BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan penyakit infeksi
akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas
mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk
jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura
(Irianto, 2015). ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) adalah infeksi
saluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14 hari. Secara klinis ISPA
ditandai dengan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di setiap bagian saluran
pernafasan dengan berlangsung tidak lebih dari 14 hari. Infeksi saluran
pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,
yang disebabkan oleh 300 lebih jenis virus, bakteri, serta jamur. Virus
penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus yang meliputi virus influensa,
virus prainfluensa dan virus campak (Litbangkes, 2014). Ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi terjadinya ISPA antara lain debu dan asap. Dalam
hal ini lingkungan yang lembab, ventilasi kurang dan basah juga dapat
mempengaruhi ISPA (DEPKES RI, 2012).
Menurut WHO (2009) ISPA menjadi salah satu penyebab utama
morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Hampir empat juta
orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya disebabkan oleh
infeksi saluran pernapasan bawah. Kelompok yang paling berisiko adalah
balita, anak-anak, dan orang lanjut usia, terutama di negara-negara
dengan pendapatan per kapita rendah dan menengah. Kasus ISPA di
Indonesia pada tahun terakhir menempati urutan pertama penyebab
kematian bayi yaitu sebesar 24,46% (2013), 29,47% (2014) dan 63,45%
(2015). Selain itu, penyakit ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit
terbanyak di rumah sakit (Kemenkes RI, 2015). Terdapat lima Provinsi
dengan ISPA tertinggi yaitu Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua
(31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%), dan Jawa Timur
1
(28,3%). Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi berdasarkan
umur terjadi pada kelompok umur 1- 4 tahun (25,8%). Penyakit ini lebih
banyak dialami pada kelompok penduduk kondisi ekonomi menengah ke
bawah (Kemenkes, 2013).
1.2 Tujuan
Menggambarkan Asuhan Keperawatan Gerontik pada Ny.S Dengan Diagnosa
Medis ISPA di Puskesmas Purwokerto Selatan Kelurahan Karang Klesem Rt
07 Rw 05
1.3 Manfaat
Studi kasus ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi :
1. Masyarakat (Khususnya responden dan keluarga)
Masyarakat diharapkan memperoleh pengetahuan dalam merawat pasien
ISPA dan dapat mencegah komplikasi lain yang disebabkan oleh penyakit
ISPA.
2. Bagi Pengemban Ilmu dan Teknologi Keperawatan
Menambah keluasan ilmu, dan teknologi terapan bidang keperawatan
dalam penanganan ISPA.
3. Penulis
Memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan hasil riset keperawatan,
khususnya pasien ISPA.
2
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan penyakit infeksi
akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas
mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk
jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura
(Irianto, 2015). Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi
saluran pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru
yang berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas
laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan
bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008). Jadi disimpulkan
bahwa ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi
disetiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan dengan
pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari.
2.2 Etiologi
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia.
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus,
Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordeteliadan Korinebakterium.
Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adnovirus,
Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirusdan lain-lain
(Suhandayani, 2009).
2.3 Manifestasi Klinis
ISPA merupakan proses inflamasi yang terjadi pada setiap bagian saluran
pernafasan atas maupun bawah, yang meliputi infiltrat peradangan dan edema
mukosa, kongestif vaskuler, bertambahnya sekresi mukus serta perubahan
struktur fungsi siliare (Muttaqin, 2008). Tanda dan gejala ISPA banyak
bervariasi antara lain demam, pusing, malaise (lemas), anoreksia (tidak nafsu
makan), vomitus (muntah), photophobia (takut cahaya), gelisah, batuk, keluar
sekret, stridor (suara nafas), dyspnea (kesakitan bernafas), retraksi
3
suprasternal (adanya tarikan dada), hipoksia (kurang oksigen), dan dapat
berlanjut pada gagal nafas apabila tidak mendapat pertolongan dan
mengakibatkan kematian (Nelson, 2009).
Sedangkan tanda gejala ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah :
a. Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu
atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1) Batuk
2) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara
(misal pada waktu berbicara atau menangis).
3) Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung.
4) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37oC atau jika dahi anak
diraba.
b. Gejala dari ISPA Sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari
ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1) Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur
kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak
yang berumur satu tahun atau lebih. Cara menghitung pernafasan
ialah dengan menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit.
2) Suhu lebih dari 39o C (diukur dengan termometer).
3) Tenggorokan berwarna merah.
4) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.
5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
6) Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).
7) Pernafasan berbunyi menciut-ciut.
c. Gejala dari ISPA Berat
Seorang dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala
ISPA ringan atau ISPAsedang disertai satu atau lebih gejala-gejala
sebagai berikut:
1) Bibir atau kulit membiru
4
2) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu
bernafas
3) Tidak sadar atau kesadaran menurun.
4) Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan tampak gelisah.
5) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas.
6) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.
7) Tenggorokan berwarna merah.
2.4 Komplikasi
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) sebenarnya merupakan self
limited disease yang sembuh sendiri dalam 5-6 hari jika tidak terjadi invasi
kuman lain, tetapi penyakit ISPA yang tidak mendapatkan pengobatan dan
perawatan yang baik dapat menimbulkan penyakit seperti:
a. Laringitis
Peradangan pada laring (pangkal tenggorokan), disebabkan oleh inveksi
virus atau bakteri pada saluran pernapasan bagian atas pada penderita
anak-anak dengan struktur saluran pernapasan yang kecil, bisa saja terjadi
kesulitan bernapas jika terus memburuk hingga lebih dari dua minggu
menjadi faktor penyebab ISPA pada saluran pernafasan bawa
b. Bronkitis
Komplikasi ini terjadi ketika infeksi yang disebabkan oleh virus dan
bakteri dari saluran pernafasan atas menyebar lebih jauh ke dalam paru-
paru
c. Sinusitis
Kondisi ini sering kali disebabkan oleh virus flu atau pilek yang
disebarkan sinus dari saluran pernapasan atas. Biasanya setelah terjadi
pilek atau flu, infeksi bakteri sekunder bisa terjadi. Ini akan menyebabkan
dinding dari sinus mengalami peradangan atau inflamasi, Faktor pemicu
sinusitis infeksi virus adalah infeksi jamur dari luar tubuh (Nurarif, 2015,
hal. 129).
5
2.5 Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab);
b. Pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah
meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai
dengan adanya thrombositopenia
c. Pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan (Benny:2010
2.5 Penatalaksanaan
Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang
benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program
(turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik
dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) .
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar
pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan
antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan
obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup
pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari
tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA.
Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
1. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik
2. Immunisasi
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
4. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
Pinsip perawatan ISPA antara lain :
1. Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
2. Meningkatkan makanan bergizi
3. Bila demam beri kompres dan banyak minum
4. Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu
tangan yang bersih
5. Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak
terlalu ketat
6
6. Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut
masih menetek
Pengobatan antara lain:
1. Mengatasi panas (demam)
Dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2
bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali
tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai
dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan
kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu
air es).
2. Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu
jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh ,
diberikan tiga kali sehari.
7
2.7 Pathway
8
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Menurut Khaidir Muhaj (2008), pengkajian pada ISPA meliputi :
1. Identitas Pasien
2. Umur : Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai
anak usia dibawah 3 tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahun.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak pada usia muda akan
lebih sering menderita ISPA daripada usia yang lebih lanjut(Anggana
Rafika,2009).
3. Jenis kelamin : Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia kurang
dari 2 tahun, dimana angka kesakitan ISPA anak perempuan lebih
tinggi daripada laki-laki di negara Denmark (Anggana Rafika, 2009).
4. Alamat : Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah
anggota keluarga, dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko
untuk ISPA. Penelitian oleh Kochet at al (2003) membuktikan bahwa
kepadatan hunian (crowded) mempengaruhi secara bermakna prevalensi
ISPA berat .Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit
gangguan pernafasan lain adalah rendahnya kualitas udara didalam
rumah ataupun diluar rumah baik secara biologis, fisik maupun
kimia. Adanya ventilasi rumah yang kurang sempurna dan asap
tungku di dalam rumah seperti yang terjadi di Negara Zimbabwe
akan mempermudah terjadinya ISPA anak (Anggana Rafika, 2009)
5. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama: Adanya keluhan demam, batuk dan flu
b. Riwayat penyakit sekarang: Dua hari sebelumnya klien
mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah, nyeri
otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit
tenggorokan.
9
c. Riwayat penyakit dahulu: sebelumnya klien sudah pernah
mengalami penyakit sekarang
d. Riwayat penyakit keluarga: apakah ada anggota yang keluarga
pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut.
e. Riwayat sosial: Apakah klien tinggal di lingkungan yang berdebu
dan padat penduduknya.
f. Pemeriksaan Integritas Ego : data tergantung pada tahap poenyakit
dan derajat yang terkena.
1) Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelelahan umum dan kelemahan, nafas pendek karena
kerja, kesulitan tidur pada malam atau demam pada malam hari,
menggigil atau berkeringat, mimpi buruk.
Tanda : Takhikardia, takhipnu/dispnea pada kerja, kelelahan otot,
nyeri dan sesak (tahap lanjut).
2) Integritas EGO
Gejala : Adanya /factor stress lama, masalah keuangan, rumah,
perasaan tidak berdaya/ tidak ada harapan.
Tanda : Menyangkal, ansietas, ketakutan dan mudah terangsang.
3) Makanan/cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna,
penurunan berat badan.
Tanda : Turgor kulit buruk, kering/kulit bersisik, kehilangan
otot/hilang lemak subkutan.
4) Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Tanda : Berhati-hati pada area sakit, perilaku distraksi, gelisah.
5) Pernapasan
Gejala : Batuk produktif atau tidak, nafas pendek, terpajan pada
individu terinfeksi.
10
Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan, pengembangan
pernapasan tidak simetris, perkusi pekak dan penurunan
fremitus, adanya sputum / secret.
6) Keamanan
Gejala : Adanya kondisi penekanan imun.
Tanda : Demam rendah atau sakit panas akut
3.3 Rencana dan Implementasi Keperawatan
Perencanaan
Diagnosa
Rencana Implementasi
Keperawatan Tujuan
Tindakan
Ketidakefektifan Setelah a. Monitor rata- a. Memonitor rata-rata
bersihan jalan dilakukan rata kedalaman, kedalaman, irama dan
napas kunjungan irama dan usaha usaha respirasi,, suara
berhubungan keperawatan respirasi nafas dan pola nafas
dengan mukus selama 3x
b. Posisikan b. Memberi posisi
berlebih diharapkan
pasien untuk pasien semi fowler agar
kebutuhan
memaksimalkan mudah dalam respirasi
oksigen
ventilasi
terpenuhi c. Mengauskultasi
dengan kriteria c. Auskultasi suara nafas dan suara
hasil: suara nafas, catat tambahan
area
- d. Mengajarkan batuk
penurunan/tidak
Peningkatan efektif
adanya ventilasi
ventilasi dan
dan suara e. Memberikan obat
oksigen yang
tambahan Dexametorphan 15 mg,
adekuat
3X1 tablet
d. Berikan
-
bronkodilatator
Memelihara
11
kebersihan bila perlu
paru
- Tanda-
tanda vital
normal
Nyeri akut Setelah a. Teliti keluhan a. Mengamati/observasi
berhubungan dilakukan nyeri, catat keluhan nyeri, mencatat
dengan kunjungan intensitasnya intensitasnya (dengan
inflamasi pada keperawatan (dengan skala 1- skala 0-10)
membran selama 3x jam 10), faktor
b. Menganjurkan
mukosa faring diharapkan memperburuk
pasien untuk
dan tonsil nyeri atau meredakan
menghindari allergen/
berkurang atau nyeri, lokasinya,
iritan terhadap debu,
terkontrol lamanya,
bahan kimia, asap rokok
dengan kriteria karakteristiknya
hasil: c. Mengalihkan rasa
b. Anjurkan
nyeri dengan tekhnik
- Nyeri pasien untuk
distraksi dan relaksasi,
berkurang menghindari
yaitu dengan
allergen (iritan
- Pasien mengajarkan teknik
terhadap debu,
tidak mengeluh bernafas dalam
bahan kimia, dan
adanya nyeri
asap rokok). Dan d. Menganjurkan
mengistirahatkan/ berkumur dengan air
meminimalkan garam
berbicara bila
suara serak
c. Anjurkan
untuk melakukan
kumur air garam
12
hangat
d. Kolaborasi
berikan obat
sesuai indikasi
- Steroid oral,iv
dan inhalan
- Analgesik
Gangguan Setelah a. Kaji a. Mengurangi
kebutuhan dilakukan kemampuan tindakan selama jam
nutrisi kunjungan pasien untuk makan, sehingga
berhubungan keperawatan mendapatkan tindakan dilakukan
dengan selama 3x nutrisi yang setelah jam makan
anoreksia diharapkan dibutuhkan
b. Menghindari
kebutuhan
b. Monitor makanan panas
nutrisi
turgor kulit
terpenuhi c. Konsultasi dengan
dengan kriteria c. Monitor kadar ahli gizi pemberian diit
hasil : albumin, total TKTP
protein dan HB
- Intake nutrisi d. Memberi snack
pasien d. Jadwalkan
meningkat pengobatan dan
tiundakan selama
jam makan
e. Hindari
makanan panas
f. Beri makanan
yang terpilih
13
(konsultasi
dengan ahli gizi)
Resiko tinggi Setelah a. Batasi a. Menjaga
penularan dilakukan pengunjung keseimbangan antara
infeksi kunjungan sesuai indikasi istirahat dan aktivitas
berhubungan keperawatan
b. Jaga b. Menganjurkan tutup
dengan tidak selama 3x
keseimbangan mulut dan hidung jika
adekuatnya diharapkan
antara istirahat bersin, jika ditutup
pertahanan Tidak terjadi
dan aktivitas dengan tissue, buang
sekunder penularan
segera ke tempat
(adanya infeksi infeksi dan c. Tutup mulut
sampah
penekanan tidak terjadi dan hidung jika
imun) komplikasi, hendak bersin, c. Menganjurkan pada
dengan kriteria jika ditutup pasien untuk
hasil: dengan tissue, mengkonsumsi vitamin
buang segera ke C, A dan mineral seng
- Tidak
tempat sampah atau anti oksidan jika
terjadi tanda-
kondisi menurun atau
tanda infeksi d. Meningkatkan
asupan makan
daya tahan tubuh
berkurang
e. Kolaborasi
pemberian obat
sesuai hasil
kultur
Gangguan Setelah a. Observasi a. Mengobservasi
aktivitas dilakukan aktivitas pasien aktivitas pasien
berhubungan kunjungan
b. Beri b. Memberi penjelasan
dengan keperawatan
penjelasan tentang pentingnya
kelemahan fisik selama 3 x
tentang aktivitas, yaitu agar
diharapkan
14
aktivitas pasien pentingnya otot-otot tidak lemas
tidak aktivitas
c. Menganjurkan
terganggu
c. Anjurkan pasien untuk
dengan kriteria
pasien untuk menggerakkan atau
hasil:
menggerakkan mengangkat ekstremitas
- ADL atau mengangkat atas dan bawah
tidak dibantu ekstremitas atas
d. Membantu pasien
dan bawah
- Badan memenuhi kebutuhan
tidak lemas d. Bantu pasien dengan membantu
dalam memenuhi aktivitas pasien
kebutuhan
15
DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer,dkk. 2008. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Jakarta: Media
Aesculapius.
Ngastiyah, (2009), Perawatan Anak Sakit , Edisi Kedua, EGC, Jakarta
DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 1992.
Doenges, Marlyn E . Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien
16