Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Mahasiswa adalah generasi yang dicetak untuk tujuan pengembangan profesinya ia tekuni di
dunia kampus. Merekanlah yang kelak memejukan keprofesian indonesia sesuain dengan bidang
mereka masing-masing. Maka dari itu mahasiswa mulai aktif dalam berorganisasi baik di dunia kampus
atau di luar kampus. Mahasiswa memiliki potensi yang besar dibandingkan kelompok masyarakat yang
lain, karena pemikiran kritis mereka dan sebagai motor penggerak kemajaun ketika masyarakat
melakukan proses pembangunan. Dimata masyarakat, mahasiswa adalah agen perubahan sosial karena
mereka merupakan selaku insan akademis dipandang memiliki kekuatan intelektual.

Peranan generasi muda selalu mewarnai dalam setiap usaha –usaha untuk memerdekakan bangsa
indonesia. Seperti yang kita lihat pada zaman penjajahan. Karena pada zaman penjajahan para pemuda
rela mengorbankan seluruh jiwa dan raga demi mempertahankan bangsa indonesia dari tangan
penjajah. Dengan berdirinya organisasi-organisasi pemuda seperti Boedi utomo. Trikora dharma, Jong
java dsb, merupakan salah satu bukti kepedulian para pemuda demi kemajuan bangsa. Pada dasarnya
organisasi pemuda bersifat lokal kemudian berdiri PPPI yang merupakal awal lahirnya sumpah pemuda
dengan adanya sumpah pemuda maka seluruh pemuda yang ada di indonesia menjadi bersatu dan sulit
untuk di serang oleh musuh. Dan dengan kegigihan para pemuda maka pada tanggal 17 agustus 1945.

Tidak bisa dipungkiri tampilnya mahasiswa sebagai generasi pengabdi adalah peranan mahasiswa
yang paling diharapkan segera muncul namun, kondisi setelah perang kemerdekaan menunjukan
progress kearah sebaliknya, mahasiswa era modern cenderung apatis dengan kondisi masyarakat
walupun memang ada sebagain kecil mahasiwa yang begitu peduli dengan kondisi masyrakat, hal ini
amatlah ironis ketika kita bandingkan dengan konteks mahasiswa pada zaman kemerdekaan yang tidak
hanya menyuarakan pembelaan terhadap kepentingan masyarakat tetapi mereka sekaligus menjadi
barisan depan yang melakukan perubahan baik berupa pemikiran maupun pratik nyata, dan terbukti
Indonesia mampu terbebas dari belenggu penjajahan, maka tiada yang lebih bijak ketika mahasiswa
dengan sekian kondisinya terus memegang cita-cita sebagai suatu cluster intelektual yang senantiasa
bertangungjawab dengan kondisi sosial-kemasyarakatan.
BAB II ISI

II.1. Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Negara Bidang Politik


Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena disini mahasiswa berfungsi sebagai
presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim. Oleh karena itu pemerintah yang zalim
merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran yang satu ini. Pada masa ordebaru
di mana daya kritis rakyat itu di pasung, siapa yang berbeda pemikiran dengan pemerintah langsung di
cap sebagai kejahatan terhadap negara. Pemerintahan Orba tidak segan-segan membumi hanguskan
setiap orang-orang yang kritis dan berseberangan dengan kebijakan pemerintah yang melarang keras
mahasiswa beraktifitas politik. Dan kebijakan ini terbukti ampuh memasung gerakan – gerakan
mahasiswa yang membuat mahasiswa sibuk dengan kegiatan rutinitas kampus sehinngga membuat
mahasiswa terpenjara oleh system yang ada.

Pada tahun 1940-an gerakan mahasiswa mengalami pergeseran peran, peran penggagas tidak lagi
menonjol. Gerakannya lebih terfokus pada sebagai pendukung dan penerap dari ideologi yang sudah
ada. Dekade 1950-an dunia mahasiswa kembali disegani, sekalipun kemandirian dan peran sebagai
penggagas semakin menipis. Hal ini di latarbelakangi oleh dominannya peran politik profesional didalam
kehidupan politik.

Perjalanan Indonesia era 1910-an sampai 1950-an, menempatkan kekuatan sipil yang berasal dari
kaum intelektual (mahasiswa) sebagai sumber kepemimpinan bangsa yang dominan. Akan tetapi sejak
tahun 1960-an kekuatan militer muncul sebagai suatu sumber kepemimpinan bangsa yang dominan.
Fungsi parpol bersama ormas pengikutnya sebagai sumber kepemimpinan merosot bersama penurunan
peran politiknya. Namun yang perlu dicatat dalam sejarah gerakan mahasiswa, pada era 1960-an peran
ideologi mahasiswa meningkat tajam. Gerakan idiologi masa ini, melahirkan angkatan 1966. Dekade
1960-an dengan angkatan 1966-nya telah membentuk identitas sosial mahasiswa sebagai sebuah
kekuatan sosial politik. Persepsi dan konsepsi tentang peran sosial ini, terbentuk dan menguat sejalan
dengan tegaknya hegemoni pemerintahan orde baru.

Di satu sisi lahirlah Orde Baru seiring dengan kehendak gerakan mahasiswa, sehingga gerakannya
mendapat dukungan kekuatan-kekuatan establishment (ABRI). Disisi lain arus perubahan menuju
terbentuknya keuatan orde baru sebenarnya berangkat dari keinginan militer dan teknorat untuk lebih
memerankan diri dalam konstalasi kehidupan bangsa dan negara setelah melihat kebobrokan dan
kegagalan kekuatan sipil pada pemerintahan demokrasi terpimpin. Keinginan militer ini diwujudkan
dalam Doktrin Dwi Fungsi ABRI diaman ABRI disamping sebagai kekuatan HANKAM juga memiliki peran
sosial politik.

Lakon yang dimainkan mahasiswa angkatan 66 berada dalam panggung sejarah yang romantis, di
dalamnya terjadi aliansi segitiga yang harmonis antara militer, teknokrat, dan mahasiswa. Ketiganya
merupakan bagian lapisan elit intelegensia yang bakal mengobarkan gagasan modernisasi. Dengan kata
lain disamping militer teknokrat, mahasiswa juga dipercaya sebagai agen modernisasi atau
pembangunan.

Dekade 1970-an aliansi ini pecah akibat berubahnya orientasi dan strategi pemerintahan orde
baru. Cita-cita awal gerakan orde baru sudah tidak sesuai dengan idealisme dan ideologi mahasiswa.
Akibatnya, hampir sepanjang era 1970-an terjadi protes, kritik, petisi, selebaran dan lobi yang diarahkan
kepada pemerintahan orde baru. Gerakan ini bermuara pada persoalan demokrasi, peran militer, dan
pembangunan ekonomi. Akibatnya gerakan mahasiswa semakin berhadapan dengan kekuatan represif,
yang mengutamakan stabilitas nasional dalam upaya menjaga kelangsungan pembangunan nasional.
Pada gilirannya gerakan mahasiswa mengalami kemerosotan yang sangat tajam, yang belum pernah
terjadi dalam gerakan mahasiswa di Indonesia. depolitisasi dan deparpolisasi, melalui penerapan NKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus) dan BKK (Badan Koordinasi Kampus) menjadi senjata pamungkas
hegemoni Orba terhadap kehidupan mahasiswa. Lalu kepada mahasiswa yang melanggar NKK/BKK
diberikan sanksi akademik yang berat, mulai dari skorsing sementara atau terbatasnya sampai kepada
pemecatan bahkan dipenjarakan.

Dekade 1980-an adalah masa-masa mandul peran mahasiswa dalam kancah sosial-politik karena
perannya dipersempit dalam peran profesional saja. Dalam masa-masa ini terjadi proses-proses
penggugatan dan penyadaran terhadap peran sosial-politik mahasiswa. Upaya ini tampak berbuah
ketika pada era 1990-an angin perubahan di dalam diri mahasiswa mulai berhembus, yang berujung
pada munculnya generasi reformasi pada tahun 1990-an akhir ini.

II.2. Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Negara Bidang Ekonomi


Krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi, bahkan krisis sosial dan politik
yang melanda Indonesia lebih dari empat tahun berjalan ini di samping membawa derita ternyata juga
memberi berkah terselubung (blessing in disguisse). Senyatanya krisis ini memang membuat banyak
orang menderita. Lebih dari 100 juta orang jatuh ke jurang kemiskinan, 40-an orang nganggur, jutaan
anak putus sekolah, jutaan lagi mengalami malnutrisi. Lalu, akibat kerusuhan di berbagai tempat,
ratusan ribu orang terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Tapi di tengah begitu banyak orang
yang merasa kesusahan akibat krisis yang belum jelas kapan akan berakhirnya ini, tidak sedikit orang
yang justru diuntungkan. Para eksportir misalnya, jelas merasa gembira dengan melemahnya mata uang
rupiah. Keuntungan yang dipetik dari bisnis ekspor menjadi berlipat ganda bila diuangkan dalam rupiah.

II.3. Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Negara Bidang Sosial


Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas
sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal
secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa
melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat penderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum
tertindas dan di biarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan
memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya. Betapa peran
sosial mahasiswa jauh dari pragmatisme ,dan rakyat dapat merasakan bahwa mahasiswa adalah bagian
yang tak dapat terpisahkan dari rakyat, walaupun upaya yang sistimatis untuk memisahkan mahasiswa
dari rakyat telah dan dengan gencar dilakukan oleh pihak – pihak yang tidak ingin rakyat ini cerdas dan
sadar akan problematika ummat yang terjadi.
II.4. Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Negara Bidang Pembangunan
Daerah
Peran yang bisa dimainkan mahasiswa di daerah tentu tak terkungkung pada daerahnya masing-
masing, namun bisa berperan di daerah lain. Juga tidak selalu yang bersifat konseptual, namun juga
yang bersifat praktikal dengan terjun langsung di masyarakat. Yang jelas semuanya berdasarkan atas
kerangka berpikir ilmiah. Mahasiswa dapat memulai aksinya berpijak dari masalah-masalah yang ada
pada suatu daerah, maupun potensi besar yang belum terkembangkan atau teroptimalkan yang dapat
menjadi senjata bagi daerah tersebut. Baik dalam bidang pangan, pendidikan, kesehatan, iptek,
pertanian, sosial, budaya, pemerintahan dan lain sebagainya.

Mahasiswa tidak harus terjun sendiri ke masyarakat secara swadaya, karena hal itu akan sangat
berat. Alangkah sangat baiknya mahasiswa dapat merangkul berbagai pihak yang dapat diajak kerja
sama dalam membuat proyek-proyek yang lebih besar untuk memberikan pencerdasan pada
masyarakat dan memberdayakan mereka. Pemerintah daerah, pihak kampus (universitas) dan pihak
swasta adalah pihak-pihak yang sangat bertanggung jawab dalam kemajuan masyarakat. Pemerintah
daerah tentu saja pelaku utama yang bertanggung jawab penuh terhadap kemajuan masyarakat di
daerahnya. Universitas memiliki kewajiban dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat
sebagaimana tertuang dalam salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pihak swasta memiliki
kewajiban untuk melaksanakan program-program CSR (Corporate Social Responsibility). Peran ketiga
elemen besar itu harus dapat dioptimalkan, dan disinergikan. Dan hal ini dapat diinisiasi oleh
mahasiswa.

II.5. Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Negara Bidang Pendidikan


Pendidikan merupakan aspek paling penting pada sebuah peradaban bangsa. Dengan memiliki
pendidikan yang berkualitas dan berkarakter, sebuah bangsa dapat mengoptimalkan pembangunannya.
Kelaparan, pengangguran, kemiskinan, tidakan kriminal, KKN, dan masalah – masalah sosial lainnya
dapat teratasi. Terbentuknya sebuah bangsa yang bermartabat berawal dari pendidikan yang
bermartabat pula.

Beberapa faktor penghambat manjunya pendidikan tersebut, ada sebuah penyebab yang
melatarbelakanginya. Ialah belum adanya realisasi dari Visi Pendidikan Indonesia jangka panjang.
Sebuah visi yang jelas dapat mengarahkan seluruh entitas yang ada di dalamnya. Sistem pendidikan,
realisasi 20% dana APBN untuk pendidikan, penyikapan dari seluruh stakeholder di bidang pendidikan,
dan perbaikan infrastruktur mengacu pada visi yang sama. Dari visi yang terintegrasi tersebut,
diharapkan seluruh elemen bisa bergerak sinergis menuju pendidikan Indonesia yang berkarakter dan
bermartabat.

Mahasiswa sebagai generasi intelektual hanya bisa dihargai eksistensinya dengan kualitas
intelektualnya pula, bukan dengan hal lainnya. Jika mahasiswa sudah tidak lagi bisa mengandalkan
kecemerlangan intelektualnya, maka kemampuan lain apa yang bisa dipertaruhkan mahasiswa bagi
negara ini. Oleh karena itu mahasiswa memiliki kontribusi yang besar terhadap peningkatan mutu
pendidikan bangsa. Kontribusi itu bisa berupa:
• Pengembangan Potensi Diri
Mahasiswa mengembangkan potensi dirinya sebagai bentuk kesadaran akan hakikat
pendidikan yang mendasar.

• Melakukan Kontrol Kebijakan Pemerintah


Sesuai dengan peran dan fungsinya, mahasiswa wajib melakukan kontrol kebijakan
pemerintah, khususnya kebijakan menegnai penentuan arah dan karakteristik pendidikan bangsa.

• Memenuhi Kebutuhan akan Perbaikan Sistem Pendidikan Nasional


Mahasiswa seharusnya mampu menjawab dan memberi solusi atas kebutuhan – kebutuhan
akan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Hal yang paling sederhana adalah dengan berprestasi di
bidang kita masing – masing. Dengan seperti itu, akan lahir banyak ahli di banyak bidang. Ahli – ahli
tersebut sekaligus sebagai pemberi solusi terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia.

Dengan menerapkan usaha – usaha tersebut, diharapkan mahasiswa benar – benar berperan
dalam perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Indonesia tidak butuh wacana untuk berubah.
Indonesia butuh peubah, entitas yang bisa mengubah keterpurukan, menjadi kemakmuran. Mahasiswa
harus mampu menjadi entitas peubah itu, demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
BAB III MASALAH

Analisis Gerakan Mahasiswa Mei 1998 dan Dampaknya Bagi Indonesia

III.1. Latar Belakang Terjadinya Gerakan Mahasiswa Pada Mei 1998


Pada tahun 1997 krisis ekonomi semakin melanda Indonesia, yang semakin mendorong keinginan
masyarakat untuk melakukan suatu perubahan. Namun, sejak adanya gerakan tersebut, arena politik
mahasiwa dipersempit sehingga ide-ide mereka yang kritis tidak dapat disalurkan, sehingga pada saat itu
mahasiswa hanya memiliki kewajiban belajar dan belajar tanpa perlu mengurusi keadaan politik yang
semakin bergejolag. Jika ada yang berani menentang, atau menyampaikan kritik mereka terhadap
pemerintahan maka orang tersebut akan berhadapan dengan angkatan bersenjata, ditangkap atau di
penjara.

Pada masa pemerintahan Soeharto, praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme merajalela di
panggung politik yang hanya diisi oleh keluarga pejabat politik itu sendiri, sehingga KKN dapat dilakukan
secara bebas dan berkelanjutan. Memang pada awal pemerintahannya, Soeharto mampu membawa
Indonesia mengalami surplus beras. Pembangunan ekonomi juga meningkat namun yang menjadi
masalah adalah tidakmeratanya pembangunan tersebut. Dalam kata lain, pejabat yang kaya akan
semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. KKN yang dilakukan oleh pemerintah berdampak
langsung pada masyarakat yang tidak berdaya, tidandai dengan harga pangan yang naik namun tidak
disertai dengan kemampuan daya beli masyarakat. Nilai-nilai jawa yang ditanamkan oleh Soeharto juga
menciptakan patron-patron yang pada akhirnya panggung politik Indonesia hanya menjadi arena suap-
menyuap untuk mendapatkan jabatan, bukan berdasarkan pilihan rakyat.

Pemusatan kekuasaan yang dilakukan oleh Soeharto, membuat dirinya seolah menjadi satu-
satunya sosok yang patut dituruti dan dihargai. Siapa yang berani menentang akan berhadapan dengan
ABRI. ABRI yang seharusnya netral dan melindungi warga negara Indonesia dengan seluruh jiwa dan
raga pada saat itu mempunyai fungsi ganda, yaitu turut menduduki bangku pemerintahan. Dengan
kewenangan yang di miliki, banyak diantaranya yang melakukan berbagai macam pelanggaran HAM
yang tidak dapat diusut hingga sekarang.

Taman Mini Indonesia Indah, merupakan salah satu peninggalan Soeharto yang pada waktu itu
mengundag aksi protes dari mahasiswa. Diduga pembangunan tersebut semata-mata hanya untuk
memperkuat posisinya sebagai presiden RI, bagaimana tidak kalau yang memiliki proyek tersebut adalah
Ibu Tien, tidak lain istri Soeharto dan diketuai oleh Ali sadikin, gubernur Jakarta kala itu. Saat
pembanguanan TMII Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi. Beberapa waktu sebelum pencetusan
proyek tersebut bahkan Soeharto mengumumkan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus dapat
mengerti dan prihatin dengan keadaan sekarang. Namun untuk merespon aksi protes yang dilakukan
mahasiswa, Soeharto berpidato, dan satu katanya yang masih terngiang yaitu beliau tidak akan segan
menghabisi siapa saja yang berani bertindak inkonstitusional. Kemudian, setelah pidato tersebut
disampaikan beberapa ketua organisasi mahasiswa diculik. Demi eksistensi partai Golkar yang
merupakan partainya Soeharto, PNS menjadi tiang penyanggah utama bagi partai tersebut. Sehingga
birokrasi yang seharusnya menjadi pelayan publik justru menjadi alat politik.
Seperti sejarah yang kita dengar, atau bahkan kita masih dapat menyaksikan demonstrasi pada
kala itu, dimana mahasiswa menggebu-gebu untuk mencapai reformasi. Tidak ada kata takut mati demi
membela masyarakat saat itu. Selain telah bosan dengan permainan politik yang didalangi Soeharto,
Mahasiswa juga berdemo karena merasakan dampak langsung dari krisis ekonomi pada saat itu. Seperti
terlambat mendapat kiriman dari orang tua dan ada yang kiriman uangnya dikurangi karena orang tua
mereka juga mengalami kesulitan ekonomi. Hal tersebut menyebabkan banyak mahasiswa yang hidup
pas-pasan atau bahkan ada yang berhenti kuliah kerena tidak ada biaya. Dengan alasan-alasan demikian
maka mahasiwa sebagai kelompok intelek yang merasa berkewajiban untuk membela bangsa dan
negara melakukan suatu peregerakan untuk membawa perubahan.

Dengan melihat tipe gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa yaitu untuk menuntut adanya
demokrasi, maka dapat digolongkan sebagai political violence, sebagaimana political violence hanya
boleh terjadi di negara-negara yang memiliki rezim yang otoriter yang tidak memiliki jalan lain ketika
ingin mencapai suatu tujuan.

Pada saat itu semua kebebasan masyarakat diblokade. Mahasiwa yang seharusnya menjadi
kelompok-kelompok yang kritis di halangi pola pikirnya. Soeharto menggunakan kekuatan militer bagi
siapa saja yang berani menentangnya. Jarang ada mahasiswa yang berani angkat bicara pada rapat-
rapat yang diadakan antara mahasiswa dengan pemerintah. Karena takut ditangkap atau dipenjara,
bahkan disingkirkan bila dianggap kritis. Maka dengan demikian terjadilah political violence dalam
praktik-praktik kehidupan politik pada masa orde baru.

III.2. Tatangan Mahasiswa Selama Melakukan Gerakan Sosial


Pada era 70-an mahasiwa juga pernah melakukan suatu gerakan sosial besar namun gagal karena
dapat dikalahkan oleh pemerintah. Sejak saat itu, mahasiswa semakin dilarang untuk terlibat dalam
kegiatan politik apalagi melakukan aksi-aksi demo. Dewan mahasiswa tidak lagi ada sebagai penyalur
aspirasi mahasiswa. Lalu dibentukknya NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) dan diadakannya SKS
(Sistem Kredit Semester) dengan tujuan agar menyita seluruh waktu mahasiswa. Namun sepertinya
peraturan tersebut tidak menghalangi niat mahasiswa dalam membebaskan bangsa ini dari belenggu
otoritanianisme. Keberanian yang mereka miliki muncul dari rasa kecewa yang meluas di dalam
masyarakat. Mereka menyalurkan kekecewaan itu dengan melakukan berbagai aksi dan gerakan.

Banyak aktivis mahasiswa yang diculik karena terlalu kritis mengkritik pemerintah. Sehingga
banyak mahasiswa yang takut berargumen meski berlawanan dengan hati nurani mereka. Penangkapan
secara tiba-tiba juga kerap dilakukan. Namun konsekuesi tersebut ditantang oleh para mahasiwa yang
berani dan jenuh dengan keadaan politik yang penuh dengan kecurangan pada masa itu. Kejadian ini
relevan dengan tahap ke empat dalam konsep social movement, yaitu gerakan social akan berusaha
dihalangi dalam pemerintahan yang otoriter oleh pemerintah itu sendiri. Sayangnya, pada gerakan
mahasiswa kali ini, mereka berhasil membuka pintu gerbang demokrasi dan sosok otoriter dapat diakhiri
masa jabatannya.

Pada masa itu tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa sangat besar dan terlalu berbahaya untuk
dihadapi sendiri. Oleh kaena itu mereka bersatu padu untuk mendobrak kekusaan Soeharto. Saat itu
juga marak dengan adanya isu PETRUS (penembak misterius). Banyak orang yang tiba-tiba sudah
ditemukan tergeletak tanpa nyawa di jalan. Saat itu tingkat keamanan sangat rendah.
III.3. Dampak Dari Gerakan yang Dilakukan Mahasiswa Pada Mei 1998
Kejadian 12 Mei 1998, tidak akan pernah dapat kita lupakan karena telah memakan banyak
korban. Seperti tragedi Trisakti yang telah menewaskan 4 mahasiwa dan Tragedi Semanggi menewaskan
1 orang mahasiswa dan 11 orang lainnya di seluruh Jakarta, serta menyebabkan 217 korban luka-luka.
Dan banyak tragedi-tragedi lainnya yang telah menghilangkan nyawa baik itu mahasiswa maupun
masyarakat setempat. Gerakan yang keras dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat ini juga
menyebabkan kerusuhan besar-besaran, yang kita kenal dengan kerusuhan Mei 1998. Ditandai dengan
penjarahan beberapa Mall, pembakaran swalayan, penganiayaan dan pemerkosaan terhadap etnis
tionghoa, juga penghancuran toko-toko milik etnis tionghoa. Saat itu kondisi Indonesia benar-benar
kacau secara social-politik-dan ekonomi. Kerusuhan besar terjadi terutama di Jakarta dan beberapa
kota besar lainnya. Banyak pelanggaran HAM berat yang dilakukan baik oleh aparat maupun masyarakat
sipil itu sendiri yang tidak kunjung di usut hingga saat ini.

Keberhasilan ini berarti memenuhi teori Deprivation seperti yang telah dijelaskan pada kerangka
teoritis. Kekurangan yang mereka rasakan, baik kekurangan dalam bidang ekonomi maupun kekurangan
dalam ruang gerak politik dapat direbut dengan gerakan social yang bermula dari kekecewaan
masyarakat terhadap pemerintahan. Dampaknya nyata kita rasakan sekarang. Masyarakat dengan bebas
dapat mengkritisi pemerintah dan mahasiswa boleh aktif dalam kegiatan politik dikampus. Namun
karena kebebasan untuk mengkritik pemerintah telah dibuka, maka para pejabat negara tidak malu lagi
untuk melakukan aksi KKN, begitu juga mahasiswa yang seharusnya sekarang menjadi lebih aktif dan
kritis lagi terhadap pemerintahan karena tidak ada lagi pemimpin otoriter.

III.4. Gerakan Mahasiswa Mei 1998 Membawa Perubahan di Indonesia


Gerakan mahasiwa pada Mei 1998 mungkin belum berhasil menjadikan masyarakat Indonesia
sebagai civil society seutuhnya. Namun meski demikian, gerakan mahasiwa pada saat itu telah berhasil
membuka keran demokrasi di negara yang telah lama terkungkung ini.

Namun, terlepas dari budaya peninggalan Soeharto dalam perpolitikan Indonesia. Kita dapat
melihat keberhasilan gerakan mahasiswa dengan sebuah tolak ukur. Yang menjadi tolak ukur
keberhasilan mahasiswa sebagai agen perubahan yaitu bagaimana respon pemerintah terhadap
tuntutan yang mereka ajukan. Respon yang dimaksud dapat diamati dalam beberapa bagian, yaitu
respon akses, kesetiaan pihak sasaran mendengarkan tuntutan-tuntutan yang diperjuangkan gerakan,
response agenda, kesetiaan pihak sasaran mendengarkan tuntutan gerakan menjadi agenda politiknya,
respon kebijakan, kesetiaan pihak sasaran mengadopsi tuntutan gerakan menjadi kebijakan barunya,
respon output, yakni ketidak puasan anggota gerakan protes, dan dukungan masyrakat terhadap
gerakan tersebut.

Jika parameter keberhasilan gerakan mahasiwa ini menggunakan tolak ukur tersebut, maka dapat
dikatakan gerakan tersebut berhasil. Masyarakat mendukung penuh aksi yang dilakukan mahasiswa
pada masa itu, dan tujuan mereka satu, yaitu menumbangkan rezim Soeharto dan muncullah euphoria
di negara ini. MPR/DPR pun merespon tuntutan-tuntutan yang diberikan oleh mahasiswa. Dan ini
menandakan Indonesia telah memasuki babak baru dalam perpolitikan, dimana ruang publik terbuka
seluas-luasnya tanpa lagi takut terhadap militer, babak ini kita sebut dengan era reformasi.
SOLUSI
Mahasiswa seharusnya lebih demokratis terhadap keadaan negara Indonesia sekarang,karena
zaman Soeharto dulu mahasiswa perjuangannya sangat luar biasa. Demi mebela negara mereka rela
mati demi menyalurkan aspirasi mereka, tapi sekarang mahasiswa berpikir apatis, tanpa aksi.

Mahasiswa harus memiliki pikiran yang kritis, tetapi tidak anarkis dan melihat permasalahan tidak
dari satu pihak, melainkan kedua belah pihak sehingga jelas apa penyebab dari suatu masalah.
BAB IV

KESIMPULAN
Peranan generasi muda selalu mewarnai dalam setiap usaha –usaha untuk memerdekakan bangsa
indonesia. Seperti yang kita lihat pada zaman penjajahan. Karena pada zaman penjajahan para pemuda
rela mengorbankan seluruh jiwa dan raga demi mempertahankan bangsa indonesia dari tangan
penjajah. Dengan berdirinya organisasi-organisasi pemuda seperti Boedi utomo. Trikora dharma, Jong
java dsb, merupakan salah satu bukti kepedulian para pemuda demi kemajuan bangsa.

Tidak bisa dipungkiri tampilnya mahasiswa sebagai generasi pengabdi adalah peranan mahasiswa
yang paling diharapkan segera muncul. Namun, kondisi setelah perang kemerdekaan menunjukan
progress kearah sebaliknya, mahasiswa era modern cenderung apatis dengan kondisi masyarakat
walupun memang ada sebagain kecil mahasiwa yang begitu peduli dengan kondisi masyrakat, hal ini
amatlah ironis ketika kita bandingkan dengan konteks mahasiswa pada zaman kemerdekaan yang tidak
hanya menyuarakan pembelaan terhadap kepentingan masyarakat tetapi mereka sekaligus menjadi
barisan depan yang melakukan perubahan baik berupa pemikiran maupun pratik nyata, dan terbukti
Indonesia mampu terbebas dari belenggu penjajahan, maka tiada yang lebih bijak ketika mahasiswa
dengan sekian kondisinya terus memegang cita-cita sebagai suatu cluster intelektual yang senantiasa
bertangungjawab dengan kondisi sosial-kemasyarakatan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012. “Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Negara”.


http://okkyriyanlafinzha.wordpress.com. Diakses: 14 Mei 2014

Anonim.2013. “Mahasiswa dalam Pembangunan Bangsa”. http://www.inhilklik.com. Diakses: 14 Mei


2014

Dewa, H. 2010. “Peran dan Fungsi Mahasiswa terhadap Usaha Perbaikan Pendidikan Indonesia”.
http://haridewa.wordpress.com. Diakses: 21 Mei 2014

Fatika, H.2012. “Analisis Gerakan mahasiswa”. http://harefatika.blogspot.com. Diakses: 14 Mei 2014

Salim, M. 2010. “Peran Mahasiswa”. http://peran-mahasiswa.blogspot.com. Diakses: 21 Mei 2014

Septiawan, Aditya. 2012. “Peran Mahasiswa Dalam Pembnagunan Daerah”.


http://adityadevotion.blogspot.com. Diakses: 21 Mei 2014