Anda di halaman 1dari 22

KIMIA LAUT

“ AIR LAUT SEBAGAI LARUTAN KIMIA “

DISUSUN OLEH KELOMPOK 6 :

1. RANI KUSNAIDI (E1M017062)


2. ROZANA AFRIANI (E1M017070)
3. WITANTI SUKMA KHAERUNNISA (E1M017080)

PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MATARAM

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Oseanografi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai salah suatu ilmu yang
mempelajari sifat-sifat kimia dari lautan. Ilmu ini semata-mata bukanlah merupakan suatu
ilmu yang murni, tetapi merupakan perpaduan dari bermacam-macam ilmu-ilmu dasar yang
lain. Ilmu-ilmu lain yang termasuk di dalamnya ialah ilmu tanah (geology), ilmu murni
(geography), ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu biologi, dan ilmu iklim (Hutabarat dan Stewart,
1985).

Hampir semua unsur kimia pada tabel periodik juga ada (terlarut) di dalam air laut.
Dengan konsentrasi yang bervariasi mulai dari level persen, permil, ppm, ppb sampai dengan
ppt. Unsur kimia di alam ini mengalami berbagai siklus yang melibatkan berbagai makhluk
hidup atau pun benda mati, seperti tumbuhan, hewan, sedimen, magma, gunung berapi, dan
sebagainya. Unsur kimia di dalam air laut kebanyakan berasal dari daratan yang masuk ke
laut melalui air sungai, air hujan dan debu, air tanah, dan aktivitas gunung api di bawah laut.
Unsur-unsur kimia yang bermanfaat bagi makhluk hidup akan diserap oleh fitoplankton yang
hidup di permukaan laut. Fitoplankton ini bertindak sebagai produsen pertama dalam rantai
makanan yang menangkap karbon dioksida yang masuk ke permukaan laut dari atmosfer
melalui berbagai reaksi fisika seperti difusi. Fitoplankton sebagian besar akan dimakan
oleh zooplankton, zooplankton akan dimakan oleh ikan kecil, ikan kecil dimakan ikan besar
dan seterusnya. Makhluk hidup yang mati di laut akan jatuh dan mengendap ke dasar
laut membentuk sedimen, yang kemudian mengalami subduksi ke dalam perut bumi, dibawa
kembali ke permukaan bumi melalui aktivitas gunung berapi dan akhirnya masuk kembali ke
dalam laut, dan terus menerus membentuk siklus zat kimia yang berulang dalam skala waktu
geologi yang sangat lama.
Lautan yang secara tidak langsung dapat dikatakan sebagai sumber daya, merupakan
suatu tempat mata pencaharian bagi orang-orang Asia Tenggara selama berabad-abad
lamanya. Tidak di mana pun juga, hal ini benar-benar dapat dilihat di Indonesia di mana
Negara ini terdiri dari lebih kurang 13.000 pulau yang tersebar dan memiliki potensi yang
kaya. Oleh karena itu sangat dibutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan, sehingga sangat
penting bagi kita untuk mempelajari oseanografi.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Komposisi Kimia Air Laut (secara kasar)

Komposisi kimia air murni merupakan suatu persenyawaan kimia yang sangat
sederhana yang terdiri dari dua atom hidrogen (H) yang berikatan dengan satu atom Oksigen
(O). Atom- atom hiodrogen terikat ke atom oksigen secara asimetris sedemikian rupa
sehingga kedua atom hidrogen berada di satu ujung sedangkan atom oksigen berada di ujung
lainya. Ikatan antara atom hidrogen dan oksigen terbentuk karena pemakaian elektron secara
bersama yaitu setiap atom hidrogen memiliki satu elektron yang dipakai secara bersama-sama
dengan atom oksigen. Sifat polar molekul air ini mengakibatkan tempat kedudukan hidrogen
yang positif akan menarik tempat kedudukan oksigen yang negatif dari molekul air yang lain.
Ikatan seperti ini disebut ikatan hidrogen, yang terjadi diantara dua molekul air yang
berdekatan. Kekuatan ikatan ini sangat lemah, hanya 6 persen dari kekuatan ikatan antara
atom oksigen dan atom hidrogen dalam sebuah molekul air dan ikatan ini mudah lepas sekali
tetapi juga mudah terbentuk kembali.

Sedangkan pada air laut, terdapat kira-kira 92 unsur-unsur dari jumlah keseluruhan
unsur kimia yang ada. Keberadaan jumlah 92 unsur tersebut telah diukur atau telah dideteksi
dan sisanya mungkin akan dapat diketahui jumlahnya dengan menggunakan teknik analisis
yang lebih sensitif. Sejauh ini, unsur-unsur yang telah dideteksi keberadaannya dalam air laut
menunjukkan range konsentrasi yang luas seperti yang terlihat dalam tabel 2.1 di bawah ini
Tabel 2. 1 Kelimpahan rata-rata unsur-unsur kimia dalam air laut

Dari kurang lebih 92 unsur yang terdapat dalam air laut, dapat diketahui unsur-unsur
utama penyusun air laut yang jumlahnya dapat dilihat pada Tabel 2.2 dibawah ini
ION PERSEN BERAT
A. Utama
Klor (Cl-) 55.04
Natrium (Na+) 30.61
Sulfat (SO42-) 7.68
Magnesium (Mg2+) 3.69
Kalsium (Ca2+) 1.16
Kalium (K+) 1.10
Sub total 99.28
B. Jarang
Bikarbonat (HCO3-) 0.41
Bromida (Br-) 0.19
Asam borat (H3BO3) 0.07
Stronsium (Sr2+) 0.04
Sub total 0.71
Total 99.99
Tabel 2.2 Unsur utama dan unsur yang jarang dari air laut

2. 1. 1. Zat-Zat Partikulat

Partikulat yang dikenal juga sebagai partikel halus dan jelaga, merupakan subdivisi
kecil dari material padat yang tersuspensi dalam gas atau cairan. Partikulat dapat berasal dari
buatan manusia atau alam dan dapat berbentuk partikel padat atau larutan. Garam adalah
contoh dari kontaminan terlarut dalam air, sedangkan pasir umumnya merupakan partikulat
padat.

Sumber-sumber utama material partikulat di lautan antara lain yaitu :

a. Sungai, membawa partikel ke laut dalam bentuk suspensi dimana fraksi coarser
(kasar) terdeposit sebagai pasir, silt, dan lempung (clay).
b. Debu wind-borne (aeolian), misalnya partikel quartz halus, mineral clay, oksida besi,
silikat sel-sel tanaman, skeleton diatom air tawar, bangkai organik, partikel-partikel
debu vulkanik, mikrometeorit (debu kosmis), material yang dihasilkan dari
pemecahan meteorit yang lebih besar yang secara berkesinambungan menyuplai
lautan oleh atmosfir.
c. Zat partikulat biogenik, seperti partikel-partikel yang dihasilkan dari produk biologi
primer dan sekunder, comprising sisa-sisa skeletal, pellet faecal, dan zat-zat dari
tanaman dan hewan mati (detritus).

Terdapat variasi yang besar dari partikel-partikel tersuspensi (zat yang tidak terpisah
dari cairan karena ukuranya kecil ) di dalam air laut sehingga dapat menimbulkan masalah
dalam penentuan konsentrasi dari beberapa unsur di dalam air laut. Langkah atau cara yang
banyak digunakan secara luas untuk memisahkan zat-zat terlarut dari fraksi-fraksi partikulat
adalah penyaringan menggunakan membran dengan diameter pori 0,45µm. Untuk sebagian
besar konstituen, cara ini memberikan suatu pemisahan yang memuaskan antara zat-zat
terlarut dan zat-zat partikulat, tetapi untuk sebagian kecil konstituen hal ini kurang
memuaskan.

Sebagai contoh, besi di dalam air laut terdapat dalam bentuk terhidrasi seperti
Fe(OH)2 atau Fe(OH)3. Kedua bentuk hidrat ini cenderung berkoalisi membentuk partikel-
partikel koloid yang sangat kecil dan kemungkinan tetap berada dalam suspensi dalam waktu
yang tak terbatas. Jika semisalnya hal ini tidak terjadi maka beberapa proses akan dapat
mengagregasi keduanya menjadi partikel-partikel yang cukup besar untuk bisa tetap berada di
bawah gravitasi. Oleh karena itu, untuk keberadaan senyawa hidrat besi didalam air laut
terdapat suatu spektrum ukuran mulai dari bentuk larutan, bentuk partikel koloid hingga
bentuk partikel-partikel agregat yang pemisahannya dapat dilakukan dengan cara mengganti
ukuran pori membran atau menaikkan tekanan filtrasi yang kemungkinan besar dapat
memecahkan/menghancurkan agregat secara mekanik. Namun hal yang perlu dipahami
adalah masalah ini tidak muncul/timbul untuk semua unsur yang terdapat dalam bentuk
hidrat. Contohnya yaitu dalam senyawa Al(OH)3 dan Si(OH)4, filtrasi dapat membedakan
dengan baik fraksi terlarut dari fraksi partikulat. Densitas zat-zat partikulat biasanya lebih
besar dari densitas air laut, sehingga zat-zat partikulat cenderung tenggelam. Namun
demikian, ukuran yang kecil dari kebanyakan partikel-partikel menyebabkan partikel-partiel
tersebut dapat tetap berada dalam suspensi.

Untuk meningkatkan kualitas air, partikel-partikel padat dapat dihilangkan dengan


filter air atau settling (proses dimana partikulat turun dalam air dan membentuk sedimen)
yang disebut sebagai partikel tak larut. Sedangkan kontaminan yang dapat larut dalam air
dapat dikumpulkan dengan cara penyulingan yang memungkinkan air untuk menguap dan
kontaminan dapat terpisah sebagai endapan.

2. 1. 2. Klasifikasi Konstituen Terlarut

Pada awalnya, dipercaya bahwa air laut berasa asin disebabkan karena adanya zat-zat
kimia yang berasal dari darat yang dibawa oleh sungai-sungai yang mengalir ke laut. Baik itu
dari pengikisan batu-batuan darat, dari tanah longsor, dari air hujan atau dari gejala alam
lainya yang terbawa oleh air sungai ke laut. Menurut teori, zat-zat kimia berupa garam
tersebutlah yang menyebabkan air laut asin. Garam-garam ini berasal dari dasar laut melalui
proses outgassing, yaitu rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke
permukaan dasar laut. Dalam gas-gas ini, terdapat zat-zat terlarut hasil kikisan kerak bumi
dan di dalam garam-garam ini juga terkandung air. Semua zat-zat yang terkandung berada
dalam perbandingan yang tetap sehingga membentuk garam di laut.

Zat-zat terlarut yang membentuk garam, kadarnya diukur dengan istilah salinitas.
Istilah salinitas atau tingkat keasinan digunakan untuk menyatakan banyaknya kadar garam
yang terkandung di dalam air. Biasanya digunakan untuk mengukur kadar garam pada air aut,
karena pada dasarnya air laut secara alami mengandung kadar garam yang tinggi. Salinitas
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pasang surut, penguapan, curah hujan, topografi
perairan serta presipitasi. Satuan salinitasdapat dibagi menjadi empat kelompok, yakni:

1.Konstituen utama : Cl, Na, SO4, dan Mg.


2.Gas terlarut : CO2, N2, dan O2.
3.Unsur Hara : Si, N, dan P.
4.Unsur Runut : I, Fe, Mn, Pb, dan Hg.

Konstituen utama air laut adalah konstituen-konstituen yang terdapat dalam


konsentrasi lebih besar dari 1 ppm dan konstituen-konstituen ini menyumbang lebih dari
99,9% garam-garam terlarut di lautan. Konstituen utama air laut secara konvensional dapat
dilihat pada tabel di bawah ini :
Ion o/
ooberat

Cl- 18,980

SO42- 2,649

HCO3- 0,140 total ion negatif (anion)

Br- 0,065 = 21,861 o/oo

*H2BO3- 0,026

F- 0,001

Na+ 10,556

Mg2+ 1,272 total ion positif (kation)

Ca2+ 0,400 = 12,621 o/oo

K+ 0,380

Sr2+ 0,013

Total Salinitas Secara Keseluruhan 34,482 o/oo

* termasuk di dalamnya CO32-

Walaupun konsentrasi nitrogen, oksigen dan silika relatif tinggi, tetapi ketiganya tidak
termasuk ke dalam konstituen utama karena nitrogen dan oksigen merupakan gas-gas terlarut
dan silika adalah nutrien.

Konstituen minor dan trace merupakan unsur-unsur di luar konstituen utama yang
terdapat di dalam air laut. Yang termasuk kedalam dalam elemen minor pada lautan
diantaranya yaitu : Boron (B), Flour (F), Liitium (Li), Rubidium (Rb), dan Fosfor (P).
Kelompok elemen minor ini terdapat dalam kadar atau jumlah yang lebih kecil bila
dibandingkan dengan kelompok elemen kimia utama yang terdapat dalam air laut, sehingga
elemen-elemen ini dimasukan kedalam kelompok elemen kimia tambahan atau minor
elemen. Jumlah elemen minor yang terdapat dalam air laut, dapat dilihat pada data yang
tertera dibawah ini
 Boron (B) 23.000 ton/mil³ air laut
 Flour (F) 6.100 ton/mil³ air laut
 Liitium (Li) 800 ton/mil³ air laut
 Rubidium (Rb) 570 ton/mil³ air laut
 Fosfor (P) 330 ton/mil³ air laut

Di laut terdapat pula kelompok elemen yang disebut kelompok elemen jarang atau
“Trace Element”. Trace elemen merupakan unsur–unsur atau senyawa–senyawa kimia dilaut
yang kelarutanya kurang dari 1 ppb atau dapat diartikan jumlahnya sangat kecil bila
dibandingkan dengan kadar-kadar dari elemen- elemen dari kelompok yang lain. Nama-nama
trace elemen yang terdapat dalam air laut yaitu:
 Iodium (I) 280 ton/mil³ air laut
 Barium (Ba) 140 ton/mil³ air laut
 Besi (Fe) 47 ton/mil³ air laut
 Seng (Zn) 47 ton/mil³ air laut
 Selen (Se) 29 ton/mil³ air laut
 Argon (Ar) 14 ton/mil³ air laut
 Tembaga (Cu) 14 ton/mil³ air laut
 Timah (Sn) 14 ton/mil³ air laut
 Uranium (U) 14 ton/mil³ air laut
 Mangan (Mn) 9 ton/mil³ air laut
 Nikel (Ni) 9 ton/mil³ air laut
 Vanadium (V) 9 ton/mil³ air laut

Distribusi lautan dari konstituen utama tunggal secara umum sangat erat berhubungan
dengan distribusi total salinitas. Hal ini dikarenakan adanya kekonstanan komposisi air laut.
Kebanyakan dari konstituen utama bersifat konservatif kecuali Ca2+ dan C dalam berbagai
bentuk, bersama-sama dengan silika (SiO2). Sebaliknya, kebanyakan konstituen minor dan
trace bersifat non-konservatif yang dipengaruhi oleh proses biologi dan kimia dimana kedua
konstituen ini jumlahnya bisa bertambah atau berkurang.
2. 1. 3. Nutrien

Riley dan Chester (1971), menyatakan bahwa unsur Nitrogen, Posfor dan Silika
merupakan elemen esensial terpenting yang dibutuhkan oleh organisme laut. Ketiga elemen
tersebut berperan penting dalam metabolisme, proses fisiologis dan reaksi biokimiawi.
Nutrien adalah semua unsur dan senyawa yang dibutuhkan tumbuh–tumbuhan melalui proses
fotosintesis dan berada dalam material organik. Nutrien dapat dibagi menjadi 2 elemen

 Makro nutrien : Dibutuhkan dalam jumlah yang besar. Contohnya : C, N, P, Si, Mg,
K, Na.
 Mikro nutrien : Dibutuhkan hanya dalam jumlah yang sedikit. Contohnya : Fe, Cu,
Mn, V.

Fitoplankton tidak dapat tumbuh dibawah kedalaman 100–200 m karena cahaya


merupakan hal yang esensil untuk fotosintesis dan diketahui bahwa fitoplankton dapat
bertumbuh hanya di zona fotik yang mana zona ini amat jarang terdapat di kedalaman lebih
dari 200 m dan umumnya jauh dari kedalaman ini. Oleh karena itu, di zona fotik nutrien
merupakan yang paling banyak digunakan. Zona fotik secara berkesinambungan mengalami
penurunan nutrien dan fotosintesis produksi primer akan terhambat jika tidak terjadi
percampuran vertikal atau adveksi vertikal air kaya nutrien dari kedalaman yang lebih dalam
(upwelling).

Fitoplankton membentuk dasar rantai makanan di lautan dan nutrien bergerak


sepanjang rantai ketika grazing dan predasi berlangsung. Fitoplankton didaur ulang (kembali
ke larutan) di dalam badan air dengan cara ekskresi dan peruraian mikrobial zat-zat organik
partikulat (detritus). Kembalinya nutrien ke dalam larutan oleh peruraian zat-zat organik
dikenal sebagai re-mineralisasi. Tenggelamnya partikel-partikel bioorganik yang lebih besar
(faeces dan corpses) dan pergerakan vertikal zooplankton,hewan-hewan lain pemakan
fitoplankton dan detritus yang bergabung menyebabkan pergerakan yang progresif ke bawah
mengeluarkan nutrien dari zona fotik. Akibatnya, profil konsentrasi untuk nitrat, fosfat, dan
silika secara umum dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1 : Profil konsentrasi (dalam satuan mol/L) tipikal di perairan subtropis dan tropis
untuk (a) fosfat, (b) nitrat, dan (c) silika. (d) fitoplankton hidup, terutama diatom dan
dinoflagellata (panjang 1,75 mm), (e) zooplankton hidup, termasuk copepoda (planktonik
crustaceae) dan larva planktonik dari berbagai hewan (1, 75 mm)

Pada profil di atas terlihat slope yang merepresentasikan peningkatan konsentrasi nutrien
dengan kedalaman di bawah lapisan permukaan campuran yang umum dikenal sebagai
nutriklin.

Karbon merupakan unsur kebutuhan mendasar untuk mendukung kehidupan


dimanapun di muka bumi ini. Oleh karena jumlah CO2 yang paling dominan diantara gas-gas
terlarut dalam air laut dimana karbon membentuk unsur terlarut paling melimpah kedelapan
di lautan. Ketersediaan karbon terlarut secara umum tidak dipertimbangkan sebagai faktor
pembatas di dalam produksi biologi, sehingga karbon tidak diklasifikasikan sebagai nutrien.
Pertimbangan yang lebih penting adalah intensitas dari iluminasi, supply oksigen, dan
ketersediaan nutrien, yaitu nitrogen terfiksasi, seperti nitrat (NO3- ), sebagai amonium (NH4+),
fosfor sebagai fosfat (PO4-) dan silikon sebagai (SiO2) yang kadang-kadang disebut juga
sebagai silikat. Nutrien digunakan oleh fitoplankton, sel-sel tanaman dengan ukuran mulai
dari 1 hingga beberapa ratus mikron yang mengalir di permukaan air laut dan fotosintesis
karbohidrat dari karbon dioksida dan air. Nitrat dan fosfat digunakan untuk membentuk
jaringan lunak organisme dan rasio konsentrasi molar nitrat dan fosfat di lautan mendekati
15:1 untuk jaringan organik. Hal ini berarti jika semua fosfat terlarut yang terdapat di
permukaan air di permukaan air telah digunakan maka hal ini berlaku juga untuk nitrat.
Nitrogen dan Nitrat

Gas nitrogen terlarut (N2) sangat sedikit digunakan dalam proses-proses biologi sebab
hanya sedikit fitoplankton (sianobakteria atau alga biru-hijau) yang mampu memfiksasi gas
tersebut untuk mengubah nitrogen menjadi senyawa-senyawa nitrogen organik yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan. Rata-rata air laut mengandung kira-kira 9 ml/l (seperseribu
bagian volume) gas nitrogen, N2 yang ekivalen dengan kira-kira 11 mg/l (ppm berat). Total
rata-rata konsentrasi nitrogen dalam air laut adalah 11,5 ppm sehingga hanya sebagian fraksi
dengan jumlah sangat kecil yang terlarut dari atmosfir selain gas N2. Fraksi sangat kecil ini
adalah nitrat (NO3- ) yang dihasilkan dari dekomposisi zat-zat organik di daratan (dimana
kebanyakan terjadi fiksasi nitrogen oleh bakteri) dan menyuplai lautan melalui sungai. Air
hujan juga menyuplai sejumlah kecil nitrat yang dihasilkan terutama melalui kombinasi
nitrogen atmosfir dan oksigen ketika terjadi petir tetapi sebagian juga berasal dari polusi
industri.

Amonia (NH3 )

Amonia terbentuk selama dekomposisi bakterial zat-zat organik dan diekskresikan


oleh zooplankton. Amonia terdapat sebagai ion amonium (NH4+) di dalam larutan air laut.
Walau pada akhirnya ion amonium teroksidasi menjadi nitrat, tetapi ion amonium dapat
digunakan sebagai nutrien oleh plankton (dan hanya ini yang menjadi sumber nitrogen untuk
banyak mahluk hidup bebas seperti bakteria).

Silika

Nutrien ketiga, silika (atau silikat) digunakan untuk membentuk skeleton tanaman
planktonik (diatom) dan hewan (radiolaria). Silika disekresikan oleh organisme-organisme
dalam bentuk amorpous dan terhidrat sehingga rumusnya secara umum ditulis sebagai
SiO2.nH2O (kadang-kadang disebut opaline silika atau opal). Tetapi untuk lebih ringkasnya
digunakan SiO2 baik untuk bentuk silika padatan maupun bentuk silika terlarut.

2. 1. 4. Gas-gas terlarut

Kelarutan gas-gas yang terdapat pada air laut secara umum menurun dengan naiknya
temperatur, salinitas dan tekanan. Gas-gas terlarut yang terdapat dalam air laut yaitu :
a. Oksigen

Permukaan air di lautan secara konsisten terdapat dalam keadaan lewat jenuh dengan
oksigen. Sebagian dari hal ini disebabkan oleh pelepasan oksigen selama fotosintesis dan
yang paling utama disebabkan oleh hasil gelembung-gelembung udara yang terbentuk pada
pinggang gelombang ketika dipaksa turun ke dalam badan air dimana bagian gas yang
terkandung didorong ke dalam larutan oleh naiknya tekanan hidrostatik.

Gambar 2 kurva kejenuhan untuk oksigen (garis hitam) dan konsentrasi terukur (titik-titik biru) di air
permukaan lautan yang ditentukan oleh Program GEOSECS

Dekat dasar zona fotik, terdapat kesetimbangan antara jumlah karbon yang difiksasi
oleh fitoplankton pada proses fotosintesis. Kedalaman pada saat kesetimbangan ini terjadi
disebut kedalaman kompensasi dan dapat juga didefinisikan sebagai kedalaman dimana
jumlah oksigen yang dihasilkan oleh fitoplankton selama fotosintesis pada periode waktu 24
jam sama dengan jumlah oksigen yang dikonsumsi pada respirasi.

Fotosintesis tidak berhenti pada kedalaman kompensasi, tetapi di bawah kedalaman


ini intensitas cahaya tidak cukup untuk terjadinya pertumbuhan fitoplankton, misalnya yaitu
di bawah kedalaman kompensasi ini lebih banyak karbon yang dihamburkan pada respirasi
tanaman dibanding yang dapat difiksasi oleh fotosintesis sehingga pada kedalaman lebih dari
kedalaman kompensasi ini, oksigen terus menerus dikonsumsi pada respirasi baik oleh
tanaman maupun oleh hewan dan pada dekomposisi bakterial (oksidasi) bangkai organik.
Tetapi hal itu tidak bisa digantikan, skarena adanya percampuran ke bawah dan karena difusi
oksigen terlarut dari permukaan berjalan lambat serta kemampuan untuk berfotosintesis
menurun hingga mencapai level yang dapat diabaikan di bawah zona fotik.

b. Karbon Dioksida

Sama halnya dengan oksigen, semakin rendah temperatur semakin banyak CO2 masuk
ke dalam larutan. Namun demikian, di bawah termoklin dimana temperatur secara virtual
selalu konstan, kelarutan karbon dioksida menjadi hampir secara keseluruhan merupakan
fungsi tekanan. Maksudnya yaitu apabila tekanan naik maka akan lebih banyak CO2 yang
masuk ke dalam larutan membentuk asam karbonat dan produk-produk disosiasinya. Tetapi
pada tekanan yang sangat tinggi di laut dalam, perbandingan CO2 sebagai gas terlarut kurang
dari 2% dari total jumlah CO2 di dalam larutan. Sisanya direpresentasikan oleh ion-ion
bikarbonat (HCO3-) dan karbonat (CO32-).

2. 1. 5. Beberapa gas minor

Selain oksigen dan karbon dioksida, terdapat juga gas-gas lain dalam air laut tetapi
dengan jumlah yang sangat sedikit. Sumber-sumber gas ini antara lain vulkanik, industri
(pembakaran bahan bakar minyak dan peleburan logam), dan oksidasi senyawa-senyawa
sulfur organik alam (termasuk dimetil sulfida). Gas-gas tersebut antara lain dapat dilihat pada
tabel dibawah ini

Gas Total flux lautan (gr/tahun) Arah net flux

Belerang dioksida, SO2 1,5 x 1014 udara → laut


Nitrogen oksida, N2O 1,2 x 1014 laut → udara
Karbon monoksida, CO 4,3 x 1013 laut → udara
Metana, CH4 3,2 x 1012
laut → udara
Metil iodida, CH3I 2,7 X 10 11
laut → udara
Dimetil sulfida, (CH3)2S 4,0 x 1013
laut → udara

Tabel 2.3 Flux laut – udara dari beberapa gas

Karbon monoksida (CO) dan metana (CH4) memberikan suatu kontadiksi yang
menarik dimana konsentrasi kedua gas ini di permukaan air sama besarnya tetapi konsentrasi
CO di atmosfir jauh lebih kecil dibanding konsentrasi metana. Oleh karena itu, gradien
konsentrasi CO pada interface jauh lebih besar dibanding konsentrasi CH4 yang
menyebabkan perbedaan orde magnitude flux keduanya. Kedua gas ini dihasilkan dari
peruraian mikrobial zat-zat organik (banyak juga CO dihasilkan oleh respirasi algae) dan
teroksidasi menjadi CO2 di atmosfir. Sedangkan metana merupakan senyawa yang menarik
karena kondisi reduksi anaerobik (anoksik) dibutuhkan pada pembentukannya. Keadaan
supersaturated metana dalam kondisi teroksigenasi baik (oksik) di permukaan air akan
memberikan suatu paradoksial, karena tidak ditemukan adanya metana yang dihasilkan
bakteria pada lingkungan mikro anoksik di dalam pellet faecal dan partikulat detritus organik
lainnya yang tenggelam dari permukaan air.

Metil iodida, (CH3I) dan dimetil sulfida (CH3)2S juga tidak stabil di lingkungan
teroksigenasi. Kedua gas ini dihasilkan oleh beberapa spesies fitoplankton di dekat
permukaan laut dan butuh waktu cukup lama untuk bisa masuk ke atmosfir dimana kemudian
akan mengalami peruraian dimana dimetil sulfida (CH3)2S akan teroksidasi menjadi sulfat.

Gas-gas terlarut sebagai tracer

Apapun posisi yang diberikan oleh subsurface badan air, kadang-kadang hal itu harus
berda pada permukaan dimana difusi sepanjang interface udara → laut akan menentukan
kandungan gas terlarutnya. Sekali air turun dari permukaan dan menjadi terisolasi dari
atmosfir, maka konsentrasi gas-gas terlarut akan berubah sebagian karena hasil dari
percampuran dan sebagian lagi karena reaksi-reaksi biologi atau reaksi-reaksi lainnya.

Oksigen digunakan sebagai tracer karena kelimpahannya, peranannya yang penting


secara biologi dan karena kemudahannya diukur. Semakin lama suatu massa air terisolasi dari
atmosfir, maka semakin rendah kandungan oksigennya. Dengan cara men-track kembali
bersama gradien konsentrasi oksigen, daerah sumber massa air dapat dilokalisasi dan dapat
menyebabkan terjadinya perubahan pada badan massa air. Oleh karena itu isolasinya dari
permukaan dapat disimpulkan.

Gambar 3 (a) Dibawah ini menunjukkan konsentrasi tinggi dari oksigen terlarut di
permukaan air pada garis lintang tinggi di Lautan Atlantik. Penurunan konsentrasi secara
perlahan-lahan ini terjadi seiring dengan pertambahan kedalaman dan jarak ke Equator yang
sifatnya konsisten dengan tenggelamnya massa air di daerah kutub. Sementara (b)
menunjukkan konsentrasi oksigen terlarut yang relatif tinggi pada permukaan air di daerah
Pasifik Selatan. Penurunan konsentrasi seiring dengan penambahan kedalaman di bagian
utara yang sifatnya konsisten dengan tenggelamnya air Atlantik.

Gambar 3 Bagian-bagian yang menunjukkan oksigen terlarut (ml L-1) dalam (a) Laut Atlantik barat
dan (b) Lautan Pasific (sepanjang kira-kira 170o)

2.2 Mengapa Air Laut Asin

Air laut asin karena mengandung garam-garam terlarut kira-kira 300 kali lebih banyak dari
rata-rata kandungan garam-garam terlarut pada air sungai.

3. 2. 1. Perbandingan Air laut dan Air Alam Lainnya

Konsentrasi rata-rata dari konstituen-konstituen utama terlarut di dalam air hujan, air
sungai dan air laut tentunya memiliki perbedaan. Tetapi, rata-rata air hujan dan air sungai
menunjukkan sedikit variasi tetapi pola dasarnya sama di seluruh dunia. Oleh karena itu,
untuk mengubah air hujan menjadi air sungai jelas membutuhkan penambahan sejumlah
konstituen dasar tertentu dan konstituen-konstituen dasar ini terutama disediakan oleh proses
weathering kimia pada bebatuan. Air hujan mengandung gas-gas terlarut khususnya CO2 dan
SO2 dimana keduanya membentuk larutan asam sehingga air hujan bersifat asam lemah
dengan (pH 5,7). Ketika air hujan jatuh ke tanah, maka keasamannya dinetralkan oleh
reaksinya dengan mineral-mineral di dalam tanah dan batuan.
CaCO3(S) + CO2(g) + H2O → Ca2+(aq) + 2HCO3-(aq)

kalsit, mineral umum dari air hujan dalam larutan

dalam sedimen dan batuan

2NaAlSi3O8(s) + 2CO2(g) + 3H2O → Al2Si2O5(OH)4(s) + 2Na+(aq) + 2HCO3-(aq) + 4SiO2(s)

A + B → C + D + E

A = albite, mineral yang umum yang terdapat dalam batuan berapi dan batuan metamorfik

B = dari air hujan

C = kaolinite, suatu mineral clay

D = dalam larutan

E = silika, sebagian di dalam larutan

Dua contoh representatif di atas merupakan situasi nyata yang secara luas dicatat untuk
proses transformasi air hujan menjadi air sungai. Pengecualian ada pada peningkatan yang
besar dalam konsentrasi Ca2+ dan HCO3- antara air hujan dan air sungai muncul dari fakta
bahwa kedua ion ini dapat dihasilkan dari weathering kedua jenis batuan karbonat (reaksi 1)
dan dari kalsium bersilikat (reaksi 2).

3. 2. 2. Air laut dan Air hujan

Air laut asin karena mengandung garam-garam terlarut kira-kira 300 kali lebih banyak dari
rata-rata kandungan garam-garam terlarut pada air sungai. Di laut, jumlah mendasar dari
HCO3-, Ca2+ dan SiO2 secara khusus harus dikeluarkan dari larutan. Kita telah memunculkan
bahwa beberapa konstituen terlarut di dalam air sungai berasal dari proses chemical
weathering permukaan batuan. Sisanya berasal dari daur ulang dari lautan via aerosol dan air
hujan.

Gambar 4 Komposisi kimia rata-rata air laut, sungai dan air hujan untuk delapan konstituen
terlarut, beberapa terdapat dalam konsentrasi sangat rendah untuk menunjukkan TDS. Catat
bahwa total konsentrasi meningkat dari air hujan ke air sungai ke air laut, juga perubahan
skala (panah) x 15 dari (a) ke (b) dan x 400 dari (b) ke (c)
Kandungan rata-rata klorida pada batuan daratan kira-kira 0,01% dan hanya sebagian kecil
klorida di air sungai berasal dari weathering. Secara virtual hal itu membuktikan bahwa
klorida yang terkandung di dalam air sungai berasal dari siklus garam-garam laut via aerosol
lautan.

Pada dasarnya kita berasumsi adalah bahwa semua klorida di dalam air sungai didaur
ulang dari lautan oleh hujan (dan salju) dan bahwa konstituen-konstituean lain didaur ulang
dalam proporsi yang sama seperti keberadaannya di air laut. Asumsi ini telah diaplikasikan
pada gambar di bawah ini untuk mengkoreksi konsentrasi terukur di dalam air sungai dengan
cara mengurangi kontribusi dari siklus garam-garam.

Gambar 5 Komposisi kimia rata-rata air sungai setelah “koreksi” untuk garam-garam siklik
3. 2. 3. Asal Klorida

Cukup mudah melihat bagaimana ion-ion utama seperti Na+, K+, Mg2+, dan Ca2+
dapat diturunkan dari weathering batuan sebab kelimpahan ion-ion ini sangat tinggi di perut
bumi seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini

Unsur % berat
Si 28,2
Al 8,2
Fe 5,6
Ca 4,2
Na 2,4
K 2,4
Mg 2,0
Ti 0,6
Mn 0,1
P 0,1
Tabel 2 4. Persentase berat rata-rata (aproksimasi) dari 10 unsur terbanyak (selain oksigen) di
perut bumi

Sebaliknya, sebagian kecil Cl- di air sungai berasal dari weathering. Oleh karena itu kita
mengamsusikan bahwa semua klorida di air sungai berasal dari siklus garam-garam. Tetapi
dalam konteks sebenarnya, klorida berasal dari proses vulkanisme. HCl merupakan konstituen
penting di dalam gas-gas vulkanik. Dalam sejarah bumi baru-baru ini, vulkanisme lebih luas
di waktu sekarang ini karena bumi secara keseluruhan lebih panas. Sejumlah besar gas yang
paling larut diemisikan dan dengan cepat terlarut di lautan. Klorida diklasifikasikan sebagai
suatu excess volatile karena konsentrasinya di dalam air laut tidak dapat dicatat sebagai
weathering batuan.
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN
Pada air laut, terdapat kira-kira 92 unsur-unsur dari jumlah keseluruhan unsur kimia
yang ada. Keberadaan jumlah 92 unsur tersebut telah diukur atau telah dideteksi jumlahnya.
Komposisi kimia pada air laut terbagi menjadi 5 yaitu keberadaan zat partikulat, konstituen
terlarut, nutrien, gas-gas terlarut dan beberapa gas minor. Konstituen zat terlarut yang
membentuk garam, kadarnya diukur dengan istilah salinitas. Istilah salinitas atau tingkat
keasinan digunakan untuk menyatakan banyaknya kadar garam yang terkandung di dalam air.
Salinitas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pasang surut, penguapan, curah hujan,
topografi perairan serta presipitasi. Satuan salinitas dapat dibagi menjadi empat kelompok,
yakni konstituen utama : Cl, Na, SO4, dan Mg, gas terlarut : CO2, N2, dan O2, unsur Hara :
Si, N, dan P dan unsur Runut : I, Fe, Mn, Pb, dan Hg. Nutrien adalah semua unsur dan
senyawa yang dibutuhkan tumbuh–tumbuhan melalui proses fotosintesis dan berada dalam
material organik. Nutrien dapat dibagi menjadi 2 elemen yaitu makro nutrien yang
dibutuhkan dalam jumlah yang besar. Contohnya : C, N, P, O, Si, Mg, K, Na dan mikro
nutrien yang dibutuhkan hanya dalam jumlah yang sedikit. Contohnya : Fe, Cu, Mn, V. Gas-
gas terlarut yang dalam jumlah besar terdapat dalam air laut yaitu oksigen dan karbon
dioksida. Sedangkan gas gas minor atau dalam jumlah kecil terdapat dalam air laut yaitu gas
monoksida,nitrogen oksida,metana,metil iodida,dimetil oksida,dan belerang oksida. Lalu
perihal mengapa air laut asin disebabkan karena karena mengandung garam-garam terlarut
kira-kira 300 kali lebih banyak dari rata-rata kandungan garam-garam terlarut pada air sungai
(air tawar).

2. SARAN
Pada penulisan makalah ini masih banyak kekurangan karena kurang lengkapnya
materi yang didapat dari refrensi yang digunakan. Oleh karena itu, kami selaku penyusun
makalah ini mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan
datang.
DAFTAR PUSTAKA

Hartono.2007. Geografi : Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Bandung : CV. Citra Praya.

Hutabarat, Sahala, dan Stewart M. Evans. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta:

Universitas Indonesia Press.

Firdaus, M. Luthfi. 2017. Oseanografi : Pendekatan dari Ilmu Kimia, Fisika, Biologi dan

Geologi. Yogyakarta : Leutikaprio.

Sofiyani, Isnaini. 2009. Bahan Organik Di Laut. Bandung : Universitas Padjadjaran Press.

Alfiah, Taty, 2009. Fisik-Kimia Oseanografi. Surabaya : Institut Teknologi Adhi Tama.

https://id.wikipedia.org/wiki/Oseanografi_kimia

https://id.wikipedia.org/wiki/Partikulat