Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KOSEP KEBIDANAN

CONTOH MODEL PELAYANAN KEBIDANAN INDONESIA DAN


LUAR NEGERI
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konsep kebidanan
Dosen pengampu: Ibu Triatmi Andri Yanuarini, M.Keb

Disusun Oleh:

1. Desy Rahmawati NIM P17321191001 12. Dea Wanudya A. NIM P17321191022


2. Elok Diana Lorensa NIM P17321191002 13. Herdita Dwi M. NIM P17321191023
3. Dinda Elisya K. S. NIM P17321191003 14. Nur Azizah B. NIM P17321191026
4. Yoshe Arvin M.F. NIM P17321191006 15. Salisa Putri R. NIM P17321193031
5. Diatika Indah M. NIM P17321191010 16. Heni Setiya W. NIM P17321193032
6. Shofina Wudda S. NIM P17321191012 17. Khafifah Luthfia NIM P17321193035
7. Farica Emiliana NIM P17321191016 18. Ferena Purwita Sari NIM P 17321193036
8. Widya Wahyu K. NIM P17321191017 19. Nabila Alfiah N.H. NIM P 17321193037
9. Fadia Jelita H. NIM P17321191018 20. Afina Candra K.A. NIM P17321193040
10. Nur Fadila H.P. NIM P17321191019 21. Suci Rahmawati NIM P17321193044
11. Eka Lestari K.T. NIM P17321191021 22. Shafira Nur R. NIM P17321193045

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


D-IV KEBIDANAN KEDIRI
2019/ 2020

1
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa dengan rahmat dan hidayahNya sehingga
kami dapat menyusun tugas makalah yang berjudul “Contoh Model Pelayanan Kebidanan
(Indonesia) dan luar negeri”.

Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari Dosen Ibu
Triatmi Andri Yanuari,M.Keb dengan mata kuliah Konsep Kebidanan. Bersamaan dengan itu
tujuan lain dari penyusunan makalah ini adalah untuk menambah wawasan serta menjelaskan
kepada para pembaca maupun penulis.

Kami mengucapkan terimakasih kepada Ibu Triatmi Andri Yanuari,M.Keb selaku


dosen mata kuliah Konsep Kebidanan dan semua pihak yang bersedia untuk membantu dalam
penyusunan tugas makalah sehingga kami dapat menambah wawasan dan pengeahuan serta
dapat menyelesaikan tugas makalah ini.

Kami mohon maaf apabila dalam penyusunan tugas makalah ini terdapat kesalahan dan
kekurangan. Dengan itu, kami harapkan kritik dan saran yang membangun untuk menjadikan
makalah ini lebh baik.

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................................................ 2


DAFTAR ISI........................................................................................................................................... 3
BAB 1 ..................................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 4
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................ 5
1.3 Tujuan Masalah .................................................................................................................... 5
BAB II..................................................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 6
2.1 Model Pelayanan Kebidanan di Dalam Negeri dan Luar Negeri ........................................... 6
2.1.1 Model Pelayanan Kebidanan Dalam Negeri ( Indonesia) ................................................ 6
2.1.2 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Amerika Serikat) ........................................ 7
2.1.3 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Australia)................................................... 10
2.1.4 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Selandia Baru) .......................................... 11
2.1.5 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Inggris) ...................................................... 13
2.1.6 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Belanda)..................................................... 14
2.1.7 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Afrika) ....................................................... 18
BAB III ................................................................................................................................................. 19
PENUTUP ............................................................................................................................................ 19
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTRAKA ........................................................................................................................ 20

3
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejarah menunjukkan bahwa kebidanan merupakan salah satu profesi tertua di


dunia sejak adanya peradaban umat manusia. Bidan lahir sebagai perempuan
terpercaya dalam mendampingi dan menolong ibu-ibu yang melahirkan, serta
memiliki tugas yang sangat mulia dalam upaya memberikan semangat dan
membesarkan hati ibu-ibu. Di samping itu,bidan dengan setia mendampingi dan
menolong ibu-ibu dalam melahirkan sampai sang ibu mampu merawat bayinya
dengan baik.

Sejak zaman prasejarah, dalam naskah kuno sudah tercatat bidan dari Mesir
(Siphrah dan Poah), yang berani mengambil resiko membela keselamatan bayi laki-
1aki bangsa Yahudi (sebagai orang-orang yang terjajah oleh bangsa Mesir), yang
diperintahkan oleh Firaun untuk di bunuh. Mereka sudah menunjukkan sikap etika
moral yang tinggi dan takwa kepada Tuhan dan memebela orang-orang yang berada
pada posisi lemah, yang pada zaman modern ini kita sebut peran advokasi. Dalam
menjalankan tugas dan praktiknya, bidan bekerja berdasarkan pada pandangan
filosofis yang dianut, keilmuan, metode kerja, standar praktik pelayanan dan kode etik
profesi yang dimiliknya.

Mengingat hal diatas, maka penting bagi bidan untuk mengetahui perkembangan
pelayanan dan pendidikan kebidanan karena bidan sebagai tenaga terdepan dan utama
dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi diberbagai catatan pelayanan wajib
mengikuti perkembangan IPTEK dan menambah ilmu pengetahuannya melalui
pendidikan formal atau non formal dan bidan berhak atas kesempatan untuk
meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun pelatihan serta meningkatkan
jenjang karir dan jabatan yang sesuai.

4
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana model pelayanan kebidanan di Indonesia?
2. Bagaimana model pelayanan kebidanan di Amerika Serikat?
3. Bagaimana model pelayanan kebidanan di Australia?
4. Bagaimana model pelayanan kebidanan di Selandia Baru?
5. Bagaimana model pelayanan kebidanan di Inggris?
6. Bagaimana model pelayanan kebidanan di Belanda?
7. Bagaimana model pelayanan kebidanan di Afrika?

1.3 Tujuan Masalah


1. Mengetahui model pelayanan kebidanan di Indonesia.
2. Mengetahui model pelayanan kebidanan di Amerika Serikat.
3. Mengetahui model pelayanan kebidanan di Australia .
4. Mengetahui model pelayanan kebidanan di Selandia Baru.
5. Mengetahui model pelayanan kebidanan di Inggris.
6. Mengetahui model pelayanan kebidanan di Belanda
7. Mengetahui model pelayanan kebidanan di Afrika.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Model Pelayanan Kebidanan di Dalam Negeri dan Luar Negeri


2.1.1 Model Pelayanan Kebidanan Dalam Negeri ( Indonesia)
Model asuhan kebidanan dibuat berdasarkan filosofi bahwa kehamilan dan
persalinan merupakan sebuah hal yang fisiologis. Model pelayanan kebidanan yang
diterapkan di Indonesia, yaitu :

a. Community Midwifery/Home Birth


Model pelayanan ini merupakan Pelayanan Kebidanan komunitas, bidan sebagai
provider untuk pelayanan wanita selama kehamilan dan masa nifas. Kontak pertama di
masa kehamilan sangat penting karena memberikan informed choices dalam
perencanaan asuhan dan memastikan wanita mendapat keuntungan. Bidan
memungkinkan memberikan pelayanan Home care.
b. Midwifery-led Care
Model ini memerlukan perawatan suara kebidanan stakeholder yang kuat untuk
didengar di kelompok kebijakan dan perencanaan. Kebidanan memimpin unit pada
situs rumah sakit saat operasional. Contohnya Bidan delima, dimana bidan yang
melakukan praktek yang telah terkualifikasi.
c. Obstetric-led Ccare
Model Pelayanan kebidanan dimana Bidan berkolaborasi dengan dokter spesialis
kebidanan lain untuk menjamin kliennya menerima pelayanan yang baik bila terjadi
sesuatu dalam asuhan.
d. Non-NHS Midwifery Care
Model pelayanan kebidanan yang dilakukan oleh bidan secara independen sesuai
dengan standard an memiliki izin/legalitas. Di Indonesia telah diterapkan yaitu Bidan
Praktek Mandiri (BPM)
e. Multidisciplinary Care
Sejumlah tim multi-profesional pendekatan untuk pengelolaan kehamilan kompleks
sampai perawatan bersalin. Bidan memainkan peran kunci dalam melakukan pelayanan
di masa kehamilan dan persiapan menjadi orang tua. Misalnya pelayanan bidan di RSIA
yang melibatkan profesi lain dalam memberikan asuhan yang berkesinambungan.

6
f. Partnership Model
Model perawatan di mana bidan dan wanita berada dalam kemitraan selama periode
kelahiran kehamilan, kelahiran dan pasca. Pelayanan yang diberikan dengan
beremitraan sesama rekan sejawat dalam melakukan pelayanan.
Model pelayanan kebidanan di Indonesia bila ditinjau dari filosopi asuhan
kebidanan yang telah disepakati di Internasional yaitu model asuhan kebidanan yang
berfokus pada perempuan (women centered care) dimana memberikan prioritas pada
kebutuhan dan harapan perempuan, yang menekankan pentingnya informed choice,
continuity of care, user invol vement, clinical effectiveness, responsiveness and
accessibility. Model asuhan yaitu asuha yang berfokus pada peempuan tersebut, namun
penerapannya di Indonesia penerapan asuhan kebidnan ni masih belum maksimal
dalam implementasinya.

Menurut WHO (2009) sebagian kematian ibu yang terjadi dapat dihindari
apabila tersedia tenaga pertolongan persalinan yang terampil. Kompetensi adalah
prasyarat untuk praktek – praktek terbaik dan memastikan peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan ibu (Canavan dalam Cham et al 2008). Menurut Depkes (2008)
bahwa Tingginya kasus kematian ibu diidentifikasikan pula sebagai akibat tidak
langsungdari kondisi “tiga terlambat” yaitu; terlambat dalam mengenal tanda
bahayadan mengambil keputusan di tingkat keluarga, terlambat mencapai tempat
pelayanan, dan terlambat mendapatkan pertolongan medis yang memadai (Depkes,
2008). Menurut Sugiarto (2002) salah satu factor yang mempengaruhi kualitas
pelayanan yaitu memberikan pelayanan yang efisien dimana pelayanan dilakukan
dengan efektif dan efesien.

2.1.2 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Amerika Serikat)

Di Amerika, para bidan berperan seperti dokter, berpengalaman tanpa


pendidikan yang spesifik, standar-standar, atau peraturan-peraturan sampai pada awal
abad ke-20. Kebidanan sementara itu menjadi tidak diakui dalam sebagian besar
yurisdiksi (hukum) dengan istilah ‘nenektua’yang menyebabkan kebidanan akhirnya
padam, sehingga profesi bidan hampir mati.

Riwayat bidan di Amerika Serikat dimulai dengan masuknya colonial di dunia


baru. Bidan berada di tengah-tengah wanita pertama yang tinggal di koloni-koloni. Pada
pertengahan abad ke-17, sesuai dengan informasi yang tercatat dalam catatan dan

7
piagam kota : bidan merupakan profesi penting dalam kehidupan masyarakat colonial
dan diperlakukan dengan sangat hormat, dan mereka disediakan rumah, tanah,
makanan, dan honor sebagai bayaran untuk pelayanan mereka

Selanjutnya pada abad ke-19, para bidan menempuh perjalanan melewati


dataran luas dengan mengendarai wagon tertutup, mengikuti jalur Oregon dan Santa fe.
Sejarah Mormon mencatat peran terhormat dan fungsi kepahlawanan bidan selama
perjalanan mereka dari Illinois ke Utah pada tahun 1846-1847. Namun setelahnya,
peran bidan mulai menurun karena, para perempuan golongan atas di kota-kota
Amerika, mulai meminta bantuan para dokter . Sejak awal tahun 1990 setengah
persalinan di Amerika Serikat ditangani oleh dokter, sedangkan bidan hanya menangani
persalinan perempuan yang tidak mampu membayar dokter. Hal ini terjadi karena
adanya perubahan persepsi dimana kelahiran merupakan masalah medis yang harus
ditangani oleh dokter.

Antara periode ini, ilmu kedokteran dan keperawatan berkembang pesat serta
penemuan dan pendidikan yang berhubungan dengan praktik obstetric mulai
berkembang. Perkembangan ini mencakup:

1. Berakhirnya penggunaan forsep(alat rahasia keluarga Chamberlen)


2. Perkembangan teknik yang yang menurunkan risiko praktik seksio caesaria
3. Dirintisnya penggunaan anastesia obstetric
4. Upaya mengatasi demam puerperal
5. Munculnya keperawatan modern pada tahun 1860an
6. Perlibatan obstetric pada praktik kedokteran

Pada awal abad ke-20 penghargaan bidan mulai berkurang sehingga menjadi
salah satu profesi yang tidak dihormati karena dipicu oleh factor yang meliputi sikap
agama, tuntutan ekonomi, fungsi bidan digantikan oleh dokter, pendidikan dan
perwatan maternitas yang tidak adekuat, tidak adanya pengaturan, arus pendatang dan
status wanita yang rendah.

8
Oleh karena itu dilakukan tindakan untuk meningkatkanperawatan maternitas
tersebut, diantaranya;

a. Diberlakukannya protap pertolongan persalian di AS oleh Dokter Joseph


Lee(1915) yaitu,
1.Diberikannya sedative pada awal inpartu
2.Membiarkan servik berdilatasi
3.Memberikan ether pada kala dua
4.Melakukan epiostomi
5.Melahirkan bayi dengan forcep ekstraksi
6.Memberikan uterustonika
7.Menjahit epiostomi
Namun, akibat protap tersebut angka kematian ibu mencapai 600-700/ 100.000
kelahiran hidup. Dan sekitar 30-50% wanita melahirkan di rumah sakit.
b. Diluncurkannya buku tentang persalian alami karya Dokter Grantly Dicka,
untuk meningkatkan peran tenaga di luar medis termasuk bidan

Meskipun sempat mengalami kemunduran, namun pada tahun 1979 bidan mulai
mendapat perannya kembali. Yaitu setelah badan pengawasan obat Amerika
mengatakan bahwa ibu bersalin yang menerima anesthesia dalam dosis tinggi
menyebabkan ibu tersebut melahirkan anak-anak yang mengalami kemunduran
perkembangan psikomotor. Berdasarkan hal tersebut masyarakat mulai tertarik kembali
dengan proses persalinan alamiah yang kebanyakan dilakukan di rumah(homebirth)

9
2.1.3 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Australia)

Tugas pertama yang sulit adalah meneliti kembali nama bidan itu sendiri, tidak
sama dengan ketika latihan dalam praktik kebidanan. Bidan sangat penting layanan
kesehatan sejak perang dunia II dan proporsi yang besar di rumah sakit sebagai pusat
pelayanan kesehatan untuk daerah rumah sakit tersebut. Peningkatan rumah sakit dan
persatuan perawat dan peningkatan ahli kebidanan yang lebih menekankan pada
teknologi menyebabkan mundurnya kebidanan. Namun situasi itu berakhir pada saat
amerika utara menilai bahwa kepemimpinan perawat dan kepemimpinan bidan, bahwa
bidanlah yang lebih berhak mendapat penghargaan pertama dan penghargaan kedua
diberikan kepada perawat. Penghargaan ini sangat penting untuk meningkatkan nilai
profesi bidan.

Pengembangan profesi bidan berlansung setelah pemerintah melihat adanya


peningkatan kebidanan dengan memperi asuhan yang bermanfaat. Shearman Reprt
(NSWI.1989) telah menemukan cara awal untuk mengatur strategi perawatan yang
berkesinambungan. Having baby in Victoria (Depkes Vitoria 1990) melaporkan sebuah
interviw pelayanan kesehatan di victoria yang membutuhkan pada orientasi pelayanan
kesehatan pada wanita dan keluarga. Maksutnya adalah memelihara kesehatan yag
lebih baik. “ perawatannya pemeliharaan kesehatan yang lebih baik. “perawatan lebih
efektif pada kelahiran “CNH dan MRC. Pada tahun 1996 bahwa perawatan yang
bersinergi dan berkesinambungan akan menjadi tujuan perawatan kesehatan ibu itu
sendiri.

Beberapa tahun setelah australia mengadakan pelatihan kebidanan, datang para


pendidik yang membuka universitas yang memiliki cara sendiri untuk menghasilkan
tenaga yang berkualitas. Dan pada waktu yang samapemerintah mendukung bidan dan
memperluasperan mereka. Luasnya penglaman bidan klinik cukup diterima beberapa
tempat namun juga mengurangi resiko yang akan terjadi .

Keberadaan bidan di Australia hampir sama dengan keberadaan bidan di


Amerika Serikat. Bidan di Australia didasari pengaruh teknik pengobatan,namun
kemandirian bidan masih menurun. Hal ini terlihat dengan adanya pertolongan
persalinan di beberapa negara bagian tidak ditolong oleh bidan sehingga di Australia
banyak bidan hanya membantu mendampingi pertolonga. Persalinan.

10
Model pelayanan kebidanan di Australia Menggunakan modal partnership
kebidanan dimana wanita sebagai partner bidan dalam berbagai pengalaman tentang
proses melahirkan dan melahirkan adalah proses yang normal dalam kebidanan.

Prinsip - prinsip yang mendasari partnership dalam kebidanan adalah:

1. Mengetahui dan mendukung sosial budaya (suatu yang holistic)


2. Sebagian besar wanita dapat melahirkan bayi tanpa intervensi.
3. Mendukung proses alamiah dalam tubuh .
4. Pelayanan kebidanan adalah seni dan ilmu, pendekatan pemecahan masalah di
gunakan bila diperlukan .
5. Pelayanan kebidanan berpusat pada wanita.
6. Berhubungan dengan Mengetahui dan mendukung kesatuan antara tubuh, pikiran,
jiwa, lingkungan fisik proses pencapaian peran ibu.
7. Memberdayakan wanita dalam pengambilan keputusan.
8. Pelayanan kebidanan dibatasi oleh hukum dan ruang lingkup praktek. Individu
yang mengacu pada wanita dan petugas kesehatan lain jika di butuhkan.

2.1.4 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Selandia Baru)

Selandia Baru (New Zeland) telah mempunyai peraturan mengenai praktisi


kebidanan sejak tahun 1904, tetapi lebih dari 100 tahun yang lalu, lingkup praktik bidan
telah berubah akibat dari meningkatnya sistem perumah sakitan dan pengobatan atau
pertolongan dalam persalinan.

Pada tahun1970 selandia baru telah menerapkan medikalisasi kehamilan. Ini


didasarkan pada pendekatan mahasiswa pasca sarjana ilmu kebidanan dari Universitas
Aukland untuk terjun ke rumah sakit pemerintah khusus wanita. Salah satu konsekuensi
dari pendekatan ini adalah regional jasa. Ini adalah efek dari sentralisasi yang
mengakibatkan penutupan rumah sakit di wilayah pedesaan dan wilayah kota.

11
Tindakan keperawatan mulai dari tahun 1971 sudah diterapkan pada setiap ibu
hamil, hal ini menjadikan bidan sebagai perawat spesialis kandungan. Bidan berkerja
di masyarakat dimulai dengan bekerja di rumah sakit dalam area tertentu, seperti klinik
ante natal, ruang bersalin dan ruang nifas, kehamilan, dan persalinan menjadi terpisah
dan khusus serta tersendiri secara keseluruhan. Dalam proses ini bidan kehilangan
pandangan bahwa persalian adalah suatu peristiwa yang normal dan dengan peran
mereka sebagai pendamping peristiwa normal tersebut. Disamping itu bidan menjadi
berpengalaman memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan
pengaruh medis, dimana seharusnya para dokter dan rumah sakit secara langsung yang
tepat memberikannya.

Model di atas ditunjukan untuk memberikan pelayanan pada maternal dan untuk
mengurangi angka kematian dan kesakitan ibu serta janin. Dengan adanya dukungan
yang kuat terhadap gerakan feminis, banyak wanita yang berjuang untuk meningkatkan
medikalisasi dan memilih persalinan di rumah. Kumpulan Homebirth di Aukland
dibentuk tahun 1978. Dimulai dengan 150 orang dan menjadi organisasi nasional
selama 2 tahun, yauitu NZNA (New Zealand Nurse Association). Perkumpulan ini
didukung oleh para langganan, donator dan tenaga kerja suka rela atau fakultatif yang
bertanggung jawab atas banyaknya perubahan positif dalan system RS. Hal ini
berlangsung sampai dengan tahun 1980. Pada tahun 1980 NZNA membuat garis besar
mengenai statement kebijakan atas pembatasan rumah hal ini disampaikan oleh
penasihat panitia maternal jasa kepada jawatan kesehatan. Panitia maternal jasa adalah
suatu panitia di mana dokter kandungan menyatakan peraturan mengenai survei
maternal terutama dalam hal memperdulikan rumah. Tahun 1981 sebagaian besar RS
memasukan bidan keperkumpulan perawat, para bidan mengalami krisis untuk
membentuk organisasi dan pemimpin dari mereka, kemudian muncul perkumpulan
yang menentang NZNA untuk mendapatkan rekomendasi lebih lanjut lansung dibawah
RS atau dibawah dokter kandungan.

12
Bidan bekerja sama dengan wanita untuk menegaskan kembali otonomi bidan
dan bersama-sama sebagai rekan mereka telah membawa kebijakan politik yang
diperkuat dengan legalisasi tentang profesionalisme praktek bidan. Sebagian besar
bidan di Selandia Baru mulai memilih untuk bekerja secara mandiri dengan tanggung
jawab penuh kepada pasiennya dengan lingkup normal.Tahun 1986 homebirth sangat
berpengaruh dalam kemajuan melawan penetapan yang dibuat oleh medis, akhirnya
mentri pelayanan kesehatan secara resmi mengakui homebirth pada tahun 1986.

Lebih dari 10 tahun yang lalu pelayanan maternitas telah berubah secara
dramatis. Saat ini 86% wanita mendapat pelayanan dari bidan sejak kehamilan sampai
nifas dan asuhan berkelanjutan yang hanya dapat dilaksanakan pada persalainan di
rumah. Sekarang disamping dokter 63% wanita memilih bidan sebagai salah satu
perawat maternitas dan hal ini terus meningkat. Model kebidanan yang digunakan di
Selandia Baru adalah ‘partnership’ antara bidan dan wanita. Bidan dengan
pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya dan wanita dengan pengetahuan
tentang kebutuhan dirinya dan keluarganya serta harapan-harapan terhadap kehamilan
dan persalinan. Dasar dari model partnership adalah komunikasi dan negosiasi.

2.1.5 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Inggris)


Bidan inggris menuntut adanya pelayanan mandiri dan menolak medical moda
l karenadianggap tidak cocok dengan praktek kebidanan. Mereka lebih banyak
menggunakan orem self care Model 'kemampuan seseorang untuk merawat dirinya
sendiri.

Alasan bidan di Inggris melakukan praktik mandiri

1. Penolakan terhadap model medis dalam kelahiran (medicalisasi)


2. Ketidakmampuan menyediakan perawata yang memuaskan dalam NHS (National
Health Service)
3. Untuk mengurus status bidan sebagai praktisi
4. Untuk memberikan kelangsungan perawatan dan kemampuan bidan dalam
memberikan pertolongan persalinan di rumah sebagai pilihan mereka

13
Keuntungan bagi wanita adalah menendapatkan kebutuhan wanita sebagai
prioritas utama,wanita berhak memilih asuhan yang diinginkan dan rencana
kelahiranya keuntungan bagi bidan adalah memudahkan bidan dalam memberikan
asuhan yang berkesinambungan dan menerapkan women center care, memudahkan
dalam melakukan asuhan mandiri dan komperhenfis pada ibu bayi dan keluarga.

Para bidan dirumahsakit mulai menyadari bahwa mereka berperan penting


dalam membantu seorang ibu untuk menyusui dengan benar, sehingga unit ibu dan anak
yang pertama kali mencapai status “ramah bayi” di Inggris adalah unit kebidanan
dirumahsakit Royal Bournemouth karena telah memenuhi “10 langkah untuk berhasil
menyusui” yang ditetapkan oleh BFI (Baby Friendly Initiative), sementara itu jumlah
wanita yang menyusui bayinya setelah keluar dari unit ini meningkat 75%.

Berdasarkan Evaluasi One-to-One praktek kebidanan di Inggris menunjukkan


bahwa kontinuitas pemberi asuhan bisa meningkatkan kepuasan perempuan dengan
hati-hati mereka, memberikan bidan kepuasan kerja yang lebih besar, meningkatkan
otonomi mereka, dan mengurangi tingkat intervensi.

2.1.6 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Belanda)

Seiring dengan meningkatnya perhatian pemerintah Belanda terhadap kelahiran


dan kematian, pemerintah mengambil tindakan terhadap masalah tersebut. Wanita
berhak memilih apakah ia mau melahirkan di rumah sakit, hidup atau mati. Belanda
memilki angka kelahiran yang sangat tinggi sedangkan kematian perinatal relatif
rendah. Satu dari tiga persalinan lahir di rumah dan ditolong oleh bidan dan perawat
sedang yang lain lahir di rumah sakit juga dibantu oleh bidan.
Prof. Geerit Van Kloosterman pada konferensinya di Toronto tahun 1984
menyatakan bahwa setiap kehamilan adalah normal dan harus selalu dipantau dan
mereka bebas memilih untuk tinggal di rumah atau di rumah sakit dimana bidan yang
sama akan memantau kehamilannya. Yang utama dan penting, kebidanan di Belanda
melihat suatu perbedaan yang nyata antara kebidanan keperawatan. Astrid Limburg
mengatakan : seorang perawat yang baik tidak akan menjadi seorang bidan yang baik
karena perawat dididik untuk merawat orang yang sakit, sedangkan bidan untuk
kesehatan wanita.

14
Tidak berbeda dengan ucapan Maria De Broer yang mengatakan bahwa
kebidanan tidak memiliki hubungan dengan keperawatan, kebidanan adalah profesi
yang mandiri. Pendidikan kebidanan di Amsterdam memiliki prinsip yakni
sebagaimana memberi anastesi dan sedatif pada pasien barulah kita harus mengatakan
pendekatan dan memberi dorongan pada ibu saat persalinan. Jadi pada prakteknya
bidan harus memandang ibu secara keseluruhan dan mendorong ibu untuk menolong
dirinya sendiri.
Pada kasus resiko rendah dokter tidak ikut menangani, mulai dari prenatal,
natal, post natal, pada resiko menengah mereka selalu memberi job tersebut pada bidan
dan pada kasus resiko tinggi dokter dan bidan saling bekerja sama.
Bidan di Belanda 75% bekerja secara mandiri, karena kebidanan adalah profesi
yang mendiri dan aktif. Sehubungan dengan hal tersebut bidan harus menjadi role
model dimasyarakat dan harus menganggap kehamilan adalah sesuatu yang normal
sehingga apabila seorang wanita merasa dirinya hamil dia dapat langsung
memeriksakan diri ke bidan.

a. Pelayanan Antenatal
Bidan menurut peraturan Belanda lebih berhak praktek mandiri daripada
perawat. Bidan mempunyai izin resmi untuk praktek dan menyediakan layanan kepada
wanita dengan resiko rendah, meliputi antenatal, intrapratum dan post natal. Tanpa ahli
kandunagn yang menyertai mereka bekerja di bawah Lembaga Audit Kesehatan. Bidan
harus merujuk wanita dengan resiko tinggi atau kasus patologi ke Ahli Kebidanan untuk
dirawat dengan baik.
Untuk memperbaiki pelayanan kebidanan dan ahli kebidanandan untuk
meningkatkan kerjasama antar bidan dan ahli kebidanan dibentuklah daftar indikasi
oleh kelompok kecil yang berhubungan dengan pelayanan maternal di Belanda. Daftar
ini berisi riwayat sebelum dan sesudah pengobatan. Riwayat kebidanan akan berguna
dalam pelayanan kebidanan. Penelitian Woremever menghasilkan data tentang
mortalitas dan mobilitas yang menjamin kesimpulan : dengan sistem pelayanan yang
diterapkan Belanda memungkinkan mendapatkan hasil yang memuaskan melalui
seleksi wanita. Suksesnya penggunaan daftar indikasi merupakan dasar yang penting
mengapa persalinan di rumah disediakan dan menjadi alternatif karena wanita dengan
resiko tinggi dapat diidentifikasi dan kemudian dirujuk ke Ahli Kebidanan.

15
Selama kehamilan bidan menjumpai wanita hamil 10-14 kali di klinik bidan.
Sasaran utama praktek bidan adalah pelayanan komunitas. Jika tidak ada masalah,
wanita diberi pilihan untuk melahirkan di rumah atau di rumah sakit. Karena pelayanan
antenatal yang hati-hati sehingga kelahiran di rumah sama amannya dengan kelahiran
di rumah sakit. Tahun 1969 pemerintah Belanda menetapkan bahwa melahirkan di
rumah harus dipromosikan sebagai alternatif persalinan. Di Amsterdam 43% kelahiran
(catatan bidan dan Ahli Kebidanan) terjadi di rumah. Di Holland, diakui bahwa rumah
adalah tempat yang aman untuk melahirkan selama semuanya normal.

b. Pelayanan IntraPartum
Pelayanan Intrapartum dimulai dari waktu bidan dipanggil sampai satu jam
setelah lahirnya plasenta dan membrannya. Bidan mempunyai kemampuan untuk
melakukan episiotomi tapi tidak diizinkan menggunakan alat kedokteran. Baisanya
bidan menjahit luka perineum atau episiotomi, untuk luka yang parah dirujuk ke Ahli
Kebidanan. Syntomentrin dan Ergometrin diberikan jika ada indikasi. Kebanyakan kala
III dibiarkan sesuai fisiologinya. Analgesik tidak digunakan dalam persalinan.

c. Pelayanan Post partum


Di Kebidanan Belanda, pelayanan post natal dimulai setelah.
Pada tahun 1988, persalinan di negara Belanda 80% telah ditolong oleh bidan,
hanya 20% persalinan di RS. Pelayanan kebidanan dilakukan pada community –
normal, bidan sudah mempunyai indefendensi yuang jelas. Kondisi kesehatan ibu dan
anak pun semakin baik, bidan mempunyai tanggung jawab yakni melindungi dan
memfasilitasi proses alami, menyeleksi kapan wanitya perlu intervensi, yang
menghindari teknologi dan pertolongan dokter yang tidak penting. Pendidikan bidan
digunakan sistem Direct Entry dengan lama pendidikan 3 tahun. Bidan mungkin tidak
sebanyak dari pada pasien dokter untuk kematian demam nifas atau infeksi puerperalis,
sebagian besar penting karena kesakitan maternal dan kematian saat itu.

16
Tahun 1765 pendidikan formal untuk bidan mulai dibuka pada akhir abad ke 18
banyak kalangan medis yang berpendapat bahwa secara emosi dan intelektual wanita
tidak dapat belajar dan menerapkan metode obstetric. Pendapat ini digunakan untuk
menjatuhkan profesi bidan, sehingga bidan tidak mempunyai pendukung, uang tidak
terorganisir dan tidak dianggap profesional. Pada pertengahan abad antara tahun 1770
dan 1820, para wanita golongan atas di kota-kota di Amerika, mulai meminta bantuan
“para bidan pria” atau para dokter. Sejak awal 1990 setengah persalinan di AS ditangani
oleh dokter, bidan hanya menangani persalinan wanita yang tidak mampu membayar
dokter. Dengan berubahnya kondisi kehidupan di kora, persepsi-persepsi bartu para
wanita dan kemajuan dalam ilmu kedokteran, kelahiran menjadi semakin meningkat
dipandang sebagai satu masalah medis sehingga di kelola oleh dokter.
Tahun 1915 dokter Joseph de lee mengatakan bahwa kelahiran bayi adalah
proses patologis dan bidan tidak mempunyai peran di dalamnya, dan diberlakukannya
protap pertolongan persalinan di AS yaitu : memberikan sedatif pada awal inpartu,
membiarkan serviks berdilatasi memberikan ether pada kala dua, melakukan
episiotomi, melahirkan bayi dengan forcep elstraksi plasenta, memberikan uteronika
serta menjahit episiotomi. Akibat protap tersebut kematian ibu mencapai angka 600-
700 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1900-1930, dan sebanyak 30-
50% wanita melahirkan di rumah sakit. Dokter Grantly Dicke meluncurkan buku
tentang persalinan alamiah. Hal ini membuat para spesialis obstetric berusaha
meningkatkan peran tenaga diluar medis, termasuk bidan.

17
2.1.7 Model Pelayanan Kebidanan Luar Negeri (Afrika)

Pelayanan kebidanan pertama diberikan sekaligus oleh pegawai pemerintah dan


bidan swasta dilebih banyak wilayah berkembang, sementara masyarakat pedesaan
dilayani oleh wanita penuh baya yang belum terlatih dengan pengalaman kebidanan
yang seringkali melaksanakan perawatan umum dan bahkan pelayanan untuk hewan
peliharaan juga dalam beberapa hal/keadaan.

Pelayanan kebidanan pertama diberikan sekaligus oleh pegawai pemerintah dan


bidan swasta dilebih banyak wilayah berkembang, sementara masyarakat pedesaan
dilayani oleh wanita penuh baya (dukun) yang belum terlatih dengan pengalaman
kebidanan “outansi” yang seringkali melaksanakan perawatan umum dan bahkan
pelayanan untuk hewan peliharaan pada situasi tertentu. Terdapat sedikit
perkembangan dalam pelayanan dan pelatihan kebidanan sampai awal abad ke-19
dibawah pemerintahan Hindia – Belanda timur.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pelayanan kebidanan di Indonesia perlu ditingkatkan mengingat masih tingginya angka


kematian ibu dan anak (AKIA). Perubahan-perubahan yang dilakukan dalam pelayanan kebidanan
zaman dahulu dengan pelayana kebidanan zaman sekarang merupakan wujud peningkatan
pelayanan kebidanan. Tetepi dalam melakukan perubahan tersebut tidaklah mudah, butuh proses
dan waktu yang tidak singkat untuk mewujudkan pelayanan kebidanan yang berkualitas.
Dari uraian di atas pula, maka dapat diambil kesimpulan yakni sejarah perkembangan di masing-
masing negara jelas memiliki perbedaan. Baik itu dalam perkembangan pelayanan, maupun
pendidikan kebidanannya dapat dijadikan pembanding dan dapat kita pilah mengenai hal positif dan
negatif dari perbedaan tersebut.

19
DAFTAR PUSTRAKA

Camelia Hanifah Amelina, 2010. Hubungan Antara Kepuasan Konsumen dan Kualitas Pelayanan
dengan Loyalitas. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Queensland Perawat Industrial Award, 2006; Davis-Floyd, Barclay, Daviss & Tritten, 2009

Siboro,J.1996.Sejarah Australia.Bandung.Tarsito

Yuli.2000.Pendidikan kebidanan. Jakarta: Andalas

Jannah, Nurul (2011). Konsep Kebidanan. Bandar lampung: Ar-Ruzzmedia.

Soepardan,Suryani.2007.Konsep Kebidanan.Jakarta:EGC.
Sofyan,Mustika.dkk.2006.Ikatan Bidan Indonesia.Jakarta:PP IBI 2016. Naskah Akademik
Rancangan Undang-Undang Tentang Kebidanan.

Heryani Reni. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta. Trans Info Media. 2011
Nurhayati., dkk. 2012. Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Salmiati, dkk. Konsep Kebidanan Manajemen dan Standar Pelayanan. Jakarta. EGC.2011
Mita, Liva dkk,2019.Asuhan Kebidanan Bagi para Bidan di Komunitas.Yokyakarta:
Deepublish

Estiwidani,Dwiana.2008.Konsep Kebidanan.Yogyakarta:Fitramaya

Pertiwi, tiara(2018, 2 Januari).Model Pelayanan Kebidanan. Dikutip pada 15 Oktober 2019


dari http://tiarapratiwi87.blogspot.com/2018/01/model-pelayanan-kebidanan.html pukul 09.16
WIB

Marmi, dkk. Konsep Kebidanan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2014


https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=4964439957044134867#editor/target=post;postID=6766
946455619076996

Izzafahmi, Yusria (2016). Sejarah Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Kebidanan di Amerika.
Diakses pada 15 Oktober 2019.
www.academia.edu/29807131/SEJARAH_PERKEMBANGAN_PELAYANAN_DAN_PENDIDIKA
N_BIDAN_AMERIKA_EDITED_.docx

https://kupdf.net/download/modul-konsep kebidanandoc_5a2e3081e2b6f51f2b245bc2_pdf
https://Midwiferytoday.com

20
http://apricilianymaniku.blogspot.co.id/2015/02/model-asuhan-kebidanan.html

http://Wartasejarah.blogspot.com/2015/06/pendidikan-kebidanan-di-australia.html/?m=1

https://www.academia.edu/24324710/BAB_II_TINJAUAN_TEORI_Perkembangan_Profesi_dan_pen
didikan_bidan

http://kirakiranaafirdaus.blogspot.com/2017/01/model-asuhan-pelayanan-kebidanan-di.html

21