LAPORAN TOKSIKOLOGI
PEMERIKSAAN LABORATORIUM UNTUK KERACUNAN
KARBON MONOKSIDA (CO)
Kelompok 6
1. Ni Luh Komang Wedayanti (P07134017046)
2. Ni Putu Yuli Widiantari (P07134017052)
3. I Made Rai Widiantari (P07134017053)
4. Ulfa Diana Sari (P07134017055)
5. Ni Putu Devi Dana Anggreani (P07134017063)
6. Si Ayu Indah Sukmawati (P07134017067)
7. I Gde Yoga Mahanandha (P07134017071)
8. I Gusti Ayu Made Melinia (P07134017077)
9. Ni Kadek Windayani (P07134017082)
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN (2B)
2019
PRAKTIKUM XIII
PEMERIKSAAN LABORATORIUM UNTUK KERACUNAN
KARBON MONOKSIDA (CO)
Hari / Tanggal : Salasa, 14 Mei 2019
I. TUJUAN
Mahasiswa mampu menganalisis adanya kandungan karbon monoksida dalam sampel dara
secara kualitatif
II. METODE
Uji kualitatif dan kuantitatif dengan metode reduksi natrium ditionat
III. PRINSIP
Uji kuantitatif Co-Hb dilakukan berdasarkan reaksi redukasi Hb-O dan Meth Hb dengan
penambahan natrium ditionat, dimana Co-Hb tidak tereduksi adanya warna merah muda
daalam sampel menunjukkan adanya Co-Hb.
IV. DASAR TEORI
Karbon monoksida (CO) merupakan silent killer karena sifat fisiknya yang tidak
berasa, tidak berwarna, dan tidak berbau, tetapi dalam konsentrasi yang tinggi dapat
menyebabkan kematian pada manusia yang terpapar dengan cepat. Semua jenis
pembakaran tidak sempurna dari proses alam yang mengandung bahan bakar karbon
menghasilkan CO. Kegiatan manusia yang paling banyak menghasilkan CO adalah
pembakaran mesin, peralatan berbahan bakar gas, minyak, kayu, atau batu bara, dan
pembuangan limbah padat. Penggunaan rokok atau kayu bakar untuk memasak merupakan
contoh akumulasi CO dalam ruangan tertutup (Wu dan Wang, 2015).
Ketika manusia bernafas gas yang ada di udara seperti oksigen, nitrogen, karbon
monoksida, dan gas lainnya akan ikut terhirup masuk ke paru-paru mengalir ke alveoli dan
masuk ke aliran darah. Gas CO masuk ke aliran darah dan meningkatkan kadar gas CO
dalam tubuh (Mukono, 2006). Gas CO yang masuk dalam tubuh melalui sistem pernapasan
terdifusi melalui membran alveolar bersama-sama dengan oksigen (O2). Setelah larut
dalam darah, CO berikatan dengan hemoglobin membentuk COHb. Ikatan antara CO dan
Hb terjadi dalam kecepatan yang sama antara ikatan O2 dan CO, tetapi ikatan untuk CO
245 kali lebih kuat daripada O2. Jadi antara CO dan O2 bersaing untuk berikatan dengan
hemoglobin, tetapi tidak seperti oksigen yang mudah melepaskan diri dari hemoglobin, CO
mengikat lebih lama (WHO, 2010).
Secara normal hemoglobin darah berfungsi dalam sistem transpor untuk membawa
oksigen dalam membentuk oksihemoglobin (O2Hb) dari paru-paru ke sel-sel tubuh dan
membawa gas CO2 dalam bentuk CO2Hb dari sel-sel tubuh ke paru-paru. Dengan adanya
COHb maka kemampuan darah untuk transpor oksigen ke jaringan tubuh berkurang.
Akibatnya suplai oksigen dalam jaringan berkurang dan terjadi hipoksia. Pada akhirnya
jaringan dan sel-sel tubuh mengalami kekurangan oksigen, keadaan ini disebut hipoksia.
Oleh karena itu faktor penting yang menentukan pengaruh gas CO terhadap tubuh manusia
adalah konsentrasi COHb yang terdapat dalam darah, di mana semakin tinggi konsentrasi
COHb dalam darah akan semakin besar pengaruhnya terhadap kesehatan (Fardiaz, 2014).
Keracunan gas CO sulit untuk dideteksi karena gejalanya yang bersifat umum dan
mirip dengan gejala flu. Tetapi paparan gas CO pada dosis tinggi dapat mempengaruhi
otak, menyebabkan mual, dan kematian (Mukono, 2011). Dengan pertimbangan adanya
paparan gas CO dari luar serta jumlah COHb endogen, American Conference of
Governmental Industrial Hygienist (ACGIH) (2008) menyatakan bahwa Biological
Exposure Indices atau kadar COHb dalam darah yang diperkenankan sebesar 3,5%. Baku
mutu gas CO di tempat kerja menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
no. 13/MEN/X/2011 tentang Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja adalah 25
ppm. Gas karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna, misalnya pada
asap kendaraan bermotor, kompor atau tungku kayu, asap kereta api, hingga asap rokok.
Setelah terhirup, karbon monoksida terikat erat dalam hemoglobin darah 200 kali lebih
kuat dibandingkan ikatan oksigen. Gas CO ikut mengalir bersama darah ke seluruh bagian
tubuh, sehingga menyebabkan kerusakan sel dan jaringan karena tubuh kekurangan
oksigen.
Orang yang merokok akan mengeluarkan asap rokok yang mengandung gas karbon
monoksida dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm yang kemudian menjadi encer sekitar
400-5000 ppm selama dihisap. Konsentrasi gas karbon monoksida yang tinggi di dalam
asap rokok menyebabkan kandungan karbon monoksida haemoglobin dalam darah orang
yang merokok meningkat. Keadaan seperti ini tentu akan membahayakan kesehatan orang
yang merokok. Orang yang merokok dalam waktu cukup lama atau perokok berat,
konsentrasi karbon monoksida haemoglobin dalam darahnya akan mencapai sekitar 6,9
persen. Sementara itu, pengaruh konsentrasi gas karbon monoksida di udara yang mencapai
100 ppm terhadap tanaman hampir tidak ada, terlebih pada tanaman tingkat tinggi.
Pasalnya, oksidasi dari senyawa karbon tidak hanya terjadi pada mobil ataupun
pembakaran, tetapi juga pada tubuh. Dalam kasus ini, produk dari reaksi sebagian besar
berupa CO2, ketika kita akan menghembuskan napas.PencegahanPenyerangan karbon
monoksida memang tak dapat diduga. Proses penyerangannya pun begitu cepat, terlebih
jika berada dalam sebuah ruangan tertutup. Keracunan gas karbon momoksida gejala
didahului dengan sakit kepala, mual, muntah, rasa lelah, berkeringat banyak, pyrexia,
pernafasan meningkat, confusion, gangguan penglihatan, kebinganan, hipotensi, takikardi,
kehilangan kesadaran dan sakit dada mendadak juga dapat muncul pada orang yang
menderita nyeri dada. Kematian kemungkinan disebabkan karena sukar bernafas dan
edema paru. Kematian akibat keracunan karbon monoksida disebabkan oleh kurangnya
oksigen pada tingkat seluler (seluler hypoxia) (Cooper dan Alley., 2011).
Sel darah tidak hanya mengikat oksigen melainkan juga gas lain. Kemampuan atau
daya ikat ini berbeda untuk satu gas dengan gas lain. Sel darah merah mempunyai ikatan
yang lebih kuat terhadap karbon monoksida (CO) dari pada oksigen (O2). Sehingga kalau
terdapat CO dan O2, sel darah merah akan cenderung berikatan dengan CO. Bila terhitup,
karbon monoksida akan berikatan dengan Haemoglobin (Hb) dalam darah membentuk
Karboksihaemoglobin sehingga oksigen tidak dapat terbawa. Ini disebabkan karbon
monoksida dapat mengikat 250 kali lebih cepat dari oksigen. Gas ini juga dapat
mengganggu aktifitas seluler lainnya yaitu dengan mengganggu fungsi organ yang
menggunakan sejumlah besar oksigen seperti otak dan jantung. Efek paling serius adalah
terjadi keracunan secara langsung terhadap sel-sel otot jantung, juga menyebabkan
gangguan pada sistem saraf.
V. ALAT DAN BAHAN
Alat :
Pipet volume 2ml
Pipet ukur 1 ml
Tabung reaksi
Vortex mixer
Tabung heparin
Bahan
Larutan ammonium hidroksida 0,01 mol/L
VI. PROSEDUR KERJA
1. Di pipet 2 ml larutan ammonium hidroksida 0,01 mol/L kedalam tabung reaksi
2. Di tambahkan 0,1 ml sampel darah
3. Vortex selama 5 menit
4. Di amati perubahan yang terjadi
VII. INTERPRESTASI HASIL
Munculnya warna merah muda dalam sampel darah normal menunjukkan adanya
Carboxyhaemoglobin (Co-Hb). Sianida dapat memberikan warna yang serupa, namun
keracunan sianida akut umumnya jauh lebih lebih jarang terjadi daripada keracunan karbon
monoksida.
Sensitivitas : HbCo 20%
Sampel yang menunjukkan hasil positif dilanjutkan dengan uji kuantitatif sesuai prosedur
penetapan kadar Co-Hb metode spektrofotometri poin G sampai dengan H
VIII. HASIL
No Gambar Keterangan Interprestasi
1 Sampel darah Negatif (-)
positif karbon karbon
monoksida,namun monoksida
tidak terjadi
perubahan
dikarenakan kadar
karbon monoksida
pada sampel
masih dalam batas
normal
2 Sampel darah Negatif (-)
negatif karbon karbon
monoksida,tidak monoksida
terjadi perubahan
dikarenakan
sampel tidak
mengandung
karbon monoksida
IX. PEMBAHASAN
Polusi udara dapat didefinisikan sebagai keberadaan zat-zat yang berada di udara
dalam konsentrasi yang cukup untuk menyebabkan gangguan pada manusia, hewan,
tumbuhan atau material. Zat ini bisa berupa gas, partikel cair atau padat. Ada lima jenis
polutan udara, partikulat dengan diameter kurang dari 10 μm (PM10), sulfur dioksida
(SO2), nitrogen dioksida (NO2), karbon monoksida (CO) dan timbal. Dalam Peraturan
Pemerintah No. 41 tahun 1999 dinyatakan bahwa polusi udara adalah masuknya atau
dimasukkannya zat, energi, dan / atau komponen lain ke dalam udara sekitar oleh aktivitas
manusia, sehingga kualitas udara sekitar turun ke tingkat tertentu yang menyebabkan
ambient. udara untuk tidak memenuhi fungsinya.(W.H. Cahyati, D.M. Sukendra, 2016)
Rokok menghasilkan gas karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2)
yang disebabkan oleh proses pembakaran. Isi dari kedua gas ini berbeda antara rokok yang
disaring dan rokok yang tidak disaring. Nilai faktor emisi yang dihasilkan oleh rokok non-
filter untuk parameter karbon monoksida (CO) 14-20 mg / rokok dan untuk CO2 90-116
mg / rokok. Faktor emisi itu sendiri adalah nilai representatif untuk menghubungkan
jumlah polutan yang dilepaskan ke atmosfer dengan melepaskan polutan itu sendiri. Dalam
studi lain, hasil uji gas yang ditemukan dalam asap rokok menunjukkan bahwa karbon
monoksida yang dihasilkan dari asap rokok adalah 14-23 mg atau 2-5%, nilai ini adalah
komposisi terbesar ketiga setelah nitrogen 280-120 mg dan karbon dioksida 45-65 mg dan
oksigen 50-70 mg. (W.H. Cahyati, D.M. Sukendra, 2016)
Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang
muncul sebagai hasil dari pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung
karbon seperti arang, kayu, rokok dan produk minyak bumi.(Deniz et al., 2016)
Karbon monoksida (CO) merupakan salah satu komponen pencemar udara yang
berasal dari gas buang kendaraan bermotor yang berdampak menurunkan kualitas dan
kenyamanan hidup. Karbon monoksida (CO) sering disebut dengan silent killer karena sifat
fisiknya yang tidak berasa, tidak berwarna, dan tidak berbau, tetapi dalam konsentrasi yang
tinggi dapat menyebabkan kematian pada manusia yang terpapar dengan cepat (Cooper
dan Alley., 2011).
Kegiatan manusia yang paling banyak menghasilkan CO adalah pembakaran
mesin, peralatan berbahan bakar gas, minyak, kayu, atau batu bara, dan pembuangan
limbah padat. Penggunaan rokok atau kayu bakar untuk memasak merupakan contoh
akumulasi CO dalam ruangan tertutup (Wu dan Wang, 2015)
Karbon Monoksida (CO) merupakan gas yang jika terhirup ke dalam paru-paru
akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh
tubuh. Hal ini terjadi karena gas CO bersifat racun, ikut bereaksi secara metabolis dengan
darah. Keadaan ini menyebabkan darah menjadi lebih mudah menangkap gas CO dan
menyebabkan fungsi vital darah sebagai pengangkut oksigen terganggu.(sinthiya et al,
2018)
Keracunan gas CO pada tubuh sangat sulit untuk dideteksi karena gejalanya yang
bersifat umum dan mirip dengan gejala flu. Tetapi paparan gas CO pada dosis tinggi dapat
mempengaruhi otak, menyebabkan mual, dan kematian (Mukono, 2011).
Penyebab Keracunan Gas Karbonmonoksida seperti contohnya adalah keracunan
terjadi karena sel-sel darah merah mengikat karbon monoksida lebih cepat dibandingkan
dengan oksigen. Sehingga jika ada banyak karbon monoksida di udara, tubuh akan
mengganti oksigen dengan karbon monoksida tersebut. Oksigen dihambat oleh tubuh
sehingga bisa merusak jaringan dan menyebabkan kematian, menggunakan kendaraan atau
berada dekat kendaraan. (Mukono, 2011).
Tanda atau gejala yang biasanya terjadi saat keracunan gas karbonmonoksida
adalah keracunan gas CO atau karbon monoksida sukar didiagnosa. Karbonmonoksida
bergabung cepat dengan hemoglobin untuk membentuk karboksihemoglobin, dan ini
membuat kulit korban tampak pucat disamping sianosis normal akan terjadi pada hipoksia.
Eritema dan bula dapat ditemukan dan dapat berakhir dengan kematian. Kemungkinan
terjadi kematian akibat sukar bernafas sangat tinggi. Kematian terhadap kasus keracunan
karbon monoksida disebabkan oleh kurangnya oksigen pada tingkat selular (cellular
hypoxia).
Pada praktikum kali ini, identifikasi Karbon Monoksida (CO) menggunakan
sampel perokok dan tidak perokok. CO diidentifikasin secara kualitatif dengan melakukan
sampling darah menggunakan antikoagulan heparin, kemudian ammonium hidroksida
dipipet 3 ml lalu ditambahkan dengan 0,1 ml sampel darah. tabung reaksi yang sudah diisi
dengan larutan divotex selama 5 detik kemudian diamati terjadinya perubahan. Munculnya
warna merah muda dalam sampel darah normal menunjukkan adanya
Carboxyhaemoglobin (Co-Hb). Sianida dapat memberikan warna yang serupa, namun
keracunan sianida akut umumnya jauh lebih jarang terjadi daripada CO.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, setelah sampel divortex tidak
ditemukan adanya perubahan yang terjadi. Dimana sampel yang awalnya berwarna merah
tetap menunjukkan warna merah yang sama setelah dilakukan vortex. Hal ini menunjukkan
bahwa sampel yang diuji negative mengalami keracunan karbon monoksida.dimana
mengindikasikan kadar CO-Hb pada kedua probandus baik perokok maupun bukan
perokok ≤ 1%
Dimana dengan pertimbangan adanya paparan gas CO dari luar serta jumlah COHb
endogen, American Conference of Governmental Industrial Hygienist (ACGIH) (2008)
menyatakan bahwa Biological Exposure Indices atau kadar COHb dalam darah yang
diperkenankan sebesar 3,5%. ( Intan, 2018.)
Berdasarkan data dari Encyclopedia of Occupattional Health & Safety, Kadar
normal karboksihemoglobin dalam darah adalah sampai 1% COHb pada bukan perokok
dan 2-10% COHb pada perokok. Pada kadar CO dalam darah (COHb) 7% sudah
memberikan pengaruh pusingpusing, 45% mual dan kemungkinan hilang kesadaran. Kadar
60% menyebabkan koma dan 95% menyebabkan kematian.( Muttia Hazya et al, 2018)
Ketika manusia bernafas gas yang ada di udara seperti oksigen, nitrogen, karbon
monoksida, dan gas lainnya akan ikut terhirup masuk ke paru-paru mengalir ke alveoli dan
masuk ke aliran darah. Gas CO masuk ke aliran darah dan meningkatkan kadar gas CO
dalam tubuh (Mukono, 2006). Gas CO yang masuk dalam tubuh melalui sistem pernapasan
terdifusi melalui membran alveolar bersama-sama dengan oksigen (O2). Setelah larut
dalam darah, CO berikatan dengan hemoglobin membentuk COHb. Ikatan antara CO dan
Hb terjadi dalam kecepatan yang sama antara ikatan O2 dan CO, tetapi ikatan untuk CO
245 kali lebih kuat daripada O2. Jadi antara CO dan O2 bersaing untuk berikatan dengan
hemoglobin, tetapi tidak seperti oksigen yang mudah melepaskan diri dari hemoglobin, CO
mengikat lebih lama. ( Intan, 2018.)
Secara normal hemoglobin darah berfungsi dalam sistem transpor untuk membawa
oksigen dalam membentuk oksihemoglobin (O2Hb) dari paru-paru ke sel-sel tubuh dan
membawa gas CO2 dalam bentuk CO2Hb dari sel-sel tubuh ke paruparu. Dengan adanya
COHb maka kemampuan darah untuk transpor oksigen ke jaringan tubuh berkurang.
Akibatnya suplai oksigen dalam jaringan berkurang dan terjadi hipoksia. Pada akhirnya
jaringan dan sel-sel tubuh mengalami kekurangan oksigen, keadaan ini disebut hipoksia.
Oleh karena itu faktor penting yang menentukan pengaruh gas CO terhadap tubuh manusia
adalah konsentrasi COHb yang terdapat dalam darah, di mana semakin tinggi konsentrasi
COHb dalam darah akan semakin besar pengaruhnya terhadap kesehatan( Intan, 2018.)
Banyak masyarkat Indonesia khususnya perokok tidak mengetahui kandungan dari
asap rokok yang di hirup itu ber bahaya, asap rokok terdiri dari berbagai bahan kimia yang
beracun, antara lain karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh asap rokok dan dapat
menyebabkan pembuluh darah konstriksi, sehingga tekanan darah naik, dinding pembuluh
darah dapat robek (Elsy Putri Parwati, 2012)
Keberadaan gas CO akan sangat berbahaya jika terhirup oleh manusia terutama
bagi perokok aktif karena gas itu akan menggantikan posisi oksigen yang berkaitan dengan
haemoglobin dalam darah. Gas CO akan mengalir ke dalam jantung, otak, serta organ vital.
Ikatan antara CO dan heamoglobin membentuk karboksihaemoglobin yang jauh lebih kuat
200 kali dibandingkan dengan ikatan antara oksigen dan haemoglobin. Akibatnya sangat
fatal. Pertama, oksigen akan kalah bersaing dengan CO saat berikatan dengan molekul
haemoglobin. Ini berarti kadar oksigen dalam darah akan berkurang. Padahal seperti
diketahui oksigen sangat diperlukan oleh sel-sel dan jaringan tubuh untuk melakukan
fungsi metabolisme. Kedua, gas CO akan menghambat komplek oksidasi sitokrom. Hal ini
menyebabkan respirasi intraseluler menjadi kurang efektif. Terakhir, CO dapat berikatan
secara langsung dengan sel otot jantung dan tulang. Efek paling serius adalah terjadi
keracunan secara langsung terhadap sel-sel tersebut, juga menyebabkan gangguan pada
sistem saraf.
Bagi perokok pasif dimana mereka yang tidak merokok tetapi terpaksa menghisap
asap rokok dari lingkungannya. Kandungan bahan kimia pada asap rokok sampingan lebih
tinggi dibandingkan dengan asap rokok utama karena tembakau terbakar pada temperatur
yang lebih rendah ketika sedang dihisap membuat pembakaran menjadi kurang lengkap
dan mengeluarkan lebih banyak bahan kimia. (Syamsuryana Basri. 2017)
Salah satu factor memengaruhi COHb dalam tubuh adalah merokok, Polusi udara
oleh CO juga terjadi selama merokok. Asap rokok mengandung CO dengan konsentrasi
lebih dari 20000 ppm. Selama dihisap, konsentrasi tersebut terencerkan menjadi 400-500
ppm. Seorang perokok akan mempunyai kadar COHb lebih tinggi dari orang normal sekitar
2 – 15 %. Konsentrasi CO yang paling tinggi di dalam asap rokok yang terisap dan
menyebabkan kadar COHb di dalam darah meningkat. Selain berbahaya terhadap orang
yang merokok, adanya asam rokok yang mengandung CO juga berbahaya bagi orang yang
berada sekitarnya karena asapnya dapat terhisap.(Hazsya, Nurjazuli, & D, 2018)
Dampak dari CO bervasiasi tergantung dari status kesehatan seseorang pada saat
terpengaruh. Hubungan yang telah diketahui tentang merokok dan peningkatan risiko
penyakit jantung koroner menunjukkan bahwa CO kemungkinan mempunyai peran dalam
memicu timbulnya penyakit tersebut (perokok berat tidak jarang mengandung kadar HbCO
sampai 15 %). Namun tidak cukup bukti yang menyatakan bahwa karbon monoksida
menyebabkan penyakit jantung atau paru-paru, tetapi jelas bahwa CO mampu untuk
mengganggu transpor oksigen ke seluruh tubuh yang dapat berakibat serius pada seseorang
yang telah menderita sakit jantung atau paru-paru. Studi epidemiologi tentang kesakitan
dan kematian akibat penyakit jantung dan kadar CO di udara yang dibagi berdasarkan
wilayah, sangat sulit untuk ditafsirkan. Namun dada terasa sakit pada saat melakukan
gerakan fisik, terlihat jelas akan timbul pada pasien yang terkena CO dengan kadar 60
mg/m3, yang menghasilkan kadar HbCO mendekati 5%.
Walaupun wanita hamil dan janin yang dikandungnya akan menghasilkan CO dari
dalam tubuh (endogenous) dengan kadar yang lebih tinggi, pengaruh tambahan dari luar
dapat mengurangi fungsi oksigenasi jaringan dan plasental, yang menyebabkan bayi
dengan berat badan rendah. Kondisi seperti ini menjelaskan mengapa wanita merokok
melahirkan bayi dengan berat badan lebih rendah dari normal.
X. KESIMPULAN
Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang
muncul sebagai hasil dari pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung
karbon seperti arang, kayu, rokok dan produk minyak bumi.(Deniz et al., 2016)
Gas Karbon monoksida merupakan bahan yang umum ditemui diindustri. gas ini
merupakan hasil pembakaran tidak sempurna dari kendaraan bermotor Yang merupakan
hasil residu pembakaran dari bensin. Pada praktikum pengamatan darah perokok yang
positif karbon monoksida dan negatif karbon monoksida di dapatkan hasil yang negatif
Dimana uji dilakukan secara kualitatif dimana uji ini hanya hanya dapat menunjukkan ada
atau tidaknya karbon monoksida pada sampel darah.
DAFTAR PUSTAKA
Deniz, T., Kandis, H., Eroglu, O., Gunes, H., Saygun, M., & Kara, I. H. (2016). Carbon Monoxide
Poisoning Cases Presenting With Non-Specific Symptoms. Toxicology and Industrial
Health, 33(1), 53–60. https://doi.org/10.1177/0748233716660641
Elsy Putri Parwati. 2012. Pengaruh Merokok Pada Perokok Aktif Dan Perokok Pasif Terhadap
Kadar Trigliserida
Hazsya Muttia. 2018. Hubungan Konsentrasi Karbon Monoksida (CO) Dan Faktor-Faktor Resiko
Dengan Konsentrasi COHb Dalam Darah Pada Masyarakat Beresiko Di Sepanjang
Jalan Setiabudi Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol. 6 No. 6
Intan Retno Dewanti. (2018). Identifikasi Paparan Co, Kebiasaan, Dan Kadar Cohb Dalam Darah
Serta Keluhan Kesehatan Di Basement Apartemen Waterplace, Surabaya. Jurnal Kesehatan
Lingkungan Vol. 10, No. 1 Janurari 2018: 59–69
Kesehatan, F., Universitas, M., & Ratulangi, S. (2018). Analisis Kadar Karbon Monoksida ( Co )
Udara Di Terminal Beriman Kota Tomohon Tahun 2018 Sinthia Brigyta Pangerapan *,
Oksfriani Jufri Sumampouw *, Woodford Baren Soleiman Joseph * PENDAHULUAN
Karbon Monoksida ( CO ) merupakan gas yang jika terhirup ke da, (41).
Muttia Hazsya, Nurjazuli, Hanan Lanang D. (2018). Hubungan Konsentrasi Karbon Monoksida
(CO) dan Faktor-Faktor Resiko Dengan Konsentrasi CO-Hb Dalam Darah Pada Masyarakat
Beresiko Di Sepanjang Jalan Setiabudi Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (E-
Journal), 6(6), 2356-3346). http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm
Retno Intan. 2018. Identifikasi Paparan CO, Kebiasaan, Dan Kadar COHb Dalam Darah Serta
Keluhan Kesehatan Di Basement Apartement Waterplace, Surabaya. Jurnal Kesehatan
Lingkungan Vol. 10 No. 1
Sinthia Brigyta Pangerapan, Oksfriani Jufri Sumampouw, Woodford Baren Soleiman
Joseph.(2018). Analisis Kadar Karbon Monoksida (Co) Udara Di Terminal Beriman Kota
Tomohon Tahun 2018. Vol. 64 / No. 45
Syamsuryana Basri. 2017. Gambaran Konsentrasi Karbon Monoksida Dalam Darah (COHb)
Pada Mekanik General Repair Servis Dan Suku Cadang Dealer Otomotif
Makassar. Di akses pada
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://journal.uin-
alauddin.ac.id/index.php/higiene/article/download/4657/4232&ved=2ahUKEwi53
a2-
wJfiAhVGnI8KHZahAdgQFjABegQIBxAB&usg=AOvVaw0UL04KWEM0tRH
XpOPozORj . Tanggal 13 Mei 2019.
W.H. Cahyati, D.M. Sukendra, Y. D. P. S. (2016). Unnes Journal of Public Health. Penurunan
Container Index (CI) Melalui Penerapan Ovitrap Di Sekolah Dasar Kota
Semarang, 5(4), 330–336.