Anda di halaman 1dari 32

GAMBARAN UMUM KOMPETENSI MULTIKULTURAL

(An Overview of Multicultural Counseling Competencies)

Makalah
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Bimbingan dan Konseling
Multibudaya yang diampu oleh :

Dr. Mamat Supriatna, M.Pd. dan Dr. Nandang Budiman, M.Si.

Disusun oleh:

Kelompok 1

1. Nita Monitasari (1700273)


2. Ridwan Gofur (1704002)
3. Rizqi Muthiasari (1701888)
4. Tajhana Muti’ah A. (1700107)
5. Trya Fitrisya R. (1700528)

DEPARTEMEN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2019
BAB I
ISI BUKU

Multibudaya dalam Praktik: Semakin Berkembang Maju


Seperti kata pepatah, perjalanan 1000 mil dimulai dengan satu langkah yang
pastinya mendaki menuju definisi kompetensi multikultural yang lebih kaya
bersandar pada pegangan yang tak terhitung banyaknya dan menempatkan mereka
yang memiliki visi, keberanian, dan kefasihan untuk mendefinisikan paradigma-
dan mengubahnya. Berbagai karya Cross, Parham, dan Helms (dalam Cross,
Parham, & Helms, 1991; Helms, 1990), McIntosh (2008), D. W. Sue and D. Sue
(1990, 2008),) dan format lainnya berdasarkan multibudaya Amerika yang
dibangun. Saat ini (dan seterusnya) upaya untuk mengoprasionalisasikan identitas
kulit putih dan non-kulit putih terus berkembang, pemberian hak istimewa dan
melawan penindasan serta membuat dasar pengetahuan dan ekspektasi minimal
mengenai kompetensi multibudaya (dapat dilihat pada American Psychologcal
Association (APA), 2003) menyediakan poin penting untuk memahami apa yang
diperlukan untuk menjadi praktisi yang efektif dan etis dalam meningkatkan
keanekaragaman dunia.
Tetapi, kata “efektif” dan “etis” mungkin berkembang sepanjang waktu
dan tingkatan perkembangannya pun berubah. Dengan mempertimbangkan contoh
pada kasus Vignette 1.1. diatas.
Scaffolding ada di sana-tetapi, seperti yang digambarkan oleh sketsa
sebelumnya, itu sama sekali tidak lengkap. pemahaman yang semakin bernuansa
tentang keterkaitan antara status target dan realitas sehari-hari muncul dari
eksplorasi agresi mikro rasial saat ini (staccato yang tersembunyi dan meresap
dari pesan yang tidak sah dan melemahkan yang orang-orang kulit berwarna
hampir terus-menerus dibombardir) (Sue, Capodilupo, & Holder, 2008; Sue et al.,
2007) Teori identitas intersectional (Shuddhabrata Sengupta’s 2006 article,
‘‘I/Me/Mine,’’ in which she describes multiple identities as ‘‘minefields,’’ and
observes, ‘‘it’s just that we don’t know which mine (as in ‘weapon’ and as in
‘first-person possessive singular personal pronoun’) will claim which part of
me,’’ p. 634), rasisme kontemporer (misalnya, perhatikan bahwa dokter berisiko
menabrak "langit-langit perkembangan kecuali mereka secara simultan
memperbaiki pemahaman mereka tentang operasi rasisme dalam dunia konseptual
mereka sendiri dan klien mereka") termasuk bentuk-bentuk penindasan yang jauh
lebih halus daripada yang ditemui selama era hak-hak sipil, dan berbagai masalah
lain di garis depan beasiswa keadilan sosial.
Tidak ada tema ras, etnis, dan budaya, satu-satunya aspek keanekaragaman
yang terabaikan. Sebagai contoh, pencarian sekilas untuk istilah rasisme yang
muncul dalam judul publikasi selama 20 tahun terakhir menghasilkan 58 hasil;
begitu rasisme dikecualikan, istilah ageism, sexism, canism, sizeism, dan
transphobia muncul hanya dalam 19 judul jurnal yang digabungkan dalam
periode waktu yang sama, dengan seksisme mencakup semuanya kecuali satu di
antaranya. dalam mengutuk tingkat kegagalan 96 persen dalam penilaian singkat
tentang gugatan diskriminasi kerja berdasarkan beberapa klaim (kasus-kasus di
mana penggugat berpendapat bahwa ia didiskriminasi berdasarkan usia, jenis
kelamin, dan afiliasi keagamaannya) Kotkin (2009) mempertanyakan "kenyataan
tempat kerja saat ini "menunjukkan bahwa" keberagaman ditoleransi atau bahkan
mungkin dihargai sampai titik tertentu "tetapi" terlalu banyak perbedaan
"mengarah ke" perlakuan yang berbeda "(hal.3). Ketika penyediaan layanan
psikoterapi itu sendiri berisiko menjadi 'terpisah' karena kurangnya keahlian klinis
dalam masalah inti yang berdampak pada ratusan dari jutaan orang (atau, jika
dipertimbangkan secara agregat, setiap manusia), saatnya telah tiba untuk
mempertimbangkan kembali apa yang dimaksud bidang itu dengan ‘basic
kompetensi budaya.’
Praktisi dan peneliti sama-sama mengakui kesenjangan dalam kesadaran
dan pengalaman terapis dalam memenuhi kebutuhan klien secara efektif identitas
multikultural berada di luar silabus dari sebagian besar program sarjana 'kredit'
keberagaman 'tiga kredit. Artikel terbaru mempertanyakan kompetensi lulusan
program pelatihan konseling untuk menawarkan layanan untuk klien dengan
kemampuan berbeda (Cornish et al., 2008; Smart & Smart, 2006) dan berpendapat
bahwa bahkan di antara mereka yang memiliki sikap positif terhadap
keanekaragaman secara umum, anggota fakultas perguruan tinggi mungkin tidak
menganggap kecacatan sebagai aspek keanekaragaman (Barnard, Stevens, Oginga
Siwatu, & Lan, 2008, p 173). Demikian pula, Bartoli (2007) berpendapat bahwa
pelatihan di bidang agama dan spiritualitas "terus langka dan tidak memadai",
menunjukkan bahwa "baru-baru ini dan tidak begitu baru, lulusan dibiarkan
sendiri untuk mencari pelatihan lebih lanjut dan mengembangkan kompetensi
yang relevan" a kenyataan yang membuatnya "meragukan apakah psikolog saat
ini memenuhi kebutuhan klien agama dan spiritual secara memadai" (hal.54).
dalam mengumumkan "pedoman untuk praktik psikologis dengan anak
perempuan dan perempuan"
Praktek dengan Girls and Women,” American Psychological Association
(APA, 2007) mengakui bahwa “banyak psikolog dan anggota masyarakat umum
mungkin percaya bahwa masalah-masalah wanita dalam psikologi ditangani dan
diselesaikan pada tahun 1970-an dan 1980-an” (hal. 949), sementara kebutuhan
klien wanita dalam konteks sosial dan ekonomi yang terus berubah saat ini tetap
tidak terpenuhi. Dalam ikatan ganda yang semakin merusak, orang dewasa yang
lebih tua secara kronis kurang memanfaatkan layanan terapi, sementara “masalah
kesehatan mental yang relevan dengan orang yang lebih tua kurang terwakili
dalam literatur penelitian dan kurang ditekankan dalam psikologi, medis, dan
program pelatihan penyedia layanan kesehatan lainnya” (Smith, 2007, hlm. 277).
Media populer dan literatur konseling dan pelatihan penuh dengan contoh-contoh
serupa tentang keterputusan yang mendalam antara kebutuhan komunitas
konstituen bidang kesehatan mental dan keahlian fungsional penyedianya. Kantor
Surgeon General, misalnya, telah mendokumentasikan kesenjangan di sepanjang
jalur etnis dan ras baik dalam akses kesehatan mental dan pemberian layanan
(Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, 2001). Leigh, Powers,
Vash, dan Nettles (2004) dapat berbicara tentang berbagai kategori perbedaan
ketika mereka mengakui bahwa dimasukkannya culture culture budaya disabilitas
‘dalam kursus’ tetap bersifat insidental. Psikolog biasanya memiliki pelatihan
minimal atau tidak sama sekali yang akan mempersiapkan mereka untuk
berurusan dengan orang-orang penyandang cacat secara layak '(hlm. 49). Dan,
seperti Garrett et al. (2001) perhatikan,
“Penelitian telah menunjukkan bahwa orang kulit berwarna cenderung
kurang memanfaatkan layanan konseling, berakhir pada tingkat yang
lebih besar dari 50% setelah sesi pertama (Priest, 1994; D. W. Sue & D.
Sue, 1999). Tingkat penghentian dini yang luar biasa ini, menurut Sue
dan Sue, telah dikaitkan dengan sifat layanan yang bias dan kurangnya
kepekaan dan pemahaman untuk pengalaman hidup masyarakat secara
budaya klien yang berbeda (hlm. 148).”
Tanpa dasar yang memadai untuk membangun kompetensi fungsional,
profesional yang bekerja dengan individu dan kelompok yang dijelaskan dalam
bab-bab berikut mungkin, terlalu sering, menemukan diri mereka berpartisipasi
dalam sangat kurangnya kesadaran tentang cara terbaik untuk melayani
kebutuhan mereka yang berbeda dari diri mereka sendiri.
Kompetensi dalam Praktek
Kompetensi “umumnya dipahami berarti bahwa seorang profesional
berkualifikasi, mampu, dan mampu memahami dan melakukan hal-hal dengan
cara yang tepat dan efektif” (Rodolfa et al., 2005, hlm. 348), sedangkan
kompetensi profesional adalah “penggunaan komunikasi, pengetahuan,
keterampilan teknis yang kebiasaan dan bijaksana, penalaran klinis, emosi, nilai-
nilai, dan refleksi dalam praktik sehari-hari untuk kepentingan individu dan
masyarakat yang dilayani” (Epstein & Hundert, 2002, hlm. 277). Kompetensi
adalah “klaster yang kompleks dan secara dinamis mencakup pengetahuan. . .
keterampilan. . . sikap, kepercayaan, dan nilai-nilai 'dan karakteristik penting
lainnya” (Rubin et al., 2007, hlm. 453). Kompetensi memastikan bahwa 'seorang
profesional mampu (yaitu, memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai)
untuk mempraktikkan profesi dengan aman dan efektif' (Rodolfa et al., 2005,
hlm. 349).
'Budaya kompetensi' (Roberts, Borden, Christiansen, & Lopez, 2005,
hlm. 356) mengacu pada perubahan pedagogis dalam pendidikan kesehatan
mental dari tujuan pembelajaran hingga hasil belajar. Perpindahan dari siswa
yang belajar ke praktik dengan mengumpulkan jam dan menuju siswa yang
menunjukkan praktik yang kompeten dimulai dalam pendidikan kedokteran dan
keperawatan (mis., Asosiasi Akademi Medis Amerika, 1998). Sejarah pergerakan
kompetensi di antara profesi pendidikan dan kesehatan (termasuk psikologi)
telah didokumentasikan dengan baik oleh Kaslow et al. (2007). Sebagai
ringkasan singkat, dalam psikologi, Dewan Nasional Sekolah dan Program dalam
Psikologi Profesional (NCSPP) (Peterson, Peterson, Abrams, & Stricker, 1997)
pertama menggambarkan enam kompetensi inti dari praktik psikologis, termasuk
hubungan, penilaian, intervensi, konsultasi dan pendidikan, serta manajemen dan
pengawasan. NCSPP kemudian memperluas ide-ide ini, yang saat ini termasuk
hubungan, penilaian, intervensi, keragaman, penelitian / evaluasi, manajemen /
pengawasan, dan konsultasi / pendidikan (lihat
http://www.ncspp.info/model.htm). Selain mengidentifikasi kompetensi yang
akan diajarkan dalam kurikulum inti, NCSPP ‘menyoroti bahwa setiap
kompetensi terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan
untuk fungsi profesional ’(Kaslow et al., 2007, hal. 701). NCSPP baru-baru ini
merilis buku pegangan Pendidikan Berbasis Kompetensi untuk Psikologi
Profesional (Kenkel & Peterson, 2009), menguraikan model pelatihan yang
menekankan lima komponen: ilmu dan pendidikan psikologis, pedagogi
integratif, kurikulum inti dan bidang kompetensi inti profesional, elemen praktik,
dan tanggung jawab sosial, keragaman, dan gender. Dewan pelatihan lain,
termasuk psikolog klinis ilmuwan-praktisi (Belar & Perry, 1992), konseling
psikolog (misalnya, Stoltenberg et al., 2000), dan ilmuwan klinis
(http://psych.arizona.edu/apcs/apcs.html) juga telah menguraikan pendekatan
pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi. Komite Akreditasi APA
(http://www.apa.org/ed/accreditation/) dan Panel Akreditasi Asosiasi Psikologi
Kanada (http://www.cpa/ca/accreditation/) menerapkan pendekatan berbasis
kompetensi untuk akreditasi akademik dan program magang dimulai pada 1990-
an. Berbagai organisasi telah mengembangkan pedoman yang berkaitan dengan
kompetensi, termasuk kompetensi multikultural (mis., APA, 2003).
The 2002 Competencies Conference: Arah Masa Depan dalam Pendidikan
dan Kredensial dalam Psikologi Profesional, diselenggarakan oleh Association of
Psychology Postdoctoral and Internship Centers (APPIC), bersama dengan APA
dan 33 organisasi lainnya, yang dilaksanakan agar gerakan kompetensi menjadi
lebih maju. Setiap organisasi sponsor akan mengirim delegasi, yakni peserta lain
dipilih berdasarkan bidang keahlian mereka. Sebuah survei prakonferensi
menghasilkan beberapa kesepakatan di sekitar delapan domain kompetensi inti,
yakni dasar ilmiah psikologi dan penelitian; masalah etika, hukum, kebijakan
publik / advokasi, dan profesional; pengawasan; penilaian psikologis;
keanekaragaman individu dan budaya; intervensi; konsultasi dan hubungan
interdisipliner; dan pengembangan profesional. Sebuah ''kubus kompetensi''
(Rodolfa et al., 2005) dikembangkan pada konferensi yang mencakup kompetensi
dasar (praktik reflektif/penilaian diri; pengetahuan ilmiah dan metode; hubungan;
standar etika dan hukum dan masalah kebijakan; keanekaragaman individu dan
budaya; sistem interdisipliner), kompetensi fungsional (penilaian / diagnosis /
konseptualisasi; intervensi; konsultasi; penelitian / evaluasi; supervisi /
pengajaran; manajemen / administrasi), dan tahapan perkembangan (pendidikan
pascasarjana; praktikum / magang; supervisi pascasarjana; residensi / persekutuan;
dan berlanjut kompetensi).
Setelah Konferensi Kompetensi pada tahun 2002, Dewan Pendidikan APA
(BEA) mulai fokus pada penilaian kompetensi. Association of Directors of
Psychology Training Centers mengembangkan garis besar kompetensi yang
diperuntukkan bagi penempatan bidang para sarjana (Hatcher & Lassiter, 2007),
mengembangkan garis besar kompetensi untuk penempatan lapangan pascasarjana
(Hatcher & Lassiter, 2007).
D. W. Sue dan D. Sue (2008) menggambarkan konselor yang kompeten
secara budaya, seperti, sadar akan asumsi, nilai, dan bias mereka sendiri;
memahami cara pandang klien yang beragam secara budaya; dan menggunakan
strategi dan teknik intervensi yang tepat. Kriteria ini sesuai dengan sikap/nilai,
pengetahuan, dan keterampilan yang biasanya digunakan untuk mendefinisikan
kompetensi secara umum.
Pengetahuan telah didefinisikan sebagai ‘‘fakta [dan]
informasi...diperoleh...melalui pengalaman atau pendidikan; pemahaman teoritis
atau praktis dari suatu subjek ’(The New Oxford American Dictionary, 2005, hlm.
938). Dengan demikian pengetahuan tentang beragam populasi spesifik akan
mencakup informasi seperti definisi populasi, termasuk berbagai bagiannyanya,
dan sejarah penjajagan atau penindasan yang telah dialami populasi tersebut.
Keterampilan telah didefinisikan sebagai “kecakapan, kemampuan atau
ketangkasan” (Webster, 2005, hlm. 1058) dan ‘‘kemampuan untuk melakukan
sesuatu dengan baik; keahlian” (The New Oxford American Dictionary, 2005,
hlm. 1589). Untuk populasi yang beragam dalam buku ini, keterampilan
klinis/konseling diuraikan relevan dengan kategori fungsional, termasuk penilaian,
diagnosis, konseptualisasi kasus, intervensi, hubungan, kolaborasi, rujukan, dan
pengawasan dan pelatihan.
Sikap adalah “cara berpikir atau perasaan menetap tentang seseorang atau
sesuatu, biasanya yang tercermin dalam perilaku seseorang'' (The New Oxford
American Dictionary, 2005, hal. 102), sedangkan nilai adalah ''suatu prinsip,
standar, atau kualitas yang secara inheren dianggap berharga atau diinginkan''
(The American Heritage Dictionary, 1983 , hlm. 749). Salah satu aspek yang
paling sulit bagi konselor kesehatan mental yang bekerja dengan beragam
populasi adalah untuk mengatasi isme-nya sendiri, termasuk rasisme,
heteroseksisme, dan ageism (Henderson Daniel, Roysircar, Abeles, & Boyd,
2004); namun, mereka yang terlibat dalam penilaian diri seperti ini cenderung
melakukan praktik yang lebih reflektif dan mungkin lebih efektif.
Kompetensi Konseling Multibudaya
Konsistensi dalam berbagai definisi kompetensi multikultural adalah
pandangan bahwa kompetensi bersifat tidak statis, tetapi selalu berubah. Dalam
pidatonya pada 2004 di Roundtable Teachers College Winter tentang Psikologi
dan Pendidikan Budaya, Parham (sebagaimana dikutip dalam Hanson et al., 2006)
menggambarkan proses menjadi psikoterapis yang kompeten secara multikultural
sebagai perjalanan yang kompleks dan seumur hidup.
Tersirat dalam pemahaman ini adalah bahwa psikoterapis terlibat dalam
proses aktif perubahan pribadi dan sosial. Kompetensi multikultural dapat
didefinisikan sebagai sejauh mana psikoterapis secara aktif terlibat dalam proses
kesadaran diri, memperoleh pengetahuan, dan menerapkan keterampilan dalam
bekerja dengan individu yang berbeda (Arredondo et al., 1996; Constantine, Hage,
Kindaichi, & Bryant , 2007; Sue, Arredondo, & McDavis, 1992).
Domain dalam model kompetensi konseling multikultural ini didapatkan
dari perspektif sebuah proses atau tujuan yang tetap (Collins & Pieterse, 2007).
Perspektif tujuan yang tetap menyiratkan bahwa hasil kompetensi akhirnya dilihat
melalui perilaku yang dapat diperlihatkan atau dibuktikan, sedangkan perspektif
proses membutuhkan keterlibatan dan perubahan internal. Dalam domain
pengetahuan, kompetensi konseling multikultural dapat terdiri dari memperoleh
informasi tentang ''berbagai orientasi mengenai pandangan dunia, sejarah
penindasan atau penjajahan yang dialami oleh populasi yang terisolasi atau
terpinggirkan, dan nilai-nilai spesifik budaya yang mempengaruhi pengalaman
subyektif dan kolaboratif dari populasi yang terisolasi atau terpinggirkan''
(Constantine et al. , 2007, hlm. 24). Pengembangan dan implementasi
keterampilan, dalam kompetensi konseling multikultural, mengharuskan
psikoterapis bertindak dengan cara yang “menarik dari dana pengetahuan budaya
yang ada untuk merancang intervensi kesehatan mental yang relevan dengan
populasi yang terisolasi atau terpinggirkan” (Constantine et al., 2007 , hlm. 24).
Dimensi proses atau ranah kesadaran diri mensyaratkan bahwa konselor yang
kompeten secara multikultural sadar akan sikap, kepercayaan, dan nilai-nilai
seseorang terkait ras, etnis, dan budaya bersama dengan kesadaran seseorang akan
relevansi sosiopolitik dari keanggotaan kelompok budaya dalam hal masalah hak
istimewa budaya, diskriminasi, dan penindasan (Constantine et al., 2007, hlm.
24).
Sejarah Kompetensi Konseling Multikultural dalam Kesehatan
Mental
Integrasi multikulturalisme ke dalam kurikulum, pelatihan, dan penelitian
psikologi konseling klinis dan konseling telah menjadi upaya selama 30 tahun.
Amerika Serikat telah menjadi semakin beragam selama beberapa dekade terakhir
dan bahwa praktisi kesehatan mental telah, dan akan, memberikan konseling
kepada klien yang mungkin memiliki pandangan dunia yang berbeda dari
pandangan mereka. Namun, masih ada beberapa perdebatan mengenai apa bentuk
pemberian layanan yang dianggap relevan secara budaya dan apa yang merupakan
psikoterapi yang kompeten secara multikultural.
Misalnya, berbagai literasi model kompetensi konseling multikultural telah
diusulkan sejak awal 1980-an. American Counseling Association (ACA) dan APA
keduanya mendukung penciptaan dan mendukung kompetensi konseling
multikultural dan pedoman multikultural (Arredondo & Perez, 2006). Sue et al.
(1982) adalah yang pertama mengusulkan model yang membahas kompetensi
konselor sehubungan dengan kelompok ras dan etnis. Model tersebut
menggambarkan tiga bidang kompetensi yang luas: kesadaran terapis akan
asumsi, nilai, dan biasnya sendiri; memahami cara pandang orang lain yang
berbeda secara budaya; dan mengembangkan strategi dan teknik intervensi yang
tepat. Tiga bidang ini tercermin dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan
seorang terapis. Literasi kedua dari kompetensi konseling multikultural (Sue et al.,
1998) menambahkan kompetensi di tingkat organisasi / sistemik. 31 kompetensi
konseling multikultural ini dioperasionalkan melalui penambahan 119 pernyataan
penjelasan, dan pengenalan model yang menyoroti berbagai dimensi identitas
dalam kerangka kerja kontekstual (Arredondo et al., 1996). Pada tahun 2003,
Association for Multicultural Counseling and Development, sebuah divisi dalam
ACA, menghasilkan versi terbaru dari kompetensi konseling multikultural
(Roysircar, Arredondo, Fuertes, Ponterotto, & Toporek, 2003). Demikian pula,
APA telah menghasilkan pedoman aspirasi untuk mempromosikan penelitian,
penilaian, dan praktik klinis yang kompeten dengan beragam populasi. Saat ini,
ada pedoman praktik APA untuk bekerja dengan populasi gay, lesbian, biseksual,
dan transgender, lansia, anak perempuan dan perempuan, dan populasi etnis,
bahasa, dan beragam budaya (diperiksa secara lebih rinci dalam bab-bab yang
relevan dalam buku ini) . Pada tahun 2003, pedoman sehubungan dengan
pendidikan multikultural, pelatihan, penelitian, praktik, dan perubahan organisasi
diadopsi oleh APA. Daftar Pedoman Kompetensi Multikultural yang diusulkan
oleh APA dan organisasi lain.
Pedoman Kompetensi Multikultural
Situs-situs Web berikut menyediakan tautan ke pedoman kompetensi
multikultural inti untuk sebagian besar organisasi profesional utama di Amerika
Serikat (silakan lihat masing-masing bab untuk informasi tambahan dan sumber
daya spesifik topik):
1. APA Ethics Code (2002), http://www.apa.org/ethics/code/index,aspx
2. APA Guidelines for Psychotherapy with Older Adults (2004),
http://www.apa.org/practice/guidelines/older-adults.pdf
3. APA Guidelines on Multicultural Education, Training, Research, Practice
and Organizational Change for Psychologists (2002),
http://www.apastyle.org/manual/related/ guidelines-multicultural-
education.pdf
4. APA Guidelines for Psychotherapy with Lesbian, Gay and Bisexual
Clients (2000), http://www.apapracticecentral.org/ce/guidelines/glbt.pdf
5. APA Guidelines for Psychological Practice with Girls and Women
(2007), http://www.apa.org/about/division/girlsandwomen.pdf
6. American Counseling Association Ethics Code,
http://www.counseling.org/Resources/CodeOfEthics/TP/Home/CT2.aspx
7. National Association of Social Workers Cultural Standards (2006),
http://www.socialworkers.org/practice/standards/NASWCulturalStandard
sIndicators2006.pdf
8. National Association of Social Workers Code of Ethics,
http://www.socialworkers.org/pubs/code/code.asp
9. American Psychiatric Association Ethics Code, http://www.psych.org
10. AMCD Multicultural Counseling Competencies,
http://www.counseling.org/Files/FD .ashx?guid=735d18d6-2a6e-41bf-
bd4a-5f4ce48a100
Sebagai hasil dari penerimaan luas mengenai kompetensi konseling
multikultural di antara organisasi profesional dan badan akreditasi (seperti APA,
The Council for Accreditation of Counseling and Related Educational Programs
[CACREP], dll.), Sebagian besar program pascasarjana telah memasukkan
setidaknya satu program studi dalam masalah multikultural menjadi model
pelatihan mereka. Beberapa penulis telah menilai pelaksanaan kompetensi dan
pedoman ini di seluruh pengalaman kurikulum dan praktik, dan dalam
pengawasan (Smith, Constantine, Dunn, Dinehart, & Montoya, 2006; Vereen,
Hill, & McNeal, 2008). Terlepas dari perhatian terhadap pendidikan multikultural,
penelitian telah menunjukkan bahwa tampaknya ada beberapa kesenjangan antara
kepercayaan dan praktik, dan bahwa pengembangan keterampilan dan
implementasi akan membutuhkan upaya lebih lanjut dari pihak lembaga pelatihan
dan psikoterapis di semua tingkat pelatihan (Hanson et al. , 2006; Henderson
Daniel, Roysircar, Abeles, & Boyd, 2004).
Selain dukungan yang luas, kompetensi konseling multikultural juga telah
menerima kritik, yang mengarah kepada perdebatan dalam berbagai bidang.
Weinrach dan Thomas (2002) dan Thomas dan Weinrach (2004) telah
mempertanyakan mengenai kompetensi konseling multikultural pada profesional
kesehatan mental, dan percaya mereka telah menciptakan potensi masalah etika
bagi para praktisi. Mereka berpendapat bahwa kompetensi bersifat eksklusif,
dengan penekanan yang tidak semestinya pada identitas rasial dan siapa yang
mendefinisikannya, bahwa konstruksi identitas yang berbeda diberi bobot yang
sama, bahwa istilah multikultural dan keanekaragaman digunakan secara
bergantian, dan bahwa kompetensi tersebut didasarkan pada bahan sumber
mereka. Argumen mereka telah menerima dukungan dari Vontress dan Jackson
(2004) dan Patterson (2004), yang mengusulkan sistem konseling universal, yang
didasarkan pada empirisme dan teori, yang membutuhkan penghormatan,
keaslian, pemahaman empatik — ditambah dengan komunikasi konsep-konsep ini
— dan struktur . Namun, dalam analisis konten empiris selama 20 tahun tentang
multicultural counseling competencies (MCC), Worthington, Soth-McNett, dan
Moreno (2007) menyimpulkan bahwa '' proses MCC empiris yang ada / hasil
penelitian telah menunjukkan secara konsisten bahwa konselor yang memiliki
MCC cenderung membuktikan proses konseling yang lebih baik dan hasil dengan
klien di seluruh perbedaan ras dan etnis '' (hlm. 358).
Gambaran Umum Buku Panduan
Tujuan kami adalah untuk mendeskripsikan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap / nilai-nilai yang diperlukan untuk bekerja dengan populasi yang
beragam, dengan fokus pada bidang keanekaragaman berikut: usia, cacat, etnis,
imigrasi, bahasa, pria, individu multiras, ras, orientasi seksual, ukuran , kelas
sosial, spiritualitas / agama, identitas transeksual / interseks / transgender,
identitas putih / hak istimewa, dan perempuan.
Setiap bab mensintesis literatur yang ada ke dalam kompetensi
pengetahuan praktis, keterampilan, dan sikap / nilai-nilai yang diperlukan untuk
pekerjaan klinis dengan kelompok target tertentu. Selain itu, referensi dan sumber
daya yang relevan untuk setiap kelompok populasi dimasukkan dalam
pembahasan di buku ini. Pendekatan pengembangan umumnya didasarkan pada
dokumen Benchmark Juni 2007 (APA, Board of Educational Affairs & Council of
Chairs of Training Councils, 2007). Meskipun setiap bab ditulis menggunakan
garis besar yang sama, masing-masing dirancang untuk berfungsi baik sebagai
sumber daya yang berdiri sendiri atau dalam hubungannya dengan bahan yang
tersisa untuk pemeriksaan yang lebih komprehensif dari masalah ini. Setiap bab
diringkas secara singkat di bawah ini.
1. Usia dan Keberagaman Usia Lanjut (Age and Diverse Older Adults)
Mengingat bahwa populasi Amerika Serikat semakin menua dan semakin
beragam, sangat penting bahwa semua penyedia layanan kesehatan menerima
pendidikan yang memadai tentang perkembangan orang dewasa, penuaan, dan
multikulturalisme, serta persimpangan antara topik-topik ini. Bab ini menyajikan
demografi populasi yang menua saat ini, mengkaji konsep-konsep penting seperti
dinamika sosiokultural / psikologis penuaan, dan menguraikan kesalahpahaman
umum dan kepercayaan usia ketika memperlakukan beragam orang dewasa yang
lebih tua. Keterampilan yang tepat diperlukan untuk penilaian dan intervensi yang
efektif dengan populasi ini dijelaskan.
2. Disabilitas (Disability)
Dalam bab ini, konsep disabilitas sebagai isu multikultural dibahas pula.
Berbagai model untuk memahami disabilitas dieksplorasi, termasuk penjelasan
tentang jenis disabilitas, pertimbangan historis dan hukum, kepedulian
perkembangan, status multi-minoritas, dan masalah dan keterampilan terkini yang
dibutuhkan untuk merawat individu penyandang cacat.
3. Etnisitas (Ethnicity)
Etnisitas adalah landasan identitas diri yang sering diabaikan dan bahkan
lebih sering disalahpahami bagi banyak orang. Bab ini mengklarifikasi istilah dan
mengeksplorasi masalah yang terlibat dalam pemeriksaan perbedaan etnis melalui
lensa pengalaman pribadi serta penelitian saat ini. Menggunakan pendekatan
perkembangan untuk mengeksplorasi kompetensi multikultural yang dibutuhkan
oleh para praktisi di berbagai titik di sepanjang kontinum perkembangan, bab ini
menjelaskan pekerjaan psikoterapi yang kompeten dengan klien dari beragam
latar belakang etnis.
4. Imigrasi (Immigration)
Imigrasi memberikan tekanan signifikan pada anggota komunitas imigran
karena mengharuskan restrukturisasi psikologis dengan latar belakang berbagai
konteks budaya. Memahami pengalaman para imigran dan secara kompeten
melayani kebutuhan kesehatan mental mereka menjadi sangat penting. Bab ini
menyoroti pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk bekerja dengan
kelompok tertentu, seperti orang India Asia, yang telah berimigrasi ke Amerika
Serikat.
5. Bahasa (Language)
Pentingnya melatih praktisi kesehatan mental di masa depan untuk
menjadi kompeten dalam masalah pengembangan penguasaan bahasa yang terkait
dengan bidang penilaian dan intervensi tidak dapat dipungkiri (Data Sensus A.S.
dari 2000 melaporkan bahwa 18% populasi berbicara dalam bahasa selain bahasa
Inggris). Bab ini berfokus pada kesadaran diri tentang pelajar bahasa Inggris dan
pengetahuan yang berhubungan dengan akuisisi bahasa kedua. Vignet memandu
pembaca untuk mengubah pengetahuan ini menjadi praktik yang kompeten.
6. Laki-laki (Men)
Bab tentang psikoterapi dengan pria berfungsi sebagai primer untuk
masalah konseptual dan klinis yang dialami terapis ketika merawat klien pria.
Banyak model pelatihan gagal mengenali bagaimana sosialisasi pria dan identitas
pria memengaruhi proses psikoterapi. Pengetahuan, keterampilan, dan nilai / sikap
yang bersangkutan diperiksa, dengan penekanan pada konsep inti, realitas historis
dan masa kini, dan dinamika klinis yang menginformasikan penyediaan layanan
kepada klien pria.
7. Identitas Multikultural (Multicultural Identities)
Ada semakin banyak individu yang mengidentifikasi sebagai multiras atau
ras campuran. Individu-individu dari keturunan yang beragam secara rasial telah
menghadapi sejarah panjang penindasan dan marginalisasi di negara ini. Biasanya
lintasan pengembangan identitas dan konseptualisasi diri orang-orang multiras
berbeda dalam hal-hal penting dari orang-orang dengan identifikasi ras tunggal.
Oleh karena itu, praktisi kesehatan mental harus meningkatkan pemahaman
mereka tentang karakteristik unik dan kebutuhan populasi ini untuk memberikan
layanan yang kompeten bagi individu-individu ini. Bab ini memberikan panduan
dan sumber daya untuk meningkatkan kesadaran profesional akan nilai-nilai dan
sikap mereka sendiri, pengetahuan tentang masalah ekologis, dan keterampilan
dalam mengembangkan kompetensi dalam bekerja dengan orang-orang dari
keturunan campuran.
8. Identitas Multirasial (Multiracial Identities)
Semakin banyak individu yang mengidentifikasi multirasial atau ras
campuran. Individu-individu dari keturunan yang beragam secara rasial telah
menghadapi sejarah panjang penindasan dan marginalisasi di Kanada. Biasanya
lintasan pengembangan identitas dan konseptualisasi diri orang-orang multiras
berbeda dalam hal-hal penting dari orang-orang dengan identifikasi ras tunggal.
Oleh karena itu, praktisi kesehatan mental perlu memberikan layanan yang
kompeten untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai karakteristik unik
dan kebutuhan populasi. Buku ini memberikan panduan dan sumber daya untuk
meningkatkan kesadaran profesional akan nilai-nilai dan sikap, pengetahuan
tentang masalah ekologis, dan keterampilan dalam mengembangkan kompetensi
dalam bekerja dengan orang-orang dari keturunan campuran.
9. Ras (Race)
Memahami konsep ras, tantangan, peluang unik pembentukan identitas
rasial dalam menghadapi rasisme historis dan berkelanjutan, dan kebutuhan
individu yang beragam rasial mewakili kompetensi konseling multikultural. Buku
ini memberikan pengantar istilah-istilah dasar, konsep pengembangan identitas,
konteks historis, model penilaian, dan intervensi yang relevan untuk memberikan
layanan yang kompeten dan efektif kepada orang-orang kulit berwarna di
Amerika Serikat.
10. Orientasi Seksual (Sexual Orientation)
Proliferasi penelitian dan penulisan ilmiah mengenai pengembangan
orientasi seksual dan identitas telah terjadi selama 30 tahun terakhir sejak
penghapusan homoseksualitas dari Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan
Mental. Buku ini membantu praktisi kesehatan mental membiasakan diri dengan
literatur profesional, mendidik diri sendiri tentang budaya gay, lesbian, dan
biseksual, memeriksa keyakinan dan sikap, serta mensintesis informasi terhadap
sikap terapi yang efektif untuk memberikan perawatan klinis yang kompeten.
11. Ukuran (Size)
Saat ini ada 'perang melawan obesitas' yang biasanya difokuskan pada
pengobatan untuk obesitas dan stigma menjadi gemuk. Buku ini menguraikan
pentingnya ukuran sebagai aspek keragaman dan bagaimana penerimaan ukuran
dalam hubungannya dengan perawatan dari perspektif kesehatan setiap ukuran
dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik untuk konseli. Buku ini
menyediakan alat untuk menciptakan lingkungan konseling yang menghormati
dan mendukung untuk membantu konseli mencapai tujuan konseling mereka.
12. Kelas Sosial (Social Class)
Buku ini membahas tujuan klinis dan pelatihan yang diperlukan bagi para
praktisi kesehatan mental untuk mengintegrasikan kelas sosial dan kesadaran akan
kelasisme dalam pekerjaan. Menggunakan model Social Class Worldview, yang
merupakan literatur yang relevan dan memberikan saran tentang cara terbaik
untuk menjadi praktisi kesehatan mental yang kompeten di arena kelas sosial dan
klasisisme.
13. Spiritualitas dan Agama (Spirituality and Religion)
Buku tentang aspek spiritual dan keagamaan dalam konseling
menguraikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap/nilai-nilai yang diperlukan
untuk menyediakan layanan sensitif bagi individu yang memiliki beragam
pandangan dunia spiritual dan religius. Selain itu, memberikan ringkasan elemen-
elemen sentral dari agama-agama besar dunia, panduan sumber daya yang
komprehensif, dan saran pelatihan dan latihan untuk meningkatkan kompetensi
praktisi dalam pengembangan agama dan spiritual.
14. Transeksual/Interseks/Transgender (Transsexual/Intersex/Transgender)
Buku ini membahas identitas yang berada di sepanjang kontinum identitas
seks yang dipengaruhi secara biologis dan kontinum identitas gender yang
dibangun secara sosial. Bekerja dengan orang-orang yang memiliki identitas di
luar kerangka dikotomis tradisional tentang gender dan seks dapat mengintimidasi
praktisi kesehatan mental karena mereka sering disatukan dengan orientasi seksual
dan juga dengan satu sama lain.
15. White Identity dan Privilege
Pemahaman tentang identitas dan hak istimewa kulit putih adalah elemen
penting dalam menjadi penyedia kesehatan mental yang sensitif secara budaya.
Untuk praktisi kesehatan mental berkulit putih, pemahaman ini harus melampaui
proses kognitif dan mencakup pengalaman afektif diri. Buku ini menekankan
perlunya komitmen seumur hidup untuk memahami hak istimewa dan
menjelaskan pengetahuan, keterampilan, dan nilai/sikap yang diperlukan untuk
memasukkan pemahaman ini ke dalam praktik yang kompeten.
16. Wanita (Women)
Buku ini berfokus pada jenis kelamin perempuan dalam konteks berbagai
identitas. Tercatat bahwa dalam dunia yang semakin global, semakin melekat
pada struktur sosial patriarki. Maka, penting bagi konselorpratisi untuk
memahami kekuatan yang ditunjukkan dan tantangan yang dialami perempuan.
Tinjauan terpilih dari latar belakang sejarah dan literatur tentang psikologi wanita,
dan para praktisi diberikan tinjauan umum tentang pengetahuan, keterampilan,
dan nilai-nilai/sikap yang diperlukan untuk praktik yang kompeten ketika
melakukan konseling bersama wanita.
KESIMPULAN
Buku ini memberikan pedoman praktis dengan 15 kategori perbedaan yang
tidak biasa dibahas dalam sebuah pelatihan, tetapi banyak topik yang belum
diselidiki. Meskipun demikian, buku ini telah mengumpulkan eksplorasi yang
berguna, relevan, dan tepat waktu dari isu-isu mendasar untuk kompetensi
multikultural pada setiap tahap pengembangan profesional. Selain itu, buku ini
menyediakan pilihan sumber daya yang dirancang untuk berfungsi sebagai
pengantar umum untuk kemungkinan pengalaman kesadaran multikultural dan
pelatihan keanekaragaman. Sumber daya ini tidak berfokus pada populasi tertentu
atau serangkaian kompetensi, tetapi lebih pada proses meningkatkan pengakuan
seseorang tentang bagaimana isu keanekaragaman mempengaruhi kehidupan
sehari-hari serta praktik kesehatan mental. Setiap kegiatan ini dapat dimodifikasi
tergantung pada tujuan, ukuran kelompok, atau jenis pengaturan. Sumber daya ini
merupakan titik awal untuk membahas prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang
disajikan secara lebih rinci di sepanjang buku ini.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Konseling Multibudaya


Konseling multibudaya merupakan pendekatan baru di abad 21.
Multikutural atau multibudaya adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan
pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan
kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman,
dan berbagai macam budaya (multicultural) yang ada dalam kehidupan
masyarakat menyangkut nilai- nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang
mereka anut (Nuzliah, 2016) .
Konseling multibudaya memandang bahwa keberagaman merupakan hal
yang wajar dan menghargai hal tersebut. Salah satu karakteristik dunia
postmodern adalah nilai penting perbedaan multikultural atau multibudaya.
Kesadaran akan multibudaya diperlukan pada saat ini, di era globalisasi. Proses
globalisasi meliputi penyebaran informasi melalui radio, televisi, internet, hingga
transportasi yang telah menghasilkan aksesibilitas yang besar terhadap informasi
tentang kultural lain. Informasi tentang kultur lain akan membentuk warna yang
belum ada sebelumnya (Falah, 2016).
Konseling multikultiral menurut Baruth dan Manning (2012) sebagai sebuah
spesialisasi diawali dengan sebuah kelompok kecil konselor dan psikolog yang
tertarik dengan perbedaan lintas kultur. Sejarah konseling multikultural diawali
dengan keresahan masyarakat Amerika yang berstatus sosail menegah ke bawah
tidak menerima kesetaraan dalam pelayanan kesehatan mental. Pada tahun 1960-
an pergerakan hak-hak sipil mulai memberikan perhatain pada pentingnya
perkembangan konseling multikultural.
Hingga pada tahun 1960-an, konseling dan psikoterapi di Amerika mulai
melihat perbedaan latar belakng budaya, masyarakat yang kurang beruntung
dalam dominasi budaya mayoritas dan yang berstatus sosial ekonomi menengah
ke bawah. Puncaknya pada tahaun 1970-an terjadi peningkatan pada studi yang
fokus pada dampak konseling dan psikoloteraoi pada ras. Gerakan tersebut
memperoleh momentum dimana orang-orang mulai sadar bahwa klien dengan
kelompok minoritas menerima ketidaksetaraan dan layanan kesehatan mental
yang minim.
B. Kompetensi Konseling Multibudaya
Konseling yang efektif harus mempertimbangkan pengaruh budaya terhadap
fungsi konseli (Corey, 2009; Corey, 2013). Maksudnya, konselor yang efektif
dalam melakukan konseling adalah seorang konselor yang mengerti bagaimana
keadaan budayanya sendiri, kondisi konselinya dan kondisi lingkungan yang
menjadi bagian dari mereka. Pemahaman dan pengakuan adanya perbedaan
budaya ini dapat konselor lakukan sebagai upaya peningkatan kualitas diri baik
melalui segi pendidikan, pelatihan, praktik bahkan penelitian (Constantine & Sue,
2005).

Dalam kaitannya dengan kompetensi konseling multibudaya, konselor tentu


harus mampu menguasai tiga macam kompetensi mengenai konseling
multibudaya, yakni pengetahuan (konwledge), keterampilan (skill), dan sikap
(attitudes). Berikut merupakan penjelasan mengenai tiga macam kompetensi yang
harus dimiliki oleh seorang konselor multibudaya:
1. Pengetahuan (knowledge)
Sue dan Sue (dalam Tomlinson-Clarke, 2013) mendefinisikan
pengetahuan budaya sebagai pemahaman dan berbagi pandangan dunia
tentang klien melalui empati kognitif daripada empati afektif (hlm. 48).
Pengetahuan budaya yang terbatas menghasilkan ketergantungan pada
generalisasi stereotip tentang kelompok ras-budaya yang meningkatkan
kemungkinan pengambilan keputusan yang tidak tepat (Tomlinson-Clarke S.
, 2000). Tomlinson-Clarke dan Clarke (2013) menemukan bahwa interaksi
lintas-budaya langsung yang berlangsung memfasilitasi pengetahuan budaya
dan empati budaya, memungkinkan membantu para profesional untuk
terhubung dengan orang lain yang beragam budaya, memahami dan
menghargai keunikan kehidupan sehari-hari mereka dan untuk mengenali
kesamaan universal (etic) yang ada di antara mereka. Melekat dalam tingkat
pengetahuan ini adalah pemahaman tentang konteks sosial dan politik di
mana klien menjalani kehidupan mereka.
Menurut Sue (dalam Susanto, Febrianti, & Mulawarman, 2017) terdapat
beberapa kompetensi minimal mengenai pengetahuan multikultural yang
harus dimiliki oleh setiap konselor, yakni: (a) konselor memahami tentang
efek konsep penindasan/penjajahan dan ras dalam profesi kesehatan mental
dan dalam kehidupan pribadi dan profesional mereka; (b) konselor
menyadari adanya hambatan institusional bahwa tidak adanya peluang bagi
kelompok minoritas untuk memanfaatkan layanan psikologis sepenuhnya;
(c) konselor tahu bagaimana asumsi nilai dari teori utama konseling dapat
berkaitan, berpengaruh, dan/ berinteraksi dengan nilai kelompok budaya
yang berbeda; (d) konselor menyadari karakteristik dasar konseling budaya
dari perspektif budaya dan apa yang dapat mempengaruhi proses konseling;
dan (e) konselor memiliki pengetahuan otentik tentang latar belakang
sejarah, tradisi, dan nilai-nilai kelompok yang mereka tangani.
2. Keterampilan (skill)
Kemampuan untuk memberikan intervensi konseling yang efektif
dimaksimalkan ketika konselor terus bekerja untuk mengembangkan atribut
kompetensi budaya (Tomlinson-Clarke S. , 2013). Minami (dalam
Tomlinson-Clarke, 2013) memperingatkan bahwa seorang konselor dengan
kompetensi kesadaran budaya yang tinggi, kompetensi pengetahuan budaya
yang tinggi, dan kompetensi sikap / keyakinan yang rendah tidak akan
mungkin berhasil terlibat dalam interaksi lintas budaya yang efektif atau
memberikan konseling yang responsif secara budaya. Juga, McRae dan
Johnson (dalam Tomlinson-Clarke, 2013) menegaskan bahwa pelatihan
multikultural yang berfokus pada perbedaan budaya membatasi kemampuan
peserta pelatihan untuk menerapkan pengetahuan budaya yang diperoleh
dalam memberikan intervensi yang sesuai dengan budaya untuk klien yang
beragam secara budaya. Pengetahuan khusus budaya tentang kelompok etnis
rasial mungkin disalahgunakan secara tidak sengaja dan menjadi generalisasi
stereotip. Demikian pula, penggunaan pengetahuan budaya umum dapat
mengabaikan nuansa penting yang diperlukan dalam membuat penilaian
klinis yang sesuai secara budaya. Oleh karena itu, kemampuan untuk
mengembangkan strategi dan teknik intervensi yang tepat tergantung pada
kemampuan untuk memperoleh dan memanfaatkan kesadaran budaya, dan
pengetahuan budaya.
Menurut Sue (dalam Susanto, Febrianti, & Mulawarman, 2017) terdapat
beberapa kompetensi minimal mengenai keterampilan yang harus dimiliki
oleh setiap konselor, yakni: (a) konselor dapat menggunakan berbagai gaya
konseling berdasarkan pada sistem kelompok minoritas yang berbeda; (b)
konselor dapat memodifikasi dan mengadaptasi pendekatan konvensional
untuk konseling dan psikoterapi untuk mengakomodasi perbedaan budaya;
(c) konselor dapat menyampaikan dan menerima pesan baik secara verbal
dan non-verbal secara akurat dan tepat; dan (4) konselor dapat melakukan
intervensi di luar tugas resmi jika diperlukan dengan asumsi peran mereka
sebagai agen konsultan pembaruan
3. Sikap (Attitudes)
Menurut sikap/keyakinan diasumsikan dapat melibatkan adanya respon
kognitif, afektif, dan perilaku secara eksplisit maupun implisit yang dapat
mempengaruhi interaksinya dalam dengan orang yang beragam secara
budaya. Kompetensi sikap yang tinggi biasanya dikaitkan dengan sikap rat-
etnis yang konstruktif. Glockshuber (2005) menemukan bahwa kompetensi
budaya yang dievaluasi sendiri oleh konselor berkaitan langsung dengan
sikap / kepercayaan budaya mereka. Di sisi lain, Sue dan Sue (dalam
Tomlinson-Clarke, 2013) mengonseptualisasikan sikap/keyakinan sebagai
kondisi sosial yang membutuhkan pemeriksaan diri terhadap sikap dan
perasaan yang terkait dengan perbedaan budaya. Oleh karena itu,
pentingnya sikap / kepercayaan tidak dapat diremehkan dan sangat relevan
dalam mempertimbangkan dinamika hubungan konselor ketika bekerja
lintas budaya. Membantu konselor untuk menjadi sadar diri dan untuk
memeriksa sikap / kepercayaan budaya mereka adalah atribut penting dalam
mengembangkan kompetensi budaya dan meningkatkan efektivitas konselor
dengan klien yang beragam secara budaya.
Menurut Sue (dalam Susanto, Febrianti, & Mulawarman, 2017)
terdapat beberapa kompetensi minimal mengenai sikap/keyakinan yang
harus dimiliki oleh setiap konselor, yakni: (a) konselor menyadari sistem
nilai, sikap dan bias mereka dan menyadari bahwa hal itu dapat
memengaruhi klien dari kelompok minoritas; (b) konselor mampu untuk
menghargai keragaman budaya, mereka tidak merasa terganggu jika klien
mereka berbeda ras atau berbeda agama dari mereka (c) konselor percaya
bahwa integritas berbagai sistem nilai dapat memberikan kontribusi yang
baik terhadap klien dan terapis/konselor (d) konselor memiliki kapasitas
untuk berbagi pandangan mengenai dunia dengan klien secara kritis;
Menurut Sue et al (1992) dalam (Susanto et al., 2017) juga
menyarankan beberapa kompetensi minimum yang harus dimiliki oleh
konselor multikultural, yaitu:
1. Keyakinan dan sikap konselor yang efektif secara budaya: (a) mereka
sadar akan sistem nilai, sikap, dan bias mereka, dan menyadari bahwa
hal itu dapat memengaruhi klien dari kelompok minoritas (b) mereka
bersedia menghormati keanekaragaman budaya, mereka tidak merasa
terganggu jika mereka klien berbeda ras atau berbeda agama dari
mereka (c) mereka percaya bahwa integritas berbagai sistem nilai dapat
memberikan kontribusi yang baik terhadap klien dan terapis (d) mereka
memiliki kapasitas untuk berbagi pandangan tentang dunia dengan
klien tanpa menilai secara kritis pandangan; dan (e) mereka peka
terhadap kondisi mereka (seperti bias pribadi dan identitas etnis) yang
mengharuskan klien untuk kelompok ras mereka dari masing-masing
budaya.
2. Pengetahuan multikultural yang efektif dari penasihat: (a) mereka
memahami tentang efek konsep penindasan dan ras dalam profesi
kesehatan mental dan dalam kehidupan pribadi dan profesional mereka.
(b) Mereka menyadari adanya hambatan institusional yang tidak
memberikan peluang kepada kelompok minoritas untuk memanfaatkan
psikologis sepenuhnya. layanan dalam masyarakat (c) mereka sekarang
bagaimana asumsi nilai dari konseling teori utama dapat berinteraksi
dengan nilai kelompok budaya yang berbeda (d) mereka menyadari
karakteristik dasar lintas kelas / konseling budaya dari perspektif
budaya dan apa yang dapat memengaruhi proses konseling (e) mereka
sadar akan bantuan yang otentik secara budaya dan (f) mereka memiliki
pengetahuan otentik tentang latar belakang sejarah, tradisi, dan nilai-
nilai kelompok yang mereka tangani.
3. Kemampuan penasihat yang efektif secara budaya: (a) Dapat
menggunakan berbagai gaya konseling berdasarkan sistem kelompok
minoritas yang berbeda; (b) mereka dapat memodifikasi dan
mengadaptasi pendekatan konvensional untuk konseling dan
psikoterapi untuk mengakomodasi perbedaan budaya (c) mereka dapat
menyampaikan dan menerima pesan baik secara verbal dan non-verbal
secara akurat dan tepat (d) mereka dapat melakukan intervensi di luar
tugas resmi jika diperlukan dengan asumsi peran mereka sebagai agen
konsultan pembaruan.
Menurut (Susanto et al., 2017) Penjelasan singkatnya adalah sebagai
berikut:
1. Kesadaran Multikultural: konselor perlu memiliki kesadaran akan
perilakunya terkait dengan konseli yang berbeda secara budaya.
2. Pengetahuan Multikultural: melakukan konseling multikultural berarti
konselor menerima konsekuensi yang penting memiliki pengetahuan
tentang konsep multikultural sehingga dapat menjadi bagian dari
layanan konseling.
3. Keterampilan Multikultural: Keterampilan multikultural dimaksudkan
untuk membantu konseli mengembangkan teknik dan strategi yang
tepat, yang efektif untuk semua siswa yang memiliki budaya berbeda
dengan siswa lain dan dengan konselor.
Sama halnya yang diungkapkan oleh NCSPP bahwa setiap kompetensi
terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk
fungsi profesional ’(Kaslow et al., 2007, hlm. 701).
Sue and Sue (2013) dalam (Tomlinson-Clarke, 2013) menegaskan
bahwa perjalanan menuju kompetensi budaya konselor adalah proses
perkembangan. Pelatihan multikultural harus memberikan kesempatan
berkelanjutan menggunakan keterampilan reflektif diri untuk menghadapi
asumsi bias, sikap, kepercayaan, dan perilaku (Sue & Sue, 1990).
Kompetensi dalam praktik (Setyaputri, 2017) terdapat dua belas
karakter yakni religius, netral, toleransi, tulus, disiplin, peduli sosial,
bersahabat, adil, jujur, luwes atau tidak kaku, demokratis, dan memiliki rasa
ingin tahu sehingga dapat digunakan untuk mengoperasionalkan kompetensi
multibudaya yang harus dikuasai oleh konselor multibudaya.

C. Pedoman Kompetensi Konseling Multibudaya


Konseling multibudaya atau lintas budaya merupakan paradigma baru dalam
bidang konseling. Budaya sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan dari diri
individu tentu akan memengaruhi aktivitas yang dilakukan oleh individu tersebut.
Budaya dapat juga mengintervensi dalam proses konseling. Dalam paradigma
baru, budaya bukan hanya mencakup suku, etnis, dan agama semata, melainkan
lebih luas lagi meliputi status sosial ekonomi, usia, gender, orientasi seks,
ketidakmampuan (disability).
Keberagaman merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan. Seorang
konselor yang profesional tentu perlu mempunyai pemahaman dalam dirinya,
bahwa proses konseling diperuntukkan bagi semua. Oleh karena itu perlu kiranya,
seorang konselor mengembangkan sensitivitas terhadap keragaman. Dalam tiga
dekade terkahir, banyak literature yang membahas mengenai model Multiculturan
Competence Counseling (MCC) yang dikembangkan oleh Arredondo, Toporek,
Brown, Jones, Locke, Sanches & Stadler ( dalam Hastuti, M.M.S., & Marheni,
2017) MCC itu mengandung model tripartite yang terdiri dari 3 domain dan 3
area. Ketiga domain itu adalah Counselor awareness of own cultural values and
biases, Counselor awareness of client’s worldview, Culturally Appropriate
Intervention and Strategies. Ketiga area yang terkandung di dalam setiap domain
yaitu attitudes and beliefs, knowledge, skills.
Mufrihah (2014) mengkaji kompetensi multicultural konselor dalam
prtinsip-prinsip bimbingan dan konseling yang tertuang dalam Permendikbud No.
111 Tahun 2014 tentang bimbingan dan konseling pada pendidikan dasar dan
pendidikan menengh. Berdasarkan hasil kajian Mufriah bahwa dari 12 prinsip
bimbingan dan konseling, 2 diantaranya dianalisis bermuatan multikultural.
Peneliti ini menemukan bahwa muatan multikultural tampak dengan jelas dalam
rumusan prinsip ke-1 dan ke-8. Prinsip nomor 1 yaitu bimbingan dan konseling
diperuntukkan bagi semua peserta didik/konseli dan tidak diskriminatif. Istilah
tidak diskriminatif ini dimaknainya sebagai kompetensi konselor yang peka
terhadap keragaman pada diri peseta didik. Keragaman ini sering menjadi sumber
munculnya masalah. Prinsip nomor 8 yaitu bimbingan dan konseling dilaksanakan
dalam bingkai budaya Indonesia. Interaksi antar guru bimbingan dan konseling
dan peserta didik harus selaras dan serasi dengan nilai-nilai kebudayaan dimana
layanan tersebut dilaksanakan.
Proses layanan konseling berbasis lintas budaya menuntut konselor untuk
lebih sensitive dan adaptif terhadap perbedaan kebudayaan. Budaya bukan hanya
mencakup ras, etnis, dan agama saja, tetapi meluas meliputi status sosial,
kepercayaan, gender, dan lain sebagainya.

Identitas Multirasial dan Ukuran


Harris (2018), Sebanyak 1627 konselor sekolah dari seluruh 50 negara bagian dan
District of Columbia berpartisipasi dalam penelitian yang dirancang untuk
menyelidiki persepsi pribadi mereka tentang individu multiras. Hasil
menunjukkan bahwa konselor sekolah memegang berbagai persepsi dan mereka
yang memiliki pengalaman 1 hingga 5 tahun lebih, cenderung percaya bahwa
siswa multiras mengalami masalah akademik dan perilaku yang lebih banyak.
Konselor sekolah menengah lebih cenderung percaya bahwa siswa multiras
memiliki waktu yang lebih sulit untuk beradaptasi dengan masyarakat. Konselor
sekolah yang tidak yakin jika keragaman budaya dan program kesadaran
dipromosikan di sekolah mereka juga tidak yakin jika penampilan fisik siswa
multiras berdampak pada identifikasi diri secara rasial. Akhirnya, konselor
sekolah di sekolah dengan badan siswa yang sangat beragam percaya bahwa siswa
multiras akan mengalami lebih sedikit masalah terkait dengan pengembangan
identitas jika mereka tinggal di komunitas yang beragam. Mereka juga percaya
masalah yang dialami oleh siswa multiras terkait dengan konflik identitas.
Ras
Dengan meningkatnya kebutuhan akan kompetensi multikultural, muncul
pertanyaan tentang strategi kelas yang tepat untuk menumbuhkan pertumbuhan di
bidang ini. Pertanyaan-pertanyaan ini semakin rumit dengan fokus yang tumbuh
pada kesadaran diri, Buckley (2010), meningkatkan tuntutan afektif dan resistensi
siswa terhadap materi. Buckley mengusulkan model pedagogis untuk
meningkatkan kompetensi konseling multikultural terkait ras, yang berfokus pada
ras, rasisme, dan pengembangan identitas ras. Premis dasarnya adalah keamanan
psikologis dan keselamatan identitas. Buckley berpendapat bahwa keselamatan
membutuhkan perhatian pada isi kursus dan proses pengajaran serta pendekatan
pembelajaran tambahan yang menekankan pada kompetensi terkait ras sebagai
proses perkembangan seumur hidup.
Orientasi Seksual, Transgender, dan White Identity dan Privilege
(Ratts & Greenleaf, 2017), gerakan konseling multikultural dan keadilan sosial
menghadapi tantangan berat dalam mendukung siswa yang terpinggirkan di
sekolah A.S. Didorong oleh retorika politik yang memecah-belah dan bangkitnya
kaum nasionalis kulit putih ke posisi sentral kekuasaan di Gedung Putih, banyak
di antara mereka yang memiliki pandangan negatif terhadap para imigran;
muslim; orang yahudi; dan individu-individu lesbian, gay, biseksual, dan
transgender (LGBTQ). Retorika yang memecah-belah ini telah memicu ketakutan
dan ketegangan rasial di sekolah-sekolah Amerika (Freedom du Lac, 2016).
Personel sekolah dan pemangku kepentingan lainnya tidak dapat mengharapkan
siswa yang terpinggirkan untuk mencapai potensi mereka jika mereka merasa
tidak aman atau jika mereka kekurangan sumber daya untuk sukses (Kozol dalam
Ratts, 2017). Ancaman-ancaman ini menggarisbawahi perlunya konselor sekolah
untuk menjadi pemimpin multikultural dan keadilan sosial yang lebih proaktif di
sekolah (Holcomb-McCoy dalam Ratts, 2007).
Kelas Sosial
(Pieterse dkk, 2009), menyajikan temuan analisis isi deskriptif dari 54 silabus
kursus multikultural dan terkait keanekaragaman yang diambil dari program
psikologi konseling dan konseling yang diakreditasi oleh American Psychological
Association and the Accreditation of Counseling dan program terkait. Hasil
menunjukkan bahwa sebagian besar konseling mematuhi paradigma pengetahuan,
kesadaran, dan keterampilan kompetensi multikultural. Namun, isi konseling yang
sebenarnya sangat bervariasi. Sementara temuan mengidentifikasi konten keadilan
sosial sebagai kehadiran yang tumbuh di konseling multikultural, ada kebutuhan
untuk lebih jelas menguraikan poin mendasar perbedaan dan tumpang tindih
antara kompetensi multikultural dan advokasi keadilan sosial dalam pelatihan
konseling dan konseling psikologi.
Spiritualitas dan Agama
Seringkali ditemukan ketidakpahaman antara pengetahuan konselor dan konseli
tentang budaya, bahkan dalam budaya keduanya sendiri. Konselor tidak
memahami budaya dasar/fundamental konseli atau sebaliknya, bahkan yang
terjadi antara konselor dengan konseli tidak mau berbagai pengalaman budaya
mereka (Falah, 2016).
Menurut (Falah, 2016) pemahaman konselor dan konseli tentang akar budaya
menjadi sangat penting. Sehingga konselor dan konseli dapat mengevaluasi diri
masing-masing sehingga tercipta pemahaman terhadap eksistensi dan keunikan
paradigma masing-masing. Dalam hal ini konselor harus mempunyai pandangan
kesalehan multikultur, kesalehan yang dibangun atas kesadaran menghamba
kepada Allah dan kesadaran tentang keberadaan otherness/liyan. Mengubah
paradigma konseli terhadap keberagaman/multikultur yang masih asing
merupakan agenda utama bagi konselor. Penekanan tentang pemahaman
beribadah (individual dan sosial) secara seimbang merupakan agenda berikutnya,
dan terakhir adalah implementasi dalam kehidupan sehari-hari, tentunya konselor
juga memperhatikan berbagai keluhan/protes/penolakan dari konseli, yang
nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi konselor untuk menentukan langkah
selanjutnya.
Konselor sebagai seorang profesional diharapkan dapat mengembangkan
pemahaman kesalehan yang lebih universal, terutama bagi konseli yang masih
terjebak pada kesalehan yang dimaknai sebagai sebuah hubungan antara manusia
dengan Tuhan. Konselor dengan berbagai model konseling dan kompetensi
praktis, diharapkan mampu memberikan pemahaman dan bimbingan yang
komprehensif kepada konseli tentang arti kesalehan yang lebih universal.
BAB III
KESIMPULAN

A. Simpulan
Konseling multikultural diperlukan untuk menghadapi keragaman budaya,
kepercayaan, gender, bahasa dan hal lain yang menjadi karakteristik individu
sebagai anugerah dari Tuhan. Konselor sebagai profesi yang memberikan layanan
perlu memiliki kompetensi multikultural sebagai bekal untuk menghadapi konseli
dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda. Kompetensi multikultural
meliputi tiga dimensi yakni, pengetahuan, keterampilan, sikap dan kepercayaan.
Kompetensi-kompetensi tersebut diperlukan untuk menghindari konflik dengan
konseli akibat tidak memahami karakteristik budaya asal mereka.
DAFTAR PUSTAKA

Baruth, L. G., & Manning, M. (2012). Multicultural Counseling and


Psychotherapy: A Lifespan Approach fifth edition. Amerika Serikat: Pearson.
Buckley, T. R., & Foldy, E. G. (2010). A Pedagogical Model for Increasing Race-
Related Multicultural Counseling Competency 1ψ7. The Counseling
Psychologist, 38(5), 691–713.
https://doi.org/10.1177%2F0011000009360917
Falah, R. Z. (2016). Membentuk Kesalehan Individual Dan Sosial Melalui
Konseling Multikultural. KONSELING RELIGI Jurnal Bimbingan Konseling
Islam, 7(1), 163. https://doi.org/10.21043/kr.v7i1.1666
Freedom du Lac, J. (2016, November, 9). Trump triumphs. The Washington Post.
Retrieved from https://www.washingtonpost. com/politics/2016/live-
updates/general-election/real-timeupdates-on-the-2016-election-voting-and-
race-results/trump-tri umphs-todays-front-page/?utm_term¼.d7e685fde16f
Glockshuber, E. (2005). Counsellors’self-perceived multicultural competencies
model. European Journal of Psychotherapy, Counselling and Health, Vol. 7,
291-308.
Harris, H. L. (2018). A National Survey of School Counselors’ Perceptions Of
Multiracial Students. Professional School Counseling, 17(1),
https://doi.org/10.1177%2F2156759X0001700109
Hastuti, M.M.S., & Marheni, K. . (2017). Kompetensi Konseling Multikultur bagi
Konselor Sekolah Suatu Kajian Teoretis. Prosiding Seminar Dan Lokakarya
Nasional Revitalisasi Laboratorium Dan Jurnal Ilmiah Dalam Implementasi
Kurikulum Bimbingan Dan Konseling Berbasis KKNI, (mcc), 4–6.
Metzger, L. L., Nadkarni, L. I., & Cornish, J. A. (2010). An Overview of
Multicultural Counseling Competencies . In J. A. Cornish, B. A. Schreier,
L. I. Nadkrani, L. H. Metzger, & E. R. Rodolfa, Handbook of Multiculural
Counseling Competencies (pp. 1-22). Canada: John Willey & Sons, Inc.
Mufrihah, A. (2014). Implikasi Prinsip Bimbingan Dan Konseling Terhadap
Kompetensi Multikultural Konselor. Jurnal Pelopor Pendidikan, 7(1), 73–
86. Retrieved from http://www.stkippgrismp.ac.id/jurnal-pelopor-
pendidikan-5/
Nuzliah. (2016). Counseling Multikultural. Jurnal Edukasi, 2(2), 183–200.
Pieterse, A. L., Evans, S. A., Risner-Butner, A., Collins, N. M., & Mason, L. B.
(2009). Multicultural Competence and Social Justice Training in Counseling
Psychology and Counselor Education. The Counseling Psychologist, 37(1),
93–115. https://doi.org/10.1177%2F0011000008319986
Ratts, M. J., & Greenleaf, A. T. (2017). Multicultural and Social Justice
Counseling Competencies. Professional School Counseling, 21(1b),
2156759X1877358. https://doi.org/10.1177/2156759x18773582
Setyaputri, N. Y. (2017). Karakter Ideal Konselor Multibudaya Berdasarkan Nilai
Luhur Semar. Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling, 2(2), 58–65.
https://doi.org/10.17977/um001v2i22017p058
Susanto, S., Febrianti, T., & Mulawarman, M. (2017). Multicultural competency
of counselor in Indonesia. Proceeding International Seminar on Counselling
2017, (October), 180–184.
Tomlinson-Clarke, S. (2000). Assessing outcomes in a multicultural training
course: A qualitative study. Counselling Psychology Quarterly, 13, 221-231.
Tomlinson-Clarke, S. (2013). Multicultural counseling competencies: Extending
multicultural training paradigms toward globalization. Ideas and Research
You Can Use: VISTAS 2013, (3), 1–10.