Anda di halaman 1dari 22

CARA PEMERIKSAAN 12 NERVUS KRANIALIS

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal
Bedah III

Disusun oleh: Kelompok 11

Anggota Kelompok:

1. Kadek Yuni Kartika (17C10077)


2. I Nengah Bayu Ananda (17C10078)
3. Luh Ade Alit Juwita Anjani (17C10079)
4. Putu Ayu Ema Satya Dewi (17C10080)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan kerja keras penulis makalah yang berjudul “Pemeriksaan Saraf Nervus
Kranialis” dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas
untuk menempuh mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III. Penulis menyadari
bahwa penulisan makalah ini tidak dapat terselesaikan jika tidak ada bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkan penulis
menyampaikan ungkapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini diantaranya:

1. Bapak I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp.,M.Ng.,Ph.D selaku rektor


Institut Teknologi dan Kesehatan Bali yang telah memberikan kesempatan
penulis untuk menempuh pendidikan di Institut Teknologi dan Kesehatan
Bali.

2. Ibu .I Gusti Ayu Puja Astuti Dewi, S.Kp. M.Kep. selaku dosen
pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan.

3. Teman – teman kelompok 11 atas ide dan kerjasamanya dalam


penyelesaian makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna atau masih perlu
perbaikan. Oleh karena itu penulis mengundang pembaca untuk memberikan
kritik serta saran yang sifatnya membangun untuk memperbaiki penyusunan
makalah selanjutnya. Harapan penulis semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.

Denpasar, 27 Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..........................................................................................................i

Daftar Isi..................................................................................................................ii

Bab I Pendahuluan ..................................................................................................1

1.1 Latar Belakang................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................2

1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................................2

Bab II Pembahasan...................................................................................................3

2.1. Definisi Saraf Kranial.....................................................................................3

2.2. jenis- jenis saraf kranial…………………………………………………...........4


2.3. Cara Pemeriksaan saraf kranial…………………..............…………………………8
Bab III Penutup......................................................................................................16

3.1 Kesimpulan...................................................................................................16

3.2 Saran.............................................................................................................16

Daftar Pustaka .......................................................................................................17


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tubuh manusia merupakan satu kesatuan dari berbagai sistem


organ. Suatu sistem organ terdiri dari berbagai organ tubuh atau alat-alat
tubuh. Dalam melaksanakan kegiatan fisiologisnya diperlukan adanya
hubungan atau kerjasama anatara alat-alat tubuh yang satu dengan yang
lainnya. Agar kegiatan sistem-sistem organ yang tersusun atas banyak alat
itu berjalan dengan harmonis (serasi), maka diperlukan adanya sistem
pengendalian atau pengatur. Sistem pengendali itu disebut sebagai sitem
koordinasi. Tubuh manusia dikendalikan oleh sistem saraf, sistem indera,
dan system endokrin. Pengaruh sistem saraf yakni dapat mengambil sikap
terhadap adanya perubahan keadaan lingkungan yang merangsangnya.
Semua kegiatan tubuh manusia dikendalikan dan diatur oleh sistem saraf.
Sebagai alat pengendali dan pengatur kegiatan alat-alat tubuh, susunan
saraf mempunyai kemampuan menerima rangsang dan mengirimkan
pesan-pesan rangsang atau impuls saraf ke pusat susunan saraf, dan
selanjutnya memberikan tanggapan atau reaksi terhadap rangsang tersebut.
Impuls saraf tersebut dibawa oleh serabut-serabut saraf. (Kus Irianto.
2004)

Sistem saraf adalah suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat


khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Sistem saraf
mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu
dengan lingkungan lainnya. Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur
kebanyakan aktivitas system-system tubuh lainnya, karena pengaturan
saraf tersebut maka terjalin komunikasi antara berbagai system tubuh
hingga menyebabkan tubuh berfungsi sebagai unit yang harmonis. Dalam
system inilah berasal segala fenomena kesadaran, pikiran, ingatan, bahasa,
sensasi dan gerakan. Jadi kemampuan untuk dapat memahami, belajar dan
memberi respon terhadap suatu rangsangan merupakan hasil kerja
integrasi dari system saraf yang puncaknya dalam bentuk kepribadian dan
tingkah laku individu. Maka dari itu, penulis membuat makalah yang
berjudul “Cara Pemeriksaan 12 Saraf Kranial” .

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa Definisi Saraf Kranial ?
1.2.2 Apa Jenis Dari Saraf Kranial ?
1.2.3 Bagaimana Cara Pemeriksaan Saraf Kranial ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk Mengetahui Definisi Saraf Kranial
1.3.2 Untuk Mengetahui Jenis Dari Saraf Kranial
1.3.3 Untuk Mengetahui Cara Pemeriksaan saraf Kranial

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Saraf kranial atau dalam bahasa latin disebut dengan nervus
craniales adalah 12 pasang saraf pada manusia yang mencuat langsung
dari otak manusia. Berbeda halnya dengan saraf spinal yang mencuat
dari tulang belakang manusia. Pasangan saraf kranial diberikan nomor
sesuai dengan letaknya dari depan sampai belakang. Dari 12 pasang
saraf kranial, terdapat 3 saraf kranial yang berperan sebagai saraf
sensoris, 5 pasang sebagai saraf motorik, dan 4 pasang saraf sebagai
saraf gabungan (motorik dan sensorik).

Jadi, saraf kranial merupakan bagian dari susunan sistem


saraf tepi, walaupun letaknya yang berdekatan dengan sistem saraf
pusat (SSP) yang terhubung ke organ-organ di tubuh manusia, seperti
mata, telinga, hidung, tenggorokan, dan lain sebagainya dan pasangan
saraf kranial diberikan nomor sesuai dengan letaknya dari depan sampai
belakang.

2.2 Jenis-jenis Saraf Kranial

1. Saraf I (Nervus Olfaktorius)

Saraf ini berasal dari epithelium olfaktori mukosa nasal.


Berkas sarafnya menjalar ke bulbus olfaktorius dan melalui traktus
olfaktori sampai ke ujung lobus temporal (girus olfaktori). Nervus
Olfaktorius adalah jenis saraf sensoris. Fungsinya adalah untuk
menerima rangsang dari hidung dan menghantarkannya ke otak
untuk diproses sebagai sensasi bau.

2. Saraf II (Nervus Optikus)

Saraf ini bekerja membawa impuls (rangsangan)dari sel


kerucut dan slel batang di retina mata untuk dibawa ke badan sel
akson yang membentuk saraf optic di bola mata. Lalu, setiap saraf
optic keluar dari bola mata pada bintik buta dan masuk ke rongga
kranial melalui foramen optic. Nervus Optikus adalah jenis saraf
sensoris. Fungsinya adalah untuk menerima rangsang dari mata lalu
menghantarkannya ke otak untuk diproses sebagai persepsi visual
(penglihatan)

3. Saraf III (Nervus Occulomotorius)

Merupakan saraf gabungan, yaitu jenis saraf sensoris dan


motoris, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf motorik. Neuron
motorik berasal dari otak tengah dan membawa impuls ke seluruh
otot bola mata (kecuali otot oblik superior dan rektus lateral), ke
otot yang membuka kelopak mata dan ke otot polos tertentu pada
mata. Serabut sensorik membawa informasi indera otot (kesadaran
perioperatif) dari otot mata yang terinervasi ke otak. Fungsinya
adalah untuk menggerakkan sebagian besar otot bola mata

4. Saraf IV (Nervus Trochlearis)

Merupakan saraf gabungan , tetapi sebagian besar terdiri


dari saraf motorik dan merupakan saraf terkecil dalam saraf kranial.
Neuron motorik berasal dari langit-langit otak tengah dan
membawa impuls ke otot oblik superior bola mata. Serabut
sensorik dari spindle (serabut) otot menyampaikan informasi indera
otot dari otot oblik superior ke otak. Fungsinya adalah untuk
menggerakkan beberapa otot bola mata

5. Saraf V (Nervus Trigeminus)

Saraf cranial terbesar, merupakan saraf gabungan tetapi


sebagian besar terdiri dari saraf sensorik. Bagian ini membentuk
saraf sensorik utama pada wajah dan rongga nasal serta rongga
oral. Nervus trigeminus memiliki 3 cabang, yaitu :
a) Cabang optalmik membawa informasi dari kelopak mata, bola
mata, kelenjar air mata, sisi hidung, rongga nasal dan kulit dahi
serta kepala.

b) Cabang maksilar membawa informasi dari kulit wajah, rongga


oral (gigi atas, gusi dan bibir) dan palatum.

c) Cabang mandibular membawa informasi dari gigi bawah, gusi,


bibir, kulit rahang dan area temporal kulit kepala.

Fungsi Nervus trigeminus adalah :

a. Sensoris untuk menerima rangsangan dari wajah lalu diproses


di otak sebagai rangsang sentuhan

b. Motorik untuk menggerakkan rahang

6. Saraf VI (Nervus Abdusen)

Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri


dari saraf motorik. Neuron motorik berasal dari sebuah nucleus
pada pons yang menginervasi otot rektus lateral mata. Serabut
sensorik membawa pesan proprioseptif dari otot rektus lateral ke
pons. Fungsinya adalah untuk melakukan gerakan abduksi mata.

7. Saraf VII (Nervus Fasialis)

Merupakan saraf gabungan. Meuron motorik terletak


dalam nuclei pons. Neuron ini menginervasi otot ekspresi wajah,
termasuk kelenjar air mata dan kelenjar saliva. Neuron sensorik
membawa informasi dari reseptor pengecap pada dua pertiga
bagian anterior lidah. Fungsinya adalah :

a. Sensorik untuk menerima rangsang dari bagian anterior lidah


untuk diproses di otak sebagai persepsi rasa

b. Motorik untuk mengendalikan otot wajah untuk menciptakan


ekspresi wajah
8. Saraf VIII (Nervus Vestibulocochlearis)

Hanya terdiri dari saraf sensorik dan memiliki dua cabang, yaitu :

a) Cabang koklear atau auditori menyampaikan informasi dari


reseptor untuk indera pendengaran dalam organ korti telinga
dalam ke nuclei koklear pada medulla, ke kolikuli inferior, ke
bagian medial nuclei genikulasi pada thalamus dan kemudian
ke area auditori pada lobus temporal.

b) Cabang vestibular membawa informasi yang berkaitan


dengan ekuilibrium dan orientasi kepala terhadap ruang yang
diterima dari reseptor sensorik pada telinga dalam.

Fungsinya adalah :

1) Sensoris sistem vestibular untuk mengendalikan keseimbangan


tubuh

2) Sensoris koklea untuk menerima rangsang dari telinga untuk


diproses di otak sebagai suara

9. Saraf IX (Nervus Glosofaringeal)

Merupakan saraf gabungan. Neuron motorik berawal dari


medulla dan menginervasi otot untuk wicara dan menelan serta
kelenjar saliva parotid. Neuron sensorik membawa informasi yang
berkaitan dengan rasa dari sepertiga bagian posterior lidah dan
sensasi umum dari faring dan laring. Neuron ini juga membawa
informasi mengenai tekanan darah dari reseptor sensorik dalam
pembuluh darah tertentu. Fungsinya adalah :

a) Sensoris untuk merima rangsang dari bagian posterior lidah


untuk diproses di otak sebagai sensasi rasa

b) Motoris untuk mengendalikan organ-organ dalam

10. Saraf X (Nervus Vagus)


Merupakan saraf gabungan. Neuron motorik berasal dari
dalam medulla dan menginervasi hampir semua organ toraks dan
abdomen. Neuron sensorik membawa informasi dari faring, laring,
trakea, esophagus, jantung dan visera abdomen ke medulla dan
pons. Fungsinya adalah :

a. Sensoris untuk menerima rangsang dari organ-organ dalam

b. Motoris untuk mengendalikan organ-organ dalam

11. Saraf XI (Nervus Asesorius)

Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar


terdiri dari serabut motorik. Neuron motorik berasal dari dua area :
bagian cranial berawal dari medulla dan menginervasi otot
volunteer faring dan laring, bagian spinal muncul dari medulla
spinalis serviks dan menginervasi otot trapezius dan
sternokleidomastoideus. Neuron sensorik membawa informasi dari
otot yang sama yang terinervasi oleh saraf motorik ; misalnya otot
laring, faring, trapezius dan otot sternokleidomastoid. Fungsinya
adalah untuk Mengendalikan pergerakan kepala.

12. Saraf XII (Nervus Hipoglosus)

Termasuk saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri


dari saraf motorik. Neuron motorik berawal dari medulla dan
mensuplai otot lidah. Neuron sensorik membawa informasi dari
spindel otot di lidah. Fungsinya adalah untuk mengendalikan
pergerakan lidah

2.3 Pemeriksaan 12 Saraf Kranial

1. Saraf Kranial I(sensorik) – Saraf Olfaktorius


a. Periksa kepatenan fungsi hidung dengan menutup salah satu
nostril (lubang hidung) dan pada saat bersamaan minta klien
untuk mencium bau di sekitar. Lakukan secara bergantian.
b. Minta klien untuk menutup mata, kemudian tutup salah satu
lubang hidung dan minta klien untuk mencium dan
mengidentifikasi berbagai jenis substansi bau-bauan yang
disediakan. Gunakan bahan-bahan yang tidak merangsang dan
umum diketahui seperti parfum, kopi, alkohol, tembakau atau
rempah-rempah.

2. Saraf Kranial II (sensorik) – Saraf Optikus


a. Pemeriksaan penglihatan sentral (visual cavity, VOD & VOS)
1) Pastikan ruangan mendapat cahaya yang cukup terang
2) Atur jarak kartu Snellen dengan klien sepanjang 6 meter
atau sekitar 20 kaki
3) Minta klien menutup salah satu mata dengan menggunakan
tangan atau alat penutup mata
4) Periksa mata kiri dan kanan secara bergantian, diutamakan
mata klien dengan pandangan yang lebih buram diperiksa
terlebih dahulu
5) Minta klien untuk menyebutkan huruf yang ditunjuk, mulai
dari baris paling atas sampai paling bawah
6) Catat urutan baris akhir dimana klien tidak mampu lagi
membaca dengan jelas huruf tersebut.
a) Normal visus: 20/20 (dalam kaki/feet) atau 6/6
(dalam meter) → pasien bisa melihat ototip Snellen
pada jarak 6 meter, orang normal juga bisa melihat
opotip Snellen pada jarak 6 meter.
b) Nilai visusu ditentukan oleh seberapa banyak klien
dapat membaca huruf pada baris yang ditunjuk.
Klien dikatakan memiliki visus pada baris yang
ditunjuk jika mampu membaca > 50% huruf
tersebut.
Contoh :
 Pada baris ke-6 yang terdiri dari 6 huruf, jika
klien mampu membaca semua huruf pada baris
tersebut maka visusnya adalah 6/9.
 Namun jika klien hanya mampu membaca 3
huruf (50%) maka klien dianggap belum lolos
pada baris tersebut dan otomatis nilai visus yang
digunakan adalah nilai visus sebelumnya (nilai
visus pada baris ke 5 , yaitu 6/12).

7) Jika huruf paling atas pada snellen chart tidak bisa dibaca oleh
penderita, lakukan testbjari tangan (finger test)

a) Acungkan satu atau lebih jari tangan kanan/kiri di depan


klien dari jarak 3 meter, 2 meter, 1 meter.
b) Minta klien untuk menebak berapa jumlah jari yang
diacungkan.
c) Jika pada jarak 3 meter klien bisa menebak/ melihat jari
yang diacungkan maka visusnya 3/60, yang berarti orang
normal bisa melihat acungan jari pada jarak 60 meter,
sedangkan klien hanya bisa melihat pada jarak 3 meter.

8) Jika klien tidak bisa menebak atau melihat acungan jari pada
jarak 1 meter lakukan test goyangan tangan (waving hand test)

a) Goyangkan tangan di depan klien dari jarak 3 meter, 2


meter, 1 meter.
b) Tanyakan apakah klien dapat melihat goyangan tangan
didepannya atau terlihat buram.
c) Apakah pada jarak 3 meter klien bisa melihat goyangan/
lambaian tangan didepannya maka visusnya 3/300, yang
artinya orang normal bisa melihat goyangan tangan pada
jarak 300 meter, sedangkan klien hanya bisa melihat pada
jarak 3 meter.

9) Jika klien masih tidak bisa melihat goyangan/ lambaian tangan


pada jarak 1 meter, maka lakukan test penyinaran dengan lampu
senter (dark-light test)

a) Sorotkan cahaya lampu senter di depan klien dari jarak 1


meter.
b) Tanyakan klien apakah dapt melihat cahaya lampu senter di
depannya.
c) Apakah klien bisa melihat cahaya lampu senter di depannya
maka visisnya 1/- (tidak terbatas), jika tidak maka visusnya 0.

10) Setelah visus mata kanan-kiri klien diketahui tidak mecapai 6/6,
lakukan test pinthole

b) Pemeriksaan pengelihatan perifer (visual field)

1) Atur jarak pemeriksa dengan klien 60-100 cm (2 kaki).


2) Minta klien untuk menutup salah satu mata dan mata lainnya harus
lurus melihat kedepan (tidak boleh melirik kearah objek yang
digerakkan).
3) Pegang pensil atau tidak ada gunakan jari sebagai objek.
4) Gerakkan objek perlahan mulai dari lapang pandang kanan dan kiri
(lateral dan medial), atas dan bawah.
5) Minta klien untuk mengatakan “ya” saat objek terlihat pertama kali.
6) Pastikan juga bahwa lapang pandang pemeriksa adalah normal dan
melihat objek tersebut bergerak.

c) Refleksi pupil

1) Respon cahaya langsung.


a) Dengan senter, arahkan sinar dari samping kea rah salah satu
pupil.
b) Inspeksi kedua pupil dan ulangi prosedur ini pada sisi mata
lainnya. Dalam keadaan normal, pupil yang disinari akan
mengecil.
2) Respon cahaya konsensual
a) Jika pupil yang satu disinari maka secara serentak pupil lainnya
akan mengecil dengan ukuran yang sama.

d) Tes warna

1) Siapkan beberapa benda dengan warna yang berbeda


2) Minta kliren untuk menebak warna benda yang diberikan/ di tunjuk

3. Saraf Kranial III , IV (motoric ) – Saraf Okulomotorius, Trochlearis, dan


Abdusen
a. Inspeksi adanya ptosis (kelopak mata memotong iris lebih rendah dari
pada mata yang lain, atau bila klien mendongakkan kepala ke
belakang / ke atas (untuk komepensasi) secara kronik atau
mengangkat alis mata secara kronik).

b. Inspeksi palpebral fissures meliputi bentuk dan ukuran (rata-rata pada


orang dewasa palpebral membuka 28 mm panjang dari 10 mm
tingginya).

c. Inspeksi pupil seperti ukuran ,bentuk,perbandingan pupil kanan dan


kiri, serta reflex pupil :

1) Respon cahaya langsung (bersamaan dengan Nervus II)


2) Respon cahaya konsensual (bersamaan dengan Nervus II)
3) Respon akomodasi dan konvergensi
a. Dengan cermin, minta klien untuk melihat jauh dalam
cermin tersebut. Gerakkan cermin menjauh dan mendekat
dari pupil (konvergensi)
b. Ketika pupil melihat jauh, kemudian tempatkan jari 20 cm
di depan klieen (akomodasi)dan inspeksi pupil
d. Kaji pergerakan bola mata dengan meminta klien mempertahankan
kepalanya tidak bergerak dan ikuti gerakan jari tangan atau pensil
peemeriksa kea rah medial, lateral, atas, bawah.
e. Kaji adanya penglihatan ganda (diplopia), ada tidaknya nystagmus
dan strabismus.
4. Saraf Kranial V (sensorik dan motoric) – Saraf Trigeminus

a. Fungsi Motoric

Kaji otot pengunyah dengan palpasi otot temporal dan masseter pada
saat klien mengatupkan atau menggerakkan giginya

b. Fungsi Sensorik

1) Minta klien untuk menutup mata

2) Lakukan pengujian sensasi sentuhan ringan dengan menyentuh


menggunakan gumpalan kapas pada area wajah : dahi,pipi dan
dagu.

3) Katakan “ Ya” jika klien merasakan sentuhanyang diberikan

c. Reflex Comeal

1) Minta klien untuk melihat ke atas


2) Dengan gumpalan kapas, lakukan sentuhan ringan pada kornea
mata

3) Catat adanya reflek berkedip bersamaan pada kedua mata

5. Saraf Kranial VII (sensorik & motoric)- Saraf Fasialis

a. Fungsi motoric
1) Catat peegerakan dan kesimetrisan wajah saat klien
diinstruksikan untuk : tersenyum, cemberut, & dan mengerutkan
dahi, menutup mata dengan rapat (pemeriksa akan mencoba
membukanya), mengakat alis, menyengir/ menunjukkan
gigi,bersiul, mengembungkan pipi
2) Tekan pipi yang dikembungkan oleh klien kearah dalam dan
perhatikan bahwa udara harus keluar sama rata dari kedua sisi
b. Fungsi sensorik
1) Sediakan gula dan garam
2) Lakukan pengujian rasa manis dan asin

6. Saraf Kranial VIII (sensorik) – Saraf Oktavus/ Vestibulokoklearis


a. Rinne test
1) Tempatkan garputala yang sudah digetarkan pada tulang
mastoid klien, lalu pndahkan pada telinga dan tanyakan
kepada klien suara mana yang terdengarlebih jelas
2) Catat hasil, apakah AC >BC atau BC< AC (AC= Air
Conduction, BC = Bone Conduction)
b. Weber test
1) Garputala digetarkan lalu diletakkan pada puncak dsri
tulsng tengkorak yaitu pada tengah-tengah dahi dimana
ke dua jarak telinga harus sama
2) Minta klien untuk melaporkan pada telinga mana suara
terdengar lebih jelas

7. Saraf Kranial IX, X (sensorik & motorik) – Saraf Glosofaringeal


danVagus
a. Fungsi sensorik
1) Dengan tongue spatel, lakukan test rasa kecap pada posterior
lidah
2) Tanyakan klien apakah merasakan sentuhan yang diberikan
b. Fungsi motoric
1) Minta klien untukmembuka mulut dan menggerakkan lidah
katas, bawah dan samping
2) Tekan lidah klien dengan tongue spatel dan minta untuk
menyebut “ah”
3) Inspeksi platum dengan senter dan perhatikan apakah terdapat
pergeseran uvula (normalnya uvula tertarik kearah sisi yang
sehat)
4) Keluarkan tongue spatel dan minta klien untuk tetap membuka
mulut
c. Test reflek muntah (sensorik Nervus IX, dan mtorik Nervus X)
1) Sentuh bagian belakang faring pada setiap sisi dengan
spatula
2) Tanyakan apakah klien merasakan sentuhan spatula
tersebut (nervus X)
3) Inspeksi apakah ada kontraksi atau reflek pallatum molle
atau Gag reflek. Jika tidak ada kontraksi dan sensasinya
utuh maka ini menunjukkan kelumpuhan nervus X
4) Minta klien untuk berbicara agar dapat menilai adanya
suara serak dan minta juga klien untuk batuk

8. Saraf Kranial XI (motoric)- Saraf Aksesorius (Kekuatan otot


Trapezius & sternocleidomastoideus
a. Minta klien untuk mengangkat bahu dan palpasi massa otot
trapezius
b. Tekan atau berikan dorongan pada bahu klien kebawah
c. Minta klien untuk memutar kepalanya kearah satu sisi
d. Intuksi klien untuk melawan tahanan tangan yang dberikan oleh
pmeriksa
e. Palpasi juga massa otot sternocleidomastoid

9. Saraf Kranial XII (motorik)- Saraf Hypoglossus


a. Inspeksi Lidah dalam keadaan diam didasar mulut dan amati
kesimetrisan, adanya atrofi, gerakan tremor, dan fasikulasi
(kontraksi otot halus irregular dan tidak ritmik)
b. Minta klien untuk menggerakkan lidah dan uji kekuatan otot
lidah dengan meminta klien melawan tahanan tounge spatela

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dapat disimpulkan dari makalah diatas, yaitu Saraf kranial


merupakan bagian dari susunan sistem saraf tepi, walaupun
letaknya yang berdekatan dengan sistem saraf pusat (SSP) yang
terhubung ke organ-organ di tubuh manusia, seperti mata, telinga,
hidung, tenggorokan, dan lain sebagainya dan pasangan saraf
kranial diberikan nomor sesuai dengan letaknya dari depan sampai
belakang. Jenis saraf kranial antara lain Saraf I (Nervus
Olfaktorius), Saraf II (Nervus Optikus), Saraf III (Nervus
Occulomotorius), Saraf IV (Nervus Trochlearis), Saraf V (Nervus
Trigeminus), Saraf VI (Nervus Abdusen), Saraf VII (Nervus
Fasialis), Saraf VIII (Nervus Vestibulocochlearis), Saraf IX
(Nervus Glosofaringeal), Saraf X (Nervus Vagus), Saraf XI
(Nervus Asesorius), Saraf XII (Nervus Hipoglosus).

3.2 Saran

Diharapkan pembaca dapat memahami tentang saraf


kranial. Sebagai perawat agar mampu dijadikan acuam dalam
melakukan pemeriksaan 12 saraf kranial.

DAFTAR PUSTAKA

Jane Vonny. “Makalah Saraf Kranial”. Dalam


(https://www.academia.edu/38489139/Makalah_saraf_kranial ). Diakses
pada tanggal 27 Oktober 2019