Anda di halaman 1dari 12

Pengertian

Neurotransmitter adalah bahan kimia endogen yang mengirimkan sinyal dari


neuron ke sel di target sinaps. Neurotransmitter yang dikemas ke dalam vesikel
sinaptik berkerumun di bawah membran di sisi presynaptic sinaps, dan dilepaskan ke
dalam celah sinaptik, di mana mereka mengikat pada reseptor dimembran pada sisi
postsynaptic dari sinaps. Pelepasan neurotransmitter biasanya mengikuti kedatangan
sebuah potensial aksi pada sinapsis, tetapi juga dapat mengikuti potensial listrik
dinilai. Rendahnya tingkat “dasar” rilis juga terjadi tanpa stimulasi listrik.
Neurotransmitter disintesis dari precursor berlimpah dan sederhana, seperti asam
amino, yang tersedia dari diet dan yang hanya membutuhkan sejumlah kecil langkah
biosintesis untuk mengkonversi. (Sulistiwati, 2005).

Neurotransmiter merupakan zat kimia yang disintesis dalam neuron dan


disimpan dalam gelembung sinaptik pada ujung akson. Zat kimia ini dilepaskan dari
akson terminal melalui eksositosis dan juga direabsorpsi untuk daur ulang.
Neurotransmiter merupakan cara komunikasi antar neuron. Zat-zat kimia ini
menyebabkan perubahan permeabilitas sel neuron, sehingga neuron menjadi lebih
kurang dapat menyalurkan impuls, tergantung dari neuron dan transmiter tersebut.
Contoh-contoh neurotransmiter adalah norepinefrin, acetilkolin, dopamin, serotonin,
asam gama aminobutirat (GABA), glisin, dan lain-lain. ( Fedorow dkk, 2005 ).

Macam – macam neurotransmitter

a. Asetilkolin

Asetilkolin merupakan substansi transmitter yang disintesis diujung presinap


dari koenzim asetil A dan kolin dengan menggunakan enzim kolin asetiltransferase.
Kemudian substansi ini dibawa ke dalam gelembung spesifiknya. Ketika kemudian
gelembung melepaskan asetilkolin ke dalam celah sinap, asetilkolin dengan cepat
memecah kembali asetat dan kolin dengan bantuan enzim kolinesterase, yang
berikatan dengan retikulum proteoglikan dan mengisi ruang celah sinap. Kemudian
gelembung mengalami daur ulang dan kolin juga secara aktif dibawa kembali ke
dalam ujung sinap untuk digunakan kembali bagi keperluan sintesis asetilkolin baru.
Bersifat inhibisi melalui susunan saraf parasimpatis. Berfungsi mengendalikan
kontraksi otot dan pembentukan ingatan

b. Norepinefrin, epinephrine, dan dopamine

Noepinephrine, epinephrine, dan dopamine dikelompokkan dalam


cathecolamines. Hidroksilasi tirosin merupakan tahap penentu (rate-limiting step)
dalam biosintesis cathecolamin. Disamping itu, enzim tirosin hidroksilase ini
dihambat oleh oleh katekol (umpan balik negatif oleh hasil akhirnya).

• Dopamin

Merupakan neurotransmiter yang mirip dengan adrenalin dimana


mempengaruhi proses otak yang mengontrol gerakan, respon emosional dan
kemampuan untuk merasakan kesenangan dan rasa sakit. Dopamin sangat penting
untuk mengontrol gerakan keseimbangan. Jika kekurangan dopamin akan
menyebabkan berkurangnya kontrol gerakan seperti kasus pada penyakit Parkinson.
Jika kekurangan atau masalah dengan aliran dopamine dapat menyebabkan orang
kehilangan kemampuan untuk berpikir rasionil, ditunjukkan dalam skizofrenia. dari
perut tegmental area yang banyak bagian limbic sistem akan menyebabkan seseorang
selalu curiga dan memungkinkan untuk mempunyai kepribadian paranoia. Jika
kekurangan Dopamin di bidang mesocortical dari daerah perut tegmental ke
neocortex terutama di daerah prefrontal dapat mengurangi salah satu dari memori
(.Fahn, 2008).

• Norephineprin

Disekresi oleh sebagian besar neuron yang badan sel/somanya terletak


pada batang otak dan hipothalamus. Secara khas neuron-neuron penyekresi
norephineprin yang terletak di lokus seruleus di dalam pons akan mengirimkan
serabut-serabut saraf yang luas di dalam otak dan akan membantu pengaturan seluruh
aktivitas dan perasaan, seperti peningkatan kewaspadaan. Pada sebagian daerah ini,
norephineprin mungkin mengaktivasi reseptor aksitasi, namun pada yang lebih sempit
malahan mengatur reseptor inhibisi. Norephineprin juga sebagian disekresikan oleh
sebagian besar neuron post ganglion sistem saraf simpatis dimana ephineprin
merangsang beberapa organ tetapi menghambat organ yang lain.

c. Glutamate

Glutamate merupakan neurotransmitter yang paling umum di sistem saraf


pusat, jumlahnya kira-kira separuh dari semua neurons di otak. Sangat penting dalam
hal memori. Kelebihan Glutamate akan membunuh neuron di otak. Terkadang
kerusakan otak atau stroke akan mengakibatkan produksi glutamat berlebih akan
mengakibatkan kelebihan dan diakhiri dengan banyak sel-sel otak mati daripada yang
asli dari trauma. AlS, lebih dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig’s, dari hasil
produksi berlebihan glutamate. Banyak percaya mungkin juga cukup bertanggung
jawab untuk berbagai penyakit pada sistem saraf, dan mencari cara untuk
meminimalisir efek.

d. Serotonin

Serotonin (5-hydroxytryptamine, atau 5-HT) adalah suatu neurotransmitte


rmonoamino yang disintesiskan dalam neuron-neuron serotonergis dalam sistem saraf
pusat (CNS) dan sel-sel enterochromaffin dalam saluran pencernaan. Pada system
saraf pusat serotonin memiliki peranan penting sebagai neurotransmitter yang
berperan pada proses marah, agresif, temperature tubuh, mood, tidur, human
sexuality, selera makan, dan metabolisme, serta rangsang muntah. Serotonin memiliki
aktivitas yang luas pada otak dan variasi genetic pada reseptor serotonin dan
transporter serotonin, yang juga memiliki kemampuan untuk reuptake yang jika
terganggu akan memiliki dampak pada kelainan neurologist. Obat-obatan yang
mempengaruhi jalur dari pembentukan serotonin biasanya digunakan sebagai terapi
pada banyak gangguan psikiatri, selain itu serotonin juga merupakan salah satu dari
pusat penelitian pengaruh genetic pada perubahan genetic psikiatri.

e. GABA

γ-Aminobutyric acid (GABA) adalah neurotransmiter inhibisi utama pada


sistem saraf pusat. GABA berperan penting dalam mengatur exitability neuron
melalui sistem saraf. Pada manusia, GABA juga bertanggung jawab langsung pada
pengaturan tonus otot. GABA dibentuk dari dekarboksilasi glutamat yang dikatalis
oleh glutamate decarboxylase (GAD).GAD umumnya terdapat dalam akhiran saraf.
Aktivitas GAD membutuhkan pyridoxal phosphate (PLP) sebagai kofaktor. PLP
dibentuk dari vitamin B6 (pyridoxine, pyridoxal, and pyridoxamine) dengan bantuan
pyridoxal kinase. Pyridoxal kinase sendiri membutuhkan zinc untuk aktivasi.
Kekurangan pyridoxal kinase atau zinc dapat menyebabkan kejang, seperti pada
pasien preeklamsi.Reseptor GABA dibagi dalam dua jenis: GABAA dan GABAB.
Reseptor GABAA membuka saluran florida dan diantagonis oleh pikrotoksin dan
bikukulin, yang keduanya dapat mnimbulkan konvulsi umum.

Reseptor GABAB yang secara selektif dapat diaktifkan oleh obat anti spastik
baklofen, tergabung dalam saluran kalium dalam membran pascasinaps. Pada
sebagian besar daerah otak IPSP terdiri atas komponen lambat dan cepat. Bukti-bukti
menunjukkan bahwa GABA adalah transmiter penghambat yang memperantarai
kedua componen tersebut. IPSP cepat dihambat oleh antagonis GABAA, sedangkan
IPSP lambat oleh antagonis GABAB. Penelitian imunohistokimia menunjukkan
bahwa sebagian besar dari saraf sirkuit local mensintesis GABA. Satu kelompok
khusus saraf dari sirkuit local terdapat di tanduk dorsal sumsum tulang belakang juga
menghasilkan GABA. Saraf-saraf ini membentuk sinaps aksoaksonik dengan
terminal saraf sensoris primer dan bekerja untuk inhibisi presinaps. Pada vertebrata,
GABA berperan dalam inhibisi sinaps pada otak melalui pengikatan terhadap reseptor
spesifik transmembran dalammembran plasma pada proses pre dan post sinaps.
Pengikatan ini menyebabkan terbukanya saluran ion sehingga ion klorida yang
bermuatan negatif masuk kedalam sel dan ion kalium yang bermuatan positif keluar
dari sel. Akibatnya terjadi perubahan potensial transmembran, yang biasanya
menyebabkan hiperpolarisasi. Reseptor GABAA merupakan reseptor inotropik yang
merupakan saluran ion itu sendiri, sedangkan Reseptor GABAB merupakan reseptor
metabotropik yang membuka saluran ion melalui perantara G protein (G protein-
coupled reseptor). Neuron-neuron yang menghasilkanyang menghasilkan GABA
disebut neuron GABAergic. Sel medium spiny merupakan salah satu contoh sel
GABAergic.

Mekanisme sintesis GABA

f. Aspartat

Asam aspartat (Asp) adalah α-asam amino dengan rumus kimia


HO2CCH(NH2)CH2CO2H. Asam aspartat (atau sering disebut aspartat saja, karena
terionisasi di dalam sel), merupakan satu dari 20 asam amino penyusun protein. Asam
aspartat bersama dengan asam glutamat bersifat asam dengan pKa dari 4.0. Bagi
mamalia aspartat tidaklah esensial. Fungsinya diketahui sebagai pembangkit
neurotransmisi di otak dan saraf otot. Diduga, aspartat berperan dalam daya tahan
terhadap kelelahan. Senyawa ini juga merupakan produk dari daur urea dan terlibat
dalam glukoneogenesis. Aspartat (basa konjugasi dari asam aspartat) merupakan
neurotransmiter yang bersifat eksitasi terhadap sistem saraf pusat. Aspartat
merangsang reseptor NMDA (N-metil-D-Aspartat), meskipun tidak sekuat
rangsangan glutamat terhadap reseptor tersebut. Sebagai neurotransmitter, aspartat
berperan dalam daya tahan terhadap kelelahan. Tetapi,bukti-bukti yang mendukung
gagasan ini kurang kuat.

g. Glisin (NH2CH2COOH)

Glisin (Gly, G) atau asam aminoetanoat adalah asam amino alami paling
sederhana. Glisin merupakan asam amino terkecil dari 20 asam amino yang umum
ditemukan dalam protein. Kodonnya adalah GGU, GGC, GGA dan GGG. Glisin
merupakan satu-satunya asam amino yang tidak memiliki isomer optik karena gugus
residu yang terikat pada atom karbon alpha adalah atom hidrogen sehingga terjadi
simetri. Jadi, tidak ada L-glisin atau D-glisin. Glisin merupakan asam amino yang
mudah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi karena strukturnya sederhana.
Sebagai contoh, glisin adalah satu-satunya asam amino internal pada heliks kolagen,
suatu protein struktural. Pada sejumlah protein penting tertentu, misalnya sitokrom c,
mioglobin, dan hemoglobin, glisin selalu berada pada posisi yang sama sepanjang
evolusi (terkonservasi). Penggantian glisin dengan asam amino lain akan merusak
struktur dan membuat protein tidak berfungsi dengan normal. Secara umum protein
tidak banyak pengandung glisina. Perkecualian ialah pada kolagen yang dua per tiga
dari keseluruhan asam aminonya adalah glisin. Glisin bekerja sebagai transmiter
inhibisi pada sistem saraf pusat, terutama pada medula spinalis, brainstem, dan retina.
Jika reseptor glisin teraktivasi, korida memasuki neuron melalui reseptor inotropik,
menyebabkan terjadinya potensial inhibisi post sinaps (Inhibitory postsynaptic
potential / IPSP). Strychnine merupakan antagonis reseptor glisin yang kuat,
sedangkan bicuculline merupakan antagonis reseptor glisin yang lemah. Glisin
merupakan reseptor agonis bagi glutamat reseptor NMDA.
h. Neuropeptida

Neuropeptida merupakan kelompok transmitter yang sangat berbeda dan


biasanya bekerja lambat dan dalam hal lain sedikit berbeda dengan yang terdapat
pada transmitter molekul kecil. Sekitar 40 jenis peptida diperkirakan memiliki fungsi
sebagai neurotransmitter. Daftar peptida ini semakin panjang dengan ditemukannya
putative neurotransmitter (diperkirakan memiliki fungsi sebagai neurotransmitter
berdasarkan bukti-bukti yang ada tetapi belum dapat dibuktikan secara langsung).
Neuropeptida sudah dipelajari sejak lama, namun bukan dalam fungsinya sebagai
neurotransmitter, namun fungsinya sebagai substansi hormonal. Peptida ini mula-
mula dilepaskan ke dalam aliran darah oleh kelenjar endokrin, kemudian hormon-
hormon peptida itu akan menuju ke jaringan-jaringan otak. Dahulu para ahli
meyangka bahwa peptida dihasikan dalam kelenjar hormon danmasuk ke
dalamjaringan otak, namun saat ini sudah dapat dibuktikan bahwa peptida yang
berfungsi sebagai neurotransmitter, dapat disintesa dan dilepaskan oleh neuron di
susunan saraf.

Katekolamin
Ada 2 jenis katekolamin yaitu norepinefrin dan dopamin, yang berperan sebagai
neuromodulator di CNS dan hormon di aliran darah. Katekolamin disintesis dari asam
amino tirosin.
Sintesis norepinefrin dan epinefrin melalui dopamin akan mengalami
hidroksilasi menjadi norepinefrin. Enzim kuncinya adalah DBH. Norepinefrin akan
mengalami metilasi menjadi epinefrin. Enzim kuncinya adalah PNMT.
Sintesis epinefrin

Katekolamin
Neurotransmiter ini akan diinaktifkan dengan diubah menjadi produk yang mudah
dieksresikan dalam urin. Ada 3 jenis reaksi dasar untuk inaktivasi dan eksresi
katekolamin :
1. Deaminasi oksidatif dengan bantuan enzim monoamin oksidase (MAO), terjadi di
sitosol terminal presinaps, sel glia, eritrosit dan jaringan lain.
2. Oksidasi dengan enzim aldehid dehidrogenase
3. Metilasi dengan bantuan enzim katekolamin O-metiltransferase (COMT)
membentuk produk asam 3 metoksi 4 hidroksimandelat yang dieksresikan melalui
urin.
Cara Kerja Neurotransmitter

1. Neurotransmitter disintesis di precursor dengan katalis enzim

2. Neurotransmitter disimpan di vesikel dalam neuron presinaps

3. Karena adanya potensial aksi, saluran Ca terbuka. Sehingga Ca masuk ke dalam


sinaps

4. Adanya potensial aksi menyebabkan vesikel berikatan dengan presinaps dan


melepaskan neurotransmitter

5. Neurotransmitter yang dilepaskan akan berikatan dengan autoreseptor dan

menghambat pelepasan neurotransmitter lainnya

6. Neurotransmitter yang dilepaskan berikatan dengan reseptor pada post sinaps.

7. Neurotransmitter yang dilepaskan di de-aktivasi, baik oleh up take maupun


degradasi enzimatik.

Neurotransmiter merupakan senyawa kimia pembawa pesan yang meneruskan


informasi elektrik dari sebuah neuron ke neuron lain atau sel efektor. Sifat
neurotransmiter adalah sebagai berikut:
• Disintesis di neuron presinaps

• Disimpan di vesikel dalam neuron presinaps

• Dilepaskan dari neuron di bawah kondisi fisiologis

• Segera dipindahkan dari sinaps melalui uptake atau degradasi

• Berikatan dengan reseptor menghasilkan respon biologis.

INTERAKSI NEUROTRANSMITERDENGAN RESEPTOR


Norepineprin dan asetilkolin berinteraksi dengan reseptor ( protein
makromolekul )di membran lipid sel. Interaksi reseptor neurotransmitter ini akan
menyebabkan aktivasi atau inhibisi enzim-enzim efektor seperti adenilatsiklase atau
dapat merubah aliran ion-ion sodium dan potassium di membran sel melalui protein
ion chanel. Perubahan-perubahan ini akan merubah stimulus eksternal menjadi signal
intraseluler.
RESEPTOR-RESEPTOR NOREPINEFRIN
Efek farmakologi katekolamin merupakan konsep awal dari reseptorreseptor
alfa dan beta adrenergik.Penelitian dengan memakai obat-obatan yang meniru kerja
norepinefrin pada organ efektor simpatis (disebut sebagai simpatomimetik ) telah
memperlihatkan bahwa terdapat dua jenis reseptor adrenergik, reseptor-reseptor ini
dibagi menjadi alfa 1 dan alfa 2. Selanjutnya reseptor beta dibagi menjadi beta 1 dan
beta 2. Norepinefrin dan epinefrin, keduanya disekresikan kedalam darah oleh
medula adrenal, mempunyai pengaruh perangsangan yang berbeda pada reseptor alfa
dan beta. Norepinefrin terutama merangsang reseptor alfa namun kurang merangsang
reseptor beta. Sebaliknya, epinefrin merangsang kedua reseptor ini sama kuatnya.
Oleh karena itu, pengaruh epinefrin dan norepinefrin pada berbagai organ efektor
ditentukan oleh jenis reseptor yang terdapatdalam organ tersebut. Bila seluruh
reseptor adalah reseptor beta, maka epinefrin akan menjadi organ perangsang yang
lebih efektif. Reseptor dopamin juga dibagi menjadi dopamin 1 dan dopamin 2.
Presinap alfa dan dopamin 2 merupakan negative feedback karena bila diaktivasi akan
menyebabkan pelepasan neurotransmitter. Reseptor-reseptor alfa 2 juga terdapat di
platelet yang berfungsi sebagai mediator pada agregasi platelet yang dengan cara
mempengaruhi konsentrasi enzim platelet adenilatsiklase. Pada sistem saraf pusat,
stimulasi postsinap alfa 2 dengan menggunakan obat seperti klonidin atau
dexmetomidine akan meningkatkan konduksi dan hiperpolarisasi membrane sehingga
kebutuhan zat anestesi akan menurun. Sistem signal transmembran terdiri dari 3
bagian, yaitu : (a) sisi pengenalan, (b) sisi efektor atau katalitik, dan (c) tranducing
atau coupling protein.
Interaksi neurotransmiter-reseptor akan menyebabkan perubahan
permeabilitas ion pada membrane yang mengubah potensial listrik membran menjadi
potensial aksi, dan bila sel prasinaps merupakan sel otot pada kontraksi otot.

Neurotransmiter Tipe reseptor Agonis Antagonis


Reseptor nikotinik Nikotinik dan
Astilkolin Kurare dan atropin
dan muskarinik muskarinik
Fenilefrin dan Fenoksibenzinamin
Norepinefrin adan breseptor
isoprotenol dan propranolol
Glutamat (Glu) AMPA dan NMPA AMPA dan NMPA CNQX dan AP5
Muskimol dan Bikukulin dan
GABA GABAAdan GABAB
baklofen faklofen
ATP P2Xdan tipe A ATP dan adenosin Suramin dan kafein
Akhir dari sinyal kimia yaitu terdapat enzim-enzim yang dapat memecah
neurotransmiter pada jalinan fibrosa sel pasca sinaps (lamina basalis). Asetilkolin
sebagai neurotransmiter akan dipecah oleh enzim asetilkolinesterase menjadi asetat
dan kolin. Enzim ini dapat dihambat oleh suatu senyawa organofosfat.

Mekanisme pembersihan neurotransmitter

Setelah neurotransmiter dan neuropeptida berikatan dengan reseptor, harus


segera dibersihkan. Beberapa neurotransmiter dan neuropeptida dapat berdifusi
sederhana keluar dari celah sinaps untuk digunakan lagi maupun didegradasi.
Asetilkolin akan dipecah, oleh enzim asetilkolin esterase menjadi asetat dan kolin.
Kolin akan dibawa ke presinaps untuk membentuk asetilkolin baru.

Daftar Pustaka

Cahyono,I. 2009. Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf Otonom. Jurnal


Anestesiologi Indonesia. Volume I, Nomor 1.

Fedorow H, Tribl F, Halliday G, Gerlach M, Riederer P, Double KL. 2005.


"Neuromelanin dalam neuron dopamin manusia: perbandingan dengan melanin
perifer dan relevansi dengan penyakit Parkinson". Jurnal Kemajuan dalam
Neurobiologi . 75 (2): 109–24.

Fahn S 2008. "Sejarah dopamin dan levodopa dalam pengobatan penyakit


Parkinson". Gangguan Gerakan . Jurnal Ilmu Kimia. 23 Suppl 3: S497-508.

Sulistiwati, dkk. 2005. Otak Manusia, Neurotransmitter dan Stress. Jakarta : Wahyu
Media.