Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH DIVERSITY DALAM MASYARAKAT

Dosen Pengampu : Firmina Theresia Kora,S.Kep,.M.PH

Kelompok I
1. Angel F.M Titirloloby (181100375)
2. Ayu Indah Septiana (181100376)
3. Markus Laian (181100388)
4. Marliana Nur Wakhidah (181100390)
5. Nursehati (181100394)
6. Nurlailatul Hasanah (181100395)

S1-Keperawatan

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YOGYAKARTA


Jl. Nitikan Baru No.69, Sorosutan,Umbulharjo, kota Yogyakarta, DIY
55162
Tahun Ajaran 2019/2020

1
KATA PENGATAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang melimpahkan anugrah dan karunianya, hingga
akhirnya penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Diversity dalam
Masyarakat” . Penulisan makalah ini disusun untuk memenuhi nilai tugas kuliah.
Dengan segala kerendahan hati, penyusun menyadari bahwa penulisan makalah ini masih
jauh dari kata kesempurnaan, maka untuk semua kekurangan baik dari segi penyusunan
kalimat, pengajian kata, maupun dari segi pembahasan, penyusun mengharapkan koreksi dan
tanggapan baik yang berupa saran atau kritik yang positif demi sempurnanya penyusunan
makalah ini. Semoga penyusunan makalah ini dapat bermanfaat.

Yogyakarta, 23 November 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

COVER ...................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR .............................................................................................. 2
DAFTAR ISI ............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang..................................................................................................... 4
B. Rumusan masalah ............................................................................................... 4
C. Tujuan ................................................................................................................. 4
D. Manfaat ............................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Diversity ........................................................................................... 5
B. Unsur-unsur Keragaman Dalam Masyarakat Indonesia .................................... 5
C. Pengaruh Keragaman dan Kehidupan Beragama,Bermasyarakat,
Bernegara,Dan Kehidupan Global ...................................................................... 6
D. Problem Deskriminasi .......................................................................................... 8
E. Contoh Diversity dalam Keperawtan ................................................................... 9
F. Pemecahan Masalah Dalam Masyarakat Multikulitural ...................................... 10
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN .............................................................................................. 13
B. SARAN .......................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keragaman berasal dari kata ragam yang menurut kamus besar bahasa indonesia
artinya tingkah laku, macam jenis, lagu musik langgan, warna corak ragi, laras.
Sehingga kergaman berarti perihal beraga-ragam berjenis-jenis;perihal ragam hal
jeniskergaman yang di maksud di sini suatu kondisi dalam masyarakat dimana
terdapat perbedaaa-perbedaan dalam berbagai bidang, terutama suku bangsa dan ras,
agama dan keyakinan,ideologi,adat kesoponan serta situasi ekonomi. Suku bangsa
yang menempati wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke sangat beragam.
Sedangkan perbedaan ras muncul karena adanya mpengelompomkan besar manusia
yang memiliki ciri-ciri biologis lahiriah yang sama seperti rambut, warna kulit,
ukuran-ukuran tubuh, mata, ukuran kepala dan lain sebagainya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian diversity (keragaman) dalam masyarakat ?
2. Bagaimana pengaruh diversity (keragaman) dalam masyarakat ?
3. Bagaimana alternative dalam pemecahan masalah dalam masyarakat multikultur ?
4. Bagaimana contoh keberagaman dalam dunia Keperawatan ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui diversity (keragaman) dalam masyarakat
2. Untuk mengetahui pengaruh diversity (keragaman) dalam masyarakat
3. Untuk mengetahui alternative dalam pemecahan masalah dalam masyarakat
multikultur
4. Untuk mengetahui keberagaman dalam keperawatan

D. Manfaat
1. Dapat mengetahui diversity (keragaman) dalam masyarakat
2. Dapat mengetahui pengaruh diversity (keragaman) dalam masyarakat
3. Dapat mengetahui alternative dalam pemecahan masalah dalam masyarakat
multikultur
4. Dapat mengetahui keberagaman dalam keperwatan

4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Diversity (Keragaman)
Keragaman berasal dari kata ragam yang menurut kamus besar bahasa indonesia
artinya tingkah laku, macam jenis, lagu musik langgan, warna corak ragi, laras.
Sehingga kergaman berarti perihal beraga-ragam berjenis-jenis;perihal ragam hal
jeniskergaman yang di maksud di sini suatu kondisi dalam masyarakat dimana
terdapat perbedaaa-perbedaan dalam berbagai bidang, terutama suku bangsa dan ras,
agama dan keyakinan,ideologi,adat kesoponan serta situasi ekonomi.

B. Unsur-unsur Keragaman Dalam Masyarakat Indonesia


a. Suku Bangsa dan Ras
Suku bangsa yang menempati wilayah indonesia dari sabang sampai merauke sangat
beragam.sedangkan perbedaan ras muncul karena adanya pengelompokkan besar
manusia yang memiliki ciri-ciri biologis lahiriyah yamg sama seperti rambut, warna
kulit, ukuran tubuh, mata, ukuran kepala dan lain sebagainya.
Di indonesia, terutama bagian barat mulai dari sulawesi adalah termasuk ras
mongoloid melayu muda. Kecuali batak dan toraja yang termasuk mongoloid melayu
tua sebelah timur indonesia termasuk ras austroloid, termasuk bagian NTT.
Sedangkan kelompokterbesar yang tidak termasuk kelompok pribumi adalah
golongan chinayang termasuk atratic mongooid

b. Agama dan Keyakinan


Agama mengandung arti ikatan yang harus di pegang dan di patuhi manusia. Ikatan
yang di maksud berasal dari kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan
gaibyang tak dapat di tangkap dengan panca indra. Namun mempunyai pengaruh
besar yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari .
Agama sebagai keyakinan memang sulit di ukur secara tepat dan rinci.Hal ini pula
yang barang kali menyulitkan para ahli untuk memberikan definisi yang tepat
tentang agama. Namun apapun bentuknya kepercayaan yang di anggap sebagai
agama, tampaknya memang memilki ciri umum yang hampir sama, baik dalam agama
pitif maupun agama monoteisma. Menurut Robert H. Thouless, fakta menunjukkan
bahwa agama berpusat pada tuhan atau dewa-dewa sebagai ukuran yang menentukan
yang tak boleh di abaikan Masalah agama tak akan mungkin dapat di pisahkan dari
kehidupan masyarakat. Dalam praktiknya fungsi agama dalam masyarakat antara lain
adalah :
1. Berfungsi edukatif: ajaran agama secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang
2. Berfungsi penyelamat
3. Berfungsi sebagai perdamaian
4. Berfungsi sebagai sosial kontrol
5. Berfungsi sebagai pemupuk ras dan solidaritas
6. Berfungsi tranformatif
7. Berfungsi kreatif

5
8. Berfungsi sublimatif

Pada dasarnya agama dan keyakinan merupkan usur penting dalam keragaman bangsa
indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya agama yang di akui di indonesia.
c. Tata Krama
Tata krama yang di anggap sebagai dari bahasa jawa yang berarti “adat sopan santun,
basa basi” pada dasarnya ialah segala tindakan, prilaku, adat istiadat, tegur sapa,ucap
dan cakap sesuai kaidah atau norma tertentu. Tata krama di bentuk dan di
kembangkan oleh masyarakat yang terdiri dari aturan-aturan yang kalo di patuhi di
harapkan akan tercipta interaksi sosial yang tertib dan efektif di dalam masyarakat
yang bersangkutan. Indonesia memiliki keragaman suku bangsa dimanadi setiap suku
bangsa memiliki adat tersendiri meskipun kerena adanya sosialisasi nila-nilai dan
norma secara turun menurun dan berkisenambungan dari generasi ke generasi
menyebabkan suatu masyarakat yang ada dalam suatuisuku bangsa yang sama akan
memiliki adat dan kesopanan yang relatif sama.
d. Kesenjangan Ekonomi
Bagi sebagian negara, perkonomian akan menjadi salah satu perhatian yang harus di
tingkatkan namun umumnya, masyarakat kita berada di golongan tingkat ekonomi
menengah kebawah. Hal ini tentu saja menjadi sebuah pemicu adanya kesenjangan
yang tak dapat di hindari lagi

e. Kesenjangan Sosial
Masyarakat indonesia merupakan masyarakat yang majemmuk dengan bermacam
tingkat pangkat, dan seterata sosial yang hierarkis.hal ini, dapat terlihat dan di rasakan
dengan jelas dengan adanya penggologan orang berdasarkan kasta.Hal ini yang dapat
menimbulkan kesenjangan sosialyang tidak saja dapat menyakitkan, namun juga
membahayakan bagi kerukunan masyarakat.Tak hanya itu bahkan menjadi sebuah
pemicu perang antara etnis atau suku.

C. Pengaruh Keragaman dam Kehidupan Beragama, Bermasyarakat, Bernegara,


dan Kehidupan Global
Berdirinya negara indonesia di latar belakangi oleh masyarakat yang demikian
majemuk baik secara eknis, biogarfis.kultural, maupun religius. Kita tidak dapat
mengingkari prulalistik bangsa kita.sehingga kita perlu memberi tempat bagi
berkembangnya kebudayaan suku bangsa dan kebudayaan beragama yang di anut oleh
warga indonesia. Masalah suku bangsa dan, kesatuan nasional di Indonesia telah
menunjukkan kepada kita bahwa suatu negara yang multi etnik memerlukan suatu
kebudayaan nasional untuk menistasikan peranan identitas nasional dan solidaritas
nasional di antara warganya. Gagasan tentang kebudayaan nasional yang menyangkut
kesadaran dan identitas suatu bangsa telah di rancang saat bangsa kita belum
merdeka.

6
Manusia secara kodrat diciptakan sebagai makhluk yang mengusung nilai
harmoni.Perbedaan yang mewujud baik secara fisik ataupun mental, sebenarnya
merupakan kehendak Tuhan yang seharusnya dijadikan sebagai sebuah potensi untuk
menciptakan sebuah kehidupan yang menjunjung tinggi toleransi. Dikehidupan
Sehari-Hari,Kebudayaan Suku Bangsa dan kebudayaan agama,bersama-sama dengan
pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara, mewarisi perilaku dan kegiatan
kita.berbagai kebudayaan itu beriringan, saling melengkapi. Bahkan mampu saling
menyesuaikan dalam kehidupan sehari-hari tetapi sering kali yang terjadi malah
sebaliknya.Perbedaa-perbedaan tersebut menciptkan ketegangan hubungan antara
anggota masyarakat. Hal ini di sebabkan oleh sifat dasar yang selalu di miliki oleh
masyarakat majemuk sebagai mana di jelaskan oleh Van de Berghe:
a. Terjadinya sikmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang seringkali memiliki
kebudayaan yang berbeda.
b. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat
non komplenter
c. Kurang mengembangkan konsensuf di antar anggota masyarakat tentang nilai-nilai
sosial yang bersifat dasar.
d. Secara relatif sering kali terjadi konflikdi antara kelompokyang satu dengan yang
lainnya.
e. Secara relatif integrasi tumbuh di atas paksaan yang saling ketergantungan di dalam
bidang ekonomi
f. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain

Realitas di atas harus di akui dengan sikap terbuka logis, dan dewasa karena
dengannya, kemajemukkan yang ada dapat di pertumpul. Jika keterbukaan dan
kedewasaan sikap dikesampingkan, besarkemungkinan tercipta masalah-masalah
menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa seperti:
1. Disharmonisasi, adalah tidak adanya kesesuaian atas keragaman antara manusia
dengan dunia lingkungannya. Disharmonisasi di bawa oleh virus paparoks yang
ada dalam globalisasi. Paket globalisasi begitu memikat masyarakat dunia
dengan tawarannya akan keseragman global untuk maju bersama dan
komunikasi gaya hidup ,manusia yang bebas dan harmonis dalam tatanan dunia,
dengan menyampingkan keunikan dan keberagaman indonesia sebagai pelaku
utama.
2. Perilaku diskriminatif terdapat etnis atau kelompok masyarakat tertentu akan
muncul masalah yang lain, yaitu kesenjangan dalam berbagai bidang yang tentu
saja yang tidak mengentungkan bagi hidup berbangsa dan bernegara.
3. Eksklusivme,realisis, bersumber dari superioritas, alasannya dapat bermacam-
macam antara lain; keyakinan bahwa secara koadrati ras/sukunya ke
kelompoknya lebih tinggi dari ras/suku/kelompok lain

Adanya beberapa hal yang dapat dilakukan memperkecil masalah yang di


akibatkan oleh pengaruh negatif dari keragaman, yaitu:
1. Semangat religius

7
2. Semangat nasionalisme
3. Semangat pluralisme
4. Semangat humanisme
5. Dialog antar umat beragama
6. Membangun suatu pola komikasi untuk interaksi maupun konfigurasi
hubungan antara agama,media massa, dan harmonisasi dunia.

Keterbukaan, kedewasaan sikap, pemikiran globalyang bersifat inklusif,


kesadaran kebesamaan dalam mengarungi sejarah, merupakan modalyang
menentukan bagi terujudnya sebuah bangsa yang di bhineka tunggal
ika.menyatu dalamkeragaman, dan beragam dalam kesatuan.Segala bentuk
kesenjangan di dekatkan, segala ke anekaragaman di pandang sebagaikekayaan
bangsa milik bersama. Sikap inilah yang perlu di kembangkan dalampikir
masyarakat untuk menuju indonesia raya merdeka.
D. Problem Deskriminasi
Dsiskriminasi adalah sebuah tindakan yang melakukan perbedaan terhadap seseorang
atau kelompok orang berdasarkan ras,agama,suku, etnis, kelompok, golongan, status,
dan kelas soaial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik tubuh, usia,orientasi seksual,
pandangan ideologi dan politik. serta batas negara, dan kebangsaan seseorang.

Tuntutan atas kesamaan hak bagi setiap manusia di dasarkan pada prinsi-prinsip hak
asasi manusia.Sifat dari HAM adalah universal dan tanpa pengecuali tidak dapat di
pisahkan dan saling tenrgantung. Berangkat dari pemahaman tersebut sikap-sikap
yang didasarkan pada ethnosentrisme, resisme, religius fanatisme,dan diskrimination
harus dipandang sebagai dipandang 8 tindakan yang menghambat pengembangan
kesedarajatan dan demokrasi, penegakan hukum dalam kerangka pemajuan dan
pemenuhan HAM.
PASAL 218 Ayat (2) UUD NKRI 1945 telah menegaskan bahwa: “setiap orang
berhak bebas dari perlakuan bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak
mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.”
Sementara itu pasal 3 UU No 1999 tentang HAM telah menegaskan bahwa “... setiap
orang di lahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama dan sederajat... “
ketentuan tersebut merupakan landasan hukumyang mendasari prinsip non-
diskriminasi di indonesia.
Pencantuman prinsip ini pada awal pasal berbagai instrumen hukum yang mengatur
HAM pada dasarnya menunjukkan bahwa diskriminasi telah menjadi realitas yang
promblematik sehingga:
a. Komunitas internasional telah mengakui bahwa diskriminasi masih terjadi di
berbagai belahan dunia
b. Prinsip non-diskriminasi harus mengawali kesepakatan antar bangsa untuk dapat
hidup dalamkebebasan keadilan dan perdamaian

Dalam demokrasi diskriminasi seharusnya telah di tiadakan dengan adanya kesetaraan


dalam bidang hukum, kesedarajatan dalam perlakuan adalah salah satu wujud ideal

8
dalam kehidupan negara yang demokratis. Akan tetapi berbagai penelitian dan
pengkajian menunjukkan bahwa kondisi di indonesia saat ini belum mencerminkan
penerapan asas persamaan di muka hukum secara utuh
Promblematika lainnya timbul dan harus di waspadai adalah disentegrasi bangsa dari
kajian yang di lakukan terhadap berbagai kasus dissntegrasi bangsa dan bubarnya
sebuah negara dapat di simpulkan adanya enam faktor utama secara gradualbisa menjadi
penyebab utama proses itu, yaitu:
1. Kegagalan kepemimpinan
2. Krisis ekonomi yang akut dan berlangsung lama
3. Krisis politik
4. Krisis sosial
5. Demoralisasi tentara dan polisi
6. Intervensi asing

E. Contoh Keberagaman dalam Keperawatan

Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya.
Asuhan keperawatan ditunjukkan memandirikan individu sesuai dengan budaya klien.

Proses keperawatan Transkultural Nursing


Model konseptual yang dikembangkan oleh leininger dalam menjelaskan asuhan
keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit
(sunrise model). Geisser (1995) menyatakan bahwa proses keperawatan inii
digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap
masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan
dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.

1. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah
kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Dafithizar,
1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada “sunrise
model” yaitu :
a. Faktor teknologi (tecnological faktors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat
penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu
mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah
kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan
alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk
mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.

9
b. Faktor agama dan falsafah hidup (religios and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis
bagi para pemeluknya. Agama memberikan motifasi yang sangat kuat untuk
menempatkan kebenaran diatas segalanya, bahkan diatas kehidupan sendiri.
Faktor agama yang hars dikaji oleh perawat adalah : agama yang dianut, status
pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan
kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji fakor-faktor : nama lengkap, nama
panggilan, umur dan tampat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga,
pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala
keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and live ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut
budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah
ia mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang peru
dikaji pada faktor ini adalah : posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala
keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang
dalam kondisi sakit, seperti sakit berkaitan dengan aktifitas sehari-hari dan
kebiasaan membersihkan diri.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku ( political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya
(andrew and boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan
kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang
boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
f. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat dirumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang
dimiliki untuk membiayai penyakitnya agar segara sembuh. Faktor ekonomi yang
harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan,
tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi,
penggantian biaya dari kantor atau patungan antar keluarga.
g. Faktor pendidikan (education factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur
pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka
keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang rasional dan
individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan
kondisi kesehatan. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah: tingkat pendidikan
klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri
tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

10
Prinsip-prinsip pengkajian budaya:
 Jangan menggunakan asumsi
 Jangan membuat streotip bisa terjadi konflik misalnya: orang padang pelit,
orang jawa halus
 Menerima dan memahami metode komunikasi
 Menghargai perbedaan individual
 Menghargai kebutuhan personal dari setiap individu
 Tidak boleh membeda-bedakan keyakinan klien
 Menyediakan ptivacy terkait kebutuhan pribadi
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respons klien sesuuai latar belakang kebudayaannya
yang dapat dicegah, dubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. (Giger
and dafithizar, 1995). Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sering ditegakkan
dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu: gangguan komunikasi verbal
berhubungan dengan perbedaan kultur, gangguan interaksi sosial berhubungan
disorientasi sosiokultural dan ketidak patuhan dalam pengobatan berhubungan
dengan sistem nilai yang diyakini.
3. Perencanaan dan pelaksaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan transkulturl adalah suatu proses
keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses
memilih strategi yang tepat dan pelaksaan adalah melaksakan tindakan yang
sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Dafithizar, 1995). Ada tiga
pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (andrew and boyle,
1995) yaitu: mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak
bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien
kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang
dimiliki klien bertantangan dengan kesehatan.
a. Cultural care preservation/maintenance/mempertahankan budaya dilakukan bila
budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan
implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang
telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan
status kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
1) Identivikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang poses
kelahiran dan perawatan bayi
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinteraksi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat

b. Cultural care accomodation/negatiation / Negosiasi budaya intervensi dan


implementsi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien
berdaptasi terhadap budaya tertent yang lebih menguntungkan kesehatan.
Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang
lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil

11
mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan
sumber protein hewani yang lain.
1. Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2. Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3. Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan
berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik

c. Cultual care repartening/reconstruction/ restrukturisasi budaya klien dilakukan


bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan. Perawat berupaya
merestrukrisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok.
Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai
dengan keyakinan yang dianut.
1.Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan
melaksanakannya
2.Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok
3.Gunakan pihak ketiga bila perlu
4.Terjemahkan terminologi gejala pasien kedalam bahasa kesehatan yang
dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5.Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan perawat
dan klien harus mencoba memahami budaya masing-masing melalui proses
aktulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya
yang akhirnya akan memperkaya budaya-budaya mereka. Bila perawat tidak
memahami budaya klien makan akan tumbul rasa tidak percaya sehingga
hubungan terapeutik antara perawat dan klien akan terganggu. Pemahaman
budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan
perawat dan klien yang bersifat terapeutik.

Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien
tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya
klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang
mungkin sangan bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi
dapat diketahui asuhan keperawatan yang ssuai dengan latar belakang buadaya klien.

F. Pemecahan Masalah dalam Masyarakat Multikultural


Kemampuan untuk menampung berbagai perbedaan dan keanekaragaman kebudayaan
dalam sebuah kesatuan yang di landasi suatu ikatan kebersamaan. Salah satu
pengembangan konsep toleransi terhadap keberagaman budaya adalah mewujudkan
masyarakat indonesia yang multikultural dengan bentuk pengakuan dan toleransi,
terhadap perbedaan dalam kesetaraan individual maupun secara kebudayaan. Dalam
masyarakat multikultural, masyarakat anatar suku bangsa dapat hidup berdampingan,
bertoleransi, dan saling menghargai. Selain itu, alternatif penyelesaian keberagaman
budaya yang ada di indonesia di lakukan melalui interaksi lintas budaya dengan

12
mengembangkan media sosial, seperti pengembangan lambang-lambang komunikasi
lisan maupun tertulis, norma-norma yang di sepakati dan di terima sebagai pedoman
bersama, dan perangkat nilai sebagai kerangka acuian bersama.

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keragaman berasal dari kata ragam yang menurut kamus besar bahasa indonesia
artinya tingkah laku, macam jenis, lagu musik langgan, warna corak ragi, laras.
Sehingga keragaman berarti perihal beraga-ragam berjenis-jenis;perihal ragam hal
jenis keragaman yang di maksud di sini suatu kondisi dalammasyarakat diman
terdapat perbedaaa-perbedaan dalamberbagai bidang, terutama suku bangsa dan ras,
agama dan keyakinan,ideologi,adat keseponan serta situasi ekonomi.

B. Saran
Sebagai mahasiswa seharusnya mengetahui bagaimana cara bersikap ketika berada
dalam masyarakat yang berbagai macam kultur, dalam menangangi masalah harus
sesuai norma yang dianut oleh masing-masing suku. Agar tidak terjadi perselisihan
atau permasalahan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Tumanggor ,Rusmin.Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 12 No. 2 Tahun 2017

Bagir, Zainal Abidin, dkk., Harmoni Dalam Keragaman.Yogyakarta.2015

Muhiddur, Pendidikan Multikultural Bagi Masyarakat.2017

Kusmaryani Rosita Endang .Pendidikan Multikultural sebagai Alternatif Penanaman


Nilai Moral dalam Keberagaman.Yogyakarta.2018

15