Anda di halaman 1dari 4

Ancaman Sistem Informasi Akuntansi

Saat sistem informasi akuntansi (SIA) tumbuh semakin kompleks dalam memenuhi
peningkatan kebutuhan informasi, perusahaan menghadapi risiko pertumbuhan bahwa sistem
mereka mungkin dikompromikan. Menurut Hall (2007:63) ada beberapa ancaman yang akan
menimbulkan risiko sebagai berikut :
1. Kehancuran karena bencana alam dan politik.
(Kebakaran, banjir, gempa bumi, badai angina, peperangan, serangan teroris)
2. Kesalahan pada software dan tidak berfungsi peralatan.
(Kegagalan hardware, kerusakan pada software, kegagalan sistem informasi,
gangguan listrik)
3. Tindakan tidak disengaja.
(Kecelakaan yang disebabakan oleh kesalahan manusia seperti personal yang tidak
terlatih, kegagalan mengikuti prosedur, penghapusan data karena ketidaktahuan,
hilangnya data, kesalahan pada logika sistem, sistem tidak mampu memenuhi
kebutuhan perusahaan)
4. Tindakan sengaja
(Sabotase, penipuan melalui computer, pencurian).
Beberapa faktor yang menyebabkan ancaman terhadap keamanan SIA ini terjadi, yaitu (Hall,
2007:64) :
1. Masalah pengendalian computer seringkali diremehkan.
2. Implikasi pengendalian untuk berpindah dari sistem komputer yang tersentralisasi dan
terpusat dari masa lampau ke sistem jaringan atau sistem internet, tidak benar – benar
dipahami.
3. Banyak perusahaan yang tidak menyadari bahwa keamanan data adalah hal yang
penting untuk kelangsungan hidup perusahaan dimana perlindungan informasi harus
dijadikan persyaratan strategis.
Pendahuluan untuk Penipuan
Penipuan (fraud) aalah mendapatkan keuntungan yang tidak jujur dari orang lain (Romney
dan Steinbart, 2015:149). Secara legal, untuk tindakan dikatakan curang maka harus ada :
1. Pernyataan, representasi, atau pengungkapan yang salah.
2. Fakta material, yaitu sesuatu yang mentimulasi seseorang untuk bertindak
3. Niat untuk menipu
4. Kepercayaan yang dapat dijustifikasi (dibenarkan), dimana seseorang tergantung pada
misrepresentasi untuk mengambil tindakan.
5. Pencederaan atau kerugian yang diderita oleh korban.
Kerugian ekonomi diakibatkan dari aktivitas kecurangan setiap tahunnya. Setiap minggu
pers lokal maupun nasional melaporkan penipuan lain dari beberapa jenis penipuan lainnya.
Penipuan – penipuan ini berkisar dari penipuan beberapa jutaan dolar yang menyedot
perhatian nasional sampai dengan tindakan karyawan yang mencurangi perusahaan setempat
walaupun dalam jumlah kecil. Ada beberapa sebab terjadinya penipuan yaitu (Rahmawati,
2016) :
1. Tekanan
Memotivasi seseorang untuk melakukan penipuan
2. Peluang
Kondisi atau situasi yang memungkinkan seseorang untuk melakukan dan menutupi
suatu tindakan yang tidak jujur
3. Rasionalisasi
Alasan yang sering dikemukakan / diungkapkan untuk melakukan penipuan.
Sebagian besar pelaku penipuan adalah orang dalam memiliki pengetahuan dan akses,
keahlian, dan sumber daya yang diperlukan. Oleh karena karyawan memahami sistem
perusahaan dan kelemahannya, mereka lebih banyak melakukan dan menyembunyikan
penipuannya. Pengendalian yang digunakan untuk melindungi asset perusahaan membuat
lebih sulit untuk orang luar mencuri dari perusahaan. Pelaku penipuan sering kali dianggap
criminal kera putih (white-collar criminals).
Ada beberapa jenis penipuan yang berbeda yaitu (Romney dan Steinbart, 2015:149) :
1. Korupsi (corruption) adalah perilaku tidak jujur oleh mereka yang memiliki
kekuasaan dan sering kali melibatkan tindakan yang tidak terlegitimasi, tidak
bermoral, atau tidak kompatibel dengan standar etis. Ada beberapa jenis korupsi,
contonya : penyuapan dan persekongkolan tender.
2. Penipuan investasi (investment fraud) adalah misrepresentasi atau meninggalkan fakta
untuk mempromosikan investasi yang menjanjikan laba fantastik dengan sedikit
bahkan tidak ada resiko. Ada beberapa jenis penipuan investasi, contohnya : skema
Ponzi dan penjualan sekuritas.
Dan dua jenis penipuan yang penting di untuk bisnis adalah (Romney dan Steinbart,
2015:149) :
1. Penyalahgunaan asset (misappropriation of asset)
Adalah pencurian asset perusahaan oleh karyawan. Contoh mencangkup sebagai
berikut :
 Albert Milano, manajer Reader’s Digest yang bertanggung jawab untuk
pemrosesan tagihan, menggelapkan $1 juta selama perode lima tahun. Ia
memalsukan tanda tangan atasannya pada faktur untuk pelayanan yang tidak
pernah dilakukan, mengajukannya ke utang, memalsukan pengesahan pada
cek, dan mendepositokannya dalam rekening miliknya sendiri. Milano
menggunakan dana yang curi untuk membeli rumah mahal, lima mobil, san
sebuah kapal.
 Wakil presiden sebuah bank menyetujui pinjaman bermasalah sebesar $1
miliar sebagai pertukaran untuk $585.000 dalam kickback. Pinjaman tersebut
merugikan bank senilai $800 juta dan menyebabkan pailit.
 Manajer di surat kabar Florida bekerja untuk kompetitor setelah ia dipecat.
Pemberi kerja pertama menyadari bahwa reporternya dimonitor. Investigasi
mengungkapkan bahwa manajer tersebut masih memiliki rekening aktif dan
kata sandi serta secara regular mencari file komputernya untuk informasi dan
cerita eksklusif.
 Dalam survei baru – baru ini pada 3.500 orang dewasa, separuhnya
mengatakan bahwa mereka akan mengambil property perusahaan ketika
mereka keluar dan mungkin akan mencuri e-data dibandingkan asset. Lebih
dari 25% mengatakan mereka akan mengambil data pelanggan, termasuk
informasi kontak. Sebagian karyawan tidak percaya bahwa mengambil data
perusahaan sama dengan mencuri.
Faktor yang lebih berkontribusi dalam penyalahgunaan adalah tidak adanya
pengendalian internal dan/atau kegagalan menjalankan pengendalian internal yang sudah ada.
Penyalahgunaan umumnya memiliki elemen dan karakteristik yang penting. Para pelaku :
 Memperoleh kepercayaan atau keyakinan dari entitas yang ditipu,
 Menggunakan informasi yang penuh dengan tipu muslihat, licik, atau
menyesatkan untuk melakukan penipuan.
 Menyembunyikan penipuan dengan memalsukan catatan atau informasi lainnya,
 Jarang menghentikan penipuan secara sukarela
 Melihat begitu mudah untuk mendapatkan uang ekstra, kebutuhan atau ketamakan
akan mendorong orang untuk melanjutkannya.
 Mendapatkan uang yang didaptakan secara tidak benar
 Menjadi tamak dan mengambil sejumlah uang yang lebih besar pada jangka waktu
yang lebih sering akan membuat risiko terungkapnya penipuan meningkat.
 Tumbuhnya kecerobohan dan terlalu percaya diri selama berlalunya waktu.
2. Kecurangan pelaporan keuangan (fraudulent financial reporting)
National Comission on Fraudulent Financial Reporting (Treadway
Commision) mendefinisikan kecurangan pelaporan keuangan adalah sebagai perilaku
yang disengaja atau ceroboh, apakah dengan tindakan atau kelalaian yang
menghasilkan laporan keuangan menyesatkan secara material. Manajemen
memalsukan laporan keuangan untuk menipu investor dan kreditor, meningkatkan
harga salam perusahaan, memenuhi kebutuhan arus kas, atau menyembunyikan
kerugian dan permasalahan perusahaan. Treadway Commission mempelajari 450
tuntutan hukum terhadap auditor dan menemukan bahwa penipuan yang tidak
terdeteksi menjadi faktor dalam separuhnya.
Selama beberapa tahun, banyak penipuan laporan keuangan yang
dipublikasikan telah terjadi. Dalam setiap kasus, lapaoran keuangan yang
disalahsajikan membuat kerugian keuangan yang besar dan sejumlah kebangkrutan.
Skema “cook the books” yang sering terjadi melibakan kenaikan pendapatan fiktif,
menahan pembukaan buku (mengakui pendapatan sebelum diperoleh, menutupi buku
lebih awal (menunda biaya saat ini ke periode selanjutnya), memperbesar persediaan
atau aktiva tetap, dan mengungkapkan kerugian dan kewajiban.
ACFE menemukan bahwa penyalahgunaan asset adalah 17 kali lebih sering
dibandingkan kecurangan pelaporan keuangan, tetapi jumlah yang terlibat lebih kecil.
Sebagai akibatnya, auditor dan manajemen lebih memperhatikan kecurangan
pelaporan keuangan meskipun mereka mungkin akan menghadapi penyelewengan.

DAFTAR PUSTAKA
Hall, James. A. 2007. “Sistem Informasi Akuntansi”. Jakarta: Salemba Empat
Rahmawati, Diana. 2016. “Penipuan dan Pengamanan Komputer”. staffnew.uny.ac.id
Romney, Marshall B dan Paul John Steinbart.2015. “Sistem Informasi Akuntansi”.
Jakarta: Salemba Empat