Anda di halaman 1dari 44

2010

APLIKASI MOTOR
INDUKSI
PENERAPAN PADA LIFT / ELEVETOR

Ryanto Sidiki & Fransiscus R. Tewuh


POLYTEKNIK NEGERI MANADO JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
KONSENTRASI LISTRIK D4
Class 2D Semester II
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan limpahan rahmatnya
sehingga Tugas Hasil kelompok kami dapat terselesaikan.Terutama kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian Tugas ini.Secara khusus kami selaku penulis Tugas ini
mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen mata kuliah ini atas bimbingan beliau
sehingga saya bisa memperoleh informasi-informasi dalam pengembangan diri dan intelektual.

Seperti pepatah yang mengatakan “Tak ada Gading yang tak retar” begitu juga dengan
Tugas ini, tentu tidak lepas dari ketidak-sempurnaan. kami selaku penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran guna pengembangan dalam diri kami. Akhir kata sekali lagi kami mengucapkan
banyak terima kasih atas partisipasi anda membaca tulisan ini.Terima kasih.

Manado, 18 April 2010

Penulis,
DAFTAR ISI

 Kata Pengatar

 Daftar Isi

 Bab I. Pendahuluan

 Bab II. Teori Dasar

1. Elektro-mekanik

2. Elektro-magnetik

 Bab III. Teori Terapan

1. Motor Induksi

 Bab IV. Pembahasan

1. Lift / Elevator

 Bab V. Kesimpulan

 Daftar Pustaka
BAB I. PENDAHULUAN

Setiap hari kita banyak melakukan aktifitas yang begitu banyak. Tahukah anda kalau 90%
pekerjaan atau aktifitas kita telah dibantu oleh sebuah motor listrik khususnya motor induksi.
Pompa air, DVD Player, Kipas angin, AC, Mesin cuci, Blendder,dan masih banyak lagi, yang
merupakan peralatan yang sering kita gunakan. Motor induksi adalah komponen utamanya. Coba
kita bayangkan tanpa adanya motor induksi, pasti kita akan sulit untuk melakukan aktifitas.
Melalui tulisan ini akan dibahas secara mendalam tentang Motor Induksi khususnya Aplikasinya
pada Lift listrik. Mesin-mesin listrik digunakan untukmengubah suatu bentuk energi keenergi
yang lain, misalnya mesin yangmengubah energi mekanis ke energy listrik disebut generator, dan
sebaliknyaenergi listrik menjadi energy mekanis disebut motor. Masing-masingmesin
mempunyai bagian yang diamdan bagian yang bergerak.Bagian yang bergerak dan diam terdiri
dari inti besi, dipisahkan oleh celahudara dan membentuk rangkaian magnetic dimana fluksi
dihasilkan oleh aliranarus melalui kumparan/belitan yangterletak didalam kedua bagian
tersebut.Pada umumnya mesin-mesin penggerakyang digunakan di Industri mempunyaidaya
keluaran lebih besar dari 1HP dan menggunakan motor InduksiTiga Fasa.
Adapun kelebihan dan kekurangan motor induksi bila dibandingkan dengan jenis motor lainnya,
adalah :
Kelebihan Motor Induksi
�Mempunyai konstruksi yang sederhana.
�Relatif lebih murah harganya bila dibandingkan dengan jenis motor yang lainnya.
�Menghasilkan putaran yang konstan.
�Mudah perawatannya.
�Untuk pengasutan tidak memerlukan motor lain sebagai penggerak mula.
�Tidak membutuhkan sikat-sikat, sehingga rugi gesekan bisa dikurangi.
Kekurangan Motor Induksi
�Putarannya sulit diatur.
�Arus asut yang cukup tinggi, berkisar antara 5 s/d 6 kali arus nominal motor
BAB II. TEORI DASAR
1. ELEKTROMEKANIK

DASAR ELEKTROMEKANIK

1.1. Konversi Energi Elektromekanik


Konversi energi baik dari energi listrik menjadi energi mekanik (motor) maupun
sebaliknya dari energi mekanik menjadi energi listrik (generator) berlangsung melalui
medium medan magnet. Energi yang akan diubah dari satu system ke system lainnya,
sementara akan tersimpan pada medium medan magnet untuk kemudian dilepaskan
menjadi energi system lainnya. Dengan demikian, medan magnet di sini selain
berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi juga sekaligus sebagai medium untuk
mengkopel perubahan energi.

Dengan mengingat hukum kekekalan energi, proses konversi energi elektromekanik


dapat dinyatakan sebagai berikut (untuk motor):

(Energi Listrik sebagai input) = (Energi Mekanik sebagai output + Energi panas) +
(Energi pada medan magnet dan rugi-rugi magnetic)

atau dalam persamaan differensial, konversi energi dari elektris ke mekanis adalah
sebagai berikut:
dWE = dWM + dWF

Ini hanya berlaku ketika proses konversi energi sedang berlangsung pada keadaan
dinamis yang transient. Untuk keadaan tunak, dimana fluks merupakan harga yang
konstan, maka
dWF = 0
dWE = dWM

1.2. Gaya Gerak Listrik


Apabila sebuah konduktor digerakkan tegak lurus sejauh ds memotong suatu medan
magnet dengan kerapatan fluks B, maka perubahan fluks pada konduktor dengan
panjang efektif l adalah:
d = B l ds

Dari Hukum Faraday diketahui bahwa gaya gerak listrik (ggl)


E = d/dt
Maka e = B l ds/dt; dimana ds/dt = v = kecepatan

Jadi, e = B l v

1.3. Kopel
Arus listrik I yang dihasilkan di dalam suatu medan magnet dengan kerapatan
fluks B akan menghasilkan suatu gaya F sebesar:
F=BIl

Jika jari-jari rotor adalah r, maka kopel yang dibangkitkan adalah


T=Fr

Perlu diingat bahwa saat gaya F dibangkitkan, konduktor bergerak di dalam medan
magnet da seperti diketahui akan menimbulkan gaya gerak listrik yang merupakan
reaksi (lawan) terhadap tegangan penyebabnya. Agar proses konversi energi listrik
menjadi energi mekanik (motor) dapat berlangsung, tegangan sumber harus lebih
besar daripada gaya gerak listrik lawan.

Begitu pula, suatu gerak konduktor di dalam medan magnet akan membangkitkan
tegangan e = B l V dan bila dihubungkan dengan beban, akan mengalir arus listrik I
atau energi mekanik berubah menjadi energi listrik (generator). Arus listrik yang
mengalir pada konduktor tadi merupakan medan magnet pula dan akan berinteraksi
dengan medan magnet yang telah ada (B). Interaksi medan magnet merupakan gaya
reaksi (lawan) terhadap gerak mekanik yang diberikan. Agar konversi energi mekanik
ke energi listrik dapat berlangsung, energi mekanik yang diberikan haruslah lebih
besar dari gaya reaksi tadi.

1.4. Mesin Dinamik Elementer


Pada umumnya mesin dinamik terdiri atas bagian yang berputar disebut rotor dan
bagian yang diam disebut stator. Di antara rotor dan stator terdapat celah udara. Stator
merupakan kumparan medan yang berbentuk kutub sepatu dan rotor merupakan
kumparan jangkar dengan belitan konduktor yang saling dihubungkan ujungnya (lihat
gambar) untuk mendapatkan tegangan induksi (ggl).

Jika kumparan rotor diputar dengan arah berlawanan dari arah jarum jam, tegangan
akan dibangkitkan dengan arah yang berlawanan pada kedua ujung rotor yang tidak
dihubungkan.

Simulasi mesin dinamis (generator) dapat dilihat pada situs ini.


http://www.sciencejoywagon.com/physicszone/lesson/otherpub/wfendt/generatorengl.
htm

1.5. Interaksi Medan Magnet


Kerja suatu mesin dinamis dapat juga dilihat dari segi adanya interaksi antar medan
magnet stator dan rotor, yaitu:
F=BIl
Seperti diketahui, arus listrik (I) pada persamaan di atas akan menimbulkan fluks juga
di sekitar konduktor yang dilalui. Bila kerapatan fluks akibat arus listrik dinyatakan
dengan Bs (pada stator), sedang kerapatan fluks akibat kumparan medan adalah
Br (pada rotor), maka dapat dituliskan:

T = K Br Bs sin 

Dimana
 adalah sudut antara kedua sumbu medan magnet Br dan Bs
K adalah konstanta l x r

Sudut  dikenal sebagai sudut kopel atau sudut daya dengan harga maksimum =
90o. Dengan menganggap Br dan Bs sebagai fungsi arus rotor dan arus stator,
persamaan kopel menjadi:

T = K Ir Is sin 

Dengan demikian, kopel terjadi sebagai interaksi antara dua medan magnet atau dua
arus.

1.6. Derajat Listrik


Pada setiap satu kali putaran mesin, tegangan induksi yang ditimbulkan sudah
menyelesaikan p/2 kali putaran. Maka untuk mesin 4 kutub, satu kali putaran mekanik
mesin (360o) berarti sama dengan dua kali putaran listrik (720o). Persamaan umumnya
adalah sebagai berikut:

e = (p/2) m
p = jumlah kutub mesin
e = sudut listrik
m = sudut mekanik

1.7. Frekuensi
Dari persamaan di atas, diketahui bahwa untuk setiap satu siklus tegangan listrik yang
dihasilkan, mesin telah menyelesaikan p/2 kali putaran. Karena itu frekuensi
gelombang tegangan adalah:

f = (p/2) (n/60)

n = rotasi per menit


n/60 = rotasi perdetik

Kecepatan sinkron untuk mesin arus bolak-balik lazim dinyatakan dengan


ns = 120 (f/p)

Jadi misalnya untuk generator sinkron yang bekerja dengan frekuensi 50 putaran per
detik dan mempunyai jumlah kutub p=2, maka kecepatan berputar mesin tersebut
adalah:
ns = (120 x 50)/2 = 3000 rpm.
2. Elektromagnetik

Menurut fisika: Elektromagnet adalah fenomena fisika yang berupa interaksi antara
medan listrik dan medan magnet. Cahaya adalah satu diantara fenomena gelombang
elektromagnet yang memiliki sifat ambigu, di satu pihak bersifat gelombang elektromagnet, di
lain pihak merupakan gerakan partikel yang disebut foton.Menurut Teori Minimalis cahaya
merupakan symetrical trans wave yang mengakibatkan timbulnya foton pada saat terjadi
keseimbangan prima antar medan magnet dan medan listrik.

Magnet listrik atau elektromagnet adalah inti (biasanya besi lunak) yang menjadi bersifat
magnet karena ter induksi oleh arus listrik yang mengalir dalam suatu konduktor yang dililitkan
mengelilingi inti besi lunak itu. Magnet jenis ini sifatnya tak tetap. Jika inti besi lunak diganti
dengan baja maka yang terjadi adalah magnet tetap. Besi lunak akan kehilangan sifat magnet nya
jika arus listrik diputus, sedangkan baja masih bersifat magnet jika listrik searahnya
diputus.Magnet listrik jika yang mengalir arus searah atau direct current (DC) maka yang terjadi
adalah magnet berkutub utara dan selatan, jika yang mengalir arus listrik bolak balik atau
alternating current (AC) maka akan terjadi magnet yang kutubnya berubah-ubah (Vibrator).

Dalam eksperimen Oersted, Biot-Savart dan Ampere menyatakan bahwa adanya gaya dan
medan magnet disekitar kawat berarus. Kemudian timbul pertanyaan “Apakah medan magnet
dapat menghasilkan arus listrik?”. Awal tahunn 1830, dua orang ilmuwan yaitu Michael
Faraday(Inggris) dan Joseph Henry(Amerika) menemukan bahwa perubahan medan magnet
dapat menghasilkan tegangan dan arus yang disebut sebagai ggl induksi dan arus induksi.
Proses terjadi ggl induksi dan arus induksi dikenal sebagai induksi magnetik
BAB III. TEORI TERAPAN
MOTOR INDUKSI
BAB IV. PEMBAHASAN

Elevator/Lift
salah satu jenis pesawat pengangkat yang
berfungsi untuk membawa barang maupun
penumpang dari suatu tempat yang rendah
ketempat yang lebih tinggi ataupun
sebaliknya. Adapun jenis mesin lift dibagi
menjadi dua yaitu mesin lift penumpang
dan lift barang. Gerak kerja dari mesin lift
ini adalah dengan cara menaik
turunkansangkar pada sebuah lorong lift
dimana gerakannya berasal dari putaran
motor listrik.
Konstuksi umum mesin lift/elevator berupa
sebuah sangkar yang dinaik turunkan oleh
mesin pengangkat, dimana yang akan
direncanakan disini adalah dua sangkar
tanpa penyeimbang(Counter Weight) yang
mana apabila salah satu sangkar naik maka
sangkar yang satu lagi harus turun begitu
pula untuk sebaliknya. Sangkar tersebut
dijalankan pada rel-rel dengan
menggunakan alat penuntun sangkar yang
terpasang tetap, hal ini dimaksudkan agar
lift tersebut tidak bergoyang pada saat
berjalan.

1. Control System

2. Geared Machine

3. Primary Velocity Tranducer

4. Governor

5. Hoisting Ropes
6. Roller Guide/ Guide Shoe

7. Secondary Possition Tranducer

8. Door Operator

9. Entrance Protection System

10. Load Weighing Tranducers

11. Car Safety Device

12. Traveling Cable

13. Elevator Rail

14. Counterweight

15. Compesation Ropes

16. Governor Tension Sheave

17. Counterweight Buffer

18. Car Buffer

bagian-bagian diatas belum termasuk system control pada rangkaian eleckto penggatur arus
listrik pada elevator. bagian-bagian lain dapat dilihat dibawah ini.

Bagian-bagian Lift

1. Motor Penggerak

Mesin penggerak ini menggunakan motor listrik


tiga phase yang putarannya diteruskan dengan
transmisi roda gigi cacing.Motor penggerak ini
dilengkapi dengan rem magnet ( magnetic brake
) yang berfungsi menahan motor ketika kereta
elevator telah sampai pada lantai yang dituju,
pergerakan cepat atau lambatnya elevator diatur
oleh PLC (Programable Logic Control) .Motor
penggerak dalam menarik dan menurunkan
elevator menggunakan tali baja ( rope ) yang
melingkar pada puli mesin ( sheave ).
2. Pulley

Sistem puli dalam konstruksi mesin lift terdiri atas sistem tunggal dan majemuk.

3. Tali Baja

Tali baja berfungsi untuk meneruskan gerakan dari putaran puli ke gerakan naik turun sangkar
pertama dan sangkar kedua. Jumlah dan diameter tali baja ditentukan dari besarnya beban yang
akan diangkat.
4. Sangkar / Kereta

Sangkar adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengangkut penumpang maupun barang.

sangkar elevator beroperasi pada ruang luncur dan menapak pada rail di kedua sisinya, pada sisi
kanan dan kiri terdapat pemandu rail ( sliding guide ) yang berfungsi memandu atau menapaki
rail.

Selain pemandu rail ( sliding guide ) juga terdapat karet peredam ( silencer rubber ) yang
berfungsi untuk mengurangi kejutan ketika elevator berhenti maupun mulai start, selain itu pula
terdapat pendeteksi beban ( switch overload ) yang terdapat dibawah kereta elevator. Pada pintu
kereta elevator juga terdapat sensor gerak ( safety ray ) dan sensor sentuh ( safety shoe ) yang
terpasang pada pintu kereta dan berfungsi supaya untuk penumpang elevator tidak terjepit pintu
elevator, didalam kereta elevator juga terdapat tombol-tombol pemesanan lantai ( floor button )
yang akan dituju oleh pengguna elevator.
Kereta elevator memiliki pintu otomatis yang digerakkan oleh motor stepper yang bekerja
berdasarkan sinyal digital yang asalnya dari sensor kedekatan ( proximity ) yang berfungsi
menentukan level atau tidaknya lantai, setelah lantai dinyatakan level atau rata maka motor
stepper akan membuka pintu secara otomatis

Selain yang disebutkan diatas, ada beberapa komponen pendukung kerja elevator antara lain
seperti dibawah ini :
1. Saklar pintu ( door contact )

Saklar pintu ( door contact ) ini termasuk dalam komponen pengaman elevator.
1. Kunci pintu ( door lock )

Berfungsi untuk mengunci pintu agar pintu tidak dapat dibuka dari luar
1. Saklar batas atas ( final up ) dan bawah ( final down )

Saklar batas atas dan bawah berfungsi untuk mengamankan kereta elevator terhadap
kemungkinan terjadinya kelebihan kecepatan.

Penjelasan mengenai komponen pengaman elevator akan dibahas pada bahasan keamanan pada
elevator.

5. Bobot Penyeimbang (Counter Weight)


Penyeimbang (Counter Weight) dimaksudkan untuk mengimbangi dari berat sangkar sehingga
mesin tidak menahan beban yang tinggi. Pada umumnya berat penyeimbang sama dengan berat
maksimum sangkar ditambah 40% -
50% .
sebagai contoh, konstruksi lift atau elevator dengan kapasitas angkat maksimal Q= 1300 kg,
dengan berat kosong angkat 2600kg diperoleh berat bobot penyeimbang?

jawab

Beban penyeimbang dihitung menggunakan power pada saat naik beban penuh = power pada
saat turun kosong

Dimana :

Sp= Sangkar pada saat beban penuh = 2600 kg


Untuk mendapatkan hasil berat penyeimbang dengan ketentuan beban naik penuh sama dengan
beban turun kosong, maka persamaan diatas dapat disubtitusikan sebagai berikut :

(Sp – X) v.g = 0

(X – Sk) v.g =0 +

2X = Sp + Sk

2X = 2600 + 1300

X = 1950 kg

Maka berat penyeimbang adalah 1950 kg

biasanya penyeimbang direncanakan menggunakan besi cor GG 45


hasil diatas sama hal nya :
Qt = 40%-50% x Q1 + Q
1950 kg = 50 % (1300) +1300
1950 kg = 650 kg + 1300 kg

6. Rem

Mesin lift dilengkapi dengan rel elektromagnetik tertutup. Yang paling umum adalah rem lift
terdiri dari perakitan kompresi pegas , sepatu rem dengan lapisan, dan perakitan sebuah solenoida
. Bila solenoida tidak berenergi, kekuatan pegas sepatu rem untuk mencengkeram drum rem yang
menimbulkan torsiatau tekanan pengereman. Magnet dapat mengerahkan gaya horizontal untuk
menahan rem terbuka dan kembali menutup saat tidak digunakan. Hal ini dapat dilakukan secara
langsung di salah satu lengan operasi atau melalui sistem linkage. Dalam kedua kasus, hasilnya
adalah sama. Saat diaktifkan pegas sepatu rem ditarik magnet menjauh dari poros drum rem
bersamaan dengan putaran mesin elevator tersebut.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan menghentikan putaran sebuah bahan dengan koefisien
gesekan tinggi digunakan keandalan saat gesekan dalam pengereman, seperti seng asbes terikat
berserat. Sebuah bahan yang terlalu tinggi koefisien gesekan dapat menyebabkan gerakan
hentakan dalam sangkar. Bahan pengereman ini harus dipilih dengan hati-hati.

Biasanya efisiensi dari mesin dirancang adalah 60 persen untuk motor dan perakitan kotak
perlengkapan gigi traksi. Efisiensi ini diperkirakan untuk beban sekitar 1135 kg, yang cocok
dengan ukuran ideal ruangan lift, yang didorong dengan kecepatan di 1.75 m / s.

Diagram benda bebas di bawah ini menunjukkan bagaimana kekuatan ini didistribusikan. Gaya yang
diberikan oleh pegas adalah jauh lebih dekat dengan pin sambungan lengan penarik dan oleh karena itu,
dengan mudah dikalahkan oleh kekuatan lengan tarik magnetik (jarak jauh dari titik rotasi).

Gambar 3. Diagram sistem pengereman


Gambar 4. Diagram benda bebas dari sistem pengereman

7. Governor

Governor ini dihubungkan ke kereta dengan menggunakan tali baja pengaman. Tali pengaman ini
meneruskan gerakan dari kereta ke governer dan memutar roda governor. Apabila kecepatan
kereta melebihi kecepaan aman yang diijinkan, maka governor akan bekerja dengan cara sebagai
berikut :
a. Memutus jalur kontrol melalui saklar pembatas kecepatan.
b. Menjepit tali governor dan membuat rem pengaman bekerja.
Perawatan Elevator

Perawatan terhadap elevator yang sehari-hari terus beropearasi perlu dilakukan dengan baik dan
benar. Hal ini agar elevator dalam operasinya tidak mendapat gangguan atau kemacetan dan agar
umur pemakaian elevator tersebut dapat memenuhi harapan yang wajar.

Ada beberapa perawatan dan pemeliharaan lift, sebagai berikut :

1. Pemeliharaan ringan
Yaitu pekerjaan pemeliharaan yang hanya meliputi service rutin dan penggantian bahan/alat
pakai seperti :
1. Penggantian oli
2. Penggantian bola lampu
3. Penggantian sepatu pintu
4. Pelumasan
2. Pemeliharaan keseluruhan
Yaitu pekerjaan pemeliharaan yang meliputi service rutin dan penggantian spare part seperti :
1. Penggantian tali baja
2. Penggantian komponen control sistim
3. Penggantian traveling cable
4. Readjustment.

DOMINAN FISIKA:

Ada perhitungan pengalihan kekuatan daya listrik seluruh sistem lift. Listrik dimasukkan ke

dalam motor sama dengan:


(untuk AC motor)

Di mana V adalah tegangan dan I / akar 2 adalah sumber arus AC. Hasil perhitungan Power
konsumsi ini kemudian ditransfer melalui output dari poros motor,

Dimana T adalah torsi dan w adalah Kecepatan rotasi. Setelah daya ditransfer melalui gigi
(pengurang kecepatan) output akan berkurang dan torsi akan lebih besar. Daya secara
keseluruhan akan sedikit lebih rendah karena sistem tidak 100% efisien. Tegangan pada tali baja
dari katrol lift adalah sama dengan berat dari lift, W e. The tension on the rope from the counter
weight is W c . Tegangan pada tali baja dari pemberat adalah W c.

Gambar 1. Benda bebas dari sistem katrol

Analisis berikut telah dilakukan untuk kondisi mapan (tanpa percepatan) operasi. Tekanan gaya
pada katrol pengemudi sama dengan perbedaan dari kedua ketegangan yang diberikan di setiap
sisi. Di satu sisi, gaya ini sama dengan W e dan di sisi lain, itu adalah W c. Oleh karena itu, gaya
total yang diberikan pada katrol 1 (drive katrol) adalah:

Dalam rangka untuk mencari daya yang diperlukan untuk gerakan lift, baik
kecepatan rotasi poros drive (melekat pada katrol 1) atau kecepatan lift harus diketahui. Daya
keluaran (asumsinya 100% efisiensi),

di mana r adalah radius katrol (katrol 1).

Gambar 2. Power mengalir melalui lift biasa

PERHITUNGAN BEBAN SIRKULASI VERTIKAL (LIFT)

Pemilihan kapasitas-kapasitas lift akan menetukan jumlah lift yang mempengaruhi pula kualitas
pelayanan gedung, terutama proyek-proyek komersil.
Instalasi lift yang ideal ialah yang menghasilkan waktu menunggu disetiap lantai yang minimal,
percepatan yang komfortavel, angkutan vertical yang cepat, pemuatan dan penurunan yang cepat di
setiap lantai.
BAB V. KESIMPULAN

salah satu jenis pesawat pengangkat yang berfungsi untuk membawa barang maupun penumpang
dari suatu tempat yang rendah ketempat yang lebih tinggi ataupun sebaliknya. Adapun jenis
mesin lift dibagi menjadi dua yaitu mesin lift penumpang dan lift barang.

Untuk satu buah lift dengan kapasitas 3500 lb=1587,6 Kg dengan kecepatan 3 m/detik
dengan perkraan 1 orang beat 75 Kg eerlukan daya sebesar 48 HP.

Pemilihan kapasitas-kapasitas lift akan menetukan jumlah lift yang mempengaruhi pula
kualitas pelayanan gedung, terutama proyek-proyek komersil.
Instalasi lift yang ideal ialah yang menghasilkan waktu menunggu disetiap lantai yang minimal,
percepatan yang komfortavel, angkutan vertical yang cepat, pemuatan dan penurunan yang cepat di
setiap lantai.

rem lift terdiri dari perakitan kompresi pegas , sepatu rem dengan lapisan, dan perakitan
sebuah solenoida . Bila solenoida tidak berenergi, kekuatan pegas sepatu rem untuk
mencengkeram drum rem yang menimbulkan torsiatau tekanan pengereman. Magnet dapat
mengerahkan gaya horizontal untuk menahan rem terbuka dan kembali menutup saat tidak
digunakan. Hal ini dapat dilakukan secara langsung di salah satu lengan operasi atau melalui
sistem linkage. Dalam kedua kasus, hasilnya adalah sama. Saat diaktifkan pegas sepatu rem
ditarik magnet menjauh dari poros drum rem bersamaan dengan putaran mesin elevator tersebut.
. Apabila kecepatan kereta melebihi kecepaan aman yang diijinkan, maka governor akan bekerja
dengan cara sebagai berikut :
a. Memutus jalur kontrol melalui saklar pembatas kecepatan.
b. Menjepit tali governor dan membuat rem pengaman bekerja.

.
DAFTAR PUSTAKA
 http://www.sciencejoywagon.com/physicszone/lesson/otherpub/wfendt/gene
ratorengl.htm
 http://www.wikipedia.com
 http://www.dunialistrik.blogspot.com
 http://dee-elevator-system.blogspot.com/2010/02/persyaratan-fungsional-
utama.html"