Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis

1. CETRIFUGE

a.Pengertian

Centrifuge adalah merupakan alat untuk memutar sampel pada

kecepatan tinggi. memaksa partikel yang lebih berat terkumpul ke dasar

tabung centrifuge. Pemakaian centrifuge yang paling sering adalah untuk

memisahkan komponen sel darah dari cairannya sehingga cairannya bias

dipakai untuk pemeriksaan (Anonim, 2016).

Dalam bentuk yang sederhana Centrifuge terdiri atas sebuah rotor

dengan lubang-lubang untuk melatakkan wadah/tabung yang berisi cairan

dan sebuah motor atau alat lain yang dapat memutar rotor pada kecepatan

yang dikehendaki. Semua bagian lain yang terdapat pada sentrifus modern

saat ini hanyalah perlengkapan yang dimaksudkan untuk melakukan

berbagai fungsi yang berguna dan mempertahankan kondisi lingkungan

dimana rotor tersebut bekerja. Penggunaan centrifuge cukup luas, meliputi

koleksi dari pemisahan sel, organel dan molekul (Hendra 1989).

Centrifugasi merupakan salah satu metode untuk memisahkan zat padat

tak terlarut. Centrifugasi umumnya digunakan untuk memisahkan

partikelpartikel padat dengan ukuran kecil dan sulit untuk disaring.

Metodeini memanfaatkan perbedaan densitas antara zat padatdan fluida di

sekitarnya. Prinsipnya, saat suatu suspensi didiamkan, zat padat akan

bergerak kebawah, dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Centrifugasi bekerja


dengan mempercepat pergerakanini, dengan memanfaatkan medan gaya

centrifugal (Abdurrahman,Hafis & M.Naufal, 2017).

b.Fungsi centrifuge

Ada beberapa fungsi centrifugal dalam pemisahan

bioteknologi. Ini tercantum di bawah ini :

1. Pemisahan (padat/cair, padat/cair/cair dan padat/padat/cair)

Centrifugasi dapat digunakan untuk pemisahan padat – cair

menyediakan padatan berat dari cairan. Centrifuge juga dapat digunakan

untuk memisahkan fase berat, dan dua fasa cair ringan, dengan salah

satu fase ringan yang lebih ringan dari lainnya. Padatan dapat lebih

ringan dari cairan dan pemisahan adalah dengan flotasi dari fase padat

terdispersi.
2. Klasifikasi urutan berdasarkan ukuran dan densitas

Centrifuge digunakan untuk mengklasifikasikan padatan dengan

ukuran yang berbeda. Salah satu aplikasi adalah untuk

mengklasifikasikan kristal berbagai ukuran yang berbeda, dengan

kehalusan ukuran submikron dengan fase ringan dan hanya

mempertahankan ukuran yang lebih besar pada fase berat yang

dipisahkan. Salah satu dari padatan dipisahkan menjadi produk. Sebagai

contoh, kristal yang lebih besar dapat menjadi kristal produk sedangkan

kristal halus yang kembali ke kristalisator untuk tumbuh kristal yang lebih

besar. Aplikasi lain yang serupa adalah untuk mengklasifikasikan ukuran

puing – puing sel yang lebih kecil dalam fase cair dari berat produk

setelah homogenisasi sel.

3. Menghilangkan partikel kebesaran dan asing (Degritting)

Degritting mirip dengan klasifikasi di mana partikel yang tidak

diinginkan, lebih besar atau lebih padat, ditolak diendapan, dengan

produk (lebih kecil atau kurang padat) meluap di fase cair yang lebih

ringan. Situasi lain adalah dimana partikel yang tidak diinginkan lebih kecil

ditolak dalam fase cair ringan, dan padatan berat yang berguna

diselesaikan dengan fase berat.

4. Penebalan atau menghapus konsentrasi cair

Centrifuge sering digunakan untuk berkonsentrasi fase padat dengan

pengendepan dan pemadatan, menghilangkan fase cairan berlebih di


overflow. Ini mengurangi volume produk dalam pengolahan

berkonsentrasi padatan.

5. Pemisahan kotoran dengan mencuci atau pengenceran (repulping)

Dengan suspensi pekat yang mengandung kontaminan seperti garam

dan ion, itu diencerkan dan dicuci sehingga kontaminan dilarutkan dalam

cairan pencuci. Selanjutnya, suspensi tersebut dicentrifugasi untuk

menghilangkan cairan pencuci dengan kontaminan terlarut atau padatan

tersuspensi halus. Selanjutnya, produk dapat lebih terkonsentrasi dengan

centrifugasi (Linda Hardiyanti & Rukmana Syarif,2016).

c.Prinsip kerja

Dalam bentuk yang sangat sederhana sentrifuge terdiri atas sebuah

rotor dengan lubang – lubang untuk meletakkan cairan wadah / tabung

yang berisi cairan dan sebuah motor atau alat lain yang dapat memutar

rotor pada kecepatan yang dikehendaki. Semua bagian lain yang terdapat

pada sentrifus modern saat ini hanyalah perlengkapan yang dimaksudkan

untuk melakukan berbagai fungsi yang berguna dan mempertahankan

kondisi lingkungan saat rotor tersebut bekerja. Komponen utama pada

proses sentrifugasi ialah instrumen sentrifuge, rotor, dan


tabung (wadah sampel). Sedangkan bagian yang sifatnya asesoris

umumnya bergantung mengikuti aplikasi yang akan dilakukan pada proses

tersebut. Instrumen sentrifuge, adalah bagian yang menjadi alat penggerak

proses sentrifugasi karena didalamnya memiliki motor yang mampu

berputar dan memiliki pengaturan kecepatan perputaran. Centrifuge

laboratorium yang digunakan untuk pemisahan skala kecil. Volume cairan

ditangani oleh perangkat berada dalam kisaran 1 – 5.000 ml. Bahan yang

akan disentrifugasi didistribusikan dalam jumlah yang sesuai tabung

centrifuge yang pada gilirannya melekat secara simetris dalam blok

berputar disebut rotor (Gardjito,2010).

d.Macam-macam centrifuge

1. General Purpose Cetrifuge

Gambar 1.1 General Purpose Centrifuge

Pada sentrifus jenis ini bertipe teble top (biasa diletakkan di atas meja).

Memiliki kecepatan rotasi 0-3000 rpm dan dapat menampung sampel sebanyak

5-100 ml. Setrifus ini didesain untuk pemisahan sampel urin, serum atau cairan

lain dari bahan padat yang tidak larut.


2. Microcentrifuge

Gambar 1.2 Microcentrifuge

Sesuai dengan namanya, micro centrifuge atau microfuges hanya

menampung larutan sampel ukuran mini sekitar 0,5-2,0 ml dalam microtubes

dengan kecepatan tinggi.

3. Speciality Centrifuge

Gambar 1.3 Speciality Centrifuge

Tentu Anda sudah dapat memprediksi bahwa centrifuge jenis ini merupakan

centrifuge yang dipakai untuk keperluan khusus atau spesifik. Microhematocrit

dan blood bank centrifuge adalah dua contoh dari centrifuge yang dirancang

untuk pemakaian spesifik.


4. Ultra dan Refrigerated Centrifuge

Gambar 1.4 Ultra dan Refrigerated centrifuge

Jenis ini merupakan centrifuge yang lazim dipakai di laboratorium penelitian.

Centrifuge tipe ini dapat berputar dengan kecepatan tinggi sekitar 50.000-20.000

rpm. Mayoritas dilengkapi dengan sistem pendingin. Dengan adanya sistem

pendingin membuat sampel tetap terjaga suhunya selama sentrifus bekerja

sehingga sampel makin terjaga dan terhindar dari kerusakan (Elsa,2015).

e. Cara kerja Centrifuge

1. Menyiapkan larutan yang akan dimurnikan atau dipisahkan.


2. Menyambungkan centrifuge pada aliran arus listrik.
3. Menyalakan centrifuge.
4. Membuka penutup centrifuge dengan tekan tombol open.
5. Memasukkan larutan kedalam tabung centrifuge. Larutan yang
dimasukkan pada stiap tabung haruslah sama ukurannya.
6. Memasukkan tiap tabung ke dalam lubang centrifuge. Untuk meletakkan
gelas tabung berisi larutan yangakan dimurnikan, tabung harus
diletakakkan secara bersilang berlawanan. Namu hal ini tidak perlu
dilakukkan jika semua lubang pada centrifuge terisi penuh oleh tabung
larutan yang akan dimurnikan.
7. Menutup kembali penutup cebtrifuge.
8. Set atau atur waktu yang diperlukan dan tentukan pula kecepatan rotasi
putaran yang diinginkan.
9. Menekan tombol ON untuk memulai memurnikan.
10. Setelah pemurnian selesai, menekan tombol open dan ambil semua
larutan dalam tabung yang telah dimurnikan dengan cara mengambilnya
secara berseling berlawanan pula.
f.Bagian bagian centrifuge

Gambar 1.5 bagian bagian Centrifuge

1. Motor : merupakan bagian terpenting dari sebuah centrifuge . Fungsinya yaitu

sebagai penggerak rotor sehingga dapat berputar dengan kecepatan tertentu .

2. Rotor : yaitu bagian centrifuge yang berfungsi untuk meletakkan tabung sample

yang akan diputar .

3. Control / Panel control : yaitu sebuah komponen yang berisi tombol – tombol

seperti on/off, mengatur kecepatan , pengatur waktu ( timer ).

4. Lid / Penutup : bagian atas centrifuge di lengkapi dengan tutup yang

mekanismenya di atur dengan pengunci / latch otomatis . Tidak dapat terbuka

sebelum proses centrifugesasi selesai.

5. Body : body centrifuge biasanya berbeda – beda , terkadang kotak , silinder ,

atau ada juga yang berbentuk setengah bola .Fungsinya untuk melindunggi

bagian dalam ( motor / rotor / sample ). (sentral,2019)


g.Cara kalibrasi alat

 Kalibrasi sentrifus dilakukan dengan mengukur kecepatan per menit dan


waktu pada alatnya.
 Pada refrigator centrifuge selain kalibrasi rpm dan waktu juga perlu
kalibrasi suhu.
 Ada beberapa alat yang dapat digunakan untuk alat kalibrasi centrifuge :
1. Kalibrasi rpm
a. Dengan Tachometer mekanik
 Ujung kabel yang satu dikaitkan pada kumparan motor di dalam,
sedangkan ujung yang lain dihubungkan dengan alat Tachometer
 Set centrifuge pada rpm tertentu, kemudian jalankan
 Catat rpm yang ditunjukkan oleh meter pada tachometer
 Ulangi beberapa kali, hitung rata-rata
b. Dengan Tachometer elektrik
 Meletakkan bagian magnet di sekeliling coil, sehingga
menimbulkan aliran listrik bila alat lain dijalankan
 Set centrifuge pada rpm tertentu, kemudian jalankan
 Catat rpm yang ditunjukkan oleh meter pada tachometer
 Ulangi beberapa kali
2. Kalibrasi timer
 Set centrifuge pada waktu yang sering dipakai, misalnya 5 menit
 Jalankan alat dan bersamaan dengan itu jalankan stopwatch
 Pada waktu centrifuge berhenti matikan stopwatch, catat waktu yang
ditunjukkan stopwatch
 Ulangi beberapa kali, hitung rata-rata

h.Cara perawatan

1. Memeriksa kelengkapan dan aksesoris pada centrifuge


2. Lakukan pembersihan pada seluruh bagian alat
3. Membersihkan dari pecahan tabung, tumpahan darah, serum dan lakukan
desinfeksi setiap saat
4. Melakukan pelumasan pada bagian-bagian yang bergerak
5. Melakukan pengencangan pada baut centrifuge
6. Melakukan pengecekan fungsi dan kondisi bagian alat
7. Melakukan kalibrasi dan pengujian kecepatan pada pesawat centrifuge
8. Melakukan penggantian sikat arang apabila motor tidak berputar
9. Melakukan pemeriksaan kinerja dan aspek keselamatan kerja
10. Melakukan penyetelan/adju
2.SERUM

Serum adalah bagian cair darah yang tidak mengandung sel-sel darah dan

faktor-faktor pembekuan darah. Protein-protein koagulasi lainnya dan protein yang

tidak terkait dengan hemostasis, tetap berada dalam serum dengan kadar serupa

dalam plasma. Apabila proses koagulasi berlangsung secara abnormal, serum

mungkin mengandung sisa fibrinogen dan produk pemecahan fibrinogen atau

protrombin yang belum di konevensi (Sacher, 2012).

Serum diperoleh dari spesimen darah yang tidak ditambahkan antikoagulan

dengan cara memisahkan darah menjadi 2 bagian dengan menggunakan sentrifuge,

setelah darah didiamkan hingga membeku kurang lebih 15 menit (Rahayu, 2005).

Setelah disentrifugasi akan tampak gumpalan darah yang bentuknya tidak beraturan

dan bila penggumpalan berlangsung sempurna, gumpalan darah tersebut akan

terlepas atau dengan mudah dapat dilepaskan dari dinding tabung. Selain itu akan

tampak pula bagian cair dari darah. Bagian ini, karena sudah terpisah dari gumpalan

darah maka tidak lagi berwarna merah keruh akan tetapi berwarna kuning jernih.

Gumpalan darah tersebut terdiri atas seluruh unsur figuratif darah yang telah

mengalami proses penggumpalan atau koagulasi spontan, sehingga terpisah dari

unsur larutan yang berwarna kuning jernih (Sadikin, 2014)


3 .ASAM URAT

a. pengertian

Asam urat atau dikenal juga dengan istilah gout.sementara penyakit asam urat

tinggi disebut dengan istilah artritis gout.asam urat merupakan hasil metabolisme tubuh

atau tepatnya hasil akhir dari katabolisme suatu zat yang bernama purin.(Neti

suriana,2014)

Asam urat merupakan hasil akhir metabolisme dari purin. Sebagian besar purin

berasal dari makanan terutama daging jeroan, beberapa jenis sayuran, dan kacang-

kacangan. Dalam keadaan normal, asam urat dapat larut di dalam darah pada tingkat

tertentu. Apabila kadar asam urat dalam darah melebihi daya larutnya,

maka plasma darah akan menjadi sangat jenuh dan keadaan ini disebut dengan

hiperurisemia. Salah satu contoh penyakit yang ditandai dengan hiperurisemia adalah

penyakit gout atau arthritis gout.(Mutiara Ridhoputrie,2019)

b. Peningkatan Asam Urat

Peningkatan asam urat dalam darah disebabkan oleh tiga faktor sebagai berikut:

1) Produksi asam urat berlebih

Salah satu penyebab meningkatnya kadar asam urat dalam darah adalah

tingginya asupan makanan yang mengandung purin, akibatnya pembentukan

purin dalam tubuh akan meningkat. Semakin tinggi asupan purin, semakin tinggi

pula asam urat yang terbentuk, akibatnya asam urat dalam darah juga akan

semakin meningkat, pada diet tinggi purin sedangkan pada diet rendah purin,
ekskresi harian adalah 0,5 gr dan pada diet normal ekskresinya sekitar 1 gr per

hari (Utami, 2005; Smart, 2013).

2) Pembuangan asam urat berkurang

Asam urat dalam darah akan meningkat jika ekskresi atau

pembuangannya terganggu. Keadaan ini terjadi akibat kelainan ginjal

seseorang. Kelainan ginjal pada seseorang bisa dibedakan (Utami, 2005; Smart,

2013) sebagai berikut :

a) Penurunan proses filtrasi atau penyaringan di bagian glomerulus ginjal.

Peristiwa ini tidak secara langsung menyebabkan hiperurisemia, tetapi

berperan dalam peningkatan asam urat pada penderita gangguan ginjal.

b) Penurunan proses ekskresi di tubulus ginjal. Proses ini disebabkan

terjadinya akumulasi asam-asam organik yang berkompetisi dengan asam

urat untuk dikeluarkan melalui tubulus ginjal. Kelainan ini biasanya dialami

oleh seseorang yang sedang mengalami kelaparan, asidosis, keracunan

asam salisilat dan diabetes.

c) Peningkatan absorpsi kembali atau reabsorpsi di tubulus ginjal. Kelainan ini

biasanya dialami oleh penderita diabetes dan seseorang yang sedang

mendapatkan terapi obat diuretika.

3) Kombinasi produksi asam urat berlebih dan pembuangan asam urat berkurang

Mekanisme ini disebabkan berkurangnya enzim glucose-6-fosfatase dan

konsumsi alkohol yang berlebih. Berkurangnya enzim ini akan memproduksi

asam laktat dalam jumlah berlebih. Keberadaan asam laktat ini menjadi pesaing

bagi asam urat akhirnya pembuangan asam urat akan menurun. Konsumsi
alkohol berlebih akan memacu produksi asam urat yang berlebih juga. Hal ini

terjadi karena kandungan purin dalam konsumsi alkohol tinggi, sehinga

pemecahan adenosine triphosfatase (ATP) akan dipercepat. ATP akan

memproduksi asam laktat akibatnya pembuangan asam urat akan terganggu

(Utami, 2005; Smart, 2013).

Oleh karena itu, penderita penyakit asam urat di anjurkan untuk diet rendah purin

untuk mengurangi pembentukan asam urat. Kadar purin dalam makanan normal

selama sehari mencapai 600-1000 mg, sedangkan diet rendah purin di batasi

hanya mengandung 120-150 mg purin (Damayanti, 2013).

c. Metabolisme Purin dan Asam urat

1) Metabolisme purin

Purin adalah molekul yang terdapat dalam sel yang berbentuk nukleotida

dan berperan dalam proses metabolisme tubuh. Bersama asam amino,

nukleotida merupakan unit dasar dalam proses biokimiawi penurun sifat genetik

yang menjadi penyandi asam nukleat yang bersifat esensial dalam pemeliharaan

dan pemindahan informasi genetik (Krisnatuti, 1997; Damayanti, 2013).

Purin terdapat dalam asam nukleat berupa nukleoprotein. Asam nukleat di

usus dibebaskan dari nukleoprotein oleh enzim pencernaan dan dipecah lagi

menjadi mononukleotida. Mononukleotida dihidrolisis menjadi nukleosida yang

dapat diserap langsung oleh tubuh dan sebagian dipecah menjadi purin dan

pirimidin. Purin teroksidasi menjadi asam urat yang diabsorpsi melalui mukosa

usus dan di ekskresi melalui urine (Krisnatuti dkk, 1997 ; Asdie, 2012).
Ada dua sumber utama purin, yaitu sebagai berikut:

1. Diproduksi sendiri oleh tubuh

Purin diproduksi oleh tubuh secara alami karena purin merupakan salah satu

elemen penting pembentuk rantai DNA dan RNA dalam tubuh.Diketahui bahwa

hampir 85% dari kebutuhan purin diproduksi secara alami oleh tubuh. Sementara

kekurangan dari kebutuhan purin tersebut diperoleh dari luar tubuh, yaitu dari

makanana yang dikonsumsi.

2. Asupan makanan yang mengandung purin

Selain dproduksi sendiri, kebutuhan purin juga diperoleh dari makanan

yang dikonsumsi setiap harinya.Normalnya, kebutuhan tubuh aakan zat purin

dari luar (asupan makanan) hanya sedikit saja, lebih kurang 15%dari total

kebutuhan purin tubuh.jika asupan purin dari makanan terlalu tinggi (melebihi

15% dari kebutuhan tubuh ) maka akan terjadi penumpukan purin dalam tubuh.

hal itu berarti memicu naiknya kadar asam urat dalam tubuh. Karena asam urat

merupakan hasil akhir dari proses katabolisme purin.(neti suriana,2014)

2) Pembentukan purin di dalam tubuh

Manusia mampu mensintesis nukleotida purin di dalam tubuhnya, oleh

karena itu sintesis nukleotida purin tersebut tidak tergantung pada sumber-

sumber eksogen asam nukleat dan nukleotida dari bahan pangan. Sintesis

purin pada manusia dan mamalia bertujuan untuk memenuhi kebutuhan

terhadap pembentukan asam nukleat. Selain itu nukleotida purin ini juga

berperan dalam adenosine triphosfat (ATP), cyclik adenosin monophospat

(cAMP) dan cyclik guanosin monophospat (cGMP) sebagai koenzim pada


flavin adenine dinukleotida (FAD), nikotinamida adenine dinukleotida (NAD)

dan nikotinamida adenine dinukleotida phosfat (NADP). Zat gizi yang

digunakan dalam pembentukan purin di dalam tubuh yaitu glutamin, glisin,

format, aspartat dan CO2 melalui sintesa de novo (Krisnatuti, 1997; Ngil, 2013).

3) Pembentukkan Asam Urat

Asam urat merupakan hasil akhir dari metabolisme purin, baik purin

yang berasal dari bahan pangan maupun dari hasil pemecahan asam nukleat

tubuh, pada manusia melalui jalur umum akhir untuk konversi xantin dengan

menggunakan xantin oksidase. Pembentukan asam urat dimulai dengan

metabolisme Dioxyribo Nucleic Acid (DNA) menjadi Adenosine dan Guanosin.

Adenosine yang terbentuk kemudian dimetabolisme menjadi hipoksantin.

Hipoksantin kemudian dimetabolisme menjadi xantin, sedangkan guanosin

langsung dimetabolisme menjadi xantin, kemudian xantin hasil metabolisme

hipoksantin dan guanosin dimetabolisme dengan bantuan enzim xantin

oksidase menjadi asam urat. Dalam serum, urat terutama berada dalam

natrium urat, sedangkan dalam saluran urine, urat dalam bentuk asam urat.

Pada manusia normal, 18-20% dari asam urat dipecah oleh bakteri menjadi

CO2 dan amonia (NH3) di usus dan diekskresi melalui feses. Dua pertiga

bagian asam urat diekskresi oleh ginjal melalui urine dan sepertiga bagian

asam urat diekskresi oleh usus besar melalui feses (Krisnatuti, 1997; Sustrani,

2006;Smart, 2013).
Enzim penting yang berperan dalam sintesis asam urat adalah xantin

oksidase yang sangat aktif bekerja dalam hati, usus halus dan ginjal. oksidase

yang sangat aktif bekerja dalam hati, usus halus dan ginjal. Tanpa bantuan

enzim xantin oksidase, asam urat tidak dapat dibentuk (Krisnatuti, 1997).

d. Nilai Normal Asam Urat

Nilai normal kadar asam urat dalam darah yaitu pada kategori laki-laki 3,4-7

mg/dl, pada katagori perempuan 2,4-6 mg/dl, sedangkan pada kategori dalam

urine 250-750 mg/dl/24 jam (Damayanti, 2013; Smart, 2013)

e. Makanan Tinggi Purin

Makanan dengan kandungan purin tinggi yang dapat meningkatkan kadar

asam urat dalam darah (Aminah, 2012; Damayanti, 2013) yaitu :

1) Jeroan, seperti hati, usus, limpa, babat, paru, jantung dan otak.

2) Daging/kaldu, daging bebek, angsa, burung, udang, kerang, kepiting, dan cumi-

cumi.

3) Makanan yang di awetkan seperti sarden dan kornet.

4) Kacang-kacangan yang dikeringkan beserta olahannya, seperti kacang tanah,

kedelai, kacang hijau, kacang merah kering, taoge, tempe, tahu, oncom, tauco dan

susu kedelai.

5) Sayuran dan buah tertentu seperti bayam, kangkung, daun singkong, buncis,

asparagus, kembang kol, jambu mete, nanas, durian, alpukat, dan air kelapa.

6) Minuman beralkohol seperti bir, wiski, minuman anggur, tuak, tape, ragi, dan

minuman hasil fermentasi lainnya.


7) Makanan yang berlemak, karena lemak cenderung menghambat pengeluaran

asam urat.

f. Gejala, Tanda dan Gambaran klinis Asam Urat

1) Gejala

Gejala yang khas dirasakan adalah nyeri sendi. Pada malam hari, nyeri ini akan

lebih terasa, persendian menjadi bengkak, kulit menjadi merah atau keunguan

dan tampak mengkilat. Nyeri tersebut sering terasa di telapak kaki, pergelangan

kaki, lutut, siku, dan pergelangan tangan. Pada persendian tepi, biasanya

terbentuk kristal karena di bagian ini lebih dingin dari pada bagian tengah. Asam

urat cenderung mengkristal pada suhu dingin, kristal juga terbentuk di telinga dan

jaringan yang relatif dingin. Sebaliknya kristal jarang terbentuk pada tulang

belakang, persendian panggul atau bahu. Keadaan ini tejadi karena letaknya

berada di bagian tengah tubuh (Sustrani, 2006; Smart, 2013).

Gejala lain yang dirasakan adalah demam, dingin dan detak jantung yang cepat.

Gejala hiperurisemia yang berat dapat menyebabkan perubahan bentuk di bagian

tubuh tertentu seperti daun telinga, mangkuk sendi lutut, bagian punggung lengan

atau belakang pergelangan kaki. Perubahan tersebut terjadi akibat berkumpulnya

kristal asam urat yang terus menerus di persendian dan ujung otot (Sustrani,

2006; Smart, 2013).

2) Tanda-tanda seseorang menderita asam urat (Damayanti, 2013; Smart, 2013)

adalah sebagai berikut :

a) Adanya tofus.

b) Kemerahan di sekitaran sendi yang meradang.


c) Adanya kristal urat yang khas pada cairan sendi.

d) Terjadi serangan arthritis akut lebih dari satu kali.

e) Terjadi peningkatan asam urat dalam darah.

f) Terjadi peradangan secara maksimal dalam satu hari.

g) Pembengkakan dan rasa sakit di sendi pangkal ibu jari kaki.

h) Pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja).

i) Serangan arthritis akut berhenti secara menyeluruh.

3) Gambaran klinis asam urat

Penyakit asam urat terdiri atas beberapa stadium (Sustrani, 2006; Damayanti,

2013;) yaitu :

a) Stadium I : Tahap Asimtomatik

Pada stadium ini yaitu stadium permulaan biasanya di tandai dengan

peningkatan kadar asam urat tetapi penderita tidak merasakan sakit sama

sekali dan tidak di sertai gejala nyeri, arthritis, tofi/tofus, maupun batu ginjal

atau batu urat di saluran kemih.

b) Stadium II : Tahap Akut

Pada stadium ini biasanya terjadi serangan radang sendi di sertai dengan

rasa nyeri yang hebat, bengkak, merah dan terasa panas pada ibu jari kaki.

Biasanya serangan muncul pada tengah malam dan menjelang pagi hari.

c) Stadium III : Tahap Interkritikal

Pada stadium ini adalah tahapan serangan berulang yang tidak menentu.

Biasanya terjadi setelah satu sampai dua tahun kemudian.

d) Stadium IV : Tahap Kronik


Pada tahapan ini di tandai dengan terbentuknya tofi dan atau perubahan

bentuk pada sendi-sendi yang tidak dapat berubah ke bentuk seperti semula,

disebut gejala arthritis gout kronis.

g. Faktor Resiko yang Mempengaruhi Asam Urat

Faktor-faktor yang mempengaruhi asam urat (Sustrani dkk, 2006; Damayanti,

2013) yaitu :

1) Faktor keturunan dengan adanya riwayat gout dalam keluarga.

2) Mengkonsumsi makanan sehari-hari yang mengandung purin tinggi.

3) Meminum alkohol berlebih.

4) Hipertensi, penyakit jantung, gangguan fungsi ginjal, memiliki penyakit

diabetes miletus.

5) Menggunakan obat-obat dalam jangka waktu lama.

6) Kurang minum air putih.

7) Kelebihan berat badan (obesitas).

8) Faktor lain seperti stress,diet ketat, cedera sendi, darah tinggi, dan olahraga

berlebihan.

h. Faktor Eksternal yang dapat mempengaruhi pemeriksaan kadar asam urat :

1. Pra analitik

a. Identitas pasien harus lengkap dan jelas

b. Pengambilan sampel Pada pengambilansampel darah harus dicegah terjadinya

hemolisis. Hemolisis berat bisa mengakibatkan pecahnya eritrosit,sehingga zat

yang ada dalam bekuan masuk ke plasma.


c. Posisi pengambilan sampel Volume darah orang dewasa pada saat berdiri

berkurang 600 ml dibandingkan pada saat berbaring.Hal ini disebabkan oleh

volume plasma yang relativ berkurang pada saat berdiri karena terjadi

peningkatan protein plasma.Maka posisi pengambilan darah sebaiknya duduk

kecuali pada kasus penyakit berat.

d. Penanganan sampel Sampel darah yang telah diperoleh dibiarkan membeku dulu

guna menghindari terjadinya hemolisis dan menghilangkan benang-benang

fibrin.Setelah dibekukan langsung disentrifuge .

2. Tahap Analitik

a. Reagen Perlu diperhatikan pada penggunaan reagen adalah :

1) Fisik, kemasan, dan tanggal kadaluarsa

2) Suhu penyimpanan

b. Alat Perlu diperhatikan pada penggunaan peralatan :

1).Bagian-bagian fotometer dan alat ukur otomatis lainnya harus berfungsi dengan

baik ( kalibrasi alat )

2) Pipet juga harus dipantau secara teratur ketepatannya

3).Kebersihan,keutuhan dan ketepatan merupakan persyaratan yang harus dipenuhi

agar alat dapat dipakai

c.Metode Pemeriksaan Dalam memilih metode pemeriksaan hendaknya

dipertimbangkan :

1) Reagen yang mudah diperoleh

2) Alat yang tersedia dapat untuk memeriksa dengan metode


3) Suhu pemeriksan dipilih sesuai dengan tempat kerja

4) Metode pemeriksan yang mudah dan sederhana

3.Tahap Post Analitik

Pencatatan hasil dan pelaporan hasil dilakukan secara teliti dan benar

I.Penyakit Akibat Asam Urat

Tingginya kadar asam urat serum bisa menimbulkan pengendapan kristal

monosodium urat (MSU) di jaringan yang bisa menimbulkan berbagai penyakit

seperti radang sendi akut dan kronik, tofi dan terganggunya fungsi ginjal serta

terbentuknya batu urat Penyakit akibat asam urat (Dalimartha, 2003; Smart,

2013) adalah :

1) Arthritis gout :

a) Hiperurisemia asimptomatik.

b) Arthritis gout akut.

c) Interkritikal gout.

d) Arthritis gout kronik bertrofi.

e) Batu ginjal.

f) Gangguan fungsi ginjal :

(1) Nefropati urat.

(2) Nefropati asam urat.

j.Diagnosa Asam Urat

Pemeriksaan untuk diagnosis asam urat meliputi :

1) Pemeriksaan laboratorium :
a) Kadar asam urat darah (serum)

Pemeriksaan ini di lakukan apabila kadar asam urat dalam darah melebihi

nilai normal, pada laki-laki melebihi 7 mg/dl dan pada perempuan

melebihi 6 mg/dl, sedangkan pada urine melebihi 750-1000 mg/24 jam

dengan diet biasa. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan gula darah,

ureum, kreatinin, disertai pemeriksaan profil lemak darah untuk

menguatkan diagnosis.

b) Ekskresi asam urat urine per 24 jam.

c) Pemeriksaan cairan sendi dilakukan di bawah mikroskop untuk melihat

kristal monosodium urat (MSU) pada cairan sendi.

d) Pemeriksaan radiologi digunakan untuk melihat proses yang terjadi dalam

sendi dan tulang.

e) Selain itu ditemukan pula hasil pemeriksaan laboratorium berupa

pemeriksaan C-Reaktif Protein biasanya positif, laju endap darah (LED)

meningkat, leukosit normal atau meningkat, anemia normositik hipokrom,

trombosit meningkat, kadar albumin serum turun dan globulin naik

(Anonim, 2010; Mansjoer dkk; Smart, 2013).


4.FOTOMETER

A. PENGERTIAN FOTOMETER

Fotometer merupakan peralatan dasar dilaboratorium klinik untuk mengukur

intensitas atau kekuatan cahaya suatu larutan. Sebagian besar laboratorium klinik

menggunakan alat ini karena alat ini dapat menentukan kadar suatu bahan didalam

cairan tubuh seperti serum atau plasma. Prinsip dasar fotometri adalah pengukuran

penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu

dengan larutan atau zat warna yang dilewatinya (Ade Lina Cahyaningsih,2013).

B. PRINSIP DASAR FOTOMETER

Prinsip kerja fotometer yaitu sampel yang telah diinkubasi kemudian disedotkan

pada aspirator sehingga masuk ke dalam kuvet dan dibaca oleh sinar cahaya kemudian

sampel akan disedot kembali dengan pompa peristaltik menuju ke pembuangan.

Sampel yang digunakan harus dimasukkan dalam inkubator. Hal ini agar reagen-reagen

dalam sampel bekerja secara maksimal.


B. CARA KERJA FOTOMETER

Gambar 1.6 Alat Fotometer

Cara Pengoperasian

Persiapan Sample :

1.Fotometer disambungkan dengan sumber arus listrik 220 volt.

2.Tekan tombol power on.

3.Instrumen dibiarkan stabil dengan didiamkan sekitar 10 menit.

4.Selang peristaltic dan pompa dihubungkan.

5.Sebelum digunakan untuk analisis sample, alat dicuci dahulu dengan

aquabidea dengan cara selang aspirator dicelupkan ke dalam aquabides, lalu

tekan tombol washing pada monitor. Aquabides akan terhisap ke dalam alat

dan dilakukan proses pencucian. Pencucian dilakukan untuk mendorong

gelembung-gelembung udara atau kontaminan yang terdapat di dalam selang

untuk masuk ke pembuangan. Pencucian dilakukan 10 kali.


Pengukuran Sample :

1.Sample diinkubator selama 5-10 menit.

2.Ukurlah blanko, sample, dan standar.

3.Lakukan set up pada suhu kuvet.

4.Blanko akan dihisap dan dianalisis hingga keluar struk data.

Cara Mematikan :

1.Cuci dengan disinfektan 10% (deterjen dan aquades).

2.Dibilas dengan aquabides 10 kali.

3.Setelah itu, dicuci dengan udara agar alat yang dilalui cairan akan kering.

4.Selang peristaltic dikembalikan pada keadaan semula.

5.Alat dibersihkan dengan tisu dan tutup dengan plastic yang telah

disediakan agar terhindar dari debu dan kotoran.

6.Alat diputuskan dari power supply.

Cara Pemeliharaan :

1.Alat ditempatkan pada ruangan bersuhu dan kelembaban tetap (ber-AC).

2.Alat ditempatkan pada meja yang datar dan permanen.

3.Sebelum dan setelah menggunakan instrument tesebut, harus dicuci

minimal 10 kali.

4.Setelah digunakan, selang peristaltic harus dikembalikan pada keadaan

semula.

5.Instrumen harus dibersihkan dari debu.

6.Jika terjadi kerusakan, hubungi agen atu supplier.


D. Jenis-Jenis Fotometer

1. Absorption

2. Fotometer

3. Flame-fotometer

4. Fluorometer

5. Nefelometer

6. Atomik spektrometer

E. Spesifikasi Fotometer

Terdapat 2 jenis fotometer, fotometer portabel dan non portabel. Berikut ini jenis-

jenis fotometer portabel yang sederhana tetapi sangat akurat iluminansi L201/Lux

meter, dengan sistem khusus seperti fluks bercahaya dan pengukuran fotometer.

1. Pencahayaan L201 photometer

Fotometer iluminansi L201 menawarkan biaya yang lebih rendah ditambah

dengan akurasi yang tinggi iluminansi photopic detektor. Rentang operasi 0-19,999 Lux

membuat L201 cocok untuk kantor dalam ruangan dan aplikasi pencahayaan industri

rentang pengukuran lain yang tersedia termasuk kalibrasi footcandles.

2. L202 Pencahayaan dam Fotometer Luminance

L202 radiometer digital sangat dirancang untuk pengukuran akurat dari

iluminansi dan terang layar dengan biaya rendah dan telah digunakan secara luas oleh

para insinyur sistem medis di seluruh dunia. Dengan sederhana, fungsi langsung dan

dirancang dengan user dalam pikiran, operasi seperti otomatis sensing dan kalibrasi
detektor dipilih kepala berarti bahwa meter memiliki aplikasi ke setiap daerah

membutuhkan handal, terjangkau, pengukuran mudah.

3. L203 Pencahayaan dan Fotometer Luminance

L203 disediakan dengan aksesoris untuk kedua dan pencahayaan pengukuran

pencahayaan. Dengan rentang pengukuran besar ,001-199 990 fotometer ini cocok

untuk berbagai aplikasi termasuk dalam keadaan darurat. Fitur utama termasuk

otomatis atau manual mulai, LCD backlight display, beralih antara Lux dan footcandle

atau cd / dan footLambert, RS232 interface rata-rata, m² dan integrasi, minimum dan

nilai maksimum.

4.Luminous Flux Fotometer

Luminous Flux Fotometer terdiri dari segi seri L203 dan L300 fotometer dengan

mengintegrasi dan detektor fotopic. Aplikasi untuk pengukuran fluks bercahaya

termasuk dan miniatur lampu otomotif, LED dan sumber dipandu ringan seperti dan

endoskopi iluminator mikrosop.

5. Spot Mengukur Aksesori

Aplikasi yang memerlukan pengukuran pencahayaan pada area kecil, sumber

kecil atau sumber-sumber jauh membutuhkan penambahan titik pengukuran aksesori

dipasang untuk photopic detektor fotometer tersebut. SMU 203 memiliki pilihan 25mm-

50m dan 100mm ‘C’ mount lensa dan tabung ekstensi memberikan berbagai ukuran

spot dan bidang pandang.

6.L300 Fotometer
Sero L300 dirancang untuk aplikasi yang memerlukan pengukuran kontinudi

lokasi tetap. Fotometer ini telah diganti oleh fotometer L203.

7.L103 Fotometer

Fotometer ini diproduksi sebelum Januari 1999 dan sekarang telah diganti

dengan L202, L201 dan L203 seri fotometers. Fotometer ini memiliki berbagai penguat

dengan pembacaan skala penuh dari 1.999 Lux atau cd / m² sampai dengan 199 900

Lux atau cd / m².

8.L101 Fotometer

Fotometer L101 secara khusus diproduksi untuk mengukur iluminansi dan

pencahayaan L202 dan fotometer pencahayaan.

Fotometer non portabel terbagi menjadi 4 macam, diantaranya:

a. Spektrum Optik Reflectance Fotometri

Fotometri ini mengukur permukaan sebagai fungsi panjang gelombang.

Caranya,permukaan diterangi dengan cahaya putih, dan cahaya pantulan diukur

setelah melewati sebuah monokromator. Jenis pengukuran telah terutama aplikasi

praktis, misalnya dalam industri cat ciri warna permukaan obyektif.

b. UV dan Cahaya Tampak Transmisi Fotometri

Alat ini digunakan untuk pengukuran penyerapan cahaya panjang gelombang

tertentu (atau suatu jangkauan panjang gelombang) dari zat warna dalam larutan.

Berdasarkan hukum beer konsentrasi zat warna dalam larutan dapat dihitung. Karena

berbagai aplikasi telah ada dalam satu alat fotometer ini. Panjang gelombang yang

dipancarkan dalam larutan berkisar antara 240-750 nm.

c. Inframerah Transmisi Cahaya Fotometri


Fotometri dalam cahaya inframerah terutama digunakan untuk mempelajari

struktur zat, sebagai contoh dikelompokkan daya serap larutan pada panjang

gelombang tertentu. Pengukuran dalam larutan ini umumnya tidak mungkin, karena air

dapat menyerap sinar inframerah dengan sangat kuatdalam beberapa rentang panjang

gelombang. Oleh karen itu, fotometer inframerah baik digunakan dalam fase gas atau

dengan menekan zat tablet bersama-sama dengan garam yang transparan dalam

rentang inframerah.

d. Atom Penyerapan Fotometri

Fotometri penyerapan atom adalah fotometer yang mengukur cahaya api yang

sangat panas. Sampel untuk analisa disuntikan ke dalam api konstan dengan laju

diketahui. Logam dalam larutan yang hadir dalam bentuk atom dalam nyala. Cahaya

yang monokromatik dalam photometer jenis ini dihasilkan oleh sebuah lampu

pengosongan tempat pembuangan terjadi dalam gas dengan metal akan ditentukan.

Pembuangan kemudian memancarkan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai

dengan garis spektrum dari logam. Filter dapat digunakan untuk mengisolasi salah satu

garis spektrum utama dari logam yang akan dianalisis. Cahaya yang diserap oleh

logam dalam api, dan penyerapan digunakan untuk menetukan konsentrasi logam

dalam larutan asli


B.Kerangka Konsep

Variasi Kecepatan dan Waktu


Centrifuge

Faktor eksternal : Faktor Internal :

1. Pra analitik 1. Pola makan


2. Pos analitik Kadar Asam Urat 2. Kegemukan
3. Pasca analitik 3. Faktor usia

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

: Mempengaruhi