di
laboratorium untuk mengetahui
keberadaasn basil kusta (Tjay & Rahardja
2007, h. 164).
 Penyakit kusta adalah penyakit kronik
yang disebabkan oleh Mycobacterium
lepra (M. leprae) yang pertama kali
menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat
menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran
napas bagian atas, sistim retikulo endotelia,
mata, otot, tulang dan testis (Amirudin
dikutip dalam Kajian Pustaka 2013, h. 1).
2. Bagaimana peneliti membandingkan hasil
penelitiannya dengan penelitian-penelitian
terdahulu serta teori yang ada saat ini untuk
menunjukkan adanya relevansi?
Di Indonesia penderita kusta pada tahun
2012 sebanyak 23.169 dan jumlah kecacatan
tingkat 2 diantara penderita baru sebanyak
2.025 orang atau 10,11%. Jika
dibandingkan tahun 2011 terjadi
peningkatan dimana jumlah penderita
kusta mencapai 20.023 kasus (Tempo 2013,
h.1). Di Jawa Tengah angka prevalensi kusta
pada tahun 2012 sebanyak 6076 per 10.000
penduduk (Dinkes Provinsi Jawa Tengah,
2012). Di Kabuapten Pekalongan pada
tahun 2009 Prevlensi Rate kusta sebesar
0,7% per 10.000 pendudukdan Case
Detection Rate (CDR) sebesar 0,06% per
10.000 penduduk, dan cacat tingkat dua
sebesar 0,07% (Dinkes Kabupaten
Pekalongan, 2009).
3. Bagaimana peneliti menjelaskan makna dan
relevansi hasil penelitiannya dengan
perkembangan ilmu keperawatan/kesehatan
serta terhadap pemecahan masalah?
 Penderita kusta di Wilayah Kerja
Puskesmas Buaran Kabupaten Pekalongan
masih banyak mengerjakan pekerjaan
rumah yang berbahaya, seharusnya
membagi pekerjaan rumah tangga dengan
anggota keluarga yang lain agar anggota
keluarga pasien kusta tersebut dapat
mengerjakan bagian yang berbahaya bagi
tangan atau kaki yang sudah mati rasa. Hal
yang harus diperhatikan untuk pasien
kusta adalah dengan memeriksa tangan
atau kaki dengan teliti apakah ada luka
atau lecet. Jika ada luka, memar, lecet
sekecil apapun haruslah dirawat dan
diistirahatkan bagian yang luka tersebut
sampai sembuh (Depkes RI 2006, h. 100).
 Cara untuk menjaga dan mencegah
terjadinya kerusakan kulit adalah dengan
minyak zaitun yang memiliki beragam
manfaat, baik untuk kesehatan maupun
kecantikan. Minyak zaitun dipercaya dapat
membantu mempertahankan kelembapan
dan elastisitas kulit sekaligus
memperlancar proses regenerasi kulit,
sehingga kulit tidak mudah kering dan
berkerut (Chaerunisa, 2008).
4. Bagaimana nilai kepentingan (importancy)
hasil penelitian?
 Efektivitas pemberian minyak zaitun
dalam upaya pencegahan kerusakan kulit
pada penderita kusta di Wilayah Kerja
Puskesmas Buaran Kabupaten Pekalongan.
 Perawatan kulit pada penderita kusta
sangatlah penting untuk mencegah
terjadinya kerusakan kulit sampai dengan
kecacatan
5. Bagaimana applicability hasil penelitan
menurut peneliti? Apakah hasil penelitian
dapat diterapkan pada tatanan praktik
keperawatan ditinjau dari aspek fasilitas,
pembiayaan, sumber daya manusia, dan aspek
legal?
Pada tahun 1980 saat WHO
menyelenggarakan terapi kombinasi Multi
Drung Therapy (MDT) dari tiga obat yang
dalam 2 tahun dapat menyembuhkan kusta
secara tuntas. Sejak itu jumlah pasien
keseluruhan menurun secara drastis, tetapi
sebaliknya jumlah penderita baru
meningkat. Pada tahun 1996 jumlah
penderita diperkirakan lebih dari 1,4 juta,
sebelumnya pada tahun 1991 WHO telah
menerbitkan resolusi untuk menghapus
kusta dari dunia padatahun 2000.
a. Keadaan kulit penderita kusta
sebelum dilakukan intervensi
pemberian minyak zaitun yang tidak
mengalami kerusakan kulit sebanyak 8
responden (53,3%) dan yang
mengalami kerusakan kulit sebanyak 7
responden (46,7%).
b. Keadaan kulit penderita kusta sesudah
dilakukan intervensi pemberian
minyak zaitun yang tidak mengalami
kerusakan kulit sebanyak 14
responden (93,3%) dan yang masih
mengalami kerusakan kulitsebanyak 1
responden (6,7%).

6. Apakah mungkin penelitian ini direplukasi


pada setting pratik klinik lainnya?
 Penelitian ini menggunakan quasy
eksperimental dengan menggunakan
rancangan penelitian pre test and post test
design, pengukuran kerusakan kulit
dilakukan awal perlakuan dan pada akhir
perlakuan. Efektivitas minyak zaitun
sebelum dan sesudah dibandingkan.
Kerusakan kulit dikendalikan pada awal
pengambilan sampel yaitu dengan memilih
pasien yang belum mengalami kecacatan
tingkat dua.
 Populasi dalam penelitian ini adalah semua
penderita kusta yang ada diWilayah kerja
Puskesmas Buaran Kabupaten Pekalongan
sebanyak 36 penderita, diantaranya
penderita sudah mengalami cacat tingkat
dua. Sampel yang digunakan adalah
seluruh pasien kusta di Puskesmas Buaran
yang tidak mengalami cacat tingkat dua
yang berjumlah 35 responden.
 Jenis instrumen yang digunakan adalah
lembar checklist observasi sebelum dan
sesudah menggunakan minyak zaitun.
7. Apakah peneliti menjelaskan kekuatan dan
kelemahan penelitian? Apakah kelemahan ini
tidak menurunkan validitas hasil penelitian?
 Keadaan kulit penderita kusta sebelum
dilakukan intervensi pemberian minyak
zaitun yang tidak mengalami kerusakan
kulit sebanyak 8 responden (53,3%) dan
yang mengalami kerusakan kulit sebanyak
7 responden (46,7%). Keadaan kulit
penderita kusta sesudah dilakukan
intervensi pemberian minyak zaitun yang
tidak mengalami kerusakan kulit sebanyak
14 responden (93,3%) dan yang masih
mengalami kerusakan kulits ebanyak 1
responden (6,7%).
 Tidak di temukan kelemahan pada
penelitian ini